Minggu di Biasa ke-5 [4 Februari 2018] Markus 1: 29-39
“Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. (Mrk 1:31) “

Dalam Injil hari ini, kita mendengarkan kisah mukjizat penyembuhan Yesus yang pertama, dan orang pertama yang disembuhkan Yesus adalah seorang perempuan, ibu mertua Petrus. Perhatikan juga tiga tindakan Yesus terhadap wanita ini: mendekati, mengangkat tangannya, dan membangunkan dia. Ketiga tindakan ini sangat simbolis bukan hanya karena mereka membawa penyembuhan, tetapi juga melalui tindakan ini, Yesus memberdayakan perempuan tersebut untuk berdiri di atas kakinya dan melayani (Diakonia). Setelah malaikat melayani Yesus di padang gurun (Mrk 1:13), manusia pertama yang melayani Yesus adalah seorang wanita dan ibu.
Kita sebagai manusia, memiliki indra perasa sebagai yang paling mendasar bagi kita. Mata kita perlu bersentuhan dengan partikel cahaya untuk bisa melihat, telinga kita perlu menerima gelombang suara untuk mendengar, tetapi seluruh tubuh kita diselimuti oleh jaringan saraf yang berfungsi untuk mengenali informasi dasar seperti suhu, rasa sakit, dan tekanan. Ini dirancang dengan indah bagi kita bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi juga untuk menjalani hidup secara sepenuhnya. Dengan demikian, sentuhan atau kontak fisik sangat mendasar bagi kehidupan dan relasi kita sebagai manusia.
Kita belajar keutamaan-keutamaan dasar pertama dan keindahan hidup melalui sentuhan. Sebagai bayi, kita dipeluk oleh orang tua kita; kitapun mulai tumbuh dalam kenyamanan, keamanan, dan cinta. Namun, sentuhan tidak hanya dibutuhkan oleh bayi dan anak-anak, tapi juga oleh pria dan wanita dewasa. Seorang frater kami yang sedang melakukan pelayanan di salah satu rumah sakit di Manila pernah dinasihati oleh seniornya bahwa orang dewasa setidaknya membutuhkan satu pelukan berkualitas setiap hari. Dia mungkin tidak bisa menyembuhkan penyakit, tapi ketika ia secara fisik hadir untuk pasien, dia akan membawa harapan dan kenyamanan. Kita berjabat tangan sebagai ungkapan saling percaya dengan satu sama lain, kita memberi ciuman sebagai tanda kasih, dan bahkan dalam olahraga dan permainan yang memerlukan kontak fisik, kita menumbuhkan rasa persahabatan dan persaudaraan kita.
Sayangnya, karena dosa dan kelemahan kita, kita mengubah karunia sentuhan ini menjadi alat penghancur kemanusiaan kita. Banyak saudara dan saudari kita menjadi korban sentuhan tidak manusiawi ini. Banyak perempuan dan anak-anak menerima pelecehan fisik dan seksual bahkan di dalam rumah dan keluarga mereka sendiri. Banyak juga yang terjerat dalam prostitusi, perbudakan modern, dan pekerja anak. Anak kecil, alih-alih pergi ke sekolah dan menerima pelukan dari orang tua mereka, memegang senjata untuk membunuh anak-anak lainnya. Perempuan muda, alih-alih menyelesaikan pendidikan mereka dan menikmati masa muda, harus menjajakan tubuh mereka untuk sesuap nasi bagi keluarga mereka. Laki-laki muda, alih-alih bekerja dan menjadi ayah yang baik, bergulat dengan kecanduan obat-obatan untuk mengatasi depresi disebabkan oleh kemiskinan.
Yesus menunjukkan kepada kita betapa kuatnya sentuhan kita dan Dia mengundang kita untuk merebut kembali kekuatan ini untuk membawa penyembuhan dan pemberdayaan, terutama bagi mereka yang telah menderita karena sentuhan yang tidak manusiawi ini. Apakah sentuhan dan tindakan kita membawa kesembuhan bagi keluarga dan masyarakat kita? Apakah sentuhan kita memberdayakan orang di sekitar kita? Apakah sentuhan kita mengarahkan orang lain untuk melayani Tuhan?
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP







Balthazar, Melchior, and Gaspar, as the tradition called them, were neither Jews nor baptized Christians. In Greek ancient manuscripts of the Gospel, the word used to describe them is ‘magos’, meaning ‘someone with magical power’ or ‘magicians’, and practicing magic is detestable in the eyes of the Jews (2 Chro 33:6). Even the Catholic Church herself prohibits our engagement with any kind of magic (CCC 2116). Yet, we cannot be sure what kind of magic they craft, but one thing is certain that these Magi read the sign of times and follow the star. Because of this, they are called as one of those ancient astrologers, star-readers who predict the human behaviors and the future.
Menurut tradisi, nama tiga orang Majus adalah Balthazar, Melchior, dan Gaspar. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan untuk Majus adalah ‘magos’, yang berarti ‘seseorang dengan kekuatan magis atau sihir’, dan mempraktekkan ilmu magis adalah sebuah kesalahan besar di mata orang-orang Yahudi (2 Taw 33: 6). Bahkan Gereja Katolik sendiri melarang kita memiliki kontak dengan praktek magis atau sihir apa pun (Katekismus 2116). Namun, kita tidak bisa memastikan bentuk magis apa yang digunakan oleh orang Majus ini, tapi satu hal yang pasti bahwa mereka membaca tanda zaman dan mengikuti bintang. Karena itu, mereka bias disebut sebagai astrolog kuno, pembaca bintang yang memprediksi perilaku manusia dan masa depan.
Some of us may wonder why the Church places the celebration of the solemnity of Mary, the Mother of God on January 1, or on the New Year. One may guess that the Church wants us to attend mass on the first day of the year, so as to start the year right. For those who wish to have a long holidays, it might be pretty a kill joy, but for some of us who wish to be blessed for the entire year, it is a nice thought. Yet, surely there is something deeper than that.