Mendengarkan Suara Tuhan

Minggu ke-4 Paskah [C]

11 Mei 2025

Yohanes 10:27-30

Pendengaran adalah salah satu indra yang paling mendasar yang membuat kita menjadi manusia. Memang benar bahwa kita sangat bergantung pada penglihatan untuk menavigasi dunia, tetapi pendengaran membedakan kita dengan makhluk lain. Bagaimana penjelasannya?

Tentu saja, manusia tidak memiliki indra pendengaran yang terbaik. Banyak hewan yang memiliki kemampuan pendengaran yang jauh lebih baik. Sebagai contoh, kelelawar memiliki indra pendengaran seperti sonar, yang memungkinkan mereka untuk mengukur jarak melalui suara. Telinga manusia jauh lebih lemah jika dibandingkan dengan hewan-hewan ini. Namun, terlepas dari kapasitas pendengaran kita yang sepertinya biasa saja, kita memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh hewan lain: kemampuan untuk mengasosiasikan suara dengan makna. Dengan kata lain, kita dapat menciptakan bahasa. Kemampuan berbahasa ini berarti kita dapat membedakan kata-kata yang bermakna dari suara yang tidak berarti.

Melalui mendengarkan, manusia purba membangun keluarga dan komunitas. Mereka mendengarkan para pemimpin mereka untuk mendapatkan panduan dalam mempertahankan diri dari binatang buas dan bertahan hidup di lingkungan yang keras. Dengan mendengarkan, mereka menerima kebijaksanaan para tetua mereka dan kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mendengar kata-kata yang bermakna adalah hal yang membuat kita hidup dan tumbuh sebagai manusia.

Sayangnya, kita sekarang hidup di dunia yang penuh dengan suara kebisingan yang tidak ada artinya sama sekali, dari sekedar polusi pendengaran, musik-musik yang tidak jelas, dan bahkan kata-kata kasar, penuh kebohongan dan bahkan kutukan. Apa yang sering kita dengar tidak lagi berguna bagi kelangsungan hidup atau pertumbuhan kita, melainkan hanya apa yang berteriak paling keras. Kita tidak lagi mendengarkan akal sehat, kebijaksanaan dari masa lalu, dan yang paling penting, firman Tuhan. Jika orang-orang zaman dahulu menyadari bahwa mendengarkan para pemimpin mereka sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka, kita pun harus menyadari bahwa mendengarkan Tuhan kita, Yesus Kristus, bukanlah suatu opsi, tetapi ini adalah masalah keselamatan jiwa kita.

Jadi, bagaimana kita dapat belajar untuk mendengarkan dengan penuh perhatian suara Gembala kita yang sejati?

Pertama, sama seperti domba yang mendengarkan suara gembalanya demi keselamatannya, kita harus mengenali suara Gembala kita dan mengikuti petunjuk-Nya – karena keselamatan kekal kita bergantung padanya. Kedua, untuk mengenali suara-Nya, kita harus menjadi terbiasa dengannya. Hal ini dapat dicapai dengan terus mendengarkannya, dengan membaca Kitab Suci secara teratur, mempelajari ajaran-ajaran-Nya secara khusus yang telah diajarkan Gereja, dan terlibat dalam doa yang mendalam. Ketika kita menjadi terbiasa dengan suara Tuhan, kita juga bisa belajar untuk membedakan suara-suara yang tidak berasal dari-Nya, suara-suara dari keinginan kita sendiri, dunia, dan roh-roh jahat. Ketiga, mendengar harus membawa kepada tindakan. Mendengar tanpa ketaatan tidak ada artinya, atau bahkan lebih buruk lagi, itu berarti mengikuti tuntunan musuh.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita mengenal suara Tuhan kita? Suara-suara seperti apa yang kita dengarkan? Apakah kita dapat membedakan suara-suara yang berbeda dalam hidup kita? Firman Tuhan apa yang paling berkesan dan menjadi panduan hidup kita selama ini?

Kasih Kita yang Lemah

Minggu Ketiga Paskah [C]

4 Mei 2025

Yohanes 21:1-19

Dalam Injil hari ini, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Beberapa Bapa Gereja menafsirkan pengulangan ini sebagai Yesus membatalkan penyangkalan Petrus sebanyak tiga kali. Namun, jika dilihat lebih dekat pada teks bahasa Yunani, Yesus menggunakan kata yang berbeda untuk “kasih” dalam setiap contoh. Perbedaan-perbedaan ini memperdalam pemahaman kita akan perikop ini.

Pertama, Yesus tidak hanya mengajukan pertanyaan, tetapi Ia mengajukan permintaan. Dalam permintaan-Nya yang pertama, Yesus meminta jenis kasih yang spesifik. Yohanes Penginjil menggunakan kata Yunani “agape”, yang menandakan kasih yang rela berkorban, yang mencari kebaikan yang tulus dari orang lain. Kasih ini tidak didasarkan pada emosi, melainkan pada kebebasan dan komitmen. Agape yang sejati menuntut pemberian diri sepenuhnya, bahkan sampai mengorbankan nyawa. Di sini, Yesus menuntut bentuk agape tertinggi dari Petrus, sebuah kasih yang melampaui segala sesuatu yang lain.

Dalam permintaan-Nya yang kedua, Yesus sekali lagi menggunakan kata “agape”, tetapi kali ini tanpa frasa “lebih dari itu.” Dia masih menyerukan kasih yang berkorban, tetapi tidak sampai pada tingkat yang tertinggi. Dalam permintaan-Nya yang ketiga, Yesus beralih dari agape ke “philia”, kata dalam bahasa Yunani yang berarti kasih yang didasarkan pada persahabatan. Tidak seperti agape yang berakar pada kehendak bebas dan dedikasi, philia lebih bergantung pada emosi, perasaan yang sama, dan minat yang sama. Meskipun persahabatan sejati mungkin membutuhkan tindakan agape, fondasinya tetaplah philia. Ketika kepentingan bersama memudar, persahabatan sering kali melemah.

Tetapi mengapa Yesus tampaknya menurunkan ekspektasi-Nya, dari agape yang total menjadi agape yang sederhana, dan akhirnya menjadi persahabatan? Jawabannya terletak pada jawaban Petrus. Setiap kali Yesus menanyainya, Petrus menjawab dengan kata “philia”. Ia tidak dapat membawa dirinya untuk mengakui agape, terutama dalam bentuk yang paling tinggi. Penyangkalannya yang terdahulu telah membuatnya patah hati, malu, dan ragu untuk mengasihi Yesus lagi. Ketakutan menahannya.

Namun, terlepas dari jawaban Petrus yang tidak lengkap, Yesus tidak menegurnya atau mencari murid yang lebih setia. Sebaliknya, Yesus menemui Petrus di mana ia berada. Dia menerima kasih Petrus yang penuh kekurangan dan keraguan dan tetap mempercayakannya untuk menggembalakan kawanan domba-Nya. Yesus tidak menuntut kesempurnaan, tetapi Dia menginginkan kerendahan hati dan ketulusan. Dia melihat upaya Petrus dan tahu bahwa, pada saatnya nanti, Petrus akan memberikan nyawanya bagi-Nya.

Tuhan meminta kita masing-masing untuk memberikan kasih yang tertinggi, namun kita sering kali gagal. Seperti Petrus, kita terluka, lemah, dan penuh dengan kegagalan. Tetapi Kabar Baiknya adalah Tuhan menerima kasih kita yang tidak sempurna dan dengan lembut menuntun kita menuju kesempurnaan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

Apakah kita mengasihi Allah?  Apakah kita mengasihi Dia dengan agape atau philia?  Dalam hal apa saja kita gagal mengasihi Allah? Apa yang menghalangi kita untuk mengasihi Allah? Bagaimana Dia terus mengasihi kita terlepas dari kekurangan kita? Dapatkah kita mengingat kembali saat-saat dalam hidup kita ketika kasih Allah yang tak tergoyahkan terbukti meskipun kita gagal? 

Damai Paskah

Minggu Kedua Paskah [C]

27 April 2025

Yohanes 20:19-31

Kata-kata pertama Kristus setelah bangkit kepada para murid-Nya adalah, “Damai bagi kamu!” Dalam bahasa Ibrani, “Shalom lakem” (שָׁלוֹם לָכֶם), sebuah ucapan yang sering ditemukan dalam Perjanjian Lama (Hakim 6:23; 1 Samuel 1:17; 20:42; 25:6; dll.). Variasi Yahudi lainnya, meskipun tidak ada dalam Alkitab, adalah “Shalom aleichem” (שָׁלוֹם עֲלֵיכֶם), yang artinya kurang lebih sama. Namun, apakah salam Yesus hanya sekadar sapaan budaya, atau apakah salam itu memiliki makna yang lebih dalam?

Untuk memahami hal ini, pertama-tama kita harus menyelidiki makna alkitabiah dari kata “shalom”. Shalom adalah salah satu kata yang paling umum dalam Alkitab, muncul sebanyak 237 kali dalam Perjanjian Lama. “Shalom” sering kali diterjemahkan sebagai “damai”. Namun, kata ini memiliki arti yang lebih luas: kesejahteraan yang total dari seseorang, yang berakar pada hubungan yang benar dengan diri sendiri, sesama, dan Tuhan.

Ketika Kristus yang telah bangkit menampakkan diri kepada para murid, mereka dicengkeram oleh rasa takut akan “orang-orang Yahudi”. Menariknya, “orang Yahudi” ini dapat merujuk pada tiga hal: penguasa bangsa Yahudi, Yesus sendiri, karena dia seorang Yahudi, dan bahkan para murid sendiri karena mereka juga adalah orang Yahudi. Mereka takut kepada para penatua bangsa Yahudi yang telah membunuh Yesus, karena mereka tahu bahwa mereka bisa saja menjadi korban berikutnya. Mereka takut kepada Yesus, mengingat kegagalan mereka sebagai murid: pengkhianatan Yudas, penyangkalan Petrus, dan mereka yang lari dan bersembunyi. Akankah Dia sekarang menghukum mereka? Dan mereka takut akan diri mereka sendiri: mereka merasa tidak layak dan tidak mampu menjadi murid; mereka tidak layak menerima kerahiman dan pengampunan Yesus; mereka hancur karena dosa. Mereka takut akan hidup dan masa depan mereka sendiri.

Namun, kata-kata Yesus menembus rasa takut mereka: “Damai bagi kamu.” Ini bukanlah sapaan biasa. Ini adalah sebuah berkat dan peneguhan ilahi. Mereka tidak perlu takut kepada penguasa, karena jika mereka tidak dapat menghentikan Yesus, mereka tidak dapat menghentikan para pengikut-Nya. Mereka tidak perlu takut kepada Yesus, karena Ia datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk berbelas kasihan dan mengampuni kelemahan mereka. Ketika Ia mengulangi, “Damai sejahtera bagi kamu,” dan menambahkan, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikianlah Aku mengutus kamu,” Ia menegaskan panggilan mereka terlepas dari kekurangan mereka. Yesus meyakinkan mereka sekali lagi bahwa meskipun mereka tidak layak, mereka tetap terpilih, dan meskipun mereka lemah dan gagal, rahmat Allah cukup untuk menyempurnakan apa yang kurang dari mereka. 

Damai yang sejati hanya mengalir dari Kristus yang telah bangkit, sebuah rahmat yang mendamaikan kita dengan Allah, menyembuhkan hubungan kita, dan menghapus rasa takut di dalam diri kita.  Kita tahu bahwa kita adalah orang berdosa, namun kita telah ditebus sehingga kita berada dalam damai dengan Allah. Kita tahu bahwa kita sering kali memiliki hubungan yang sulit dengan sesama, tetapi kita diundang untuk memohon belas kasihan dan berbelas kasihan kepada sesama. Kita sadar bahwa kita lemah dan tidak mampu untuk mengasihi Allah dan sesama, tetapi rahmat Allah cukup untuk melengkapi apa yang kurang dari diri kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah ada damai dalam hidup kita? Apa yang kita takuti? Apakah kita memiliki kedamaian dengan Allah? Apakah kita memiliki kedamaian dengan sesama kita? Apakah kita memiliki damai dengan diri kita sendiri? Hal-hal apa saja yang membuat kita gagal mencapai shalom?

`

Salib dan Pohon Kehidupan

Minggu Paskah [C]

20 April 2025

Yohanes 20:1-9

Beberapa Bapa Gereja, seperti Santo Efremus dari Siria, Santo Ambrosius, dan Santo Yohanes Krisostomus, melihat Salib Yesus sebagai Pohon Kehidupan yang baru. Pohon Kehidupan pertama kali muncul dalam Kejadian 2:9, di mana Allah menanamnya di tengah-tengah Taman Eden di samping Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan yang Jahat. Meskipun Alkitab tidak menjelaskan lebih lanjut, penempatan Pohon Kehidupan di tengah-tengah mengisyaratkan maknanya yang mendalam. Sama seperti memakan buah dari pohon terlarang akan membawa kematian, menyantap buah dari Pohon Kehidupan akan memberikan hidup kekal dan persekutuan dengan Tuhan.

Adam, Hawa, dan keturunan mereka dapat hidup selamanya bersama Allah, jika saja mereka memilih Pohon Kehidupan daripada Pohon Pengetahuan. Tragisnya, mereka memilih ketidaktaatan, sehingga membawa kematian atas diri mereka sendiri dan seluruh umat manusia. Diusir dari Eden, mereka terpisah dari Pohon Kehidupan yang dijaga oleh malaikat kerubim (Kej 3:24). Tanpa pohon itu, umat manusia berjalan menuju binasa.

Namun, kita bukannya tanpa pengharapan. Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Dia memberikan Putra-Nya yang tunggal (Yoh 3:16), dan Yesus, pada gilirannya, mengasihi kita “sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1), menyerahkan hidup-Nya agar kita “mempunyai hidup dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Bagi Yesus, Salib bukanlah sebuah takdir yang tak terhindarkan, melainkan sebuah pilihan bebas untuk mengasihi. Meskipun penyaliban adalah kematian yang brutal dan memalukan, Kristus mengubah Pohon Terkutuk ini menjadi Pohon Kehidupan yang kudus. Dia mengajarkan kepada kita bahwa dengan memeluk salib kita sendiri, dan juga menyatukannya dengan salib-Nya, kita akan menemukan kehidupan yang penuh dan kebangkitan yang sejati.

Salib sejatinya adalah sebuah kenyataan dalam hidup kita yang membawa penderitaan. Salib terwujud dalam dua bentuk. Salib jenis pertama adalah penderitaan yang tidak dapat dihindari. Ini adalah cobaan yang tidak kita pilih: pengkhianatan, penyakit, pergumulan keuangan, atau ketidakadilan. Pada saat-saat seperti ini, kita memohon rahmat kepada Tuhan untuk bertahan, mempersembahkan penderitaan kita dalam persatuan dengan Salib Kristus sehingga dapat menghasilkan buah-buah rohani.

Jenis Salib yang kedua adalah penderitaan yang lahir dari kasih. Ini muncul dari komitmen dan pengorbanan kita. Contoh yang baik adalah seorang ibu yang berkomitmen untuk mengasihi bayinya yang masih kecil. Dalam prosesnya, ia akan kehilangan waktu, tenaga, dan sumber daya lainnya. Membesarkan dan melindungi anak kecilnya secara fisik dan mental sangat melelahkan. Ia juga kehilangan kesempatan untuk hidup lebih bebas, mendapatkan lebih banyak uang, atau lebih menikmati hidup. Secara lahiriah, ia memikul salibnya, tetapi jauh di dalam dirinya, ia tahu bahwa ia hidup berkelimpahan dan menemukan makna yang lebih dalam di hidupnya, lebih dari yang dapat ditawarkan oleh dunia. Salibnya menjadi pohon kehidupan bagi anaknya. Itulah kebangkitan yang sejati.

Selamat Paskah!

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apa saja salib-salib jenis pertama kita? Bagaimana kita menghadapinya? Apa saja salib jenis kedua kita? Bagaimanakah salib-salib itu membawa kehidupan bagi orang lain? Apakah salib kita, yang dipikul dengan kasih, menjadi Pohon Kehidupan bagi orang-orang di sekitar kita?

Yesus, Bukan Raja Biasa

Minggu Palma Sengsara Tuhan

13 April 2025

Lukas 19:28-40 dan Lukas 22:14-23:56

Minggu Palma adalah salah satu perayaan liturgi yang paling unik dalam Gereja karena memberikan dua bacaan Injil: Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Raja (Lukas 19:28-40) dan kisah Sengsara Kristus (Lukas 22:14-23:56). Bacaan-bacaan ini bukan kebetulan ada, tetapi Gereja mendampingkan keduanya untuk mengungkapkan hubungan yang mendalam antara kedua bacaan ini. Namun, apakah hubungan ini?

Injil pertama menggambarkan Yesus memasuki Yerusalem, kota Raja Daud dan para penggantinya. Para murid-Nya mengikuti-Nya sementara penduduk Yerusalem menyambut-Nya, menyatakan Dia sebagai raja. Namun Injil ini menjelaskan bahwa Yesus bukanlah seorang penguasa duniawi biasa. Dia bukanlah seorang raja yang berkuasa secara militer dengan menunggang kuda perang, tetapi seorang raja yang rendah hati dan cinta damai dengan menunggang keledai. Dia datang dalam nama Tuhan – tidak melalui garis keturunan kerajaan, sistem politik modern, atau tipu daya. Dia memerintah bukan atas satu bangsa, tetapi atas semua ciptaan, bahkan “batu-batu akan berseru” untuk menyatakan kerajaan-Nya.

Injil kedua, kisah Sengsara, lebih jauh mengungkapkan Kristus sebagai Raja. Dia tidak memerintah dengan kekerasan tetapi merangkulnya dan mengakhirinya di kayu salib. Kerajaan-Nya beroperasi bukan melalui teror tetapi melalui hukum kasih, mengorbankan diri-Nya sendiri agar umat-Nya dapat ditebus dari dosa dan kemudian hidup.

Saat kita memasuki Pekan Suci, kita diundang untuk memeriksa identitas kita sebagai umat kerajaan Allah. Apakah kita mengasihi Raja kita atau takut akan Dia? Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Dia, kita harus belajar untuk semakin menyerupai Dia dan juga mengasihi seperti Dia mengasihi. Selama dua ribu tahun, banyak sekali martir yang mengikuti teladan Kristus hingga mati. Bahkan saat ini di abad ke-21, umat Kristiani terus menghadapi penganiayaan: Para imam di Nigeria diculik dan dibunuh; komunitas Kristiani di Suriah diserang dan diusir; juga meningkatnya permusuhan anti-Kristen di Israel.

Banyak dari kita yang hidup di tempat di mana iman dapat diekspresikan dengan bebas, namun lingkungan ini menghadirkan bahaya yang berbeda – materialisme, rasa puas diri, atau kepengecutan dalam bersaksi tentang Kristus. Kita tergoda untuk memprioritaskan diri sendiri di atas Tuhan, untuk mencintai diri kita sendiri daripada Yesus.

Kita bisa belajar dari teladan St. Katarina Siena. Pada masanya, paus lebih memilih tinggal di Avignon, Perancis daripada di Roma karena ia takut berurusan dengan orang-orang yang menentangnya di sana. Namun, alih-alih menjadi pemimpin dalam iman dan teladan moral, paus lebih banyak melibatkan diri dalam politik. Maka, St. Katarina dengan berani pergi ke Avignon dan menghadapi Gregorius XI, mendesaknya untuk kembali, “Jika Anda mati di Roma, anda mati sebagai seorang martir – tetapi jika anda tetap di sini, anda mati sebagai seorang pengecut.” Tindakannya mengalir dari cinta yang radikal kepada Kristus Sang Raja.

Jika Yesus adalah Raja kita, bagaimana kita harus mengikuti-Nya?

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus sebagai Raja kita? Bagaimanakah kasih kita kepada Kristus diwujudkan secara praktis? Apakah kita siap untuk menyatakan iman kita dalam lingkungan yang penuh tantangan? Apakah kita mau berkorban untuk orang lain karena kasih kita kepada Yesus? Apakah kita siap untuk menanggung penderitaan sebagai orang Kristen?

Kasih dan Pengkhianatan

Minggu Prapaskah ke-5 [C]

6 April 2025

Yohanes 8:1-11

Kisah perempuan yang tertangkap dalam berzina merupakan kisah yang sering muncul pada masa Prapaskah, terutama pada Tahun C. Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah ini?

Sekilas, kisah ini tampak sederhana, namun mengandung pelajaran yang sangat dalam yang perlu kita gali. Meskipun kita sering mengaitkannya dengan belas kasih dan pengampunan Allah, yang tentunya benar, ada hal yang lebih dalam dari sekadar apa yang terlihat. Dalam Alkitab, perzinaan bukan hanya merupakan dosa besar; perzinaan juga merupakan metafora untuk penyembahan berhala, sebuah pengkhianatan rohani yang paling berat. Nabi Hosea, misalnya, dipanggil untuk menikahi seorang wanita yang tidak setia untuk melambangkan relasi Allah yang setia dengan Israel yang tidak setia (Hosea 1-3). Yehezkiel mengutuk Yerusalem dan Samaria sebagai “saudara perempuan yang berzina” karena mengejar ilah-ilah asing (Yehezkiel 23:30). Demikian pula, dalam Perjanjian Baru, Yakobus menegur mereka yang memprioritaskan “persahabatan” duniawi di atas Tuhan, dengan menyebut mereka sebagai “pezina”. (Yakobus 4:4).

Hubungan antara perzinaan dan penyembahan berhala mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan. Dia tidak menciptakan kita sebagai budak yang dikendalikan oleh rasa takut atau sebagai robot yang tidak berpikiran yang terikat oleh program. Sebaliknya, Dia menciptakan kita sebagai orang yang bebas dan mampu mengasihi, yang menginginkan sebuah relasi kasih dengan kita; hubungan yang dibangun di atas pengabdian dan bukan kewajiban. Dalam istilah mistik, Tuhan mengundang kita untuk menjadi kekasih rohani-Nya, yang berarti kita mengasihi-Nya di atas segalanya dan melayani Dia bukan karena takut, tetapi karena cinta yang dalam dan tulus.

Salah satu orang kudus yang paling awal berbicara tentang “perkawinan rohani” ini adalah St. Katarina dari Siena. Pada usia enam tahun, ia menyatakan dirinya sebagai mempelai Kristus, menolak pernikahan duniawi untuk mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Yesus. Pada usia 20 tahun, dia mengalami pernikahan rohani dengan Kristus. Dan cintanya yang luar biasa menyatukannya secara mendalam dengan Kristus sampai-sampai ia ikut merasakan luka-luka-Nya. Dia menerima stigmata sekitar lima tahun sebelum dia meninggal dunia.

Gereja secara terus-menerus mengajarkan bahwa kita, secara kolektif, adalah Mempelai Kristus. Sama seperti Hawa yang dibentuk dari sisi Adam ketika dia tidur, Gereja lahir dari sisi Yesus yang tertusuk di kayu salib. Melalui pembaptisan, kita dilahirkan kembali sebagai anggota Gereja-Nya, yakni Kekasih-Nya. Melalui Ekaristi, kita dipelihara dan ditopang oleh Tubuh dan Darah-Nya. Oleh karena itu, kasih kita kepada Allah haruslah melebihi segala sesuatu yang lain, dan bahkan kasih kita kepada keluarga dan teman-teman haruslah mengalir dari kasih kita kepada Kristus.

Inilah sebabnya mengapa lebih mengutamakan sesuatu yang lain di atas Tuhan merupakan perzinaan rohani. Kisah Yesus yang mengampuni perempuan yang berzina menggambarkan kasih dan kerahiman Allah yang tak tergoyahkan dan juga ketidaksetiaan kita. Masa Prapaskah memanggil kita kembali kepada cinta kita yang pertama dan yang paling sejati; satu-satunya cinta yang membawa kebahagiaan abadi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita berelasi dengan Allah – sebagai seorang hamba yang taat kepada tuannya, atau sebagai seorang kekasih yang merespon Cinta-Nya? Apakah kita mengasihi Allah di atas segalanya? Apakah kita mengasihi orang lain demi Tuhan? Keterikatan tidak sehat apa terhadap dunia yang perlu kita periksa? Bagaimana kita dapat kembali kepada cinta sejati kita?

Kisah Seorang Ayah

Minggu ke-4 Masa Prapaskah [C]

30 Maret 2025

Lukas 15:1-3, 11-32

Kisah Anak yang Hilang adalah salah satu perumpamaan yang paling indah dalam Injil. Tidak hanya diceritakan dengan indah, tetapi juga mengajarkan pelajaran yang mendalam – terutama tentang menjadi orang tua.

Membesarkan anak bukanlah tugas yang mudah. Setiap anak memiliki kepribadian yang unik, dan masing-masing dapat membawa sukacita, namun juga sakit hati. Banyak dari kita yang bergulat menjadi orang tua yang baik. Beberapa mengandalkan kebijaksanaan yang diturunkan dari orang tua kita dan orang sekitar kita, atau  dari pengalaman dan memori bagaimana kita dibesarkan. Sebagian lagi beralih ke media sosial atau influencers yang menyebut diri sebagai “pakar parenting.”  Beberapa orang melakukan langkah lebih jauh dengan berkonsultasi dengan spesialis yang sebenarnya, seperti dokter anak, psikiater dan psikolog anak, dan pendidik. Namun, pada akhirnya, anak-anak kita bukanlah fotokopi dari diri kita. Akan selalu ada kejutan-kejutan di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa dan berharap mereka tumbuh menjadi diri mereka yang terbaik.

Sang ayah dalam perumpamaan ini memberikan teladan yang baik kepada kita. Meskipun telah melakukan yang terbaik untuk membesarkan kedua putranya, dia menghadapi relasi yang menyakitkan dengan keduanya. Anak bungsunya menuntut warisannya, memutuskan hubungan, dan pergi untuk menjalani kehidupan yang penuh dosa. Bayangkan betapa hancurnya hati sang ayah karena putranya memperlakukannya sebagai barang yang bisa dibuang, bukan sebagai orang tua. Anak sulungnya juga tidak lebih baik. Ketika adiknya kembali, dia menolak untuk masuk ke rumah dan bergabung dalam perayaan. Dia tidak pernah memanggil ayahnya dengan sebutan “Ayah,” dan memanggil saudaranya dengan sebutan “anakmu” daripada “saudaraku.” Dia melihat dirinya bukan sebagai anak tetapi sebagai hamba, bahkan berkata, “Lihat! Selama ini saya telah bekerja untukmu seperti seorang budak!” Sekali lagi, hati sang ayah pasti hancur karena ia telah membesarkan seorang anak, bukan seorang budak.

Namun, terlepas dari semua pergulatan ini, sang ayah tidak pernah menyerah. Dia tidak pernah berhenti berharap anak-anaknya kembali. Ketika anak yang hilang itu pulang dan berharap untuk menjadi seorang hamba, sang ayah adalah orang pertama yang melihat anaknya, berlari mengejarnya, dan memeluknya. Dia memanggilnya “anakku” dan bukan hamba. Ketika anak pertama menolak untuk pulang, sang ayah mencarinya dan memohon kepadanya, memanggilnya “anakku” dan bukan hamba, menjelaskan bahwa semua yang dia miliki, adalah juga milik anaknya.

Banyak dari kita yang dikaruniai anak tetapi mengalami hubungan yang tidak selalu sempurna. Terlepas dari upaya terbaik kita, anak-anak kita mungkin tidak menjadi seperti yang kita harapkan. Beberapa, seperti anak bungsu, menolak cinta kita atau berharap kita pergi. Yang lainnya, seperti anak sulung, melihat kita sebagai bos atau atasan, bukan sebagai orang tua. Namun, perumpamaan ini memanggil kita untuk mengasihi dengan tekun, dan sampai akhir. Itulah orang tua yang sejati. Itulah kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita membesarkan anak-anak kita dengan baik? Bagaimana hubungan kita dengan mereka? Apakah kita menghadapi kesulitan dalam berhubungan dengan anak-anak kita? Bagaimana kita menanggapi tantangan-tantangan ini? Apakah kita mengandalkan kasih karunia Allah untuk membimbing kita?

Musa

Minggu ke-3 Masa Prapaskah [C]

23 Maret 2025

Keluaran 3:1-8a, 13-15

Musa adalah salah satu tokoh terbesar dalam Perjanjian Lama. Ia memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir, menjadi perantara perjanjian Sinai, mengajarkan hukum-hukum Allah, dan bahkan melakukan mukjizat. Kehidupan dan ajarannya dicatat dalam empat kitab: Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Namun, ketika kita melihat lebih dalam ke dalam kehidupannya, kita menemukan bahwa kisahnya tidak selalu tentang kehebatan dan kesuksesan. Musa juga memiliki masa lalu yang kelam.

Musa dilahirkan sebagai suku Lewi pada saat Mesir memerintahkan pembunuhan terhadap semua bayi laki-laki Ibrani. Untuk menyelamatkannya, ibunya menyusun rencana untuk menempatkannya di dalam keranjang di Sungai Nil, di mana ia ditemukan oleh seorang putri Firaun. Putri itu menariknya dari air dan menamainya “Musa” (Kel 2:10). Meskipun lahir sebagai orang Israel, Musa diadopsi oleh sang putri dan dibesarkan sebagai bagian dari keluarga kerajaan, menikmati hak-hak istimewa yang disediakan untuk bangsawan Mesir.

Kisah Musa mungkin saja memiliki “akhir yang bahagia” seandainya ia tidak melibatkan dirinya dalam penderitaan para budak Ibrani. Dia bisa saja hidup dengan nyaman sebagai seorang pejabat Mesir, menikahi seorang wanita Mesir, membesarkan sebuah keluarga, dan menikmati masa tua yang berkelimpahan. Namun, dia tidak bisa mengabaikan ketidakadilan yang menimpa bangsanya. Dalam sebuah momen kemarahan, dia membunuh seorang Mesir yang menindas seorang Israel. Musa percaya bahwa dia telah menyembunyikan kejahatannya, tetapi dia salah. Ketika dia mencoba menengahi perselisihan antara dua orang Israel, mereka justru membongkar rahasianya, mengekspos dia sebagai seorang pembunuh. Kehidupannya yang nyaman hancur, dan dia terpaksa melarikan diri dari Mesir. Setelah ditarik dari air, Musa kini menemukan dirinya tenggelam dalam keputusasaan.

Di Midian, Musa memulai hidup baru. Dia melindungi anak perempuan seorang imam Midian dari gangguan para gembala, dan sebagai tanda terima kasih, imam itu menyambutnya dan memberikan putrinya, Zippora sebagai istri Musa. Hal ini menandai kehidupan Musa yang kedua. Meskipun tidak semewah kehidupannya di Mesir, namun kehidupan Musa di sana terasa tenang. Namun, ketika Musa berusia sekitar 80 tahun, Tuhan menampakkan diri kepadanya di semak yang menyala dan memanggilnya untuk menjadi alat-Nya dalam membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Musa sangat meragukan dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang pembunuh dan buronan yang telah mengkhianati kebaikan hati orang Mesir, dan juga tidak mempercayai rekan-rekannya sesama orang Israel. Dia juga sudah tua dan puas dengan kehidupannya di Midian.

Terlepas dari masa lalu Musa yang kelam dan penuh dosa, dan juga penuh keraguannya, Allah tetap memilihnya. Mengapa? Karena kisah Musa pada akhirnya bukanlah tentang Musa, melainkan tentang Allah, yang menebus Israel melalui seorang manusia yang tidak sempurna dan rapuh. Namun, Musa bukanlah sekadar alat. Ketika ia melakukan perjalanan bersama Tuhan, ia juga menemukan penebusannya sendiri.

Seperti Musa, kita juga jauh dari sempurna. Kita lemah dan bergumul dengan dosa dan keterikatan yang tidak teratur. Kita gagal sebagai orang tua, pasangan, anak, dan teman. Kita menyakiti orang lain dan diri kita sendiri. Kita meragukan diri kita sendiri dan sering kali merasa kurang. Namun, Tuhan tetap memilih kita. Dia ingin kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri dan mengundang kita untuk berjalan bersama-Nya untuk menemukan penebusan. Pada akhirnya, kita hanya dapat bersyukur, karena terlepas dari kehancuran dan ketidaksempurnaan kita, Tuhan menjadikan kita indah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Nilai apa yang kita temukan saat kita mengingat cerita tentang Musa?  Apakah kita memiliki kesamaan dengan Musa? Jika ya, apakah itu? Apakah kita memiliki masa lalu yang kelam seperti Musa? Apakah kita mengalami kegagalan seperti Musa? Apakah kita meragukan rencana Allah bagi kita, seperti Musa? Apa yang dapat kita pelajari dari Musa ketika ia menerima panggilan Allah? 

Transfigurasi dan Kemah

Hari Minggu Prapaskah ke-2 [C]

16 Maret 2025

Lukas 9:28b-36

Minggu Prapaskah kedua memberikan kita kisah Transfigurasi, di mana Yesus digambarkan memancarkan cahaya, menjadi terang itu sendiri. Dua tokoh terbesar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia, muncul dan bercakap-cakap dengan Yesus. Kemudian, Petrus mengajukan tawaran yang menarik kepada Yesus: sebuah kemah. Tetapi mengapa Petrus tiba-tiba menawarkan sebuah kemah?

Alasan yang praktis adalah karena Yesus dan murid-murid-Nya berencana untuk berdoa di atas gunung, dan mereka mungkin perlu tinggal di gunung untuk waktu yang lebih lama. Mengetahui hal ini, mungkin saja Yesus telah meminta ketiga murid-Nya untuk membawa kemah. Oleh karena itu, tawaran Petrus seharusnya tidak mengejutkan kita, karena kemungkinan besar mereka telah mempersiapkan kemah. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa kemah-kemah itu sekarang ditujukan untuk Musa dan Elia, bukan untuk para murid. Namun, adakah makna yang lebih dalam dari tawaran ini, yang lebih dari sekadar memperpanjang masa tinggal mereka di gunung?

Kemah adalah tempat tinggal sementara dan portabel, biasanya digunakan saat bepergian. Pada zaman dahulu, orang melakukan perjalanan untuk berbagai alasan, termasuk perdagangan, militer, dan ziarah. Pada masa itu, mereka tidak memiliki bus, mobil, atau pesawat terbang. Perjalanan darat sebagian besar dilakukan dengan berjalan kaki, dan para pejalan sering kali perlu beristirahat, terutama ketika jauh dari kota atau desa terdekat. Dalam keadaan seperti itu, kemah adalah sebuah kebutuhan.

Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel melakukan perjalanan dari Mesir ke Kanaan dan menghabiskan waktu kurang lebih empat puluh tahun di padang gurun, menjalani sebagian besar hidup mereka di dalam kemah. Namun, di antara semua kemah Israel, ada satu kemah khusus yang menjadi pusat perkemahan, yaitu kemah di mana Tuhan tinggal di tengah-tengah umat-Nya. Kemah ini secara tradisional disebut “Tabernakel”. Kata “tabernakel” sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti “kemah.” Dalam bahasa Ibrani, kemah Tuhan ini disebut מִשְׁכָּן (miškān), yang secara harfiah berarti “tempat tinggal” dan berasal dari akar kata שָׁכַן (šākan), yang berarti “hadir; tinggal”. Dari akar kata ini, kita mendapatkan kata Shekinah (שְׁכִינָה), yang berarti “Kehadiran” – kehadiran Allah di antara umat-Nya. Allah memilih untuk tinggal di dalam Kemah Suci agar Dia dapat berjalan di antara umat-Nya, dan bangsa Israel dapat mendekat kepada Allah mereka.

Sekarang, kembali ke Injil, tampaknya Yesus menolak tawaran Petrus untuk mendirikan kemah, tetapi pada kenyataannya, Dia hanya menundanya. Yesus tahu bahwa suatu hari nanti, Dia memang akan tinggal di dalam kemah di antara umat-Nya. Dalam Gereja Katolik, Tuhan berjalan bersama umat-Nya sampai akhir zaman saat Dia hadir dalam Ekaristi. Kita juga memiliki sebuah “kemah”, yaitu Tabernakel, di mana Tuhan yang telah bangkit dan berdiam sementara di antara kita, yang memungkinkan kita untuk berkunjung dan dekat dengan-Nya. Namun, kita memahami bahwa kemah ini hanyalah tempat tinggal sementara; tempat tinggal-Nya yang sejati adalah di surga.

Kita juga harus ingat bahwa kita adalah peziarah di dunia ini, yang mendirikan kemah di sini untuk sementara waktu. Kita mungkin memiliki kemah yang indah dan luas, tetapi itu tetaplah kemah. Tempat tinggal kita di dunia ini hanya sementara, dan kita tidak boleh memperlakukan tempat tinggal sementara ini sebagai rumah kita yang kekal dan permanen. Rumah kita yang sejati adalah bersama Tuhan di surga.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita menyadari bahwa kita hanyalah peziarah di bumi ini? Bagaimana kita mempersiapkan diri kita untuk mencapai rumah kita yang sejati? Apakah kita mengunjungi Tuhan di dalam kemah-Nya? Bagaimana kita menerima Tuhan ke dalam “kemah” kita?

Roh Kudus dan Padang Gurun

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [C]
9 Maret 2025
Lukas 4:1-13

Ketika kita memulai masa Prapaskah, kita sekali lagi diajak untuk merenungkan kisah Yesus yang diuji di padang gurun selama empat puluh hari. Namun, Injil Lukas memberikan detail yang menarik: Roh Kuduslah yang membawa Yesus ke padang gurun, tempat di mana Ia berpuasa dan menghadapi si jahat. Apa artinya ini?

Dengan membawa Yesus ke padang gurun selama empat puluh hari, Roh Allah bermaksud agar Yesus menghidupkan kembali peristiwa penting dalam Perjanjian Lama, yaitu perjalanan bangsa Israel di padang gurun. Seperti bangsa Israel, Yesus juga menghadapi tantangan dan kesulitan. Cuaca padang gurun yang sangat keras, dengan panas yang menyengat di siang hari dan dingin yang menusuk tulang di malam hari. Makanan dan air sangat langka, dan padang gurun merupakan rumah bagi binatang-binatang buas yang mengancam kehidupan manusia. Yesus menghidupkan kembali pengalaman bangsa Israel, yang mengalami kondisi yang sama sulitnya. Tetapi selain itu, Iblis melihat kesempatan untuk mencobai Yesus, karena ia tahu bahwa Dia sedang lapar dan lemah secara badani. Ini adalah roh jahat yang sama yang mencobai bangsa Israel di padang gurun. Lukas mengungkapkan tiga pencobaan yang dihadapi Yesus: kenikmatan jasmani (membuat roti), kekayaan duniawi (asal menyembah setan), dan kemuliaan pribadi (dengan mempertunjukkan mukjizat di tempat umum).

Bangsa Israel di padang gurun menghadapi tiga godaan yang sama. Ketika mereka lapar dan haus, mereka bersungut-sungut kepada Allah, bahkan menyalahkan-Nya karena telah membebaskan mereka dari Mesir (Kel. 16). Ketika Musa berdoa di atas gunung, orang Israel menuntut ilah baru, menggantikan Allah yang hidup dengan anak lembu emas-sesuatu yang secara materi berharga dan menarik, tetapi pada akhirnya tidak bernyawa (Kel. 32). Beberapa orang Israel, yang dipenuhi dengan kesombongan, mencari kemuliaan untuk diri mereka sendiri. Harun dan Miryam mencoba mengklaim kepemimpinan atas Musa (Bil. 12), sementara Korah dan para pengikutnya berusaha merebut posisi imam besar (Bil. 16). Dengan memasuki padang gurun dan menghidupkan kembali peristiwa ini, Yesus menjadi Israel yang baru dan sempurna. Secara fisik Dia lemah, diuji, dan dicobai, tetapi Dia tidak jatuh. Dia bahkan mengalahkan Iblis dalam peperangan rohani yang pertama ini.

Injil mengatakan bahwa Yesus dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun, di mana Dia “dicobai” oleh Iblis. Apakah ini berarti bahwa adalah kehendak Allah untuk “mencobai” Yesus? Kata Yunani yang digunakan di sini adalah “πειράζειν” (peiratsein), yang dapat diterjemahkan sebagai “menggoda”, tetapi juga “menguji”. “Menggoda” dan “menguji” ini bukan sinonim, tetapi keduanya berkaitan erat karena saat pengujian sering kali mencakup kesempatan untuk godaan. Sama seperti dalam ujian sekolah, kita mungkin merasakan godaan untuk berbuat curang.

Injil mengajarkan kita bahwa Tuhan, dalam hikmat-Nya yang tak terbatas, tidak selalu melindungi kita dari masa-masa sulit, tetapi mengizinkan kita untuk menghadapi ujian hidup. Ujian-ujian ini, seperti kelaparan, masalah keuangan, penyakit, dan relasi yang sulit, sering kali digunakan oleh roh-roh jahat untuk menggoda kita untuk mencuri, menipu, tidak setia, dan menyalahkan Tuhan. Namun, kita harus ingat bahwa Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus ketika Dia memasuki padang gurun. Satu-satunya cara untuk bertahan dalam ujian hidup dan melindungi diri kita dari godaan adalah dengan mengandalkan Roh Kudus. Ketika kita mengandalkan diri sendiri, kita pasti akan gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita akan menang, seperti Yesus.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:
Apa saja pengalaman padang gurun kita? Ujian apa yang perlu kita hadapi dalam hidup? Godaan apa yang sering kita hadapi? Apakah kita mengandalkan Roh Kudus di masa-masa sulit ini? Bagaimana kita dapat lebih mengandalkan Tuhan? Hikmat apa yang kita peroleh setelah mengalami pencobaan?