Dialog Kebenaran

Minggu Advent ketiga. 11 Desember 2016 [Matius 11: 2-11]

 “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain? (Mat 11:3)

dialogue

Kebenaran terlahir dari sebuah percakapan, dan percakapan sejati berasal dari kemampuan kita untuk mendengarkan. Dan mendengarkan satu sama lain bukanlah hal mudah karena membutuhkan kerendahan hati. Titik balik dari St. Dominikus de Guzman, pendiri Ordo Pengkhotbah, adalah ketika ia berada di dalam penginapan dan kedai. Dia berdialog semalam suntuk dengan pemilik penginapan, yang adalah seorang Albigensian, sebuah agama yang menolak kebaikan ciptaan. Dialog panjang, melelahkan namun terbuka ini tidak hanya membawa pemilik penginapan itu kembali ke iman Katolik, tetapi juga membawa Dominikus untuk menemukan misi hidupnya. Pertemuan ini mengungkapkan kebenaran baik bagi pemilik penginapan maupun Dominikus.

Sayangnya, tidak semua orang dididik untuk mendengarkan. Tidak semua orang cukup rendah hati untuk membuka pikiran dan hati mereka untuk sebuah kemungkinan baru yang kebenaran tawarkan. Tidak banyak yang memiliki daya tahan dan ketekunan untuk terlibat dalam dialog panjang dan membosankan. Kita terkadang menutup telinga dan pikiran. Kita lebih memilih untuk tinggal di dunia kita yang nyaman tetapi kecil. Kemudian, kita menaruh curiga kepada orang-orang yang berbeda dari kita, yang mencoba membawa kita ke dunia yang lebih besar. Kita bahkan menggunakan kekerasan terhadap mereka yang memulai dialog kebenaran dengan kita.

Minggu lalu, kita mendengarkan Yohanes yang memberitakan kebenaran dan mengajak orang-orang untuk bertobat. Hari ini, kita mendengar bahwa Yohanes sudah berada di penjara. Ia dipenjarakan mungkin karena beberapa orang tidak suka mendengarkan apa yang ia katakan. Orang-orang ini tidak ingin diganggu oleh kebenaran, dan dengan demikian, mereka memutuskan untuk membungkam Yohanes. Saya kira situasi yang tidak jauh berbeda terjadi juga saat ini. Mereka yang mencoba untuk memulai dialog kebenaran di media sosial langsung menjadi korban intimidasi dan ‘bullying’ secara online. Dalam situasi yang lebih serius, orang yang terlibat dalam kejahatan dan korupsi mencoba untuk menyuap, mengancam atau bahkan membunuh mereka yang mulai berbicara kebenaran. Pierre Claverie, OP, uskup Oran di Algeria, mendedikasikan dirinya dalam dialog persahabatan dengan kaum Muslim, namun akhirnya ia dibunuh oleh para teroris yang membenci usaha-usahanya dalam membangun perdamaian dan harmoni.

Dalam dialog kebenaran, kita perlu belajar dari Yohanes. Di dalam penjara, dia ragu-ragu karena Yesus tidak berperilaku seperti Mesias yang diharapkan. Mungkin seperti orang Yahudi lainnya, Yohanes juga berharap Mesias yang adalah seorang jendral militer dan pemimpin politik, atau mungkin ia ingin Mesias dapat menghadapi orang-orang berdosa dengan tegas seperti dirinya. Yesus tidak memenuhi standar Yohanes. Namun, bukannya menutup kemungkinan dan terus berpegang teguh pada pendiriannya, Yohanes membuka percakapan dengan Yesus melalui murid-muridnya. Yesus menyambut dialog ini dengan baik dan Yesus pun menjawab dia dengan memberikan beberapa bukti konkret identitas-Nya sebagai Mesias. Yesus juga membuka paradigma baru yang membantu Yohanes menggali kebenaran lebih mendalam. Kebenaran yang membebaskan Yohanes dari penjara yang sempitnya.

