Yesus dan Hukum

Minggu Biasa Keenam [A]

15 Februari 2026

Matius 5:17-37

Yesus dengan jelas menyatakan bahwa Ia datang untuk menggenapi Hukum, bukan untuk menghapusnya. Namun, pertanyaan yang lebih mendalam adalah: “Mengapa Hukum di Perjanjian Lama begitu penting sehingga Yesus sendiri seperti terikat untuk menggenapinya?”

Kita sering memandang hukum dan peraturan sebagai batasan yang mengekang kebebasan kita dan membatasi gerak kita, sesuatu yang dipaksakan dari luar. Namun, ketika kita melihat gambaran yang lebih besar, kita menyadari bahwa hukum merupakan bagian integral dari semua komunitas manusia. Bahkan dalam konteks yang paling kecil sekalipun, seperti keluarga, anak-anak menaati perintah orang tua mereka, meskipun seringkali tidak tertulis. Tentu saja, semakin besar dan kompleks suatu masyarakat, semakin besar dan rumit pula sistem hukum yang diperlukan.

Hukum diperlukan tepatnya karena hal ini menjamin kebaikan bersama. Dengan memberi insentif kepada mereka yang berkontribusi pada komunitas dan menghukum mereka yang merugikannya, hukum memastikan komunitas berfungsi dengan baik dan menghasilkan kemakmuran bersama. Sama seperti kita menggunakan akal budi kita untuk mengendalikan nafsu dan mengatur diri kita menuju pertumbuhan pribadi yang sejati, kita menciptakan hukum untuk mengendalikan perilaku kolektif kita yang merugikan dan mengarahkan masyarakat kita menuju kemajuan. Hukum bukanlah sekadar paksaan eksternal; namun, hal ini adalah produk dari akal budi manusia yang dirancang untuk membantu kita hidup lebih baik.

Kita juga dapat memandang hukum sebagai alat untuk membantu kita “menjinakkan” diri kita sendiri. Sama seperti kita menjinakkan serigala untuk mengubahnya menjadi anjing—menjinakkan sifat liar mereka agar menjadi teman yang berguna—demikian pula kita menundukkan sifat agresif dan kekerasan kita dengan bantuan aturan hukum untuk menjadikan diri kita individu yang lebih dewasa.

Hal ini membawa kita kembali kepada Yesus. Akal budi manusia tidak sempurna dan oleh karena itu menciptakan hukum-hukum yang bisa salah, sementara akal budi Allah sempurna dan menciptakan hukum-hukum yang tidak dapat salah (Mz 19:7). Itulah mengapa Yesus dengan jelas mengungkapkan tujuan-Nya: untuk memenuhi hukum-hukum Allah, bukan untuk menghilangkannya. Jika hukum-hukum manusia dirancang untuk membentuk kita menjadi anggota masyarakat yang lebih baik, maka hukum-hukum Allah dirancang untuk membentuk kita menjadi pria dan wanita yang sempurna, siap untuk Kerajaan Surga.

Namun, Yesus juga menyadari bahwa beberapa peraturan dalam Perjanjian Lama ditujukan secara khusus kepada orang Israel kuno, bukan kepada semua orang di semua zaman. Faktanya, beberapa hukum, seperti peraturan tentang perceraian (Mat 5:31), jelas dibuat karena “kerasnya hati manusia.”

Oleh karena itu, menaati Hukum tidak berarti Yesus sekadar menyetujui semua peraturan di Perjanjian Lama. Sebaliknya, Dia memurnikan dan mengajarkan kembali peraturan-peraturan tersebut dengan lebih jelas, khususnya mengungkapkan “hati” dari hukum-hukum itu sendiri. Misalnya, ketika Yesus mengukuhkan kembali Sepuluh Perintah Allah, Dia menunjuk pada kebenaran bahwa pembunuhan dan kekerasan terhadap sesama manusia berakar pada amarah yang ada di dalam hati kita. Kecuali kita mampu mengendalikan amarah di hati, kita akan terus menyakiti orang lain, yang pada akhirnya akan menyebabkan kehancuran hidup mereka (Mat 5:21-22).

Pada akhirnya, Yesus menunjukkan bahwa Hukum bukanlah sekumpulan aturan yang kaku, tetapi jalan menuju kedewasaan rohani dan transformasi batin. Dengan memenuhi Hukum Allah, Dia mengundang kita untuk melampaui ketaatan external semata dan sebaliknya membentuk hati yang selaras dengan kasih sempurna Allah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah saya memandang perintah Allah sebagai beban yang membatasi kebebasan saya, atau sebagai jalan kasih yang dirancang untuk pertumbuhan dan kebahagiaan sejati saya? Yesus mengajarkan bahwa kekerasan bermula dari dalam; amarah atau dendam tersembunyi apa yang saya simpan yang menghalangi saya memiliki hati yang benar-benar murni? Apakah saya hanya mengikuti aturan untuk terlihat “baik” di luar, atau apakah saya membiarkan Hukum Allah menaklukkan sifat saya dan mengubah saya untuk Kerajaan-Nya?

Leave a comment