Mariafobia

Hari Raya Maria Diangkat ke Surga [C]

15 Agustus 2022

Lukas 1:39-56

Umat ​​Katolik sering dituduh menghormati Maria secara berlebihan. Beberapa orang bahkan melihat kita memberikan Maria sebuah penyembahan yang hanya untuk Tuhan. Tuduhan ini tentu tidak benar, tetapi akar kesalahpahaman dapat ditelusuri lebih lanjut. Saya menemukan setidaknya tiga alasan dari apa yang saya sebut ‘Mariaphobia’ ini.

Penyebab pertama adalah sebagian orang bingung antara penyembahaan dan doa. Ketika kita berlutut dan berdoa kepada Maria, kita tidak menyembahnya. Kata ‘berdoa’ di sini sejatinya sama dengan ‘meminta bantuan’ atau ‘mengajukan permohonan’. akar kata bahasa Inggris ‘prayer’ adalah bahasa Latin, ‘praegare’ yang berarti ‘memohon bantuan’. Sama dengan kata ‘doa’ yang berakar dari kata Arab yang artinya juga ‘memohon’. Apa yang sebenarnya terjadi ketika kita mendekati Maria adalah kita memintanya untuk berdoa bagi kita kepada Tuhan. Sama halnya ketika kita meminta kepada orang tua atau orang yang kita anggap dekat dengan Tuhan untuk mendoakan kita. Maria sangat dekat dengan putra-Nya, dan kita bisa sangat yakin bahwa Yesus mendengarkan permintaannya. Sementara itu, tindakan penyembahan baik dalam Kitab Suci maupun tradisi Katolik, selalu hadir dalam bentuk persembahan kurban. Kita hanya mempersembahkan kurban kepada Allah, dan ini terjadi dalam Ekaristi, saat kita mempersembahkan kurban sempurna Yesus Kristus kepada Bapa dalam Roh Kudus.

Akar kedua adalah bahwa beberapa orang masih bingung tindakan penyembahan dan tindakan penghormatan. Sementara menghormati dan menyembah saling berhubungan erat, mereka dapat dibedakan dengan benar. Dalam teologi Katolik, kita menggunakan kata-kata Yunani ‘latria’ dan ‘dulia’. Latria adalah tindakan penyembahan yang pantas hanya untuk Tuhan, sedangkan dulia adalah tindakan penghormatan kepada makhluk ciptaan (seperti para kudus dan malaikat). Sementara latria datang dalam bentuk persembahan kurban, dulia dapat hadir dalam berbagai cara. Kita bisa menghormati seseorang dengan memeluk mereka, memberi mereka bunga, menundukkan kepala, dan bahkan memberikan gelar kehormatan. Jadi, ketika kita mempersembahkan bunga kepada Maria atau menyimpan foto-fotonya, itu tidak berarti suatu tindakan penyembahan, melainkan tindakan kasih dan kehormatan.

Alasan ketiga adalah bahwa sebagian orang masih melihat hubungan antara Tuhan dan makhluk ciptaan-Nya sebagai relasi oposisi. Ada paham yang menyatakan bahwa jika kita menghormati dan mencintai ciptaan, kita tidak menghormati dan mencintai Tuhan. Namun, relasi ini tidak tepat. Seperti seorang ayah yang baik yang membekali anak-anak-Nya dengan hal-hal duniawi agar mereka bertumbuh dan berhasil, demikian pula Tuhan memberikan karunia-karunia rohani-Nya agar putra-putri-Nya bertumbuh dalam kekudusan. Bagaikan seorang ayah yang bangga dengan prestasi anak-anaknya, demikian pula Allah bersuka cita dengan pertumbuhan rohani anak-anaknya. Ketika Maria diangkat ke surga, itu hanya karena Tuhan. Dan, ketika Maria dihormati karena dia ada di surga, tubuh dan jiwanya, kehormatan yang sejati adalah milik Allah.

Kita tidak perlu takut mendekat kepada Maria, karena dia membawa kita kepada Yesus. Kita tidak perlu takut menghormati Maria, karena sejatinya ini menghormati Allah. Kita tidak perlu takut mencintai Maria, karena kita mencintai Allah melalui Maria.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Leave a comment