The unclean spirits

Fourth Sunday in Ordinary Time [B]

January 28, 2024

Mark 1:21-28

One of the highlights of Jesus’ ministry is the exorcism of the unclean spirits. Mark, the evangelist even, does not hesitate to write that expelling the unclean spirits is part of Jesus’ teaching with authority. Jesus’ authority does not only affect His human hearers but also controls the unclean spirits. Yet, who are these unclean spirits? Why does Jesus have authority over them? And how do they affect our lives?

Based on the revelation and the tradition, the Church teaches that these spirits are also God’s creation. By nature, they are spirits or angels. As a spirit, they are creatures without a body, and since they are not affected by material limitations, they are naturally superior to us humans. However, unlike the good angels that use their power to help humans, these spirits do the opposite. They wish to harm men and women. That’s why they are called the evil spirits.

If God is good, why did God create evil beings? In the beginning, God created them as good spirits. Yet, as creatures with freedom, they made a definitive choice to go against their Creator. Their rebellion against God made them fall from grace, and thus, they were called ‘the fallen angels.’ (see CCC 391-395)

Then, why do the unclean spirits obey Jesus? The answer is straightforward. Jesus is their Creator. Jesus’ authority is reflected in the Greek word chosen when Jesus drives away the demons, ‘φιμοω’ (read: phimoo). Ordinarily, this word is translated as ‘be quiet,’ but literally, it means ‘to put a muzzle.’ It is like a farmer who places a muzzle on the mouth of his rowdy ox and thus puts it under submission. The idea is that Jesus is extremely powerful to the point that He could easily put evil spirits that are beyond human comprehension under His control.

One interesting fact also is that Mark does not call these fallen angels ‘evil spirits’ but rather ‘unclean spirits’ (πνευμα ἀκάθαρτον – pneuma akatarton). In the Jewish context, to be unclean means to be ritually unfit for God. Something or someone impure cannot enter the Temple of God and, thus, cannot offer worship and become far from God. These spirits are unclean precisely because they are not fit for God and, thus, far from Him.

We can also see the uncleanliness as an effect of the evil spirits. One who is under the dominion of the evil spirits becomes unclean and, thus, is far from God. One who lives in sin and, thus, distant from God is under the influence of evil spirits to a certain extent. From here, we can understand that Jesus’ mission to drive out the unclean spirits is an integral part of His mission to make people holy and to unite people with God.

The discussion on the evil spirits is certainly vast and intriguing, but it suffices to say that Jesus is infinitely superior to the evil spirits. Therefore, to live with and in Jesus is the only way to drive away the unclean ones. It is also true that as we go closer to Jesus, the evil spirits will double their efforts, and in this situation, all the more we must cling to Jesus.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Roh-Roh Jahat dan Najis

Hari Minggu Keempat dalam Masa Biasa [B]

28 Januari 2024

Markus 1:21-28

Salah satu hal yang paling menarik dalam pelayanan Yesus adalah pengusiran roh-roh jahat. Markus, sang penulis Injil, bahkan tidak ragu-ragu menuliskan bahwa mengusir roh-roh jahat merupakan bagian dari pengajaran Yesus yang penuh otoritas. Otoritas Yesus tidak hanya mempengaruhi pendengar manusia, tetapi juga mengendalikan roh-roh jahat. Namun, siapakah roh-roh jahat itu? Mengapa Yesus memiliki otoritas atas mereka? Dan bagaimanakah pengaruhnya terhadap kehidupan kita?

Berdasarkan Kitab Suci dan tradisi, Gereja mengajarkan bahwa roh-roh ini juga merupakan ciptaan Allah. Pada dasarnya, mereka adalah roh atau malaikat. Sebagai roh, mereka adalah makhluk tanpa tubuh, dan karena mereka tidak terpengaruh oleh keterbatasan materi, mereka secara alamiah jauh unggul daripada kita manusia. Namun, tidak seperti malaikat baik yang menggunakan kekuatan mereka untuk membantu manusia, roh-roh ini justru melakukan sebaliknya. Mereka ingin mencelakakan manusia. Itulah mengapa mereka disebut sebagai roh-roh jahat.

Jika Allah itu baik, mengapa Allah menciptakan makhluk yang jahat? Pada awalnya, Allah menciptakan mereka sebagai roh-roh yang baik. Namun, sebagai makhluk yang memiliki kebebasan, mereka membuat pilihan yang definitif untuk menentang Pencipta mereka. Pemberontakan mereka terhadap Allah membuat mereka jatuh dari rahmat, dan oleh karena itu, mereka disebut “malaikat-malaikat yang jatuh”. (lihat KGK 391-395)

Lalu, mengapa roh-roh jahat bisa taat kepada Yesus? Jawabannya sangat mudah. Yesus adalah Pencipta mereka. Otoritas Yesus tercermin dalam kata Yunani yang dipilih ketika Yesus mengusir roh-roh jahat, ‘φιμοω’ (baca: phimoo). Biasanya, kata ini diterjemahkan sebagai ‘diam,’ tetapi secara harfiah, kata ini berarti ‘memasang moncong’ (alat yang dipasang di mulut binatang untuk membuatnya diam). Ini seperti seorang petani yang meletakkan moncong di mulut lembu yang gaduh sehingga membuatnya tunduk. Idenya adalah bahwa Yesus sangat berkuasa sampai-sampai Dia dapat dengan mudah menundukkan roh-roh jahat di bawah kendali-Nya.  

Satu fakta yang menarik adalah bahwa Markus tidak menyebut malaikat-malaikat yang jatuh itu sebagai ‘roh-roh jahat’, melainkan ‘roh-roh najis’ (πνευμα ἀκάθαρτον – pneuma akatarton). Dalam konteks Yahudi, najis berarti tidak layak bagi Allah secara ritual. Sesuatu atau seseorang yang najis tidak dapat masuk ke dalam Bait Allah dan, sebagai konsekuensi, tidak dapat mempersembahkan penyembahan dan menjadi jauh dari Allah. Roh-roh ini najis karena mereka tidak layak bagi Allah dan jauh dari-Nya.

Kita juga dapat melihat kenajisan sebagai efek dari roh-roh jahat. Orang yang berada di bawah kekuasaan roh-roh jahat menjadi najis dan jauh dari Allah. Orang yang hidup dalam dosa dan jauh dari Allah, berada di bawah pengaruh roh-roh jahat sampai batas tertentu. Dari sini, kita dapat memahami bahwa misi Yesus untuk mengusir roh-roh jahat merupakan bagian integral dari misi-Nya untuk membuat manusia menjadi kudus dan menyatukan manusia dengan Allah.

Pembahasan mengenai roh-roh jahat tentu saja sangat luas dan menarik, tetapi cukuplah untuk mengatakan bahwa Yesus jauh lebih unggul daripada roh-roh jahat ini. Oleh karena itu, hidup bersama dan di dalam Yesus adalah satu-satunya cara untuk mengusir roh-roh jahat. Juga benar bahwa ketika kita semakin dekat dengan Yesus, roh-roh jahat akan melipatgandakan usaha mereka, dan justru dalam situasi ini, kita harus semakin berpegang teguh pada Yesus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

What is Gospel?

Third Sunday in Ordinary Time [B]

January 21, 2023

Mark 1:14-20

Jesus began His ministry by preaching, “The time has been fulfilled, the kingdom is at hand; repent and believe in the Gospel!” Yet, the question is, ‘What is the Gospel we need to believe in?’ Indeed, it is not the four written Gospels (Matthew, Mark, Luke, and John) since these were written years after Jesus’ death and resurrection. So, what is the Gospel here?

The most basic understanding of the Gospel is ‘the good news.’ It comes from the Greek word ‘ευαγγελιον’ (read: Evangelion). This word itself is composed of two elements: ‘ευ’ meaning ‘happy’ or ‘good,’ then ‘αγγελιον’ meaning ‘news.’ In the time of Jesus, the word ‘ευαγγελιον’ is not just any good news like “I passed the exam” or “I received a bonus.” The word is an imperial technical term to point to the emperor’s major victory or to the emperor’s birthday celebration. Every time ‘ευαγγελιον’ was announced, there would be great joy among the people because the enemy had been defeated, and now the residents of the empire may live in peace.

Jesus used the same imperial vocabulary but adjusted its content to His purpose. It was no longer about the good news about the Roman empire but about the Kingdom of God. It was no longer about the emperor’s glory but now about Jesus. Those living at that time may respond differently to Jesus’ Gospel. One could consider Jesus insane, delusional, or a liar, and thus, His Gospel was nothing but a laughable lie. Others might see Jesus as subversive; thus, His Gospel was a call to rebellion against the Roman empire. We recall also that this subversive understanding of the Gospel was later used to accuse Jesus before Pilate. Jesus was ‘the king of the Jews’ against the Roman emperor.

However, Jesus proved these assumptions were simply incorrect. Jesus did not preach empty words; He taught with authority and performed mighty miracles. Even the demons were obedient to His words. He was not also a revolutionary political fighter because His Kingdom is not of this world (see John 18:36), and how He refused to be made king by his supporters (see John 6:15). Jesus’ Kingdom is the Kingdom of God of holiness. The only way to enter is repentance (metanoia). The word metanoia presupposes a change of ‘mind’ or ‘lifestyle’ from a life of sins and far from God into a life according to God’s law and, thus, life with God.

Thus, from this perspective, we can say that ‘believe in the Gospel’ means that we believe in the Kingdom of God and Jesus, the king of the Kingdom, who saves us from sins and brings us back to God. And the way to believe is none other than repentance. To say, “I believe in Jesus,” yet we keep stealing other people’s money, is just nonsense. To say, “I trust in God,” but we keep breaking His laws and commandments, is useless. ‘

Another interesting fact! The actual Greek Mark used for ‘believe’ is ‘πιστεύετε’ (pisteuete), and grammatically, it is imperative mode in the present tense. In ancient Greece, this imperative presence means a command to do something, not one time but continuously. Thus, Mark wants to emphasize that belief is a continuous process rather than a one-time action. Belief in Jesus is something that is growing and dynamic rather than static.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apa itu Injil?

Hari Minggu Ketiga dalam Masa Biasa [B]

21 Januari 2024

Markus 1:14-20

Yesus memulai misi-Nya dengan menyatakan, “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Namun, pertanyaannya adalah, “Injil apakah yang harus kita percayai?” Tentu saja, Injil yang dimaksud bukanlah keempat Injil tertulis (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) karena Injil-injil tersebut ditulis beberapa tahun setelah kematian dan kebangkitan Yesus. Jadi, apakah yang dimaksud dengan Injil di sini?

Pengertian paling dasar dari Injil adalah ‘kabar baik’. Kata ini berasal dari kata Yunani ‘ευαγγελιον’ (baca: Evangelion). Kata ini sendiri terdiri dari dua unsur: ‘ευ’ yang berarti ‘bahagia’ atau ‘baik’, lalu ‘αγγελιον’ yang berarti ‘berita’. Pada zaman Yesus, kata ‘ευαγγελιον’ bukanlah sembarang kabar baik seperti “Saya lulus ujian” atau “Saya menerima hadiah.” Kata ini adalah istilah teknis kekaisaran Roma untuk menunjukkan kemenangan besar kaisar atau perayaan ulang tahun kaisar. Setiap kali ‘ευαγγελιον’ diumumkan, akan ada sukacita besar bagi rakyat karena musuh telah dikalahkan, dan sekarang penduduk kekaisaran dapat hidup dengan tenang.

Yesus menggunakan kosakata kekaisaran yang sama tetapi menyesuaikan isinya dengan tujuan-Nya. Injil bukan lagi tentang kabar baik tentang kekaisaran Romawi, tetapi tentang Kerajaan Allah. Injil ini bukan lagi tentang kemenangan kaisar, tetapi tentang kemenangan Yesus. Mereka yang hidup pada masa itu mungkin akan merespons Injil Yesus dengan cara yang berbeda. Orang mungkin menganggap Yesus gila, atau bahkan pembohong, dan dengan demikian, Injil-Nya tidak lain adalah kebohongan yang menggelikan. Orang lain mungkin melihat Yesus sebagai seorang yang subversif-revolusioner, dan dengan demikian, Injil-Nya adalah sebuah seruan untuk memberontak terhadap kekaisaran Romawi. Kita juga ingat bahwa pemahaman subversif tentang Injil ini kemudian digunakan untuk menuduh Yesus di hadapan Pilatus. Yesus adalah ‘raja orang Yahudi’ yang menentang kaisar Romawi.

Namun, Yesus membuktikan bahwa anggapan ini tidak benar. Yesus tidak mewartakan Injil kata-kata kosong; Dia mengajar dengan penuh kuasa dan melakukan mukjizat-mukjizat yang dahsyat. Bahkan setan-setan pun taat kepada perkataan-Nya. Dia juga bukan seorang pejuang politik yang revolusioner karena Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (lihat Yoh 18:36), dan bagaimana Dia menolak untuk diangkat menjadi raja oleh para pendukung-Nya (lihat Yoh 6:15). Kerajaan Yesus adalah Kerajaan Allah yang kudus. Satu-satunya cara untuk masuk ke dalamnya adalah melalui pertobatan (metanoia). Kata metanoia mengandaikan adanya perubahan ‘pikiran’ atau ‘gaya hidup’ dari kehidupan yang penuh dengan dosa dan jauh dari Allah menjadi kehidupan yang sesuai dengan hukum Allah, dan dengan demikian, hidup bersama Allah.

Jadi, dari perspektif ini, kita dapat mengatakan bahwa ‘percaya kepada Injil’ berarti kita percaya kepada Kerajaan Allah dan Yesus, raja dari Kerajaan itu, yang menyelamatkan kita dari dosa-dosa dan membawa kita kembali kepada Allah. Dan bukti kita percaya tidak lain adalah dengan bertobat. Mengatakan, “Saya percaya kepada Yesus,” tetapi kita tetap mencuri uang orang lain, adalah omong kosong. Mengatakan, “Saya percaya kepada Tuhan,” tetapi kita tetap melanggar hukum dan perintah-Nya, adalah sia-sia.

Fakta menarik lainnya! Kata Yunani yang sebenarnya digunakan oleh Markus untuk ‘percaya’ adalah ‘πιστεύετε’ (pisteuete), dan secara tata bahasa, kata ini merupakan bentuk imperatif dalam bentuk waktu sekarang (present tense). Dalam bahasa Yunani kuno, bentuk imperatif ini berarti perintah untuk melakukan sesuatu, bukan hanya sekali tetapi terus menerus. Dengan demikian, Markus ingin menekankan bahwa percaya adalah sebuah proses yang berkelanjutan dan bukannya sebuah tindakan yang dilakukan sekali saja. Percaya kepada Yesus adalah sesuatu yang bertumbuh dan dinamis, bukan statis.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Name and Holiness

2nd Sunday in the Ordinary Time [B]

January 14, 2024

John 1:35-42

At the beginning of John’s Gospel, we encounter three acts of naming. Firstly, when John the Baptist saw Jesus, he called Him ‘The Lamb of God’. Then, after staying for a day with Jesus, Andrew called Him the ‘Messiah’ or ‘Christ’ [meaning: the anointed one]. Lastly, after Jesus encountered Simon, Andrew’s brother, He named him ‘Cephas’ in Aramaic, or ‘Petros’ in Greek [meaning: rock]. Why the act of naming is important in the Gospel?

We recall that the act of naming fundamentally belongs to God. God is omnipotent, and so, with every name God uttered, that name became a reality, from nothing to something. “God said, ‘Let there be light!’ And, there was light.” Every time God named and created something, the ever-greater goodness took place. On the final day, God named ‘the seventh day’ as ‘holy.’ Holiness is when a name becomes a reality and that reality reaches its fullness and perfection according to God’s plan.

The Holy Spirit inspired John the Baptist to name Jesus as the Lamb of God. This brings forth the reality that Jesus would be ‘slaughtered’ and ‘consumed’ to save His people from the slavery of sin, like the Passover lamb that was slaughtered and eaten to protect the Israelites from death and liberate them from slavery in Egypt. The Holy Spirit also inspired Andrew to name Jesus as the Messiah. This reveals the reality that Jesus is the promised Anointed one who would fulfill the promises and prophecies of the Old Testament, especially as the King of the New Israel. Jesus’ name is holy because precisely in His name, God’s redemption plan reached its full reality. After all, He is the Word that was made flesh (see John 1:14).

When Jesus called Simon and gave him a new name, ‘Cephas,’ the new reality came into existence. Simon would become the rock where Jesus’ Church rested. Obviously, Simon was impulsive, short-tempered, and even cowardly. Yet, since Jesus named him, the name was part of Jesus’ divine plan. Jesus knew Simon was weak; Jesus allowed Simon to falter, yet Jesus also transformed and empowered him. The name that Jesus had planted at their first encounter finally became a full reality when Simon offered his life as a martyr of Christ in the city of Rome.

We believe that we exist not because of random chance, utterly unplanned, but because of God’s divine plan. We are in the world not only because of biological processes but because God gives us a name, from nothingness to reality. Indeed, God allows us to experience suffering and even failures, yet this is also part of His plan to make us holy.

Holiness is when the names God gave us become more and more reality. How? Like Simon, we do our best to follow His will in our lives, be more patient in suffering, and avoid anything that strays from Him.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Nama dan Kekudusan

Hari Minggu ke-2 dalam Masa Biasa [B]

14 Januari 2024

Yohanes 1:35-42

Di awal Injil Yohanes, kita menemukan tiga peristiwa pemberian nama. Pertama, ketika Yohanes Pembaptis melihat Yesus, ia menyebut-Nya ‘Anak Domba Allah’. Kemudian, setelah tinggal satu hari bersama Yesus, Andreas menyebut-Nya ‘Mesias’ atau ‘Kristus’ [artinya: yang diurapi]. Terakhir, setelah Yesus bertemu dengan Simon, saudara Andreas, Yesus menamai dia ‘Kefas’ dalam bahasa Aram, atau ‘Petros’ dalam bahasa Yunani [artinya: batu karang]. Mengapa tindakan memberi nama itu penting dalam Injil dan juga hidup kita?

Kita ingat bahwa tindakan pemberian nama pada dasarnya adalah milik Allah. Allah itu mahakuasa, sehingga dengan setiap nama yang diucapkan, nama tersebut menjadi kenyataan, dari tidak ada menjadi ada. “Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang! Maka jadilah terang.” Setiap kali Allah menamai dan menciptakan sesuatu, kebaikan yang lebih besar terjadi. Pada hari terakhir, Allah menamai ‘hari ketujuh’ sebagai hari yang ‘kudus’. Kekudusan adalah ketika sebuah nama menjadi sebuah kenyataan dan kenyataan itu mencapai kepenuhan dan kesempurnaannya sesuai dengan rencana Allah.

Roh Kudus mengilhami Yohanes Pembaptis untuk menamai Yesus sebagai Anak Domba Allah. Hal ini memunculkan realitas bahwa Yesus akan ‘disembelih’ dan ‘dimakan’ untuk menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan dosa, sama seperti anak domba Paskah yang disembelih dan dimakan untuk melindungi orang Israel dari kematian dan membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Roh Kudus juga mengilhami Andreas untuk menamai Yesus sebagai Mesias. Hal ini mengungkapkan kenyataan bahwa Yesus adalah Yang Diurapi yang akan menggenapi janji-janji dan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama, terutama sebagai Raja Israel Baru. Nama Yesus adalah nama yang kudus karena justru di dalam nama-Nya, rencana penebusan Allah mencapai kenyataan sepenuhnya. Bagaimanapun juga, Dia adalah Firman yang telah menjadi manusia (lihat Yohanes 1:14).

Ketika Yesus memanggil Simon dan memberinya nama baru, ‘Kefas,’ realitas baru pun muncul. Simon akan menjadi batu karang di mana Gereja Yesus bertumpu. Jelas sekali, Simon adalah orang yang impulsif, pemarah, dan bahkan pengecut. Namun, karena Yesus telah menamainya, nama itu adalah bagian dari rencana ilahi Yesus. Yesus tahu bahwa Simon lemah; Yesus mengizinkan Simon goyah bahkan menyangkal-Nya, tetapi Yesus juga mengubah dan memberdayakannya. Nama yang telah ditanamkan Yesus pada pertemuan pertama mereka akhirnya menjadi kenyataan ketika Simon mempersembahkan nyawanya sebagai martir Kristus di kota Roma.

Kita percaya bahwa kita ada bukan karena kebetulan, sesuatu yang sama sekali tidak direncanakan, tetapi karena rencana ilahi. Kita ada di dunia bukan hanya karena proses biologis, tetapi karena Tuhan memberi kita nama, dari ketiadaan menjadi ada. Memang, Tuhan mengijinkan kita mengalami penderitaan dan bahkan kegagalan, namun ini juga merupakan bagian dari rencana-Nya untuk menjadikan kita kudus.

Kekudusan adalah ketika nama-nama yang Tuhan berikan kepada kita menjadi semakin nyata. Bagaimana caranya? Seperti Simon, kita melakukan yang terbaik untuk mengikuti kehendak-Nya dalam hidup kita, menjadi lebih sabar dalam penderitaan, dan menghindari apa pun yang menyimpang dari-Nya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Persiapan untuk Akhir Zaman

Hari Raya Yesus Kristus, Raja Semesta Alam
26 November 2023
Matius 25:31-46

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam mengingatkan kita bahwa akhir zaman itu nyata dan pasti akan datang. Ini adalah saat Yesus akan datang kembali sebagai Raja di atas segala raja dan hakim tertinggi bagi semua makhluk. Bagi orang benar, surga siap menyambut mereka, dan bagi orang jahat, neraka akan mengikat mereka selamanya. Namun, saat kita berbicara akhir zaman, banyak yang terobsesi dengan pertanyaan, “Kapan Dia akan datang?” Dengan peperangan dan konflik yang berkecamuk di berbagai penjuru dunia, dengan bencana alam yang dahsyat, dan dengan penyakit yang melanda seluruh bumi, banyak yang percaya bahwa akhir zaman sudah dekat. Namun, bertanya ‘kapan’ adalah pertanyaan yang salah.

Dalam Injil, Yesus tidak mengungkapkan kapan Dia akan datang. Kapan Dia datang, tidaklah penting bagi Yesus; sebaliknya, ‘bagaimana menghadapi kedatangan-Nya yang kedua’ adalah hal yang sangat penting. Mengapa? Sebab tidak ada gunanya jika kita mengetahui waktu kedatangan-Nya yang kedua kali, tetapi kita tidak mengetahui bagaimana cara menghadapi penghakiman itu. Dan, terkadang, ketika kita mengetahui waktunya, alih-alih melakukan persiapan yang panjang dan konsisten, kita malah menunda-nunda dan berharap bahwa usaha kita di menit-menit terakhir akan cukup. Oleh karena itu, Yesus dan para penulis Perjanjian Baru lainnya secara konsisten mengatakan kepada kita bahwa waktunya akan tiba seperti pencuri di malam hari. Dan jika pertanyaan tentang waktu penghakiman terakhir masih mengganggu kita, kita harus mengingat perkataan Yesus, “Karena itu janganlah kamu khawatir akan hari esok, karena hari esok akan membawa kekhawatirannya sendiri. Kesusahan hari ini cukuplah untuk hari ini (Mat. 6:34).”

Jadi, bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kedatangan-Nya yang kedua? Santo Yohanes dari Salib meringkasnya dengan baik, “Pada akhir hidup kita, kita akan dihakimi oleh kasih.” Dari terang Injil, Gereja mengakui bahwa ‘kasih’ ini diwujudkan dalam karya belas kasih, terutama kepada saudara-saudari kita yang kurang beruntung. Yesus menyebutkan setidaknya enam tindakan: memberi makan orang yang lapar, memberi minum orang yang haus, memberi tempat tinggal kepada para tunawisma, memberi pakaian kepada orang yang telanjang, merawat orang yang sakit, dan mengunjungi mereka yang dipenjara. Gereja menambahkan tindakan ketujuh, yaitu menguburkan orang yang meninggal. Hal ini terinspirasi dari Yusuf Arimatea, yang mengurus penguburan Yesus dan bahkan memberikan makam baru bagi Yesus.

Gereja tidak hanya membatasi kata ‘miskin’ pada miskin secara jasmani, ekonomi, dan sosial, tetapi juga mencakup pada miskin secara rohani. Oleh karena itu, Gereja juga mengajarkan tujuh karya kerahiman rohani: menasihati orang yang ragu-ragu, mengajar orang yang tidak tahu, menegur orang berdosa, menghibur orang yang bersedih hati, menanggung kesalahan dengan sabar, memaafkan kesalahan dengan sukarela, dan mendoakan orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal.

Yang menarik, kita tidak harus meninggalkan rumah kita untuk melakukan pekerjaan belas kasih ini. Suami dan istri dapat dengan sabar menanggung kelemahan satu sama lain dan belajar untuk saling mengampuni. Orang tua dapat memberi makan bergizi kepada anak-anak mereka, membelikan mereka pakaian untuk perlindungan, dan menyediakan tempat tinggal yang baik. Orang tua juga dapat memberikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anak mereka, mengoreksi mereka ketika mereka melakukan kesalahan, dan menghibur mereka di saat-saat kegagalan. Sementara, anak-anak dapat mendoakan orang tua mereka, terutama yang telah meninggal dunia.

Inilah Kabar Baik bagi kita. Kristus Raja kita telah memilih kasih sebagai jalan kekudusan dan menjadikan keluarga kita sebagai langkah pertama menuju surga.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Preparation for the End Time

The Solemnity of Our Lord Jesus Christ, King of the Universe

November 26, 2023

Matthew 25:31-46

The solemnity of the Christ of the King of the Universe reminds us that the end time is real and will surely come to all of us. This is the moment when Jesus will come again as the King of kings and the supreme judge of all. For the righteous, heaven is ready to welcome them, and for the evildoers, hell is binding them forever. Then, many of us are obsessed with the question, “When is He coming?” With wars and conflicts raging around the globe, with deadly natural calamities, and with sickness that scourges the entire earth, many believe the end is near. Yet, to ask when is to ask the wrong question.

In the Gospel, Jesus did not reveal when He would come. The time is not important for Jesus; rather, ‘how to face the second coming’ is critical for Jesus. Why? It is useless if we recognize the time of the second coming, yet we must learn how to face the judgment. And, sometimes, when we recognize the time, instead of making a long and consistent preparation, we procrastinate and hope that our last-minute and instant effort will suffice. Therefore, Jesus and other writers of the New Testament consistently tell us that the time will come like a thief in the night. And if the question of the time of the final judgment still bothers us, we shall recall Jesus’ words, “So do not worry about tomorrow, for tomorrow will bring worries of its own. Today’s trouble is enough for today (Mt 6:34).”

So, How do we prepare for the second coming? St. John of the Cross sums it up nicely: “At the evening of our lives, we will be judged by love alone.” From the light of the Gospel, the Church recognizes this ‘love’ manifests itself in the works of mercy, especially to our unfortunate brothers and sisters. Jesus listed at least six acts: to feed the hungry, to give drink to the thirsty, to shelter the homeless, to clothe the naked, to take care of the sick, and to visit those who are imprisoned. The Church adds the seventh act, that is, to bury the dead. This takes inspiration from Joseph Arimathea, who took care of Jesus’s burial and even offered his family’s new tomb.

The Church does not only limit the word ‘poor’ to the bodily, economic, and social poor but also extends to the spiritually poor. Thus, the Church also teaches seven spiritual works of mercy: to counsel the doubtful, to instruct the ignorant, to admonish the sinner, to comfort the sorrowful, to bear wrongs patiently, to forgive offenses willingly, and to pray for the living and the dead.

Interestingly, we don’t have to leave our homes to do the works of mercy. Husband and wife can patiently bear each other’s weaknesses and learn to forgive one another. Parents can feed their hungry children, buy them clothes for protection, and provide a good living place. Parents can also provide their children with a quality education, correct them when they commit mistakes, and console them in their moments of failure. Children can pray for their parents, especially those who have passed away.

This is our Good News. Christ our King has chosen charity as the path of holiness and made our families the first step to heaven.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Real Talent

33rd Sunday in Ordinary Time [A]

November 19, 2023

Matthew 25:14-30

Talent is one of the few biblical words that has become part of our modern languages. Talent connotes a God-given ability or a natural, unique skill, and it needs to be fully developed. Harnessing our talents may contribute to the progress of society. In fact, talents have become a well-sought commodity in our society. Companies only hire talented employees. Schools are marketed as venues of talent development. TV shows like ‘American Got Talent’ or other similar programs flood our contemporary culture and shape our understanding of talents. To be successful means to have fully developed talents!

Unfortunately, this modern understanding of talent has also reshaped our behaviors as Church members. As Christians, we are expected to use our talents to serve. We may participate in various roles in the liturgy, like as choir members, lectors, or altar servers. Not only in the liturgy, we can also use our talents to serve in various communities and organizations. In fact, this limited sense of talent also affects how we see priests and other religious figures. Talented priests are either charismatic preachers or capable leaders in the parishes. Then, what will happen to many of us who do not have these ‘talents’ fit to serve in the Church? Are we not successful in the Church if we do not have talents?

To answer this, we must go back to the biblical understanding of talent. The Greek word ‘τάλαντον’ (read: talanton) is a Greek monetary unit (also a unit of weight) with an extremely high value. In the time of Jesus, a silver talent was worth approximately six thousand denarii. If a denarius is equal to a daily wage, then a talent means six thousand daily wages. How do we understand the talent in the Gospel, then? We are sure that talent is something precious, and when used correctly, it can grow and even multiply. Yet, Jesus also linked talents with our eternal salvation or damnation. Thus, talent must not only be something related to natural abilities that are useful for our lives on earth but rather something spiritual that is beneficial for our souls and salvation.

No wonder, if we read Fathers of the Church and other spiritual authors, we will see a different understanding of talent. St. Thomas Aquinas, in his commentary of St. Matthew, saw talent as the gift of graces. While it is true that Christians have different capacities to receive spiritual gifts, each of us has the most basic gift of faith, hope and charity. Furthermore, we are expected to grow in these spiritual gifts and to recognize them if we wish to please our Lord and the giver of these talents.

 While St. Jerome recognized it as the Gospel. Different persons receive different intensities of the Gospel message depending on our capacity, but everyone must live and share the Gospel. Some of us who have received five talents of the Gospel are tasked to proclaim it loud and clear to many people. Some of us who receive one talent of the Gospel are called to share it with the closest persons in our lives, like our families and close friends.

Indeed, this is Good News. We thank the Lord for the natural talents we have, but far more critical is how we receive and share our spiritual talents for the salvation of souls.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Talenta yang Sesungguhnya

Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [A]
19 November 2023
Matius 25:14-30

Talenta adalah salah satu kata dalam Alkitab yang telah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari kita. Talenta memiliki konotasi sebagai kemampuan yang diberikan Tuhan atau keterampilan alamiah yang unik, dan perlu dikembangkan sepenuhnya. Dengan memanfaatkan talenta, kita dapat berkontribusi pada kemajuan masyarakat. Faktanya, talenta telah menjadi komoditas yang sangat dicari dalam dunia sekarang ini. Perusahaan-perusahaan hanya mempekerjakan karyawan yang bertalenta. Sekolah-sekolah dipasarkan sebagai tempat pengembangan talenta. Acara TV seperti ‘Indonesia Got Talent’ atau program serupa lainnya membanjiri budaya kontemporer kita dan membentuk pemahaman kita tentang talenta: Menjadi sukses berarti memiliki talenta!

Sayangnya, pemahaman modern tentang talenta ini juga telah mengubah perilaku kita sebagai anggota Gereja. Sebagai umat Kristiani, kita diharapkan untuk menggunakan talenta kita untuk melayani. Kita dapat berpartisipasi dalam berbagai peran dalam liturgi, seperti sebagai anggota paduan suara, lektor, atau misdinar. Tidak hanya dalam liturgi, kita juga dapat menggunakan talenta kita untuk melayani di berbagai komunitas dan organisasi. Faktanya, pengertian talenta yang terbatas ini juga mempengaruhi bagaimana kita melihat para imam dan tokoh-tokoh rohaniawan lainnya. Para imam yang bertalenta adalah pengkhotbah yang karismatik atau pemimpin yang cakap di paroki-paroki. Lalu, apa yang akan terjadi pada kita yang tidak memiliki ‘talenta’ yang cocok untuk melayani di Gereja? Apakah kita tidak akan berhasil dalam hidup menggereja?

Untuk menjawab ini, kita harus kembali kepada pemahaman alkitabiah tentang talenta. Kata Yunani ‘τάλαντον’ (baca: talanton) adalah unit moneter Yunani (juga unit berat) dengan nilai yang sangat tinggi. Pada zaman Yesus, satu talenta perak bernilai sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar sama dengan upah harian, maka satu talenta berarti sama enam ribu hari kerja. Lalu, bagaimana kita memahami talenta dalam Injil? Kita yakin bahwa talenta adalah sesuatu yang berharga, dan jika digunakan dengan benar, talenta dapat bertumbuh dan bahkan berlipat ganda. Namun, Yesus juga mengaitkan talenta dengan keselamatan dan hukuman kekal kita. Dengan demikian, talenta seharusnya bukan hanya sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan alamiah yang berguna bagi kehidupan kita di dunia, tetapi juga sesuatu yang bersifat rohani dan bermanfaat bagi jiwa dan keselamatan kita.

Tidak heran, jika kita membaca para Bapa Gereja dan penulis rohani lainnya, kita akan melihat pemahaman yang berbeda tentang talenta. Santo Thomas Aquinas, dalam tafsirnya terhadap Injil Matius, melihat talenta sebagai karunia rahmat. Meskipun benar bahwa orang Kristen memiliki kapasitas yang berbeda untuk menerima karunia-karunia rohani, masing-masing dari kita memiliki rahmat yang paling mendasar yaitu iman, pengharapan, dan kasih. Lebih jauh lagi, kita diharapkan untuk bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih jika kita ingin menyenangkan hati Tuhan, sang pemberi talenta rohani ini.

Sementara St. Heronimus, pujangga Gereja dari abad ke-4, mengenali talenta sebagai Injil. Setiap orang menerima intensitas yang berbeda dari pesan Injil, tergantung pada kapasitas kita masing-masing, tetapi setiap orang harus hidup dan membagikan Injil. Beberapa dari kita yang telah menerima lima talenta Injil ditugaskan untuk memberitakan Injil dengan lantang dan jelas kepada banyak orang. Beberapa dari kita yang menerima satu talenta Injil dipanggil untuk membagikannya kepada orang-orang terdekat dalam hidup kita, seperti keluarga dan teman-teman dekat.

Sungguh, ini adalah Kabar Baik. Kita bersyukur kepada Tuhan atas talenta-talenta alamiah yang kita miliki, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menerima dan membagikan talenta-talenta rohani kita untuk keselamatan jiwa-jiwa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP