Kebodohan

Minggu ke-32 di Masa Biasa

8 November 2020

Matius 25: 1-13

Upacara pernikahan adalah salah satu acara terindah di banyak budaya dan masyarakat. Ini termasuk di masyarakat Yahudi di Palestina abad pertama Masehi. Bagi orang Ibrani yang hidup pada zaman Yesus tersebut, upacara pernikahan memiliki dua tahap. Yang pertama adalah pertukaran janji. Pasangan tersebut sudah menikah secara resmi, dan mereka diakui sebagai suami dan istri di mata komunitas Yahudi. Namun, mereka akan menunggu sekitar satu tahun sebelum mereka bisa hidup bersama. Sang suami akan mempersiapkan rumah mereka serta perayaan pesta nikah yang mungkin berlangsung selama 7 hari lamanya.

Tahap kedua adalah pesta pernikahan. Ini dimulai dengan pengantin pria menjemput sang istri dari rumah keluarganya, dan membawanya ke rumahnya dengan prosesi tarian dan musik. Karena prosesi biasanya berlangsung pada malam hari, api dan obor sangat diperlukan. Sepuluh gadis ini adalah mungkin beberapa teman dekat dari pengantin wanita dan bahkan kerabat dari pasangan tersebut. Mereka ditempatkan tidak jauh dari tempat pernikahan untuk menyambut pasangan suami istri tersebut. Karena tidak ada internet dan GPS, kesepuluh perawan mungkin tidak dapat mengetahui posisi prosesi tersebut dengan tepat, tetapi mereka diharapkan siap kapanpun pasangan ini datang.

Mari kita perhatikan sikap dari lima gadis yang bodoh ini. Dalam bahasa Yunani, kelima gadis ini disebut “moros” di mana kita mendapatkan kata dalam bahasa Inggris “moron”. Itu pasti kata yang keras. Namun, jika kita amati dengan seksama, apa yang dilakukan perawan ini sungguh bodoh dan ceroboh. Bukan hanya gagal mempersiapkan kedatangan pengantin, mereka juga mencari minyak di tengah malam. Mereka tidak hidup di era modern di mana kita dapat dengan mudah membeli barang-barang di toko seperti indomart atau alfamart. Kita bisa membayangkan bagaimana mereka dengan tergesa-gesa mencari pedagang, dan dengan panik mengetuk pintu toko atau rumah mereka. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan bahkan kegaduhan yang tidak perlu dan menimbulkan rasa malu bagi sang pasangan. Ini mungkin juga menjadi alasan mengapa tuan rumah menolak untuk menerima lima gadis bodoh ini.

Perumpamaan Yesus ini memberi kita peringatan yang kuat untuk tidak menjadi bodoh dalam menjalani hidup kita sebagai orang Kristiani. Kita diberi peran dan misi tertentu dalam hidup kita. Beberapa dari kita dipanggil untuk menjadi pasangan suami-istri dan orang tua, dan beberapa dari kita melayani sebagai imam atau rohaniawan seperti para suster. Beberapa dari kita adalah pendidik iman, beberapa dari kita adalah pemimpin komunitas dan yang lainnya terlibat dalam berbagai pelayanan. Dalam peran apapun kita miliki, Yesus meminta kita untuk bijak dalam melakukan hidup dan pelayanan kita, dan menuntut kita untuk tidak melakukan hal-hal bodoh dan bahkan menyebabkan penderitaan yang tidak perlu bagi orang lain.

Jika kita, sebagai orang Kristiani, bertindak bodoh, kita tidak hanya mempermalukan diri kita sendiri, tetapi juga Kristus sendiri. Tapi, jika kita menghasilkan perbuatan bijak, kita membawa kemuliaan bagi Tuhan, dan lebih banyak orang akan memuji Tuhan kita.

St. Josemaria Escriva pernah berkata, “wajah murung, tidak sopan, tampil konyol, tidak ramah. Itukah caramu berharap untuk mengispirasi orang lain untuk mengikuti Kristus?”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Commandments

30th Sunday of the Ordinary Time [A]

October 25, 2020

Matthew 22:34-50

The question is, “what is the greatest law?” Once again, the historical and religious context is important. When Jesus and the Pharisees discuss the Law, they are speaking about particular Law. It is neither criminal law nor international law. It is the Law of Moses, the Torah, which points to Moses’s five books. According to the tradition of the Rabbis, the Torah contains 613 specific laws. Thus, the Pharisee is questioning Jesus on the most important among 613 commandments.

For the Jewish people, the answer is not difficult and even expected. The most fundamental law among the laws is the Ten Commandments. It is the first set of laws given to Israelites through Moses in Sinai. The traditional belief holds that the Ten Commandments are traditionally by order of importance, meaning the first is the most essential, and the last is the least essential. Therefore, the first among the Ten Commandments is the greatest among the 613. It says, “I am the Lord your God… there is no other God beside me [Exo 20:2-3].”

However, Jesus escapes the expectation and reconstructs His own answer that will be the moral foundation of Christianity. Jesus’ answer is, “You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind…You shall love your neighbor as yourself.” Though the answer is unusual, it remains orthodox because the source is also the Law of Moses. To love the Lord with our all is rooted in the Jewish basic prayer “Shema” [see Deu 6:4-6], and to love our neighbors as ourselves is springing up from the book of Leviticus [19:18]. What Jesus does is He radically changes the orientation of the Law of Moses. Instead of limiting ourselves to the prohibitions of the Ten Commandments, Jesus sets love as its direction. Love is seeking the goodness of the beloved, and love never stops until we are united to our beloved. To obey the 10 Commandments is foundational, but that is the minimum, and Jesus teaches us not to stay at the boundaries but to go beyond till we are united with God and others in God.

Before, I thought the commandment of Jesus was nice and lovely words. I love God by going to the Church every Sunday, especially during Christmas and Easter, and I love others by occasionally helping them or giving a donation to the poor. But I realize something a bit off. Jesus never says, “this is my greatest recommendation or advice.” What Jesus tells us, “This is the greatest commandments!” Law is meant to be obeyed, and here, we are dealing with the biggest laws! To love the Lord with our all is not optional. It is a must, and to love our brothers and sisters is not based on our convenience, but it is a divine obligation. To love God, neither not a part-time job nor to love our neighbors is our pastime. It is either all or nothing. That is Jesus’ greatest commandments.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo: josh Appel

Perintah Terbesar Yesus

Minggu ke-30 di Waktu Biasa [A]

25 Oktober 2020

Matius 22: 34-50

Pertanyaannya adalah “Apakah Hukum yang terutama?” Sekali lagi, untuk mengerti pertanyaan ini konteks historis dan religius sangat penting. Ketika Yesus dan ahli Hukum Taurat membahas tentang Hukum yang terutama, mereka berbicara tentang Hukum Taurat yang paling utama. Hukum Taurat sendiri menunjuk pada lima kitab Musa [Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan] dan sangat banyak peraturan ada di sana. Menurut tradisi para rabi, Taurat berisi 613 hukum. Jadi, orang Farisi sedang menguji Yesus tentang yang paling penting di antara 613 perintah.

Bagi orang-orang yang mengerti Taurat, jawabannya sebenarnya tidak sulit, dan mungkin kita juga sudah tahu jawabannya. Hukum yang paling mendasar di antara hukum-hukum itu adalah Sepuluh Perintah Allah. Ini adalah hukum pertama yang diberikan kepada orang Israel melalui Musa di Gunung Sinai. Sepuluh Perintah Allah sendiri diurutkan berdasarkan tingkat keutamaannya, yang berarti yang pertama adalah yang paling esensial, dan yang terakhir adalah yang tidak terlalu esensial. Oleh karena itu, yang pertama di antara Sepuluh Perintah adalah yang terbesar di antara 613 hukum. Perintah pertama berbunyi, “Akulah Tuhan, Allahmu … tidak ada Allah lain selain Aku [Kel 20: 2-3].”

Namun, Yesus tidak ingin terkurung dari jawaban standar yang sudah ada, dan merekonstruksi jawaban-Nya sendiri yang akan menjadi dasar moral Gereja. Jawaban Yesus adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu … Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Meskipun jawabannya tidak biasa, tetapi tetap ortodoks karena sumbernya juga adalah Hukum Musa. Untuk mengasihi Tuhan dengan segala yang kita miliki, sebenarnya berakar pada doa dasar Yahudi “Shema” [lihat Ulangan 6: 4-6], dan untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, juga mengalir dari kitab Imamat [19:18]. Apa yang Yesus lakukan adalah Dia secara radikal mengubah orientasi Hukum Musa. Alih-alih membatasi diri pada Sepuluh Perintah yang bersifat larangan, Yesus menetapkan kasih yang proaktif sebagai arahannya. Kasih mencari kebaikan yang dikasihi, dan kasih tidak pernah berhenti sampai kita bersatu dengan yang kita kasihi. Mematuhi 10 Perintah adalah dasar, tapi itu minimum. Yesus mengajarkan kita untuk tidak sekedar memenuhi yang minimum, tetapi untuk aktif memenuhi kehendak Allah sampai kita bersatu dengan Tuhan dan sesama di dalam Tuhan.

Sebelumnya, saya berpikir bahwa perintah Yesus adalah kata-kata yang indah dan imut. Saya mengasihi Tuhan dengan pergi ke Gereja setiap hari Minggu, terutama selama Natal dan Paskah, dan saya mengasihi sesama dengan sesekali membantu mereka atau memberi sumbangan kepada orang miskin. Tapi saya menyadari bahwa Yesus tidak pernah berkata, “ini adalah saran, anjuran atau nasihat terbesar saya.” Apa yang Yesus katakan kepada kita, “Ini adalah perintah yang terutama!” Hukum dimaksudkan untuk ditaati, dan di sini, kita berurusan dengan hukum terbesar! Untuk mengasihi Tuhan dengan segenap diri kita bukanlah pilihan, itu adalah suatu keharusan, dan untuk mengasihi saudara dan saudari kita tidak didasarkan pada kenyamanan kita, tetapi itu adalah kewajiban ilahi. Mengasihi Tuhan itu bukan pekerjaan paruh waktu atau mengasihi sesama kita bukanlah hobi. Ini adalah perintah terbesar Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo: Anna Earl

Caesar or God?

29th Sunday in Ordinary Time

October 18, 2020

Matthew 22:15-21

To understand today’s Gospel, we need to make time travel to the time of Jesus. The Jewish people in the first century AD Palestine were not free people, and they were subject to the Roman empire. Being subjects, they were required to submit heavy taxes. This money would eventually use to pay the army that maintained “the security” of Palestine. Naturally, paying taxes was one of the most irritating and politically charged issues. “Why should I pay for my own oppression?”

The issue of paying taxes is even more sensitive since the coin used for the transaction is bearing the image of Caesar. Not only having the graven face of Caesar, around the image, but there was also an inscription that said “Tiberivs Caesar Divi Avgvsti Filivs Avgvstvs (Caesar Augustus Tiberius, son of the Divine Augustus).” The coin was simply blasphemous for the Jews who recognized that there is no god, but the Lord God.

With this background, the Pharisees were plotting to trap Jesus with an extremely dilemmatic question: “should we pay tax to Caesar?” If Jesus nodded, He would be considered a traitor for many Jewish nationalists and an idol-worshipper to pious Israelites. But, if Jesus voted negatively, He would be immediately labeled as a rebel and face the wrath of the Romans. However, it was never wise to test Jesus, because it would never be successful. Again, Jesus did not only escape the dilemma wisely but also taught a profound lesson for everyone.

He took a Roman coin and showed that it has an image of Caesar. Then, He said, “render to Caesar what belongs to Caesar…” The basis of ownership is the presence of “image.” The coin belongs to Caesar because it has his image. Thus, paying tax is simply giving back to the coins that since the beginning belongs to Caesar and the Roman Empire.  Yet, Jesus did not stop there. He taught also, “render to God what belongs to God.” And what belongs to God? The answer is those who possess the image of God. Going back to the Genesis 1:26, we discover that we were created in the image of God, and therefore, we belong to God.

Here, Jesus was not dodging the Pharisees’ bullet, but teaching a fundamental truth about who we are and where we are going. We were created in the image of God, not in the image of cellular phone, not of money, not of trophies. While they may offer instant pleasure, not of these things will ever grant us true happiness. Only God can truly fulfill our deepest longing. While these things are naturally good and can be beneficial, they are mere means to achieve our true end, God Himself. We might be preoccupied with pursuing wealth, popularity, or influence, but what is the point when we lose our final purpose?

St. Ignatius of Loyola in his Spiritual Exercises reminds us that, “Man is created to praise, reverence, and serve God our Lord, and by this means to save his soul. The other things on the face of the earth are created for man to help him in attaining the end for which he is created…Therefore, we must make ourselves indifferent [detached] to all created things… Our one desire and choice should be what is more conducive to the end for which we are created”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk Kaisar atau Untuk Tuhan?

Minggu ke-29 di Masa Biasa

18 Oktober 2020

Matius 22: 15-21

Untuk memahami Injil hari ini, kita perlu melakukan perjalanan waktu ke zaman Tuhan Yesus. Orang-orang Yahudi pada abad pertama Masehi Palestina bukanlah orang-orang merdeka, dan mereka tunduk pada kekaisaran Romawi. Sebagai penduduk jajahan, mereka diharuskan membayar pajak yang cukup berat. Uang ini pada akhirnya akan digunakan untuk membayar tentara yang menjaga “keamanan” di Palestina. Tak ayal, membayar pajak adalah salah satu hal yang paling dibenci dan menimbulkan gejolak. “Mengapa saya harus membayar untuk penindasan saya sendiri?”

Masalah pembayaran pajak bahkan lebih sensitif karena koin yang digunakan untuk transaksi memiliki gambar atau citra Kaisar. Tidak hanya berukir wajah Caesar, di sekitar gambar, ada tulisan, “Tiberivs Caesar Divi Avgvsti Filivs Avgvstvs (Kaisar Augustus Tiberius, putra Augustus yang ilahi).” Koin itu menjadi semacam hujatan kepada orang-orang Yahudi yang mengakui bahwa tidak ada tuhan, selain Tuhan Allah.

Dengan latar belakang ini, orang Farisi berencana untuk menjebak Yesus dengan pertanyaan yang sangat dilematis: “haruskah kita membayar pajak kepada Kaisar?” Jika Yesus mengangguk, Dia akan dianggap sebagai pengkhianat bagi banyak nasionalis Yahudi dan penyembah berhala bagi orang Israel yang saleh. Tetapi, jika Yesus menggelengkan kepala, Dia akan segera dicap sebagai pemberontak dan menghadapi murka orang Romawi. Namun, tidak pernah bijaksana untuk menguji Yesus, karena itu tidak akan pernah berhasil. Sekali lagi, Yesus tidak hanya lolos dari dilema dengan bijaksana tetapi juga memberikan pelajaran yang mendalam bagi semua orang.

Dia mengambil koin Romawi dan menunjukkan bahwa koin itu memiliki citra Kaisar. Kemudian, Dia berkata, “berikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar …” Dasar kepemilikan adalah kehadiran “citra.” Koin itu milik Kaisar karena memiliki citra Kaisar. Jadi, membayar pajak sejatinya bentuk pengembalian koin yang sejak awal adalah milik Kaisar dan Kekaisaran Romawi. Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ. Dia juga mengajarkan, “berikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan.” Dan apakah yang menjadi milik Tuhan? Jawabannya adalah hal-hal yang memiliki citra Tuhan. Kembali ke Kejadian 1:26, kita menemukan bahwa kita diciptakan menurut citra Allah, dan oleh karena itu, Yesus ingin menunjukan bahwa kita adalah milik Allah.

Di sini, Yesus tidak hanya menghindari serangan orang Farisi, tetapi mengajarkan kebenaran mendasar tentang siapa kita dan ke mana kita akan pergi. Kita diciptakan menurut citra Tuhan, bukan citra HP, bukan uang, bukan juga piala. Meskipun mereka mungkin menawarkan kesenangan instan, hal-hal ini tidak bisa memberi kita kebahagiaan sejati. Hanya Tuhan yang benar-benar dapat memenuhi kerinduan kita yang terdalam. Meskipun hal-hal ini secara alami baik dan dapat bermanfaat, mereka hannyalah sarana untuk mencapai tujuan sejati kita, Tuhan sendiri. Kita mungkin sibuk mengejar kekayaan, popularitas atau pengaruh, tetapi apa gunanya kita kehilangan Tuhan?

St Ignatius dari Loyola dalam Latihan Rohaninya mengingatkan kita bahwa, “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, dan melayani Tuhan, dan dengan cara-cara inilah manusia menyelamatkan jiwanya. Hal-hal lain di muka bumi diciptakan bagi manusia untuk membantunya dalam mencapai tujuan penciptaannya… Oleh karena itu, kita harus membuat diri kita sendiri tak terikat terhadap semua ciptaan… Satu keinginan dan pilihan kita haruslah jatuh pada hal-hal yang lebih kondusif untuk mencapai tujuan penciptaan kita.”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menghormati Sang Raja

Minggu ke-28 di Masa Biasa

11 Oktober 2020

Matius 22: 1-14

Untuk memahami perumpamaan yang kita dengar Minggu ini, kita perlu melihat elemen-elemen yang mengejutkan. Pertama, perjamuan ini bukalah perjamuan pernikahan biasa, tapi pernikahan putra raja. Tentunya, orang-orang dalam daftar undangan adalah tamu terhormat dan istimewa, tetapi mereka menolak untuk datang sampai dua kali dan bahkan menganiaya para utusan raja. Apa yang mereka lakukan tidak terpikirkan! Mereka gagal untuk melihat betapa berharganya undangan tersebut dan malah memilih urusan-urusan sepele mereka sendiri. Mereka sama saja melontarkan hinaan kepada raja yang telah menghormati mereka. Tak heran, raja menghukum mereka.

Namun, raja ini adalah raja yang murah hati, dan dia memutuskan untuk mengundang semua orang yang bukan bagian dari tamu kehormatannya. Dia memberikan undangan kerajaan dan kehormatan bagi semua orang. Banyak yang memang datang dan memenuhi undangan tersebut. Namun, ada satu orang yang gagal mengenakan pakaian yang layak bagi perjamuan. Berpakaian pantas dalam menghadiri perjamuan pernikahan tidak hanya sesuatu yang wajar, tetapi juga menunjukkan bagaimana kita menghormati orang yang mengundang kita. Orang ini adalah tamu kehormatan, tetapi dia gagal menghargai kehormatan yang dia terima, gagal berperilaku sesuai harapan, dan membawa aib besar kepada raja. Karena itu, raja melemparkannya bukan ke sembarang tempat, melainkan ke kegelapan yang berkesudahan.

Kita sama seperti tamu perjamuan nikah ini karena kita menerima penghormatan yang tak terukur karena pada kenyataannya kita tidak pantas dipanggil oleh Tuhan untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya. Pada sudah sepatutnya, kita perlu melakukan bagian kita untuk menghormati Dia yang mengundang kita, dan untuk menunjukkan rasa syukur yang terbaik kepada Tuhan. Pertanyaannya kemudian, apa yang dimaksudkan dengan pakaian yang layak untuk perjamuan pernikahan ini? Jika kita melihat Kitab Wahyu 19, kita akan melihat sebuah perjamuan pernikahan juga. Ini adalah perjamuan pernikahan Anak Domba, dan dalam Wahyu 19: 8, “… karena lenan halus itu adalah perbuatan benar orang-orang kudus.” Iman kepada Yesus itu seperti menerima undangan dan datang ke perjamuan, tetapi kita tidak boleh berhenti sampai di situ, kita juga akan mengenakan pakaian yang terbentuk dari perbuatan-perbuatan benar. Iman awal kita harus tumbuh menjadi kasih.

Prinsip dasarnya adalah rahmat itu cuma-cuma, tapi itu tidak murahan. Faktanya, rahmat bersatu dengan Tuhan ini adalah hal paling berharga yang pernah kita terima dalam hidup kita. Perbuatan-perbuatan benar kita tidak dimaksudkan sebagai alat tawar-menawar dengan Tuhan, melainkan sebagai tanda terima kasih kita. Kita melakukan perbuatan benar bukan karena kita ingin dipuji, tetapi karena kita ingin menghormati Dia yang telah memanggil kita ke perjamuan surgawi. Sebagai imam, kami melayani umat terutama karena meskipun memiliki kelemahan, kami dipilih untuk menjadi saran rahmatnya. Sebagai pasangan suami-istri, kita dipanggil untuk membangun keluarga tidak hanya berdasarkan ketertarikan emosional, kebutuhan biologis, dan stabilitas ekonomi, tetapi rasa syukur kepada Tuhan yang telah mempersatukan suami istri dalam kasih dan rahmat. Sebagai orang tua, kita membesarkan anak-anak kita tidak hanya untuk menjadi sukses, kaya atau berpengaruh, tetapi terutama untuk menjadi pria dan wanita yang kudus karena kita menyadari bahwa anak-anak ini adalah berkat dari Tuhan. Dunia akan menjadi dunia yang lebih baik dengan orang-orang yang dipenuhi rasa syukur, dan dengan orang-orang kudus.

Refleksi ini didedikasikan bagi Carlo Acutis yang pada hari ini [10 Oktober] menjadi seorang beato, seorang model kekudusan bagi kita semua.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

picture by : mateus campos filipe

Keeping the Gift

27th Sunday in Ordinary Time [A]

September 4, 2020

Matthew 21:33-43

The vineyard owner in today’s parable is extraordinary. He knows that the tenants are greedy and corrupt, and if I had been the owner, I would have expelled the tenants right away. Yet, this owner is doing the opposite. He keeps sending His envoys and pleading with them, to the point of giving his own son, the true heir. This vineyard owner must be crazy! Yet, that is how much merciful, and patient God is. However, that is not the end of the story. The thing is if we keep abusing God’s mercy, His justice will eventually prevail.

When Jesus was speaking about the vineyard, the context was Jesus was confronting the elders and chief priest. Instead of serving the people, they chose to seek their gains and thus, involved in various corrupt practices. Jesus reminded them that the vineyard would be taken away if they did not repent.  Unfortunately, they were too greedy and proud. Thus, they opted to get rid of Jesus, the Son of God. The history tells us that in 70 AD, around 40 years after Christ, Jerusalem was burned, and the Temple was razed to the ground.

Unfortunately, the story of the gift given and gift taken away is one of the basic patterns in the Bible. Adam and Eve given the privilege of the garden of Eden, yet they offended the Lord, and they lost the paradise. People of Israel were liberated from the land of Egypt, but in the wilderness, they kept complaining and even worshipping false gods. Therefore, they had to die in the desert, and only their children were allowed to enter. The Israelites have received the land and built a powerful kingdom under David, but they kept sinning and forgetting the Lord, and thus, the kingdom was destroyed, and the people were exiled.

God has given each of us, something special, a precious gift. And we should take care of and protect this gift, and we shall not test the Lord. Otherwise, this gift will be taken away from us.

Faith is a gift. Faith is our first step to heaven. Yet, we have to grow our faith, to nourish it with true teachings of the Church and growing relationship with the Lord. We must defend it not only from false teachings but also from our laziness and mediocrity. Otherwise, it will be taken away from us.

A vocation to priesthood and brotherhood is a gift. It is a gift to serve the people of God, to preach the Word of God, and to minister the sacraments through which we receive the grace and salvation. We need to nurture it daily with prayer, assiduous study, and faithfully living the vows. Otherwise, it will be taken away from us.

A vocation to married life and family is a gift. It is a gift to become co-creators and co-workers of God; to bring forth life and to nurture life. We need to protect it from sins and infidelity and selfishness, and nourish it with love, commitment, and even openness.  Otherwise, it will be taken away from us.

The Earth is a gift to us. It is our home, a stunning home to live, and among billions of planets in the galaxies, there is nothing like earth. We need to defend it from exploitation, over-mining, over-fishing and even from our lifestyle that gradually destroy nature. Otherwise, it will be taken away from us.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: jodie-morgan

Menjaga Berkat

Minggu ke-27 di Masa Biasa [A]

4 September 2020

Matius 21: 33-43

Pemilik kebun anggur dalam perumpamaan hari ini luar biasa tak terduga. Dia tahu bahwa para penyewa adalah serakah dan korup, dan jika saya menjadi dia, saya akan segera mengusir para penyewa itu. Namun, pemilik ini melakukan yang sebaliknya. Dia terus mengirim utusannya dan sampai memberikan putranya sendiri, pewaris sejati. Pemilik kebun anggur ini pasti sudah gila! Dan, itulah citra Tuhan kita yang sangat penuh belas kasih dan sabar. Namun, itu bukanlah akhir dari cerita. Perumpamaan ditutup dengan sebuah penghakiman: jika kita terus menyalahgunakan belas kasihan Tuhan, keadilan-Nya pada akhirnya akan meraja.

Ketika Yesus berbicara tentang perumpamaan kebun anggur ini, konteksnya adalah Yesus menghadapi para penatua dan imam kepala. Alih-alih melayani umat Allah, mereka memilih mencari keuntungan pribadi dan terlibat dalam berbagai praktik korupsi. Yesus mengingatkan mereka bahwa kebun anggur akan diambil jika mereka tidak bertobat. Sayangnya, mereka terlalu rakus dan sombong. Jadi, mereka memilih untuk menyingkirkan Yesus, sang Putra Allah. Sejarah akhirnya menceritakan bahwa pada tahun 70 M, sekitar 40 tahun setelah Kristus, Yerusalem dibakar, dan Bait Suci diratakan dengan tanah.

Sebenarnya, cerita tentang berkat yang diberi dan kemudian diambil lagi, adalah salah satu pola dasar dalam Alkitab. Adam dan Hawa diberi hak istimewa di taman Eden, namun mereka melukai hati Tuhan, dan mereka kehilangan firdaus. Orang Israel dibebaskan dari tanah Mesir, tetapi di padang gurun, mereka terus bersungut-sungut dan bahkan menyembah dewa palsu. Oleh karena itu, mereka harus mati di gurun pasir, dan hanya anak-anak mereka yang diizinkan masuk ke Tanah Terjanji.

Tuhan telah memberi kita masing-masing, sesuatu anugerah yang istimewa, berkat yang berharga. Dan kita harus menjaga dan melindungi pemberian ini. Jika tidak, anugerah ini akan diambil dari kita.

Iman adalah anugerah. Iman adalah langkah pertama kita ke surga. Namun, kita harus menumbuhkan iman kita, memupuknya dengan ajaran Gereja yang benar dan menumbuhkan hubungan yang mesra dengan Tuhan. Kita harus menjaganya tidak hanya dari ajaran-ajaran yang menyesatkan tetapi juga dari kemalasan dan ketidakpeduliaan kita. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Panggilan imamat dan sebagai seorang bruder dan suster adalah sebuah anugerah. Ini adalah sebuah kesempatan untuk melayani umat Tuhan, untuk memberitakan Firman Tuhan, dan untuk melayani sakramen kasih karunia dan keselamatan. Kita perlu memeliharanya setiap hari dengan tekun dalam doa, belajar dengan sungguh-sungguh, dan dengan setia menjalankan kaul kita. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Panggilan untuk menjadi suami-istri dan keluarga adalah anugerah. Merupakan kesempatan untuk menjadi rekan pencipta dan rekan kerja Tuhan; untuk melahirkan kehidupan dan memelihara kehidupan. Kita perlu melindunginya dari dosa ketidaksetiaan dan keegoisan, dan memeliharanya dengan cinta, komitmen, dan bahkan keterbukaan. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Bumi adalah anugerah bagi kita. Ini adalah rumah kita, rumah yang menakjubkan untuk ditinggali, dan di antara miliaran planet di galaksi, tidak ada yang seperti bumi. Kita perlu mempertahankannya dari eksploitasi, penambangan berlebihan, penangkapan ikan berlebihan, dan bahkan dari gaya hidup kita yang secara bertahap merusak alam. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Dan kita harus menjaga dan melindungi semua pemberian ini. Jika tidak, hadiah ini akan diambil dari kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: S. Danilo

Stumbling Stone

22nd Sunday in Ordinary Time [A]

August 30, 2020

Matthew 16:21-27

first communion 1Last Sunday, we listen to the confession of Peter on the true identity of Jesus. Here, Simon received a new name, the keys of the kingdom and the authority to bind and to loosen. He became the prime minister of the kingdom, the first pope. However, today, we witness the dramatic turn around. When Jesus foretold about His incoming passion, Simon reactively put his Master aside, and rebuked Him. As a response, Jesus expressed harshly,
“Get away behind me, Satan! You are a stumbling stone to me!”

Last episode, Simon was Peter, and today, Simon is “Satan.” Last week, Simon was the foundational rock, and today, Simon is the stumbling stone. Previous story, Simon was inspired by the Holy Spirit, and now, he is thinking his self-interest.

To call Simon that he was “Satan” is unexpected, but not uncalled-for. Perhaps Jesus would like to point out that Peter’s action was influenced by the devil himself.  Often, we think that the evil spirits influence us in the case of diabolic possessions, but in reality, diabolic possessions are an extraordinary way of attacking us. There is an ordinary way: it is through temptations and inducing ideas that oppose to the plan of God. The real battle takes place not so much in the possession of our bodies, but of our minds and souls.

Peter is also called as the stumbling stone, and in Greek, it is “scandalon.” Last Sunday, he was given a new identity, Peter, the foundation rock, but now, he turns to be a stumbling stone. Both are stone, but two opposing purposes. The foundation rock is to support the Church and God’s will, but the stumbling stone is to stop or at least, to obstruct and slow down God’s will. Jesus has set his eyes on Jerusalem, to offer His life as sacrifice on the cross and gloriously rise from the death. Yet, Simon, the stumbling stone, tried to oppose and prevent Jesus from fulfilling His Father’s will. Interesting enough, the word “Satanas” in Greek, may mean ‘the adversary.’  Simon becomes the adversary against Jesus’ mission.

Last week, I reflect on the mission of Simon Peter and how we become little Peters as God calls us for particular vocation and service despite our unworthiness. However, Jesus tells us that the real hindrance to our mission is not our weakness and unworthiness, but our selfish interest and agenda. Instead saying, “Your will be done,” we shout, “My will be done.” This is the devil’s game plan, that we put ourselves first, rather than God. Some of us are ordained priests, yet instead serving the people with dedication, we are busy to seek comfort and amass fortune for ourselves. Some of us are parents, yet instead bringing our children to God, we are preoccupied in chasing our own ambitions and careers.

Thus, Jesus makes a bold reminder, “what is the point of gaining the whole world and yet losing our souls?” At the gate of heaven, St. Simon Peter will ask us, “Have you been a stumbling stone to God’s will or have your been a foundation rock to His plan?”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Batu Sandungan

Minggu ke-22 di Waktu Biasa [A]

30 Agustus 2020

Matius 16: 21-27

FILE PHOTO POPE FRANCIS BAPTIZES BABY VATICAN
 (CNS photo/Vatican Media)

Minggu lalu, kita mendengarkan pengakuan Petrus tentang identitas Yesus sebagai Kristus, Putra Allah yang hidup. Simon menerima nama baru dan kunci kerajaan surga. Ia menjadi perdana menteri kerajaan Allah, dan paus pertama. Namun, hari ini, kita menyaksikan perubahan dramatis. Ketika Yesus menubuatkan tentang sengsara-Nya, Simon secara reaktif menarik gurunya ke samping, dan menegur-Nya. Sebagai tanggapan, Yesus menyatakan dengan keras, “Enyahlah Setan. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku…! ”

Minggu lalu, Simon adalah Petrus, dan hari ini, Simon adalah “Setan”. Minggu lalu, Simon adalah batu fondasi, dan hari ini, Simon adalah batu sandungan. Minggu lalu, Simon diilhami oleh Roh Kudus, dan sekarang, dia memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Menyebut Simon  sebagai “Setan” adalah hal yang tidak terduga, tetapi juga sesuatu hal yang menarik di dalami. Mungkin Yesus ingin menunjukkan bahwa tindakan Petrus dipengaruhi oleh setan itu sendiri. Sering kali, kita berpikir bahwa roh jahat mempengaruhi kita dalam bentuk-bentuk kerasukan setan, tetapi kenyataannya, kerasukan setan adalah cara yang luar biasa untuk menyerang kita. Ada cara yang biasa: melalui godaan dan mendorong ide-ide yang bertentangan dengan rencana Tuhan. Pertempuran yang sebenarnya terjadi bukan dalam hal kepemilikan tubuh kita, tetapi dalam pikiran dan jiwa kita.

Petrus juga disebut sebagai batu sandungan, dan dalam bahasa Yunani “skandalon”. Minggu lalu, dia diberi identitas baru, Petrus, batu fondasi, tetapi sekarang, dia berubah menjadi batu sandungan. Keduanya adalah batu, tetapi dua tujuan yang berlawanan. Batu karang fondasi adalah untuk mendukung Gereja dan kehendak Tuhan, tetapi batu sandungan adalah untuk menghentikan atau setidaknya, untuk menghalangi dan memperlambat kehendak Tuhan. Yesus telah mengarahkan pandangannya pada Yerusalem, untuk mempersembahkan hidup-Nya sebagai korban di kayu salib dan dengan mulia, bangkit dari kematian. Namun, Simon, sang batu sandungan, mencoba melawan dan mencegah Yesus memenuhi kehendak Bapa-Nya. Kata “Satanas” dalam bahasa Yunani, dapat berarti ‘musuh’. Simon menjadi musuh yang melawan misi Yesus.

Minggu lalu, kita merenungkan misi Simon Petrus dan bagaimana kita menjadi Petrus-Petrus kecil saat Tuhan memanggil kita untuk sebuah panggilan dan pelayanan tertentu meskipun kita tidak layak. Namun, Yesus menyatakan bahwa hambatan sejati untuk misi kita bukanlah kelemahan dan ketidaklayakan kita, tetapi kepentingan dan agenda egois kita. Alih-alih berkata, “Terjadilah menurut kehendakmu,” kita berteriak, “terjadilah seturut kehendakku.” Ini adalah taktik besar setan, bahwa kita diajak mengutamakan diri kita sendiri, daripada Tuhan. Mungkin ada imam-imam yang tergoda dan sibuk mencari kenyamanan hidup dan mengumpulkan kekayaan untuk diri kita sendiri, daripada melayani umat dengan dedikasi. Mungkin ada orangtua-orangtua, yang alih-alih membawa anak-anak kita kepada Tuhan, malah disibukkan dengan mengejar ambisi dan karier kita pribadi.

Karena itu, Yesus mengingatkan dengan lantang, “apa gunanya mendapatkan seluruh dunia namun kehilangan jiwa kita?” Di gerbang surga, St. Simon Petrus akan bertanya kepada kita, “Apakah selama hidup, kamu menjadi batu sandungan bagi kehendak Tuhan atau telah menjadi batu fondasi bagi rencana-Nya?”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP