Minggu di Biasa ke-4 [28 Januari 2018] Markus 1: 21-28
“Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. (Mk. 1:21)”

Setelah memanggil murid-murid-Nya, Yesus memulai misi-Nya di Kapernaum. Di sana, Yesus melakukan tiga tugas dasar: pengajaran, eksorsisme (mengusir roh jahat) dan penyembuhan. Pada hari Sabat, Dia mengajar dengan penuh otoritas di rumah ibadat. Dia menghadapi roh-roh jahat yang merasuki seorang pria dan mengusir mereka. Dan dalam bacaan hari Minggu berikutnya, dia menyembuhkan ibu mertua Petrus (Mrk 1: 29-39).
Tiga tugas pokok ini sangat penting bagi pelayanan Yesus, dan di hari-hari Minggu yang akan datang, kita akan mendengarkan banyak penggenapan dari tiga tugas ini. Mengapa tiga tugas ini mendasar bagi Yesus? Jawabannya adalah karena ketiga aspek ini menjadikan pelayanan Yesus sebagai pelayanan yang holistik atau menyeluruh. Pengajaran adalah untuk membentuk pikiran yang sehat, mengusir roh jahat adalah untuk membangun kehidupan rohani yang kudus, dan penyembuhan adalah untuk memberdayakan tubuh kita. Ini adalah Kabar Baik karena keselamatan yang Yesus bawa mencakup semua aspek kemanusiaan kita. Sebagai murid-murid-Nya, kita semua dipanggil untuk mengajar, mengusir roh jahat, dan menyembuhkan.
Yang pertama adalah penyembuhan. Ini berhubungan dengan kesehatan tubuh kita. Memang benar bahwa kita tidak memiliki karunia penyembuhan, tapi semua dipanggil untuk menghormati tubuh kita dan dengan demikian, menjalani gaya hidup sehat dan menghindari hal-hal yang membuat kita sakit, seperti stres yang berlebihan dan makanan yang tidak sehat. Ini bersumber pada sebuah pengakuan bahwa tubuh kita adalah anugerah Allah dan seperti yang dikatakan oleh St. Paulus, “Tubuh adalah Bait Roh Kudus.” Dengan demikian, pelecehan terhadap tubuh kita berarti tidak menghargai Tuhan yang menciptakan kita, dan Roh Kudus yang memberi kita hidup. Namun, penyembuhan tidak terbatas pada tubuh kita saja, tapi juga penyembuhan orang-orang di sekitar kita. Ini adalah tugas kita juga bahwa saudara-saudari kita memiliki sesuatu untuk dimakan, pakaian untuk membalut tubuh mereka dan tempat tinggal. Bukan hanya untuk menyembuhkan tubuh kita sendiri tapi juga masyarakat kita.
Eksorsisme benar-benar merupakan pelayanan khusus di Gereja, dan hanya didelegasikan kepada beberapa orang di bawah wewenang para uskup, namun kita semua dipanggil untuk mengusir roh jahat dalam kehidupan dan hati kita. Ini adalah tugas kita untuk menjalani kehidupan yang kudus dengan menerima sakramen-sakramen secara rutin, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Inilah beberapa cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan dengan demikian, memungkinkan kita memiliki kehidupan rohani yang sehat. Mengusir roh jahat juga berarti membebaskan diri kita dari belenggu dosa dan kebiasaan jahat. Ini adalah semacam penyembuhan spiritual. Iblis terkadang merasuki tubuh manusia, namun seringkali, dia merasuki hati kita. Keterikatan kita yang berlebihan terhadap berbagai hal, seperti uang, kesenangan seksual, kehormatan, adalah manifestasi dari roh-roh jahat yang bekerja di dalam hati kita.
Memang benar bahwa tidak semua berprofesi sebagai guru, tapi kita semua dipanggil untuk membentuk pikiran kita dan sesama. Sangat mendasar bagi orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai dasar Kristiani, seperti kejujuran, kesetiaan, dan kasih sayang kepada anak-anak kita. Penting juga untuk biasa merefleksikan karakter kita, memperbaiki kebiasaan buruk, dan mengembangkan diri. Toh, pendidikan tidak hanya sekedar transfer informasi, tapi juga pembentukan karakter. Dengan demikian, pemahaman diri yang benar akan mempengaruhi cara kita bertindak. Saya telah menghadiri Ekaristi sejak masa kecil saya, namun ketika saya belajar lebih banyak tentang teologi, sejarah dan fondasinya dalam Kitab Suci dan Kristus sendiri, semakin saya jatuh cinta dengan Ekaristi.
Kita adalah murid Kristus, dan inilah misi dan kehormatan kita untuk berpartisipasi dalam pelayanan Kristus: mengajar, mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP







Talent is one of the few biblical words that has become part of our modern language. Talent connotes a God-given ability or a natural unique skill, and yet it has not fully developed. Thus, we are called to use and harness our talents in order to achieve our full potentials and contribute to the progress of society. In fact, talents have become well-sought commodity in our society. Companies only hire the talented employees. Schools are marketed as venues of talents development. Our TV channels and social media outlets are filled by shows where we perform, compete and prove that we possess the best talent in singing, dancing, and the like. How our world is now obsessed with talents!
Talenta adalah satu dari sedikit kata-kata dari Kitab Suci yang telah menjadi bagian dari bahasa kita sehari-hari. Talenta sering diartikan sebagai bakat yang diberikan Tuhan atau keterampilan yang unik seperti memiliki suara yang indah, kemampuan memecahkan persoalan matematika yang rumit, atau kemampuan berolahraga, namun belum sepenuhnya dikembangkan. Dengan demikian, kita dipanggil untuk menggunakan dan memanfaatkan talenta kita untuk mencapai potensi maksimal kita dan memberikan kontribusi pada kemajuan masyarakat.