Yoke

14th Sunday in the Ordinary Week. July 9, 2017 [Matthew 11:25-30]

 “Take my yoke upon you and learn from me, for I am meek and humble of heart; and you will find rest for your selves.  (Mat 11:29)”

yoke 1Yoke is a device, usually of wood, placed on the shoulder of animals or persons to carry a burden. In agricultural settings, a yoke is used to pull a plow to make a furrow on the ground so that the soil will be ready for the seed planting. But, a yoke can be used also to drag a cart and transport various goods. Because its primary function is to carry a load or burden, a yoke turns to be a symbol of responsibility, hard work, and obligation. In our seminary in Manila, a leader among the brothers is called a decano. In the beginning of the formation year, we elect our decano, and as he assumes his responsibility, he ceremonially receives a wooden yoke from the outgoing decano. The yoke reminds him of responsibility and great task that he has to endure through the year.

In the Bible, a yoke often symbolizes a means of oppression and slavery. The yoke reminds the Israelites how they lived as slaves in Egypt. The yokes were placed upon their shoulders and they have to carry heavy materials, and to work for the construction of Egyptian colossal buildings. At the time of Jesus, the yoke has slightly evolved to symbolize tedious religious obligation. When Jesus criticized some of the Pharisees and Jewish religious leaders for putting so much emphasis on the details of the Law and rituals, and forgetting what truly the essentials, Jesus called this practice as the yoke of the Pharisees.

However, in today’s Gospel we learn that Jesus asks us to carry His yoke. Wait! Does it mean like the Pharisees, Jesus also wants us to carry a yoke of burden? Jesus clarifies further that His yoke is easy and my burden is light. So, Jesus’ yoke is just less burdensome compare to that of the Pharisess, yet it is still a yoke, a load. How then we can be truly restful if it is just a matter of changing of yoke?

To understand Jesus’ yoke, we need to know that in ancient Israel, like in our time, there are different kinds of yokes. There is a yoke for a single animal, but there is also a yoke that unites two animals together in pulling the burden. When Jesus speaks about His yoke, He is referring to this yoke for two animals or persons. When we carry the yoke of Jesus, it does not mean that Jesus simply gives us the yoke for us alone to shoulder, but we carry it together with Jesus. It is not a transferring of responsibility, but sharing of the burden. And when we feel tired and exhausted because of the heavy burden, we can rest a while since Jesus is the one who now carries the burden for us. In fact, as a carpenter, He knows best how to make a yoke more convenient to carry. That is the yoke of Jesus.

We are carrying the yoke of life with Jesus. And indeed it is a great consolation for us. We are burdened by so many problems in life and often it is too heavy to bear. Yet, we are never alone. Jesus is bearing the yoke for us, the Church is working together with us, our family and friends are one with us. This gives us rest in trial time, yet when others’ life are heavy, like Jesus, we are also helping in carrying others’ yoke, because it is only one yoke, the yoke of Jesus.

Br. Valentinus Bayuhadi RUseno, Op

 

Kuk

Minggu ke-14. 9 Juli 2017 [Matius 11:25-30]

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Mat 11:29)”

yoke 2Kuk adalah sebuah alat, biasanya terbuat dari kayu, yang diletakkan di bahu hewan atau orang untuk membawa beban. Di lingkungan pertanian, kuk digunakan untuk menarik bajak untuk membuat alur di tanah sehingga tanah siap untuk penanaman benih. Tapi, kuk bisa digunakan juga untuk menarik gerobak dan mengangkut berbagai barang. Karena fungsi utamanya adalah untuk membawa beban, kuk pun menjadi simbol tanggung jawab, kerja keras, dan kewajiban. Di seminari kami di Manila, pemimpin di antara para frater disebut sebagai “dekano”. Pada awal tahun formasi, kami memilih dekano, dan saat dia memulai mengembang tanggung jawabnya, dia secara seremonial menerima kuk kayu dari dekano yang lama. Kuk itu mengingatkannya akan tanggung jawab dan tugas besar yang harus dia tanggung sepanjang tahun dalam memimpin komunitas para frater.

