Yesus, Bukan Raja Biasa

Minggu Palma Sengsara Tuhan

13 April 2025

Lukas 19:28-40 dan Lukas 22:14-23:56

Minggu Palma adalah salah satu perayaan liturgi yang paling unik dalam Gereja karena memberikan dua bacaan Injil: Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Raja (Lukas 19:28-40) dan kisah Sengsara Kristus (Lukas 22:14-23:56). Bacaan-bacaan ini bukan kebetulan ada, tetapi Gereja mendampingkan keduanya untuk mengungkapkan hubungan yang mendalam antara kedua bacaan ini. Namun, apakah hubungan ini?

Injil pertama menggambarkan Yesus memasuki Yerusalem, kota Raja Daud dan para penggantinya. Para murid-Nya mengikuti-Nya sementara penduduk Yerusalem menyambut-Nya, menyatakan Dia sebagai raja. Namun Injil ini menjelaskan bahwa Yesus bukanlah seorang penguasa duniawi biasa. Dia bukanlah seorang raja yang berkuasa secara militer dengan menunggang kuda perang, tetapi seorang raja yang rendah hati dan cinta damai dengan menunggang keledai. Dia datang dalam nama Tuhan – tidak melalui garis keturunan kerajaan, sistem politik modern, atau tipu daya. Dia memerintah bukan atas satu bangsa, tetapi atas semua ciptaan, bahkan “batu-batu akan berseru” untuk menyatakan kerajaan-Nya.

Injil kedua, kisah Sengsara, lebih jauh mengungkapkan Kristus sebagai Raja. Dia tidak memerintah dengan kekerasan tetapi merangkulnya dan mengakhirinya di kayu salib. Kerajaan-Nya beroperasi bukan melalui teror tetapi melalui hukum kasih, mengorbankan diri-Nya sendiri agar umat-Nya dapat ditebus dari dosa dan kemudian hidup.

Saat kita memasuki Pekan Suci, kita diundang untuk memeriksa identitas kita sebagai umat kerajaan Allah. Apakah kita mengasihi Raja kita atau takut akan Dia? Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Dia, kita harus belajar untuk semakin menyerupai Dia dan juga mengasihi seperti Dia mengasihi. Selama dua ribu tahun, banyak sekali martir yang mengikuti teladan Kristus hingga mati. Bahkan saat ini di abad ke-21, umat Kristiani terus menghadapi penganiayaan: Para imam di Nigeria diculik dan dibunuh; komunitas Kristiani di Suriah diserang dan diusir; juga meningkatnya permusuhan anti-Kristen di Israel.

Banyak dari kita yang hidup di tempat di mana iman dapat diekspresikan dengan bebas, namun lingkungan ini menghadirkan bahaya yang berbeda – materialisme, rasa puas diri, atau kepengecutan dalam bersaksi tentang Kristus. Kita tergoda untuk memprioritaskan diri sendiri di atas Tuhan, untuk mencintai diri kita sendiri daripada Yesus.

Kita bisa belajar dari teladan St. Katarina Siena. Pada masanya, paus lebih memilih tinggal di Avignon, Perancis daripada di Roma karena ia takut berurusan dengan orang-orang yang menentangnya di sana. Namun, alih-alih menjadi pemimpin dalam iman dan teladan moral, paus lebih banyak melibatkan diri dalam politik. Maka, St. Katarina dengan berani pergi ke Avignon dan menghadapi Gregorius XI, mendesaknya untuk kembali, “Jika Anda mati di Roma, anda mati sebagai seorang martir – tetapi jika anda tetap di sini, anda mati sebagai seorang pengecut.” Tindakannya mengalir dari cinta yang radikal kepada Kristus Sang Raja.

Jika Yesus adalah Raja kita, bagaimana kita harus mengikuti-Nya?

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus sebagai Raja kita? Bagaimanakah kasih kita kepada Kristus diwujudkan secara praktis? Apakah kita siap untuk menyatakan iman kita dalam lingkungan yang penuh tantangan? Apakah kita mau berkorban untuk orang lain karena kasih kita kepada Yesus? Apakah kita siap untuk menanggung penderitaan sebagai orang Kristen?

Kasih dan Pengkhianatan

Minggu Prapaskah ke-5 [C]

6 April 2025

Yohanes 8:1-11

Kisah perempuan yang tertangkap dalam berzina merupakan kisah yang sering muncul pada masa Prapaskah, terutama pada Tahun C. Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah ini?

Sekilas, kisah ini tampak sederhana, namun mengandung pelajaran yang sangat dalam yang perlu kita gali. Meskipun kita sering mengaitkannya dengan belas kasih dan pengampunan Allah, yang tentunya benar, ada hal yang lebih dalam dari sekadar apa yang terlihat. Dalam Alkitab, perzinaan bukan hanya merupakan dosa besar; perzinaan juga merupakan metafora untuk penyembahan berhala, sebuah pengkhianatan rohani yang paling berat. Nabi Hosea, misalnya, dipanggil untuk menikahi seorang wanita yang tidak setia untuk melambangkan relasi Allah yang setia dengan Israel yang tidak setia (Hosea 1-3). Yehezkiel mengutuk Yerusalem dan Samaria sebagai “saudara perempuan yang berzina” karena mengejar ilah-ilah asing (Yehezkiel 23:30). Demikian pula, dalam Perjanjian Baru, Yakobus menegur mereka yang memprioritaskan “persahabatan” duniawi di atas Tuhan, dengan menyebut mereka sebagai “pezina”. (Yakobus 4:4).

Hubungan antara perzinaan dan penyembahan berhala mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan. Dia tidak menciptakan kita sebagai budak yang dikendalikan oleh rasa takut atau sebagai robot yang tidak berpikiran yang terikat oleh program. Sebaliknya, Dia menciptakan kita sebagai orang yang bebas dan mampu mengasihi, yang menginginkan sebuah relasi kasih dengan kita; hubungan yang dibangun di atas pengabdian dan bukan kewajiban. Dalam istilah mistik, Tuhan mengundang kita untuk menjadi kekasih rohani-Nya, yang berarti kita mengasihi-Nya di atas segalanya dan melayani Dia bukan karena takut, tetapi karena cinta yang dalam dan tulus.

Salah satu orang kudus yang paling awal berbicara tentang “perkawinan rohani” ini adalah St. Katarina dari Siena. Pada usia enam tahun, ia menyatakan dirinya sebagai mempelai Kristus, menolak pernikahan duniawi untuk mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Yesus. Pada usia 20 tahun, dia mengalami pernikahan rohani dengan Kristus. Dan cintanya yang luar biasa menyatukannya secara mendalam dengan Kristus sampai-sampai ia ikut merasakan luka-luka-Nya. Dia menerima stigmata sekitar lima tahun sebelum dia meninggal dunia.

Gereja secara terus-menerus mengajarkan bahwa kita, secara kolektif, adalah Mempelai Kristus. Sama seperti Hawa yang dibentuk dari sisi Adam ketika dia tidur, Gereja lahir dari sisi Yesus yang tertusuk di kayu salib. Melalui pembaptisan, kita dilahirkan kembali sebagai anggota Gereja-Nya, yakni Kekasih-Nya. Melalui Ekaristi, kita dipelihara dan ditopang oleh Tubuh dan Darah-Nya. Oleh karena itu, kasih kita kepada Allah haruslah melebihi segala sesuatu yang lain, dan bahkan kasih kita kepada keluarga dan teman-teman haruslah mengalir dari kasih kita kepada Kristus.

Inilah sebabnya mengapa lebih mengutamakan sesuatu yang lain di atas Tuhan merupakan perzinaan rohani. Kisah Yesus yang mengampuni perempuan yang berzina menggambarkan kasih dan kerahiman Allah yang tak tergoyahkan dan juga ketidaksetiaan kita. Masa Prapaskah memanggil kita kembali kepada cinta kita yang pertama dan yang paling sejati; satu-satunya cinta yang membawa kebahagiaan abadi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita berelasi dengan Allah – sebagai seorang hamba yang taat kepada tuannya, atau sebagai seorang kekasih yang merespon Cinta-Nya? Apakah kita mengasihi Allah di atas segalanya? Apakah kita mengasihi orang lain demi Tuhan? Keterikatan tidak sehat apa terhadap dunia yang perlu kita periksa? Bagaimana kita dapat kembali kepada cinta sejati kita?

Musa

Minggu ke-3 Masa Prapaskah [C]

23 Maret 2025

Keluaran 3:1-8a, 13-15

Musa adalah salah satu tokoh terbesar dalam Perjanjian Lama. Ia memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir, menjadi perantara perjanjian Sinai, mengajarkan hukum-hukum Allah, dan bahkan melakukan mukjizat. Kehidupan dan ajarannya dicatat dalam empat kitab: Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Namun, ketika kita melihat lebih dalam ke dalam kehidupannya, kita menemukan bahwa kisahnya tidak selalu tentang kehebatan dan kesuksesan. Musa juga memiliki masa lalu yang kelam.

Musa dilahirkan sebagai suku Lewi pada saat Mesir memerintahkan pembunuhan terhadap semua bayi laki-laki Ibrani. Untuk menyelamatkannya, ibunya menyusun rencana untuk menempatkannya di dalam keranjang di Sungai Nil, di mana ia ditemukan oleh seorang putri Firaun. Putri itu menariknya dari air dan menamainya “Musa” (Kel 2:10). Meskipun lahir sebagai orang Israel, Musa diadopsi oleh sang putri dan dibesarkan sebagai bagian dari keluarga kerajaan, menikmati hak-hak istimewa yang disediakan untuk bangsawan Mesir.

Kisah Musa mungkin saja memiliki “akhir yang bahagia” seandainya ia tidak melibatkan dirinya dalam penderitaan para budak Ibrani. Dia bisa saja hidup dengan nyaman sebagai seorang pejabat Mesir, menikahi seorang wanita Mesir, membesarkan sebuah keluarga, dan menikmati masa tua yang berkelimpahan. Namun, dia tidak bisa mengabaikan ketidakadilan yang menimpa bangsanya. Dalam sebuah momen kemarahan, dia membunuh seorang Mesir yang menindas seorang Israel. Musa percaya bahwa dia telah menyembunyikan kejahatannya, tetapi dia salah. Ketika dia mencoba menengahi perselisihan antara dua orang Israel, mereka justru membongkar rahasianya, mengekspos dia sebagai seorang pembunuh. Kehidupannya yang nyaman hancur, dan dia terpaksa melarikan diri dari Mesir. Setelah ditarik dari air, Musa kini menemukan dirinya tenggelam dalam keputusasaan.

Di Midian, Musa memulai hidup baru. Dia melindungi anak perempuan seorang imam Midian dari gangguan para gembala, dan sebagai tanda terima kasih, imam itu menyambutnya dan memberikan putrinya, Zippora sebagai istri Musa. Hal ini menandai kehidupan Musa yang kedua. Meskipun tidak semewah kehidupannya di Mesir, namun kehidupan Musa di sana terasa tenang. Namun, ketika Musa berusia sekitar 80 tahun, Tuhan menampakkan diri kepadanya di semak yang menyala dan memanggilnya untuk menjadi alat-Nya dalam membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Musa sangat meragukan dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang pembunuh dan buronan yang telah mengkhianati kebaikan hati orang Mesir, dan juga tidak mempercayai rekan-rekannya sesama orang Israel. Dia juga sudah tua dan puas dengan kehidupannya di Midian.

Terlepas dari masa lalu Musa yang kelam dan penuh dosa, dan juga penuh keraguannya, Allah tetap memilihnya. Mengapa? Karena kisah Musa pada akhirnya bukanlah tentang Musa, melainkan tentang Allah, yang menebus Israel melalui seorang manusia yang tidak sempurna dan rapuh. Namun, Musa bukanlah sekadar alat. Ketika ia melakukan perjalanan bersama Tuhan, ia juga menemukan penebusannya sendiri.

Seperti Musa, kita juga jauh dari sempurna. Kita lemah dan bergumul dengan dosa dan keterikatan yang tidak teratur. Kita gagal sebagai orang tua, pasangan, anak, dan teman. Kita menyakiti orang lain dan diri kita sendiri. Kita meragukan diri kita sendiri dan sering kali merasa kurang. Namun, Tuhan tetap memilih kita. Dia ingin kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri dan mengundang kita untuk berjalan bersama-Nya untuk menemukan penebusan. Pada akhirnya, kita hanya dapat bersyukur, karena terlepas dari kehancuran dan ketidaksempurnaan kita, Tuhan menjadikan kita indah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Nilai apa yang kita temukan saat kita mengingat cerita tentang Musa?  Apakah kita memiliki kesamaan dengan Musa? Jika ya, apakah itu? Apakah kita memiliki masa lalu yang kelam seperti Musa? Apakah kita mengalami kegagalan seperti Musa? Apakah kita meragukan rencana Allah bagi kita, seperti Musa? Apa yang dapat kita pelajari dari Musa ketika ia menerima panggilan Allah? 

Transfigurasi dan Kemah

Hari Minggu Prapaskah ke-2 [C]

16 Maret 2025

Lukas 9:28b-36

Minggu Prapaskah kedua memberikan kita kisah Transfigurasi, di mana Yesus digambarkan memancarkan cahaya, menjadi terang itu sendiri. Dua tokoh terbesar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia, muncul dan bercakap-cakap dengan Yesus. Kemudian, Petrus mengajukan tawaran yang menarik kepada Yesus: sebuah kemah. Tetapi mengapa Petrus tiba-tiba menawarkan sebuah kemah?

Alasan yang praktis adalah karena Yesus dan murid-murid-Nya berencana untuk berdoa di atas gunung, dan mereka mungkin perlu tinggal di gunung untuk waktu yang lebih lama. Mengetahui hal ini, mungkin saja Yesus telah meminta ketiga murid-Nya untuk membawa kemah. Oleh karena itu, tawaran Petrus seharusnya tidak mengejutkan kita, karena kemungkinan besar mereka telah mempersiapkan kemah. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa kemah-kemah itu sekarang ditujukan untuk Musa dan Elia, bukan untuk para murid. Namun, adakah makna yang lebih dalam dari tawaran ini, yang lebih dari sekadar memperpanjang masa tinggal mereka di gunung?

Kemah adalah tempat tinggal sementara dan portabel, biasanya digunakan saat bepergian. Pada zaman dahulu, orang melakukan perjalanan untuk berbagai alasan, termasuk perdagangan, militer, dan ziarah. Pada masa itu, mereka tidak memiliki bus, mobil, atau pesawat terbang. Perjalanan darat sebagian besar dilakukan dengan berjalan kaki, dan para pejalan sering kali perlu beristirahat, terutama ketika jauh dari kota atau desa terdekat. Dalam keadaan seperti itu, kemah adalah sebuah kebutuhan.

Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel melakukan perjalanan dari Mesir ke Kanaan dan menghabiskan waktu kurang lebih empat puluh tahun di padang gurun, menjalani sebagian besar hidup mereka di dalam kemah. Namun, di antara semua kemah Israel, ada satu kemah khusus yang menjadi pusat perkemahan, yaitu kemah di mana Tuhan tinggal di tengah-tengah umat-Nya. Kemah ini secara tradisional disebut “Tabernakel”. Kata “tabernakel” sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti “kemah.” Dalam bahasa Ibrani, kemah Tuhan ini disebut מִשְׁכָּן (miškān), yang secara harfiah berarti “tempat tinggal” dan berasal dari akar kata שָׁכַן (šākan), yang berarti “hadir; tinggal”. Dari akar kata ini, kita mendapatkan kata Shekinah (שְׁכִינָה), yang berarti “Kehadiran” – kehadiran Allah di antara umat-Nya. Allah memilih untuk tinggal di dalam Kemah Suci agar Dia dapat berjalan di antara umat-Nya, dan bangsa Israel dapat mendekat kepada Allah mereka.

Sekarang, kembali ke Injil, tampaknya Yesus menolak tawaran Petrus untuk mendirikan kemah, tetapi pada kenyataannya, Dia hanya menundanya. Yesus tahu bahwa suatu hari nanti, Dia memang akan tinggal di dalam kemah di antara umat-Nya. Dalam Gereja Katolik, Tuhan berjalan bersama umat-Nya sampai akhir zaman saat Dia hadir dalam Ekaristi. Kita juga memiliki sebuah “kemah”, yaitu Tabernakel, di mana Tuhan yang telah bangkit dan berdiam sementara di antara kita, yang memungkinkan kita untuk berkunjung dan dekat dengan-Nya. Namun, kita memahami bahwa kemah ini hanyalah tempat tinggal sementara; tempat tinggal-Nya yang sejati adalah di surga.

Kita juga harus ingat bahwa kita adalah peziarah di dunia ini, yang mendirikan kemah di sini untuk sementara waktu. Kita mungkin memiliki kemah yang indah dan luas, tetapi itu tetaplah kemah. Tempat tinggal kita di dunia ini hanya sementara, dan kita tidak boleh memperlakukan tempat tinggal sementara ini sebagai rumah kita yang kekal dan permanen. Rumah kita yang sejati adalah bersama Tuhan di surga.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita menyadari bahwa kita hanyalah peziarah di bumi ini? Bagaimana kita mempersiapkan diri kita untuk mencapai rumah kita yang sejati? Apakah kita mengunjungi Tuhan di dalam kemah-Nya? Bagaimana kita menerima Tuhan ke dalam “kemah” kita?

Roh Kudus dan Padang Gurun

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [C]
9 Maret 2025
Lukas 4:1-13

Ketika kita memulai masa Prapaskah, kita sekali lagi diajak untuk merenungkan kisah Yesus yang diuji di padang gurun selama empat puluh hari. Namun, Injil Lukas memberikan detail yang menarik: Roh Kuduslah yang membawa Yesus ke padang gurun, tempat di mana Ia berpuasa dan menghadapi si jahat. Apa artinya ini?

Dengan membawa Yesus ke padang gurun selama empat puluh hari, Roh Allah bermaksud agar Yesus menghidupkan kembali peristiwa penting dalam Perjanjian Lama, yaitu perjalanan bangsa Israel di padang gurun. Seperti bangsa Israel, Yesus juga menghadapi tantangan dan kesulitan. Cuaca padang gurun yang sangat keras, dengan panas yang menyengat di siang hari dan dingin yang menusuk tulang di malam hari. Makanan dan air sangat langka, dan padang gurun merupakan rumah bagi binatang-binatang buas yang mengancam kehidupan manusia. Yesus menghidupkan kembali pengalaman bangsa Israel, yang mengalami kondisi yang sama sulitnya. Tetapi selain itu, Iblis melihat kesempatan untuk mencobai Yesus, karena ia tahu bahwa Dia sedang lapar dan lemah secara badani. Ini adalah roh jahat yang sama yang mencobai bangsa Israel di padang gurun. Lukas mengungkapkan tiga pencobaan yang dihadapi Yesus: kenikmatan jasmani (membuat roti), kekayaan duniawi (asal menyembah setan), dan kemuliaan pribadi (dengan mempertunjukkan mukjizat di tempat umum).

Bangsa Israel di padang gurun menghadapi tiga godaan yang sama. Ketika mereka lapar dan haus, mereka bersungut-sungut kepada Allah, bahkan menyalahkan-Nya karena telah membebaskan mereka dari Mesir (Kel. 16). Ketika Musa berdoa di atas gunung, orang Israel menuntut ilah baru, menggantikan Allah yang hidup dengan anak lembu emas-sesuatu yang secara materi berharga dan menarik, tetapi pada akhirnya tidak bernyawa (Kel. 32). Beberapa orang Israel, yang dipenuhi dengan kesombongan, mencari kemuliaan untuk diri mereka sendiri. Harun dan Miryam mencoba mengklaim kepemimpinan atas Musa (Bil. 12), sementara Korah dan para pengikutnya berusaha merebut posisi imam besar (Bil. 16). Dengan memasuki padang gurun dan menghidupkan kembali peristiwa ini, Yesus menjadi Israel yang baru dan sempurna. Secara fisik Dia lemah, diuji, dan dicobai, tetapi Dia tidak jatuh. Dia bahkan mengalahkan Iblis dalam peperangan rohani yang pertama ini.

Injil mengatakan bahwa Yesus dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun, di mana Dia “dicobai” oleh Iblis. Apakah ini berarti bahwa adalah kehendak Allah untuk “mencobai” Yesus? Kata Yunani yang digunakan di sini adalah “πειράζειν” (peiratsein), yang dapat diterjemahkan sebagai “menggoda”, tetapi juga “menguji”. “Menggoda” dan “menguji” ini bukan sinonim, tetapi keduanya berkaitan erat karena saat pengujian sering kali mencakup kesempatan untuk godaan. Sama seperti dalam ujian sekolah, kita mungkin merasakan godaan untuk berbuat curang.

Injil mengajarkan kita bahwa Tuhan, dalam hikmat-Nya yang tak terbatas, tidak selalu melindungi kita dari masa-masa sulit, tetapi mengizinkan kita untuk menghadapi ujian hidup. Ujian-ujian ini, seperti kelaparan, masalah keuangan, penyakit, dan relasi yang sulit, sering kali digunakan oleh roh-roh jahat untuk menggoda kita untuk mencuri, menipu, tidak setia, dan menyalahkan Tuhan. Namun, kita harus ingat bahwa Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus ketika Dia memasuki padang gurun. Satu-satunya cara untuk bertahan dalam ujian hidup dan melindungi diri kita dari godaan adalah dengan mengandalkan Roh Kudus. Ketika kita mengandalkan diri sendiri, kita pasti akan gagal, tetapi dengan pertolongan Tuhan, kita akan menang, seperti Yesus.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:
Apa saja pengalaman padang gurun kita? Ujian apa yang perlu kita hadapi dalam hidup? Godaan apa yang sering kita hadapi? Apakah kita mengandalkan Roh Kudus di masa-masa sulit ini? Bagaimana kita dapat lebih mengandalkan Tuhan? Hikmat apa yang kita peroleh setelah mengalami pencobaan?

Kasih dan Kuasa

Minggu ke-7 dalam Masa Biasa [C]

23 Februari 2025

Lukas 6:27-38

Yesus mengajarkan kita untuk “mengasihi musuh kita,” tetapi apa artinya ini? Apakah ini berarti kita harus menanggung perbuatan jahat mereka tanpa membela diri? Apakah itu berarti kita harus selalu mengalah pada tuntutan mereka? Apakah itu berarti kita harus melupakan begitu saja apa yang mereka lakukan kepada kita? Syukurlah, Gereja memberikan jawaban kepada kita melalui bacaan pertama kita: kisah Daud dan Saul.

Saul, raja pertama Israel, pada awalnya mendukung Daud sebagai salah satu panglimanya, terutama setelah Daud mengalahkan Goliat. Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah melalui berbagai peperangan, Daud menjadi lebih sukses daripada Saul dan bahkan mendapatkan ketenaran yang lebih besar. Merasa terancam oleh popularitas Daud yang semakin meningkat, Saul menyatakannya sebagai musuhnya dan berusaha untuk membunuhnya. Daud terpaksa melarikan diri, dan bersama para pendukungnya, ia melancarkan perang gerilya melawan Saul.

Suatu hari, ketika Saul dan pasukannya mengejar Daud, mereka berkemah untuk bermalam. Daud melihat kemah Saul di dekatnya, dan ketika para penjaga tertidur, Daud diam-diam memasuki kemah Saul dan memiliki kesempatan untuk membunuhnya. Sahabat Daud bahkan mendesaknya untuk mengambil tindakan tersebut, karena mengetahui bahwa Saul telah menyebabkan banyak penderitaan baginya dan anak buahnya. Selain itu, jika Saul terbunuh, Daud dapat mengklaim takhta dan menjadi raja Israel yang baru. Namun, Daud menolak untuk membunuh Saul, karena ia menyadari bahwa Saul masih merupakan raja yang diurapi Tuhan. Dia tahu bahwa hal ini adalah tindakan pengecut. Pada akhirnya, Tuhan memberkati Daud karena telah menunjukkan belas kasihan kepada musuhnya, Saul.

Kisah Daud dan Saul mengilustrasikan bagaimana kita dapat mengasihi musuh-musuh kita. Mengasihi bukan hanya berarti menyukai seseorang, tetapi lebih dari itu, kita harus memilih untuk berbuat baik kepada mereka. Ya, kita mungkin merasa benci kepada musuh kita, tetapi kita masih bisa memutuskan untuk mengasihi mereka dengan tidak menyakiti mereka. Dari kisah Daud, kita juga belajar bahwa mengasihi musuh kita mengandaikan bahwa kita memiliki kuasa atas mereka. Dalam kasus Daud, ia memiliki kuasa untuk mengakhiri hidup Saul. Mengasihi seseorang, termasuk musuh kita, membutuhkan kekuatan dan kuasa.

Kebenaran tentang kasih dan kuasa ini sangatlah penting. Bukanlah kasih yang sejati jika kita hanya memaafkan kesalahan musuh kita karena kita tidak memiliki kekuatan dan kuasa untuk membela diri. Saya sering mengatakan kepada pasangan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga bahwa pasrah begitu saja pada tuntutan pasangan yang kasar dan manipulatif bukanlah kasih yang sejati, tetapi kesalahpahaman akan perintah Yesus untuk mengasihi musuh-musuh kita.

Mengasihi orang lain, bahkan musuh kita, adalah untuk mereka yang kuat dan berkuasa. Hanya melalui penggunaan kekuasaan dan otoritas, kita dapat melakukan sesuatu yang benar-benar baik. Tanpa kekuasaan, kita dapat menipu diri kita sendiri dengan berpikir bahwa kita mengasihi musuh-musuh kita, padahal pada kenyataannya, kita hanya mengalah dan pasrah pada tindakan jahat mereka.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Bagaimana kita memahami perintah Yesus untuk mengasihi musuh-musuh kita? Siapakah musuh-musuh kita? Apakah kita mau mengasihi musuh-musuh kita? Bagaimanakah kita dapat mengasihi musuh-musuh kita? Apakah kita yakin bahwa kita mengasihi musuh-musuh kita, atau apakah kita hanya menyerah pada tidakan jahat mereka?

Kekudusan Allah

Minggu ke-5 dalam Masa Biasa [C]
9 Februari 2025
Yesaya 6:1-2a, 3-8

Dalam bacaan pertama Minggu ini, kita menemukan kisah Yesaya, yang dipanggil untuk menjadi nabi Allah. Yesaya melihat Bait Allah surgawi, di mana para Serafim, malaikat tertinggi, berseru: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam!” Melalui kata-kata para Serafim, Alkitab mengungkapkan salah satu karakteristik Allah yang paling mendasar: kekudusan-Nya. Di ayat lain, Allah secara eksplisit memerintahkan kita: “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus” (Im 19:2). Namun, apa yang dimaksud dengan kudus? Mengapa kata itu diulang tiga kali? Dan bagaimana kita dapat mencapai kekudusan?

Dalam Alkitab, kata “kudus” (Ibrani: קָדוֹשׁ, baca: kadosh) dapat dimengerti sebagai “sesuatu yang menjadi milik Tuhan”. Tempat kudus, waktu kudus, benda kudus, dan orang yang kudus adalah hal-hal yang dikhususkan untuk Tuhan karena hal-hal ini adalah milik-Nya. Menjadi milik Allah berarti juga mereka dipisahkan dari hal-hal yang bukan milik Tuhan. Proses transisi dari yang tidak kudus menjadi kudus sering disebut konsekrasi atau pengudusan.

Namun, apa yang dimaksud dengan kata “kudus” ketika kita mengatakan bahwa Allah itu kudus? Dalam Alkitab, “kudus” adalah kata yang paling sering digunakan untuk menggambarkan Allah Israel. Seringkali, kata ini diulang sebanyak tiga kali, seperti dalam penglihatan Yesaya. Ini adalah cara umum bahasa Semit untuk mengekspresikan kata superlatif – dengan kata lain, mengatakan “yang paling kudus.” Kekudusan, ketika diterapkan kepada Allah, berarti:

  1. Transendensi – Allah sama sekali berbeda dengan ciptaan-Nya. Dia sempurna; kita tidak. Dia maha kuasa; kita lemah. Dia maha tahu; kita hanya memahami sebagian kecil dari realitas. Dia adalah kesempurnaan.
  2. Immanensi – Terlepas dari transendensi-Nya, Allah tidak jauh. Dia terlibat secara secara dekat dalam sejarah manusia, dalam kehidupan kita, dan dalam pergumulan kita sehari-hari. Dia adalah Allah yang memberikan kehidupan, memperhatikan kita, dan mengasihi ciptaan-Nya. Dia adalah kasih.
  3. Kesempurnaan Moral – Kekudusan Allah juga mengacu pada keadilan dan kebenaran-Nya yang mutlak. Setiap tindakan-Nya adalah baik dan adil. Dia adalah baik dan adil.

Ketika Allah memanggil kita untuk menjadi kudus sebagaimana Dia kudus (Ima 19:2), Dia mengundang kita untuk mengambil bagian dalam kesempurnaan-Nya. Tetapi bagaimana mungkin kita, sebagai makhluk yang tidak sempurna, dapat mencapai standar seperti itu? Sekilas, perintah ini mungkin tampak mustahil. Dan memang benar – jika kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri. Namun, bagi Allah, tidak ada yang mustahil. Kekudusan hanya dapat dicapai ketika kita bersatu dengan-Nya dan bersandar pada rahmat-Nya.

Secara manusiawi mustahil untuk setia kepada suami atau istri secara khusus melalui masa-masa sakit, cobaan, dan kesulitan ekonomi, tetapi rahmat Allah menguatkan kita untuk mengasihi sampai akhir. Secara manusiawi mustahil untuk tetap setia pada panggilan kita, tetapi dengan rahmat Allah, hal yang mustahil menjadi mungkin. Secara manusiawi mustahil untuk mengampuni dan berbuat baik kepada mereka yang telah menyakiti kita, tetapi rahmat Allah memampukan kita dan kesembuhan menjadi mungkin.

Namun, kehidupan rahmat tidaklah otomatis. Kita harus melakukan bagian kita untuk mengizinkan rahmat Allah mengubah kita. Inilah sebabnya mengapa sangat penting untuk: Berdoa dengan setia, membaca Alkitab secara teratur, berpartisipasi dalam Ekaristi setiap hari Minggu dengan penuh hormat, pergi ke pengakuan dosa secara rutin. Praktik-praktik rohani ini membuka hati kita untuk menerima rahmat, yang memungkinkan kita untuk bertumbuh dalam kekudusan. Sungguh, kekudusan tidak mungkin terjadi tanpa Allah, tetapi Allah juga ingin agar kita dengan bebas berpartisipasi dalam kekudusan-Nya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi
Apakah kita sungguh-sungguh ingin hidup kudus? Apakah kita dengan bebas mengundang Allah ke dalam hidup kita? Bagaimana kita memupuk kekudusan dalam rutinitas kita sehari-hari? Sudahkah kita mengalami rahmat Allah dalam hidup kita? Bagaimana kita mengalaminya?

Yang Kudus

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah [C]

2 Februari 2025

Lukas 2:22-40

Hari ini, kita merayakan Pesta Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah, sebuah peristiwa di Injil ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus yang baru lahir di Bait Allah di Yerusalem. Namun, mengapa Yesus harus dipersembahkan di Bait Allah?

Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Bait Allah karena Dia adalah anak sulung Maria. Menurut Hukum Musa, semua anak sulung laki-laki, baik manusia maupun hewan, harus dikuduskan bagi Tuhan (lihat Kel 13:1-2; 11-16). Kata “dikuduskan” atau dijadikan kudus (bahasa Ibrani: kados) berarti menjadi milik Tuhan. Cara yang paling umum untuk menguduskan sesuatu adalah melalui pengorbanan, yang menandakan transisi dari alam biasa ke alam ilahi.

Tentu saja, pengorbanan darah hanya diperlukan untuk hewan ternak, seperti domba atau kambing. Hewan-hewan ini disembelih dan dibakar di altar, yang menandakan peralihan hidup dari dunia ini ke alam ilahi. Namun, tidak semua hewan harus disembelih. Dalam kasus hewan pekerja, seperti keledai, dan anak sulung manusia, mereka dibawa ke Bait Allah dan dipersembahkan kepada imam. Kemudian, pemilik atau orang tua diharuskan untuk menebus anak sulung mereka dengan mempersembahkan hewan untuk dikorbankan sebagai gantinya. Untuk menebus Yesus, Yusuf dan Maria mempersembahkan sepasang burung tekukur atau merpati, kurban yang biasa dipersembahkan oleh orang miskin.

Mengapa anak sulung harus dikuduskan bagi Tuhan? Kitab Keluaran (pasal 12) menceritakan bahwa sebelum bangsa Israel meninggalkan Mesir, tulah kesepuluh yang membunuh anak-anak sulung Mesir terjadi. Anak-anak sulung Israel pun sebenarnya bisa terbunuh karena tulah ini, namun mereka diselamatkan oleh kurban Paskah, yakni anak domba tidak bercacat yang disembelih, darahnya dioleskan pada tiang-tiang pintu, dan dagingnya dipanggang dan dimakan. Dengan cara ini, anak domba Paskah dikorbankan untuk menebus anak-anak sulung Israel dari kematian.

Yang menarik adalah Lukas tidak pernah mengatakan bahwa Yesus “ditebus”. Ya, Dia memang dipersembahkan, dan Maria serta Yusuf memang membawa hewan kurban, tetapi kata “tebus” tidak ada dalam cerita ini. Tampaknya Lukas sengaja menghilangkan kata ini untuk menekankan bahwa Yesus tidak pernah ditebus. Dia telah dikuduskan untuk menjalankan perannya sebagai anak sulung yang sejati, sang Domba Paskah, yang akan dikorbankan agar kita dapat ditebus dari dosa dan maut.

Sebagai umat Kristinani, kita tidak lagi mengikuti ritual pengudusan anak sulung seperti yang diuraikan dalam Keluaran 13. Alasannya adalah karena kita semua telah dikuduskan bagi Tuhan melalui sakramen pembaptisan kita. Melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, Yesus adalah Anak Domba Paskah (1 Kor. 5:7) yang menyelamatkan kita dari dosa dan maut serta menebus kita bagi Allah. Sekarang, kita adalah milik Tuhan, dan sebagai milik Tuhan, kita adalah kudus. Inilah sebabnya mengapa Santo Paulus, dalam surat-suratnya (1 Kor 1:2; Ef 1:1; Flp 1:1), tidak menyebut anggota Gereja sebagai orang Kristen, tetapi sebagai “orang-orang kudus.” Sebagai orang-orang yang dikuduskan bagi Allah, kita dipanggil untuk hidup kudus, karena Allah itu kudus (Im 11:44).

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:

Apakah kita sadar bahwa kita telah dikuduskan bagi Tuhan? Apakah yang dimaksud dengan kekudusan? Apakah kita hidup sebagai umat Allah yang kudus? Bagaimana kita menghidupi kehidupan yang kudus dalam rutinitas kita sehari-hari? Apakah kita menolong orang lain untuk bertumbuh dalam kekudusan? Jika ya, bagaimana caranya?

Siapakah Teofilus?

Hari Minggu ke-3 dalam Masa Biasa [C]
26 Januari 2025
Lukas 1:1-4; 4:14-21

Lukas mendedikasikan Injilnya kepada seorang yang bernama Teofilus, tetapi siapakah dia sebenarnya? Dan mengapa Lukas mendedikasikan Injilnya kepadanya?

Ada beberapa teori yang menarik tentang Teofilus. Teori yang paling banyak diterima adalah bahwa ia adalah sponsor Lukas dalam menulis Injilnya. Dua ribu tahun yang lalu, memproduksi sebuah buku sangatlah mahal. “Kertas” dibuat dari kulit binatang atau dari papirus, tanaman yang hanya tumbuh di sepanjang Sungai Nil di Mesir. Selain itu, Lukas juga harus menanggung “biaya penelitian”. Tidak seperti penginjil lainnya, Lukas bukanlah saksi mata dari peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus. Oleh karena itu, untuk membuat dokumen yang terpercaya secara historis, ia harus melakukan perjalanan dan mewawancarai para saksi mata, seperti beberapa rasul dan Maria, ibu Yesus.

Karena tidak ada mesin cetak pada saat itu, Lukas harus menulis tangan teksnya atau menyewa seorang stenografer atau penyalin, yang secara signifikan meningkatkan biaya.
Injil Lukas adalah Injil terpanjang dari keempat Injil (berisi paling banyak jumlah kata). Lukas juga menulis Kisah Para Rasul. Bersama-sama, kedua karya ini mencakup hampir sepertiga dari seluruh Perjanjian Baru. Tidak heran jika Lukas membutuhkan dukungan finansial dari luar biasa untuk proyeknya yang mahal ini.

Lukas menyebut Teofilus sebagai “κράτιστος” (kratistos), yang biasanya diterjemahkan sebagai “yang mulia”. Gelar ini biasanya digunakan untuk menyebut seseorang yang memiliki status dan pangkat yang tinggi. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa Teofilus lebih dari sekadar mampu untuk mendukung Lukas dalam menulis Injil. Tetapi pertanyaan berikutnya muncul: Apa hubungan Teofilus dengan Yesus? Apakah ia seorang murid yang telah dibaptis dan anggota Gereja perdana? Ataukah dia hanya seorang yang kebetulan ingin belajar tentang kehidupan Yesus?

Jika Teofilus adalah seorang beriman yang telah dibaptis, Lukas mungkin menulis Injilnya untuk memperdalam pengetahuan Teofilus tentang Yesus. Mungkin Teofilus akan menggunakan Injil ini untuk mengajar komunitas Kristiani lokal atau parokinya. Namun, jika Teofilus belum dibaptis, Injil dapat berfungsi sebagai sarana penginjilan, memperkenalkan Kristus kepadanya dan dengan penuh harapan menuntun dia dan keluarganya kepada iman.

Teori lain yang menarik adalah bahwa nama “Teofilus” tidak merujuk kepada satu orang saja, melainkan kepada semua orang percaya. “Teofilus” berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani: “Theos” (yang berarti ‘Tuhan’) dan ‘Philos’ (yang berarti ‘teman’ atau ‘orang yang mengasihi sebagai teman’). Oleh karena itu, Teofilus merujuk kepada siapa pun yang mengasihi Tuhan dan ingin memiliki persatuan dengan-Nya. Dalam hal ini, Teofilus mewakili semua umat Kristiani di sepanjang zaman yang mencari persahabatan yang lebih dalam dengan Tuhan dengan belajar dan mengontemplasikan kehidupan Yesus melalui Injil Lukas. Dengan cara ini, Lukas mendedikasikan karyanya untuk kita semua.

Pada akhirnya, kita mungkin tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya Teofilus, dan kita harus menunggu sampai kita sampai di surga untuk mengetahuinya. Namun, dari Lukas dan Teofilus, kita belajar bahwa misi evangelisasi sangatlah sulit. Namun, mereka juga menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang dapat berkontribusi dalam misi keselamatan ini. Ada yang menawarkan talenta mereka dalam bentuk tulisan, ada yang mengajar, dan ada juga yang memberikan berbagai bentuk dukungan. Meskipun setiap orang dapat memberikan waktu dan tenaga mereka, beberapa orang dipanggil untuk berkhotbah kepada khalayak ramai, sementara yang lain dipanggil untuk membesarkan keluarga mereka dalam iman. Masing-masing dari kita dapat menjadi Teofilus dengan cara kita sendiri – seseorang yang mengasihi Allah dan ingin agar Dia dikenal oleh orang lain.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:
Sudahkah kita membaca seluruh Injil Lukas? Apa episode favorit saya dalam Injil Lukas? Dan mengapa? Apa yang kita lakukan untuk berkontribusi dalam karya evangelisasi? Apakah kita membantu membawa Allah lebih dekat kepada orang lain? Bagaimana caranya?

Yesus dan Maria, Tamu Pernikahan Kita

Minggu Kedua dalam Masa Biasa [C]
19 Januari 2025
Yohanes 2:1-12

Dalam setiap pernikahan, kita tentu mengharapkan mempelai pria dan wanita menjadi pusat perhatian. Bagaimanapun juga, ini adalah pernikahan mereka – momen paling membahagiakan bagi mereka. Namun, kisah pernikahan di Kana di Galilea menawarkan perspektif yang berbeda, yang sering kali diabaikan. Apakah itu?

Pernikahan di Kana bukan tentang kedua mempelai. Bahkan, nama mereka tidak pernah disebutkan, dan mereka hampir tidak muncul dalam cerita. Satu-satunya momen mempelai pria disebutkan adalah ketika dia dipuji karena menyediakan anggur berkualitas tinggi yang melimpah. Sebaliknya, kisah Injil ini berfokus pada Yesus dan interaksi-Nya dengan Maria, ibu-Nya. Kisah ini mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang pernikahan Kristiani yang sering kali tidak terlihat oleh mata.

Kisah ini dimulai dengan sebuah pengantar: Ibu Yesus, Yesus sendiri, dan para murid diundang ke pesta pernikahan. Detail ini memiliki makna yang mendalam. Siapa yang kita undang ke pesta pernikahan kita? Terlalu sering, kita hanya berfokus pada diri kita sendiri-mempersiapkan tempat, merencanakan acara, memilih makanan, dan memilih pakaian pernikahan yang sempurna. Kita menjadi sibuk untuk menyenangkan kerabat, teman, dan tamu. Namun, apakah kita memprioritaskan untuk mengundang Yesus dan ibu-Nya dalam pernikahan kita?

Banyak dari kita mungkin menjawab, “Ya! Kami mengundang Yesus ke pernikahan kami karena pernikahan kami dilangsungkan di Gereja!” Namun, apakah Yesus benar-benar hadir di dalam hati kita? Bagi sebagian orang, pernikahan diadakan di gereja hanya karena kita beragama Katolik. Yang lainnya memilih pernikahan di gereja karena keindahan atau prestisenya. Banyak yang mengikuti kursus persiapan pernikahan hanya karena kewajiban, memenuhi persyaratan keuskupan untuk mendapatkan izin pernikahan di gereja. Namun, berapa banyak dari kita yang secara sadar dan sepenuh hati berusaha untuk benar-benar mengundang Yesus dalam pernikahan kita? Apakah kita mempersiapkan diri secara rohani retret atau pengakuan dosa sebelum menerima sakramen pernikahan? Apakah kita memohon rahmat dan bimbingan-Nya saat kita memulai perjalanan sakral ini?

Kisah pernikahan di Kana juga menyoroti peran Maria yang unik. Dia menyadari bahwa anggur hampir habis dan memberitahukan Yesus tentang masalah tersebut. Setelah berdiskusi singkat, dia menginstruksikan para pelayan: “Lakukanlah segala sesuatu yang diperintahkan-Nya kepadamu.” Kemudian Yesus melakukan mukjizat-Nya yang pertama. Peristiwa ini menunjukkan keterlibatan Maria yang mendalam dalam pernikahan tersebut. Ia bukan hanya seorang tamu biasa; ia memiliki akses ke dalam kehidupan rumah tangga dan mengetahui kebutuhan praktis, seperti kekurangan anggur. Alih-alih memberi tahu mempelai pria atau keluarganya, ia justru berpaling kepada Yesus. Karena kasih-Nya kepada ibu-Nya, Yesus menggunakan sumber daya sederhana yang tersedia – air – dan mengubahnya menjadi anggur terbaik.

Kebenaran ini sangat dalam dan indah. Jika kita menginginkan “anggur terbaik” dalam pernikahan kita, penting untuk tidak hanya mengundang Yesus dan Maria ke hari pernikahan kita, tetapi juga menyambut mereka di “dapur” kita, dan mengizinkan mereka untuk terlibat dalam momen-momen keseharian dalam hidup kita. Injil mengingatkan kita bahwa anggur terbaik berasal dari air biasa. Dengan cara yang sama, berkat terbesar dalam pernikahan sering kali muncul dari tindakan kasih yang sederhana dan tak terlihat bagi pasangan dan anak-anak kita.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi
Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengundang Yesus dan Maria ke dalam pernikahan, keluarga, dan kehidupan kita sehari-hari? Apakah kita menyadari bahwa Yesus telah melakukan mukjizat dalam pernikahan kita? Sudahkah kita mempercayakan pernikahan dan keluarga kita dalam pemeliharaan Maria?