My Flesh and My Bones

Third Sunday of Easter [April 15, 2018] Luke 24:35-48

Look at my hands and my feet, that it is I myself. Touch me and see, because a ghost does not have flesh and bones as you can see I have.” (Luke 24:39)

adoration
photo by Harry Setianto, SJ

We listen to the last story of risen Christ’s appearance to the disciples in the Gospel of Luke. His presences point to the fact that Jesus still has several missions to accomplish on earth before He ascends into heaven. Particularly in this episode, Jesus is out to dispel the disciples’ doubt on His bodily resurrection. Some disciples may have an idea that Jesus’ appearances are mere illusions as the disciples are coping with a terrible pain of losing and failure. Some others may think that it was just a disembodied spirit or a ghost that appeared like Jesus.

 

Jesus comes to them and proves that He is neither an illusion coming from their disciples’ mind nor a mere story concocted to give false hope. He shows them his hands and feet and eats a baked fish just like an ordinary and living man does. Even Jesus says that he possesses “flesh and bones.” The disciples who see and touch Jesus’ body would acclaim in their hearts, “This is, at last, the bone of my bones and the flesh of my flesh (Gen 2:23).” From this point, we begin to recognize that Jesus’ bodily resurrection is closely linked to the story of creation in the Book of Genesis.

If we go back to the story of human creation in Genesis 2, we read a beautiful image of God as a potter artist who fashioned humanity from clay with various details of perfection. God also gave the human life as He breathed His life-giving spirit. However, soon after creation, God said that it was not good for the human to be alone. He then made other animals, but no one was proven suitable companion for that human. Thus, God, acting like a surgeon, made the first human sleep, took the rib, and fashioned another human being. When Adam woke up and saw for the first time another being in his likeness, he shouted in joy, “This is, at last, the bone of my bones and the flesh of my flesh (Gen 2:23).” The story of human creation which is highly symbolic reaches its perfection in the creation of man and woman, and how they are going to be suitable and loving partners for each other.

Going back to Gospel of Luke, the story of the appearance of the risen Lord to the disciples turns to be a story of re-creation. After the disciples are disbanded, scattered and cowardly ran away, they are as weak as soil. Jesus gathers them together and fashions them once again as a community. After the disciples are hurt deeply and defeated, they are like a clay pot shattered into pieces. Jesus comes to breathe His Spirit and to bring healing and true peace. After the disciples are disoriented and lost meaning, they are like the lonely and incomplete first Adam. Jesus, the second Adam, continues to love them, and thus, restores their purpose, and fills what is fundamentally lacking in them. Being re-created, the disciples now are suitable partners of Jesus in bringing the message of resurrection and the gospel of love to wounded humanity.

Each one of us is wounded and struggles with many issues. Despite our good effort to become a good Christian, we acknowledge we are as weak as clay. We have been unfaithful to the Lord and each other. The risen Christ does not lose hope in us. He gathers us once again as His people, and in the Eucharist, He shows us His true “flesh and blood.” Partaking in Jesus’ resurrected body means that despite our fragile nature and weaknesses, we have been re-created as His suitable partners to bring the message of hope and fulfill the mission of love. Only in risen Christ, we find our true fulfillment, yet in being one in Jesus means we also continue loving as He loves us to the end.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Dagingku dan Tulangku

Minggu Paskah Ketiga [15 April 2018] Lukas 24: 35-48

“Lihatlah tangan dan kakiku, bahwa itu aku sendiri. Sentuhlah saya dan lihatlah, karena hantu tidak memiliki daging dan tulang seperti yang Anda lihat saya miliki. “(Lukas 24:39)

risen lord
foto oleh Harry Setianto, SJ

Kita mendengarkan kisah penampakan terakhir Yesus yang bangkit kepada para murid dalam Injil Lukas. Kehadiran-Nya menunjukkan bahwa Yesus masih memiliki beberapa misi untuk diselesaikan di bumi sebelum Dia naik ke surga. Khususnya dalam episode ini, Yesus datang untuk menepis keraguan para murid tentang kebangkitan badan-Nya. Beberapa murid mungkin memiliki gagasan bahwa penampakan-penampakan Yesus hanyalah ilusi belaka yang lahir dari rasa kehilangan dan kegagalan. Beberapa murid lain mungkin berpikir bahwa itu hanya roh tanpa tubuh atau hantu yang tampak seperti Yesus.

 

Yesus datang kepada mereka dan membuktikan bahwa Dia bukanlah ilusi atau sebuah rumor yang dibuat untuk memberikan harapan palsu. Dia menunjukkan tangan dan kakinya kepada mereka dan memakan ikan yang dipanggang seperti manusia hidup lainnya. Bahkan Yesus berkata bahwa ia memiliki “daging dan tulang.” Para murid yang melihat dan menyentuh tubuh Yesus akan berseru di dalam hati mereka, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. (Kej 2:23).” Dari sini, kita mulai bisa melihat bahwa kebangkitan tubuh Yesus terkait erat dengan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian.

Jika kita kembali ke kisah penciptaan manusia dalam Kejadian bab 2, kita melihat gambar Allah sebagai seorang seniman yang membentuk umat manusia dari tanah liat. Allah juga memberikan kehidupan kepada manusia saat Dia menghembuskan roh kehidupan-Nya. Namun, segera setelah penciptaan, Allah berkata bahwa tidak baik bagi manusia seorang diri saja (Kej. 2:18). Dia kemudian membuat hewan-hewan lain, tetapi tidak ada satupun yang terbukti menjadi rekan yang sepadan bagi manusia itu. Dengan demikian, Tuhan, bertindak seperti seorang ahli bedah, membuat tidur sang manusia, mengambil tulang rusuknya, dan membentuk manusia lain. Ketika Adam bangun dan melihat untuk pertama kalinya makhluk lain yang serupa dengannya, dia bersorak, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku (Kej 2:23).” Kisah tentang Penciptaan manusia yang sangat simbolis ini mencapai kesempurnaannya dalam penciptaan pria dan wanita, dan bagaimana mereka akan menjadi pasangan yang sepadan dalam misi untuk saling mengasihi satu sama lain.

Kembali ke Injil Lukas, kisah tentang penampakan Tuhan yang bangkit kepada para murid ternyata adalah sebuah kisah penciptaan kembali. Setelah para murid membubarkan diri, menjadi pengecut yang melarikan diri, mereka menjadi sama lemahnya dengan tanah liat. Yesus datang untuk mengumpulkan mereka kembali dan membentuk mereka sekali lagi sebagai komunitas. Setelah murid-murid terluka secara mendalam dan kalah, mereka seperti pot tanah liat yang hancur berkeping-keping. Yesus datang untuk menghembuskan Roh-Nya dan membawa kesembuhan dan kedamaian sejati. Setelah para murid kehilangan arah dan makna, mereka seperti Adam pertama yang kesepian dan tidak lengkap. Yesus, sang Adam kedua, datang dan terus mengasihi mereka, dan dengan demikian, memulihkan tujuan mereka. Diciptakan kembali, para murid sekarang adalah pasangan Yesus yang sepadan dalam membawa pesan kebangkitan dan Injil kasih kepada umat manusia yang terluka.

Masing-masing dari kita adalah manusia terluka dan bergulat dengan banyak permasalahan. Terlepas dari usaha kita untuk menjadi murid Yesus yang baik, kita mengakui bahwa kita sama lemahnya dengan tanah liat. Kita tidak setia kepada Tuhan dan satu sama lain. Namun, Kristus yang bangkit tidak kehilangan harapan kepada kita. Ia mengumpulkan kita sekali lagi sebagai umat-Nya, dan dalam Ekaristi, Dia menunjukkan kepada kita “daging dan darah-Nya yang sejati.” Mengambil bagian dalam tubuh kebangkitan Yesus ini berarti bahwa, kita telah diciptakan kembali sebagai mitra-Nya yang sepadan untuk membawa pesan harapan dan memenuhi misi cinta kasih, terlepas dari kemanusiaan kita yang rapuh dan lemah. Hanya di dalam Kristus yang telah bangkit, kita menemukan penggenapan sejati kita, namun dalam menjadi satu di dalam Yesus berarti kita juga terus mengasihi sesama sebagaimana Dia mengasihi kita sampai akhir.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Resurrection and Love

Easter Sunday [April 1, 2018] John 20:1-10

… he saw and believed (Jn. 20:8)

light and child
photo by Harry Setianto, SJ

Today is the Easter morn! Today is the day the Lord has risen! Today is the day death has been defeated! Today is the day of resurrection! Yet, how do we understand Jesus’ resurrection and our resurrection? What does it mean when we say that death has been conquered?

 

We all know that we are going to die. We just do not know when, where and how, but we are sure that death will come. We remain anxious and afraid of the reality of suffering and death. It seems that death has not been defeated? It is true that sometimes death can be a liberation. A pious lady in her fifties once told a priest that she prayed that the Lord would take her when she was still beautiful. Then, the priest remarked, “How come you are still here!”

The usual occasion preachers speak of resurrection is the funeral mass! The resurrection has become a kind of pain reliever for the bereaved families and relatives. We are assured that the death of our beloved ones is not the final destiny. There is the blissful afterlife waiting, and we shall join our Lord in the resurrection. Though our preachers speak the consoling truth, the way we preach it tends to reduce the eternal life as a permanent retirement place, and the resurrection as extremely remote reality. Another priest once admitted that he was not that handsome, and thus he planned that in the day of resurrection, he would quickly snatch the body of handsome Canadian singer, Justin Bieber! The resurrection is only good for the dead, and it does not mean much for us the living. But, resurrection is really for all of us, here and now.

