Minggu Biasa ke-32 [B]
7 November 2021
Markus 12:38-44
Kita memiliki dua karakter utama dalam Injil kita hari ini. Yang pertama adalah para ahli Taurat dan yang kedua adalah sang janda miskin. Ahli Taurat adalah kelas elit masyarakat Israel kuno. Mereka adalah orang-orang terpelajar karena mereka tahu cara membaca dan menulis, keterampilan yang sangat berharga pada masa itu. Kemampuan dan hak istimewa mereka untuk mengakses Kitab-Kita Taurat membuat mereka sangat berpengaruh karena mereka mengerti dan mengajarkan Hukum Allah, dan orang-orang biasa harus mendengarkan mereka. Di sisi lain, ada janda miskin. Menjadi seorang wanita di zaman Yesus tentu bukan hal yang mudah. Selain menghadapi diskriminasi, wanita umumnya tidak diperbolehkan memiliki atau mewarisi properti. Hal ini menyebabkan mereka sangat bergantung pada anggota keluarga laki-laki mereka, seperti ayah, saudara laki-laki, atau suami. Jadi, jika seorang wanita kehilangan suaminya, dia kehilangan pelindung dan pemberi nafkahnya, dan jika seorang janda yang tidak memiliki anak laki-laki, dia adalah yang paling miskin di antara para janda. Tapi, Tuhan Yesus memberikan kejutan.

Yesus memuji janda miskin dan mengecam para ahli Taurat. Kemiskinan dan kesengsaraan janda miskin tidak menghentikannya untuk bermurah hati. Mungkin, dia mempersembahkan kepada Tuhan dua koin kecil terakhir yang dia miliki, dan dia mungkin akan kelaparan sepanjang hari. Namun, kasih dan imannya kepada Tuhan sangat besar. Dia tidak berpegang koin yang dapat penyelamatan hidupnya, tetapi dia percaya bahwa Tuhan akan menjaganya.
Sementara itu, tanpa berpikir dua kali, Yesus mengecam ahli-ahli Taurat. Yesus mengungkapkan alasan-Nya: ahli-ahli Taurat berada di puncak masyarakat Israel dan hierarki agama Yahudi, tetapi yang mereka pedulikan adalah kepentingan diri mereka sendiri. Mereka menggunakan setiap kesempatan untuk menambah kemuliaan dan popularitas mereka. Mereka menginginkan kursi terbaik, tempat tertinggi, dan kehormatan terbesar dari orang-orang di sekitar mereka. Aksi-aksi megalomania ini dapat ditolerir, tetapi ada satu hal yang hampir tidak bisa dimaafkan. Menggunakan pengetahuan mereka akan Hukum untuk memanipulasi dan mengeksploitasi sesama mereka yang miskin. Ada kemungkinan bahwa janda miskin menjadi salah satu korban mereka. Dengan hak-hak istimewa dan kebijaksanaan, mereka seharusnya membantu dan meningkatkan kehidupan orang-orang Israel yang miskin. Namun, mereka melakukan yang sebaliknya, dan menjadi penyebab penderitaan dan penindasan yang lebih besar bagi orang-orang sederhana ini. Mereka adalah ahli hukum Taurat, tetapi mereka menjadi pelanggar pertama hukum Allah ini, “Jangan mengambil keuntungan dari seorang janda atau anak yatim!” [Kel 22:22].
Injil hari ini adalah tamparan bagi banyak dari kita, terutama bagi kita yang dipercayakan dengan pewartaan Sabda Allah, dengan posisi otoritas di Gereja, dan dengan kuasa sakramen. Berkali-kali, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa yang terbesar harus menjadi hamba dari semua. Semakin tinggi posisinya, semakin besar kasih dan pelayanannya, terutama kepada orang miskin dan yang membutuhkan. Sebagai imam, saya harus bertanggung jawab dalam menggunakan properti dan harta benda Gereja, saya dipanggil untuk melayani dengan penuh dedikasi, saya harus mempersembahkan hidup saya untuk umat, jika tidak, saya akan melakukan ketidakadilan yang serius kepada umat Allah. Kita berdoa agar kita tidak menerima penghukuman yang sama seperti para ahli Taurat.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