Dalam Alkitab, kuk sering melambangkan penindasan dan perbudakan. Kuk itu mengingatkan bangsa Israel bagaimana mereka pernah hidup sebagai budak di Mesir. Kuk tersebut diletakkan di atas bahu mereka dan mereka harus membawa bahan-bahan bangunan yang berat, dan bekerja untuk mendirikan bangunan-bangunan besar Mesir. Sampai pada zaman Yesus, kuk sedikit berevolusi dan menjadi lambang dari kewajiban keagamaan yang terkadang sangat memberatkan orang-orang sederhana. Ketika Yesus mengkritik beberapa orang Farisi dan pemimpin agama Yahudi karena menaruh begitu banyak penekanan pada rincian Hukum dan ritual, dan melupakan apa yang hakiki, Yesus menyebut praktik ini sebagai kuk orang Farisi.

Namun, dalam Injil hari ini kita membawa bahwa Yesus meminta kita untuk memanggul kuk-Nya. Kita kemudian bertanya: Apakah itu berarti seperti orang-orang Farisi, Yesus juga menginginkan kita membawa kuk yang berat? Yesus menjelaskan lebih lanjut bahwa kuk-Nya mudah dan beban-Nya ringan. Jadi, kuk Yesus tidak seberat kuk versi Farisi, namun tetap saja sebuah kuk, dan sebuah beban. Lalu bagaimana kita bisa benar-benar mendapatkan istirahat jika kita harus tetap memanggul kuk?

Untuk memahami kuk Yesus, kita perlu mengetahui bahwa di Israel di zaman Yesus, ada berbagai jenis kuk. Ada kuk yang digunakan oleh seekor binatang saja, tapi ada juga kuk yang diangkut oleh dua binatang sekaligus dalam menarik beban. Ketika Yesus berbicara tentang kuk-Nya, Dia berbicara tentang kuk ganda yang dipergunakan oleh dua binatang atau manusia. Saat kita membawa kuk Yesus, ini tidak berarti bahwa Yesus hanya sekedar memindahkan kuk-Nya dari bahu-Nya ke bahu kita untuk dipikul, tapi Yesus ikut memanggul kuk kita. Ini bukanlah pemindahan tanggung jawab, tapi berbagi beban. Dan ketika kita merasa lelah dan letih karena beban berat, kita bisa beristirahat karena Yesus lah yang sekarang membawa beban bagi kita. Tentunya, sebagai seorang tukang kayu yang lihai, Yesus tahu persis bagaimana membuat kuk yang lebih nyaman untuk dipanggul dan memberikan istirahat kepada kita. Inilah kuk Yesus.

Kita membawa kuk hidupan dengan Yesus. Tentunya, ini merupakan penghiburan bagi kita. Kita terbebani oleh begitu banyak masalah dalam hidup dan seringkali terlalu berat untuk ditanggung. Namun, kita tidak pernah sendirian. Yesus menanggung kuk bersama kita. Yesus juga mengutus Gereja-Nya untuk memanggul bersama kuk kehidupan dengan kita. Dan tentunya, keluarga dan sahabat-sahabat kita bersatu dengan kita dalam memanggul kehidupan. Ini memberi kita istirahat pada masa pencobaan. Namun, ketika kehidupan sesama kita menjadi berat, seperti Yesus, kita juga dipanggil untuk mengangkat kuk sesama kita, karena ini adalah hanya satu kuk, kuk Yesus sendiri.

Frater Valentinus Bayuhadi RUseno, Op

, or

 

Bigger Family

13th Sunday in Ordinary Time. July 2, 2017 [Matthew 10:37-42]

 “Whoever loves father or mother more than me is not worthy of me, and whoever loves son or daughter more than me is not worthy of me (Mat 10:37).”

hungerWhen God calls us, God does not only call us privately and individually. In the Bible, God also calls us with our family, our community. God created the first man and woman not only to complete each other, but also to “multiply” or to build a human family. Noah entered the ark together with his wife and children. They were saved as a family from the flood. Abraham and Sarah were called from the land of Ur, and establish their own family and clan in the land of Canaan. When God called Moses to deliver the Israelites from slavery, God also called Aaron and Miriam, Moses’ brother and sister, to assist him in his mission. Finally, the life of Jesus of Nazareth would not be complete without the family of Mary and Joseph of Nazareth.

Surely, it is a good news for family-oriented persons. For many cultures, like Filipino and Indonesian, family is at the center of our value system. When I ask some of my Filipino friends, “If your house is burning, what are the first things you will rescue?” Their answer is not money, important documents or jewelries, but family pictures! In 1977, the Tanzanian President Julius Nyerere, one of the most prominent African figures during that time, visited US and talked before the African students who studied there. Before them, he criticized those Africans who received much support from their families and clan, yet refused to go back after their studies. It was an act of cowardice and betrayal to Africa.

However, if we read today’s Gospel, Jesus made a tough demand for His disciples. In preaching the Kingdom, they had to love Jesus more than they love their family. In ancient Israel, like many Mediterranean societies, respect and honor of the parents was a sacred duty of every child. It was in fact enshrined in the Decalogue as the fourth commandment.  To the point that if a child failed to honor their parents and brought nothing but headache, he would be punished severely by the community (see Dt 21:20-21). As a Jew, He knew this too well, yet He insisted that His disciples had to be committed first to Him and His Gospel before their families. Does Jesus want to cut us from our families? Is Christ-centeredness opposed to family centeredness? Does following Jesus mean leaving our family behind?

God indeed calls us with our family and as a family, but He does not call us only for our family. As old proverb goes, “Charity begins at home, but it does not end there.” We surely love our families, but as Christians we are called to serve a bigger family of humanity and even our mother Earth. It is impossible to serve others, if our allegiance is for ourselves and a small family. Many corruptions take place because we want to enrich our families and clans at the expense of other people. To serve the bigger family of humanity, we are called to first love God who is the merciful and just Father to all, who pour rains and gives sunshine both to the good and not so good. Jesus does not want to destroy families because surely He loves Mary and Joseph, yet He loves His Father most, and this love empowers Him to give His life for all whom His Father loves.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Keluarga yang lebih besar

Minggu Biasa ke-13. 2 Juli 2017 [Matius 10: 37-42]

“Siapa pun yang mencintai ayah atau ibu lebih dari pada saya tidak layak untuk saya, dan siapa pun yang mencintai anak laki-laki atau perempuan lebih dari saya tidak layak untuk saya (Mat 10:37).”

beautiful feetKetika Tuhan memanggil kita, Tuhan tidak hanya memanggil kita secara individual. Dalam Alkitab, Tuhan juga memanggil kita dengan keluarga kita dan komunitas kita. Tuhan menciptakan pria dan wanita pertama yang tidak hanya untuk saling melengkapi, tapi juga “berkembang biak” atau membangun keluarga manusia. Nuh masuk ke dalam bahtera bersama istri dan anak-anaknya. Mereka diselamatkan sebagai keluarga dari banjir besar. Abraham dan Sarah dipanggil dari tanah Ur untuk membangun keluarga dan klan mereka sendiri di tanah Kanaan. Ketika Tuhan memanggil Musa untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan, Tuhan juga memanggil Harun dan Miriam, saudara laki-laki dan perempuan Musa, untuk membantu dia dalam misinya. Akhirnya, kehidupan Yesus dari Nazaret tidak akan lengkap tanpa keluarga Maria dan Yusuf dari Nazaret.

Tentunya, ini adalah kabar baik bagi orang-orang yang berorientasi keluarga. Bagi banyak budaya, seperti Filipina dan Indonesia, keluarga merupakan pusat sistem nilai kita. Ketika saya bertanya kepada beberapa teman Filipina, “Jika rumah kamu terbakar, benda apa yang akan kamu selamatkan terlebih dahulu?” Jawaban mereka bukanlah uang, dokumen penting atau perhiasan, tapi foto keluarga! Pada tahun 1977, Presiden Tanzania Julius Nyerere, salah satu tokoh paling terkemuka Afrika selama masa itu, mengunjungi AS dan berbicara di hadapan para pelajar Afrika. Dengan tegas, dia mengkritik orang-orang Afrika yang mendapat banyak dukungan dari keluarga dan komunitas mereka, namun menolak untuk kembali setelah pendidikan mereka. Itu adalah tindakan pengecut dan pengkhianatan terhadap Afrika.

Namun, jika kita membaca Injil hari ini, Yesus mengajukan tuntutan yang berat bagi murid-murid-Nya. Dalam pewartaan Kerajaan Allah, mereka harus lebih mengasihi Yesus daripada mengasihi keluarga mereka. Di Israel zaman itu, seperti banyak masyarakat Mediterania, penghormatan terhadap orang tua adalah tugas suci bagi setiap anak. Ini adalah perintah keempat dari sepuluh perintah Allah. Bahkan jika seorang anak gagal menghormati orang tua mereka dan terus membuat orang tua sakit kepala, dia akan dihukum berat oleh masyarakat (lih. Deu 21: 20-21). Sebagai orang Yahudi, Yesus mengetahui hal ini dengan sangat baik, namun Dia tetap pada pendirian-Nya agar murid-murid-Nya harus terlebih dahulu berkomitmen kepada Dia dan Injil-Nya melebihi keluarga mereka. Apakah Yesus ingin memutus kita dari keluarga kita? Apakah mengikuti Yesus berarti meninggalkan keluarga kita? Apakah kasih terhadap Kristus bertentangan dengan kasih bagi keluarga?

Tuhan sungguh memanggil kita dengan keluarga kita dan sebagai sebuah keluarga, tapi Dia tidak memanggil kita hanya untuk keluarga kita. Rm. Enrico Gonzales, OP guru saya di Manila selalu berkata, “Kasih dimulai di rumah, tapi tidak berakhir di sana.” Kita pasti mengasihi keluarga kita, tapi sebagai orang Kristiani kita dipanggil untuk melayani keluarga manusia yang lebih besar dan juga bumi kita ini. Tidak mungkin melayani orang lain, jika kesetiaan kita adalah untuk diri kita sendiri dan keluarga kecil kita. Banyak korupsi dan kejahatan terjadi karena kita ingin memperkaya diri sendiri dan keluarga kita dengan mengorbankan orang lain. Untuk melayani keluarga manusia yang lebih besar, kita dipanggil untuk pertama-tama mengasihi Tuhan yang adalah Bapa bagi semua, yang memberi hidup, menurunkan hujan dan memberikan sinar matahari kepada yang baik dan tidak begitu baik. Yesus tidak ingin menghancurkan keluarga karena pastilah Dia mengasihi Maria dan Yusuf, namun Dia mengasihi Bapa-Nya lebih dari siapapun, dan kasih ini memberdayakan Dia untuk memberikan nyawa-Nya untuk kita semua yang Bapa-Nya kasihi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Life of a Preacher

Twelve Sunday in Ordinary Time. June 25, 2017 [Mathew 10:26-33]

“What I say to you in the darkness, speak in the light; what you hear whispered, proclaim on the housetops (Mat 10:27).”

sent to preachSt. Francis of Assisi once said, “Preach the Gospel all time. When necessary, use words.” He correctly points out that preaching is not only the job of the priests in the pulpit, or lay preachers in the prayer meetings. Preaching the Gospel is the mission of all of us.  The preaching can happen in the family, as we show our children the meaning of true love, fidelity and respect. Preaching can take place in our workplaces as we uphold honesty, hard work, and dedication. Preaching may manifest in our daily life as we do justice, service to the needy, and kindness to our neighbors.

However, to preach Jesus Christ is not always smooth sailing. I myself have been in the ministry of preaching for some years, and at times, I have to face tough moments. When, I preach with a content and style that are outside of the box, some good and honest people come and rightly question the orthodoxy of my preaching. Yet, when I preach with predicted insight and usual delivery, young people will come and tell me it is boring. There are times that nobody’s listening to my preaching or reading my reflection. Sometimes, I feel tired, frustrated and bored. The same feelings may also befell us as we do our preaching in the family, workplace, the parish, or the society. It is frustrating when we are honest, but the rest are not. It is tiring when we know that we are the only one working hard. It is hurting to be backstabbed after all our service to others.

Yet, our life as a preacher is a lot better and safer than my brothers and sisters in other places. Our Dominican sisters of St. Catharine of Siena in Iraq chose to stay despite the ongoing war and turmoil that hit the country, and serve the refugees without any discrimination. In 2003, when US-led coalition invaded Iraq, they kept running the hospital in Baghdad amidst heavy fighting and looting in the capital. In 2014, when IS took the city of Mosul, the sisters were walking together with the refugees, and at forefront in helping and managing several refuge centers. For some others to preach Christ means violence and death. Last May, Fr. Miguel Angel Machorro was in critical condition after he was stabbed in the neck just right after saying the mass in Mexico City’s Cathedral. Fr. Teresito Suganob who was working among the Muslims in Marawi City, Philippines, was abducted when the group of extremists occupied the city. Nobody knows yet what happened to him.

What makes them preach the Gospel despite constant dangers to their lives? I believe that it is because they love the Lord dearly. This love, as Roman poet Virgil wrote, conquers all. Their love drives out the fear of death, empowers them in trials, and encourages them in face of frustrations and failures. In the words of St. Paul, “What will separate us from the love of Christ? Will anguish, or distress, or persecution, or famine, or nakedness, or peril, or the sword… No, in all these things we conquer overwhelmingly through him who loved us (Rom 8:35-37).”  True preaching, then is fuelled by true love of God and not seeking after our own glory. Without this love, we will back out when our preaching seems to fail, or we will feel proud when our ministry meets success. Do we have this love for Jesus? Are our preaching motivated by this love? Are we allowed to be overwhelmed by God’s love for us?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hidup Seorang Pewarta

Minggu Biasa ke-12. 25 Juni 2017 [Matius 10: 26-33]

“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang (Mat 10:27).”

soldier pray rosarySanto Fransiskus dari Asisi pernah berkata, “Wartakanlah Injil sepanjang waktu. Bila perlu, gunakan kata-kata. Dia menunjukkan bahwa pewartaan bukan hanya tugas para imam di mimbar, atau pengkhotbah awam dalam pertemuan doa. Pewartaan Injil adalah misi kita semua. Pewartaan bisa terjadi dalam keluarga saat kita menunjukkan kepada anak-anak kita arti kasih sejati, kesetiaan dan hormat. Pewartaan dapat berlangsung di tempat kerja saat kita menjunjung tinggi kejujuran, kerja keras, dan dedikasi. Pewartaan dapat terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari saat kita berlaku adil, melayani saudara dan saudari kita yang kekurangan, dan berbuat kebaikan kepada sesama.

Namun, untuk mewartakan Yesus Kristus tidak selalu mudah. Saya sendiri telah terlibat dalam kerasulan Sabda selama beberapa tahun, dan terkadang, saya harus menghadapi saat-saat sulit. Ada yang mengatakan pewartaan saya membosankan, dan juga ada yang bilang terlalu bertele-tele atau susah dimengerti. Ada kalanya orang tidak mendengarkan atau membaca renungan saya. Terkadang, saya merasa lelah, frustrasi dan bosan. Perasaan yang sama juga bisa menimpa kita yang mengalami masalah dalam keluarga, tempat kerja, paroki, atau masyarakat. Sebuah frustrasi saat kita berusaha jujur, tapi yang lain tidak. Sangat melelahkan saat kita tahu bahwa kita satu-satunya yang bekerja keras. Sangat menyakitkan saat kita diserang dari belakang setelah semua pelayanan kita kepada sesama.

Namun, hidup kita sebagai pewarta sebenarnya jauh lebih baik dan lebih aman daripada saudara-saudari kita di tempat lain. Suster-suster St. Catharine of Siena di Irak memilih untuk tinggal meskipun perang dan kekacauan yang terus bekecamuk di negeri itu, dan melayani para pengungsi tanpa diskriminasi. Pada tahun 2003, ketika koalisi pimpinan AS menginvasi Irak, para suster terus membuka rumah sakit di tengah pertempuran sengit dan penjarahan di Baghdad. Pada tahun 2014, ketika IS menguasai kota Mosul, para suster tersebut berjalan bersama dengan para pengungsi, dan terdepan dalam membantu dan mengelola beberapa pusat pengungsian. Bagi beberapa pewarta lain, untuk memberitakan Kristus berarti kekerasan dan kematian. Bulan Mei lalu, Pastor Miguel Angel Machorro berada dalam kondisi kritis setelah ditikam di leher beberapa saat setelah misa di Katedral Kota Meksiko. Pastor Teresito Suganob dan beberapa umatnya yang bekerja di antara umat Islam di Kota Marawi, Filipina, diculik ketika kelompok ekstrimis menduduki kota tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada mereka sampai saat ini.

Apa yang membuat mereka berani memberitakan Injil meski terus-menerus menghadapi bahaya dalam hidup mereka? Alasannya cukup sederhana. Ini karena mereka sangat mengasihi Tuhan. Seperti yang ditulis oleh penyair Romawi Virgil, kasih ini menaklukkan semua. Kasih mereka melenyapkan rasa takut akan kematian, memberdayakan mereka dalam cobaan, dan mendorong mereka menghadapi frustrasi dan kegagalan. St. Paulus pun berkata, Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang… Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. (Rm 8:35-37).” Pewartaan yang benar adalah yang didorong oleh cinta kasih sejati bagi Tuhan dan bukan sekedar mencari kemuliaan bagi diri kita sendiri. Tanpa kasih ini, kita akan mundur saat pewartaan kita nampaknya gagal, atau kita akan menjadi sombong saat pelayanan sukses. Apakah kita memiliki kasih sejati ini bagi Yesus? Apakah pewartaan kita dimotivasi oleh kasih yang sejati? Apakah kita membiarkan kasih Tuhan memenuhi pelayanan kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Eucharist and Justice

The Solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ. June 18, 2017 [John 6:51-58]

“Whoever eats my flesh and drinks my blood has eternal life, and I will raise him on the last day. (Joh 6:51)”

Sharing Bread 2Eating is essential to our life. Nobody would deny that eating is a matter of life and death, but there is always significant different between a beggar sitting by the gate of St. Domingo church and most of us who can enjoy a full meal three times a day. The beggar will ask himself, “How can I eat today?” While, we will inquire ourselves, “Where am I going to eat today? Is the ambience of the restaurant welcoming? Is the food as tasty as Filipino delicacy? Is the food safe from any cancer-causing substance?” For some, eating is about survival, but for some other, this phenomenon has evolved into something mechanically sophisticated. The society provides us with almost unlimited options of what we are going to eat, and seemingly we are masters of these foods as we possess the authority to choose what we like and shun what we don’t. But, we actually are slowly turning to be slaves of our appetite as we shift our focus not on the essential but on the trivial, like how we satisfy our fickle cravings.

 What we eat, how we eat, and where we eat reflect who we are, as well as our society, our world. While we can afford to eat at fine-dining restaurants, yet some of our brothers and sisters can only have one instant noodle for the whole day, it means there is something wrong with us, with our world. Once I watched a movie about two young ladies eating fried chicken in one of the fast food restaurants. They were not able to consume everything and threw the leftover at the garbage can. After some time, a poor man came and took that leftover. He brought that home and served it as the dinner for his small impoverished family. Yet, before they ate, they prayed and gave thanks for the food!

 Jesus offered Himself as food in the Eucharist, and this offer becomes the sign of the radical justice and mercy of God. It is mercy because despite nobody of us deserve His most holy body and blood, and attain the fullness of life and the resurrection of the body, He continues to give this profound grace to us. It is justice because He does not discriminate. All of us, whether we are men or women, whether rich or poor, whether healthy or sick, are created in His image and likeness and thus, invited to this sacred banquet. Yes, in the Eucharist, we only receive Jesus in a tiny and tasteless host, yet the small bread that scarcely fills our biological needs, is given to all who are coming to Him seeking rest and joy.

St. Paul in his first letter to the Corinthians rebuked the Christians there. One of the major reasons was that some (presumably rich) Christians refused to share the Eucharistic meal with other (presumably poor) Christians, and they let them without food. “When you meet in one place, then, it is not to eat the Lord’s supper, for in eating, each one goes ahead with his own supper, and one goes hungry while another gets drunk. (1 Cor 11:20-21). For Paul, this was a gross injustice and an offence against the Eucharist, because as Jesus gave His body and blood for all, so Eucharist has to symbolize this God’s radical self-giving.

Are we like the Corinthians who take the Eucharist yet neglect our hungry brothers and sisters around us? Are we living our identity as God’s image, and thus, reflect God’s radical justice? Do we become more like Christ, and manifest His boundless mercy? Do the body and blood of Christ in the Eucharist have effect in us?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ekaristi dan Keadilan

Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. 18 Juni 2017 [Yohanes 6: 51-58]

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman (Yoh 6:54).”

Sharing BreadTidak ada yang menyangkal bahwa makan adalah masalah hidup dan mati, tapi selalu ada perbedaan yang signifikan antara seorang pengemis yang duduk di gerbang gereja dan kebanyakan dari kita yang dapat menikmati makanan lengkap tiga kali sehari. Pengemis itu akan bertanya pada dirinya sendiri, “Bagaimana saya bisa makan hari ini?” Sementara, kita akan bertanya kepada diri sendiri, “Ke mana saya akan makan hari ini? Apakah suasana restoran nyaman? Apakah makanannya lezat sesuai cita rasa Indonsia? Apakah makanannya aman dari zat penyebab kanker?” Bagi sebagian orang, makan adalah tentang kelangsungan hidup, namun untuk beberapa dari kita, fenomena ini telah berkembang menjadi sesuatu rumit. Pasar memberi kita pilihan yang hampir tak terbatas tentang apa yang akan kita makan, dan tampaknya kita adalah raja dari makanan ini karena kita memiliki kekuasaan untuk memilih apa yang kita sukai. Tapi, kita sebenarnya perlahan berubah menjadi budak nafsu makan kita saat kita mengalihkan fokus bukan pada hal yang esensial tapi pada hal-hal sepele seperti bagaimana kita memuaskan hasrat kita yang terus berubah-ubah.

 Apa yang kita makan, bagaimana kita makan, dan di mana kita makan mencerminkan siapa diri kita, masyarakat kita, dan dunia kita. Sementara kita bisa makan di restoran mahal, beberapa saudara-saudari kita hanya bisa memiliki satu mi instan untuk sepanjang hari. Ini artinya ada yang tidak beres dengan kita, dengan dunia kita. Suatu ketika saya menonton film pendek tentang dua wanita muda yang sedang makan ayam goreng di salah satu fast food. Mereka tidak mengkonsumsi semuanya dan membuang sisa makanan ke tong sampah. Setelah beberapa lama, seorang pria miskin datang dan mengambil sisa makanan itu. Dia membawanya pulang dan menyajikannya sebagai makan malam untuk keluarga kecilnya yang miskin. Namun, sebelum mereka makan, mereka berdoa dan mengucap syukur atas makanan tersebut!

 Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai makanan dalam Ekaristi, dan ini menjadi tanda keadilan dan kerahiman Allah. Ini adalah tanda kerahiman karena walaupun kita tidak layak mendapatkan tubuh dan darah-Nya yang kudus, Dia terus memberikan rahmat yang luar biasa ini kepada kita. Ini adalah tanda keadilan karena Dia tidak melakukan diskriminasi. Kita semua, apakah kita laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, sehat atau sakit, diciptakan menurut citra-Nya dan dengan demikian, kita semua diundang ke perjamuan suci-Nya ini. Ya, dalam Ekaristi, kita hanya menerima Yesus di hosti yang mungil dan tawar, namun roti kecil ini diberikan kepada semua orang yang datang kepada-Nya untuk menemukan kepenuhan hidup dan sukacita.

Santo Paulus dalam surat pertamanya kepada jemaat di Korintus menegur jemaat di sana. Salah satu alasan utamanya adalah bahwa beberapa jemat (terutama yang kaya) menolak untuk berbagi perjamuan Ekaristi dengan jemaat lain (yang lebih miskin), dan bahkan mereka membiarkan mereka tanpa makanan. “Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk (1 Kor 11: 20-21).” Bagi Paulus, ini adalah ketidakadilan dan pelanggaran berat terhadap Ekaristi, karena sama seperti Yesus memberikan tubuh dan darah-Nya untuk semua orang, maka Ekaristi harus melambangkan pemberian diri Allah yang radikal ini.

Apakah kita seperti jemaat Korintus yang ikut Ekaristi namun menelantarkan saudara-saudari kita yang lapar dan miskin di sekitar kita? Apakah kita menjalani identitas kita sebagai citra Allah, dan dengan demikian, mencerminkan keadilan radikal Allah? Apakah kita menjadi lebih seperti Kristus, dan mewujudkan kerahiman-Nya yang tak terbatas? Apakah tubuh dan darah Kristus dalam Ekaristi sungguh mengubah kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Revelation of Love

Solemnity of the Most Holy Trinity. June 11, 2017 [John 3:16-18]

 “For God so loved the world that he gave his only Son, so that everyone who believes in him might not perish but might have eternal life (Joh 3:16)”

holy trinityToday, we are celebrating the Mystery of the Most Holy Trinity. This Mystery is rightly called the mystery of all the mysteries because the Holy Trinity is at the core of our Christian faith. Yet, the fundamental truth we believe is not only extremely difficult to understand, but in fact, it goes beyond our natural reasoning.  How is it possible that we believe in three distinct Divine Persons, the Father, the Son and the Holy Spirit, and yet they remain One God? Many great minds have tried to explain, but at the face of such immense truth, the best explanations would seem like a drop of water in the infinite ocean. Yet, we believe it precisely because the mystery is not coming from the human mind, but is revealed to us by God Himself.

The clearest experience of the Trinity in the Scriptures will be coming from St. Matthew. Jesus said to the disciples, “Go, therefore, and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit (Mat 28:19).” We observe that we are baptized for salvation only in “one name”. Surely this one name refers to one God himself. Yet, within this one Holy Name, there are three persons: the Father, the Son and the Holy Spirit.

St. Paul, the apostle to the Gentiles, often uttered blessings in the name of Holy Trinity. In his second letter, he greeted and blessed the Corinthians, saying “The grace of the Lord Jesus Christ and the love of God and the fellowship of the Holy Spirit be with all of you (13:13).” The same practice was also followed by St. Peter. In his first letter, he greeted the fellow Christians, “in the foreknowledge of God the Father, through sanctification by the Spirit, for obedience and sprinkling with the blood of Jesus Christ: may grace and peace be yours in abundance (1:2). It is true that the term Trinity is not in the Bible because the word was coined to facilitate our understanding, but as we have read, the Holy Scriptures revealed the truth and reality of the Holy Trinity.

If then the Holy Trinity is indeed revealed by God Himself, what is the point of having faith in the Holy Trinity then?  The answer may be discovered in today’s Gospel. The identity of God is love (see 1 Jn 4:6). The Father loves the Son totally, and the Son loves the Father radically, and the love that unites the Father and the Son is the Holy Spirit. In love, there is the beautiful dynamic of the three loves. Love is one, yet it is three. Now, it makes sense why God so loved the world and sent His only Son for our salvation. All because God is love.

If God is love and He wants to share His love and life with us, we have to get ready to enter that love. And the best way to prepare ourselves is that we need to become love itself. We need to be more loving, forgiving and generous. In short, we have to be more and more like the Trinity. As St. John of the Cross said, “In the twilight of life, God will not judge us on our earthly possessions and human successes, but on how well we have loved.”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Pewahyuan Kasih

Hari Raya Tritunggal Mahakudus. 11 Juni 2017 [Yohanes 3: 16-18]

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16)”

Holy Trinity21Hari ini, kita merayakan Misteri Tritunggal Mahakudus. Misteri ini disebut sebagai misteri dari semua misteri karena Tritunggal Mahakudus merupakan inti dari iman Kristiani kita. Namun, kebenaran mendasar yang kita percaya ini tidak hanya sangat sulit untuk dipahami, namun pada kenyataannya, melampaui penalaran alamiah kita. Bagaimana mungkin kita mempercayai tiga Pribadi Ilahi yang berbeda, Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun tetap satu Tuhan? Banyak pemikir besar seperti St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas telah mencoba menjelaskan, namun saat berhadapan dengan kebenaran yang begitu besar, penjelasan terbaik pun sepertinya setetes air di samudera raya. Namun, kita percaya justru karena misteri itu tidak berasal dari manusia, namun diwahyukan kepada kita oleh Tuhan sendiri.

Pernyataan yang paling jelas tentang Trinitas dalam Kitab Suci datang dari St. Matius. Yesus berkata kepada murid-murid, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19).” Kita mengamati bahwa kita dibaptis untuk keselamatan hanya dalam “satu Nama”. Tentunya satu nama ini mengacu pada satu Tuhan Allah. Namun, di dalam satu Tuhan, ada tiga pribadi: Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Santo Paulus, rasul bagi bangsa-bangsa, sering mengucapkan berkat dalam nama Tritunggal Mahakudus. Dalam suratnya yang kedua, dia memberkati jemaat di Korintus, dengan mengatakan “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian (13:14).” Praktik yang sama juga Diikuti oleh Santo Petrus. Dalam surat pertamanya, dia menyapa sesama dan memberkati semua jemaat, …sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu (1:2).” Memang benar bahwa istilah Trinitas tidak ada dalam Alkitab karena kata ini dibentuk untuk memudahkan pemahaman kita, namun seperti yang telah kita baca, Kitab Suci mewahyukan kebenaran dan realitas Tritunggal Mahakudus.

Jika kemudian Tritunggal Mahakudus memang diwahyukan oleh Tuhan sendiri, apa gunanya memiliki iman kepada Tritunggal Mahakudus? Jawabannya bisa ditemukan pada Injil hari ini. Identitas Allah adalah kasih (lihat 1 Yoh 4: 6). Bapa mengasihi Putra sepenuhnya, dan Putra mengasihi Bapa secara radikal, dan kasih yang mempersatukan Bapa dan Putra adalah Roh Kudus. Dalam kasih, ada dinamika indah dari tiga kasih. Kasih itu satu, tapi tiga. Sekarang, masuk akal mengapa Tuhan sangat mengasihi dunia dan mengutus Putra Tunggal-Nya untuk keselamatan kita. Semua karena Tuhan itu kasih.

Jika Tuhan itu kasih dan Dia ingin berbagi kasih-Nya dan kehidupan-Nya dengan kita, kita harus bersiap untuk memasuki kasih tersebut. Dan cara terbaik untuk mempersiapkan diri kita adalah kita perlu menjadi kasih itu sendiri. Kita harus belajar untuk lebih mengasihi, memaafkan dan bermurah hati. Singkatnya, kita harus menjadi terus seperti Trinitas. Seperti yang dikatakan oleh St. Yohanes dari Salib, “Di akhir kehidupan kita, Allah tidak akan mengadili kita berdasarkan harta duniawi dan kesuksesan manusiawi kita, namun seberapa baik kita telah mengasihi.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP