Hari Raya Kristus Raja. 26 November 2017 [Matius 25: 31-45]
“Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku (Mat 25:45).”
Menjadi bagian dari generasi modern, kita hidup pada alam demokrasi dan tidak mengerti secara penuh apa artinya menjadi hamba seorang raja yang berkuasa mutlak. Raja dan ratu masa kini, seperti Kaisar Jepang dan Ratu Inggris, adalah raja dan ratu konstitusional. Kekuasaan mereka tidak lagi mutlak, tapi berdasarkan dan diatur oleh Konstitusi negara. Beberapa negara bahkan memilih untuk menghapus sistem pemerintahan monarki secara total, dan sang raja hanya menjadi simbol budaya masa lalu. Mungkin, salah satu gambaran terbaik dari seorang raja yang berkuasa secara mutlak bisa kita lihat pada acara televisi Game of Thrones. Dalam acara ini, dia yang duduk di Tahta Besi adalah raja yang memiliki kekuatan hampir absolut. Ribuan tentara mematuhinya dan semua penduduk memberi hormat. Dia adalah hukum itu sendiri, dan dia bisa melakukan apa saja yang dia mau. Tak heran jika kisah Game of Thrones berputar pada Tahta Besi, dan bagaimana para karakter saling berlomba untuk mengklaim takhta tersebut.
Injil hari ini memberi gambaran tentang kedatangan Anak Manusia pada akhir zaman. Yesus akan duduk di atas takhtanya dan memberikan penghakiman-Nya atas segala bangsa. Mendengarkan bagian Injil ini, kita bisa membayangkan bahwa Yesus seperti seorang raja di atas Tahta Besi dengan mahkota emasnya, dikelilingi oleh malaikat yang perkasa. Namun, membaca Injil lebih lanjut, gambaran dahsyat ini segera diimbangi oleh gambaran lain. Yesus memperkenalkan dirinya sebagai seseorang yang dipenjara, seorang pria tuna wisma yang lapar, haus dan telanjang. Dia berubah dari seorang manusia yang berkuasa penuh menjadi manusia yang miskin dan tak berdaya.
Dalam sejarah dunia, kita mungkin mengenal beberapa raja yang jatuh ke dari kekuasaan mereka. Raja Louis XVI dari Prancis adalah raja dengan kekuasaan absolut yang akhirnya dieksekusi dengan guillotine. Pu Yi, kaisar terakhir Tiongkok, dilayani oleh banyak hamba bahkan untuk menyikat giginya, tapi akhirnya dia kehilangan segalanya dan menjadi tukang sapu jalanan di Beijing. Namun, Yesus bukanlah raja-raja yang semacam ini, melainkan Dia memilih dengan bebas untuk menjadi satu dengan kita semua, terutama dengan mereka yang paling miskin dan tidak disukai oleh masyarakat. Kerajaan-Nya bukanlah berdasarkan kekuasaan dan kontrol, melainkan kerajaan orang miskin, lemah, dan terpinggirkan.
Sekarang, apakah kita bersedia masuk ke dalam Kerajaan orang-orang miskin ini? Seperti karakter dalam Game of Throne, kita ingin duduk di Tahta Besi versi kita sendiri. Namun, ini bukanlah Kerajaan Yesus. Sering kali kita merasa sudah menolong orang lain dengan memberi sesuatu kepada para pengemis, tapi ini tidak cukup. Jika Yesus adalah Raja kita, kita diajak melihat saudara dan saudari kita yang kurang beruntung ini sebagai mereka yang adalah empunya kerajaan, mereka yang duduk di tahta. Melayani Yesus Sang Raja berarti kita perlu melayani mereka dengan cara yang lebih signifikan. Ini adalah kerajaan yang didefinisikan oleh keadilan dan kebenaran, bukan kekuasaan dan kesuksesan.
Minggu yang lalu, Paus Fransiskus mendirikan Hari Dunia Kaum Miskin yang pertama, dan dalam homilinya dia berpesan, “Kita mungkin sering menganggap orang miskin hanya sebagai penerima manfaat dari perbuatan murah hati kita. Betapapun baiknya dan berguna tindakan semacam ini, mungkin karena mereka membuat kita peka terhadap kebutuhan mereka dan ketidakadilan yang sering menjadi penyebab kemiskinan, tindakan-tindakan ini seharusnya mengarah pada perjumpaan sejati dengan orang miskin dan berbagi yang menjadi cara hidup kita … Jika kita benar-benar ingin bertemu dengan Kristus, kita harus menyentuh tubuh-Nya di tubuh penderitaan orang miskin, sebagai tanggapan terhadap persekutuan sakramental yang dianugerahkan dalam Ekaristi.”
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Talent is one of the few biblical words that has become part of our modern language. Talent connotes a God-given ability or a natural unique skill, and yet it has not fully developed. Thus, we are called to use and harness our talents in order to achieve our full potentials and contribute to the progress of society. In fact, talents have become well-sought commodity in our society. Companies only hire the talented employees. Schools are marketed as venues of talents development. Our TV channels and social media outlets are filled by shows where we perform, compete and prove that we possess the best talent in singing, dancing, and the like. How our world is now obsessed with talents!
Talenta adalah satu dari sedikit kata-kata dari Kitab Suci yang telah menjadi bagian dari bahasa kita sehari-hari. Talenta sering diartikan sebagai bakat yang diberikan Tuhan atau keterampilan yang unik seperti memiliki suara yang indah, kemampuan memecahkan persoalan matematika yang rumit, atau kemampuan berolahraga, namun belum sepenuhnya dikembangkan. Dengan demikian, kita dipanggil untuk menggunakan dan memanfaatkan talenta kita untuk mencapai potensi maksimal kita dan memberikan kontribusi pada kemajuan masyarakat.
Pada zaman Yesus, seorang perempuan yang belum menikah harus tinggal dengan ayah dan keluarganya. Hanya saat dia menikah, dia akan pindah ke rumah suaminya. Peralihan dari keluarga asalnya ke keluarga barunya ini dilambangkan oleh perarakan pernikahan yang melibatkan hampir semua orang di desa. Pengantin laki-laki akan menjemput sang istri dari rumah ayahnya, dan bersama-sama mereka diarak kembali ke rumah pengantin laki-laki di mana biasanya perayaan pernikahan diadakan. Untuk alasan praktis, perarakan berlangsung setelah matahari terbenam, dan dengan demikian, pria dan wanita yang terlibat dalam perarakan harus membawa obor atau pelita mereka.
Reading this Sunday’s Gospel, I feel that Jesus is reprimanding His priests and ministers for “preaching and yet not practicing.” Unfortunately, many of us are failing in this matter. We preach forgiveness, but some priests are having prolonged quarrels with other co-priests and some of their parishioners. We teach kindness and friendship of God, yet some of us appear to be aloof and snobbish. We proclaim justice, but sometimes we fail to be just to the simple people working in the parish or convent.
Membaca Injil Minggu ini, saya merasa bahwa Yesus menegur para imam dan pewarta sabda-Nya karena “mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Sayangnya, banyak dari kita gagal dalam hal ini. Kita memberitakan pengampunan, namun beberapa imam hidup dalam pertengkaran berkepanjangan dengan rekan imam lainnya atau dengan beberapa umat mereka. Kita mengajarkan kebaikan dan persahabatan dengan Tuhan, namun beberapa dari kita tidak pernah tersenyum dan tampak sombong. Kita memberitakan keadilan, tapi terkadang kita gagal memberi keadilan kepada mereka yang bekerja di paroki atau biara.
What is love? If we ask young couple who are in love, love means more time together and be connected online even up to late hours of the night. For young priests, love may mean patiently listening to confessions for hours, and attending to sick calls. For a couple who have their newly-born baby, love is changing the baby’s diapers even at middle of the night. Love is passion, dedication and sacrifice.
“In this world nothing can be said to be certain, except death and taxes.” Benjamin Franklin once said. Indeed, tax is an unpleasant and unavoidable fact in our lives as ordinary citizen. A portion of our hard-earned wage is suddenly taken away from us, and only God knows where it goes. In modern society, almost all we have, we gain, and we use are taxed. The practice of taxing people goes back to first known organized human societies. The basic idea is that tax will provide a common resource for the improvement of the community, like building roads, free education and quality health care. Yet, the ideal is often met with abuses. In olden time, the kings and chieftains taxed people so they could build their grand palaces and feed their wives. Unfortunately, the situation does not change much in our time.