Hari Raya Pantekosta [20 Mei 2018] Yohanes 20: 19-23
“kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Kisah 2:11).”
Seminggu yang lalu, tiga gereja di Surabaya, Indonesia diserang oleh para pelaku bom bunuh diri. Ketakutan segera memenuhi hati saya karena lokasi pengeboman tidak jauh dari komunitas Dominikan di Surabaya. Beberapa teman baik saya juga berasal dari Surabaya, dan mereka mungkin terluka karena ledakan bom. Namun, saya bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa mereka aman, tetapi bagian dari hati saya tetap sangat terluka karena banyak orang, baik umat Kristinani dan Muslim, polisi, warga biasa, dan bahkan anak-anak, menjadi kurban. Mereka adalah orang-orang yang dipenuhi harapan dan impian mereka, kisah dan iman mereka, dengan keluarga dan teman-teman mereka. Namun, serangan brutal itu langsung menghancurkan semuanya. Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apa artinya merayakan Pentekosta, hari raya pencurahan Roh Kudus, di dunia yang dipenuhi rasa takut dan kekerasan?
Pada hari Pentakosta pertama, Roh Kudus datang dalam bentuk lidah nyala api dan hinggap pada setiap rasul dan murid lainnya. Mereka dipenuhi oleh Roh Kudus dan mulai berbicara bahasa yang berbeda, dan mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Hari itu, orang-orang yang datang dari berbagai bangsa bisa mendengar dan mengerti karya Allah dan dipersatukan sebagai komunitas. Dari cerita ini, kita bisa melihat bahwa misi Roh Kudus sebagai prinsip kesatuan di antara kita yang dipisahkan oleh banyak tembok dan sekat-sekat perbedaan.
Kita datang dari berbagai bahasa, budaya, dan bangsa, dengan beragam latar belakang, karakter, dan sistem nilai. Kita memiliki kepercayaan, keyakinan dan iman yang berbeda. Ini adalah pekerjaan roh jahat untuk menabur benih rasa takut dan kebohongan, dan dengan ketakutan dan ketidakpahaman terhadap yang lain, lebih mudah bagi kita untuk membangun tembok yang lebih tinggi dan menggali parit yang lebih dalam. Ini menjadi akar fundamentalisme dan radikalisme yang mematikan.
Roh Kudus mendorong kita untuk keluar dari diri kita sendiri dan menjangkau yang lain. Jika kita diciptakan menurut citra Allah yang adalah Tritunggal Mahakudus, dan jika Tritunggal adalah tiga pribadi ilahi yang unik, namun hidup dalam kesatuan kasih, kita juga dirancang untuk menjadi individu yang unik, namun kita juga diciptakan sebagai pribadi yang hidup dengan sesama dan bagi sesama. Roh Kudus seperti induk burung elang yang ketika waktunya tiba, akan melemparkan anak-anak mereka dari tebing tinggi dan memampukan mereka terbang.
Beberapa jam setelah pengeboman, masyarakat membanjiri rumah sakit tempat para korban teror dirawat, dan menawarkan diri untuk menjadi donor darah bagi para korban. Seorang relawan berkomentar bahaw darah tidak mengenal suku, agama atau bangsa; hanya tahu tipe O, A, B atau AB! Roh Kudus bekerja melawan pekerjaan roh kudus, bapa segala dusta. Dengan demikian, Roh Kudus memberdayakan kita untuk mewartakan kebenaran dan karya besar Allah. Beberapa menit setelah pemboman, media sosial dibanjiri oleh gambar-gambar kurban-kurban yang tewas untuk menyebarkan ketakutan, tetapi kemudian para pengguna internet Indonesia menolak untuk menyebarkan rasa takut, dan mulai memasang di akun media sosial mereka tagar #kamitidaktakut.
Kisah-kisah heroik juga muncul. Ada Aloysius Bayu, seorang sukarelawan paroki Santa Maria Tak Bercela Surabaya, yang tewas dalam ledakan. Seandainya dia tidak menghentikan para teroris yang mencoba memasuki premis gereja, bisa tak terhitung orang menjadi korban hari itu. Kematiannya tidak hanya mengakhiri hidupnya, tetapi juga menghancurkan kehidupan seorang wanita yang mengharapkan suaminya pulang dan seorang bayi kecil yang membutuhkan ayahnya. Namun, itu bukan tanpa harapan. Dari pada menyerah pada ketakutan atau kemarahan, teman-teman Bayu melihat kematiannya sebagai pengorbanan yang mengarah ke harapan baru. Salah seorang temannya menyatakan, “Kita tidak boleh berhenti pergi ke Gereja karena takut. Jika kita berhenti, Bayu akan mati sia-sia. ” Roh Kudus mendorong kita untuk berani mewartakan karya Allah dan membuat dunia yang penuh kejahatan menjadi tempat yang lebih baik.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

We normally do not want to part away from the people we love. The emotional bond that has grown makes it difficult and painful for us to be away from the persons whom we love. Parents do not want to be separated from their children. Couple hates when they have to be far from each other. Friends cry when they have to go separate ways.
Kita biasanya tidak ingin berpisah dari orang-orang yang kita cintai. Ikatan emosional yang telah terbangun membuat kita sulit untuk menjauh dari mereka yang kita cintai. Orang tua tidak ingin terpisahkan dari anak-anak mereka. Sepasang kekasih benci ketika mereka harus jauh dari satu sama lain. Kita sedih ketika mereka harus berpisah dengan sahabat kita.
We are living in the part of the world that violence and death have become our daily consumption. Every day, people’s lives are forcibly snatched away for unbelievably trivial reasons. Parents kill their babies. Brothers murder their brothers. Friends manipulate and sell their friends. Some of us used to go down on the street and cry for justice. Yet, many of us are just busy with daily pressing concerns like works, study and chores. We become numb or blind to the soil that has been painted red by the blood of our brothers and sisters. The life, precious in the eyes of God, turns out to be cheap at the hands of men.
If Jesus is a carpenter, why does He speak about the vine in today’s Gospel? Does He have the competency to draw wisdom from a field that is not His expertise? We recall that Jesus grows and lives in Galilee, and in this northern region of Israel, the land is relatively fertile and agricultural industry is thriving. Some archeological findings suggest that in Nazareth, despite being a small village, the community members are engaged in small time farming, grapes press, and winemaking. A young Jesus must have been involved with this farming activities and perhaps even helped in a nearby vineyard. Thus, Jesus does not hesitate to teach wisdom using the imageries coming from the agricultural settings, like parables related to the vineyard (Mat 20:1-16), planting seeds (Mat 13:1-9), wheat and weed (Mat 13:24-30), and harvest (Mat 9:35).
Jika Yesus adalah seorang tukang kayu, mengapa Ia berbicara tentang pokok anggur? Apakah Dia memiliki kompetensi untuk mengajar dari bidang yang bukan keahlian-Nya? Kita ingat bahwa Yesus tumbuh dan hidup di Galilea, dan di wilayah utara Israel ini, tanahnya relatif subur dan industri agrikultur cukup berkembang. Beberapa temuan arkeologi menunjukkan bahwa di Nazaret, meskipun adalah desa kecil, penduduknya terlibat dalam pertanian skala kecil, dan juga pembuatan anggur. Sebagai penduduk Nazaret, Yesus muda sedikit banyak terlibat dengan kegiatan pertanian ini, dan mungkin pernah membantu di kebun anggur terdekat. Karena pengalaman hidup ini, Yesus tidak ragu untuk mengajarkan kebijaksanaan menggunakan citra-citra yang berasal dari dunia agrikultur, seperti perumpamaan yang berhubungan dengan kebun anggur (Mat 20: 1-16), menanam benih (Mat 13: 1-9), gandum dan lalang (Mat 13: 24-30), dan panenan (Mat 9:35).

