Minggu Ketiga Prapaskah [A]
8 Maret 2026
Keluaran 17:3–7
Pada Minggu-minggu sebelumnya, kita telah bertemu dengan Adam dan Hawa, orang tua pertama kita, dan juga Abraham, bapa orang iman. Pada Minggu ini, kita beralih pada kisah Musa dan bangsa Israel. Kali ini, kita akan fokus pada sebuah unsur yang menghubungkan hidup dan kematian Musa dalam rencana Allah, yakni air.

Ditarik dari Sungai
Cerita hidup Musa dimulai dari “air”. Musa lahir saat bayi-bayi laki-laki Ibrani dicari dan dihabisi. Oleh karena itu, ibunya terpaksa menaruhnya di atas keranjang papirus dan meletakannya di Sungai Nil. Ketika putri Firaun menemukan bayi ini dan merasa iba, ia mengadopsinya dan memberinya nama Mesir “Musa.” Namun, Kitab Keluaran memberikan makna Ibrani yang lebih dalam pada nama tersebut: “Aku menariknya dari air.”
Sumur di Padang Midian
Setelah Musa membunuh seorang Mesir dan melarikan diri ke Midian, air kembali menjadi titik balik dalam hidupnya. Di sebuah sumur, ia membela putri-putri Rehuel, seorang imam Midian, dari para gembala yang mengganggu dan membantu mereka mengambil air. Pertemuan ini mengarah pada pernikahannya dengan salah satu putri tersebut, Zipporah (Kel 2:16–25).
Sungai Nil dan Laut Merah
Bertahun-tahun kemudian, Tuhan memanggil Musa kembali ke Mesir untuk membebaskan umat-Nya. Ketika Firaun dengan keras kepala menolak untuk membebaskan orang Israel, Tuhan mengirimkan sepuluh tulah. Air kembali menjadi titik awal dan akhir dari pembebasan Israel. Tulah pertama mengubah air Sungai Nil menjadi darah (Kel 7:14–25). Dan puncaknya adalah mukjizat paling agung yang terjadi di Laut Merah. Tuhan membelah air, dan memungkinkan orang Israel melewati daratan kering dan membebaskan diri dari tentara Firaun untuk selamanya (Kel 14).
Air dari Batu
Keajaiban yang melibatkan air terus berlanjut di padang gurun. Di Marah, airnya begitu pahit sehingga orang-orang mengeluh kepada Musa. Tuhan memerintahkan Musa untuk melemparkan sepotong kayu ke dalam air, yang secara ajaib membuatnya menjadi layak minum (Kel 15:22–27). Kemudian, di Rephidim, orang-orang kembali kehabisan air. Dalam kekeringan dan kemarahan mereka, mereka bertengkar dengan Musa. Tuhan memerintahkan Musa untuk memukul batu di Gunung Horeb dengan tongkatnya, dan air pun memancar untuk menopang orang-orang (Kel 17:1–7).
Ketidaktaatan dan Tanah Perjanjian
Beberapa tahun kemudian, kejadian serupa terjadi di Gurun Zin. Ketika orang-orang meminta air, Tuhan memerintahkan Musa untuk “berbicara” kepada batu karang. Namun, karena diliputi amarah, Musa memukul batu itu dua kali. Meskipun air masih memancar untuk menolong orang-orang, ketidaktaatan Musa membuat Tuhan tidak senang. Akibatnya, ia tidak diperbolehkan masuk ke Tanah Terjanji (Bil 20:1–13). Akhirnya, ketika Musa mendekati kematian di Gunung Nebo, Tuhan memperlihatkan kepadanya sekilas Tanah Terjanji yang dibatasi oleh Sungai Yordan (Ul 34).
Air dan Umat Beriman
Kisah Musa mengingatkan kita bahwa Allah menggunakan ciptaan-Nya yang menurut kita adalah hal biasa, seperti air, sebagai sarana rahmat-Nya. Melalui Kristus, kita menerima mukjizat yang lebih besar daripada mukjizat Laut Merah, yakni air Pembaptisan. Sama seperti Musa ditarik dari air dan diselamatkan dari bahaya, kita ditarik dari air Baptisan untuk menjadi ciptaan baru, terbebas dari dosa.
Namun, kisah Musa juga menjadi peringatan. Sama seperti ia gagal masuk ke Tanah Terjanji di bumi karena kelalaian dalam ketaatan, kita harus tetap waspada. Kita dipanggil untuk bertobat, hidup sesuai janji Baptisan kita, dan melakukan perbuatan yang berkenan kepada Tuhan agar suatu hari kita dapat masuk ke Tanah Terjanji yang sejati dan kekal.
Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Pertanyaan panduan:
Ketika kita menghadapi masa-masa “kering” atau sulit dalam hidup kita, apakah kita cenderung mengeluh, atau apakah kita mencari Tuhan? Apakah ada area tertentu dalam hidup kita di mana kita kesulitan untuk sepenuhnya taat pada Tuhan? Dengan melihat kembali hidup kita, apakah kita dapat mengidentifikasi momen ketika Tuhan menyelamatkan kita dari situasi sulit atau menarik kita keluar dari krisis?
