Minggu Biasa ke-13. 2 Juli 2017 [Matius 10: 37-42]
“Siapa pun yang mencintai ayah atau ibu lebih dari pada saya tidak layak untuk saya, dan siapa pun yang mencintai anak laki-laki atau perempuan lebih dari saya tidak layak untuk saya (Mat 10:37).”
Ketika Tuhan memanggil kita, Tuhan tidak hanya memanggil kita secara individual. Dalam Alkitab, Tuhan juga memanggil kita dengan keluarga kita dan komunitas kita. Tuhan menciptakan pria dan wanita pertama yang tidak hanya untuk saling melengkapi, tapi juga “berkembang biak” atau membangun keluarga manusia. Nuh masuk ke dalam bahtera bersama istri dan anak-anaknya. Mereka diselamatkan sebagai keluarga dari banjir besar. Abraham dan Sarah dipanggil dari tanah Ur untuk membangun keluarga dan klan mereka sendiri di tanah Kanaan. Ketika Tuhan memanggil Musa untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan, Tuhan juga memanggil Harun dan Miriam, saudara laki-laki dan perempuan Musa, untuk membantu dia dalam misinya. Akhirnya, kehidupan Yesus dari Nazaret tidak akan lengkap tanpa keluarga Maria dan Yusuf dari Nazaret.
Tentunya, ini adalah kabar baik bagi orang-orang yang berorientasi keluarga. Bagi banyak budaya, seperti Filipina dan Indonesia, keluarga merupakan pusat sistem nilai kita. Ketika saya bertanya kepada beberapa teman Filipina, “Jika rumah kamu terbakar, benda apa yang akan kamu selamatkan terlebih dahulu?” Jawaban mereka bukanlah uang, dokumen penting atau perhiasan, tapi foto keluarga! Pada tahun 1977, Presiden Tanzania Julius Nyerere, salah satu tokoh paling terkemuka Afrika selama masa itu, mengunjungi AS dan berbicara di hadapan para pelajar Afrika. Dengan tegas, dia mengkritik orang-orang Afrika yang mendapat banyak dukungan dari keluarga dan komunitas mereka, namun menolak untuk kembali setelah pendidikan mereka. Itu adalah tindakan pengecut dan pengkhianatan terhadap Afrika.
Namun, jika kita membaca Injil hari ini, Yesus mengajukan tuntutan yang berat bagi murid-murid-Nya. Dalam pewartaan Kerajaan Allah, mereka harus lebih mengasihi Yesus daripada mengasihi keluarga mereka. Di Israel zaman itu, seperti banyak masyarakat Mediterania, penghormatan terhadap orang tua adalah tugas suci bagi setiap anak. Ini adalah perintah keempat dari sepuluh perintah Allah. Bahkan jika seorang anak gagal menghormati orang tua mereka dan terus membuat orang tua sakit kepala, dia akan dihukum berat oleh masyarakat (lih. Deu 21: 20-21). Sebagai orang Yahudi, Yesus mengetahui hal ini dengan sangat baik, namun Dia tetap pada pendirian-Nya agar murid-murid-Nya harus terlebih dahulu berkomitmen kepada Dia dan Injil-Nya melebihi keluarga mereka. Apakah Yesus ingin memutus kita dari keluarga kita? Apakah mengikuti Yesus berarti meninggalkan keluarga kita? Apakah kasih terhadap Kristus bertentangan dengan kasih bagi keluarga?
Tuhan sungguh memanggil kita dengan keluarga kita dan sebagai sebuah keluarga, tapi Dia tidak memanggil kita hanya untuk keluarga kita. Rm. Enrico Gonzales, OP guru saya di Manila selalu berkata, “Kasih dimulai di rumah, tapi tidak berakhir di sana.” Kita pasti mengasihi keluarga kita, tapi sebagai orang Kristiani kita dipanggil untuk melayani keluarga manusia yang lebih besar dan juga bumi kita ini. Tidak mungkin melayani orang lain, jika kesetiaan kita adalah untuk diri kita sendiri dan keluarga kecil kita. Banyak korupsi dan kejahatan terjadi karena kita ingin memperkaya diri sendiri dan keluarga kita dengan mengorbankan orang lain. Untuk melayani keluarga manusia yang lebih besar, kita dipanggil untuk pertama-tama mengasihi Tuhan yang adalah Bapa bagi semua, yang memberi hidup, menurunkan hujan dan memberikan sinar matahari kepada yang baik dan tidak begitu baik. Yesus tidak ingin menghancurkan keluarga karena pastilah Dia mengasihi Maria dan Yusuf, namun Dia mengasihi Bapa-Nya lebih dari siapapun, dan kasih ini memberdayakan Dia untuk memberikan nyawa-Nya untuk kita semua yang Bapa-Nya kasihi.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



The reality of temptation has taken place even since the dawn of time. In the book of Genesis, we read that our first parents were tempted by the serpent and unfortunately, they were tricked, fell and sinned. Then one after another a biblical character was put into temptation and fell. Cain committed the first murder and fratricide. David was involved in adultery. Solomon worshipped and built temples for other pagan gods. Fortunately, not all fell during the time of trials. Job was pounded by all kinds of woes, but he never sinned and in fact, praised the Lord in the most miserable situation. And we have Jesus who triumphed over Satan and his temptations in the desert. Yet, why are we tempted? Why are we susceptible to this reality that lures us to sin?
Pencobaan telah terjadi bahkan sejak awal sejarah umat manusia. Dalam kitab Kejadian, Adam dan Hawa tergoda oleh sang ular dan sayangnya, merekapun tertipu dan berdosa. Kemudian satu demi satu tokoh di Alkitab mengalami pencobaan dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Kain melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia saat dia menghabisi saudaranya sendiri. Daud terlibat dalam perzinahan. Salomo menyembah dan membangun kuil untuk berbagai berhala. Syukurlah, tidak semua jatuh pada pencobaan ini. Diterpa oleh segala jenis malapetaka, tapi Ayub tidak pernah berdosa dan memuji Tuhan bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan. Dan kita memiliki Yesus yang menang atas Iblis dan godaannya di padang gurun. Namun, mengapa kita terus masuk ke dalam pencobaan? Mengapa kita rentan terhadap godaan sang Jahat yang memikat kita untuk berbuat dosa?
Mammon in Aramaic, the native language of Jesus, means riches, money or even properties. And nobody can serve both the true God and Mammon. In original Greek, Mathhew chose a stronger word than “to serve” Mammon, but it is to ‘become slave’ of Mammon. A slave is someone who no longer possesses freedom of his or her own; the lives are dependent on their master’s whim. Interesting to note is that the Mammon is not even a living being, and yet, people are freely laying their freedom to be its slave. It is irrational and in fact, unthinkable, but the reality narrates countless stories of people being possessed by riches and do inhuman things.
Mamon dalam bahasa Aram, bahasa asli Yesus, berarti kekayaan, uang atau bahkan properti. Dan tidak ada yang dapat melayani Allah yang benar dan Mamon bersamaan. Dalam bahasa Yunani, Matius memilih kata yang lebih kuat dari “melayani” Mamon, tapi ia mengunakan untuk ‘menjadi budak’ Mamon. Seorang budak adalah seseorang yang tidak lagi memiliki kebebasan dan kehidupannya tergantung pada kemauan tuannya. Menarik untuk dicatat adalah bahwa Mamon itu bukan makhluk hidup, namun, banyak orang mau meletakkan kebebasan mereka untuk menjadi budaknya. Hal ini tidak rasional dan pada kenyataannya, tak terpikirkan, tetapi kenyataannya banyak orang yang memilih kekayaan dan melakukan hal-hal yang tidak manusiawi demi Mamon.
Love is not for the fainthearted. It is difficult to love, even those whom we are supposed to love naturally and easily. At times, we feel regret in having committed ourselves in marriage to someone who turns out to be moody, demanding and no longer attractive. Sometimes, we want to kick out our children who become too stubborn and rebellious. Sometimes, we also think that we enter the wrong Congregation or convent.



Yesus mengatakan bahwa kita adalah garam dunia. Yesus tidak berkata kita ‘seperti’ garam dunia. Keduanya sangat berbeda, seperti ‘saya adalah Bayu’ jauh berbeda dengan ‘saya seperti Bayu.’ Kalimat pertama memberi hubungan esensial antara subjek dan predikat, sedangkan kalimat kedua hanya hubungan kesamaan yang sementara. Yesus pun tahu persis hal ini.
October is the month of the rosary. Allow me to reflect on this ancient yet ever new form of prayer. Why October? It all started when Pope Pius V, a Dominican, dedicated October 7 as the feast of Mary Our Lady of the Rosary after the battle of Lepanto. In this naval battle of October 7, 1571, the smaller Christian army fought the much larger and powerful Ottoman Turks’ forces that planned to invade Europe at the Gulf of Lepanto in Greece. While the battle was being waged, the Holy Pontiff and all Christians prayed the rosary asking the intercession of Our Lady. After hours of confrontation, the enemy’s fleet was roundly defeated.
Oktober adalah bulan rosario. Izinkan saya untuk menulis tentang doa yang sebenarnya kuno tetapi selalu baru. Mengapa Oktober adalah bulan rosario? Semuanya berawal ketika Paus Pius V, seorang Dominikan, mendedikasikan 7 Oktober sebagai pesta Maria Ratu Rosario setelah pertempuran Lepanto. Pada 7 Oktober, 1571, di Teluk Lepanto di Yunani, tentara Eropa berjuang melawan armada laut Ottoman Turki yang jauh lebih besar dan kuat, yang merencanakan untuk menyerang Eropa. Sementara pertempuran sedang berlangsung, sang Paus dan semua umat berdoa rosario meminta perantaraan Bunda Maria. Setelah berjam-jam konfrontasi, armada musuh pun dikalahkan.