Pewahyuan Kasih

Hari Raya Tritunggal Mahakudus. 11 Juni 2017 [Yohanes 3: 16-18]

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16)”

Holy Trinity21Hari ini, kita merayakan Misteri Tritunggal Mahakudus. Misteri ini disebut sebagai misteri dari semua misteri karena Tritunggal Mahakudus merupakan inti dari iman Kristiani kita. Namun, kebenaran mendasar yang kita percaya ini tidak hanya sangat sulit untuk dipahami, namun pada kenyataannya, melampaui penalaran alamiah kita. Bagaimana mungkin kita mempercayai tiga Pribadi Ilahi yang berbeda, Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun tetap satu Tuhan? Banyak pemikir besar seperti St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas telah mencoba menjelaskan, namun saat berhadapan dengan kebenaran yang begitu besar, penjelasan terbaik pun sepertinya setetes air di samudera raya. Namun, kita percaya justru karena misteri itu tidak berasal dari manusia, namun diwahyukan kepada kita oleh Tuhan sendiri.

Pernyataan yang paling jelas tentang Trinitas dalam Kitab Suci datang dari St. Matius. Yesus berkata kepada murid-murid, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19).” Kita mengamati bahwa kita dibaptis untuk keselamatan hanya dalam “satu Nama”. Tentunya satu nama ini mengacu pada satu Tuhan Allah. Namun, di dalam satu Tuhan, ada tiga pribadi: Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Santo Paulus, rasul bagi bangsa-bangsa, sering mengucapkan berkat dalam nama Tritunggal Mahakudus. Dalam suratnya yang kedua, dia memberkati jemaat di Korintus, dengan mengatakan “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian (13:14).” Praktik yang sama juga Diikuti oleh Santo Petrus. Dalam surat pertamanya, dia menyapa sesama dan memberkati semua jemaat, …sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu (1:2).” Memang benar bahwa istilah Trinitas tidak ada dalam Alkitab karena kata ini dibentuk untuk memudahkan pemahaman kita, namun seperti yang telah kita baca, Kitab Suci mewahyukan kebenaran dan realitas Tritunggal Mahakudus.

Jika kemudian Tritunggal Mahakudus memang diwahyukan oleh Tuhan sendiri, apa gunanya memiliki iman kepada Tritunggal Mahakudus? Jawabannya bisa ditemukan pada Injil hari ini. Identitas Allah adalah kasih (lihat 1 Yoh 4: 6). Bapa mengasihi Putra sepenuhnya, dan Putra mengasihi Bapa secara radikal, dan kasih yang mempersatukan Bapa dan Putra adalah Roh Kudus. Dalam kasih, ada dinamika indah dari tiga kasih. Kasih itu satu, tapi tiga. Sekarang, masuk akal mengapa Tuhan sangat mengasihi dunia dan mengutus Putra Tunggal-Nya untuk keselamatan kita. Semua karena Tuhan itu kasih.

Jika Tuhan itu kasih dan Dia ingin berbagi kasih-Nya dan kehidupan-Nya dengan kita, kita harus bersiap untuk memasuki kasih tersebut. Dan cara terbaik untuk mempersiapkan diri kita adalah kita perlu menjadi kasih itu sendiri. Kita harus belajar untuk lebih mengasihi, memaafkan dan bermurah hati. Singkatnya, kita harus menjadi terus seperti Trinitas. Seperti yang dikatakan oleh St. Yohanes dari Salib, “Di akhir kehidupan kita, Allah tidak akan mengadili kita berdasarkan harta duniawi dan kesuksesan manusiawi kita, namun seberapa baik kita telah mengasihi.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Love, not for the Fainthearted

7th Sunday in Ordinary Time (Year A). February 19, 2017 [Matthew 5:38-48]

“Love your enemies, and pray for those who persecute you, (Mat 5:44)”

john-paul-n-ali-agcaLove is not for the fainthearted. It is difficult to love, even those whom we are supposed to love naturally and easily. At times, we feel regret in having committed ourselves in marriage to someone who turns out to be moody, demanding and no longer attractive. Sometimes, we want to kick out our children who become too stubborn and rebellious. Sometimes, we also think that we enter the wrong Congregation or convent.

However, Jesus wants us to go beyond, and even love our enemies. If we have a hard time to love those who are close to our hearts, how is it possible to love our enemies? How are we going to love those who bully us in the office or in the school? Is it viable to be kind to people who spread malicious gossips about us? Why should we be nice to those who have cheated us and even exploited us? Do we need to forgive those who have abused us and left us a permanent traumatic experience?

Though it is extremely difficult to love, even almost impossible, Jesus is not out his mind when He asks us to love our enemies. He knows who we are, away better than we know ourselves. We were created in the Image of God.  St. John reminds us that God is love (see 1 John 4:8). Therefore, we were made in the image of love. It is our identity to love, and only in loving, do we find our happiness. Yet, again how do we love people we hate?

When Jesus commands to love, the Gospel deliberately chooses the word ‘agape’ for love. In Greek, Agape is slightly different from the other kinds of love like philia and eros. If philia and eros are the love that is born out of our natural affections for someone, agape basically comes from the power of the will, courage, and freedom. It is easier to love someone when we like them, but we were not created only in the image of philia and eros, we are the image of Agape. We have a built-in ability in us to love even despite the unpleasant and repugnant feelings.

St. Thomas Aquinas put in quite succinctly that ‘to love is to will the good in others’. We do not have to feel good about the person, in order to do good to the person. In the Church’s Tradition, we have various acts of charity and works of mercy, and all of these cannot be simply based on emotions. Many dioceses and parishes in the Philippines are actively helping the rehabilitation of drug-addicts in the communities. Nobody likes junkies, some even want them dead, but why do the Churchmen and women continue to help them, despite criticism? Because Jesus wants us to love them, and it is possible with our freedom to do good to them.

True love is difficult and not for the fainthearted. It demands courage, strength, sacrifice. Yet, without love, what is the point of living? Danny Thomas, an actor, and producer, said, “All of us are born for a reason, but all of us don’t discover why. Success in life has nothing to do with what you gain in life or accomplish for yourself. It’s what you do for others.”john-paul-n-ali-agca

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Kasih, bukan untuk yang Lemah Hati

Ketujuh Minggu Biasa (Tahun A). 19 Februari 2017 [Matius 5: 38-48]

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Mat 5:44)”

love-your-enemies-2Cinta kasih bukanlah untuk orang yang lemah hatinya. Mengasihi itu sulit, bahkan bagi mereka yang seharusnya kita cintai secara alami dan mudah. Kadang-kadang, kita menyesal telah mengikat diri dalam pernikahan dengan seseorang yang moody, banyak tuntutan dan tidak lagi menarik. Kadang-kadang, kita ingin menendang keluar anak-anak yang menjadi keras kepala dan susah diatur. Kadang-kadang, kita, kaum berjubah, juga berpikir bahwa kita telah memasuki Kongregasi atau biara yang salah.

Namun, Yesus ingin kita pergi lebih jauh, dan bahkan mengasihi musuh kita. Jika kita kesulitan untuk mengasihi orang yang dekat dengan hati kita, bagaimana mungkin untuk mengasihi mereka yang kita benci? Bagaimana kita akan mengasihi orang-orang yang memberi banyak masalah di kantor atau di sekolah? Apakah bisa untuk bersikap baik kepada orang-orang yang menyebarkan gosip jahat tentang kita? Mengapa kita harus bersikap baik kepada orang-orang yang telah menipu kita dan bahkan mengeksploitasi kita? Apakah kita perlu memaafkan mereka yang telah melakukan tindak kekerasan dan memberi kita pengalaman traumatis yang permanen?

Meskipun sangat sulit untuk mengasihi, bahkan hampir tidak mungkin, Yesus tetap pada pendirian-Nya. Dia tahu siapa kita, jauh lebih baik kita mengetahui diri kita sendiri. Kita diciptakan dalam citra Allah. Dan St. Yohanes mengingatkan kita bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4: 8). Oleh karena itu, kita dibuat dalam citra Kasih. Ini adalah identitas kita untuk mengasihi, dan hanya dalam mengasihi kita menemukan kebahagiaan. Namun, bagaimana kita mengasihi orang yang kita benci?

Ketika Yesus memerintahkan untuk mengasihi, Injil sengaja memilih kata agape’ untuk kasih. Dalam bahasa Yunani, Agape sedikit berbeda dari jenis cinta yang lain seperti philia dan eros. Jika philia dan eros adalah cinta yang lahir dari perasaan ketertarikan kita yang alamiah untuk seseorang, agape pada dasarnya berasal dari kekuatan kehendak, keberanian dan kebebasan. Lebih mudah untuk mencintai seseorang kita sukai, tapi kita tidak diciptakan hanya dalam citra philia dan eros, kita adalah citra dari Agape. Kita memiliki kemampuan dalam diri kita untuk mengasihi meskipun ada perasaan tidak menyenangkan terhadap seseorang.

St. Thomas Aquinas mendefinisikan bahwa ‘mengasihi adalah kemauan untuk berbuat baik pada orang lain. Kita tidak perlu merasa baik kepada seseorang, untuk berbuat baik kepadanya. Dalam tradisi Gereja, kita memiliki berbagai karya belas kasih, dan semua ini tidak bisa jalan jika hanya berdasarkan emosi. Banyak keuskupan dan paroki di Filipina secara aktif membantu rehabilitasi pecandu obat terlarang di masyarakat. Tentunya, tidak ada yang suka dengan pecandu, beberapa bahkan ingin mereka mati, tapi kenapa yang para anggota Gereja terus membantu mereka, meskipun dikritik? Karena Yesus ingin kita mengasihi mereka.

Kasih sejati itu sulit dan bukan untuk mereka yang lemah hati. Kasih ini menuntut keberanian, kekuatan, dan pengorbanan. Namun, tanpa kasih, apa gunanya hidup? Danny Thomas, seorang aktor dan produser kawakan, mengatakan, “Semua dilahirkan karena suatu alasan, tetapi kita semua tidak mengetahui apa. Sukses dalam hidup tidak ada hubungannya dengan apa yang Anda dapatkan dalam hidup atau capai untuk diri sendiri. Hidup adalah apa yang Anda lakukan untuk orang lain.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Surpassing the Pharisees

6th Sunday in Ordinary Time. February 12, 2017 [Matthew 5:20-37]

 “I tell you, unless your righteousness surpasses that of the scribes and Pharisees, you will not enter into the kingdom of heaven. (Mat 5:20)”

phariseeThe word ‘Pharisee’ has a rather negative connotation for us. In the Gospels, they are the bad guys. They often argued with Jesus and Jesus challenged their way of life. Even some planned to get rid of Jesus (see Mat 12:14). In our time, the term ‘Pharisaic’ simply means hypocrite.

However, if we look from another angle, the Pharisees are not that ugly. In the time of Jesus, they had important roles to play. They, in fact, revolutionized the Jewish society itself. What did they do? They brought the Law, various rituals and devotional practices from the Temple of Jerusalem to the Jewish communities and families in Israel. Many Pharisees took care of the local synagogues and made sure that the people would observe properly the Law and its traditions, like the Sabbath and rituals of cleansing. Unlike the priests who served in the Temple, the Pharisees were lay people who loved the Law in their ordinariness of life. Thus, when the Temple was destroyed by the Roman army in 70 AD, the priestly clan also disappeared, but the Jewish cultural fabrics and religion continued to live because of the Pharisees, the lay people.

Jesus criticized them not because they were following the Law and traditions, but because of their ‘interpretations’ of the Law. Doubtless, the Pharisees loved the Law of Moses dearly, but they fell into fundamentalism. They absolutized the letters of the Law and the traditions, and trivialized what or who is actually at the service of the Law: God and fellow human beings. To become a fundamentalist means we opt to follow the dead letters of the Law of the Bible, which is easier, rather than to dialogue with the Person behind it and persons in front of it.

Without realizing it, many of us are acting like the Pharisees. Like them, we love God, His Law, and His Church, but sometimes, we are too busy with the trivial things. I am sad when some people are arguing on how to receive the Holy Eucharist, kneeling, standing, by hands or directly to the mouth. Some accuse Charismatic mass as heretical. Others label the Latin Mass as ultra-conservative. I am also saddened with a young Catholic apologist who is zealously debating on the Internet, yet does not lift a finger to help his sick mother. Yes, Sacred Scripture and the Liturgy is an essential part of our faith as the exercise of the priestly office of Jesus Christ and means of salvation, but if we are disintegrated because of details of the rituals, we miss the point.

We forget to transform our love for God and His Church into love for others. St. Dominic sold his expensive books made of animal skins so he could feed the poor, and argued, “Would you have me study from these dead skins when the living skins are dying of hunger?” Who among us are involved in feeding the poor around us? Who among us are doing something meaningful to the victims of injustice in the society? Who among us have the patience towards our ‘difficult’ brothers and sisters in the family or community? Remember that we are called to surpass the righteousness of the Pharisees.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Lebih Baik Dari Farisi

Minggu ke-6 dalam Masa Biasa. 12 Februari 2017 [Matius 5: 20-37]

“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Mat 5:20)”

pharisees2Kata ‘Farisi’ memiliki konotasi negatif bagi kita. Dalam Injil, mereka adalah lawan-lawan Yesus. Mereka sering berdebat dengan Yesus dan Yesus mengkritik cara hidup mereka. Bahkan beberapa merencanakan untuk menyingkirkan Yesus (lihat Mat 12:14). Pada zaman sekarang, istilah ‘Farisi’ sering kali diasosiasikan dengan kemunafikan.

Namun, jika kita melihat dari sudut pandang yang lain, orang-orang Farisi tidak seutuhnya jahat. Dalam zaman Yesus, mereka memiliki peran penting, yakni merevolusi masyarakat Yahudi. Apa yang mereka lakukan? Mereka membawa Hukum Taurat, berbagai ritual dan praktek devosi dari Bait Allah di Yerusalem ke komunitas-komunitas dan keluarga-keluarga Yahudi di Israel. Banyak orang-orang Farisi mengelola rumah-rumah ibadat setempat di berbagai penjuru Palestina dan memastikan bahwa orang-orang akan melaksanakan dengan baik Hukum Taurat dan tradisi, seperti Sabat dan ritual pembersihan. Berbeda dengan imam yang bertugas di Bait Allah, orang-orang Farisi adalah orang-orang awam yang mencintai Hukum Taurat di dalam kesederhanaan hidup sehari-hari mereka. Dengan demikian, ketika Bait Allah dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 Masehi, kasta imam juga menghilang, tapi budaya dan agama Yahudi terus hidup karena orang-orang Farisi ini yang adalah orang-orang awam.

Yesus mengkritik mereka bukan karena mereka mencintai Hukum Taurat dan tradisi, tetapi bagaimana mereka ‘menginterpretasi’ Hukum tersebut. Tak diragukan lagi orang-orang Farisi mencintai Hukum Musa, tetapi bahayanya adalah mereka bisa jatuh ke dalam fundamentalisme. Mereka memutlakkan setiap huruf Hukum Taurat dan tradisi, dan melupakan tujuan utama Hukum tersebut: melayani: Allah dan sesama manusia. Untuk menjadi fundamentalis itu mudah karena kita memilih untuk mengikuti huruf-huruf mati yang tertera di Kitab suci. Jauh lebih sulit untuk berdialog dengan Dia yang ada di balik huruf-huruf tersebut dan mereka yang ada di depan huruf-huruf tersebut.

Tanpa disadari, banyak dari kita yang bertindak seperti orang Farisi. Seperti mereka, kita mengasihi Tuhan, Hukum-Nya dan Gereja-Nya, tapi kadang-kadang, kita terlalu sibuk dengan hal-hal sepele. Saya sedih ketika tidak sedikit orang berdebat tentang bagaimana menerima Ekaristi Kudus, berlutut, berdiri, dengan tangan atau langsung ke mulut. Beberapa menuduh misa Karismatik itu sesat. Beberapa lainnya menyatakan bahwa Misa Latin sebagai ultra-konservatif. Saya juga sedih dengan seorang teman dan juga apologis Katolik muda di Filipina yang rajin berdebat di internet, namun tidak melakukan apa-apa untuk membantu ibunya yang sedang sakit. Ya, Kitab Suci dan Liturgi merupakan bagian penting dari iman kita dan juga sarana keselamatan, tetapi jika kita terpecah-belah dan menjadi fundamentalis-fundamentalis kecil, kita melepas tujuan utama iman kita.

Kita lupa untuk mengubah kasih kita kepada Allah dan Gereja-Nya ke dalam kasih bagi orang lain. St. Dominikus de Guzman menjual buku-bukunya yang mahal terbuat dari kulit binatang sehingga ia bisa memberi makan orang-orang miskin, dan berkata, “Apakah kamu mau saya belajar dari ini kulit mati ini ketika kulit hidup mati kelaparan?” Siapa di antara kita yang terlibat memberi makan orang miskin sekitar kita? Siapa di antara kita melakukan sesuatu yang berarti bagi korban ketidakadilan di masyarakat? Siapa di antara kita memiliki kesabaran terhadap saudara dan saudari kita yang bermasalah dalam keluarga atau masyarakat? Ingat bahwa kita dipanggil untuk melampaui kebenaran orang-orang Farisi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

The Little Lambs of God

Second Sunday in Ordinary Time. January 15, 2017 [John 1:29-34]

“Behold, the Lamb of God, who takes away the sin of the world (Jn 1:29).”

the-lamb-of-god

John the Baptist calls Jesus the Lamb of God who takes away the sin of the world. This very phrase eventually became part of the Eucharist and we faithfully recite or sing ‘the Lamb of God’ just before we receive holy communion. But, what does it mean? Why does it have to be a lamb? Not an orangutan, a giraffe or a komodo dragon? Why an animal, not a plant, a fruit or a mobile phone? To make it more intelligible, we have to go back to the Jewish ritual meal of Passover.

The first Passover meal took place before the Hebrews escaped their slavery in Egypt. Every family has to slaughter an unblemished lamb, put its blood on the doorpost and lintel, and roast the lamb before the entire family consumes it. The story goes that the angel of God came to take every firstborn of the Egyptians, but, he passes over the houses of the Hebrew families because of this blood of the Lamb (see Exo 12). This historic event then was institutionalized and became an annual celebration for the Jewish people, even up this day.

Now, John the Baptist announced a new revelation: Jesus is the Lamb, not only any ceremonial lamb, but of God. This Lamb of God has much superior mission than the first Passover lambs: to take away the sin of the world. This lamb would be sacrificed on the cross and His blood will be poured for our salvation. Like the lamb of Passover which is consumed by the Jews, so the Lamb of God would be partaken by the Christians in the Eucharist. Thus, it is proper for us to remember Jesus as the Lamb of God right before we take the Body of Christ in the Mass.

However, it is true as well that for many of us, a lamb has not much meaning. How many among us have a first-hand experience with this four-legged animal? I myself have no immediately encounter with this mammal, except when I eat it at a restaurant! Yet, we know what it means to sacrifice for the persons we love. A wife faithfully taking care of his aging and sickly husband. Parents giving all their effort, time and money so their children may get the best education and life. A woman abandoning her promising career, entering religious life and serving the poor and homeless. Sacrifice entails pain, it gives away the best of us, our time, life and future, and yet, all sacrifice might not be fully appreciated. But, we continue to sacrifice because we know that is for the best of our loved ones. If we are empowered to give ourselves as a sacrifice, we have become the little lambs of God. We sacrifice ourselves because Jesus has sacrificed Himself for us and made our own sacrifices meaningful and fruitful.

Every time, we participate in the Eucharist, we remember someone has loved us so much and sacrificed Himself for us, and we still receive the fruits up to this day. Now, we are also called to be the little lambs of God for others.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Anak Domba-Domba Allah

Kedua Minggu dalam Masa Biasa. 15 Januari 2017 [Yohanes 1: 29-34]

“Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia (Yoh 1:29).”

buffet-lamb-of-godYohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Gelar ini akhirnya menjadi bagian dari Ekaristi dan kita setia mendaraskan atau menyanyikan ‘Anak Domba Allah’ sebelum kita menerima komuni. Tapi, apa artinya? Mengapa harus anak domba? Bukan orangutan, jerapah atau komodo? Mengapa hewan, bukan tanaman, buah atau ponsel? Untuk membuatnya lebih dimengerti, kita harus kembali ke ritual perjamuan Paskah bangsa Yahudi.

Perjamuan Paskah pertama terjadi sebelum bangsa Ibrani melepaskan diri dari perbudakan Mesir. Setiap keluarga harus menyembelih domba yang tak bercacat, mengoleskan darahnya di palang pintu, dan memanggang domba itu sebelum seluruh keluarga mengkonsumsinya. Cerita berlanjut bahwa malaikat Allah datang untuk mengambil anak sulung bangsa Mesir, namun, ia melewati rumah keluarga Ibrani karena darah Anak Domba ini (lihat Kel 12). Peristiwa bersejarah ini kemudian dilembagakan dan menjadi perayaan tahunan bagi orang-orang Yahudi, bahkan sampai hari ini.

Sekarang, Yohanes Pembaptis mewartakan wahyu baru: Yesus adalah Anak Domba, tidak hanya setiap domba seremonial, melainkan dari Allah. Domba Allah ini memiliki misi yang lebih unggul yang pertama domba Paskah: untuk menghapus dosa dunia. Domba ini akan dikorbankan di kayu salib dan darah-Nya akan dicurahkan untuk keselamatan kita. Seperti domba Paskah dikonsumsi oleh orang-orang Yahudi, Anak Domba Allah juga disantap dalam Ekaristi. Dengan demikian, sudah selayaknya bagi kita untuk mengingat Yesus sebagai Anak Domba Allah tepat sebelum kita menyantap Tubuh-Nya dalam Misa.

Namun, benar juga bahwa bagi banyak dari kita, domba tidak memiliki makna yang mendalam. Siapa di antara kita memiliki pengalaman menyentuh hewan berkaki empat ini? Saya sendiri harus mengakui tidak memiliki pengalaman langsung dengan mamalia imut ini, kecuali ketika saya memakannya di restoran! Namun, kita semua tahu apa artinya berkorban untuk orang-orang yang kita cintai. Seorang istri setia merawat suaminya yang semakin tua dan sakit-sakitan. Orang tua memberikan semua usaha, waktu dan uang mereka agar anak-anak mereka bisa mendapatkan pendidikan terbaik. Seorang wanita meninggalkan karir yang menjanjikan, memasuki biara dan melayani orang miskin dan tunawisma sepanjang hidupnya. Pengorbanan mendatangkan rasa sakit, itu melepaskan hal-hal terbaik yang kita miliki, waktu, hidup dan masa depan kita. Namun, tidak ada jaminan semua pengorbanan akan dihargai sepenuhnya. Tapi, kita terus berkorban karena kita tahu bahwa ini adalah untuk yang terbaik dari orang yang kita cintai. Jika kita diberdayakan untuk memberikan diri kita sebagai korban, kita telah menjadi anak domba kecil Allah. Kita mengorbankan diri kita sendiri karena Yesus telah mengorbankan diri-Nya bagi kita dan membuat pengorbanan kita sendiri bermakna dan berbuah.

Setiap kali, kita berpartisipasi dalam Ekaristi, kita ingat Seseorang telah mengasihi kita begitu besar dan mengorbankan diri-Nya bagi kita, dan kita masih menerima buah-buahnya sampai hari ini. Sekarang, kita juga dipanggil untuk menjadi anak domba kecil Allah untuk orang lain.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

What Jesus Learned from Joseph?

4th Sunday of Advent. December 18, 2016. Matthew 1:18-24

“Joseph her husband, since he was a righteous man, yet unwilling to expose her to shame, decided to divorce her quietly. (Mat 1:19)”

 jesus-n-joseph-2If there is one important person in the life of Jesus, but gets very little attention, this person is no other than Joseph, Jesus’ foster father. He was absent in the Gospel of Mark. In John, he was mentioned only by name. In Luke, his presence was felt, but he was overshadowed by Mary and her unique mission. Only in Matthew, Joseph had a more active role in the beginning of Jesus’ life. Yet, again, he remained a voiceless character, and simply disappeared as Jesus began his mission. Still, Joseph had significantly influenced the life of Jesus.

One of the recognizable influences was that Jesus inherited the profession of Joseph. His father was a carpenter, then Jesus was also called as the carpenter (see Mark 6:3). However, the influence of Joseph is not limited in terms of profession. There was something more. In today’s Gospel, Joseph was called as the ‘righteous man’. In Jewish society, the title ‘righteous man’ means a respectable man who faithfully follows the Law of God or Torah. He was not only well educated in the Law, but Joseph also cherished the Law dearly. Now, if we put ourselves in the shoes of Joseph when he received the news of Mary’s pregnancy, what was probably Joseph’s feeling? As an ordinary man, he must be deeply hurt, felt betrayed, by his soon-to-be wife. As a respectable person in town, he had to endure shame.

As a person who was well versed in the Law, he knew Mary had committed adultery and this sin deserved death (see Lev 20:10). Consumed by his pain and anger, Joseph could have made a public accusation and thrown the first stone on Mary. He had all the right to stone Mary and satisfy his vengeance. But, Joseph chose a different path. Instead using the Law for retaliation, Joseph decided to use the Law to save the life of Mary, and consequently, the life of Jesus. His decision is even more significant because he opted to save Mary even before the Angel Gabriel appeared to him and explained the cause of pregnancy. Despite pain of betrayal and shame, he chose to apply the Law in merciful and loving manner. And this was what Joseph taught Jesus to do.

Jesus argued a lot with the Pharisees and the Scribes on the interpretation of the Law, and for Jesus, mercy and love need to take primacy over vengeance and hatred. Thus, Jesus healed people on Sabbath (see Mat 12:10), allowed His hungry disciples to pick the grain during Sabbath (see Mat 12:1) and spared the life of woman caught in adultery (see John 8:1-11). Finally, Jesus declared that the most important Law of all is the Law of love. Now, we can trace the hands of Joseph and his merciful way in dealing with the Law.

As we prepare ourselves for Christmas, it is good to reflect on Joseph and learn from him. Do we use and create laws and regulations in our society to simply to punish and even kill people, or to heal them? When we are wronged, what is our first reaction? Seeking vengeance or working for reconciliation? What is our understanding of justice? Retaliation or restoration of goodness? We pray that St. Joseph will lead us into just society based on mercy and love.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apa yang Yesus Dapatkan dari Yusuf?

Minggu Advent ke-4. [18 Desember 2016] Matius 1: 18-24.

Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam (Mat 1:19).”

jm_200_NT1.pd-P7.tiffJika ada satu orang penting dalam hidup Yesus, tetapi hanya mendapat sedikit perhatian, orang ini tidak lain adalah Yusuf, ayah angkat Yesus. Ia tidak disebut dalam Injil Markus. Dalam Injil Yohanes, hanya namanya yang muncul. Dalam Injil Lukas, kehadirannya mulai terasa, tapi Maria lebih mendapat perhatian. Hanya dalam Injil Matius, Yusuf memiliki peran yang lebih aktif pada awal hidup Yesus. Sayangnya, ia tetap karakter tak bersuara, dan akhirnya menghilang saat Yesus memulai karya-Nya. Namun, bukan berarti Yusuf tidak penting dalam membentuk karakter Yesus.

Sebagai contoh, Yesus mewarisi profesi Yusuf. Ayah-Nya adalah seorang tukang kayu, maka Yesus juga disebut sebagai tukang kayu (lih. Mar 6:3). Namun, pengaruh Yusuf tidak terbatas dalam hal profesi. Ada sesuatu yang jauh lebih penting. Dalam Injil hari ini, Yusuf disebut sebagai ‘orang tulus’. Dalam masyarakat Yahudi, ‘orang yang tulus’ adalah gelar bagi seorang terhormat karena ia setia mengikuti Hukum Allah atau Hukum Taurat. Dia tidak hanya paham Hukum Taurat, namun Yusuf juga mengamalkannya. Sekarang, jika kita menempatkan diri pada posisi Yusuf ketika ia menerima kabar kehamilan Maria, apa perasaan Yusuf? Sebagai manusia biasa, ia tentunya sangat terluka, merasa dikhianati oleh tunangannya sendiri. Sebagai orang baik Nazareth, iapun harus menanggung malu.

Sebagai orang paham hukum, dia tahu Maria yang hamil diluar pernikahan, telah melakukan perzinahan, dan dosa ini patut dihukum mati (lih. Im 20:10). Penuh denga rasa sakit hati dan amarahnya, Yusuf bisa saja membuat tuduhan secara publik dan melempar batu pertama pada Maria. Dia memiliki semua hak untuk marajam Maria dan memuaskan dendam. Tapi, Yusuf memilih jalan yang berbeda. Alih-alih menggunakan Hukum untuk pembalasan, Yusuf memutuskan untuk menggunakan Hukum yang sama untuk menyelamatkan hidup Maria, dan juga hidup Yesus dikandungan. Keputusannya bahkan menjadi lebih berarti karena ia memilih untuk menyelamatkan Maria sebelum Malaikat Gabriel menampakkan diri kepadanya dan menjelaskan penyebab kehamilan Maria. Meskipun sakit hati, Yusuf memilih untuk menerapkan Hukum secara penuh belas kasihan. Dan ini adalah apa yang Yusuf ajarkan kepada Yesus.

Yesus sering berargumentasi dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tentang interpretasi Hukum Allah, dan bagi Yesus, belaskasih dan kerahiman perlu menjadi keutamaan daripada dendam dan kebencian. Tidak heran jika Yesus berani menyembuhkan orang pada hari Sabat (lih. Mat 12:10), mengizinkan murid-murid yang lapar untuk memetik gandum juga pada hari Sabat (lih. Mat 12: ) dan menolak untuk merajam wanita yang tertangkap dalam perzinahan (lih. Yoh 8:1-11). Akhirnya, Yesus menyatakan bahwa hukum yang paling penting dari semua hukum adalah Hukum cinta kasih. Ini semua Yesus pelajari dari Yusuf, bapak angkat-Nya.

Saat kita mempersiapkan diri untuk Natal, baik jika merenungkan Yusuf dan belajar dari dia. Apakah kita menggunakan dan membuat hukum-hukum dan peraturan dalam keluarga, kelompok dan masyarakat kita hanya untuk menghukum dan bahkan menghabisi sesama, atau untuk menyembuhkan mereka? Ketika kita disakiti, apa reaksi pertama kita? Membalas dendam atau bekerja untuk rekonsiliasi? Apa pemahaman kita tentang keadilan? Sebuah pembalasan atau restorasi kebaikan? Kita berdoa St. Yusuf akan membawa kita ke dalam masyarakat adil dan damai yang didasarkan pada rahmat dan kasih.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP