Jesus, Nature and Us

16th Sunday in Ordinary Time. July 23, 2017 [Matthew 13:24-43]

“The kingdom of heaven is like a mustard seed that a person took and sowed in a field. (Mat 13:31)”

 parable mustard seedFrom the several parables that Jesus tells us in today’s Gospel, we learn that Jesus is keen on how nature works. He observes how seeds of wheat and weed grow, and how the yeast would affect the dough in the process of baking. Jesus also is observant of human ingenuity in working with nature for the benefit of the human community. Men and women till the land, are observant to the cycle of nature, sow the well-prepared seeds, take care of the growth and then harvest the result for the good of community. The use of yeast for baking is a very ancient method of cooking. Women would place yeast in dough, and the microorganism would interact with the carbohydrate in the flour, creating carbon dioxide, and as an effect, the leaven dough would expand. Though unleavened bread will last longer, this yeast would make the bread softer and tastier, making it more enjoyable for human consumption.

By mentioning the beauty of nature and the human creativity, Jesus acknowledges the greatness of God, the creator of all as well as the goodness of creation. He sees harmony between nature and human, and when both work together, all will manifest the beauty of creation. Yet, Jesus also reminds that the evil one is working to destroy this harmony, by planting the seed of greed, hatred and injustice in our hearts. Instead of using our God-given talent and reason to nurture nature, we choose to manipulate it and exploit it for our own benefits and pleasures.

We are proud with our cellular phone. It has become a modern lifestyle, and we often keep changing for the latest and more advanced models. Yet, we are not aware that men, women and even children are working under terrible conditions somewhere in long chain of production. A single cellular phone is a complex combination of metals, and extracting these minerals from earth seems easy yet at the same time most problematic. For example, the greater part of a cellphone’s battery is made of cobalt, and the mining of cobalt does not only cause massive environmental problems, but also fuel arm conflicts in Congo, causing loss of human lives, and great refugee problems. Other materials are coming from developing countries like Indonesia, Chile and the Philippines. That is just a cellular phone; other gadgets like laptop, personal computers, and other electronic devices, require even more of these raw materials.

I myself am participating in this environmental problems, as I am writing this reflection in my old laptop, and sending this reflection through my cellphone. I do believe that many of us want to follow Jesus in preserving the harmony between nature and human creativity, and we are just caught up in this global web of disharmony. Yet, we must not be hopeless. We do not have to throw away our gadgets, but at least, we should be aware of the massive injustice done to nature and fellow human. We are also invited to be more conscious with what we have, like cloths, food and electricity, and how their creation often has upset nature. To have Jesus as our God, means following His example of being observant to nature’s work and appreciative of human ingenuity. Moreover, we are following His footsteps in caring for the creations which have been beautifully created by His Father as well as our Father.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Yesus, Alam dan Kita

Minggu Biasa ke-16. 23 Juli 2017 [Matius 13: 24-43]

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya (Mat 13:31).”

parable yeastDari beberapa perumpamaan yang Yesus katakan kepada kita di dalam Injil hari ini, kita belajar bahwa Yesus sangat peka dengan bagaimana alam bekerja. Dia mengamati bagaimana biji gandum, lalang dan sesawi tumbuh, dan bagaimana ragi akan mempengaruhi adonan roti. Yesus juga memperhatikan kecerdasan manusia dalam bekerja dengan alam bagi kepentingan dan kebaikan komunitas manusia. Pria dan wanita mengolah tanah, mematuhi siklus alam, menabur benih yang disiapkan dengan baik, menjaga pertumbuhan dan kemudian memanen hasilnya untuk kebaikan komunitas. Penggunaan ragi adalah metode masak yang sangat kuno. Wanita akan menempatkan ragi dalam adonan, dan mikroorganisme ini akan berinteraksi dengan karbohidrat dalam tepung, menciptakan karbon dioksida, dan sebagai akibatnya, adonan ragi akan berkembang. Meski roti tidak beragi akan bertahan lebih lama, ragi ini akan membuat roti lebih lembut dan lebih nikmat untuk dikonsumsi.

Dengan menyebutkan keindahan alam dan kreativitas manusia, Yesus mengakui kehebatan Tuhan, sang pencipta dan juga kebaikan dari ciptaan-Nya. Dia melihat harmoni antara alam dan manusia, dan ketika keduanya bekerja sama, semua akan mewujudkan keindahan dan kemuliaan Tuhan. Namun, Yesus juga mengingatkan bahwa sang jahat bekerja untuk menghancurkan keselarasan ini, dengan menanam benih keserakahan, kebencian dan ketidakadilan di dalam hati kita. Alih-alih menggunakan bakat dan akal yang diberikan Tuhan untuk memelihara alam, kita memilih untuk memanipulasinya dan memanfaatkan alam untuk keuntungan dan kesenangan kita sendiri.

Sebagai contoh, kita bangga dengan telepon selular kita. HP telah menjadi gaya hidup modern, dan kita terus memburu model terbaru yang lebih canggih. Namun, kita tidak sadar bahwa ada pria, wanita dan bahkan anak-anak bekerja dalam kondisi mengerikan di dalam rantai produksi yang panjang ini. Sebuah ponsel adalah kombinasi logam yang kompleks, dan salah penambangan adalah cara mudah namun pada saat bersamaan paling bermasalah untuk mengambil mineral-mineral ini dari perut bumi. Misalnya, sebagian besar baterai ponsel terbuat dari kobalt, dan penambangan kobalt tidak hanya menyebabkan masalah lingkungan yang besar, tapi juga memicu konflik bersenjata di Kongo, menyebabkan hilangnya nyawa manusia, dan masalah pengungsi yang hebat. Bahan lainnya seperti tembaga dan alumunium berasal dari negara berkembang seperti Indonesia, Chile dan Filipina, dan menyebabkan permasalahan lingkungan hidup. Itu hanya sebuah HP; Gadget lain seperti laptop, komputer, dan perangkat elektronik lainnya, memerlukan lebih banyak lagi bahan-bahan baku ini.

Saya sendiri ikut serta dalam masalah lingkungan ini, karena saya menulis refleksi ini di laptop tua saya, dan mengirimkannya melalui komputer atau ponsel saya. Saya percaya bahwa banyak dari kita ingin mengikuti Yesus dalam melestarikan keharmonisan antara alam dan kreativitas manusia, tetapi kita terjebak dalam jaring ketidakharmonisan global ini. Namun, kita tidak boleh putus asa. Kita tidak perlu membuang gadget kita, tapi setidaknya kita harus sadar akan ketidakadilan besar yang dilakukan terhadap alam dan sesama manusia. Kita juga diajak untuk lebih sadar dengan apa yang kita miliki, seperti pakaian, makanan dan listrik, dan bagaimana proses pengolahan mereka seringkali telah merusak alam. Untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan kita, berarti mengikuti teladan-Nya untuk memperhatikan bagaimana alam bekerja dan menghargai kecerdasan manusia. Selain itu, kita diajak untuk mengikuti jejak-Nya dalam merawat ciptaan-ciptaan yang telah diciptakan dengan indah oleh Bapa-Nya dan juga Bapa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Sower

15th Sunday in Ordinary Time. July 16, 2017 [Matthew 13:1-23]

 “Hear then the parable of the sower. (Mat 13:18)”

parable sower 2Looking carefully into the parable, we find something strange. The agrarian land in Palestine was not as fertile and arable like many other countries like Indonesia and Philippines. It was expected that some seeds would fall into stony grounds, or be outgrown by the thorny plans. Yet, the Israelite farmers knew very well that seeds were their lifeline and wasting three-quarter of their seeds was just unthinkable. To add to this oddity, Jesus assured that this waste of seeds would be compensated with super abundant result of thirty to hundredfold harvest.  A seasoned farmer recognized that an ordinary wheat seed planted in the Palestinian soil would yield just enough for the family. Thus, many of Jesus’ listeners would wonder, “What is he talking about? He is just a carpenter, and now he is talking to us from a boat about agriculture?” Even His disciples were puzzled and approached Him for clarification.

Jesus rarely explained His parables, yet this time, Jesus went to considerable length to reveal the meaning behind His parable. The seed was the metaphor of the Word of God, the sower stood for the preacher or the worker of the Word, and the land symbolized the different recipients. From then on, both the disciples and us, begin to understand the dynamism of preaching. The preaching of the Word has to be done generously and even abundantly for practically all people, even for those who would reject it. The generosity of sowing the Word flows from God who is the Father of all and wants all to come to Him.

Yet, Jesus did not only explain the parable, He gave also the title “Parable of the Sower”. Thus, immediately our attention is called to the sower. Who is this sower? It is all of us. We are called to become the preachers or the co-workers of the Word. Thus we are to spread the Word to all kinds of grounds or people, including those we do not like us, or those who hate us. A parish priest has to keep preaching and serving all his parishioners, not only those who support him, but also those who criticize and reject him. A religious sister who takes care of orphans shall care for all, not only those children who are cute and obedient. A government leader shall work for the betterment of all people in the society, regardless of whether they voted for him or not. The modern-day spouses who often focus more on careers need to be generous in building up the Church and the society through their offspring; parents need to love and educate all their children, regardless of whether the child is their favorite one or not.

The mission of preaching the Word of God is tough because it reflects the generosity and mercy of God. Jesus Himself had to endure this difficulty as His preaching and ministry got misunderstood, rejected, and He himself got persecuted and executed, yet He continued to preach because it was His Father’s will to draw all His children closer to Himself. We are called to be God’s co-workers in sowing God’s word, in contributing in our little yet unique way in the preaching ministry of the Church. Doubtless, to be a sower of the Word is a tough one, yet it is our way of participating in the abundant harvest of God.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Penabur

Minggu Biasa ke-15. 16 Juli 2017 [Matius 13: 1-23]

“Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu (Mat 13:18).”

The Sower - Luke 8:4-15
The Sower

Membaca dengan cermat perumpamaan hari ini, kita menemukan sesuatu yang tidak lazim. Tanah di Palestina tidaklah sesubur negara-negara lain seperti Indonesia dan Filipina, dan oleh karena ini, saat penaburan benih, beberapa akan jatuh ke tanah berbatu, atau semak berduri. Namun, para petani Israel tahu betul bahwa pada benih inilah tergantung hidup mereka, dan menghabiskan tiga perempat benih mereka pada tanah yang tidak subur sama saja dengan bunuh diri. Lebih mencengangkan lagi adalah Yesus meyakinkan bahwa walaupun menaburkan seperempat benih, hasil panen akan mencapai tiga puluh hingga seratus kali lipat. Seorang petani berpengalaman tentu tahu bahwa benih gandum biasa yang ditanam di tanah Palestina akan hanya menghasilkan cukup untuk keluarga dan musim tanam berikutnya, tetapi sampai berkelimpahan tidaklah wajar. Dengan demikian, banyak pendengar Yesus bertanya-tanya, “Apa yang dia bicarakan? Sulit dimengerti oleh nalar sehat.” Bahkan murid-murid-Nya pun bingung dan mendekati Dia untuk mencari klarifikasi.

Yesus jarang menjelaskan perumpamaan-perumpamaan-Nya, namun kali ini, Yesus melakukan hal yang berbeda, dan Diapun mengungkapkan makna di balik perumpamaan-Nya tersebut. Benih adalah metafora bagi Firman Tuhan, penabur adalah pewarta atau pekerja Firman, dan tanah melambangkan penerima Firman yang berbeda-beda. Dari sini, kita mulai memahami dinamika pewartaan. Pemberitaan Firman harus dilakukan dengan murah hati dan bahkan melimpah bagi semua orang, bahkan bagi mereka yang akan menolaknya. Kemurahan hati dari pewartaan Firman ini mengalir dari Allah sendiri yang adalah Bapa dari semua dan menginginkan semua untuk datang kepada-Nya.

Namun, Yesus tidak hanya menjelaskan perumpamaannya, Dia bahkan memberikan judul “Perumpamaan Penabur”. Jadi, Yesus dengan segera memusatkan perhatian kita kepada sang penabur. Siapakah penabur ini? Jawabanya adalah kita semua. Kita dipanggil untuk menjadi pewarta dan rekan kerja Allah dalam pewartaan Firman. Dengan demikian kita harus menebarkan Firman kepada semua orang, termasuk mereka yang tidak menyukai kita, dan mereka yang membenci kita. Seorang pastor paroki harus terus berkhotbah, merayakan sakramen dan melayani semua umat parokinya, tidak hanya mereka yang mendukungnya, tetapi juga orang-orang yang mengkritik dan menolaknya. Seorang suster yang merawat anak yatim harus merawat semua, tidak hanya anak-anak yang imut dan taat. Seorang pejabat pemerintahan harus bekerja untuk kemajuan semua orang di masyarakat, terlepas dari apakah mereka memilihnya atau tidak. Pasangan suami-istri yang sering lebih fokus pada karier harus bermurah hati dalam membangun Gereja dan masyarakat dengan menjadi orangtua, dan orangtua perlu mencintai dan mendidik semua anak mereka, terlepas dari siapakah yang menjadi anak kesayangan mereka.

Misi pewartaan Firman Tuhan itu sulit karena ini mencerminkan kemurahan hati dan belas kasih Allah yang tanpa batas. Yesus sendiri harus menanggung kesulitan ini karena pewartaan dan pelayanan-Nya disalahpahami dan ditolak, dan Dia sendiri dianiaya dan dihukum mati, namun Dia terus mewartakan karena Dia mengerti kehendak Bapa-Nya untuk membawa semua anak-anak-Nya lebih dekat kepada diri-Nya. Kita dipanggil untuk menjadi rekan kerja Allah dalam menabur Firman-Nya dan memberikan kontribusi kecil namun unik kita dalam pelayanan pewartaan Gereja. Tak diragukan lagi, menjadi penabur Firman adalah hal yang sulit, namun ini adalah cara kita untuk berpartisipasi dalam mewujudkan panen berlimpah Tuhan.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yoke

14th Sunday in the Ordinary Week. July 9, 2017 [Matthew 11:25-30]

 “Take my yoke upon you and learn from me, for I am meek and humble of heart; and you will find rest for your selves.  (Mat 11:29)”

yoke 1Yoke is a device, usually of wood, placed on the shoulder of animals or persons to carry a burden. In agricultural settings, a yoke is used to pull a plow to make a furrow on the ground so that the soil will be ready for the seed planting. But, a yoke can be used also to drag a cart and transport various goods. Because its primary function is to carry a load or burden, a yoke turns to be a symbol of responsibility, hard work, and obligation. In our seminary in Manila, a leader among the brothers is called a decano. In the beginning of the formation year, we elect our decano, and as he assumes his responsibility, he ceremonially receives a wooden yoke from the outgoing decano. The yoke reminds him of responsibility and great task that he has to endure through the year.

In the Bible, a yoke often symbolizes a means of oppression and slavery. The yoke reminds the Israelites how they lived as slaves in Egypt. The yokes were placed upon their shoulders and they have to carry heavy materials, and to work for the construction of Egyptian colossal buildings. At the time of Jesus, the yoke has slightly evolved to symbolize tedious religious obligation. When Jesus criticized some of the Pharisees and Jewish religious leaders for putting so much emphasis on the details of the Law and rituals, and forgetting what truly the essentials, Jesus called this practice as the yoke of the Pharisees.

However, in today’s Gospel we learn that Jesus asks us to carry His yoke. Wait! Does it mean like the Pharisees, Jesus also wants us to carry a yoke of burden? Jesus clarifies further that His yoke is easy and my burden is light. So, Jesus’ yoke is just less burdensome compare to that of the Pharisess, yet it is still a yoke, a load. How then we can be truly restful if it is just a matter of changing of yoke?

To understand Jesus’ yoke, we need to know that in ancient Israel, like in our time, there are different kinds of yokes. There is a yoke for a single animal, but there is also a yoke that unites two animals together in pulling the burden. When Jesus speaks about His yoke, He is referring to this yoke for two animals or persons. When we carry the yoke of Jesus, it does not mean that Jesus simply gives us the yoke for us alone to shoulder, but we carry it together with Jesus. It is not a transferring of responsibility, but sharing of the burden. And when we feel tired and exhausted because of the heavy burden, we can rest a while since Jesus is the one who now carries the burden for us. In fact, as a carpenter, He knows best how to make a yoke more convenient to carry. That is the yoke of Jesus.

We are carrying the yoke of life with Jesus. And indeed it is a great consolation for us. We are burdened by so many problems in life and often it is too heavy to bear. Yet, we are never alone. Jesus is bearing the yoke for us, the Church is working together with us, our family and friends are one with us. This gives us rest in trial time, yet when others’ life are heavy, like Jesus, we are also helping in carrying others’ yoke, because it is only one yoke, the yoke of Jesus.

Br. Valentinus Bayuhadi RUseno, Op

 

Kuk

Minggu ke-14. 9 Juli 2017 [Matius 11:25-30]

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. (Mat 11:29)”

yoke 2Kuk adalah sebuah alat, biasanya terbuat dari kayu, yang diletakkan di bahu hewan atau orang untuk membawa beban. Di lingkungan pertanian, kuk digunakan untuk menarik bajak untuk membuat alur di tanah sehingga tanah siap untuk penanaman benih. Tapi, kuk bisa digunakan juga untuk menarik gerobak dan mengangkut berbagai barang. Karena fungsi utamanya adalah untuk membawa beban, kuk pun menjadi simbol tanggung jawab, kerja keras, dan kewajiban. Di seminari kami di Manila, pemimpin di antara para frater disebut sebagai “dekano”. Pada awal tahun formasi, kami memilih dekano, dan saat dia memulai mengembang tanggung jawabnya, dia secara seremonial menerima kuk kayu dari dekano yang lama. Kuk itu mengingatkannya akan tanggung jawab dan tugas besar yang harus dia tanggung sepanjang tahun dalam memimpin komunitas para frater.

Dalam Alkitab, kuk sering melambangkan penindasan dan perbudakan. Kuk itu mengingatkan bangsa Israel bagaimana mereka pernah hidup sebagai budak di Mesir. Kuk tersebut diletakkan di atas bahu mereka dan mereka harus membawa bahan-bahan bangunan yang berat, dan bekerja untuk mendirikan bangunan-bangunan besar Mesir. Sampai pada zaman Yesus, kuk sedikit berevolusi dan menjadi lambang dari kewajiban keagamaan yang terkadang sangat memberatkan orang-orang sederhana. Ketika Yesus mengkritik beberapa orang Farisi dan pemimpin agama Yahudi karena menaruh begitu banyak penekanan pada rincian Hukum dan ritual, dan melupakan apa yang hakiki, Yesus menyebut praktik ini sebagai kuk orang Farisi.

Namun, dalam Injil hari ini kita membawa bahwa Yesus meminta kita untuk memanggul kuk-Nya. Kita kemudian bertanya: Apakah itu berarti seperti orang-orang Farisi, Yesus juga menginginkan kita membawa kuk yang berat? Yesus menjelaskan lebih lanjut bahwa kuk-Nya mudah dan beban-Nya ringan. Jadi, kuk Yesus tidak seberat kuk versi Farisi, namun tetap saja sebuah kuk, dan sebuah beban. Lalu bagaimana kita bisa benar-benar mendapatkan istirahat jika kita harus tetap memanggul kuk?

Untuk memahami kuk Yesus, kita perlu mengetahui bahwa di Israel di zaman Yesus, ada berbagai jenis kuk. Ada kuk yang digunakan oleh seekor binatang saja, tapi ada juga kuk yang diangkut oleh dua binatang sekaligus dalam menarik beban. Ketika Yesus berbicara tentang kuk-Nya, Dia berbicara tentang kuk ganda yang dipergunakan oleh dua binatang atau manusia. Saat kita membawa kuk Yesus, ini tidak berarti bahwa Yesus hanya sekedar memindahkan kuk-Nya dari bahu-Nya ke bahu kita untuk dipikul, tapi Yesus ikut memanggul kuk kita. Ini bukanlah pemindahan tanggung jawab, tapi berbagi beban. Dan ketika kita merasa lelah dan letih karena beban berat, kita bisa beristirahat karena Yesus lah yang sekarang membawa beban bagi kita. Tentunya, sebagai seorang tukang kayu yang lihai, Yesus tahu persis bagaimana membuat kuk yang lebih nyaman untuk dipanggul dan memberikan istirahat kepada kita. Inilah kuk Yesus.

Kita membawa kuk hidupan dengan Yesus. Tentunya, ini merupakan penghiburan bagi kita. Kita terbebani oleh begitu banyak masalah dalam hidup dan seringkali terlalu berat untuk ditanggung. Namun, kita tidak pernah sendirian. Yesus menanggung kuk bersama kita. Yesus juga mengutus Gereja-Nya untuk memanggul bersama kuk kehidupan dengan kita. Dan tentunya, keluarga dan sahabat-sahabat kita bersatu dengan kita dalam memanggul kehidupan. Ini memberi kita istirahat pada masa pencobaan. Namun, ketika kehidupan sesama kita menjadi berat, seperti Yesus, kita juga dipanggil untuk mengangkat kuk sesama kita, karena ini adalah hanya satu kuk, kuk Yesus sendiri.

Frater Valentinus Bayuhadi RUseno, Op

, or

 

Bigger Family

13th Sunday in Ordinary Time. July 2, 2017 [Matthew 10:37-42]

 “Whoever loves father or mother more than me is not worthy of me, and whoever loves son or daughter more than me is not worthy of me (Mat 10:37).”

hungerWhen God calls us, God does not only call us privately and individually. In the Bible, God also calls us with our family, our community. God created the first man and woman not only to complete each other, but also to “multiply” or to build a human family. Noah entered the ark together with his wife and children. They were saved as a family from the flood. Abraham and Sarah were called from the land of Ur, and establish their own family and clan in the land of Canaan. When God called Moses to deliver the Israelites from slavery, God also called Aaron and Miriam, Moses’ brother and sister, to assist him in his mission. Finally, the life of Jesus of Nazareth would not be complete without the family of Mary and Joseph of Nazareth.

Surely, it is a good news for family-oriented persons. For many cultures, like Filipino and Indonesian, family is at the center of our value system. When I ask some of my Filipino friends, “If your house is burning, what are the first things you will rescue?” Their answer is not money, important documents or jewelries, but family pictures! In 1977, the Tanzanian President Julius Nyerere, one of the most prominent African figures during that time, visited US and talked before the African students who studied there. Before them, he criticized those Africans who received much support from their families and clan, yet refused to go back after their studies. It was an act of cowardice and betrayal to Africa.

However, if we read today’s Gospel, Jesus made a tough demand for His disciples. In preaching the Kingdom, they had to love Jesus more than they love their family. In ancient Israel, like many Mediterranean societies, respect and honor of the parents was a sacred duty of every child. It was in fact enshrined in the Decalogue as the fourth commandment.  To the point that if a child failed to honor their parents and brought nothing but headache, he would be punished severely by the community (see Dt 21:20-21). As a Jew, He knew this too well, yet He insisted that His disciples had to be committed first to Him and His Gospel before their families. Does Jesus want to cut us from our families? Is Christ-centeredness opposed to family centeredness? Does following Jesus mean leaving our family behind?

God indeed calls us with our family and as a family, but He does not call us only for our family. As old proverb goes, “Charity begins at home, but it does not end there.” We surely love our families, but as Christians we are called to serve a bigger family of humanity and even our mother Earth. It is impossible to serve others, if our allegiance is for ourselves and a small family. Many corruptions take place because we want to enrich our families and clans at the expense of other people. To serve the bigger family of humanity, we are called to first love God who is the merciful and just Father to all, who pour rains and gives sunshine both to the good and not so good. Jesus does not want to destroy families because surely He loves Mary and Joseph, yet He loves His Father most, and this love empowers Him to give His life for all whom His Father loves.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Keluarga yang lebih besar

Minggu Biasa ke-13. 2 Juli 2017 [Matius 10: 37-42]

“Siapa pun yang mencintai ayah atau ibu lebih dari pada saya tidak layak untuk saya, dan siapa pun yang mencintai anak laki-laki atau perempuan lebih dari saya tidak layak untuk saya (Mat 10:37).”

beautiful feetKetika Tuhan memanggil kita, Tuhan tidak hanya memanggil kita secara individual. Dalam Alkitab, Tuhan juga memanggil kita dengan keluarga kita dan komunitas kita. Tuhan menciptakan pria dan wanita pertama yang tidak hanya untuk saling melengkapi, tapi juga “berkembang biak” atau membangun keluarga manusia. Nuh masuk ke dalam bahtera bersama istri dan anak-anaknya. Mereka diselamatkan sebagai keluarga dari banjir besar. Abraham dan Sarah dipanggil dari tanah Ur untuk membangun keluarga dan klan mereka sendiri di tanah Kanaan. Ketika Tuhan memanggil Musa untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan, Tuhan juga memanggil Harun dan Miriam, saudara laki-laki dan perempuan Musa, untuk membantu dia dalam misinya. Akhirnya, kehidupan Yesus dari Nazaret tidak akan lengkap tanpa keluarga Maria dan Yusuf dari Nazaret.

Tentunya, ini adalah kabar baik bagi orang-orang yang berorientasi keluarga. Bagi banyak budaya, seperti Filipina dan Indonesia, keluarga merupakan pusat sistem nilai kita. Ketika saya bertanya kepada beberapa teman Filipina, “Jika rumah kamu terbakar, benda apa yang akan kamu selamatkan terlebih dahulu?” Jawaban mereka bukanlah uang, dokumen penting atau perhiasan, tapi foto keluarga! Pada tahun 1977, Presiden Tanzania Julius Nyerere, salah satu tokoh paling terkemuka Afrika selama masa itu, mengunjungi AS dan berbicara di hadapan para pelajar Afrika. Dengan tegas, dia mengkritik orang-orang Afrika yang mendapat banyak dukungan dari keluarga dan komunitas mereka, namun menolak untuk kembali setelah pendidikan mereka. Itu adalah tindakan pengecut dan pengkhianatan terhadap Afrika.

Namun, jika kita membaca Injil hari ini, Yesus mengajukan tuntutan yang berat bagi murid-murid-Nya. Dalam pewartaan Kerajaan Allah, mereka harus lebih mengasihi Yesus daripada mengasihi keluarga mereka. Di Israel zaman itu, seperti banyak masyarakat Mediterania, penghormatan terhadap orang tua adalah tugas suci bagi setiap anak. Ini adalah perintah keempat dari sepuluh perintah Allah. Bahkan jika seorang anak gagal menghormati orang tua mereka dan terus membuat orang tua sakit kepala, dia akan dihukum berat oleh masyarakat (lih. Deu 21: 20-21). Sebagai orang Yahudi, Yesus mengetahui hal ini dengan sangat baik, namun Dia tetap pada pendirian-Nya agar murid-murid-Nya harus terlebih dahulu berkomitmen kepada Dia dan Injil-Nya melebihi keluarga mereka. Apakah Yesus ingin memutus kita dari keluarga kita? Apakah mengikuti Yesus berarti meninggalkan keluarga kita? Apakah kasih terhadap Kristus bertentangan dengan kasih bagi keluarga?

Tuhan sungguh memanggil kita dengan keluarga kita dan sebagai sebuah keluarga, tapi Dia tidak memanggil kita hanya untuk keluarga kita. Rm. Enrico Gonzales, OP guru saya di Manila selalu berkata, “Kasih dimulai di rumah, tapi tidak berakhir di sana.” Kita pasti mengasihi keluarga kita, tapi sebagai orang Kristiani kita dipanggil untuk melayani keluarga manusia yang lebih besar dan juga bumi kita ini. Tidak mungkin melayani orang lain, jika kesetiaan kita adalah untuk diri kita sendiri dan keluarga kecil kita. Banyak korupsi dan kejahatan terjadi karena kita ingin memperkaya diri sendiri dan keluarga kita dengan mengorbankan orang lain. Untuk melayani keluarga manusia yang lebih besar, kita dipanggil untuk pertama-tama mengasihi Tuhan yang adalah Bapa bagi semua, yang memberi hidup, menurunkan hujan dan memberikan sinar matahari kepada yang baik dan tidak begitu baik. Yesus tidak ingin menghancurkan keluarga karena pastilah Dia mengasihi Maria dan Yusuf, namun Dia mengasihi Bapa-Nya lebih dari siapapun, dan kasih ini memberdayakan Dia untuk memberikan nyawa-Nya untuk kita semua yang Bapa-Nya kasihi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Life of a Preacher

Twelve Sunday in Ordinary Time. June 25, 2017 [Mathew 10:26-33]

“What I say to you in the darkness, speak in the light; what you hear whispered, proclaim on the housetops (Mat 10:27).”

sent to preachSt. Francis of Assisi once said, “Preach the Gospel all time. When necessary, use words.” He correctly points out that preaching is not only the job of the priests in the pulpit, or lay preachers in the prayer meetings. Preaching the Gospel is the mission of all of us.  The preaching can happen in the family, as we show our children the meaning of true love, fidelity and respect. Preaching can take place in our workplaces as we uphold honesty, hard work, and dedication. Preaching may manifest in our daily life as we do justice, service to the needy, and kindness to our neighbors.

However, to preach Jesus Christ is not always smooth sailing. I myself have been in the ministry of preaching for some years, and at times, I have to face tough moments. When, I preach with a content and style that are outside of the box, some good and honest people come and rightly question the orthodoxy of my preaching. Yet, when I preach with predicted insight and usual delivery, young people will come and tell me it is boring. There are times that nobody’s listening to my preaching or reading my reflection. Sometimes, I feel tired, frustrated and bored. The same feelings may also befell us as we do our preaching in the family, workplace, the parish, or the society. It is frustrating when we are honest, but the rest are not. It is tiring when we know that we are the only one working hard. It is hurting to be backstabbed after all our service to others.

Yet, our life as a preacher is a lot better and safer than my brothers and sisters in other places. Our Dominican sisters of St. Catharine of Siena in Iraq chose to stay despite the ongoing war and turmoil that hit the country, and serve the refugees without any discrimination. In 2003, when US-led coalition invaded Iraq, they kept running the hospital in Baghdad amidst heavy fighting and looting in the capital. In 2014, when IS took the city of Mosul, the sisters were walking together with the refugees, and at forefront in helping and managing several refuge centers. For some others to preach Christ means violence and death. Last May, Fr. Miguel Angel Machorro was in critical condition after he was stabbed in the neck just right after saying the mass in Mexico City’s Cathedral. Fr. Teresito Suganob who was working among the Muslims in Marawi City, Philippines, was abducted when the group of extremists occupied the city. Nobody knows yet what happened to him.

What makes them preach the Gospel despite constant dangers to their lives? I believe that it is because they love the Lord dearly. This love, as Roman poet Virgil wrote, conquers all. Their love drives out the fear of death, empowers them in trials, and encourages them in face of frustrations and failures. In the words of St. Paul, “What will separate us from the love of Christ? Will anguish, or distress, or persecution, or famine, or nakedness, or peril, or the sword… No, in all these things we conquer overwhelmingly through him who loved us (Rom 8:35-37).”  True preaching, then is fuelled by true love of God and not seeking after our own glory. Without this love, we will back out when our preaching seems to fail, or we will feel proud when our ministry meets success. Do we have this love for Jesus? Are our preaching motivated by this love? Are we allowed to be overwhelmed by God’s love for us?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hidup Seorang Pewarta

Minggu Biasa ke-12. 25 Juni 2017 [Matius 10: 26-33]

“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang (Mat 10:27).”

soldier pray rosarySanto Fransiskus dari Asisi pernah berkata, “Wartakanlah Injil sepanjang waktu. Bila perlu, gunakan kata-kata. Dia menunjukkan bahwa pewartaan bukan hanya tugas para imam di mimbar, atau pengkhotbah awam dalam pertemuan doa. Pewartaan Injil adalah misi kita semua. Pewartaan bisa terjadi dalam keluarga saat kita menunjukkan kepada anak-anak kita arti kasih sejati, kesetiaan dan hormat. Pewartaan dapat berlangsung di tempat kerja saat kita menjunjung tinggi kejujuran, kerja keras, dan dedikasi. Pewartaan dapat terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari saat kita berlaku adil, melayani saudara dan saudari kita yang kekurangan, dan berbuat kebaikan kepada sesama.

Namun, untuk mewartakan Yesus Kristus tidak selalu mudah. Saya sendiri telah terlibat dalam kerasulan Sabda selama beberapa tahun, dan terkadang, saya harus menghadapi saat-saat sulit. Ada yang mengatakan pewartaan saya membosankan, dan juga ada yang bilang terlalu bertele-tele atau susah dimengerti. Ada kalanya orang tidak mendengarkan atau membaca renungan saya. Terkadang, saya merasa lelah, frustrasi dan bosan. Perasaan yang sama juga bisa menimpa kita yang mengalami masalah dalam keluarga, tempat kerja, paroki, atau masyarakat. Sebuah frustrasi saat kita berusaha jujur, tapi yang lain tidak. Sangat melelahkan saat kita tahu bahwa kita satu-satunya yang bekerja keras. Sangat menyakitkan saat kita diserang dari belakang setelah semua pelayanan kita kepada sesama.

Namun, hidup kita sebagai pewarta sebenarnya jauh lebih baik dan lebih aman daripada saudara-saudari kita di tempat lain. Suster-suster St. Catharine of Siena di Irak memilih untuk tinggal meskipun perang dan kekacauan yang terus bekecamuk di negeri itu, dan melayani para pengungsi tanpa diskriminasi. Pada tahun 2003, ketika koalisi pimpinan AS menginvasi Irak, para suster terus membuka rumah sakit di tengah pertempuran sengit dan penjarahan di Baghdad. Pada tahun 2014, ketika IS menguasai kota Mosul, para suster tersebut berjalan bersama dengan para pengungsi, dan terdepan dalam membantu dan mengelola beberapa pusat pengungsian. Bagi beberapa pewarta lain, untuk memberitakan Kristus berarti kekerasan dan kematian. Bulan Mei lalu, Pastor Miguel Angel Machorro berada dalam kondisi kritis setelah ditikam di leher beberapa saat setelah misa di Katedral Kota Meksiko. Pastor Teresito Suganob dan beberapa umatnya yang bekerja di antara umat Islam di Kota Marawi, Filipina, diculik ketika kelompok ekstrimis menduduki kota tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada mereka sampai saat ini.

Apa yang membuat mereka berani memberitakan Injil meski terus-menerus menghadapi bahaya dalam hidup mereka? Alasannya cukup sederhana. Ini karena mereka sangat mengasihi Tuhan. Seperti yang ditulis oleh penyair Romawi Virgil, kasih ini menaklukkan semua. Kasih mereka melenyapkan rasa takut akan kematian, memberdayakan mereka dalam cobaan, dan mendorong mereka menghadapi frustrasi dan kegagalan. St. Paulus pun berkata, Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang… Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. (Rm 8:35-37).” Pewartaan yang benar adalah yang didorong oleh cinta kasih sejati bagi Tuhan dan bukan sekedar mencari kemuliaan bagi diri kita sendiri. Tanpa kasih ini, kita akan mundur saat pewartaan kita nampaknya gagal, atau kita akan menjadi sombong saat pelayanan sukses. Apakah kita memiliki kasih sejati ini bagi Yesus? Apakah pewartaan kita dimotivasi oleh kasih yang sejati? Apakah kita membiarkan kasih Tuhan memenuhi pelayanan kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP