Kekudusan dan Kerahiman

Minggu ke-2 Paskah – Kerahiman Ilahi [B]

7 April 2024

Yohanes 20:19-31

Hari Minggu kedua Paskah juga dikenal sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Meskipun perayaan ini relatif baru (Paus Yohanes Paulus II menetapkan perayaan ini pada tanggal 30 April 2000), kebenaran tentang kerahiman (belas kasih) ilahi adalah bagian penting dari karakteristik Allah yang diwahyukan dalam Alkitab.  Bagaimana kita memahami kerahiman ilahi?

Kerahiman dalam bahasa Ibrani berkaitan dengan kata ‘rahamim’, yang berakar dari kata ‘Rahim’ yang berarti ‘kandungan’. Dengan demikian, ‘rahamim’ menyiratkan perasaan dan sikap alamiah seorang ibu terhadap anak-anaknya. Ibu yang baik tetap menerima dan mencintai anak-anaknya, terlepas dari sikap keras kepala dan rasa sakit yang mereka berikan kepada sang ibu. Beberapa ibu bahkan tidak akan ragu untuk mengorbankan diri mereka sendiri demi kehidupan anak-anak mereka.

Perspektif lain untuk memahami belas kasih adalah hubungannya yang tak terpisahkan dengan keadilan. Definisi sederhana keadilan adalah ‘memberikan seseorang apa yang menjadi haknya’, sedangkan kerahiman adalah memberikan sesuatu yang bukan haknya (secara positif). Ayah yang baik umumnya mencontohkan hal ini. Seorang bapa adalah figur keadilan dalam keluarga. Ia menerapkan disiplin kepada anak-anaknya, dan terkadang memberikan hukuman jika anak-anaknya tidak berperilaku baik. Namun, seorang ayah yang baik tahu bahwa keadilan yang ia tegakkan juga merupakan sebuah tindakan kerahiman. Selain karena disiplin yang diterapkan bapa cenderung lebih lembut, pendidikan yang tegas sebenarnya merupakan bentuk kerahiman yang membentuk karakter anak-anaknya. Kegagalan dalam menegakkan keadilan dapat berakibat pada karakter buruk anak-anaknya, dan kepribadian yang buruk tidak akan baik untuk masa depan anak. Dengan demikian, keadilan dalam perspektif yang lebih luas adalah kerahiman.

Mendalami belas kasih ilahi dalam Alkitab, kita juga menemukan hubungan yang erat antara belas kasih dan kekudusan. Di Sinai, Allah memerintahkan bangsa Israel yang baru saja dibentuk untuk menjadi kudus sebagaimana Allah itu kudus (lihat Im. 11:44-45; 19:2; 20:26). Bagaimana menjadi kudus seperti Allah? Di Sinai, Allah memberikan hukum-hukum-Nya untuk Israel. Hukum-hukum ini membentuk Israel sebagai bangsa Allah, dan dengan menaati hukum-hukum ini, mereka memisahkan diri mereka dari bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, untuk menjadi kudus, terpisah dari yang lain dan untuk Tuhan, bangsa Israel harus menaati hukum-hukum yang diberikan Tuhan.

Namun, dalam Injil Lukas, Yesus mengajarkan, “Hendaklah kamu berbelaskasihan seperti Bapamu berbelaskasihan (Luk 6:36).” Yesus dengan sengaja menerjemahkan kekudusan menjadi belas kasihan. Dalam Lukas 6, Yesus mengajarkan sabda bahagia dan membuat hukum baru seperti yang dilakukan Tuhan di Sinai. Namun, hukum-hukum Yesus bukan untuk membuat para murid-Nya ‘terpisah secara eksklusif’ dari orang lain, melainkan untuk menyentuh orang lain dengan tindakan belas kasih. Kekudusan tentu saja adalah pemisahan diri dari dosa dan untuk Tuhan, tetapi menjadi kudus juga berarti berbelas kasih. Kekudusan adalah memungkinkan sesama untuk mengalami belas kasihan ilahi melalui kita. Dan ketika sesama kita tersentuh oleh belas kasihan, mereka dapat menjadi lebih dekat dengan Allah.

Bagaimana kita mengalami kerahiman ilahi dalam hidup kita? Bagaimana kita mengungkapkan belas kasih kepada orang lain? Apakah kita melakukan keadilan sebagai dasar belas kasih kita? Apakah tindakan belas kasihan kita membawa kita lebih dekat kepada Allah?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perjanjian Baru

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [B]

17 Maret 2024

Yeremia 31:31-34

Dalam Alkitab, kata perjanjian memiliki arti khusus (dalam bahasa Ibrani בְּרִית (Berit), dalam bahasa Yunani διαθήκη (diatheke), dan bahasa inggris covenant). Ini adalah sebuah ikatan yang dibuat antara individu, keluarga, suku atau bangsa. Perjanjian ini biasanya digunakan untuk mengikat raja yang lebih berkuasa dan raja-raja yang tunduk padanya. Raja tertinggi berkewajiban untuk memberikan perlindungan saat dibutuhkan, sementara raja bawahan harus setia dan membayar upeti. Pada tingkat individu, perjanjian membentuk ikatan kekeluargaan. Mereka menjadi saudara, dan dengan demikian, mereka harus saling melindungi dan membantu. Atau, ketika perjanjian itu melibatkan pria dan wanita, mereka menjadi suami dan istri, sebuah keluarga baru.

Meskipun perjanjian adalah sebuah realitas yang kompleks dan bahkan masih diperdebatkan oleh para ahli, satu hal yang pasti: perjanjian adalah sebuah kesepakatan tentang ‘pertukaran orang’ dan bukan ‘pertukaran barang’. Sebuah perubahan radikal dari identitas terjadi pada mereka yang masuk ke dalam perjanjian. 

Istilah perjanjian adalah kunci untuk memahami Alkitab karena Allah mengambil inisiatif untuk mengikatkan diri-Nya dengan Israel melalui perjanjian. Ada beberapa momen di mana Tuhan membentuk perjanjian dengan Israel, tetapi yang paling terkenal adalah perjanjian di Gunung Sinai melalui perantaraan Musa. Tuhan berfirman, “Jadi, sekarang, jika kamu mendengarkan suara-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi milik kepunyaan-Ku sendiri di antara segala bangsa, sebab seluruh bumi ini adalah kepunyaan-Ku, dan kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus (Kel. 19:5-6).”

Perjanjian tersebut menjadikan Israel sebagai sebuah bangsa di bawah kepemimpinan Allah. Dengan demikian, orang Israel, sebagai warga dari bangsa Allah, harus taat dan setia kepada satu Allah saja, yaitu Tuhan, dan mengikuti hukum-hukum-Nya. Namun, perjanjian tersebut tidak hanya membentuk hubungan raja-rakyat tetapi juga keluarga. Sering kali, orang Israel disebut sebagai ‘anak-anak Allah’ (lihat Kel. 4:22 dan Ul. 14:1). Dan yang lebih menarik lagi adalah bahwa hubungan pernikahan juga terjalin melalui perjanjian ini. Nabi Hosea menggambarkan hubungan antara Tuhan dan bangsa Israel sebagai suami dan istri.

Nabi Yeremia menubuatkan bahwa akan ada perjanjian yang baru (Yer. 31:31, bacaan pertama). Hal ini digenapi di dalam Yesus Kristus. Pada perjamuan terakhir, Yesus berkata, “Cawan yang ditumpahkan bagi kamu ini adalah perjanjian baru dalam darah-Ku (Luk 22:20).” Salah satu tujuan utama Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu salib adalah untuk mengesahkan perjanjian yang baru ini. Karena darah ilahi Kristus mengesahkannya, maka perjanjian tersebut bersifat kekal dan tak terhapuskan.

Yesus menawarkan kepada kita sebuah perjanjian meskipun kita tidak layak. Melalui iman dan baptisan, kita masuk ke dalam perjanjian, dan identitas kita diubahkan secara radikal. Tuhan adalah Allah kita, dan kita menjadi umat Kerajaan Allah. Namun, karena perjanjian yang sama, kita juga adalah anak-anak-Nya, dan kita memiliki hak untuk memanggil Tuhan sebagai ‘Bapa kami’. Selain itu, sebuah pernikahan telah terjalin. Gereja adalah mempelai Kristus, dan Kristus sangat mengasihi mempelai-Nya sampai memberikan hidup-Nya untuk kita. Sebagai umat perjanjian yang baru, yang terus-menerus diperbarui di dalam Ekaristi, apakah kita sudah bersikap sebagai putra-putri yang taat dan mengasihi Bapa kita? Apakah kita bertindak sebagai Gereja, sang mempelai, yang setia dan penuh kasih kepada Kristus, mempelai laki-laki kita?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman saja Cukup?

Minggu Prapaskah ke-4 [B]

10 Maret 2024

Efesus 2:4-10

Paulus menulis dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, “Sebab karena rahmat kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9, bacaan kedua). Apakah ini berarti bahwa satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah percaya? Apakah kita masih perlu ke Gereja dan melakukan tindakan amal kasih seperti yang diajarkan Gereja Katolik?

Seringkali, ajaran Katolik tentang keselamatan dipahami secara keliru sebagai ‘iman dan perbuatan’, yang berarti bahwa untuk diselamatkan, umat Katolik harus percaya kepada Tuhan dan juga melakukan berbagai perbuatan yang ditetapkan oleh Gereja, seperti menerima sakramen-sakramen dan melakukan perbuatan amal kasih. Namun, hal ini sebenarnya bukanlah ajaran otentik Gereja. Konsili Trente telah mengajarkan secara definitif bahwa “tidak ada satu pun dari hal-hal yang mendahului pembenaran, baik iman maupun perbuatan, yang layak mendapatkan rahmat pembenaran (Decree on Justification).” Rahmat Allah yang membawa kita kepada keselamatan, pengampunan dosa, dan kekudusan selalu merupakan anugerah dari Allah. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mendapatkannya.

Karena rahmat adalah sebuah anugerah, sama seperti anugerah atau hadiah lainnya, kita bisa memilih untuk menerima atau menolak anugerah tersebut. Dengan demikian, Katekismus Gereja Katolik menyatakan, “Inisiatif bebas Allah menuntut respons bebas manusia, karena Allah telah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dengan menganugerahkan kepadanya, bersama dengan kebebasan, kuasa untuk mengenal-Nya dan mengasihi-Nya (KGK 2002).” Di sinilah terletak peran iman. Iman adalah respons positif pertama kita kepada Allah, dan dengan demikian, membuka diri terhadap rahmat-Nya. Tetapi apakah itu berarti memiliki iman saja sudah cukup, dan kita cukup duduk santai dan tidak lagi melakukan apa pun?

Paulus memang mengatakan bahwa rahmat itu bukan karena perbuatan kita (ayat 9), tetapi di ayat berikutnya, Paulus menambahkan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Ef. 2:10).” Apakah Santo Paulus salah menulis? Untuk memahami hal ini, kita harus membedakan dua ‘perbuatan’ di ayat 9 dan 10. Perbuatan pertama (ayat 9) mengacu pada usaha kita untuk mendapatkan keselamatan di luar rahmat, dan ini yang sia-sia. Sementara itu, perbuatan kedua (ayat 10) menunjuk pada perbuatan baik kita di dalam rahmat, dan ini yang berkenan kepada Allah.

Ya, rahmat diberikan secara cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Rahmat bukanlah sesuatu yang statis, tetapi aktif dan dinamis. Rahmat memberi kita kemampuan untuk melakukan perbuatan baik, dan ketika kita meresponsnya dengan setia, kita bertumbuh secara rohani dan membuka diri kita untuk menerima lebih banyak rahmat. Semakin banyak perbuatan baik dalam rahmat yang kita persembahkan, semakin banyak rahmat yang kita terima, dan semakin banyak rahmat yang kita terima, semakin besar kapasitas yang kita miliki untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Ini adalah siklus kekudusan.

Jadi, kita tidak melihat keterlibatan kita dalam Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya sebagai upaya kita untuk menyuap Allah untuk mendapatkan rahmat, melainkan sebagai cara-cara kita untuk bertumbuh di dalam rahmat. Tindakan-tindakan belas kasih kita di dalam keluarga dan komunitas bukanlah perbuatan-perbuatan kita, melainkan partisipasi kita di dalam kasih Allah bagi umat-Nya. Rahmat memampukan kita berbuat baik, dan ini yang berkenan di hadapan Allah.

(Untuk pemahaman yang lebih dalam tentang rahmat, silakan baca KGK paragraf 1987-2006)

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sepuluh Perintah Allah

Minggu ke-3 Masa Prapaskah [B]

3 Maret 2024

Keluaran 20:1-17

Pada hari Minggu ini, Gereja mengajak kita untuk merenungkan Sepuluh Perintah Allah (bacaan pertama). Namun, jika kita membaca teks asli bahasa Ibrani, kita akan menemukan sesuatu yang sangat menarik. Allah tidak mengatakan bahwa Dia memberikan ‘perintah-perintah-Nya’, tetapi Dia memberikan ‘Sabda-sabda-Nya’(הַדְּבָרִ֥ים – baca: a-debarim). Mengapa Allah memilih ‘sabda’ daripada ‘perintah’? Lagi pula, isi dari sabda-Nya sebenarnya adalah tentang hukum atau perintah?

Jawaban pertama dapat kita temukan dalam kisah penciptaan (Kej. 1). Allah menciptakan dunia dan umat manusia dengan ‘sabda-Nya’, dan di Gunung Sinai, Allah membentuk Israel sebagai umat-Nya dengan hukum-hukum yang diberikan melalui ‘sabda’-Nya. Paralel ini menunjukkan kepada kita bahwa ‘hukum-hukum’ yang diturunkan di Sinai bukanlah hal yang baru, tetapi Tuhan telah menetapkannya sejak awal mula. ‘Sepuluh Perintah’ bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar, tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ciptaan dan pribadi manusia. Rancangan Allah adalah dengan menaati ‘perintah-perintah’ tersebut, bangsa Israel dapat kembali ke Eden, di mana mereka dapat menemukan kebahagiaan sejati mereka.

Jawaban kedua adalah bahwa pilihan kata ‘sabda’ dan bukan ‘perintah’ menunjukkan kodrat dari hukum-hukum yang Tuhan berikan di Sinai. Allah tidak memperlakukan bangsa Israel (dan juga kita semua) seperti budak di bawah rezim teror. Dia tidak memaksakan aturan-Nya kepada kita dan akan menghukum kita dengan keras ketika kita tidak menaati-Nya. Namun, Tuhan memperlakukan kita sebagai anak-anak-Nya yang dewasa, dan dapat dengan bebas menerima hukum-hukum ini karena kita menyadari bahwa ‘hukum-hukum’ ini memang bermanfaat bagi kita.

‘Hukum-hukum’ ini tidak dipaksakan dari luar kepada kita, tetapi berasal dari dalam diri kita. Seperti gravitasi yang bukanlah sesuatu yang ditambahkan secara eksternal tetapi merupakan bagian integral dari alam semesta, begitu juga dengan ‘sepuluh Sabda Allah’. Kita dapat menggunakan akal sehat kita untuk menemukan hukum-hukum tersebut di dalam hidup kita. Menggunakan pikiran yang jernih, kita akan setuju bahwa membunuh, mencuri, dan berzina adalah hal buruk. Dengan nalar yang benar, kita tahu bahwa menghormati orang tua kita adalah upaya yang baik. Dan, dengan pemikiran logis, kita akan menemukan Tuhan yang esa dan benar. Karena ‘hukum’ adalah bagian integral dari sifat alami kita, melanggarnya berarti kita membahayakan diri kita sendiri.

Jawaban ketiga adalah bahwa ‘sabda’ adalah media komunikasi. Sepuluh perintah Allah adalah sabda-Nya; dengan demikian, melalui sabda-Nya, kita dapat berkomunikasi dan memahami Dia dengan lebih baik. Dan, ketika kita mengenal Allah dengan lebih baik, kita menjadi lebih dekat dengan-Nya. Sepuluh Perintah Allah bukanlah tembok besar yang menjauhkan kita dari Allah, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan kita dengan kasih-Nya yang luar biasa.

Di masa Prapaskah ini, kita diundang untuk merenungkan lebih dalam tentang ‘Sepuluh Sabda’ ini. Kita dapat merenungkan setiap perintah: Apa tujuannya? Manfaat apa yang diberikannya kepada kita? Apa kerugian yang ditimbulkannya jika kita melanggarnya? Allah seperti apa yang menciptakan hukum ini?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman Ishak

Minggu Prapaskah ke-2 [B]

25 Februari 2024

[Kejadian 22:1-18]

Pengorbanan Ishak adalah salah satu kisah yang paling dramatis dan intens dalam Alkitab. Dari kisah ini, Gereja melihat bahwa Ishak adalah ‘tipos’ dari Kristus. Ishak dan Yesus sama-sama terlahir sebagai penggenapan janji Allah. Keduanya dilahirkan dalam kondisi yang luar biasa. Ishak dan Yesus sama-sama menjadi kurban dari bapa mereka. Namun, pengorbanan Ishak terhenti, dan pengorbanannya akan digenapi di dalam Yesus di kayu salib. Namun, meskipun analisis tipologi ini sangat mengagumkan, ada beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab. Bagaimana perasaan Ishak ketika dia tahu bahwa dia akan dikurbankan? Apakah dia dipaksa atau dengan sukarela memberikan dirinya? Apa alasannya?

Apakah Ishak dipaksa atau tidak untuk menjadi kurban? Jawabannya terletak pada usia Ishak pada saat kejadian. Banyak orang membayangkan bahwa Ishak masih kecil, dan dengan demikian, Abraham secara paksa mengikatnya dan dikorbankan. Namun, teks Kitab Suci menunjukkan bahwa dia bukan lagi seorang anak kecil karena dia memikul kayu untuk pengorbanan di bahunya. Karena kayu yang dibawa Ishak bukan untuk api biasa, melainkan untuk sebuah ritual pengorbanan, maka Ishak pastikan membawa kayu yang cukup banyak. Tentu saja, itu adalah pekerjaan yang TIDAK bisa dilakukan anak kecil. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa Ishak tidak dipaksa karena, sebagai seorang pemuda, ia memiliki kekuatan fisik untuk melawan Abraham yang sudah tua. Ishak dengan sukarela memberikan dirinya sebagai kurban dan, mungkin bahkan, meminta Abraham untuk mengikatnya.

Namun, pertanyaannya belum terjawab: Apa yang Ishak rasakan? Mengapa ia rela untuk mengurbankan dirinya? Sayangnya, teks Alkitab tidak memberi kita jendela ke dalam hati Ishak. Namun, tidaklah sulit untuk merasakan kesusahan, kesedihan, dan ketakutan yang luar biasa. Dia adalah seorang pemuda yang masih memiliki masa depan yang masih panjang, namun dia akan kehilangan nyawanya pada saat itu. Dia tidak hanya menghadapi kematian, tetapi juga kematian yang kejam. Ia tidak memiliki banyak waktu merenungkan kehendak Tuhan. Semua akan terjadi dengan cepat. Tapi, Ishak tetap memberikan dirinya.

Kisah ini biasanya berfokus pada iman Abraham, yang menaati kehendak Allah dengan menyerahkan putra tunggalnya. Allah sendiri memberkati Abraham karena imannya yang teguh (lihat Kej. 22:16-17). Namun, kisah ini juga bercerita tentang iman Ishak. Dalam Alkitab, Ishak dianggap sebagai tokoh kecil di antara para bapa leluhur Israel. Dibandingkan dengan Abraham dan Yakub, kisah Ishak jauh lebih sedikit dan seringkali dia hanya mengambil peran yang lebih pasif. Namun, kisah ini telah membuktikan bahwa Ishak adalah tokoh yang memiliki iman yang besar. Bahkan, tanpa imannya, Abraham tidak akan menerima berkat Tuhan.

Iman Ishak sangat dewasa dan mendalam. Di tengah kesedihan dan ketakutan yang luar biasa, ia tetap teguh dan percaya bahwa Tuhan pada akhirnya akan menjadikan semua baik. Imannya juga membantunya untuk menyadari bahwa hidupnya adalah sebuah persembahan bagi Tuhan. Ketika ia mempersembahkan dirinya sebagai kurban, berkat Tuhan datang kepada Abraham. Iman Ishak bukan hanya tentang ‘percaya bahwa Tuhan itu ada’, bukan hanya tentang penerimaan pasif terhadap situasi, tetapi secara aktif berpartisipasi dalam kehendak Tuhan.

Bagaimana kita bereaksi dalam menghadapi situasi yang tidak pasti dan penderitaan? Takut, cemas, atau marah? Apakah iman itu bagi kita? Sekadar percaya kepada Allah, penyerahan diri secara pasif terhadap situasi yang tidak dapat dihindari, atau secara proaktif mencari kehendak Allah? Apakah kita juga mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan kepada Tuhan sehingga orang lain dapat menerima berkat?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Padang Gurun

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [B]

18 Februari 2024

Markus 1:12-15

Apa yang kita bayangkan ketika mendengar kata padang gurun? Gambaran yang ada di benak kita mungkin sangat beragam, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan kita tentang gurun. Namun, kita sepakat bahwa padang gurun adalah tempat yang tandus, diliputi oleh iklim yang tidak bersahabat, dan bukan tempat yang cocok untuk dihuni oleh manusia. Lalu, mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun? Mengapa kita perlu mengalami momen-momen padang gurun?

Ketika kita memiliki gambaran tentang padang gurun, kita dapat berpikir tentang hutan hijau atau taman yang subur sebagai kebalikannya. Faktanya, Alkitab memberikan dua gambaran ini, taman dan padang gurun, sebagai dua tempat yang kontras. Adam dan Hawa pada awalnya tinggal di taman yang sempurna, dengan segala kenikmatannya. Mereka memiliki makanan terbaik, tempat teraman, dan yang paling penting, Tuhan bersama mereka. Namun, mereka jatuh dalam dosa, dan mereka harus meninggalkan taman itu. Mereka memulai perjalanan mereka di ‘padang gurun’ di mana mereka harus bekerja keras untuk mencari nafkah, di mana banyak bahaya mengintai, dan kematian menjadi tujuan akhir mereka.

Lalu, mengapa Yesus berada di padang gurun? Jawabannya adalah bahwa Yesus ada di padang gurun agar kita dapat menemukan-Nya juga di sana. Bahkan padang gurun pun dapat menjadi tempat yang kudus, karena Juruselamat kita ada di sana dan memberkati tempat itu. Ya, padang gurun adalah tempat yang berbahaya, dan bahkan roh-roh jahat pun mengintai untuk merenggut kita dari Tuhan, namun Yesus juga ada di sana. Kehadiran-Nya membuat tempat yang paling jelek sekalipun di dunia ini menjadi tempat yang indah dan kudus.

Kehadiran Tuhan di padang gurun bukanlah sesuatu yang baru. Kata gurun dalam bahasa Ibrani adalah מדבר (baca: midbar), dan secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai ‘tempat sabda’. Memang, gurun Sinai adalah tempat di mana bangsa Israel mengalami banyak kesulitan, dan diuji, namun juga tempat di mana Tuhan menyatakan diri-Nya dan membuat perjanjian dengan Israel melalui Musa. Bahkan, melalui pengalaman di padang gurun, Tuhan mendisiplinkan dan membentuk umat-Nya.

Kecenderungan alamiah kita adalah menghindari padang gurun, baik itu tempat geografis yang nyata maupun simbol untuk saat-saat sulit dalam hidup kita. Kita tidak ingin mengalami rasa sakit dan penyakit, kita benci menanggung kesulitan keuangan dan ekonomi, dan kita tidak mau hubungan yang sulit dalam keluarga atau komunitas kita. Kita ingin selalu diberkati, berada di Firdaus. Namun, sekarang, kita tidak perlu takut untuk berjalan melewati padang gurun karena Yesus ada di sana. Memang, kesulitan kita dapat membuat kita lelah dan menjadi kesempatan bagi iblis untuk mencobai kita dengan keras, namun bersama Yesus, pengalaman-pengalaman ini dapat menjadi sarana kekudusan.

Pada masa Prapaskah, Gereja mengajarkan kita untuk berpuasa, berdoa lebih intens dan meningkatkan amal kasih. Praktik-praktik ini mengundang kita untuk memasuki padang gurun, merasakan kelaparan, mengalami ketidaknyamanan, dan mengurangi hal-hal yang memberi kita kesenangan. Namun, secara paradoks, ketika kita memasuki padang gurun Prapaskah yang sulit ini dengan sukarela dan setia, kita dapat menemukan Kristus di sana, dan kita diperbaharui dalam kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita dan Pewartaan Injil

Hari Minggu ke-5 dalam Masa Biasa [B]

4 Februari 2024

Markus 1:29-39

Sering kali, kita berasumsi bahwa tugas pewartaan Injil hanya untuk para uskup, imam, dan diakon, atau untuk biarawan-biarawati atau katekis-katekis awam. Namun, anggapan ini kurang tepat. Yang benar adalah bahwa setiap orang yang dibaptis memiliki sebuah tanggung jawab untuk mewartakan Injil. Ya, Anda dan saya! Tetapi, bagaimana kita mewartakan jika kita tidak memiliki talenta atau kemampuan untuk melakukannya?

Pertama, kita harus menyadari bahwa mewartakan Injil adalah bagian penting dari identitas kita sebagai orang Kristen. Menjadi Kristen berarti kita menjadi ‘citra Kristus’, atau ‘Kristus yang lain.’ Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa misi-Nya adalah untuk mewartakan Injil. Dia menolak untuk berhenti di satu kota dan menikmati pujian dari orang-orang, tetapi Dia harus pergi ke tempat lain dan berkhotbah. Jika Yesus sendiri berkomitmen untuk memberitakan Kabar Baik, maka kita, sebagai citra-Nya, dipanggil untuk mewujudkan komitmen ini juga. Orang Kristen sejati adalah orang yang dengan setia mewartakan Injil.

Yesus mengakui misi ini sebagai bagian dari identitas-Nya dan menyerahkannya kepada Gereja-Nya sebagai sebuah perintah. Setelah kebangkitan-Nya, Dia mengamanatkan kepada murid-murid-Nya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:19-20). Sekali lagi, misi ini bukanlah pilihan, melainkan kewajiban bagi setiap murid Yesus.

Gereja memahami misi ini, dan dengan demikian, Gereja mengajarkan kepada kita, “Kaum awam juga memenuhi misi kenabian mereka melalui penginjilan, “yaitu pewartaan Kristus dengan kata-kata dan kesaksian hidup… (KGK 905).” Santo Thomas Aquinas, seorang teolog, menulis, “Mengajar untuk menuntun orang lain kepada iman adalah tugas setiap pengkhotbah dan setiap orang beriman (STh. III, 71,4 ad 3).”

Namun, bagaimana kita berkhotbah jika kita tidak memiliki talenta dan karunia? Pertama, kita perlu menyadari bahwa ada jenis-jenis pewartaan yang secara khusus dipercayakan kepada para klerus, seperti di dalam liturgi. Alasannya adalah karena Gereja ingin memastikan bahwa pewartaan di tempat yang sakral ini akan dilakukan dengan khidmat dan sesuai dengan ajaran-ajaran Gereja yang benar. Namun, ada banyak kesempatan lain bagi umat awam untuk pewartaan, dan bahkan, pada kenyataannya, ada konteks-konteks di mana hanya umat awam yang dapat mewartakan Injil: pernikahan dan keluarga.

Dalam konteks keluarga, pria dan wanita tidak hanya terikat oleh baptisan mereka untuk memberitakan Injil, tetapi juga oleh janji pernikahan mereka. Suami dan istri membawa satu sama lain lebih dekat kepada Allah, dan orang tua mendidik anak-anak mereka untuk mengasihi Allah dan melatih mereka dalam kekudusan. Kita meluangkan waktu untuk berdoa bersama sebagai sebuah keluarga di rumah atau di gereja. Kita mengajarkan anak-anak kita doa-doa dasar. Kita memberikan teladan yang baik kepada anak-anak kita. Kita membawa anak-anak kita ke paroki untuk pembaptisan dan sakramen-sakramen lainnya serta menerima berbagai petunjuk iman dari para imam dan katekis. Misi ini tidak membutuhkan bakat atau pelatihan khusus, melainkan waktu dan komitmen, sesuatu yang dimiliki semua orang.

Misi pewartaan Injil tidak hanya sesuatu yang esensial dari identitas kita sebagai murid Kristus, dan bahkan keselamatan kita bergantung pada hal ini. Biarlah kata-kata Santo Paulus menjadi moto kita, “Celakalah aku, jika aku tidak mewartakan Injil” (1 Kor. 9:16).

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sukacita Natal

Hari Raya Kelahiran Tuhan Yesus (Natal)
25 Desember 2023
Lukas 2:1-14

Selamat Natal!
Tuhan telah lahir, dan ada sukacita besar di surga dan di bumi. Namun, apa alasan di balik sukacita Natal ini? Sukacita ini ada bukan karena kita bisa berkumpul dengan keluarga dan kerabat dan mengadakan pesta Natal yang meriah. Sukacita ini ada bukan karena kita mendapatkan hadiah dan bonus, juga bukan karena kita berlibur dan healing. Jadi, apa sebenarnya di balik sukacita ini?

Natal adalah hari kelahiran Juruselamat kita. Kelahiran ini bukan hanya sebuah proses biologis alamiah yang melibatkan seorang pria dan wanita. Kelahiran ini adalah sebuah peristiwa adikodrati yang berakar dari kasih Allah kepada kita, para pendosa. Allah memiliki banyak sekali pilihan untuk menebus kita, namun Dia memilih cara yang paling intim. Allah Bapa mengutus Putra-Nya, dan Sang Putra mengambil kodrat-Nya yang kedua, yaitu kodrat manusia dalam diri Perawan Maria. Dengan cara ini, Allah menjadi sangat dekat dengan kita, sehingga gelar-Nya, Imanuel, Allah yang bersama kita, menjadi sebuah kenyataan. Dia bersama kita tidak hanya dalam cara-cara rohani atau mistik, tetapi dalam cara yang paling manusiawi. Dia adalah bayi yang Maria susui, Yusuf peluk, dan para gembala kunjungi. Dia adalah yang wafat disalib dan bangkit pada hari ketiga. Dia adalah yang naik ke surga, dan yang hadir di setiap Ekaristi. Dia, sang Immanuel, Allah yang bersama kita sampai akhir zaman.

Namun, Natal juga memberikan kita alasan lain untuk bersukacita. Kita hidup dalam budaya dan pola pikir yang telah berubah. Banyak pasangan yang tidak lagi ingin memiliki anak. Memang, ada beberapa alasan yang sah, seperti kesulitan ekonomi yang tidak memungkinkan untuk membesarkan anak atau kondisi medis tertentu yang dapat membahayakan ibu. Namun, banyak juga yang menganggap memiliki anak hanya sebagai beban, dan dengan demikian, hanya ingin menikmati hal-hal yang menyenangkan dalam pernikahan tetapi tidak ingin terlibat dalam hal-hal yang sulit, termasuk membesarkan anak.

Namun, Natal mengingatkan kita bahwa meskipun benar bahwa memiliki anak membawa kesusahan tersendiri, namun juga membawa sukacita. Memang benar bahwa setelah menerima Yesus, Maria dan Yusuf tidak mendapatkan kehidupan yang lebih baik; bahkan mereka harus menanggung lebih banyak penderitaan. Namun, Maria dan Yusuf tetap merayakan kelahiran Anak Allah. Kita tidak boleh lupa bahwa bala malaikat yang tak terhitung jumlahnya penuh suka cita dan bernyanyi kemuliaan bagi Allah di surga, dan di bumi, para gembala bergegas menyambut Maria dan Yusuf dengan penuh sukacita [lihat Lukas 2].

Kehamilan memang merupakan proses yang menyakitkan dan melelahkan, dan mendidik anak-anak sering kali dapat menjadi tantangan secara ekonomi dan emosional. Namun, Tuhan juga menyediakan sukacita yang berlimpah bagi para orang tua. Ketika orang tua berinteraksi dengan penuh kasih dengan bayi mereka, tubuh akan memproduksi hormon ‘positif’ seperti oksitosin dan dopamin. Seorang teman yang baru saja memiliki bayi menceritakan kegembiraannya setiap kali ia melihat pertumbuhan yang sederhana namun signifikan pada bayinya. Ada kegembiraan ketika bayi mulai mengucapkan kata-kata dengan jelas. Ada sukacita ketika bayi mulai mengenali dan membedakan wajah orang tuanya dengan orang lain. Seorang teman lain juga bercerita bagaimana ada sukacita yang tak terlukiskan saat melihat wajah sang bayi yang terlahir sehat, setelah mengalami beberapa kali keguguran.

Natal mengajarkan kepada kita bahwa ada sukacita yang besar di surga ketika seorang bayi dikandung dan dilahirkan karena bayi ini adalah calon warga surga. Sekarang, adalah sukacita kita untuk membawa anak-anak yang dipercayakan kepada kita kepada Tuhan dan berbagi kepenuhan hidup dengan-Nya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penuh Rahmat

Minggu ke-4 Masa Adven [B]
24 Desember 2023
Lukas 1:26-38

“Penuh Rahmat” adalah gelar yang tak terpisahkan dari Maria. Setiap kali kita mengucapkan doa ‘Salam Maria’, kita langsung menyadari bahwa gelar pertama setelah nama Maria adalah ‘penuh rahmat’. Tidak hanya gelar ini yang paling dikenal, tetapi juga yang paling kuno. Bahkan gelar ini berasal dari Alkitab, yaitu pada bab pertama Injil Lukas. Malaikat Gabriel menampakkan diri dan menyapa Maria, “Salam, penuh rahmat!” Namun, jika kita membaca ayat ini dengan saksama, sebutan ‘Penuh Rahmat’ sebenarnya tidak ada di sana (lih. Luk 1:28). Lalu, apa yang dikatakan malaikat kepada Maria? Mengapa kita mengunakan kata ‘Penuh Rahmat’?

Kata ‘Penuh Rahmat’ muncul dalam Alkitab versi Vulgata. Vulgata sendiri adalah terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin oleh Santo Heronimus pada awal abad ke-5. Dalam bahasa Latin, kata ini adalah ‘gratia plena’. Karena bahasa Latin adalah bahasa resmi Gereja Katolik Roma, ‘gratia plena’ akhirnya menjadi gelar standar Maria dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, ‘penuh rahmat.’ Ketika ‘Salam Maria’ dan doa rosario menjadi devosi yang paling populer di dunia Katolik, gelar ‘penuh rahmat’ tidak dapat lagi dipisahkan dari Maria. Namun, apa yang sebenarnya tertulis di dalam Alkitab?

Lukas menulis dalam bahasa Yunani ‘κεχαριτωμένη’ (baca: kecharitomene) yang secara harfiah berarti ‘dia yang telah diberi rahmat.’ Jadi, apakah Santo Heronimus keliru? Tidak juga. Heronimus memutuskan untuk tidak membuat terjemahan harfiah, melainkan terjemahan yang lebih puitis. Dengan pilihan ini, Santo Heronimus ingin menarik perhatian kita pada kehadiran rahmat secara total dan terus menerus dalam kehidupan Maria. Namun, mengapa gelar ‘κεχαριτωμένη’ sangat penting bagi Maria dan bagi kita?

Pertama, kita perlu memahami arti kata ‘rahmat’. Dalam bahasa Yunani, kata ini berarti ‘χάρις’ (baca: charis) dan arti yang paling mendasar adalah ‘anugerah’, ‘pemberian’ atau ‘hadiah’. Namun, dalam Perjanjian Baru, kata rahmat tidak hanya berarti hadiah secara umum, seperti hadiah ulang tahun atau hadiah kelulusan, tetapi rahmat adalah hadiah yang paling utama dan paling penting. Rahmat mengacu pada anugerah keselamatan dari Tuhan. Dan, keselamatan itu tidak hanya selamat dari dosa dan kematian, tetapi juga selamat untuk Allah. Ketika kita diselamatkan, bukan hanya dosa-dosa kita yang diampuni, tetapi kita juga dimampukan untuk berpartisipasi pada kehidupan ilahi sang Allah Tritunggal. Rahmat adalah karunia keselamatan, karunia kekudusan, dan karunia surga. (untuk diskusi yang lebih lengkap, lihat KGK 1996-2007)

Maria sepenuhnya unik karena dia adalah orang pertama yang telah menerima rahmat bahkan sebelum Tuhan kita disalibkan dan bangkit, dan bahkan, sebelum Dia dilahirkan. Realitas rahmat secara sempurna dimanifestasikan di dalam diri Maria. Rahmat hadir bukan karena Maria layak, tetapi karena ia dipilih. Bukan karena usahanya, tetapi karena rahmat diberikan secara cuma-cuma. Bukan karena rencana Maria, tetapi karena penyelenggaraan Allah. Namun, momen Kabar Sukacita juga menunjukkan kepada kita bahwa rahmat itu benar-benar cuma-cuma, tetapi tidak pernah murahan. Meskipun rahmat telah memenuhi diri Maria sejak awal, Maria masih harus membuat pilihan bebas untuk menerima rahmat tersebut dan membuatnya berbuah dalam hidupnya. Karena itu, ia berkata, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu!” Jawaban ya dari Maria terhadap rahmat Allah bukan hanya satu kali, tetapi sebuah komitmen seumur hidup, bahkan dalam menghadapi salib.

Juruselamat kita telah wafat dan bangkit bagi kita dan mencurahkan rahmat-Nya untuk penebusan kita. Namun, seperti Maria, kita harus memilih dengan bebas untuk menerima rahmat tersebut dalam hidup kita, dan melaluinya, kita bertumbuh dalam persahabatan dengan Allah. Inilah sebabnya mengapa kita berusaha menghindari dosa, pergi ke misa secara teratur dan pantas, dan melakukan karya-karya belas kasih. Bukan karena kita ingin mendapatkan keselamatan dengan usaha kita sendiri, melainkan kita ingin bertumbuh dalam rahmat Allah, dan mengungkapkan rasa syukur kita atas rahmat keselamatan yang diberikan secara cuma-cuma.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bersukacita, Berdoa, dan Bersyukur

Hari Minggu Gaudete. Minggu ke-3 Masa Adven [B]
17 Desember 2023
Yohanes 1:6-8, 19-28

Pada Minggu Gaudete ini, Santo Paulus mengajarkan, “Bersukacitalah selalu. Berdoalah tanpa henti. Dalam segala keadaan, mengucap syukurlah, karena itulah yang dikehendaki Allah bagi kamu dalam Kristus Yesus. (1 Tes 5:16).” Paulus memberi kita tiga karakteristik dasar orang Kristen: bersukacita senantiasa, berdoa tanpa henti, dan mengucap syukur dalam segala hal. Paulus mengingatkan kita bahwa karakter-karakter ini bukanlah sebuah pilihan, melainkan kehendak Tuhan bagi kita. Namun, bagaimana kita dapat bersukacita di tengah penderitaan? Bagaimana kita dapat berdoa ketika kita disibukkan dengan tugas dan pekerjaan kita? Bagaimana kita dapat mengucap syukur di tengah-tengah pencobaan?

Kuncinya adalah kita tidak dapat mengandalkan kekuatan kita sendiri, tetapi pada rahmat Allah yang memampukan kita untuk melakukan ketiga tugas yang mustahil ini. Melalui rahmat Allah, kita dimampukan untuk selalu bersukacita, bahkan di tengah-tengah masa-masa sulit. Bersukacitalah [bahasa Yunani ‘χαίρω’ – chairo] bukanlah sekadar emosi sesaat atau rasa senang yang berasal dari hal-hal yang berasal dari luar. Bersukacita adalah sebuah pilihan. Tindakan ini mengalir dari kesadaran bahwa Tuhan memegang kendali atas setiap peristiwa dalam hidup kita. Bahkan pada saat-saat yang paling menyakitkan sekalipun, Tuhan mengizinkan hal itu terjadi karena Dia memiliki tujuan yang baik bagi kita. Memang, Tuhan tidak memberitahukan kepada kita sebelumnya rencana-Nya. Namun, Roh Kudus datang dan memberikan kita iman dan pengharapan kepada-Nya dan penyelenggaraan-Nya.

Rahmat Tuhan juga memampukan kita untuk bersyukur kepada-Nya setiap saat. Bersyukur dan bersukacita, pada kenyataannya, berhubungan erat, seperti dua sisi mata uang yang sama. Kita dapat mengucap syukur dalam segala situasi karena Roh Kudus menolong kita untuk melihat bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dan alami memiliki tujuan. Dan, ketika segala sesuatu yang kita lakukan, kita lakukan demi kasih Allah. Tindakan ini menjadi berkat dan penyebab sukacita. Kata untuk mengucap syukur dalam bahasa Yunani adalah ‘εὐχαριστέω’ [eucharisteo], dan kata ini memiliki akar kata yang sama dengan kata Ekaristi. Dengan demikian, setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita mempersembahkan kurban Yesus Kristus dan hidup kita sebagai ucapan syukur kepada Allah.

Terakhir, bagaimana kita berdoa tanpa henti? Meluangkan sedikit waktu untuk berdoa setiap hari saja sudah sulit. Apakah itu berarti kita harus mundur dari pekerjaan kita, meninggalkan tanggung jawab kita dalam keluarga, dan menyepi masuk goa untuk berdoa? Tentu saja tidak! Berdoa tanpa henti dapat dilakukan setidaknya dengan dua cara. Pertama, kita berdoa sebagai komunitas orang beriman, yakni Gereja, tubuh Kristus yang satu. Dengan demikian, ketika kita tidak dapat berdoa pada saat ini, saudara-saudari kita di tempat lain akan berdoa untuk kita dan atas nama kita. Karena jutaan umat Katolik berdoa di seluruh dunia, doa-doa kita tidak terputus.

Kedua, kita mengandalkan Roh Kudus untuk berdoa bagi kita. Paulus sendiri mengatakan kepada kita, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu, bagaimana harus berdoa seperti yang seharusnya, tetapi Roh sendiri yang berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terungkapkan dengan kata-kata (Rm. 8:26-27).” Kita meminta Roh Kudus untuk hadir dan menguduskan setiap kegiatan kita, dan sebelum kita beristirahat, kita mempersembahkan hari kita kepada Tuhan.

Bersukacitalah selalu, berdoalah tanpa henti, dan mengucap syukurlah dalam segala hal!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP