Conquering Greed

18th Sunday in Ordinary Time. July 31, 2016 [Luke 12:13-21]

 “…is not rich in what matters to God (Luk 12:21).”

rich foolGreed is one of the most sickening sins. It can plague practically anyone, rich and poor, young and old, lay people and even the leaders of the Church. Greed as the inordinate desire for wealth or money. Greed breeds corruption, stealing, cheating and violence. Greed produces injustice and poverty. And injustice and poverty cause nothing but suffering of countless people and permanent destruction to our mother earth.

Sometimes, we can easily accuse some persons in government and in business world as the greedy ones. Indeed, with their positions of power and intellectual capacity, they can suck a massive amount of money just for themselves. Instead using the money of the tax payers for building up the nations, the big portion of it goes to their individual pockets. But, we need to remember that greed does not only affect the affluent, but also the poor.

Movie Slumdog Millionaire (2008) tells us a story of Salim and Jamal Malik who are victims of this injustice and greed. After the killing of their mother because of religious hatred in slam area in India, they were forced to stay in a sanitary landfill. Then, they were adopted by ‘professional beggars’ syndicate. One particular scene that reveals the gruesome manifestation of greed is one little boy with sweet voice, Arwind, was blinded. Jamal later remarks, “Blind singers earn double.” The worst part of the movie is that the movie is not totally fiction, but many events are true to life.

Greed is even more sickening because it is not only about wealth or material possession. It is a vice that consumes our identity as human person, created as the image of God, with the capacity to love and share. In the parable of the rich fool, we discover the rich man only cares for himself, his harvest, his possessions, his life and his future. There is no place for other people, let alone God in his heart. Greed destroys our humanity to its core. We cling to our lives and our possession, and fail to see that all we have is blessings to share.

Just few days ago, Fr. Jacques Hamel was murdered inside the Church by the armed terrorists. The church Saint Etienne-du-Rouvray in Northern French was stormed during the morning mass. He and a mass-goer finally died after their throats were slit. While the world was shocked by this heinous cowardly act, we are once again invited to examine the life of this simple priest who gave his very life to the end. We may believe that life is stripped of him, but we forgot that actually he had given his life even before the day of his martyrdom. He lived a simple life and at age of 84, and he remained faithful to celebrate the sacraments and serve the people all the day of his life. He gave his life for God and the Church. His death is no longer loss but a moment of confirmation of his generosity that inspires the world. As St. Tertulian once said, the blood of the martyrs is the seed of Christians.

This utter generosity is a reflection of our deepest calling as human person, created in the image of God. And only in this true charity and abundant generosity, we may fight the greed that plague our souls.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menaklukan Ketamakan

Minggu Biasa kedelapan belas. 31 Juli 2016 [Lukas 12:13-21]

“…jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah (Luk 12:21)”

Fr Jacques hamelKeserakahan dan ketamakan adalah dosa yang sangat menhancurkan. Ketamakan dapat menjangkiti praktis siapa pun, kaya dan miskin, tua dan muda, awam dan bahkan para pemimpin Gereja. Ketamakan dapat dimengerti sebagai hasrat yang tak terkendali untuk memiliki kekayaan atau harta benda. Keserakahan melahirkan berbagai bentuk korupsi, pencurian, penipuan dan kekerasan. Keserakahan menghasilkan ketidakadilan dan kemiskinan. Dan ketidakadilan dan kemiskinan menyebabkan penderitaan bagi jutaan orang dan kerusakan permanen pada bumi ini.

Kadang-kadang, kita dapat dengan mudah menuduh beberapa orang di pemerintahan dan dunia bisnis sebagai serakah. Memang, dengan posisi kekuasaan dan kapasitas intelektual, mereka dapat menyedot sejumlah besar uang hanya untuk diri mereka sendiri. Dana dari para masyarakat pembayar pajak yang seharusnya digunakan untuk membangun bangsa, malah masuk ke kantong pribadi mereka. Tapi, kita harus ingat bahwa keserakahan tidak hanya mempengaruhi mereka yang kaya tetapi semua orang, termasuk juga orang miskin.

Film Slumdog Millionaire (2008) mengkisahkan Salim dan Jamal Malik yang menjadi korban ketidakadilan dan keserakahan. Setelah pembunuhan ibu mereka karena kebencian agama di daerah kumuh di India, mereka dipaksa untuk tinggal di tempat pembuangan sampah. Kemudian, mereka diadopsi oleh sindikat ‘pengemis profesional’. Salah satu adegan yang mengungkapkan bentuk keserakahan yang mengerikan adalah salah satu anak laki-laki dengan suara merdu, Arwind, dibutakan. Jamal berkomentar kemudian, “penyanyi buta berpenghasilan ganda.” Bagian terburuk dari film ini adalah bahwa film ini tidak sekedar fiksi belaka, tetapi banyak peristiwa seperti ini terjadi dalam kehidupan kita.

Ketamakan bahkan lebih menghacurkan karena dosa ini tidak hanya tentang kekayaan. Ketamakan adalah dosa yang menghancurkan identitas kita sebagai manusia, diciptakan sebagai citra Allah, dengan kapasitas untuk mengasihi dan berbagi. Dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh Minggu ini, kita menemukan orang kaya hanya peduli dirinya sendiri, panenanya, hartanya, hidupnya dan masa depannya sendiri. Tidak ada tempat bagi orang lain, apalagi Tuhan di dalam hatinya. Keserakahan menghancurkan kemanusiaan kita sampai keintinya. Kita menggemgam erat kehidupan kita dan apa yang kita miliki, dan gagal untuk melihat bahwa semua yang kita miliki adalah berkat untuk dibagikan.

Hanya beberapa hari yang lalu, Romo Jacques Hamel dibunuh di dalam Gereja oleh teroris bersenjata. Gereja Saint Etienne-du-Rouvray di Perancis utara diserbu saat misa pagi. Dia dan seorang umat akhirnya meninggal setelah leher mereka digorok. Sementara dunia terkejut dengan tindakan pengecut keji ini, kita sekali lagi diundang untuk melihat lebih dalam kehidupan imam yang sederhana ini yang memberi hidupnya sampai akhir. Kita mungkin percaya bahwa hidup dirampas darinya, tapi kita lupa bahwa sebenarnya dia telah memberikan hidupnya jauh sebelum hari kemartirannya. Dia hidup sederhana dan pada usia 84, dia tetap setia merayakan sakramen dan melayani umat Tuhan setiap hari dalam hidupnya. Dia memberikan hidupnya bagi Tuhan dan Gereja. Kematiannya bukanlah suatu kerugian, tapi sebuah peneguhan atas kemurahan hatinya yang menginspirasi dunia. Sebagaimana St. Tertulian pernah berkata, Darah para martir adalah benih umat Kristiani.

Kemurahan hati dari Rm. Hamel ini adalah refleksi dari panggilan terdalam kita sebagai manusia, sebagai citra Allah. Dan hanya dalam kasih yang sejati dan kemurahan hati yang melimpah, kita dapat melawan keserakahan dan ketamakan yang menjangkiti jiwa kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Introvert or Extrovert?

16th Sunday in Ordinary Time. July 17, 2016 [Luke 10:38-42]

 “There is need of only one thing. Mary has chosen the better part and it will not be taken from her (Luk 10:42).”

Martha and MaryFew weeks ago, I participated in a seminar-workshop on personality recognition and development. The activity was organized by the ministry of Lectors of Santo Domingo Parish and facilitated by seasoned speaker Sr. Leticia Garcia, DC. As I expected, the test result told me that I was dominantly introvert, meaning I was silent and more reserved guy. I found strength in solitude. I shared this treats with many of the participants. Yet, not few were actually our opposite. They were extrovert, meaning they were people-oriented and action-driven. They were recharged in interaction with others. Sr. Garcia made a point that the difference must not bring us into animosity. When properly developed, our personalities shall complete each other and contribute in the service of God.

Reading today’s Gospel, we encounter two lovely protagonists, Martha and Mary. Doubtless, Martha was dominantly extrovert. She did all the chores. She was very mobile and action-driven. In fact, she did all talk. Mary, meanwhile, was predominantly introvert. She did nothing but listened to Jesus. She was not even moving at the foot of Jesus. No single word was uttered from her mouth.

In the story, when Martha complained to Jesus about her sister’s inactivity, Jesus defended Mary. It seems that Jesus was favoring Mary over Martha. Does it mean that Jesus preferred introvert people than extrovert one? Not really. Looking deeper into the life of Jesus, we may justifiably say that Jesus himself was predominantly extrovert. He was action-oriented, He did a lot of things: healing, exorcising, feeding, doing miracles, and teaching. He involved in people’s lives. He attended many parties, and even accused as a glutton and a drunkard, a friend of tax collectors and sinners (Mat 11:19)!

So, why is it that Jesus said to Martha, There is need of only one thing. Mary has chosen the better part (Luk 10:42)?” I believe Jesus was not playing favoritism. Rather, Jesus intended to remind Martha that she has missed the point of serving. Not that being extrovert and energetic were wrong, but she began to compare herself with her sister. Worse, she imposed her way as the best option to serve the Lord. As she was immersed in herself, Martha was losing Jesus.

Mary chose a better part because she allowed Martha to be Martha, and to serve Jesus through her unique personalities. She did not complain when Martha did something different from her, because her focus was on Jesus not herself. Mary refused the temptation to make herself as the center of activities and life, create a little god out of herself. Thus, not only she allowed Martha to be Martha, she allowed Jesus to be God. This is the best part.

Every one of us, with our different unique personalities and talents, are called to become Jesus’s disciple, and to contribute in building His Church. The Church needs both the introvert and the extrovert. In fact, when we are working together, we may contribute even significantly larger than our individual contribution. Some of my brothers in the community are truly outgoing and enjoy to do missions and preaching in many places. I admit I have to exert extra effort to go out seminary, and a lot easier for me to spend hours reading and writing. We then work together as I provide them with preaching modules and my friends do the actual preaching.

The danger is when we only think that our ways are the only way and begin to complain about those who are different from us. We no longer think of Christ, but ourselves, and make ourselves as little gods. We pray that we may choose the better part as we work together to serve God and in our works and lives, God is truly glorified.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Introvert atau Ekstrovert?

Minggu Biasa ke-16. [17 Juli 2016] Lukas 10: 38-42

 Hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya (Luk 10:42).”

Beberapa minggu yang lalu, saya mengikMartha and Mary by He Qiuti seminar dan lokakarya tentang pengenalan dan pengembangan kepribadian di Manila, Filipina. Seperti yang saya duga, hasil tes menyatakan bahwa saya secara dominan adalah introvert, yang berarti saya kepribadian yang tenang dan pendiam. Saya menemukan kekuatan dalam keheningan. Saya tidak sendirian karena banyak juga peserta adalah introvert. Namun, tidak sedikit yang memiliki kepribadian yang berlawanan dengan kami. Mereka adalah ekstrovert, yang berarti mereka menyukai banyak aktivitas dan senang berinteraksi dengan orang lain. Sang pembicara mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh membawa kita ke permusuhan. Jika dikembangkan dengan baik, kepribadian kita yang unik akan saling melengkapi dan berkontribusi dalam pelayanan di Gereja dan kemuliaan Tuhan.

Membaca Injil hari ini, kita menemukan dua protagonis, Marta dan Maria. Tak diragukan lagi, Marta secara dominin adalah ekstrovert. Dia melakukan semua pekerjaan. Dia sangat aktif. Bahkan, dia tidak segan-segan terlibat pembicaraan dengan Yesus. Sementara Maria adalah tipikal introvert. Dia bisa tenang, diam dan hanya mendengarkan Yesus. Dia bahkan tidak bergerak di kaki Yesus. Tidak ada satupun kata yang terucap dari mulutnya.

Dalam cerita, ketika Marta mengeluh kepada Yesus karena saudaranya yang diam saja, Yesus membela Maria. Apakah ini berarti bahwa Yesus lebih meyukai pribadi introvert daripada ekstrovert? Saya rasa tidak. Jika kita melihat kehidupan Yesus, kita dapat mengatakan bahwa Yesus secara dominan adalah ekstrovert. Ia melakukan banyak hal: penyembuhan, mengusir roh jahat, memberi makan, melakukan mujizat, dan mengajar. Dia terlibat dalam kehidupan banyak orang. Dia menghadiri banyak pesta dan perayaan, dan bahkan dituduh sebagai pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang-orang berdosa (lit. Mat 11:19)!

Jadi, mengapa Yesus berkata kepada Marta, Tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik (Luk 10:42)?” Saya percaya Yesus tidak pilih kasih. Sebaliknya, Yesus  bermaksud mengingatkan Marta bahwa ia telah kehilangan tujuan utama dari pelayanannya. Yesus tidak alergi dengan Marta yang adalah ekstrovert, tapi Marta membandingkan dirinya dengan saudaranya. Lebih buruk lagi, ia memaksakan caranya sebagai cara terbaik terbaik untuk melayani Tuhan. Saat ia terhanyut di dalam dirinya sendiri, Marta kehilangan Yesus.

Maria memilih bagian yang lebih baik karena ia tidak memaksakan kehendaknya dan membiarkan Marta menjadi Marta. Dia tidak mengeluh ketika Marta melakukan sesuatu yang berbeda darinya, karena ia fokus pada Yesus. Maria menolak godaan untuk membuat dirinya sebagai pusat pelayanan dan kehidupannya, dan menjadikan dirinya sabagai tuhan kecil. Jadi, tidak hanya dia membolehkan Marta menjadi Marta, ia juga membolehkan Yesus menjadi Tuhan. Ini adalah bagian yang terbaik.

Kita semua, dengan kepribadian yang unik dan bakat yang berbeda, dipanggil untuk menjadi murid Yesus, dan untuk berkontribusi dalam membangun Gereja-Nya. Gereja membutuhkan baik introvert dan ekstrovert. Bahkan, ketika kita bekerja bersama-sama, kita dapat berkontribusi secara signifikan lebih besar dari kontribusi individu kita masing-masing. Beberapa frater-frater saya di komunitas menikmati bermisi dan berkhotbah di banyak tempat. Saya mengakui bahwa saya harus mengerahkan usaha ekstra untuk sekedar pergi keluar seminari, dan jauh lebih mudah bagi saya untuk menghabiskan berjam-jam membaca dan menulis. Kami kemudian bekerja sama. Saya menawarkan berbagai materi pewartaan dan frater-frater saya melakukan aksi pewartaan yang sebenarnya.

Bahayanya adalah ketika kita hanya berpikir bahwa cara kita adalah satu-satunya cara dan mulai mengeluh tentang orang-orang yang berbeda dari kita. Kita tidak lagi memikirkan Kristus, tetapi diri kita sendiri, dan membuat diri kita sebagai tuhan-tuhan kecil. Kita berdoa agar kita dapat memilih bagian yang lebih baik karena kita bekerja bersama-sama untuk melayani Tuhan, dan di dalam karya dan kehidupan kita, Tuhan benar-benar dimuliakan.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Demand of Love

 13th Sunday in Ordinary Time. June 26, 2016 [Luke 9:51-62]

 “Let the dead bury their dead (Luk 9:60).”

Follow meFollowing Jesus is difficult. In today’s Gospel, He demands that we let go three things. The first is our concern for our enemies. It seems easy to ignore those people whom we don’t like, but in reality, they consume our attention and energy. My friend shared to me how he was bullied at his officemates, and this drained so much of his productivity and focus in work. Often, like James and John, our anger moves to seek revenge and even violence. “Lord, do you want us to call down fire from heaven to consume them (the Samaritans who rejected them)?” Yet, Jesus reminds us to leave these behind.

The second thing is our pursuit for life security and comfort. Jesus put simply, the Son of Man has nowhere to rest his head.” It is part of our nature to look for comfort and enjoyable life, often through seeking material possession. Our modern mentality also trains us to love work and compete for highest position and biggest success. When we work hard and achieve in various fields of our live, like in our career, even our service in the Church, this gives us immeasurable sense of fulfillment. Yet, Jesus also wants us to put this aside.

Thirdly, and I believe most difficult for many of us, it is the family. When a follower wanted to bury his father, Jesus made a strong yet symbolic statement, “Let the dead bury the dead.” Being an Asian, particularly Indonesian, I have strong sense of family-orientation. In almost all major events of my life like graduation and solemn religious profession, my parents were proudly present. Though, it means they needed to fly to Manila and spent a lot of money. For my Filipino brothers in the community, it is unthinkable to totally detach from their families. Yet, even this most precious possession we have, Jesus wants us to set it aside.

It looks like that Jesus’ demand is not only difficult but also impossible. Why does it have to be like this? We read today’s Gospel closely, we realize that by this time, Jesus has fixed His course to Jerusalem. He knew well that nothing but failure, frustration and death awaited Him there. Yet, He still did this because He obeyed His Father’s radical demand. What is this demand of the Father? It is no other than the demand of love: You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind.” Jesus invites us to this radical reorientation of our love. When we love God, then the rest will fall into its proper place.

When we see God first, we will try our best to love those who hate us because people unworthy of our love bear God’s image as well. When we seek God first, the material possession, successful career and life security are seen as blessing from God. Then, they are also blessing to share with others. When we love God first, our love for our family will be purified, as we will bring them to closer to God.

A friend told me how his family is so dear to him. But, thing began to fall apart, as his younger brother was trapped into drug addiction. Initially, he did not like his brother to undergo rehabilitation and be separated from the family for indefinite time. But, after long prayer and discernment, he decided to bring his brother into a center of recovery. It was a painful decision, but his love for God has brought him into a bigger love for his brother. Now, he becomes even more pious as he attends mass every day for the recovery of his brother.

To follow Jesus is difficult and demanding, but it is necessary as we expand our love for God and others.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuntutan Kasih

Minggu Biasa ke-13/26 Juni 2016 [Lukas 9:51-62]

 “Biarlah orang mati menguburkan orang mati (Luk 9:60).”

following jesusMengikuti Yesus itu sulit. Dalam Injil hari ini, Dia menuntut ada tiga hal penting yang harus kita berani lepaskan. Hal pertama adalah fokus kita pada musuh atau orang tidak kita sukai. Sepertinya mudah untuk mengabaikan orang-orang yang tidak kita sukai, tetapi dalam kenyataannya, mereka mengambil banyak perhatian dan energi kita. Seringkali, seperti Yakobus dan Yohanes, kemarahan kita mendorong kita untuk membalas dendam, bahkan dengan cara kekerasan. Pikiran dan emosi kita terkuras oleh kebencian dan menunggu saat pembalasan. “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka (orang Samaria yang menolak Yesus)?” Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hal ini harus kita lepas.

Hal Kedua adalah hasrat kita untuk keamanan dan kenyamanan hidup. Untuk mencari kenyamanan dan kehidupan yang menyenangkan adalah bagian dari sifat kita, dan ini tidak lepas dari usaha kita mengumpulkan kekayaan. Mentalitas modern juga melatih kita untuk mencintai kerja dan bersaing untuk posisi tertinggi dan sukses terbesar. Ketika kita bekerja keras dan berprestasi di berbagai bidang hidup kita, seperti dalam karir, bahkan dalam pelayanan kita di Gereja, ini memberi kita kepuasaan. Namun, Yesus juga menginginkan kita untuk lepaskan hal ini. Yesus secara sederhana mengatakan, “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.

Hal ketiga adalah yang paling sulit. Ini adalah keluarga. Ketika seorang pengikut Yesus ingin menguburkan ayahnya, Yesus membuat pernyataan kuat namun simbolik, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati.” Sebagai orang Indonesia, saya memiliki rasa kekeluargaan yang kuat. Hampir semua peristiwa besar dalam hidup saya seperti wisuda dan kaul kekal, orang tua saya hadir dengan bangga. Meskipun, ini berarti mereka perlu terbang ke Manila dan menghabiskan banyak uang. Sama halnya juga dengan frater-frater OP Filipina, tidak terpikirkan bagi mereka untuk benar-benar melepaskan diri dari keluarga mereka. Namun, bahkan yang paling berharga ini, Yesus ingin kita sisihkan.

Sepertinya permintaan yang Yesus tidak hanya sangat sulit, tetapi juga mustahil. Mengapa harus seperti ini? Membaca Injil hari ini, kita melihat bahwa Yesus telah menetapkan tujuan-Nya ke Yerusalem. Dia tahu betul bahwa tidak ada apa-apa selain kegagalan dan kematian-Nya di sana. Namun, Dia tetap melakukan ini karena Dia taat pada kehendak Bapa-Nya. Apakah kehendak Bapa? Hal ini adalah tuntutan kasih: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengajak kita untuk membenahi prioritas kasih kita secara radikal. Ketika kita mengasihi Allah, maka selebihnya akan berada di tempat yang tepat.

Ketika kita melihat Allah terlebih dahulu, kita akan mencoba sebaik mungkin untuk mengasihi orang yang membenci kita karena mereka juga diciptakan sebagai citra Allah juga. Ketika kita mencari Tuhan terlebih dahulu, harta benda, kesuksesan dan keamanan hidup dipandang sebagai berkat dari Tuhan. Dan, sebagai berkat, kita dengan mudah berbagi dengan sesama. Ketika kita mengasihi Allah terlebih dahulu, kasih kita untuk keluarga kita akan dimurnikan, karena kita akan membawa mereka lebih dekat dengan Tuhan.

Seorang teman bercerita bagaimana keluarga sangat penting baginya. Tapi, semua mulai berantakan, karena adiknya terterat dalam kecanduan narkoba. Awalnya, ia tidak suka adiknya menjalani rehabilitasi dan terpisah dari keluarga untuk waktu yang lama. Tapi, setelah doa yang panjang, ia memutuskan untuk membawa adiknya untuk masuk pusat pemulihan. Ini adalah keputusan yang menyakitkan, tapi kasihnya kepada Allah telah membawa dia ke sebuah kasih yang lebih besar untuk sang adik. Sekarang, ia menjadi lebih saleh dan ia menghadiri misa setiap hari untuk pemulihan adiknya.

Untuk mengikuti Yesus adalah sulit, tetapi ini adalah bagian dari tuntutan kasih. Dan hanya kasih kita kepada Allah membawa kita pada kepenuhan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Who Do You Say that I Am?”

12th Sunday in The Ordinary Time. June 19, 2016 [Luke 9:18-24]

 simon n jesus - for blogWhat will be your answer to Jesus’ question “Who do you say that I am?” We may come up with multiple answers. He is my God, my savior, my friend or my brother. But, we seldom ask, “Do we really understand Jesus’ question? Do we get the right answer? Why is it that Peter would confess that Jesus is Christ of God in the first place?

Christ comes from a Greek ‘Christos’, meaning Messiah or the Anointed One. In the Old Testament, the Anointed One of God refers to the great kings of Israel like Saul and David. Less often, the anointed one applies to prophets and priests. They were called as such because they were anointed with the sacred oil before they assumed the important office. They are leaders of the people as well as God’s representative. When God chose David to lead His People, He instructed Prophet Samuel to go to Bethlehem to house of Jesse and look for David. When the holy prophet found him, he anointed David with the sacred oil. The Spirit of the Lord then rushed and filled upon David (1 Sam 16:1-14). Under King David, Israel reached its pinnacle. Yet, after his demise, Israel’s glory slowly fading and even disappeared altogether. Since then, the Israelites long for the coming of the Anointed One who will restore their glory.

Jesus definitely was aware that He is the Anointed One. In the beginning of his preaching ministry, Jesus went to the synagogue in Nazareth and proclaimed, “The Spirit of the Lord is upon me, because he has anointed me to bring glad tidings to the poor. (Luk 4:18).” Yet, Jesus avoided public proclamation that He is the Christ. He knew well that He would be misunderstood by the Jews. He never came as a political liberator nor a military chieftain. Thus, He waited until the best time arrived.

The time reached fulfillment when Peter was able to answer correctly. Tired of Roman oppressions, the entire Israel, including Peter, was impatient for the coming of the Messiah. When Jesus nodded that He is the Christ, Peter and other disciples would not have a second thought. They would follow their Messiah until the New Israel is born. For Peter, his answer is more than making a confession on Jesus’ identity, but promising firm allegiance to Jesus. Yet, again Jesus had to remind them of the false image of Messiah. He would be rejected, persecuted and even murdered. Following Him means also suffering the same fate as their Master.

When Jesus confronts us with this question “Who do you say that I am?” it is not about giving personal and favorite status of Jesus. Following Peter, our answer is fundamentally about radical commitment to Jesus. It means to follow Him for better or worse. It entails sufferings and cross. Even we may lose our life. We can easily and joyfully sing and praise Jesus in worship meetings, but do we get involved in dirty works of helping the poor? We are proud to have our wedding at the big Church with glamorous celebration, but are we patient enough to endure the trials of marriage life ‘until death do us part’? We are called Christian, because we bear Christ in us. But, do we live like Christ’s image in the world?

To answer rightly, we need to get the question correctly. Have we understood Jesus’ question “Who do you say that I am?” Have we dared to give the right answer? May St. Paul reminded us who we are, “I have been crucified with Christ; yet I live, no longer I, but Christ lives in me (Gal 2:19-20)”

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Menurut Kamu, Siapakah Aku ini?”

Minggu Biasa ke-12. 19 Juni 2016 [Lukas 9:18-24]

quo vadisApa yang akan menjadi jawaban kita saat Yesus bertanya “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Kita mungkin menjawab: Dia adalah Tuhan, Juruselamat, sahabat atau saudara. Tapi, apakah kita sudah mengerti dengan baik pertanyaan Yesus? Apakah jawaban kita inilah yang Yesus harapkan? Mengapa jawaban Petrus adalah Kristus dan bukan jawaban lainnya?

Kristus berasal dari kata Yunani ‘Christos’ yang berarti Mesias atau Yang Terurapi. Dalam Perjanjian Lama, Yang Terurapi mengacu pada raja-raja besar Israel seperti Saul dan Daud. Tapi kadang juga, Mesiah berlaku bagi para nabi dan imam. Mereka disebut seperti itu karena mereka diurapi dengan minyak suci sebelum mereka mengemban tugas penting. Mereka adalah pemimpin bangsa Israel dan juga wakil Allah. Ketika Tuhan memilih Daud untuk memimpin umat-Nya, Dia memerintahkan Nabi Samuel untuk pergi ke Betlehem ke rumah Isai dan mencari Daud. Ketika sang nabi menemukannya, ia mengurapi Daud dengan minyak suci. Roh Tuhan kemudian bergegas dan memenuhi Daud (1 Sam 16: 1-14). Di bawah Raja Daud, Israel mencapai puncak kejayaannya. Namun, setelah kematiannya, kejayaan Israel perlahan memudar dan bahkan hilang sama sekali. Sejak saat itu, Israel merindukan kedatangan Mesias yang akan mengembalikan kejayaan mereka.

Yesus menyadari bahwa Dia adalah Kristus. Pada awal misi pewartaan-Nya, Yesus pergi ke rumah ibadat di Nazaret dan menyatakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (Luk 4:18). Namun, Yesus menghindari proklamasi publik bahwa Dia adalah Kristus. Dia tahu betul bahwa ia akan disalahpahami oleh orang-orang Yahudi. Dia tidak pernah datang sebagai tokoh politik ataupun seorang pemimpin militer. Dengan demikian, Ia menunggu sampai waktu yang tepat.

Waktunya tiba ketika Petrus mampu menjawab dengan benar. Lelah dengan penindasan Romawi, seluruh Israel, termasuk Petrus, tidak sabar akan kedatangan Mesias. Ketika Yesus mengamini bahwa Ia adalah Kristus, Petrus dan murid-murid lainnya tidak akan berpikir dua kali. Mereka akan mengikuti Mesias mereka sampai Ia membawa Israel yang baru. Bagi Petrus, jawabannya lebih dari sekedar pengakuan tentang identitas Yesus, tetapi menyatakan kesetiaannya kepada Yesus. Namun, sekali lagi Yesus harus mengingatkan mereka akan ide salah tentang Mesias di kepala mereka. Dia akan ditolak, dianiaya dan bahkan dibunuh. Mengikuti Yesus berarti juga menderita nasib yang sama seperti Guru mereka.

Ketika Yesus menghadapkan kita dengan pertanyaan Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Ini bukan saja tentang memberikan jawaban personal dan favorit tentang Yesus. Seperti Petrus, jawaban kita pada dasarnya adalah komitmen radikal kepada Yesus. Ini berarti untuk mengikuti-Nya dalam suka dan duka. Hal ini menuntut penderitaan dan salib. Bahkan mungkin kita akan kehilangan hidup kita. Kita dengan mudah bernyanyi dan memuji Yesus dalam prayer meeting, tapi apakah kita mau terlibat dalam karya sulit untuk membantu orang-orang miskin? Kita bangga mengalami pernikahan kita di Gereja besar dan indah, tapi apakah kita mampu sabar untuk menanggung cobaan hidup perkawinan ‘sampai kematian memisahkan kita’? Kita dipanggil Kristiani, karena kita adalah milik Kristus. Tapi, apakah kita bisa hidup sebagai citra Kristus di dunia?

Untuk menjawab dengan benar, kita perlu mengerti pertanyaan Yesus dengan benar. Saat, kita mengerti pertanyaan Yesus “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Apakah kita berani memberikan jawaban yang benar? St. Paulus mengingatkan siapa kita sebenarnya, “Aku telah disalibkan dengan Kristus;  namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. (Gal 2: 19-20).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Blessing, a Difference We Make

The Ascension Sunday. May 8, 2016 [Luke 24:46-53]

“As he blessed them he parted from them and was taken up to heaven (Luk 24:32).”

The Ascension - Luke 24:50-51
The Ascension – Luke 24:50-51

The best way to say goodbye is to bless. Every time I would leave for the Philippines and continue my formation, my parents would hug and bless me as they mark my forehead with a small sign of the cross. My Filipino friends have this ‘Mano Po’ tradition at the beginning and the end of an encounter with their elderly or people they respect. They will hold the hand of their elders, and place it on their forehead.  This is, I believe, a beautiful sign of honor and blessing. The Dominicans in Europe used to have this habit of asking blessing to their prior before they leave for mission. Indeed, it is the motto of Dominican to ‘praise, bless and preach’. Ultimately, every Eucharist celebration ends with the final blessing.

Yet, what is blessing all about? In Latin, blessing is ‘benedicere’. The word is a composition of two other Latin words: ‘bene (good)’ and ‘dicere (to speak)’. Thus, to bless is to speak good word. Since the word tends to become flesh, we wish that the good word we utter for our beloved turn to be a reality as well. If we look closely the story of creation in Genesis 1, we discover God did threefold acts: creating, seeing goodness and blessing the creations. When God created the universe, God made sure that His creations were good and because of this goodness, He blessed them. Blessing is not simply human act, but also divine. It is not simply saying good, but also discovering good. It is not only wishing good and nice words, but hoping good things to happen.

As the Father has blessed the creations before He rested in the seventh day, the Son also blessed His beloved disciples before He ascended into His resting abode. When God blessed Adam and Eve, He said, “Be fertile and multiply! (Gen 1:28)” God’s blessing names, affirms and rejuvenates the goodness in us. Because of our goodness is reaffirmed, it empowers man and woman to be fruitful, joyful and generous. God’s blessing transforms us into blessing also for others.

 To bless is our vocation as the disciples of Christ. Catherine Marie Hilkert, OP once said that preaching is naming grace, then it is also true that preaching is naming goodness. Unfortunately, instead blessing, we choose to curse. In Latin, cures is ‘maledicere’, to speak bad. Just like blessing, bad words tend to become flesh. Families are broken because we forget to say blessing, and focus on blaming. Religious intolerance, violence and even terrorism begin at the holy pulpit. Sadly, in time of election, from far West, the United States to the far East, Indonesia and the Philippines, politicians running for the offices engage in mudslinging, trade accusations, and employ nasty tricks. Defying reason, the people turn to be fanatic, frantic and partial supporters, willing to do anything for the candidate they admire.

Our world has been fractured and disfigured due to the curses we utter. Adam and Eve said no to God and passed the blame to each other. As their offspring, we continue this destructive curse. We desperately need blessing to undo this vicious cycle. Then, Jesus came and embraced all the bad things in His cross and made them fruitful again in His resurrection. Now, He ascends into Heaven and before He goes, He makes sure that His blessing remains. Ascension reminds us that we have the mission to name goodness and allow ourselves to become blessings to others. Only by becoming a blessing, we may heal ourselves, our family, our society and our world.

Bro. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Berkat

Pesta Kenaikan Tuhan Yesus. 5 Mei 2016 [Lukas 24: 46-53]

“Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga (Luk 24:51).”

ascension n cross

Cara terbaik untuk mengucapkan selamat jalan adalah dengan memberkati. Setiap kali saya berangkat ke Filipina dan melanjutkan formasi, orang tua saya akan memeluk dan memberkati saya dengan menandai dahi dengan tanda salib kecil. Rekan-rekan Filipina memiliki tradisi ‘Mano Po’ di awal dan akhir perjumpaan dengan orang-orang yang dituakan. Mereka akan memegang tangan orang tua mereka, dan menempatkannya di dahi mereka. Hal ini, saya percaya, adalah sebuah tanda dari berkat dan hormat. Setiap kali seorang frater Dominikan di Manila akan ditahbiskan, malam sebelumnya ia akan menerima berkat dari komunitas dan ia akan berlutut dan semua frater dan romo berdoa bersama dan memberkati dia. Pada akhirnya, setiap perayaan Ekaristi berakhir dengan berkat dan perutusan.

Namun, apa arti dari memberkati? Dalam bahasa Latin, memberkati adalah ‘benedicere’. Kata ini berasal dari dua kata Latin lainnya: bene (baik) dan dicere (mengucapkan). Dengan demikian, untuk memberkati adalah untuk mengucapkan kata yang baik. Karena kata cenderung menjadi daging, kita berharap bahwa kata-kata baik yang kita ucapkan pada giliran akan menjadi kenyataan juga. Jika kita teliti dengan seksama kisah penciptaan dalam Kejadian bab 1, kita melihat Allah melakukan tiga tindakan terhadap ciptaan-Nya: menciptakan, melihat kebaikan dan memberkati. Ketika Allah menciptakan alam semesta, Allah memastikan bahwa ciptaan-Nya adalah baik dan karena kebaikan ini, Iapun memberkati mereka. Memberkati tidak hanya tindakan manusia, tetapi juga ilahi. Memberkati tidak hanya mengucapkan yang baik, tetapi juga menemukan hal yang baik. Memberkati ini tidak hanya bersabda dengan kata-kata yang baik dan bagus, tetapi berharap hal-hal baik ini menjadi kenyataan.

Seperti Bapa telah memberkati ciptaan-Nya sebelum Ia beristirahat di hari ketujuh, sang Putra juga memberkati para murid yang dikasihi-Nya sebelum Ia naik ke surga. Ketika Tuhan memberkati Adam dan Hawa, Ia mengatakan, “Jadilah subur dan bertambah banyaklah! (Kej 1:28 – terjemahan sendiri)” Berkat Tuhan mengartikulasikan, menegaskan dan meremajakan kebaikan dalam diri kita. Karena kebaikan kita ditegaskan kembali, berkat memberdayakan pria dan wanita untuk berbuah, bahagia dan bermurah hati dengan sesama. Berkat Tuhan mengubah kita menjadi berkat juga bagi sesama.

Untuk memberkati adalah panggilan kita sebagai murid-murid Kristus. Catherine Marie Hilkert, OP pernah berkata bahwa ‘pewartaan’ adalah mengartikulasikan rahmat, maka tidak salah jika pewartaan dimengerti sebagai mengartikulasikan kebaikan. Sayangnya, bukannya berkat, kita memilih untuk mengutuk. Dalam bahasa Latin, mengutuk adalah ‘maledicere’, untuk berbicara buruk. Sama seperti berkat, kata-kata buruk cenderung menjadi daging. Keluarga rusak karena kita lupa untuk mengatakan berkat, dan fokus pada saling menyalahkan. Intoleransi, kekerasan dan bahkan terorisme berlatar belakang agama mulai di mimbar suci. Sayangnya, di saat pemilu, dari Amerika Serikat sampai ke Indonesia dan Filipina, para politisi yang mengejar posisi saling mengumpat, saling tuduh, dan mempekerjakan trik jahat. Seolah-olah kehilangan akal sehat, para pemilih berubah menjadi pendukung fanatik dan emotional, rela melakukan apa saja untuk calon yang mereka kagumi.

Dunia kita telah rusak dan cacat akibat kutukan yang kita ucapkan. Adam dan Hawa mengatakan tidak kepada Allah dan menyalahkan satu sama lain. Sebagai keturunan mereka, kita meneruskan kutukan yang menghancurkan ini. Kita sangat membutuhkan berkat untuk membatalkan lingkaran setan ini. Kemudian, Yesus datang dan memeluk segala kutuk di salib-Nya dan membuat kita berbuah lagi dalam kebangkitan-Nya. Sekarang, Ia naik ke surga dan sebelum Dia pergi, Dia memastikan bahwa berkat-Nya tetap tinggal. Kenaikan-Nya mengingatkan kita bahwa kita memiliki misi untuk mengartikulasikan kebaikan dan membiarkan diri kita menjadi berkat bagi sesama. Hanya dengan menjadi berkat, kita dapat menyembuhkan diri kita sendiri, keluarga, masyarakat dan dunia ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP