The Greatest Commandments

30th Sunday in Ordinary Time. October 29, 2017 [Matthew 22:34-40]

“You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind.  (Mat 22:34)”

love god love neighborsWhat is love? If we ask young couple who are in love, love means more time together and be connected online even up to late hours of the night. For young priests, love may mean patiently listening to confessions for hours, and attending to sick calls. For a couple who have their newly-born baby, love is changing the baby’s diapers even at middle of the night. Love is passion, dedication and sacrifice.

However, love is also one of the most abused and misused words in human history. In the name of love, a young man lures his girlfriend into premarital sex.  For the love of their country and race, some men persecute another ethic group and burn their villages. For the love of God and religion, some men blow themselves up and kill the innocent people, including children whom they consider the enemies of their God.

Surprisingly, the situation is not much different from the time of Jesus. For the love of the Law, the Pharisees keep and observe the Law even to its meticulous details in their daily lives. For the love of God and their country, the Zealots fight and kill the Romans and those who work for them. For the love of God, the Essenes separate themselves from the rest of the corrupted world and build their own exclusive communities. For the love of the Temple, the priestly clan work hard to offer sacrifices daily and is ready to die for the Temple.

When the Pharisees ask Jesus what is the greatest law, the law of laws, it is not simply about theological exercise, but it is to reveal Jesus’ fundamental attitude towards God and the Jewish Law. Is He a Pharisee who loves the Law more than anything else, a Zealot who loves the country zealously, or something else? Jesus answers, “You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind.” Jesus quotes part of the Shema or the basic Jewish Creed that every devout Jews would recite every day (see Deu 6:4-5). Yet, Jesus does not stop there. He completes the first and the greatest law with another one, “You shall love your neighbor as yourself.” It also comes from the Old Testament (see Lev 19:18). To the delight of the Jews, Jesus’ answer is basically an orthodox one, but there is something novel as well.

The connection between first and second turns to be a watershed. For Jesus, true love for God has to be manifested in the love for others, and genuine love for others has to be oriented toward God. Thus, it is unthinkable for Jesus to order His disciples to kill for the love of God. Or, Jesus will not be pleased if His followers are busy with performing rituals, but blind to the injustices that plague their communities.

Once I asked my brother who is studying Canon or Church Law, what is the highest law in the Canon Law? He immediately answered, the suprema lex, all laws are governed and ordained for the salvation of souls. The Code of Canon Law contains more than 2 thousand provisions governing various aspects of Church’s life, and all these will be absurd if not for the love of God and neighbors. In the same manner, do our love for God, our prayers and celebration of sacraments bring us closer to our neighbors, to be more committed in doing justice, to be dedicated in our responsibilities as members of a family and a society? Does our love for others, our affection for our children and friends, our passion for ministry bring them closer to God?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hukum yang Terutama

Minggu Biasa ke-30 [29 Oktober 2017] Matius 22: 34-40

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Mat 22:37)”

greatest commandment

Apa itu cinta kasih? Jika kita bertanya kepada pasangan muda yang sedang jatuh cinta, cinta berarti lebih banyak waktu bersama dan terhubung online bahkan sampai larut malam. Bagi para imam muda, cinta kasih adalah mendengarkan pengakuan dosa dengan sabar selama berjam-jam. Bagi pasangan yang baru mendapatkan bayi mereka, cinta kasih bisa berarti siap menggantikan popok sang bayi bahkan di tengah malam. Cinta kasih adalah semangat, dedikasi dan pengorbanan.

Namun, cinta juga menjadi salah satu kata yang paling disalahgunakan dalam sejarah manusia. Atas nama cinta, seorang pemuda membawa kekasihnya kepada perbuatan yang tidak pantas. Demi cinta kepada negara dan ras mereka, beberapa orang menganiaya kelompok etik lain dan membakar desa mereka. Demi cinta kepada Tuhan dan agama, beberapa orang meledakkan diri dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, termasuk anak-anak yang mereka anggap musuh-musuh dari Tuhan mereka.

Anehnya, situasi ini tidak jauh berbeda dengan zaman Yesus. Demi cinta kepada Hukum Taurat, orang-orang Farisi mematuhi Hukum Taurat bahkan dalam segala aspek dalam kehidupan sehari-hari mereka. Demi cinta kepada Tuhan dan bangsa mereka, orang-orang Zelot melawan dan bahkan membunuh orang-orang Romawi dan mereka yang bekerja untuk penjajah. Demi cinta kepada Tuhan, kelompok Essen memisahkan diri dari dunia yang mereka anggap tidak lagi murni dan membangun komunitas eksklusif mereka sendiri di gurun. Demi cinta kepada Bait Suci, para imam bekerja keras untuk mempersembahkan korban setiap hari dan siap untuk mati bagi Bait Suci.

Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus apa hukum yang terbesar, ini bukan hanya tentang sekedar wacana teologis, tetapi ini akan mengungkapkan sikap fundamental Yesus terhadap Allah dan Hukum Yahudi. Apakah Yesus sama seperti orang Farisi yang lebih mengasihi Hukum daripada sesama, atau seperti orang Zelot yang mencintai bangsa mereka sampai mati, atau Yesus adalah lebih dari mereka? Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengutip bagian dari Shema atau Kredo dasar Yahudi yang setiap orang Yahudi daraskan setiap hari (lihat Deu 6: 4-5). Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ saja. Dia melengkapi hukum pertama dan terbesar dengan hukum kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ini juga berasal dari Perjanjian Lama (lihat Im 19:18). Sesungguhnya, jawaban Yesus pada dasarnya adalah ajaran yang ortodoks bagi orang Yahudi yang mendengar. Namun ada juga sesuatu yang baru.

Hubungan antara hukum pertama dan kedua menjadi kunci ajaran Yesus. Bagi Yesus, cinta kasih sejati kepada Tuhan harus diwujudnyatakan dalam cinta kasih kepada sesama, dan cinta sejati kepada sesama harus berorientasi kepada Tuhan. Jadi, sungguh tidak terpikirkan jika Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk membunuh demi cinta akan Allah. Atau, Yesus tidak akan senang jika para pengikutnya hanya sibuk melakukan peribadatan, namun buta dengan ketidakadilan yang terjadi di dalam komunitas mereka.

Pernahkah saya bertanya kepada seorang frater yang sedang belajar Hukum Kanonik atau Hukum Gereja, “apakah hukum tertinggi dalam Hukum Kanonik?” Dia segera menjawab, suprema lex, semua hukum berpedoman dan bermuara pada keselamatan jiwa-jiwa. Kode Hukum Kanonik berisi lebih dari 2 ribu ketentuan yang mengatur berbagai aspek kehidupan Gereja, dan semua ini tidak masuk akal jika bukan karena cinta kasih kepada Tuhan dan sesama.

Sekarang sebagai murid-murid Yesus, apakah cinta kita kepada Tuhan, doa dan perayaan-perayaan sakramen membawa kita lebih dekat ke sesama kita, untuk lebih berkomitmen dalam memperjuangkan keadilan, untuk lebih bertanggung jawab sebagai anggota keluarga dan masyarakat? Apakah cinta kita kepada sesama, kasih sayang bagi anak cucu kita dan teman-teman kita, semangat kita dalam pelayanan membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Canaanite Woman and Mother

20th Sunday in Ordinary Time. August 20, 2017 [Matthew 15:21-28]

“Please, Lord, for even the dogs eat the scraps that fall from the table of their masters (Mat 15:27)”

canaanite woman 2Why does Jesus, the compassionate man and just God, have to “humiliate” the Canaanite woman? If we put ourselves in the context of Jesus’ time and culture, we will understand that what Jesus does is just expected of him. Jesus is dealing with a woman of gentile origin. Generally, Jews avoid contacts with the non-Jews, and a Jewish man does not engage in dialogue with a woman who is not his wife or family in public. Jesus does what every Jewish man has to do. However, in the end, Jesus praises the woman’s faith and heals her daughter. Eventually, mercy overcomes differences and love conquers all.

How big is this woman’s faith? If we carefully read the dialogue between Jesus and the Canaanite woman, there are three stages of humiliation. Firstly, the woman cries out loudly to Jesus, addressing him as Lord, Son of David, and asks for pity for her daughter. Jesus ignores her.  Secondly, the woman keeps crying out, and Jesus refuses her with a reason that he is sent only to the Jews. Thirdly, the woman touches the ground and worships Jesus, begging for the life of her daughter. Jesus associates her with a dog, perhaps because the relationship between the Jews and the Gentile in this region has become so sour that they call each other as dogs. Yet, despite these series of humiliation, the woman perseveres and wittily answers that even dogs receive mercy from their master. There is a progression of humiliation, yet there is also progression of humility and faith. From someone outside the group, she persistently makes her way inside to the point of ‘under the table’ of her master.

What inspires such great humility and faith? I believe that it is her far greater love. She is not just a woman and a Canaanite, she is also a mother. We know good parents, especially a mother, would do practically anything for their children. There is a natural bond between a mother and the child of her womb, a bond that empowers a woman to even sacrifice her life. Jesus allows this humiliation because He knows well the capacity of this mother to love. God allows things to get messy in our lives, because He knows well our capacity to love which can grow exponentially.

Let me end this little reflection with a story. on the day of graduation in one of the top universities in the Philippines, a young man, top of his batch, gave his valedictory remarks. He narrated a story of a young woman who was expecting a child. Yet, she was diagnosed with a dangerous illness that required aggressive treatments. The medication may cure her, but it will be too strong for the infant inside her womb.  So, she was left with a choice either to choose her life or her baby’s. Many encouraged her to let the baby die since she has a bright future, a promising career. Yet, to the surprise of all, she decided not to take the medication, and allowed her baby live. Trusting to her baby to her husband, she died after giving birth to a healthy little Babyboy. Then, with teary eyes, the young valedictorian revealed to all that he was that little baby. He is able to live, to grow, and achieve his dream because his mother loved him so much to the point of giving her own life for him.

We remember and thank our mothers who have loved and sacrificed a lot for us. And just like them, God calls us to have faith and love that make us bigger than our small lives.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perempuan Kanaan

Minggu Biasa ke-20 [20 Agustus 2017] Matius 15: 21-28

“Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” (Mat 15:27)”

KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA

Mengapa Yesus, yang penuh kasih, harus “mempermalukan” perempuan Kanaan? Jika kita menempatkan diri kita dalam konteks dan budaya pada zaman Yesus, kita akan mengerti bahwa apa yang Yesus lakukan adalah sesuai dengan apa yang diharapkan. Ingat Yesus sedang berhadapan dengan perempuan yang bukan Yahudi. Umumnya, orang Yahudi pada zaman itu menghindari kontak dengan orang-orang bukan Yahudi, dan seorang pria Yahudi tidak berdialog dengan perempuan yang bukan istri atau keluarganya di ruang publik. Yesus melakukan apa yang setiap orang Yahudi harus lakukan. Namun, pada akhirnya, Yesus memuji iman sang perempuan tersebut dan menyembuhkan putrinya. Akhirnya, belas kasihan mengatasi perbedaan, dan kasih menaklukkan semuanya.

Seberapa besar iman perempuan Kanaan ini? Jika kita membaca dengan saksama dialog antara Yesus dan perempuan Kanaan, ada tiga tahap “penghinaan”. Tahap pertama: perempuan itu berseru dengan lantang kepada Yesus, memaggil-Nya sebagai Tuhan, Anak Daud, dan mohon belas kasihan bagi putrinya. Yesus mengabaikannya. Tahap kedua: perempuan itu terus berteriak-teriak, dan Yesus menolaknya dengan alasan bahwa Dia dikirim hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Tahap ketiga: perempuan itu bersujud dekat Yesus dan menyembah-Nya, memohon untuk kehidupan putrinya. Yesus mengumpamakan ia seperti seekor anjing, mungkin karena hubungan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi di wilayah ini telah menjadi sangat buruk sehingga mereka saling memanggil sebagai binatang. Namun, terlepas dari serangkaian penghinaan ini, perempuan tersebut bertekun dan dengan pintar membalikkan keadaan dengan menjawab bahkan anjing pun mendapat belas kasihan dari tuannya. Benar, ada tahapan “penghinaan”, tetapi ada juga perkembangan kerendahan hati dan iman. Dari seseorang yang di luar kelompok, sang perempuan perlahan-lahan mendekati Yesus. Dari seseorang yang di luar pikiran Yesus, iapun berada di hati-Nya.

Apa yang mengilhami kerendahan hati dan imannya yang begitu besar? Saya percaya bahwa itu adalah kasih. Ingat bahwa dia bukan hanya perempuan Kanaan, dia juga seorang ibu. Kita tahu orang tua yang baik, terutama seorang ibu, akan melakukan segala hal untuk anak mereka. Ada ikatan mendalam antara sang ibu dengan anak buah rahimnya, ikatan yang memberdayakan perempuan bahkan untuk mengorbankan hidupnya. Yesus membiarkan “penghinaan” ini karena Dia mengetahui dengan baik kemampuan sang ibu untuk mencintai. Tuhan terkadang membiarkan segala sesuatunya menjadi sulit dalam hidup kita, karena Dia tahu dengan baik kemampuan kita untuk mengasihi dapat berkembang secara luar biasa.

Pada sebuah acara wisuda di salah satu universitas terkemuka di Filipina, seorang pemuda, yang adalah mahasiswa teladan, menyampaikan pidato sambutannya. Dia menceritakan sebuah kisah tentang seorang perempuan muda yang sedang hamil. Namun, beberapa bulan sebelum melahirkan, dia didiagnosa menderita penyakit berbahaya. Obat-obatan bisa menyembuhkannya, tapi akan terlalu berbahaya bagi bayi di dalam rahimnya. Jadi, dia harus memilih: hidupnya atau bayinya. Banyak yang mendorongnya untuk membiarkan bayinya meninggal karena ia memiliki masa depan yang cerah dan karir yang menjanjikan. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk menyelamatkan bayinya. Mempercayai bayinya kepada sang suami, diapun meninggal setelah melahirkan bayi laki-laki mungil yang sehat. Kemudian, mengakhiri pidotanya, dengan mata berkaca-kaca, sang pemuda mengungkapkan kepada semua yang hadir bahwa dia adalah sang bayi kecil tersebut. Dia hidup, tumbuh, dan mencapai mimpinya karena ibunya yang sangat mencintainya dan tidak takut untuk memberi hidupnya untuknya.

Mari kita mengingat dan berterima kasih ibu kita yang telah mencintai dan berkorban bagi kita. Dan sama seperti mereka, Tuhan memanggil kita untuk memiliki iman dan cinta kasih yang membuat kita jauh lebih besar dari diri kita yang kecil.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Metamorphosis

The Feast of Transfiguration. August 6, 2017 [Matthew 17:1-9]

 “He was transfigured before them; his face shone like the sun and his clothes became white as light (Mat 17:2).”

transfiguration 2This Sunday, the Church is celebrating the feast of Transfiguration.  The word ‘transfiguration’ comes from Matthew who writes Jesus transfigures before the three disciples, Peter, James and John, his face shines like the sun and his clothes become white as light (17:2). The word “transfigure” is the direct transliteration of the Latin Vulgate Bible “transfigurare”. It is a combination of two words “trans” meaning to across, and “figura” meaning figure.  Thus, transfiguration literally means the change of figure. It is a fitting word to describe what happens to Jesus.

However, if we look at the original Greek, Matthew used the word “metamorphos” which is actually the root of the English word metamorphosis. Many of us understand metamorphosis as a biological term. It is a marked and more or less abrupt developmental change in the form or structure of an animal. The classical examples are the transformation from a leaf-eating caterpillar into a beautiful butterfly, or an aquatic tadpole into a land-dwelling frog. Metamorphosis is surely a radical change, but we do not use this term to describe what happens to Jesus in Mount Tabor perhaps because we do not want to limit Jesus’ transformation to the biological sphere only. It is something more fundamental, spiritual and even divine.

In our time, the medical technologies have advanced considerably, and this enables us also to undergo a metamorphosis. We can look young despite our age. We can reduce our excess fat in no time. We can make even our face bright and vibrant, even ‘shining like the sun’. I have to admit that often I do not pay much attention to my physical and facial improvement, but I believe that our efforts to care for our bodies and improve our beauty are part of appreciating God’s creations. The problem sets in when we become excessive and even obsessive. Spending huge amount of money just for beauty products and cosmetic surgery while our neighbors are dying of hunger is simply unchristian. Spending our fortune for the companies that cause environmental damages or sufferings to people is also our participation in this injustice.

However, we are called not simply to metamorphosize but to transfigure. While the change and improvement in our body can be good and beautiful, transfiguration is not only a matter of physical alteration. We need to change in a more fundamental, spiritual and even divine way. It is a change that pleases the Father because we become like Jesus, we become His sons and daughters. Through the sacrament of baptism, we have been made God’s children, and now it is our mission to act and behave like His worthy children. Like Jesus, we need to be more aware of the sufferings around us and be compassionate to our poor brothers and sisters. Like Jesus, we fight against the injustices and abuses that take place around us. Like Jesus, we instruct and educate our family, friends and neighbors in truth.

Finally, Matthew places the event of the Transfiguration just before Jesus goes to Jerusalem as He offers His life for our salvation. The true transfiguration enables us to become less and less self-centered and empowers us to do sacrifices for our loves ones. We are called to make the world a better place for us and all children of God. Like Jesus, we are called to be transfigured and be pleasing to the Father.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Metamorfosis

Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya. 6 Agustus 2017 [Matius 17: 1-9]

“Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. (Mat 17:2)”

transfiguration 1Minggu ini, Gereja merayakan Pesta Yesus yang menampakkan kemulian-Nya yang juga dikenal sebagai Transfigurasi. Kata “transfigurasi” adalah transliterasi dari kata Latin “transfigurare” yang digunakan oleh Alkitab Latin Vulgata. Ini adalah kombinasi dua kata “trans” yang berarti melintasi, dan “figura” yang berarti bentuk atau figur. Dengan demikian, transfigurasi secara harfiah berarti bahwa perubahan bentuk atau figur. Ini adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Yesus di Gunung tinggi.

Namun, jika kita menyimak bahasa Yunani yang digunakan Matius, kata yang dipilih adalah “metamorphos” yang sejatinya merupakan akar kata dari metamorfosis. Banyak dari kita memahami metamorfosis sebagai istilah biologis. Ini adalah perubahan dan perkembangan drastis yang terjadi dalam bentuk atau struktur anatomi hewan. Contohnya adalah transformasi dari ulat pemakan daun menjadi kupu-kupu yang indah, atau kecebong yang hidup di air menjadi katak yang mampu hidup di daratan. Metamorfosis merupakan perubahan yang radikal, namun kita tidak menggunakan istilah ini untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Yesus di Gunung Tabor mungkin karena kita tidak ingin membatasi transformasi Yesus pada sisi biologis saja. Ini adalah sesuatu yang lebih mendasar, spiritual dan bahkan ilahi.

Di zaman modern ini, teknologi medis telah berkembang pesat, dan ini memungkinkan kita juga mengalami “metamorphosis”. Kita bisa terlihat lebih muda meski sudah berusia. Kita bisa mengurangi kelebihan lemak kita dalam waktu singkat. Kita bahkan bisa membuat wajah kita cerah dan bahkan bersinar seperti matahari. Saya harus mengakui bahwa seringkali saya tidak terlalu memperhatikan perbaikan fisik dan wajah saya, namun saya percaya bahwa usaha kita untuk merawat tubuh kita adalah bagian dari menghargai ciptaan Tuhan. Masalah terjadi saat kita menjadi berlebihan dan bahkan obsesif. Menghabiskan sejumlah besar uang hanya untuk produk kecantikan dan bedah kosmetik sementara sesama kita kelaparan karena tidak ada makanan adalah sikap yang sama sekali tidak kristiani. Menghabiskan kekayaan kita untuk perusahaan yang menyebabkan kerusakan lingkungan atau penderitaan orang banyak juga membuat kita turut berpartisipasi dalam ketidakadilan.

Namun, kita dipanggil tidak hanya untuk bermetamorfosis tapi juga ber-transfigurasi. Sementara perubahan dan perbaikan dalam tubuh kita adalah baik dan indah, transfigurasi bukan hanya soal perubahan fisik. Kita perlu berubah dengan cara yang lebih mendasar, spiritual dan bahkan ilahi. Ini adalah perubahan yang menyenangkan hati Allah Bapa karena kita menjadi seperti Yesus, kita menjadi putra dan putri-Nya. Melalui sakramen pembaptisan, kita telah dijadikan anak-anak Allah, dan sekarang misi kita adalah untuk bertindak dan berperilaku seperti anak-anak-Nya. Seperti Yesus, kita perlu lebih sadar akan penderitaan di sekitar kita dan berbelas kasihan kepada saudara dan saudari kita yang miskin. Seperti Yesus, kita berjuang melawan ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Seperti Yesus, kita mendidik keluarga, teman dan sesama kita dalam iman dan kebenaran.

Akhirnya, Matius menempatkan peristiwa Transfigurasi sebelum Yesus pergi ke Yerusalem dan mempersembahkan hidup-Nya bagi keselamatan kita. Transfigurasi yang sejati memungkinkan kita untuk menjadi tidak egois dan memberdayakan kita untuk berkorban bagi orang-orang yang kita cintai. Kita dipanggil untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik bagi kita dan semua anak-anak Allah. Seperti Yesus, kita dipanggil untuk ber-transfigurasi dan berkenan kepada Bapa.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bigger Family

13th Sunday in Ordinary Time. July 2, 2017 [Matthew 10:37-42]

 “Whoever loves father or mother more than me is not worthy of me, and whoever loves son or daughter more than me is not worthy of me (Mat 10:37).”

hungerWhen God calls us, God does not only call us privately and individually. In the Bible, God also calls us with our family, our community. God created the first man and woman not only to complete each other, but also to “multiply” or to build a human family. Noah entered the ark together with his wife and children. They were saved as a family from the flood. Abraham and Sarah were called from the land of Ur, and establish their own family and clan in the land of Canaan. When God called Moses to deliver the Israelites from slavery, God also called Aaron and Miriam, Moses’ brother and sister, to assist him in his mission. Finally, the life of Jesus of Nazareth would not be complete without the family of Mary and Joseph of Nazareth.

Surely, it is a good news for family-oriented persons. For many cultures, like Filipino and Indonesian, family is at the center of our value system. When I ask some of my Filipino friends, “If your house is burning, what are the first things you will rescue?” Their answer is not money, important documents or jewelries, but family pictures! In 1977, the Tanzanian President Julius Nyerere, one of the most prominent African figures during that time, visited US and talked before the African students who studied there. Before them, he criticized those Africans who received much support from their families and clan, yet refused to go back after their studies. It was an act of cowardice and betrayal to Africa.

However, if we read today’s Gospel, Jesus made a tough demand for His disciples. In preaching the Kingdom, they had to love Jesus more than they love their family. In ancient Israel, like many Mediterranean societies, respect and honor of the parents was a sacred duty of every child. It was in fact enshrined in the Decalogue as the fourth commandment.  To the point that if a child failed to honor their parents and brought nothing but headache, he would be punished severely by the community (see Dt 21:20-21). As a Jew, He knew this too well, yet He insisted that His disciples had to be committed first to Him and His Gospel before their families. Does Jesus want to cut us from our families? Is Christ-centeredness opposed to family centeredness? Does following Jesus mean leaving our family behind?

God indeed calls us with our family and as a family, but He does not call us only for our family. As old proverb goes, “Charity begins at home, but it does not end there.” We surely love our families, but as Christians we are called to serve a bigger family of humanity and even our mother Earth. It is impossible to serve others, if our allegiance is for ourselves and a small family. Many corruptions take place because we want to enrich our families and clans at the expense of other people. To serve the bigger family of humanity, we are called to first love God who is the merciful and just Father to all, who pour rains and gives sunshine both to the good and not so good. Jesus does not want to destroy families because surely He loves Mary and Joseph, yet He loves His Father most, and this love empowers Him to give His life for all whom His Father loves.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Keluarga yang lebih besar

Minggu Biasa ke-13. 2 Juli 2017 [Matius 10: 37-42]

“Siapa pun yang mencintai ayah atau ibu lebih dari pada saya tidak layak untuk saya, dan siapa pun yang mencintai anak laki-laki atau perempuan lebih dari saya tidak layak untuk saya (Mat 10:37).”

beautiful feetKetika Tuhan memanggil kita, Tuhan tidak hanya memanggil kita secara individual. Dalam Alkitab, Tuhan juga memanggil kita dengan keluarga kita dan komunitas kita. Tuhan menciptakan pria dan wanita pertama yang tidak hanya untuk saling melengkapi, tapi juga “berkembang biak” atau membangun keluarga manusia. Nuh masuk ke dalam bahtera bersama istri dan anak-anaknya. Mereka diselamatkan sebagai keluarga dari banjir besar. Abraham dan Sarah dipanggil dari tanah Ur untuk membangun keluarga dan klan mereka sendiri di tanah Kanaan. Ketika Tuhan memanggil Musa untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan, Tuhan juga memanggil Harun dan Miriam, saudara laki-laki dan perempuan Musa, untuk membantu dia dalam misinya. Akhirnya, kehidupan Yesus dari Nazaret tidak akan lengkap tanpa keluarga Maria dan Yusuf dari Nazaret.

Tentunya, ini adalah kabar baik bagi orang-orang yang berorientasi keluarga. Bagi banyak budaya, seperti Filipina dan Indonesia, keluarga merupakan pusat sistem nilai kita. Ketika saya bertanya kepada beberapa teman Filipina, “Jika rumah kamu terbakar, benda apa yang akan kamu selamatkan terlebih dahulu?” Jawaban mereka bukanlah uang, dokumen penting atau perhiasan, tapi foto keluarga! Pada tahun 1977, Presiden Tanzania Julius Nyerere, salah satu tokoh paling terkemuka Afrika selama masa itu, mengunjungi AS dan berbicara di hadapan para pelajar Afrika. Dengan tegas, dia mengkritik orang-orang Afrika yang mendapat banyak dukungan dari keluarga dan komunitas mereka, namun menolak untuk kembali setelah pendidikan mereka. Itu adalah tindakan pengecut dan pengkhianatan terhadap Afrika.

Namun, jika kita membaca Injil hari ini, Yesus mengajukan tuntutan yang berat bagi murid-murid-Nya. Dalam pewartaan Kerajaan Allah, mereka harus lebih mengasihi Yesus daripada mengasihi keluarga mereka. Di Israel zaman itu, seperti banyak masyarakat Mediterania, penghormatan terhadap orang tua adalah tugas suci bagi setiap anak. Ini adalah perintah keempat dari sepuluh perintah Allah. Bahkan jika seorang anak gagal menghormati orang tua mereka dan terus membuat orang tua sakit kepala, dia akan dihukum berat oleh masyarakat (lih. Deu 21: 20-21). Sebagai orang Yahudi, Yesus mengetahui hal ini dengan sangat baik, namun Dia tetap pada pendirian-Nya agar murid-murid-Nya harus terlebih dahulu berkomitmen kepada Dia dan Injil-Nya melebihi keluarga mereka. Apakah Yesus ingin memutus kita dari keluarga kita? Apakah mengikuti Yesus berarti meninggalkan keluarga kita? Apakah kasih terhadap Kristus bertentangan dengan kasih bagi keluarga?

Tuhan sungguh memanggil kita dengan keluarga kita dan sebagai sebuah keluarga, tapi Dia tidak memanggil kita hanya untuk keluarga kita. Rm. Enrico Gonzales, OP guru saya di Manila selalu berkata, “Kasih dimulai di rumah, tapi tidak berakhir di sana.” Kita pasti mengasihi keluarga kita, tapi sebagai orang Kristiani kita dipanggil untuk melayani keluarga manusia yang lebih besar dan juga bumi kita ini. Tidak mungkin melayani orang lain, jika kesetiaan kita adalah untuk diri kita sendiri dan keluarga kecil kita. Banyak korupsi dan kejahatan terjadi karena kita ingin memperkaya diri sendiri dan keluarga kita dengan mengorbankan orang lain. Untuk melayani keluarga manusia yang lebih besar, kita dipanggil untuk pertama-tama mengasihi Tuhan yang adalah Bapa bagi semua, yang memberi hidup, menurunkan hujan dan memberikan sinar matahari kepada yang baik dan tidak begitu baik. Yesus tidak ingin menghancurkan keluarga karena pastilah Dia mengasihi Maria dan Yusuf, namun Dia mengasihi Bapa-Nya lebih dari siapapun, dan kasih ini memberdayakan Dia untuk memberikan nyawa-Nya untuk kita semua yang Bapa-Nya kasihi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Life of a Preacher

Twelve Sunday in Ordinary Time. June 25, 2017 [Mathew 10:26-33]

“What I say to you in the darkness, speak in the light; what you hear whispered, proclaim on the housetops (Mat 10:27).”

sent to preachSt. Francis of Assisi once said, “Preach the Gospel all time. When necessary, use words.” He correctly points out that preaching is not only the job of the priests in the pulpit, or lay preachers in the prayer meetings. Preaching the Gospel is the mission of all of us.  The preaching can happen in the family, as we show our children the meaning of true love, fidelity and respect. Preaching can take place in our workplaces as we uphold honesty, hard work, and dedication. Preaching may manifest in our daily life as we do justice, service to the needy, and kindness to our neighbors.

However, to preach Jesus Christ is not always smooth sailing. I myself have been in the ministry of preaching for some years, and at times, I have to face tough moments. When, I preach with a content and style that are outside of the box, some good and honest people come and rightly question the orthodoxy of my preaching. Yet, when I preach with predicted insight and usual delivery, young people will come and tell me it is boring. There are times that nobody’s listening to my preaching or reading my reflection. Sometimes, I feel tired, frustrated and bored. The same feelings may also befell us as we do our preaching in the family, workplace, the parish, or the society. It is frustrating when we are honest, but the rest are not. It is tiring when we know that we are the only one working hard. It is hurting to be backstabbed after all our service to others.

Yet, our life as a preacher is a lot better and safer than my brothers and sisters in other places. Our Dominican sisters of St. Catharine of Siena in Iraq chose to stay despite the ongoing war and turmoil that hit the country, and serve the refugees without any discrimination. In 2003, when US-led coalition invaded Iraq, they kept running the hospital in Baghdad amidst heavy fighting and looting in the capital. In 2014, when IS took the city of Mosul, the sisters were walking together with the refugees, and at forefront in helping and managing several refuge centers. For some others to preach Christ means violence and death. Last May, Fr. Miguel Angel Machorro was in critical condition after he was stabbed in the neck just right after saying the mass in Mexico City’s Cathedral. Fr. Teresito Suganob who was working among the Muslims in Marawi City, Philippines, was abducted when the group of extremists occupied the city. Nobody knows yet what happened to him.

What makes them preach the Gospel despite constant dangers to their lives? I believe that it is because they love the Lord dearly. This love, as Roman poet Virgil wrote, conquers all. Their love drives out the fear of death, empowers them in trials, and encourages them in face of frustrations and failures. In the words of St. Paul, “What will separate us from the love of Christ? Will anguish, or distress, or persecution, or famine, or nakedness, or peril, or the sword… No, in all these things we conquer overwhelmingly through him who loved us (Rom 8:35-37).”  True preaching, then is fuelled by true love of God and not seeking after our own glory. Without this love, we will back out when our preaching seems to fail, or we will feel proud when our ministry meets success. Do we have this love for Jesus? Are our preaching motivated by this love? Are we allowed to be overwhelmed by God’s love for us?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hidup Seorang Pewarta

Minggu Biasa ke-12. 25 Juni 2017 [Matius 10: 26-33]

“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang (Mat 10:27).”

soldier pray rosarySanto Fransiskus dari Asisi pernah berkata, “Wartakanlah Injil sepanjang waktu. Bila perlu, gunakan kata-kata. Dia menunjukkan bahwa pewartaan bukan hanya tugas para imam di mimbar, atau pengkhotbah awam dalam pertemuan doa. Pewartaan Injil adalah misi kita semua. Pewartaan bisa terjadi dalam keluarga saat kita menunjukkan kepada anak-anak kita arti kasih sejati, kesetiaan dan hormat. Pewartaan dapat berlangsung di tempat kerja saat kita menjunjung tinggi kejujuran, kerja keras, dan dedikasi. Pewartaan dapat terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari saat kita berlaku adil, melayani saudara dan saudari kita yang kekurangan, dan berbuat kebaikan kepada sesama.

Namun, untuk mewartakan Yesus Kristus tidak selalu mudah. Saya sendiri telah terlibat dalam kerasulan Sabda selama beberapa tahun, dan terkadang, saya harus menghadapi saat-saat sulit. Ada yang mengatakan pewartaan saya membosankan, dan juga ada yang bilang terlalu bertele-tele atau susah dimengerti. Ada kalanya orang tidak mendengarkan atau membaca renungan saya. Terkadang, saya merasa lelah, frustrasi dan bosan. Perasaan yang sama juga bisa menimpa kita yang mengalami masalah dalam keluarga, tempat kerja, paroki, atau masyarakat. Sebuah frustrasi saat kita berusaha jujur, tapi yang lain tidak. Sangat melelahkan saat kita tahu bahwa kita satu-satunya yang bekerja keras. Sangat menyakitkan saat kita diserang dari belakang setelah semua pelayanan kita kepada sesama.

Namun, hidup kita sebagai pewarta sebenarnya jauh lebih baik dan lebih aman daripada saudara-saudari kita di tempat lain. Suster-suster St. Catharine of Siena di Irak memilih untuk tinggal meskipun perang dan kekacauan yang terus bekecamuk di negeri itu, dan melayani para pengungsi tanpa diskriminasi. Pada tahun 2003, ketika koalisi pimpinan AS menginvasi Irak, para suster terus membuka rumah sakit di tengah pertempuran sengit dan penjarahan di Baghdad. Pada tahun 2014, ketika IS menguasai kota Mosul, para suster tersebut berjalan bersama dengan para pengungsi, dan terdepan dalam membantu dan mengelola beberapa pusat pengungsian. Bagi beberapa pewarta lain, untuk memberitakan Kristus berarti kekerasan dan kematian. Bulan Mei lalu, Pastor Miguel Angel Machorro berada dalam kondisi kritis setelah ditikam di leher beberapa saat setelah misa di Katedral Kota Meksiko. Pastor Teresito Suganob dan beberapa umatnya yang bekerja di antara umat Islam di Kota Marawi, Filipina, diculik ketika kelompok ekstrimis menduduki kota tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada mereka sampai saat ini.

Apa yang membuat mereka berani memberitakan Injil meski terus-menerus menghadapi bahaya dalam hidup mereka? Alasannya cukup sederhana. Ini karena mereka sangat mengasihi Tuhan. Seperti yang ditulis oleh penyair Romawi Virgil, kasih ini menaklukkan semua. Kasih mereka melenyapkan rasa takut akan kematian, memberdayakan mereka dalam cobaan, dan mendorong mereka menghadapi frustrasi dan kegagalan. St. Paulus pun berkata, Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang… Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. (Rm 8:35-37).” Pewartaan yang benar adalah yang didorong oleh cinta kasih sejati bagi Tuhan dan bukan sekedar mencari kemuliaan bagi diri kita sendiri. Tanpa kasih ini, kita akan mundur saat pewartaan kita nampaknya gagal, atau kita akan menjadi sombong saat pelayanan sukses. Apakah kita memiliki kasih sejati ini bagi Yesus? Apakah pewartaan kita dimotivasi oleh kasih yang sejati? Apakah kita membiarkan kasih Tuhan memenuhi pelayanan kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP