Minggu Biasa ke-29 [B]
17 Oktober 2021
Markus 10:35-45
Yakobus dan Yohanes sedang mencari posisi yang paling berharga di kerajaan Yesus. Duduk di sebelah kanan dan di sebelah kiri raja berarti memerintah bersama dengan raja itu sendiri. Kembali ke Perjanjian Lama, orang yang duduk di sebelah kanan Raja Solomon tidak lain adalah sang ibu, Batsyeba. Ibu ratu sangat dihormati oleh raja sendiri dan dia memiliki kekuatan yang sangat besar [1 Sam 1 – 2].

Apa yang membuat kisah Injil ini lebih menarik adalah bahwa Yakobus dan Yohanes berusaha mengambil posisi ini dengan cara yang cerdik. Mereka langsung pergi kepada Yesus, dan memanfaatkan kesempatan ketika murid-murid yang lain sedang sibuk dengan hal-hal lain. Tentunya, ketika murid-murid lain menyadari rencana mereka, mereka menjadi marah. Mengapa? Mereka juga menginginkan posisi yang sama, dan juga kekuatan yang menyertainya.
Mengapa para murid terobsesi dengan kekuasaan dan posisi? Mengapa kita sangat menginginkan kekuasaan? Secara sederhana, kekuasaan adalah kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan orang lain. Ketika kita memiliki kemampuan untuk melakukan apa yang perlu kita lakukan dan apa yang ingin kita lakukan, kita kuat dan berkuasa. Ketika kita dapat mengontrol dan mempengaruhi orang lain, kita bahkan menjadi lebih kuat dan berkuasa. Ketika kita kuat dan berkuasa, kita memegang kendali, dan ketika kita memegang kendali, kita merasa sebuah kepuasan dan kenikmatan. Tidak heran jika kita menginginkan kekuasaan.
Apakah kekuasaan sesuatu yang buruk? Sama sekali tidak! Seperti hal-hal lain di dunia ini, kekuasaan adalah sarana dan dapat memiliki tujuan yang baik. Dengan kekuasaan, kita dapat melakukan hal-hal yang membuat kita tumbuh dan mencapai potensi maksimal kita. Dengan kekuasaan, kita dapat membantu orang lain dan masyarakat untuk mencapai kemajuan, kemakmuran, dan kebaikan bersama. Dengan kekuasaan, kita dapat mencegah orang lain menyakiti diri sendiri dan orang lain. Namun, seperti hal-hal duniawi lainnya, kekuasaan rentan terhadap penyalahgunaan. Kekuatan yang sama dapat digunakan untuk memanipulasi dan menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain.
Yesus memahami dengan baik dinamika kekuasaan. Dia sendiri tidak mengajarkan bahwa kekuatan itu jahat, atau sesuatu yang harus dihilangkan. Sebaliknya, Dia menunjukkan tujuan kekuasaan yang sebenarnya. Yesus menunjukkan bahwa kekuasaan bukanlah tentang memiliki kekuatan militer atau ekonomi. Kekuasaan yang sejati adalah untuk saling melayani. Yesus bahkan mengajarkan hal yang lebih radikal bahwa orang yang paling bebas dan paling berkuasa adalah orang yang dengan bebas menyerahkan hidupnya agar orang lain dapat memiliki hidup sepenuhnya. Kekuatan sejati bukanlah tentang memiliki dan mengumpulkan lebih banyak kekuatan dan kendali, melainkan tentang memberi dan memberdayakan orang lain. Kekuasaan menghancurkan ketika di dalam hati kita diperbudak oleh dosa.
Apa yang menakjubkan tentang kekuasaan adalah bahwa hampir setiap orang memilikinya. Sekarang, kembali kepada kita untuk menggunakan kekuasaan ini untuk melayani sesama atau untuk menghancurkan mereka. Seorang ibu dapat menggunakan kekuasaannya atas bayi di dalam kandungannya dengan merawat bayinya, namun ibu yang sama dapat menggunakan kekuasaannya untuk membinasakan dan menggugurkan kandungannya. Seorang imam dapat menggunakan kuasanya untuk menguduskan umatnya dan mendidik mereka di jalan Tuhan, atau ia dapat menggunakannya untuk memperoleh kehidupan yang lebih nyaman, dan bahkan popularitas. Yesus mengingatkan kita bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar dari pada seseorang yang dengan rela memberikan hidupnya agar orang lain dapat hidup sepenuhnya.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
