Mendengarkan Suara Tuhan

Minggu ke-4 Paskah [C]

11 Mei 2025

Yohanes 10:27-30

Pendengaran adalah salah satu indra yang paling mendasar yang membuat kita menjadi manusia. Memang benar bahwa kita sangat bergantung pada penglihatan untuk menavigasi dunia, tetapi pendengaran membedakan kita dengan makhluk lain. Bagaimana penjelasannya?

Tentu saja, manusia tidak memiliki indra pendengaran yang terbaik. Banyak hewan yang memiliki kemampuan pendengaran yang jauh lebih baik. Sebagai contoh, kelelawar memiliki indra pendengaran seperti sonar, yang memungkinkan mereka untuk mengukur jarak melalui suara. Telinga manusia jauh lebih lemah jika dibandingkan dengan hewan-hewan ini. Namun, terlepas dari kapasitas pendengaran kita yang sepertinya biasa saja, kita memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh hewan lain: kemampuan untuk mengasosiasikan suara dengan makna. Dengan kata lain, kita dapat menciptakan bahasa. Kemampuan berbahasa ini berarti kita dapat membedakan kata-kata yang bermakna dari suara yang tidak berarti.

Melalui mendengarkan, manusia purba membangun keluarga dan komunitas. Mereka mendengarkan para pemimpin mereka untuk mendapatkan panduan dalam mempertahankan diri dari binatang buas dan bertahan hidup di lingkungan yang keras. Dengan mendengarkan, mereka menerima kebijaksanaan para tetua mereka dan kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mendengar kata-kata yang bermakna adalah hal yang membuat kita hidup dan tumbuh sebagai manusia.

Sayangnya, kita sekarang hidup di dunia yang penuh dengan suara kebisingan yang tidak ada artinya sama sekali, dari sekedar polusi pendengaran, musik-musik yang tidak jelas, dan bahkan kata-kata kasar, penuh kebohongan dan bahkan kutukan. Apa yang sering kita dengar tidak lagi berguna bagi kelangsungan hidup atau pertumbuhan kita, melainkan hanya apa yang berteriak paling keras. Kita tidak lagi mendengarkan akal sehat, kebijaksanaan dari masa lalu, dan yang paling penting, firman Tuhan. Jika orang-orang zaman dahulu menyadari bahwa mendengarkan para pemimpin mereka sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka, kita pun harus menyadari bahwa mendengarkan Tuhan kita, Yesus Kristus, bukanlah suatu opsi, tetapi ini adalah masalah keselamatan jiwa kita.

Jadi, bagaimana kita dapat belajar untuk mendengarkan dengan penuh perhatian suara Gembala kita yang sejati?

Pertama, sama seperti domba yang mendengarkan suara gembalanya demi keselamatannya, kita harus mengenali suara Gembala kita dan mengikuti petunjuk-Nya – karena keselamatan kekal kita bergantung padanya. Kedua, untuk mengenali suara-Nya, kita harus menjadi terbiasa dengannya. Hal ini dapat dicapai dengan terus mendengarkannya, dengan membaca Kitab Suci secara teratur, mempelajari ajaran-ajaran-Nya secara khusus yang telah diajarkan Gereja, dan terlibat dalam doa yang mendalam. Ketika kita menjadi terbiasa dengan suara Tuhan, kita juga bisa belajar untuk membedakan suara-suara yang tidak berasal dari-Nya, suara-suara dari keinginan kita sendiri, dunia, dan roh-roh jahat. Ketiga, mendengar harus membawa kepada tindakan. Mendengar tanpa ketaatan tidak ada artinya, atau bahkan lebih buruk lagi, itu berarti mengikuti tuntunan musuh.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita mengenal suara Tuhan kita? Suara-suara seperti apa yang kita dengarkan? Apakah kita dapat membedakan suara-suara yang berbeda dalam hidup kita? Firman Tuhan apa yang paling berkesan dan menjadi panduan hidup kita selama ini?

Leave a comment