Going back to the first resurrection in the garden, no Gospel describes how the resurrection takes place. It simply cannot. Yet, there is an empty tomb, and Jesus’ body is missing. Peter is greatly puzzled. Mary Magdalene is weeping bitterly. Only one disciple understands. He is the disciple who loves dearly Jesus and whom Jesus loves. Despite death and emptiness, love endures. Through the eyes of love, the disciple is able to see the resurrection.

Love and its relation to the resurrection go back to the story of human creation in the book of Genesis. We are created in the image of God (Gen 1:26). If God is love (1 Jn 4:8), then we are made in the image of love. More than other creatures, we are designed with the ability to love and to receive love. Not only having the ability to love one another, our nature is even gifted with the ability to be loved by God and to love God. No other creation on earth is able to participate in this most beautiful love affair with the Lord. Unfortunately, sin destroys this love relationship with God and seriously damages our ability to love and be loved. The history of humankind turns to be the history of sins, suffering, and death. Husband and wife hurt each other, brothers kill each other, men exploit women, women sell their children, and men destroy nature. We need redemption.

Out of His immense love, God becomes man so that He may begin His work of redemption. This redemption culminates in Jesus’ resurrection. One of the greatest graces of resurrection is our ability to love God and to receive God’s love is restored. Thus, John the Beloved Disciple is able to see through the empty tomb and believe in the risen Lord. Just as the grace of resurrection heals John, so the same grace heal us and restore our ability to love God. In the midst of emptiness of life, we are empowered to see the risen Lord. Despite the absurdity of life, we are enabled to transform our sorrows and pains into the opportunity to love more and serve better. Despite pain and death, love endures.

Blessed Easter! Happy Resurrection!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Arti Kebangkitan bagi Kita yang Hidup

Minggu Paskah [1 April 2018] Yohanes 20: 1-10

… dia melihat dan percaya (Yoh 20: 8)

jump of joy
Photo by Harry Setianto, SJ

Tuhan telah bangkit! Kematian telah dikalahkan! Paskah adalah kemenangan kita semua! Ini adalah sukacita Hari Raya Paskah, dan pada hari ini, kita diajak untuk merenungkan bagaimana kita memahami arti sebuah kebangkitan? Apa artinya ketika kita mengatakan bahwa kematian telah ditaklukkan?

 

Walaupun maut telah dikalahkan, kita semua tetap akan mati. Kita hanya tidak tahu kapan, di mana dan bagaimana, tetapi kita yakin bahwa kematian akan datang. Kita tetap cemas dan takut akan realitas penderitaan dan kematian. Tampaknya kematian belum sungguh-sungguh dikalahkan? Memang benar bahwa terkadang kematian bisa menjadi sebuah pembebasan. Seorang wanita paruh baya yang saleh bercerita kepada pastor parokinya bahwa dia berdoa agar Tuhan akan memanggilnya ketika dia tampak masih cantik dan sebelum dia terlihat tua, keriput dan jelek. Kemudian, sang pastor pun berkomentar, “Lalu, kenapa kamu masih di sini!”

Jika kita perhatikan, para imam biasanya berkhotbah tentang kebangkitan saat misa arwah! Kebangkitan telah menjadi semacam penghilang rasa sakit bagi keluarga dan kerabat yang berduka. Kita yakin bahwa kematian mereka yang kita cintai bukanlah akhir dari segalanya. Ada kehidupan baru yang menanti, dan kita akan bergabung dengan Allah kita dalam hari kebangkitan. Meskipun para pastor kita berkhotbah tentang kebenaran yang menghibur, cara kita mewartakan kebangkitan cenderung menjadikan kehidupan kekal sebagai tempat pensiun yang permanen, dan kebangkitan sebagai realitas yang sangat jauh dari kehidupan yang sekarang. Seorang imam pernah menyatakan bahwa dia diciptakan tidak begitu tampan, dan karena itu dia merencanakan bahwa pada hari kebangkitan, dia akan segera mengambil tubuh penyanyi Kanada yang terkenal, Justin Bieber! Kebangkitan itu hanya untuk mereka yang sudah meninggal, dan itu tidak berarti banyak bagi kita yang masih hidup. Namun, kebangkitan Yesus di hari Paskah benar-benar untuk kita semua yang masih hidup di dunia.

Jika kita membaca kembali ke kebangkitan Yesus, Injil tidak menjelaskan bagaimana kebangkitan itu terjadi. Namun, ada kubur yang kosong, dan tubuh Yesus hilang. Petrus sangat bingung. Maria Magdalena menangis dengan sedih. Hanya ada satu murid yang mengerti. Dia adalah murid yang sangat mengasihi Yesus dan yang dikasihi Yesus. Meskipun menghadapi kematian dan kekosongan, cinta kasih tidak pernah hilang. Melalui mata kasih, murid ini dapat melihat kebangkitan.

Kasih dan kebangkitan memiliki hubungan yang erat, bahkan jejaknya kembali ke kisah penciptaan manusia dalam kitab Kejadian. Kita diciptakan menurut citra Allah (Kej 1:26). Jika Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8), kita diciptakan menurut citra kasih. Oleh karena itu, melebihi makhluk-makhluk lain, kita dirancang dengan kemampuan untuk mengasihi dan dikasihi. Tidak hanya memiliki kemampuan untuk mengasihi satu sama lain, kita juga dikaruniai kemampuan untuk dikasihi oleh Tuhan dan untuk mengasihi Tuhan. Tidak ada ciptaan lain di bumi yang dapat berpartisipasi dalam kisah kasih paling indah dengan Tuhan. Sayangnya, dosa menghancurkan kisah kasih dengan Tuhan ini, dan secara serius merusak kemampuan kita untuk mengasihi dan dikasihi. Sejarah umat manusia berubah menjadi sejarah dosa, penderitaan, dan kematian. Suami dan istri saling menyakiti, saudara saling membunuh, pria mengeksploitasi wanita, wanita menjual anak-anak mereka, dan manusia merusak alam. Manusia membutuhkan penebusan.

Sungguh, Allah dalam kasih-Nya menjadi manusia untuk memulai karya penebusan, dan penebusan Yesus ini mencapai puncaknya dalam kebangkitan-Nya. Salah satu anugerah yang terbesar dari kebangkitan adalah kemampuan kita untuk mengasihi Allah dan dikasihi Allah dipulihkan. Saat Yohanes sang murid terkasih mampu melihat lebih jauh dari sekedar kubur yang kosong, dan percaya kepada Tuhan yang bangkit, Injil memberikan kita sebuah tanda bahwa rahmat kebangkitan telah bekerja. Jika Yohanes disembuhkan, karunia yang sama menyembuhkan kita juga dan memulihkan kemampuan kita untuk mengasihi Allah. Di tengah-tengah kekosongan hidup, kita diberdayakan untuk melihat Tuhan yang bangkit. Terlepas dari absurditas kehidupan, kita dimampukan untuk mengubah kesedihan dan rasa sakit kita menjadi kesempatan untuk mencintai lebih banyak dan melayani dengan lebih baik. Meskipun sakit dan mati, cinta tetap bertahan. Ini adalah kebangkitan Tuhan dalam hidup kita, Ini adalah hari Paskah!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Die and Live

Fifth Sunday of Lent [March 18, 2018] John 12:20-33

“Amen, amen, I say to you, unless a grain of wheat falls to the ground and dies, it remains just a grain of wheat; but if it dies, it produces much fruit. (Jn. 12:24)”

seedling
by Harry Setianto SJ

The hour of Jesus’ suffering and death has come. Jesus knows well that Jewish leaders want him dead, and there is no other punishment worse than crucifixion. Yet, Jesus does not see His suffering and death as defeat and shame, but in fact, it is the opposite. His crucifixion shall be the hour that He will be glorified and draw all men and women to Himself. It is the moment of victory because Jesus sees Himself as a grain of wheat that falls to the ground and dies, and then bears many fruits. It is not a kind of positive thinking technique to vilify the suffering or a pep talk to ignore the pain, but rather Jesus chooses to embrace it fully and make it meaningful and fruitful.

 

In the theological level, Jesus’ suffering, death, and resurrection are the summits of the work of redemption, our salvation. Jesus is the resurrection and life so that whoever knows and believes in Him may have the eternal life. Jesus’ choice of a grain of wheat, a basic material for making bread, may allude to the sacrament of the Eucharist through which Jesus gives the fullness of Himself to us in the form of a bread. Thus, through our participation in the Eucharist, we share this fruit of salvation.

However, through His sacrifice and death, Jesus also offers us a radical way to live this life. Truly, there is nothing wrong in pursuing wealth, success and power because these are also gifts from God and necessary for our survival and growth. Yet, when we are too captivated by these alluring things, and make other things and people simply tools to gain these, we choose to live the way of the world. Since the dawn of humanity, the world has offered us an inward-looking and self-seeking way of life. It is “Me First,” my success, my happiness at the expense of others and nature. Some people exploit nature and steal other people’s hard-earned money to enrich themselves. Some objectify and abuse even their family members, people under their care, just to have an instant pleasure. Some others manipulate their co-workers or friends to have more power for themselves. These are precisely what the world offers. These are good as far as they fulfill our transitory needs as a human being, but when we make them as the be-all and end-all, we begin losing our lives. Science calls this effect the hedonic treadmill: We work hard, advance, so we can afford more and nicer things, and yet this doesn’t make us any happier. We fail to find what truly makes us human and alive, and despite breathing, we already dying.  As Jesus says, “Whoever loves his life, loses it (Jn 12:25).”

Paradoxically, it is in dying to ourselves and in giving ourselves, our lives to others that we may find life and bear fruits. Sometimes, we need to offer our lives literally.  St. Maximillian Kolbe offered his life in exchange for a young man who had children in the death camp Auschwitz. Later Pope John Paul II canonized him and declared him as a martyr of charity. Not all of us are called to make the ultimate sacrifice like St. Maximillian, and we can die to ourselves in our little things, and give ourselves for others in simple ways. The questions then for us: how are we going to die to ourselves? How shall we give ourselves to others? What makes our lives fruitful for ourselves and others?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Photo by Harry Setianto SJ

Mati dan Hidup

Minggu kelima Prapaskah [18 Maret 2018] Yohanes 12:20-33

“Amin, amin, saya katakan kepada Anda, kecuali satu butir gandum jatuh ke tanah dan mati, itu tetap hanya sebutir gandum; Tapi jika mati, itu menghasilkan banyak buah. (Yoh 12:24) “

small candle
oleh Harry Setianto SJ

Saat penderitaan dan kematian Yesus telah tiba. Yesus mengerti bahwa para pemimpin Yahudi menginginkan dia mati, dan tidak ada hukuman lain yang lebih keji daripada penyaliban. Namun, Yesus tidak melihat penderitaan dan kematian-Nya sebagai kekalahan dan aib, namun justru sebaliknya. Penyaliban-Nya akan menjadi saat dimana Dia akan dimuliakan. Inilah saat kemenangan karena Yesus melihat diri-Nya sebagai biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, dan kemudian menghasilkan banyak buah. Ini bukanlah semacam teknik berpikir positif untuk melupakan penderitaan atau mengabaikan rasa sakit, namun Yesus memilih untuk merangkul penderitaan-Nya sepenuhnya dan membuatnya bermakna dan berbuah.

 

Di tingkat teologis, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus adalah puncak dari karya penebusan, keselamatan kita. Yesus adalah kebangkitan dan hidup dan siapapun yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup yang kekal. Pilihan biji gandum oleh Yesus, yang adalah bahan dasar pembuatan roti, mungkin berbicara tentang sakramen Ekaristi dimana Yesus memberikan kepenuhan diri-Nya kepada kita dalam bentuk roti. Jadi, melalui partisipasi kita dalam Ekaristi, kita menikmati buah-buah keselamatan yang telah dimenangkan oleh Kristus.

Namun, melalui pengorbanan dan kematian-Nya, Yesus juga memberi kita cara radikal untuk menjalani kehidupan ini. Sungguh, tidak ada yang salah dalam mengejar kekayaan, kesuksesan dan kekuasaan karena ini juga merupakan anugerah dari Tuhan. Namun, ketika kita terlalu terpukau, dan sampai membuat sesama hanyalah sebagai alat untuk mendapatkan hal-hal ini, kita memilih jalan dunia. Sejak awal, dunia telah menawari kita jalan hidup yang berwawasan sempit dan egois. Ini adalah mentalitas “Me First,” kesuksesanku, kebahagiaanku, bahkan dengan mengorbankan sesama dan alam. Beberapa orang mengeksploitasi alam dan mencuri uang orang lain untuk memperkaya diri mereka sendiri. Beberapa orang melecehkan bahkan anggota keluarga mereka hanya untuk mendapatkan kesenangan instan. Beberapa orang lainnya memanipulasi rekan kerja atau teman mereka untuk memiliki lebih banyak kekuasaan. Inilah yang ditawarkan dunia.

Hal-hal ini sebenarnya baik sejauh mereka memenuhi kebutuhan sementara kita sebagai manusia, tapi ketika kita menjadikannya sebagai segalanya, kita mulai kehilangan hidup kita. Beberapa ilmuwan menyebut efek ini sebagai “treadmill hedonis”: Kita terus bekerja keras, maju, dan mampu menghasilkan banyak hal yang lebih baik, namun hal ini tidak membuat kita lebih bahagia. Kita gagal menemukan apa yang kita benar-benar membuat kita manusia dan hidup, dan meski bernapas, kita sudah kehilangan hidup. Tidak salah jika Yesus berkata, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya (Yoh 12:25).”

Paradoksnya adalah saat kita mati terhadap diri kita sendiri dan memberikan hidup kita kepada sesama, kita menemukan hidup dan berbuah. Terkadang, kita perlu mengorbankan hidup kita secara radikal. St. Maximilianus Kolbe menawarkan hidupnya sebagai pengganti bagi seorang pemuda yang akan dieksekusi di kamp Auschwitz. Saat dia dikanonisasi, Paus Yohanes Paulus II menyatakannya sebagai martir cinta kasih. Tidak semua dari kita dipanggil untuk membuat pengorbanan radikal seperti St. Maximilianus, tetapi kita dapat mati terhadap diri kita sendiri dalam hal-hal kecil, dan memberikan diri kita kepada sesama dengan cara-cara yang sederhana. Pertanyaan sekarang: bagaimana kita akan mati terhadap diri kita sendiri? Bagaimana kita memberi diri kita kepada sesama? Apa yang membuat hidup kita sungguh berbuah bagi diri kita dan orang lain?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Foto oleh Harry Setianto SJ

Leprosy

The Sixth Sunday in Ordinary Time [February 11, 2018] Mark 1:40-45

“Moved with pity, he stretched out his hand, touched him, and said to him, ‘I do will it. Be made clean.” (Mk. 1:41)

touch the poor
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

One of the greatest gifts that humanity has received is the gift of touch. We are created as bodily being, and biology tells us that practically all our body surface is covered by fabric nerve that receives the external stimulates like heat, pleasure, and pain. It is the first step in our survival mechanism as it helps us to identify the approaching dangers or threats. Yet, it is the first step also in our authentic growth as human beings. A baby will feel loved when she is embraced by her parents. A toddler who learns to walk will feel a sense of guidance and security when his father holds his hand. Even a grown-up man will need comfort and warm coming from his family.

 

If there is one thing that destroys this gift of touch, this is leprosy.  The disease will practically create a “walking death.”  Leprosy or also known as Hansen’ disease is caused by Mycobacterium leprae that bring about severe, disfiguring skin sores and nerve damages around the body. The greatest injury that this disease inflicts is that a person loses the ability to feel external stimulates like pain. As a consequence, a leper gradually loses its limbs like his fingers, hair, nose, arms, and feet because of the unnoticed repeated injuries or untreated wounds. Yet, the most painful about this disease is that the stigma the lepers receive from their community. In the time of Jesus, lepers are expelled from their community because people fear to contract the infectious disease. Even, people consider leprosy as God’s punishment (see 2Chro 26:20). Because of that, a leper is not only biologically sick but ritually unclean, meaning he is not able to worship God as he is barred from entering the synagogue or the temple (see Lev 13). He must cry “Unclean, unclean!” to remind the people nearby not touch him, otherwise, the persons may become unclean as well. A person with leprosy is not only losing the gift of touch from his body, but also from his community and his God. No wonder, leprosy is the most dreaded disease in the ancient Israel society.

With this background, we may fully appreciate what Jesus does to the leprous man. He is stretching his hands and making a deliberate effort to touch him. Jesus does not only risk of contracting the disease, but Jesus may become ritually unclean. Yet, Jesus insists because He knows that the gift of touch is what the man needs most. Indeed, Jesus’ touch brings healing and restores the lost gift of touch. The man is able once more to feel the goodness of life, to re-enter his community, and to worship his God.

When we call Jesus as the savior, it means that by sacrificing His life, Jesus reestablishes the lost connection between us and our deepest selves, between us and our neighbors, and between us and our God. How does Jesus do it? With the gift of touch. Our God is indeed a spirit, but our God is not abstract. He becomes flesh so that we may fully experience His love, His touch. As His disciples, we are called to participate in God’s concrete love by expanding this love to others. Do we dare to touch people with modern-day leprosies, like poverty? Are we willing to restore the broken relationship in our lives? Are we eager to meet our God in prayer? Do we want to touch those who have been away from God and bring them back?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Kusta

Minggu di Biasa ke-6 [11 Februari 2018] Markus 1: 40-45

“Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya, ‘Aku mau, jadilah engkau tahir. (Mrk 1:41)”

touch the mother
foto oleh Harry Setianto Sunaryo, SJ

Salah satu karunia terbesar yang dimiliki manusia adalah sebuah sentuhan. Kita diciptakan sebagai makhluk bertubuh, dan ilmu biologi mengajarkan bahwa hampir semua permukaan tubuh kita dipenuhi oleh sistem saraf untuk menerima stimulan eksternal melalui kontak sentuh, seperti kehangatan dan rasa sakit. Ini adalah langkah pertama dalam mekanisme kelangsungan hidup kita karena ini membantu kita untuk mengidentifikasi bahaya atau ancaman yang mendekat. Namun, ini juga adalah langkah pertama dalam pertumbuhan autentik kita sebagai manusia. Seorang bayi akan merasa dicintai saat dipeluk oleh orang tuanya. Seorang balita yang belajar berjalan akan merasakan bimbingan dan keamanan saat ayahnya memegang tangannya. Bahkan orang dewasa pun butuh kenyamanan dan kehangatan dari keluarganya.

 

Di dalam Kitab Suci, jika ada satu hal yang menghancurkan karunia sentuhan ini, ini adalah kusta. Kusta atau yang juga dikenal sebagai penyakit Hansen disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang menyebabkan kerusakan kulit dan saraf di sekitar tubuh. Cedera terbesar yang ditimbulkan penyakit ini adalah seseorang kehilangan kemampuan untuk merasakan stimulan eksternal seperti rasa sakit. Sebagai konsekuensinya, penderita kusta secara berangsur-angsur kehilangan anggota tubuhnya seperti jari, rambut, hidung, lengan, dan kakinya karena luka berulang yang tidak terdeteksi atau luka yang tidak diobati.

Namun, yang paling menyedihkan mengenai penyakit ini adalah stigma yang diterima orang kusta dari komunitas mereka. Pada zaman Yesus, orang kusta diusir dari komunitas mereka karena orang takut untuk tertular penyakit ini. Bahkan, orang menganggap kusta sebagai hukuman Tuhan (lihat 2 Taw 26:20). Karena itu, penderita kusta tidak hanya sakit secara biologis tapi secara ritual adalah najis, artinya dia tidak dapat beribadah dan menyembah Tuhan karena dia dilarang masuk ke rumah ibadat atau ke Bait Allah (lihat Im 13). Dia harus seru “najis, najis!” untuk mengingatkan orang-orang di dekatnya tidak menyentuhnya, jika tidak, orang tersebut mungkin menjadi najis juga. Seseorang dengan kusta tidak hanya kehilangan karunia sentuhan dari tubuhnya, tapi juga dari komunitasnya dan Tuhannya. Tak heran, kusta adalah penyakit yang paling ditakuti masyarakat Israel kuno.

Dengan latar belakang ini, kita dapat sepenuhnya menghargai apa yang Yesus lakukan terhadap orang kusta. Dia mengulurkan tangan-Nya dan menyentuhnya. Yesus tidak hanya menghadapi risiko tertular penyakit ini, namun Yesus bisa menjadi najis. Namun, Yesus bersikukuh karena Dia tahu bahwa karunia sentuhan adalah apa yang paling dibutuhkan manusia. Sungguh, sentuhan Yesus membawa penyembuhan dan mengembalikan karunia sentuhan yang hilang. Penderita kusta itu sekali lagi bisa merasakan kebaikan hidup, bisa masuk kembali ke komunitasnya, dan bisa menyembah Tuhannya.

Saat kita memanggil Yesus sebagai juru penyelamat, ini berarti bahwa dengan mengorbankan diri-Nya, Yesus membangun kembali hubungan yang hilang antara kita dan diri kita sendiri, antara kita dan sesama kita, dan di antara kita dan Allah. Bagaimana Yesus melakukannya? Dengan karunia sentuhan. Allah kita adalah roh, tapi Allah kita tidaklah abstrak. Dia menjadi daging sehingga kita bisa merasakan kasih-Nya secara total, yakni sentuhan-Nya. Sebagai murid-murid-Nya, kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam kasih nyata Allah ini dengan memperluas sentuhan Allah ini kepada sesama. Apakah kita berani menyentuh orang-orang yang menderita kusta modern, seperti kemiskinan? Apakah kita rela memulihkan hubungan yang telah rusak dalam hidup kita? Apakah kita mau menyentuh orang-orang yang juah dari Gereja dan membawa mereka kembali kepada Tuhan? Apakah kita berani menjadi sarana kasih dan sentuhan Allah dalam hidup kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Christmas and the Love of God

The Nativity of the Lord [December 25, 2017] John 1:1-18

 “And the Word became flesh and made his dwelling among us, and we saw his glory, the glory as of the Father’s only Son, full of grace and truth. (Joh 1:14)”

John-Word-made-fleshChristmas is one of the most joyous events in the Church and the world. But, what makes us happy this Christmas? Is it only about partying? Is it all about buying gifts? Is it about family gathering? Is it about fulfilling our obligation of going to the Church? Is there something more than these? Immersed in many celebrations, merriment, spending, and holidays, we often forget the main reason behind Christmas. We all know Christmas is the birthday of Jesus Christ, but what is the meaning and significance of this birth for us? Let us stop for a while and reflect on the Gospel of John.

John describes the birth of Jesus in just one line, “and the Word was made flesh and dwell among us.” It is a short yet powerful line, but demands an explanation. “…was made flesh” means that the Word becomes a totally human being. He breathes the air we breathe, feels what we feel, and works for a living just many of us. He is human like us in all respect except sin (see Heb 4:15).

Yet, this man is also fundamentally different from us, because he is the Word. Who is this Word?  At the beginning of his Gospel, John the evangelist gives us an extremely brief but potent description of the Word. He was with God since the beginning, and the Word was God. With boldness, John the evangelist proclaims that this Word is God the Son, the second divine person of the Holy Trinity. He has existed with the God the Father in eternity, and only through Him, all creations come to existence. In the Annunciation, this all-powerful Word became man, and in Christmas day, He was born in Bethlehem.

It is true that Christmas accounts of Luke and Matthew are more vivid and details as compare to John. Matthew has the three Magi, and Luke has the angels and shepherds. Yet, despite its brevity, only John connects Christmas to the divine Word. Christmas reaches its deepest meaning when we are able to appreciate the Word, the God the Son, decides to be born as man. Then why does God choose to be a man, fragile, prone to pain and suffering, and mortal like us?

The only answer is love. God is love (1 Jn 4:8) and God so loves us, that He gives only Son for us. God is madly in love with us, to the point that He becomes one of us, and by becoming a man, we may feel His love in a most radical manner. We can discuss various theories of love at length, but unless we put into actions, love is meaningless. So thus, the love of God is manifested in the most concrete manner as He becomes man. We might do not understand why this kind of love, but God is like a mother who is so in love with her newly born baby, will do anything to ensure his wellbeing even to the point of sacrificing her own life. Christmas is indeed one of the happiest events because here we are able to feel and appreciate the love of God in a most radical way. It is the gift of love, and only true love that can make us truly happy.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Natal dan Kasih Tuhan

Hari Raya Natal [25 Desember 2017] Yohanes 1: 1-18

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yoh 1:14)”

nativity_he-qiNatal adalah salah satu hari yang paling menggembirakan di dalam Gereja. Tapi, apa yang membuat kita gembira Natal ini? Apakah karena banyak pesta? Apakah karena kita menerima banyak hadiah? Apakah karena kita bisa berkumpul dengan keluarga? Terlarut dalam banyak perayaan, kegembiraan, belanja, dan liburan, kita sering melupakan alasan utama di balik Natal. Tentunya, kita semua tahu Natal adalah hari kelahiran Yesus Kristus, tapi apa arti sesungguhnya kelahiran ini bagi kita? Mari kita berhenti sejenak dan merenungkan Injil Yohanes.

Yohanes Penginjil menggambarkan kelahiran Yesus hanya dalam satu kalimat, “dan Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.” Ini adalah kalimat yang sangat pendek namun penuh daya. Firman menjadi manusia sejati. Dia menghirup udara yang kita hirup, merasakan apa yang kita rasakan, dan bekerja untuk mencari nafkah seperti halnya banyak dari kita. Dia adalah manusia seperti kita dalam segala hal kecuali dosa (lihat Ibr 4:15).

Namun, manusia ini juga sangat berbeda dengan kita, karena dia adalah Firman. Siapakah Firman ini? Pada awal Injilnya, Yohanes penginjil memberi kita deskripsi Firman yang sangat singkat tetapi penuh kekuatan. Firman bersama Tuhan sejak awal, dan Firman itu adalah Tuhan. Dengan keberanian, Yohanes penginjil menyatakan bahwa Firman ini adalah Allah Putra, pribadi ilahi yang kedua dari Tritunggal Mahakudus. Dia telah ada bersama dengan Allah Bapa dalam kekekalan, dan hanya melalui Dia, semua ciptaan ada. Saat Maria menerima Kabar Sukacita, Firman yang Maha Kuasa ini menjadi manusia, dan pada hari Natal, Dia lahir di Betlehem.

Memang benar bahwa kisah kelahiran Yesus di Lukas dan Matius lebih hidup dan panjang dibandingkan dengan Yohanes. Matius memiliki tiga orang Majus, dan Lukas memiliki malaikat dan gembala. Namun, meski singkat, hanya Yohanes yang menghubungkan Natal dengan sang Firman. Natal mencapai makna terdalamnya saat kita dapat menemukan sang Firman, Putra Allah, yang memutuskan untuk dilahirkan sebagai manusia. Lalu mengapa Tuhan memilih untuk menjadi seorang manusia, rapuh, rentan terhadap rasa sakit dan penderitaan, dan fana seperti kita?

Satu-satunya jawabannya adalah cinta kasih. Tuhan adalah kasih (1 Yoh 4: 8) dan Tuhan sangat mengasihi kita, sehingga Dia memberi Putra-Nya bagi kita. Tuhan sangat mencintai kita, sampai-sampai Ia menjadi salah satu dari kita, dan dengan menjadi seorang manusia, kita dimungkinkan merasakan kasih-Nya dengan cara yang paling radikal. Kita bisa membahas berbagai teori cinta dengan panjang lebar, tapi tanpa tindakan nyata, cinta kasih itu tidak ada artinya. Jadi, cinta kasih Tuhan diwujud nyatakan dengan cara yang paling konkret saat Ia menjadi manusia. Kita mungkin tidak mengerti mengapa Ia mencintai kita seperti ini, tapi Tuhan seperti seorang ibu yang sangat mencintai bayi yang baru lahir, akan melakukan apapun untuk memastikan kesejahteraan sang bayi, bahkan sampai mengorbankan nyawanya sendiri. Natal memang merupakan salah satu peristiwa terindah karena disini kita bisa merasakan dan menghargai kasih Tuhan dengan cara yang paling radikal. Itu adalah karunia cinta kasih, dan hanya cinta sejati yang bisa membuat kita benar-benar bahagia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP