Mukjizat untuk Dunia yang Lebih Baik

Minggu Biasa ke-23 [B]
5 September 2021
Markus 7:30-37

Dalam Injil hari ini, Yesus melakukan mukjizat yang sungguh menakjubkan. Dia menyembuhkan seseorang yang tidak bisa mendengar dan mengalami gangguan berbicara. Jika dibaca sesaat, tampaknya mukjizat ini tidak berbeda dari mukjizat Yesus yang lain, tetapi jika kita melihat lebih dekat ke dalam konteks kisah ini, kita akan menemukan detail-detail yang luar biasa.

photocredit: Aswin

Yesus berhadapan dengan seorang pria yang tidak bisa mendengar atau tunarungu, dan jika dia tidak dapat mendengar suara sejak lahir, dia tentunya tidak akan dapat berbicara juga. Kondisinya diperparah oleh adanya gangguan pada kemampuannya berbicara. Dia tidak bisa berbicara bukan hanya karena dia tidak pernah mendengar sebelumnya, tetapi juga adanya cacat di bagian mulut atau lidahnya yang membuat dia kesulitan untuk membentuk kata. Bisa kita bayangkan penderitaan yang harus dihadapi orang ini.

Detail lainnya yang menarik adalah cara Yesus menyembuhkan orang ini. Yesus tidak melakukan rutinitas seperti biasanya dalam melakukan mukjizat. Dia tidak hanya menyentuh orang yang menderita atau melakukan penyembuhan jarak jauh. Gaya-Nya kali ini agak ‘anti mainstream’. Markus menggambarkan bahwa Yesus meletakkan jari-Nya di dalam telinga sang pria, seolah-olah Dia mencoba membersihkan apa yang menghalangi saluran pendengaran. Dia juga meludahi tangannya, dan meletakkan tangannya yang basah di lidah pria itu, seolah-olah Dia mencoba melunakkan apa yang kering dan membatu. Yesus menengadah ke langit dan mengucapkan ‘Efata!’ – seolah memberi perintah pada berbagai bagian tubuh yang tertutup rapat untuk terbuka. Kemudian, mukjizat yang luar biasa terjadi!

Apa yang terjadi benar-benar luar biasa. Pria itu tidak hanya bisa mendengar, tetapi dia bisa berbicara dengan jelas. Seorang pria yang tidak bisa mendengar sejak lahir akan membutuhkan beberapa waktu untuk belajar berbicara, tetapi mukjizat yang luar biasa adalah bahwa Yesus memberi orang ini karunia bahasa. Yesus tidak hanya menyembuhkan kelemahan dan cacat tubuh, tetapi juga menerangi manusia dengan pengetahuan dan pengertian. Itu adalah mukjizat seluruh paket!

Namun, mukjizat tidak berhenti di situ. Efek dari mukjizat Yesus terpancar selama berabad-abad. Kita mungkin tidak bisa melakukan mukjizat penyembuhan seperti dalam Injil, tetapi kita selalu dapat melakukan mukjizat cinta dan belas kasihan. Sebagai murid Kristus, kita diundang untuk terus membangun tempat yang lebih baik bagi orang-orang yang terpinggirkan secara khusus, para penyandang disabilitas. Jika kita melihat Alkitab, Gereja perdana juga fokus dengan bagaimana melayani mereka yang paling lemah, dan bagaimana para rasul menunjuk tujuh diakon untuk melayani para janda miskin [Kis 6]. St Yakobus dalam suratnya mengkritisi praktik di beberapa paroki kuno yang memberikan kursi kepada orang kaya dan bukan kepada orang miskin [Yakobus 2:1-5]. Budaya untuk membantu orang miskin dan terpinggirkan, dan bahkan membangun struktur seperti rumah sakit, tempat perlindungan bagi tunawisma, panti asuhan, secara dramatis dimulai dengan Yesus dan Gereja-Nya, dan semangat ini akan berlanjut sampai zaman.

Kita berterima kasih kepada saudara-saudari kita yang terus menjadi mujizat Kristus bagi mereka yang miskin, lemah dan para penyandang disabilitas. Mereka adalah orang-orang yang menghabiskan waktu dan sumber daya untuk merawat bayi terlantar, yang belajar bahasa isyarat untuk memperkenalkan Kabar Baik kepada orang-orang yang tidak dapat mendengar, dan yang menciptakan tempat yang lebih baik bagi semua orang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Leave a comment