Melampaui Rasa Syukur

Minggu ke-28 dalam Masa Biasa [C]

12 Oktober 2025

Lukas 17:11-19

Di permukaan, kisah sepuluh orang kusta ini menampilkan kontras yang jelas antara rasa syukur dan sikap tidak tahu berterima kasih. Sepuluh orang kusta disembuhkan, namun hanya satu—seorang Samaria, musuh orang Yahudi—yang kembali untuk mengucap syukur kepada Yesus. Sembilan orang lainnya, kemungkinan orang Yahudi, tampak tidak bersyukur. Namun, jika kita berhenti pada pelajaran itu saja, kita akan melewatkan drama yang mendalam dalam pertemuan ini. Apakah itu?

Luke 5:12-16. A man covered with leprosy entreated Jesus to clean him falling with his face down. Jesus cleaned him immediately by touching him.

Untuk benar-benar memahami kisah ini, pertama-tama kita harus memahami betapa parahnya kondisi orang-orang itu. Kata Yunani “lépra” yang digunakan dalam Injil untuk kata “kusta” merupakan terjemahan untuk kata Ibrani “tzara’at.” Ini bukan sekadar penyakit medis yang menyebabkan borok yang menyebar dan kulit yang berubah warna; ini adalah keadaan najis yang parah, sebuah kondisi yang membuat orang-orang tersebut tidak bisa mendekati tempat suci (Imamat 13-14). Karena sifat religius kondisinya, imam Lewi bertindak sebagai penentu apakah seseorang dengan kondisi tersebut najis atau tidak. Karena kenajisan “tzara’at”  yang menular, mereka dipaksa hidup dalam isolasi, mengenakan pakaian robek, dan berteriak “Najis, najis!” untuk memperingatkan siapa pun yang mendekat. Oleh karena itu, “tzara’at” merupakan salah satu nasib paling ditakuti bagi seorang Israel, karena memisahkan seseorang dari keluarga, komunitas, dan yang paling penting, dari Allah.

Dalam konteks ini, perintah Yesus kepada sepuluh orang kusta untuk menunjukkan diri mereka kepada imam-imam memiliki makna yang mendalam. Mereka akan mengenali ini sebagai prosedur standar untuk secara resmi dinyatakan suci dan dipulihkan ke dalam masyarakat. Kita dapat mengasumsikan bahwa sembilan orang Yahudi berangkat menuju imam-imam Israel mereka, sementara orang Samaria menuju imamnya sendiri. Momen penting terjadi ketika orang Samaria, yang masih dalam perjalanan dan secara teknis masih najis, memutuskan untuk berbalik. Ia jatuh di kaki Yesus dan ini adalah sebuah sikap yang lebih dari sekadar ucapan terima kasih emosional; ini adalah tindakan iman yang mendalam yang melanggar hukum ritual, karena orang najis tidak boleh mendekati orang tahir, dalam hal ini Yesus.

Tindakan ini mengungkapkan makna yang lebih dalam dari cerita ini. Pertanyaannya bukan sekadar apakah sembilan orang itu tidak bersyukur. Mungkin mereka memang tidak bersyukur, melupakan penyembuh mereka begitu mereka disembuhkan. Atau mungkin mereka hanya mengikuti perintah Yesus, berencana untuk kembali setelah mendapat persetujuan imam. Kita perlu ingat bahwa orang-orang ini memiliki iman pada Yesus sehingga mereka mau pergi kepada para imam bahkan sebelum mereka sembuh. Namun, orang Samaria itu menyadari sesuatu yang lebih dalam. Ia memahami bahwa Yesus bukan hanya sang penyembuh penyakit, tetapi sumber pemurnian itu sendiri. Dengan kembali kepada Yesus, ia mengakui bahwa Kristus memiliki wewenang untuk menyucikan dirinya tidak hanya dari penyakit fisiknya, tetapi juga dari kenajisan yang serius. Pada saat itu, Yesus terungkap sebagai Imam Besar Ilahi yang sejati.

Penyembuhan itu, oleh karena itu, bukanlah sekadar tentang memulihkan kesehatan. Itu adalah undangan untuk kembali kepada Allah, memilih kekudusan, dan mengenali Pemberi di atas pemberian. Orang Samaria itu menerima bukan hanya kulit yang sembuh, tetapi keselamatan. Rasa syukurnya adalah tanda iman yang melihat melampaui kebutuhannya yang segera kepada Dia yang dapat memenuhi kebutuhannya yang paling mendasar akan Allah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita mendekati Allah terutama dengan kebutuhan dan keperluan kita? Ketika kita merasa Allah telah menjawab doa-doa kita, apa reaksi kita? Bagaimana kita mengekspresikan rasa syukur kita? Apakah hal itu mendekatkan kita kepada Pemberi? Apakah karunia yang kita terima dari Allah pada akhirnya membawa kita kembali kepada-Nya, ataukah kita menjadi terobsesi dengan karunia itu sendiri?

Iman Sejati

Minggu ke-27 dalam Masa Biasa [C]

5 Oktober 2025

Lukas 17:5-10

Iman adalah sebuah tindakan luar biasa. Tuhan kita mengajarkan bahwa dengan iman sekecil biji sesawi, kita dapat memerintahkan pohon besar untuk dicabut dan ditanam di laut. Namun, Ia juga mengingatkan kita bahwa iman saja tidak cukup. Iman harus disertai dengan keutamaan lain yang esensial. Apa itu?

Secara sederhana, iman adalah tindakan untuk percaya kepada Allah dan Putra-Nya, Yesus Kristus. Sepanjang sejarah, orang-orang percaya telah mengalami kuasa yang luar biasa dan ajaib melalui iman. Melalui iman kepada Yesus, banyak orang menemukan kesembuhan, baik fisik maupun psikologis, bahkan dari penyakit yang tak tersembuhkan sekalipun. Melalui iman, banyak sekali orang mengalami pengalaman yang mengubah hidup, menemukan makna yang mendalam dan kebahagiaan. Melalui iman, banyak orang menerima karunia-karunia rohani, termasuk yang luar biasa seperti kesembuhan dan bernubuat.

Meskipun memiliki kuasa yang mengguncang bumi, Tuhan mengingatkan kita bahwa kita pada akhirnya adalah “hamba-hamba” Allah. Iman tidak menjadikan kita tuan. Iman sejatinya membuka mata kita pada kebenaran identitas kita. Jika kita percaya pada Pencipta yang Mahakuasa, maka kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Ada jurang yang tak terjembatani di antara kita: Allah adalah segalanya, dan kita tidak ada apa-apanya. Namun, Allah mengasihi kita begitu besar sehingga Dia memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan kita dan membawa kita ke dalam persatuan dengan diri-Nya. Kebenaran ini, yang didorong oleh iman, membawa kita langsung kepada kerendahan hati.

Kata “kerendahan hati” dalam bahasa Inggris adalah “humility” dan ini berasal dari bahasa Latin humus, yang berarti “tanah” atau “bumi.” Itu adalah kesadaran bahwa kita tidak berarti apa-apa dan tidak layak. Kita, dalam arti tertentu, “tanah kotor.” Namun, Allah mengasihi kita tanpa syarat. Kerendahan hati menempatkan iman dalam konteks yang tepat, mengingatkan kita bahwa bahkan iman kita juga adalah anugerah dari Allah.

Sebenarnya, iman tanpa kerendahan hati itu berbahaya. Setan dan roh-roh jahat memiliki semacam “iman”—mereka tahu dengan pasti bahwa Allah ada dan bahwa mereka memperoleh keberadaan dan kekuatan mereka dari-Nya. Namun, tanpa kerendahan hati, mereka menolak untuk taat dan melayani. Pada akhirnya, mereka jatuh.

Tanpa kerendahan hati, kita berisiko tertipu oleh diri sendiri. Kita mungkin berpikir bahwa “iman besar” kita membuat kita lebih unggul dari orang lain. Meskipun karunia dan pengalaman iman itu nyata, mereka dapat menjebak kita dalam kesombongan. Tanpa kerendahan hati, kita juga dapat memperlakukan iman sebagai alat tawar-menawar, percaya bahwa jika kita memiliki cukup, kita dapat mengendalikan Allah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Dengan kerendahan hati, iman benar-benar menyelamatkan. Kita menerima baptisan dari Gereja, dan tindakan kerendahan hati ini berarti mengakui keselamatan sebagai anugerah Allah yang cuma-cuma. Kita menerima Komuni Kudus dari tangan imam, dan tindakan kerendahan hati ini berarti mengakui bahwa kita membutuhkan Allah untuk memberi makan jiwa-jiwa kita yang lapar dan lemah. Kita mengaku dosa dalam sakramen Tobat, dan tindakan kerendahan hati ini berarti menerima bahwa seberapa pun kita rusak dan hancur, Allah tetap mencintai kita dan ingin menyembuhkan kita. Kerendahan hati memungkinkan iman kita untuk mendorong kita mengasihi Allah dengan mendalam, karena kita sepenuhnya menyadari kelimpahan kasih-Nya bagi kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan

  1. Bagaimana kita memahami iman? Apakah itu sekedar keyakinan akan kebenaran tentang Allah? Sebuah ikatan emosional? Atau komitmen untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya?
  2. Bagaimana kita memahami kerendahan hati? Apakah itu sekadar rasa “minder”? Atau apakah itu kesadaran mendalam akan kasih Allah yang tak terhingga bagi kita, bahkan dalam kelemahan kita?

Orang Kaya yang Tak Bernama

Minggu ke-26 dalam Masa Biasa [C]

28 September 2025

Lukas 16:19-31

Cerita tentang Lazarus dan Orang Kaya tidak hanya mengandung banyak pelajaran yang dapat kita pelajari dan teladani, tetapi juga mengungkapkan kebenaran tentang keselamatan kita. Apa saja itu?

1. Plot Twist

Cerita tentang Lazarus dan orang kaya menunjukkan kebijaksanaan Yesus sebagai seorang pencerita dan guru. Kebanyakan orang akan menganggap orang kaya sebagai protagonis, karena kekayaan materialnya dianggap sebagai tanda kasih karunia Allah. Sebaliknya, Lazarus, dalam kemiskinan dan penyakitnya, akan dianggap sebagai orang yang kalah, menderita karena hukuman Allah atau Allah tidak berkenan kepadanya. Namun, Yesus memberikan kejutan di dalam ceritanya yang menantang pendengar Yahudi aslinya dan terus menantang kita hingga hari ini. Pada akhirnya, orang kaya, meskipun memiliki kekayaan yang luar biasa, tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, sementara Lazarus, orang miskin, menerima belas kasihan Allah dan beristirahat di pangkuan Abraham.

2. Bukan Hanya Tentang Kekayaan

Namun, pandangan yang lebih dalam menunjukkan bahwa Yesus tidak sekadar mengutuk orang kaya dan memuliakan orang miskin. Orang kaya kehilangan keselamatannya bukan hanya karena kekayaannya, yang dapat menjadi berkat dari Allah jika digunakan sebagai sarana untuk tujuan tertentu. Intinya, kegagalannya adalah keserakahannya. Ia digambarkan mengenakan pakaian ungu yang mahal dan berpesta mewah setiap malam, namun ia memilih mengabaikan orang miskin yang putus asa di gerbang rumahnya. Meskipun memiliki kemampuan lebih dari cukup untuk membantu, ia menutup mata, hanya fokus pada kesenangannya sendiri.

Demikian pula, kemiskinan saja tidak secara otomatis memberikan Lazarus tempat di sisi Abraham. Orang miskin juga rentan terhadap dosa, seperti mencuri atau manipulasi. Namun, Lazarus digambarkan sebagai orang yang “dengan senang hati” menerima sisa-sisa makanan dari meja orang kaya. Ia menolak menggunakan kemiskinannya sebagai alasan untuk berdosa, melainkan memilih bersyukur atas sedikit yang ia miliki.

3. Orang Kaya yang Tak Bernama

Di antara tiga karakter utama dalam cerita ini, hanya satu yang tidak disebutkan namanya: orang kaya. Abraham, yang namanya berarti “bapak banyak bangsa,” menerima Lazarus, yang namanya adalah bentuk Latinisasi dari nama Ibrani “Eliazer,” yang berarti “Allahku adalah penolongku.” Rincian kecil ini penting, menggambarkan kebenaran yang mendalam: kita menjadi apa yang kita cintai.

Orang kaya itu begitu mencintai kekayaannya sehingga ia kehilangan identitas uniknya, dikenal hanya berdasarkan status materialnya. Ia mendefinisikan dirinya melalui pakaian mewah dan gaya hidup yang bermewah-mewah. Sebaliknya, Lazarus dan Abraham mencintai Allah. Semakin mereka mencintai-Nya, semakin mereka mencerminkan gambar-Nya, memungkinkan identitas asli yang diberikan Allah untuk bersinar. Lazarus hidup sebagai orang yang bergantung pada pertolongan Allah, dan Abraham sebagai bapa bagi banyak bangsa. Semakin kita mencintai hal-hal duniawi, semakin kita terjerat olehnya, dan secara bertahap kehilangan diri kita sendiri. Namun, semakin kita mencintai Allah, semakin kita menjadi seperti Allah, dan kita menjadi lebih autentik.

Lourdes, Prancis

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah kita mencintai Allah lebih dari segalanya? Apa saja hal-hal yang menghalangi kita untuk mencintai Allah? Apa saja misi yang diberikan Allah dalam hidup ini? Apakah kita peduli terhadap saudara-saudari kita yang kurang beruntung di sekitar kita?

Salib yang Menyembuhkan

Pesta Salib Suci [C]

14 September 2025

Yohanes 3:13-17

Salib adalah simbol universal Kristiani. Orang-orang Kristen mengenakannya sebagai bentuk perhiasan, seperti kalung, cincin, dan anting-anting, baik sebagai tanda devosi atau iman, maupun sekadar sebagai fashion. Gereja, dan berbagai institusi Kristiani memiliki salib sebagai penandanya. Namun, meskipun kita mungkin sudah familiar, sejarah dan makna mendalam salib sering kali diabaikan.

Pesta Salib Suci [C]
14 September 2025
Yohanes 3:13-17

Salib adalah simbol universal Kristiani. Orang-orang Kristen mengenakannya sebagai bentuk perhiasan, seperti kalung, cincin, dan anting-anting, baik sebagai tanda devosi atau iman, maupun sekadar sebagai fashion. Gereja, dan berbagai institusi Kristiani memiliki salib sebagai penandanya. Namun, meskipun kita mungkin sudah familiar, sejarah dan makna mendalam salib sering kali diabaikan.

Secara historis, salib bukanlah simbol keagamaan, melainkan alat teror. Salib adalah metode eksekusi Romawi yang ditujukan untuk penjahat dan pemberontak. Orang yang dihukum akan ditelanjangi, dipaku pada tiang kayu besar, dan dibiarkan mati perlahan, secara publik, terpapar elemen alam dan juga hujatan. Itu adalah simbol kekejaman dan kebengisan manusia. Inilah siksaan yang dialami Yesus.

Namun, Yesus tidak melarikan diri dari salib-Nya. Ia menerimanya, dan melalui kebangkitan-Nya, Ia mengubah salib dari alat penyiksaan menjadi sarana belas kasihan dan penyembuhan Allah. Dalam Injil, Yesus sendiri membuat hubungan tipologis antara salib-Nya dan ular tembaga yang diangkat oleh Musa di Buku Bilangan (Bil 21). Sama seperti orang-orang Israel yang tersengat ular dan memandang ular tembaga disembuhkan, semua yang memandang salib Yesus dengan iman akan diselamatkan dari maut.

Hal ini membawa kita pada pertanyaan mendalam: bagaimana salib menyembuhkan kita?

Pertama, salib menyembuhkan melalui kasih. Ketika kita memandang salib, kita melihat bukti kasih Allah yang paling luhur: Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia, dan menyerahkan diri-Nya sebagai korban demi mendamaikan kita dengan-Nya. Seperti yang ditulis Santo Paulus, “Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, karena ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rom 5:8).

Setiap dosa melukai jiwa kita dan memisahkan kita dari Allah. Setiap  kali kita melihat salib Kristus, ini menjadi panggilan permanen akan kasih Allah untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Dan rahmat perdamaian dan penyembuhan dari Salib mengalir kepada kita terutama melalui Baptisan dan Sakramen Rekonsiliasi.

Kedua, salib menyembuhkan melalui kehadiran Allah. Salib menunjukkan bahwa Allah bukanlah ilah yang jauh, terpisah dari penderitaan kita. Ia memilih untuk menjadi salah satu dari kita, untuk berbagi pengalaman manusiawi kita dengan segala penderitaannya. Di salib, Yesus menerima penderitaan manusia yang paling berat, menunjukkan bahwa ketika kita menyatukan penderitaan kita dengan-Nya, salib kita sendiri dapat diubah dan disembuhkan.

Ketika penderitaan menimpa kita, mudah untuk mengeluh dan putus asa. Tetapi salib mengingatkan kita bahwa kita tidak sendirian. Sama seperti Yesus menggunakan penderitaan-Nya untuk menjadi berkat bagi dunia, kita pun dapat menawarkan penderitaan kita kepada Allah dan menjadi sumber kekuatan dan belas kasihan bagi orang lain.

St. Fransiskus dari Assisi pernah mencari kemuliaan sebagai seorang ksatria. Setelah ditangkap dalam pertempuran dan jatuh sakit parah, ia pulih secara fisik tetapi masih merasa kekosongan rohani. Segalanya berubah saat ia berdoa di sebuah kapel yang rusak. Ia melihat penglihatan Yesus di salib, yang berkata kepadanya, “Fransiskus, pergilah dan perbaiki rumah-Ku yang sedang runtuh.” Momen ini memberikan penyembuhan sejati yang dibutuhkan Fransiskus, membantunya menemukan jati dirinya dan apa yang seharusnya ia lakukan, yaitu menjadi alat Tuhan untuk damai dan penyembuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apa salib-salib dalam hidup kita? Bagaimana salib Yesus menyembuhkan kita? Apakah kita menjadi sarana penyembuhan Tuhan bagi orang lain juga? Bagaimana caranya?

Membenci dan Mengasihi

Minggu ke-23 dalam Masa Biasa [C]

7 September 2025

Lukas 14:25-33

Kita kini dihadapkan pada salah satu pernyataan Yesus yang paling sulit dipahami: Ia menuntut agar kita “membenci” orang tua, pasangan, saudara kandung, bahkan anak-anak kita sendiri. Bagaimana kita memahami perkataan yang sulit ini?

Untuk menemukan jawabannya, kita harus mempertimbangkan tiga unsur utama: pernyataan lengkap Yesus, makna kata “benci”, dan konteks yang lebih luas dari kehidupan dan misi Yesus.

1. Pernyataan Lengkap

Pertama, kita perlu membaca kalimat secara utuh. Yesus berkata, “Jika ada orang yang datang kepada-Ku tanpa membenci ayah dan ibunya, istri dan anak-anaknya, saudara-saudaranya, bahkan hidupnya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Ini bukan perintah umum untuk semua orang, tetapi syarat khusus yang ditujukan kepada mereka yang ingin menjadi pengikut-Nya yang sejati.

2. Arti Alkitabiah dari “Benci”

Kata “benci” di sini (dari bahasa Yunani μισέω – miseo) tidak mengimplikasikan perasaan kebencian yang kuat atau permusuhan. Dalam Alkitab, kata ini sering memiliki makna perbandingan: “mencintai lebih sedikit” agar dapat memberikan perlakuan istimewa kepada sesuatu yang lain (lihat Kejadian 29:31, Ulangan 21:15-16, Lukas 16:13). Dalam konteks ini, Yesus menuntut agar pengikut-Nya menjadikan-Nya prioritas mutlak. Dia tidak meminta kita untuk memusuhi keluarga kita, tetapi untuk mencintai-Nya sedemikian rupa sehingga semua cinta lainnya—bahkan untuk hidup kita sendiri—terasa seperti bukan prioritas utama. Cara yang lebih sederhana untuk mengatakannya adalah: Kecuali kita mencintai Yesus lebih dari segala sesuatu dan semua orang lain, kita tidak dapat menjadi murid-Nya.

3. Konteks yang Lebih Luas

Akhirnya, kita harus ingat bahwa Yesus berbicara saat Dia berjalan menuju Yerusalem, tempat Dia akan menghadapi penderitaan dan kematian-Nya di salib. Mengikuti-Nya berarti berbagi dalam penderitaan-Nya. Hal ini hanya mungkin jika seorang murid memprioritaskan Yesus di atas segalanya. Kita melihat hal ini tercermin dalam tokoh seperti Maria, ibu-Nya, yang menolak untuk bersembunyi tetapi berdiri teguh di kaki salib, berbagi dalam penderitaan-Nya. Murid-murid lain, seperti Yohanes dan Maria Magdalena, juga mengikuti-Nya hingga akhir, menunjukkan prioritas kasih ini.

Ajaran yang keras ini tetap berlaku bagi kita hari ini. Mengikuti Yesus hingga akhir membutuhkan cinta kepada-Nya di atas segalanya. Meskipun tidak semua orang dipanggil untuk menjadi martir seperti Santo Ignatius dari Antiokhia yang dimakan singa atau Santo Fransiskus de Capillas yang disiksa dan dibunuh saat memberitakan Yesus di Tiongkok, setiap murid dipanggil untuk menjadikan Yesus sebagai prioritas utama dalam hidupnya.

Ini tidak berarti kita harus berdoa setiap detik. Sebaliknya, ini berarti membuat keputusan sehari-hari yang mencerminkan cinta kita kepada Yesus dan keinginan kita untuk berkenan di hadapan Allah. Ini bisa sesederhana: Memilih untuk menghindari dosa dan keburukan; Menolak menjadi batu sandungan bagi orang lain; Menjadikan Misa Minggu sebagai prioritas, bahkan saat berlibur; Dengan lembut mengajak anggota keluarga untuk mengenal Yesus lebih dalam.

Mencintai Yesus adalah keputusan sadar dan harian untuk memilih apa yang mengembangkan kekudusan kita dan memperdalam hubungan kita dengan-Nya.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita secara konkret menunjukkan cinta kita kepada Yesus dalam rutinitas harian kita? Apakah tindakan dan kata-kata kita mendorong orang lain untuk mencintai Yesus? Apakah perilaku kita membuat seseorang sulit untuk mendekati Yesus?

Kehormatan dan Kekudusan

Minggu ke-22 dalam Masa Biasa [C]

31 Agustus 2025

Lukas 14:1,7-14

Kehormatan adalah sebuah konsep dasar yang membedakan kita sebagai manusia. Konsep ini membimbing perilaku dan tindakan kita, dan dalam kasus-kasus ekstrem, dapat juga mendorong orang untuk mati atau bahkan menghabisi nyawa orang lain.

Menentukan makna  dari “kehormatan” adalah hal yang tidak mudah karena konsep ini tertanam dalam identitas individu dan komunitas kita sebagai manusia. Kehormatan merujuk pencapaian pada nilai-nilai luhur yang kita junjung tinggi sebagai manusia. Meskipun nilai-nilai ini dapat bervariasi antarbudaya, beberapa di antaranya diakui secara universal seperti kesetiaan, keberanian, kejujuran, kerja keras, dan integritas moral. Kehormatan diperoleh ketika orang lain mengakui usaha kita untuk mencapai nilai-nilai luhur tersebut. Misalnya, seorang siswa menerima “kehormatan” saat dia menerima medali sebagai penghargaan atas prestasi akademiknya yang diraih dengan susah payah.

Pencarian kehormatan, oleh karena itu, adalah pencarian akan idealisme tertinggi kita, sebuah perjuangan menuju keagungan yang membuat kita lebih manusiawi. Sebaliknya, ketidakhormatan menandakan kegagalan dalam memegang teguh nilai-nilai luhur tersebut. Kita kehilangan kehormatan ketika kita mengkhianati seseorang yang kita berjanji untuk setia, atau ketiak kita menghindari kesulitan seperti pengecut. Beberapa masyarakat menghargai kehormatan begitu dalam sehingga mereka melihat kehidupan yang tidak terhormat, seperti kehidupan yang dipenuhi dengan ketidakjujuran, ketidaksetiaan, dan pengecut, sebagai sesuatu yang lebih buruk daripada hidup seekor hewan. Selama Perang Dunia II, banyak tentara dan warga sipil Jepang memilih bunuh diri daripada menanggung malu ditangkap atau pulang dalam kekalahan.

Sebagai Tuhan kita, Yesus memahami bahwa kehormatan merupakan hal yang mendasar bagi kemanusiaan. Namun, Dia juga menyadari bagaimana dosa dapat merusak dan memutarbalikkan arti kehormatan tersebut. Dalam Injil, Yesus mengkritik mereka yang mencari tempat kehormatan tanpa berusaha mewujudkan nilai-nilai yang diwakilinya. Yesus mengajarkan bahwa nilai sejati dari sebuah tempat duduk di perjamuan bukanlah kemegahannya, melainkan keutamaan-keutamaan dari orang yang duduk di sana. Yang lebih penting lagi, Yesus memanggil kita untuk mengejar idealisme sejati dan menolak nilai-nilai yang korup, memperkenalkan kerendahan hati sebagai keutamaan yang mendatangkan kehormatan yang sejati.

Kritik Yesus terhadap orang-orang pada zamannya tetap sangat relevan hingga hari ini. Di masyarakat pascamodern, kita sering mengganti “kursi kehormatan” dengan hal-hal lain seperti merek pakaian, kendaraan, dan jumlah rekening bank. Meskipun harta benda sejatinya tidak jahat, mereka menjadi berbahaya ketika kita menganggapnya sebagai standar kehormatan kita, dan dalam prosesnya, kita mengorbankan idealisme sejati seperti kejujuran dan kesetiaan untuk mendapatkannya. Kesetiaan suami-istri pernah sangat dihormati, tetapi kini beberapa budaya memuji kebebasan seksual. Kita pernah memuji kerja keras, tetapi kini seringkali hanya merayakan hasil akhir, bahkan jika dicapai melalui tipu daya.

Mengikuti Yesus berarti terus-menerus mengkaji nilai-nilai kita. Ini berarti menolak nilai-nilai yang tidak membawa pada kemajuan manusia dan menghidupi nilai-nilai yang memupuk pertumbuhan sejati. Yesus, Tuhan kita, tidak menginginkan apa pun selain pertumbuhan menyeluruh kita sebagai manusia yang pada akhirnya membawa kita pada kepenuhan hidup sebagai manusia dan kekudusan.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Idealisme apa yang kita perjuangkan? Apakah idealisme tersebut mendukung perkembangan kita sebagai manusia? Apakah kita merasa malu ketika gagal mencapai idealisme kita atau ketika kita berbuat dosa? Apakah kita mengajarkan anak-anak kita tentang arti sebenarnya dari rasa kehormatan yang sejati?

Apa itu Iman?

Minggu ke-19 dalam Masa Biasa

10 Agustus 2025

Ibrani 11:1-2, 8-19

Penulis Surat kepada Orang Ibrani memberikan definisi yang mendalam tentang iman: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan, bukti dari hal-hal yang tidak terlihat” (Ibrani 11:1). Namun, bagaimana kita memahami definisi ini?

Iman sebagai Fondasi yang Kokoh

Kata Yunani yang digunakan untuk “dasar” adalah ὑπόστασις (hupostasis), yang secara harfiah berarti “yang berada di bawah.” Gambaran yang ingin diberikan adalah iman seperti fondasi yang kokoh. Ini berarti bahwa iman bukanlah emosi yang sementara atau ledakan keyakinan sesaat. Iman bukanlah sesuatu yang dapat dihasilkan secara instan melalui musik yang keras atau teriakan yang kuat. Sebaliknya, iman adalah keyakinan yang kokoh dan tak tergoyahkan terhadap janji-janji Allah. Iman menjadi fondasi bagi kita dan memberikan substansi pada apa yang kita harapkan meskipun kita belum dapat melihatnya.

Iman sebagai Bukti yang Meyakinkan

Penulis juga menggambarkan iman sebagai “bukti” dan dalam bahasa Yunani, ἔλεγχος (elengkos). Istilah yang sering digunakan dalam konteks hukum untuk merujuk pada bukti yang tak terbantahkan. Di ruang sidang, bukti yang terverifikasi menentukan seseorang bersalah atau tidak bersalah. Demikian pula, iman berfungsi sebagai konfirmasi yang tak terbantahkan atas realitas rohani yang tidak dapat kita rasakan dengan indra fisik kita, seperti mata, telinga, dan mulut. Meskipun tidak terlihat, realitas-realitas ini sungguh nyata karena iman bersaksi tentang kebenarannya.

Dari Mana Datangnya Iman Seperti Itu?

Namun, bagaimana mungkin iman bisa begitu kuat? Bagaimana bisa iman berfungsi sebagai dasar dan bukti sekaligus? Jawabannya terletak pada sumbernya: iman tidak berasal dari dalam diri kita, melainkan dari kesetiaan Allah. Janji-janji yang kita harapkan bukanlah keinginan manusia, melainkan jaminan ilahi karena Allah sendiri yang telah mengucapkan janji. Karena Allah dapat dipercaya, iman kita berakar pada komitmen-Nya yang tak berubah untuk menepati janji-janji-Nya.

Lalu, bagaimana kita tahu bahwa Allah benar-benar setia? Sejarah membuktikannya. Perjanjian Lama dipenuhi dengan kisah-kisah Allah yang menepati janji-Nya, dan Surat Ibrani menyoroti Abraham sebagai contoh utama. Pada usia tujuh puluh lima tahun, Abraham menaati panggilan Allah untuk meninggalkan tanah airnya yang nyaman menuju masa depan yang tidak diketahui dan tanah yang belum terjamah. Meskipun usianya sudah tua dan Sarah mandul, ia percaya pada janji Allah tentang keturunan yang sebanyak bintang di langit. Bahkan ketika diuji dengan hal yang tak terbayangkan, yaitu mengorbankan putranya Ishak, Abraham tetap percaya pada kesetiaan Allah bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik. Ia meninggal tanpa melihat penuhnya janji itu terpenuhi, namun janji-janji Allah pada akhirnya terwujud.

Surat Ibrani menunjukkan kepada kita bahwa kesetiaan Allah, yang ditunjukkan melalui generasi demi generasi, mencapai puncaknya dalam Yesus Kristus. Dia adalah ekspresi akhir dan paling sempurna dari janji-janji Allah. Dia dilahirkan seperti kita manusia, menderita dan wafat bagi kita, dan bangkit dari kematian. Iman kita, oleh karena itu, tidak hanya didasarkan pada emosi atau akal budi manusia saja, tetapi pada tindakan-tindakan historis Allah, yang terbukti dalam kehidupan orang-orang percaya sebelum kita dan dikukuhkan dalam Kristus. Iman lebih dari sekadar keyakinan. Iman adalah fondasi kokoh pada Dia yang tidak pernah gagal. Dan karena Allah setia, kita dapat berdiri teguh, bahkan ketika jalan di depan tidak terlihat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi

Bagaimana kita memahami iman? Apakah itu sekadar perasaan emosional, hasil logika, atau pertemuan pribadi dengan Allah? Apakah kita pernah menghadapi momen keraguan atau krisis iman? Bagaimana kita mengatasinya? Bagaimana pengakuan akan kesetiaan Allah dalam Kitab Suci memperkuat kepercayaan kita kepada-Nya hari ini?

Semua adalah kesia-siaan

Minggu ke-18 dalam Masa Biasa [C]

3 Agustus 2025

Pengkhotbah 1:2; 2:21-23

“‘Segala sesuatu adalah kesia-siaan!’ kata Qoheleth (Pengkhotbah 1:2; 12:8).” Apa arti pernyataan yang keras ini? Apakah setiap usaha manusia benar-benar sia-sia?

Suara di balik kitab ini memperkenalkan dirinya sebagai Qoheleth—sebuah istilah Ibrani yang berarti “orang yang mengumpulkan orang-orang,” tentunya dengan tujuan untuk memberikan pengajaran. Oleh karena itu, Qoheleth sering diterjemahkan sebagai “sang Guru” atau “sang Pengkhotbah.” Dia mengidentifikasi dirinya sebagai putra Daud dan raja di Yerusalem (1:1), seorang tokoh yang dianugerahi kebijaksanaan, kekuasaan, dan kekayaan yang luar biasa. Namun, dari posisi yang tinggi ini, setelah seumur hidup merenungkan makna hidup, dia akhirnya menyimpulkan: Segala sesuatu adalah “hevel.”

Kata Ibrani hevel (הֶבֶל) menggambarkan uap, angin yang berlalu, atau nafas yang singkat. Seperti kabut yang menghilang di kala fajar, hevel mewakili apa yang sementara, sulit ditangkap, dan pada akhirnya tidak dapat memuaskan. Metafora yang Qoheleth gunakan adalah “seperti mengejar angin” (1:14), dan hal ini menggambarkan dengan jelas perjuangan manusia yang tak henti-hentinya untuk sesuatu yang pada akhirnya tidak dapat digapai.

Perjalanan Qoheleth dimulai dengan mencari kebijaksanaan itu sendiri. Ia menceritakan bagaimana ia mengejar pengetahuan tanpa henti, melampaui semua orang yang datang sebelumnya (1:16). Namun, alih-alih kepuasan, ia menemukan bahwa kebijaksanaan yang lebih besar justru menambah kesedihannya (1:18). Hal ini tampak paradoksal— bukankah kita menganggap bahwa belajar membawa kejelasan dan kedamaian? Qoheleth mengungkapkan batas-batas kebijaksanaan duniawi: semakin kita tahu, semakin kita dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab tentang kehidupan dan kematian kita sendiri.

Kesenangan pun tak lebih baik. Ia menguji setiap kesenangan, seperti kemewahan, seni, kenikmatan sensual (2:1-11), dan dia menyimpulkan bahwa kesenangan ini bersifat sementara. Kekayaan dan prestasi pun terbukti sama kosongnya. Tak ada yang dibawa ke kubur; ahli waris mungkin menghamburkannya, dan bahkan pencapaian terbesar pun lenyap dari ingatan. Kematian, sang penyama, menjadikan semua pencapaian manusia tak berarti (2:14-16; 9:2-6).

Di tengah realisme yang keras ini, Qoheleth mengingatkan pendengarnya pada satu kebenaran yang tak berubah: “Takutlah kepada Allah dan taatilah perintah-Nya, sebab inilah seluruh kewajiban manusia” (12:13). Di dunia di mana segala sesuatu lepas dari jari-jari kita seperti pasir, hanya Allah yang kekal. Tujuan kita bukanlah untuk mengumpulkan apa yang sementara, tetapi untuk menyelaraskan hidup kita dengan kehendak-Nya yang kekal.

Namun, perspektif Qoheleth tetap terikat pada dunia ini. Ia berjuang dengan kehidupan “di bawah matahari” tetapi tidak menawarkan harapan yang jelas setelah kematian. Kematian, baginya, tampak seperti batas akhir yang sunyi (3:19-20; 9:5-6). Adalah Yesus yang kemudian membawa ketegangan ini ke dalam penyelesaian yang sempurna. Dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (Lukas 12:13–21), Kristus mengulang peringatan Qoheleth tentang bahaya mengikat diri pada harta duniawi, namun memperluasnya dengan janji kehidupan kekal. Apa yang kita lakukan dan apa yang kita memiliki sekarang menjadi berarti karena di dalam Kristus, semua ini mempersiapkan kita untuk hidup kekal. Selama kita tidak menjadi seperti orang bodoh yang terikat pada hal-hal duniawi, kita selalu memiliki harapan bahwa apa yang kita lakukan dan miliki menjadi berkat bagi kita dan sesama.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Bagaimana perspektif Qoheleth menantang asumsi modern tentang kesuksesan? Dalam hal apa kita telah mengalami “kesia-siaan” dalam hidup ini? Bagaimana pengajaran Yesus tentang kehidupan kekal mengubah cara kita berinteraksi dengan hal-hal sementara?

Krisis Kebapaan

Minggu ke-17 dalam Masa Biasa [C]

27 Juli 2025

Lukas 11:1-13

Banyak masyarakat saat ini menghadapi krisis yang sunyi namun sangat berbahaya: krisis kebapaan. Namun, apa sebenarnya krisis ini, dan bagaimana kita dapat menghadapinya?

Pada intinya, krisis ini mencerminkan kenyataan di mana jutaan anak tumbuh tanpa figur ayah yang autentik. Banyak ayah secara fisik tidak hadir; yang lain secara emosional jauh atau gagal mencontohkan nilai-nilai yang sangat dibutuhkan anak-anak mereka. Sementara itu, budaya modern—melalui film, iklan, video game, dan media—sering menggambarkan pria sebagai penjahat yang kejam atau sosok yang ceroboh dan tidak tegas. Jarang sekali mereka digambarkan sebagai pemimpin yang penuh kasih dan bertanggung jawab.

Erosi peran bapak ini lambat laun merusak struktur masyarakat. Studi secara konsisten menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan tanpa keterlibatan sang ayah menghadapi risiko lebih tinggi terhadap penyalahgunaan narkoba dan alkohol, gangguan mental, prestasi akademik yang buruk, kehamilan remaja, dan perilaku kriminal. Akibatnya sangat mendalam dan luas bagi masyarakat kita.

Bagaimana kita menghadapi krisis ini? Tidak ada solusi yang mudah, tetapi kita dapat memulai dengan berpaling kepada Yesus. Di hadapan tantangan global ini, doa yang Dia ajarkan kepada murid-murid-Nya, yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami, menjadi lebih semakin relevan bagi dunia.

Aspek paling mencolok dari doa ini adalah cara Yesus mengajarkan kita untuk memanggil Allah. Meskipun Allah adalah Pencipta Yang Mahakuasa dari langit dan bumi, Allah dari Perjanjian Lama, Yesus tidak hanya mengajarkan kita untuk memanggil-Nya “Allah,” tetapi Dia mengajarkan kita untuk memanggil-Nya, “Bapa Kami yang di surga.” Dengan menggunakan istilah yang intim dan manusiawi ini, Yesus mengungkapkan kebenaran yang mendalam: Allah bukan hanya maha kuasa, tetapi juga sangat dekat dengan kita. Dia bukan tuhan yang jauh, absen, dan acuh tak acuh, tetapi Bapa yang penuh kasih yang menyediakan, melindungi, dan membimbing anak-anak-Nya. Seperti yang diingatkan dalam Ulangan 4:7, Dia dekat “setiap kali kita memanggil-Nya.”

Namun Yesus lebih lanjut menjelaskan bahwa Allah adalah “Bapa di surga”. Dia berbeda dengan ayah-ayah di dunia ini, yang memiliki kelemahan dan keterbatasan. Allah mengasihi kita dengan sempurna, memberikan sinar matahari dan hujan kepada orang yang benar maupun yang tidak benar (Mat 5:45). Bahkan dalam penderitaan, cara-Nya mungkin tampak misterius, tetapi kebijaksanaan-Nya sebagai Bapa tetap bekerja bahkan di tengah cobaan. Pada akhirnya, keinginan-Nya yang paling dalam adalah agar kita tinggal bersama-Nya di surga (1 Tim 2:3-4). Seperti yang Yesus nyatakan dalam Yohanes 3:16, “Sebab Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Bapa mengasihi kita, anak-anak-Nya, begitu dalam sehingga Ia mengutus Anak-Nya sendiri untuk menjadi manusia seperti kita agar membawa kita pulang.

Setiap kali kita berdoa “Bapa Kami,” kita menegaskan dua kebenaran: Pertama, meskipun kita tidak sempurna, kita memiliki Bapa yang sempurna yang mengasihi kita tanpa syarat. Kedua, doa ini memanggil kita, terutama kaum pria, untuk mencerminkan kebaikan-Nya. Yesus menantang kita untuk tumbuh dari ketidakdewasaan dan ketidakpedulian menjadi manusia yang memiliki kasih, dedikasi, dan tanggung jawab, manusia yang bersandar pada kekuatan-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan: Bagaimana kita berhubungan dengan ayah kita? Apa pelajaran yang telah kita pelajari dari mereka? Apakah kita menjadi bapa yang baik (atau teladan) bagi generasi berikutnya? Bagaimana mengakui Allah sebagai “Bapa” mengubah hubungan kita dengan-Nya?

Sukacita dalam Penderitaan

Minggu ke-16 dalam Masa Biasa [C]

20 Juli 2025

Kolose 1:24-28

Penderitaan adalah bagian yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Berbagai agama dan filsafat telah berusaha untuk menjelaskan makna dari penderitaan. Namun, bagaimana pandangan Kristiani tentang penderitaan? Apa bedanya dengan pandangan-pandangan lain?

Beberapa orang memandang penderitaan sebagai hukuman ilahi atas kesalahan kita, menyiratkan bahwa mereka yang menderita pastilah orang yang bersalah dan berdosa. Yang lain menganggapnya sebagai ilusi, dan mengajak kita untuk mengabaikannya. Beberapa mengaitkannya dengan “karma” atau hasil dari tindakan buruk di kehidupan sebelumnya. Sementara yang lain melihatnya sebagai sesuatu yang tidak berarti, sesuatu yang harus dihindari dengan cara apa pun.

Namun, apa yang diajarkan oleh Kitab Suci dan iman kita tentang penderitaan? Apakah perspektif kita berbeda dengan yang lain? Perjanjian Lama bergumul juga dengan pertanyaan ini, khususnya dalam Kitab Ayub. Ayub adalah orang yang benar dan saleh, namun ia mengalami penderitaan yang luar biasa. Para sahabat Ayub mengatakan dia berdosa, tetapi Ayub bersikeras bahwa dia tidak bersalah. Akhirnya, Kitab Ayub menjawab bahwa penderitaan Ayub bukanlah hukuman, tetapi bagian dari rencana misterius Tuhan untuk memurnikan imannya. Kitab Ayub menentang pemikiran sederhana bahwa penderitaan selalu merupakan konsekuensi dari dosa.

Dalam Perjanjian Baru, Santo Paulus menawarkan sebuah perspektif yang radikal. Ia menulis, “Aku bersukacita dalam penderitaanku” (Kol 1:24). Sekilas, hal ini tampak mengherankan; bagaimana mungkin seseorang dapat bersukacita dalam penderitaan? Ayub dalam Perjanjian Lama meratapi penderitaannya, namun Paulus mengungkapkan rasa syukurnya. Apakah Paulus adalah seorang masokis, seseorang yang menikmati penderitaan?

Sama sekali bukan! Untuk memahaminya, kita harus membaca pernyataannya secara lengkap: “Sekarang aku bersukacita dalam penderitaanku oleh karena kamu, dan di dalam dagingku aku menggenapi apa yang kurang pada penderitaan Kristus demi tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Paulus menanggung banyak penderitaan demi Kristus dan Gereja-Nya. Ia mengalami pemukulan, pemenjaraan, kelaparan, dan pengkhianatan. Namun ia melihat penderitaannya bukan sebagai sesuatu yang sia-sia, tetapi sebagai cara untuk berbagi dalam penderitaan Kristus. Memang, Yesus mengalami penderitaan yang sangat menyakitkan dan kematian yang mengerikan di kayu salib, namun melalui kasih ilahi-Nya, Yesus mengubah penderitaan ini menjadi jalan keselamatan bagi semua orang.

Penyaliban Yesus adalah pengorbanan yang sempurna, yang sepenuhnya cukup untuk keselamatan. Namun, Gereja – tubuh Kristus – terus mengalami penderitaan karena masih mengembara di dunia dan berjalan di jalan salib Yesus. Yesus telah memperingatkan para pengikut-Nya bahwa mereka akan menghadapi penganiayaan karena nama-Nya (Mat 10:38; Yoh 15:20; Kis 9:16). Paulus memiliki pilihan: menyalahkan Tuhan atas penderitaannya, atau melihatnya sebagai kesempatan untuk menyempurnakan penderitaan Gereja. Paulus memilih yang kedua, dan mempersembahkan penderitaannya sebagai sarana berkat bagi umat di Kolose.

Benar bahwa beberapa penderitaan diakibatkan oleh kesalahan kita sendiri, tetapi sering kali, kita mengalami pencobaan di luar kehendak kita. Pada saat-saat seperti itu, kita memiliki pilihan: menyalahkan Tuhan atau menerima penderitaan sebagai bagian dari salib Kristus. Ketika kita menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan-Nya, penderitaan itu menjadi lebih dari sekadar penderitaan, tetapi menjadi jalan menuju kekudusan, sebuah sarana berkat dan rahmat bagi diri kita sendiri dan orang lain.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Penderitaan-penderitaan apa yang kita hadapi saat ini? Bagaimana kita memahaminya? Bagaimana kita meresponsnya – dengan kemarahan, keputusasaan, atau kepercayaan? Apakah kita melihat pergumulan kita sebagai bagian dari karya penebusan Kristus?