Masa Adven membawa kita pada dialog kebenaran ini. Kita diajak untuk lebih mendengarkan anggota-anggota keluarga kita bahkan terhadap anggota keluarga yang termuda. Kita ditantang untuk tidak segera mengadili orang-orang yang memiliki pendapat yang berbeda dengan kita, tetapi untuk menemukan kebenaran di dalamnya. St. Thomas Aquinas selalu memasukan argumen dari mereka yang memiliki pandangan yang berlawanan dengannya karena ia percaya bahwa ada benih-benih kebenaran di dalamnya dan juga mereka memperdalam pandangan St. Thomas sendiri. Sudah saatnya bagi kita keluar dari dunia kecil dan soliter dan untuk mencari kebenaran yang lebih luas dan membebaskan.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

My Nagging God

29th Sunday in the Ordinary Time. October 16, 2016 [Luke 18:1-8]

 “…This widow keeps bothering me… (Luk 18:5)”

persistent-widow-2Getting tired and bored is unwanted yet unavoidable part of our lives. After doing things for a certain period of time, we get exhausted. Even if we are doing something we love, we are also bound to feel weary. Indeed, a man marries the woman he loves, but after sometime, encountering disappointments and problems, he begins to think whether he made the right decision. A woman loves dearly her teenage girl, but after sometime, her girl gets involved in substance abuse and runs away with his friends. She spends all her money and energy to win her daughter back yet to no avail, and she simply gets tired. As a religious brother, I love my vocation, but after years of waking up early, attending Mass and prayers, and plunging myself in rigorous study, I get bored.

In these times that we feel weak and weary, the temptation will set in and lure us to abandon our commitments. We are even emboldened to do crazy things and sin. We become like the judge in today’s Gospel, who “neither fear God nor respect human being’. We begin doing unthinkable things. We hurt people we love. We cause sufferings and misery to other people and ourselves.

However, we are so blessed that we have God who is like the nagging widow in the Gospel. He is knocking at our hearts day and night so that we may render justice to Him and our neighbors. Tirelessly He reminds us to be faithful to our commitments, repeatedly encourages us to persevere in doing good, and ceaselessly calls us back everytime we falter.

His unceasing care and ‘disturbance’ are manifested in subtle yet manifold ways. He places in us His subtle grace and joy in our daily prayer, despite boredom and sleepiness. He gives us family and friends who remain supportive to us in time of trials. He provides us with little blessings that we tend to ignore. One sustaining factor in my vocation, I believe, is that the Lord gives me a community. Indeed, sometimes living in a community is troublesome, but it provides also a structure and living ecosystem to support my Dominican religious life. My brothers will knock my door reminding me not to be late in prayer, encourage and evaluate my preaching, and in fact, correct me if I commit mistake. My community is my nagging God.

We may be tired of many things, exhausted in keeping our demanding commitments as spouses or parents, and bored of doing again and again our obligations as students or ministry as priests or religious. Yet, we remember we have our nagging God who persistently loves us and does not give up on us, even if we have already given up on ourselves. What we need to do is just open our eyes, ears and hearts to His subtle yet constant actions in us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan yang Tidak Pernah Jenuh

Minggu dalam Pekan Biasa ke-29 [16 Oktober 2016] Lukas 18: 1-8

“…namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia… (Luk 18:5)

persistent-widow-1Merasa lelah dan bosan adalah bagian dari kehidupan kita yang tak terhindarkan. Setelah melakukan hal-hal dalam jangka waktu lama, kita bisa kehabisan tenaga. Bahkan saat kita melakukan sesuatu yang kita cintai, kepenatan juga kadang melanda. Seorang pria yang menikahi wanita yang ia kasihi, tapi setelah menghadapi kekecewaan dan permasalahan rumah tangga, dia mulai berpikir apakah dia membuat keputusan yang tepat saat menikah dulu. Seorang ibu mencintai anak gadisnya yang beranjak dewasa, tapi ternyata sang gadis terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan melarikan diri dengan teman-temannya. Sang ibu menghabiskan semua uangnya dan tenaga untuk membawa putrinya kembali, namu semua usaha gagal, dan diapun lelah. Sebagai seorang biarawan, saya mencintai panggilan saya, tapi setelah bertahun-tahun bangun dini hari untuk mengikuti Misa harian dan doa brevir, dan juga setiap hari belajar filsafat dan theologi yang sulit, sayapun merasa bosan.

Saat ini kita merasa lemah dan lelah, godaan akan datang dan merayu kita untuk meninggalkan komitmen yang kita telah buat. Kita bahkan digoda untuk melakukan hal-hal gila dan berbuat dosa. Kita menjadi seperti hakim dalam Injil hari ini, yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun.’ Kita mulai melakukan hal-hal yang tak terpikirkan. Kita menyakiti orang yang kita cintai. Kita membawa penderitaan dan kesengsaraan bagi orang lain dan diri kita sendiri.

Namun, kita sangat diberkati karena kita memiliki Allah yang seperti janda dalam Injil hari ini. Dia mengetuk hati kita siang dan malam sampai kita mau memberikan keadilan bagi-Nya dan sesama kita. Tanpa lelah Dia mengingatkan kita untuk setia dengan komitmen kita, berulang kali mendorong kita untuk bertekun dalam melakukan yang baik, dan tak henti-hentinya memanggil kita kembali setiap kali kita goyah.

Kasih dan perhatian-Nya yang tak henti-henti ini terwujud dalam cara yang sangat lembut di dalam kehidupan sehari-hari kita. Dia menempatkan sukacita kecil di dalam doa harian kita, meskipun kadang membosankan. Dia memberi kita keluarga dan teman-teman yang setia mendukung kita dalam waktu-waktu sulit. Dia memberikan kita dengan berkat-berkat sederhana yang kita cenderung abaikan. Salah satu faktor penopang dalam panggilan saya adalah Tuhan memberi saya sebuah komunitas. Memang, kadang-kadang hidup dalam komunitas cukup merepotkan, apalagi dengan watak yang berbeda-beda, tetapi ini juga menyediakan ekosistem dan struktur hidup untuk menopang kehidupan Dominikan saya. Frater-frater akan mengetuk pintu kamar saya agar saya tidak terlambat dalam doa, memberi kesempatan untuk berkhotbah, dan juga mengevaluasi saya agar saya berkembang, dan tentunya, mereka menkoreksi saya jika saya melakukan kesalahan. komunitas saya adalah cara Allah mengomeli saya.

Kita mungkin jenuh dengan banyak hal. Kita kelelahan dalam menjaga komitmen kita entah sebagai suami-istri atau orang tua. Kita bosan melakukan kewajiban kita sebagai pelajar atau pelayanan kita sebagai imam atau rohaniawan. Namun, kita ingat bahwa kita memiliki Allah yang terus-menerus mengasihi kita dan tidak pernah menyerah, bahkan saat kita sudah menyerah pada diri kita sendiri. Apa yang perlu kita lakukan adalah hanya untuk membuka mata, telinga dan hati kita kepada ‘omelan’-Nya yang tak henti. Karena Ia seperti janda yang tak kenal lelah memperjuangkan keadilan bagi-Nya dan bagi kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Becoming Whole

25th Sunday in Ordinary Time. September 18, 2016 [Luke 16:1-13]

“Make friends for yourselves with dishonest wealth, so that when it fails, you will be welcomed into eternal dwellings (Luk 16:9).”

unjust-steward1We were created in the image of God. Thus, our true happiness is only in God. As St. Augustine would say, “You have created us for Yourself, O God, and our hearts are restless until they rest in You.” St. Teresa of the Avilla would echo the same truth when she simply said, “God alone suffices.” But, we were also born into the real human body within a complex and concrete world. As we journey toward God, we cannot totally separate our soul from the various mundane concerns. Even the monks and nuns living in monasteries will still work hard to fulfill their daily and basic needs.

Our humanity and temporal aspects of our life are integral part of who we are. They are blessing and gift of God. We must not be enslaved by money, wealth and other material possessions. Certainly, easier said than done. Who among us are concerned with the latest version of our cellular phone? Who among us spending hours just to choose most fashionable dress? In a bigger scale, corruption, injustice and exploitation are the offshoots of this attachment to this temporal aspect of our lives. Thus, the proper and prudent thing to do is to place the gift of our body and temporal dimension of our life in the service of God and others. I do believe that in order to preach well, it is imperative for the preachers to take care of their health. As an ancient Latin proverbs goes, ‘Mens sana in corpore sano’ (healthy mind in healthy body).

Learning from the parable of the dishonest steward, Jesus taught us to be like the steward in dealing with worldly things. In ancient Israel, for a master entrusting the business to his steward was a common practice. Some stewards would manipulate their position and raise wealth by practice of usury. They charged the borrowers of his masters’ property with high interest. Unfortunately, the steward was caught with this usurious practice as well as squandering his master’s wealth. To save his life, he chose to be smart. He met the debtors and to ask them to rewrite the debt’s notes. He decided to erase the interest that would go to him and let them pay the original amount. The borrowers would be indebted to him, and he might save himself. Like the steward, we need to know what truly matters for our happiness and salvation, as well as well aware of the place of worldly goods in the totality of our lives.

Jesus becomes a splendid example for all us. He is divine and spiritual being. He controlled the forces of nature, He overpowered the evil spirits, and He forgave sins. Though, He was divine, He did not disregard his humanity as useless. He, in fact, was humanly practical and respectful of His own Jewish culture. He observed Jewish traditions and customs, He worshipped God in the synagogues and He taught using the language that His original listeners would understand. Thus, He is truly God and truly man.  Indeed, our salvation rest in this balance and unity of this spiritual and bodily aspects of our humanity.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Manusia yang Utuh

Minggu Biasa dalam Pekan ke-25 [18 September 2016] Lukas 16: 1-13

 Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi (Luk 16:9).

dishonest-stewardKita diciptakan menurut citra Allah, dan dengan demikian, kebahagiaan sejati kita hanya pada Allah. Seperti yang St. Agustinus katakan, Engkau menciptakan kami untuk untuk diri-Mu, ya Allah, dan hati kami gelisah sampai mereka menemukan-Mu.” St. Teresa dari Avilla mengemakan kebenaran yang sama ketika ia mengatakan, Allah mencukupi.” Tapi, kita juga lahir sebagai manusia yang memiliki tubuh dan ke dalam dunia yang kompleks. Saat kita berziarah menuju Allah, kita tidak bisa benar-benar memisahkan jiwa kita dari berbagai urusan duniawi. Bahkan para Rahim yang tinggal di pertapaan tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dasar mereka.

Kemanusiaan dan aspek temporal kehidupan kita adalah bagian integral dari siapa kita. Ini semua adalah berkat dan karunia Allah juga. Hal yang tepat dan bijaksana adalah untuk mengunakan tubuh dan dimensi temporal kehidupan kita dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Saya percaya bahwa untuk bisa mewartakan dengan efektif dan efisien, sangat penting bagi para pewarta untuk menjaga kesehatan mereka. Sebagai peribahasa Latin kuno berkata, ‘Mens sana in corpore sano’ (pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat).

Kita tidak boleh diperbudak oleh uang, kekayaan dan harta benda lainnya. Tentu saja, lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Siapa di antara kita yang mengejar-ngejar HP versi terbaru? Siapa di antara kita menghabiskan berjam-jam hanya untuk memilih pakaian yang paling modis? Dalam skala yang lebih besar, korupsi, ketidakadilan dan eksploitasi adalah bentuk-bentuk dari ektreme keterikatan kita pada hal-hal duniawi.

Dari perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur, Yesus mengajarkan kita untuk menjadi cerdas dalam menangani hal-hal duniawi. Di Israel, bagi tuan rumah untuk mempercayakan bisnis kepada bendaranya adalah praktek yang umum. Beberapa bendahara memang memanipulasi posisi mereka dan mencari keuntungan sendiri dengan praktek riba. Mereka memberi bunga yang besar kepada para peminjam dari tuan mereka. Sayangnya, ada satu bendahara yang tertangkap tangan dengan praktik riba ini, dan juga menghambur-hamburkan kekayaan tuannya. Lalu, untuk menyelamatkan dirinya, sang bendahara melalukan hal yang cerdik. Ia bertemu dengan debitur dan meminta mereka untuk menulis ulang catatan utang mereka. Dia memutuskan untuk menghapus bunga yang akan menjadi keuntungan pribadinya, dan membiarkan mereka membayar sesuai jumlah aslinya. Peminjam akan berhutang budi kepadanya, dan ia menyelamatkan dirinya sendiri. Seperti bendahara dalam perumpamaan hari ini, kita perlu tahu apa yang benar-benar penting untuk kebahagiaan dan keselamatan kita, serta menyadari letak kemanusian dan berbagai aspek temporal dalam totalitas kehidupan kita.

Yesus menjadi contoh yang tepat bagi kita. Dia adalah ilahi dan spiritual. Dia mengendalikan kekuatan alam, dia menaklukkan roh-roh jahat, dan Dia juga memiliki kuasa untuk mengampuni dosa. Meskipun, Dia adalah ilahi, Dia tidak mengabaikan kemanusiaan. Dia, pada kenyataannya, sangatlah manusiawi, praktis dan menghormati budaya Yahudi-Nya sendiri. Dia menghidupi tradisi dan adat istiadat Yahudi, ia menyembah Allah dalam rumah-rumah ibadat Yahudi, dan ia mengajar menggunakan bahasa Aram yang mudah dimengerti oleh orang-orang Yahudi pada zaman-Nya. Tidak salah jika Dia adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia. Sungguh, keselamatan dan kebahagian kita berada pada keseimbangan dan kesatuan berbagai aspek spiritual dan duniawi yang kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

One Shepherd

24th Sunday in Ordinary Time. September 11, 2016 [Luke 15:1-10]

“Rejoice with me because I have found my lost sheep (Luk 15:6).”

parable-lost-sheep-good-shepherdThe parable of the lost sheep subtly speaks of who we are fundamentally to Jesus. We are all His sheep and He is our shepherd. Whether we faithfully remain inside the sheepfold or go astray, we are still His sheep.

From this truth, we may ask ourselves. Why is it that some of us are going astray? Why are some of us no longer going to the Church or not active in the parish? Why are some abandoning the Church? Why do some turn to be our enemies and haters? We might be easily tempted to say that that is their fault. But, we are sheep of the same flock, sharers of the same pasture and have the same Shepherd. In one way or another, we might be responsible for our brothers and sisters who stray.

It is easy to pass the blame on others, but do we ever bother to ask why they fail? We tend to see them as problems to be solved, objects to dissect into logical parts. We no longer see them as our brothers and sisters, our co-sheep in Jesus’ sheepfold. Our brothers are no longer going to Church perhaps because we no longer care to help them. Our sisters are leaving the Church perhaps because we are living like hypocrites.

 The war on drugs in the Philippines has caused more than two thousand lives in just two months. As one national news outlet remarks ‘the bodies continues pilling up’. Indeed, many of them are small-time drug-pushers and addicts, and if we look at them as mere problems and pests to the society, death seems the fastest and easy answer. But, if we have headache, do we cut the head? Do we ever wonder why they fall victims of that deadly narcotics? A Lion share of those who got killed were actually poor people. Do we ever lift a finger to alleviate their poverty? Our ignorance and negligence may have indirectly led them into poverty and misery.

Fr. Gerard Timoner III, OP, our provincial, used to teach an idea of brothers shepherding brothers in the seminary. This means that the responsibility of taking care of our brothers in formation does not only rest only on the formators, but also on every brother. We need to become shepherds to one another, especially when the shepherds seem to stray away. Recently, he met us and shared what he gained from the Dominican General Chapter in Bologna last August. He emphasized that to promote vocation is not only about recruiting new members, but also nurturing and safeguarding the vocation of our own brothers in the Order.

To become a sheep of Christ means that we are also part of a bigger sheepfold. As Jesus takes care of each one of us, so we need to take care of one another. As the Good Shepherd reaches out to the lost sheep, we shall stretch ourselves to meet those who are lost in their journey. Surely, it is difficult, but they are still our brothers and sisters, fellow-sheep of Christ.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Satu Gembala, Satu Kawanan Domba

Minggu ke-24 pada Pekan Biasa. 11 September 2016 [Lukas 15: 1-10]

“Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan (Luk 15:6).”

lost-sheepPerumpamaan tentang domba yang hilang sebenarnya berbicara tentang siapa diri kita dan relasi mendasar kita dengan Yesus dan sesama. Kita semua domba-Nya dan Dia adalah gembala kita. Apakah kita domba yang setia berada di dalam gembalaan, atau domba yang tersesat, kita tetap domba-domba-Nya.

Dari kebenaran ini, kita bertanya: Mengapa sebagian dari kita sesat? Mengapa sebagian dari kita tidak lagi pergi ke Gereja atau aktif di paroki? Mengapa beberapa meninggalkan Gereja? Mengapa beberapa akhirnya menjadi musuh dan pembenci Gereja? Biasanya kita akan dengan mudah menyatakan bahwa ini adalah kesalahan mereka. Namun, bukankah kita semua adalah domba dari kawanan yang sama, berbagi padang rumput yang sama dan memiliki Gembala yang sama? Jika ada saudara kita yang tersesat, kita juga ikut bertanggung jawab.

Sangat mudah untuk menyalahkan orang lain, tapi apakah kita pernah bertanya mengapa mereka gagal dan hilang. Kita cenderung melihat mereka sebagai masalah untuk diselesaikan, objek rusak siap untuk dibuang. Kita tidak lagi melihat mereka sebagai saudara-saudari kita, domba-domba gembalaan Yesus. Mungkin, saudara-saudari kita tidak lagi pergi ke Gereja karena kita tidak lagi peduli dengan kesulitan mereka. Mungkin, mereka meninggalkan Gereja karena hidup kita tidak lagi menjadi kesaksian iman dalam Yesus.

Kebijakan pemerintahan baru di Filipina untuk memerangi narkoba telah mencapai titik yang memprihatinkan. Lebih dari dua ribu jiwa telah melayang hanya dalam waktu dua bulan. Memang, banyak dari mereka yang terbunuh adalah pengedar skala kecil dan pengguna, dan jika kita melihat mereka hanya sebagai masalah dan hama bagi masyarakat, kematian tampaknya jawaban tercepat dan mudah. Tapi, jika kita sakit kepala, apakah kita akan memotong kepala kita? Apakah kita pernah bertanya mengapa mereka menjadi korban dari jerat narkoba? Sebagain besar dari mereka yang tewas sebenarnya adalah orang miskin. Narkoba menjadi solusi instan mencari uang atau menghilangkan lapar. Apakah kita pernah berusaha untuk mengentaskan kemiskinan mereka? Ketidakpedualian kita secara tidak langsung telah menyebabkan mereka jatuh ke dalam kemiskinan, kesengsaraan dan narkoba.

Rm. Gerard Timoner III, OP, provincial kami di Filipnia, selalu mengajarkan kami bahwa  ‘brothers shepherding brothers’ atau menjadi pengembala bagi sesama frater di seminari. Ini berarti bahwa tanggung jawab untuk menjaga dan merawat frater-frater di formasi tidak hanya terletak pada formator, tetapi juga pada setiap frater. Kita perlu menjadi gembala bagi sesama, terutama ketika para gembala utama tampak jauh. Baru-baru ini, ia juga berbagi dengan kami apa yang ia peroleh dari Kapitel Umum Dominikan di Bologna, Italia, bulan Agustus lalu. Dia menekankan bahwa untuk mempromosikan panggilan Dominikan tidak hanya berarti sibuk merekrut anggota baru, tetapi lebih penting adalah memperhatikan dan menjaga panggilan dari saudara-saudara kita sendiri di dalam Ordo.

Untuk menjadi domba-domba Kristus berarti bahwa kita juga adalah bagian dari kawanan domba yang lebih besar. Seperti halnya Yesus menjaga setiap dari kita, kita juga perlu untuk menjaga satu sama lain. Sebagai Gembala yang Baik mencari domba yang hilang, kita juga akan mencari saudara-saudari kita yang hilang dalam perjalanan mereka. Tentunya, tidak mudah, tapi kita akan selalu ingat bahwa mereka juga masih saudara-saudara kita, domba-domba Kristus, seperti kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seeing the Empty Tomb

Easter Sunday. March 27, 2016 [John 20:1-9]

 “Then the other disciple, whom Jesus loved, also went in, the one who had arrived at the tomb first, and he saw and believed (John 20:8).”

empty-tombWhat do you see inside the empty tomb? Seeing the empty tomb, Mary Magdalene was at lost, terrified and confused. Where is Jesus? Is He moved to the other tomb? Is someone stealing His Body? Peter, the leader of the apostles, did not understand the empty tomb and went home puzzled. All things were so depressing. Jesus was betrayed, denied, tortured, crucified and now he is missing!

Once he was a charismatic preacher, but then, he was dead. Once he was an inspirational leader, but then he was buried. Once he was welcome as a king and Messiah, then He was crucified by the people who welcome Him. Even the tomb where his body rested, was not spared from this cruelty. All expectations were shattered, all dreams were put off, and it was just empty and dark, just like the empty tomb.

When everything seems so absurd and hopeless, one disciple did not give up. He was the disciple who loved Jesus and whom Jesus loved. Indeed, love turns to be the game changer. Only the eyes of love can pierce through the darkest empty tomb and see a deepest meaning of it. In love, Jesus was not lost, and not even dead. He is fully alive, present and vibrant. Easter is our celebration of faith that drives away meaninglessness, hope that prevails over despair. And all of this, only possible when there is love that conquers all. As St. Paul would say, “So faith, hope, love remain, these three; but the greatest of these is love (1 Cor 13:13).”

Easter is the time for us to learn to see what the beloved sees, to see through the eyes of love. As the beloved sees the risen Lord at the empty tomb, we shall see the resurrected Christ as well in this emptiness of life. With the eyes of love, a mother will not see a baby in her womb just as an intruder or burden, but life that holds bright future. With the eyes of love, a wife will not see her aging and sickly husband as mistake, but a living brave soul who dedicated his life for her, despite so many imperfections.

In 2006, after Zimbabwe president, Robert Mugabe, won the election, he decreed operation Murambatsvina, “the cleaning out of the rubbish”. He ordered the demolition of the houses of those people who refused to vote for him during the election. More than 700,000 people watched their home bulldozed. They became refugees in their homeland and begun their life again out of the rubbles of their home. At the heart of this place of refuge, was a small plastic tent, called ‘the young Generation pre-school’. This was a home of a young woman called Evelyn, and she used it as a school in the day. There were around a dozen of her students under the age of eight, nearly all HIV-positive and with TB. Sometimes there was food to eat, but usually, there was none. Yet, Evelyn never gave up taking care of the children and even the children sang welcome songs happily every time guests would visit them. Fr. Timothy Radcliffe, OP once visited her and seeing her condition, he asked her why she did that. She just had one simple reason that she loved the children so much and indeed found meaning and joy in what she was doing.

Easter is the time when Jesus resurrects, defeats death, renews our broken humanity and disfigured world. And all begins at the empty tomb. The question now is: What do you see in the empty tomb?

 Happy Easter!

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Melihat Makam yang Kosong

Minggu Paskah. 27 Maret 2016 [Yohanes 20:1-9]

Maka masuklah juga murid yang dikasihi Yesus, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya (Yoh 20:8).

 Apa yang Kamu lihat dalam kubur yang kosong? Melihat kubur yang kosong, Maria Magdalena  ketakutan, sedih dan bingung. Dimana Yesus? Apakah Dia dipindah ke makam lainnya? Apakah seseorang mencuri tubuh-Nya? Petrus, pemimpin para rasul, tidak mengerti kenapa kubur menjadi kosong dan pulang kebingungan. Semua hal-hal yang terjadi di sekitar mereka sungguh sangat menyedihkan. Yesus dikhianati, ditolak, disiksa, disalib dan sekarang dia hilang!

Dulu Ia adalah seorang pengkhotbah karismatik, tapi kemudian, Ia mati. Dulu Ia adalah seorang pemimpin inspirasional, tapi kemudian Ia dikubur. Dulu Dia disambut sebagai raja dan Mesias, namun kemudian Dia disalibkan oleh orang-orang yang menyambut Dia. Bahkan makam di mana tubuhnya terbaring, tidak luput dari kekejaman ini. Semua harapan hancur, semua mimpi pudar, dan semuanya hanya kekosongan dan kegelapan, seperti kubur yang kosong.

Ketika semuanya tampak begitu tidak masuk akal dan putus asa, satu satu murid tidak menyerah. Ia adalah murid yang mengasihi Yesus dan dikasihi Yesus. Sungguh, kasih menjadi titik nadir perubahan. Hanya mata kasih yang dapat menembus kubur yang kosong dan paling gelap dan melihat makna di dalamnya. Bagi mereka yang mengasihi, Yesus tidak hilang, dan bahkan tidak mati. Ia hidup, hadir dan penuh bersemangat. Paskah adalah sebuah perayaan akan iman kita yang mengusir kehampaan makna, akan harapan yang menang atas keputusasaan. Dan semua ini, hanya mungkin bila ada kasih yang mengalahkan segalanya. Seperti St. Paulus yang berkata, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Kor 13:13). “

Paskah adalah waktu bagi kita untuk belajar untuk melihat dengan mata sang rasul yang mengasihi Yesus, untuk melihat melalui mata kasih. Sebagai sang rasul melihat Tuhan yang bangkit di kubur yang kosong, kita akan melihat Kristus yang bangkit di dalam kekosongan hidup ini. Dengan mata kasih, seorang ibu tidak akan melihat bayi di dalam rahimnya hanya sebagai penyusup atau beban berat, tapi sebuah hidup yang memegang masa depan yang cerah. Dengan mata kasih, seorang istri tidak akan melihat suaminya yang tua, sakit-sakitan dan penuh dengan ketidaksempurnaan sebagai sebuah kesalahan, tapi sebuah jiwa pemberani yang telah mendedikasikan hidupnya bagi dia.

Pada tahun 2006, setelah presiden Zimbabwe, Robert Mugabe, memenangkan pemilu, dia mengadakan operasi Murambatsvina, ‘pembersihan sampah.’ Ia memerintahkan pembongkaran rumah-rumah mereka yang menolak untuk memilih dia selama pemilu. Lebih dari 700.000 orang menyaksikan rumah mereka dibuldoser. Mereka menjadi pengungsi di tanah air mereka sendiri dan harus memulai hidup mereka lagi dari puing-puing reruntuhan. Di tengah-tengah kehancuran ini, ada sebuah tenda plastik kecil, bernama ‘the Young Generation Pre-School.’ Ini adalah rumah bagi seorang wanita muda bernama Evelyn, dan dia menggunakan tenda ini sebagai sekolah. Ada sekitar belasan murid-muridnya di bawah usia delapan tahun, hampir semua mengidap HIV-positif dan TB. Kadang-kadang ada makanan untuk makan, tetapi biasanya, tidak ada. Namun, Evelyn tidak pernah menyerah mengurus anak-anak ini dan bahkan anak-anak menyanyikan lagu-lagu menyambut gembira setiap kali ada tamu yang mengunjungi mereka. Romo Timothy Radcliffe, OP pernah mengunjungi dan melihat kondisinya, ia bertanya mengapa dia melakukan itu. Dia hanya punya satu alasan sederhana bahwa dia menkasihi anak-anak begitu banyak dan memang menemukan makna dan sukacita dalam apa yang dia lakukan.

Paskah adalah waktu ketika Yesus bangkit, mengalahkan kematian, memperbaharui kemanusiaan kita rusak dan dunia yang remuk. Dan semua ini berawal di kubur yang kosong. Sekarang pertanyaan adalah: Apa yang Kamu lihat di kubur yang kosong?

 Selamat Hari Paskah!

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno,OP

Nothing is Impossible

Fourth Sunday in Ordinary Time. January 31, 2016 [Luke 4:21-30]

“Isn’t this the son of Joseph? (Luk 4:22)”

‘Impossible’ is not part of Jesus’ vocabulary. He multiplied the bread and filled the hungry multitude. He walked on water and calmed the storm. He healed the woman with hemorrhage, opened the eyes of Bartimaeus, and expelled the demons. He forgave the adulterous woman and challenged the legalism of the authorities. He raised Lazarus and Himself resurrected. Not even death can limit Him.

Yet, ‘impossible’ and ‘limitation’ seemed to be the mindset of the people of Nazareth. When they saw Jesus came home and proclaimed the Word of God with authority, the Nazarene amazement was short-lived and they turned the tide against Jesus. One might say, ‘That’s impossible! He is Jesus, the son of the poor carpenter Joseph. He is lowly, ordinary, and incapable. Who does he think himself? God?’ Grace was just around the corner, but they closed their hearts, limited their possibilities, and hampered their own growth. Not only they boxed themselves in narrow-mindedness, they also tried to impose their limitations on Jesus. When Jesus refused to be placed under their closed-mindedness, they attempted to get rid of Jesus. Thus, nothing much happened in Nazareth.

Jesus further explained that this refusal to God’s grace had been a perennial problems of Israel. The great prophets Elijah and Elisha could have done mighty deeds for Israel, but they did not because they were rejected by their own people. Now, this mentality of putting limits to oneself does not solely belong to the Israelites. Unconsciously, this attitude may creep into our lives. We may listen to the Word of God every Sunday in the Eucharist, but do we allow the very Word to be fulfilled in our lives? Is Sunday Worship all about feeling-good experience, and yet going home, we act as if nothing happens to us? We are celebrating the Jubilee Year of Mercy, but does it help us being more merciful and compassionate? Sometimes we are like ‘Shoe’, the main character in old comic strip Shoe by Jeff MacNelly. When Shoe is pitching in a baseball game, in the conference in the mound, his catcher says, “You’ve got to have faith in your curve ball.” “It’s easy for him to say,” grumbles Shoe. “When it comes to believing in myself, I am an agnostic.”

A friend of mine did the incredible in her young age. She finished her doctorate at the age of 27 in Japan. What makes her more incredible is she turned down lucrative offers of big companies and volunteered as elementary school teacher in a far-flung area. She is currently serving the people of Nunukan, North Borneo Province, at the border of civilization. Once she texted me and told how difficult it was to teach, especially when people do not really appreciate yet the importance of education. I was speechless, having no word of consolation, but she immediately replied, ‘It is difficult to love.” Her answer made me smile since I know that despite her troublesome situations, she never stops loving. In the Annunciation, archangel Gabriel said to Mary, “For God, there is nothing impossible.” We shall not put limit to God’s grace, to our own growth in faith and to our ability to love. When we believe and open our hearts to God’s grace, the ‘impossible’ things begin to happen in our lives.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno,OP