Rekan Kerja Yesus

Minggu ke-18 dalam Waktu Biasa [A]

2 Agustus 2020

Matius 14: 13-21

five bread n two fishMukjizat penggandaan roti adalah salah satu dari sedikit kisah yang muncul dalam keempat Injil. Ini mungkin karena kebenaran mukjizat itu sendiri yang mengesankan dan membekas di hati para rasul. Meskipun alur ceritanya sama, setiap Penginjil telah memberikan penekanan mereka sendiri. Hari ini kita memusatkan perhatian pada Injil Matius dan penekanannya yang khas.

Salah satu penekanan ini adalah peran khusus para murid. Tentu saja, tanpa Yesus, tidak akan ada mukjizat sama sekali, tetapi Yesus memastikan bahwa murid-murid-Nya juga akan berpartisipasi dalam pekerjaan ajaib-Nya, tetapi yang luar biasa adalah para murid menanggapi dengan baik ajakan Yesus ini. Mari kita lihat beberapa detail penting dari cerita ini.

Pertama, inisiatif datang dari para murid. Para murid sebenarnya memperhatikan kondisi orang-orang yang mengikuti Yesus, dan mereka kelelahan dan kelaparan. Mereka mengusulkan solusi praktis untuk situasi ini: mengirim mereka pergi untuk mencari makanan. Mereka mungkin datang dengan rencana seperti itu karena alasan yang mulia. Mereka ingin guru mereka yang lelah serta orang-orang mendapatkan istirahat setelah hari mengajar dan penyembuhan yang panjang. Namun, mereka lupa bahwa Yesus sendirilah yang beristirahat, seperti yang pernah dikatakan-Nya, “datang kepadaku, kamu yang lesu dan berbeban berat,  Aku akan memberimu kelegaan [Mat 11:28].” Bagi Yesus, inisiatif itu patut dipuji, tetapi Dia tidak puas dengan solusinya. Karena itu, Dia berkata kepada mereka, “Kamu memberi mereka makan sendiri.”

Kita bisa membayangkan wajah para murid. Mereka saling memandang dan bingung. Namun, bukannya menolak permintaan Yesus sebagai sesuatu yang absurd, mereka malah melakukan sesuatu yang luar biasa. Mereka menawarkan kepada Yesus apa yang mereka miliki. Ini sedikit dan jauh dari cukup, namun tetap merupakan persembahan yang tulus. Dari sini, kita sudah dapat mendeteksi bahwa para murid telah berubah. Mereka telah mengikuti Guru mereka selama beberapa waktu dan mereka telah menyaksikan banyak mukjizat Yesus, mendengarkan banyak ajaran-Nya dan melihat betapa Yesus dengan sabar mengasihi orang-orang. Mereka telah tumbuh seperti Yesus. Mereka memiliki iman bahwa Yesus dapat melakukan hal yang mustahil, dan mereka menjadi lebih berbelas kasih seperti Yesus saat melihat orang yang menderita.

Tidak mengherankan bahwa setelah Yesus memberkati dan memecahkan roti, Dia memilih untuk memberikannya kepada para murid. Dia percaya sekarang bahwa para murid akan menjalankan misi-Nya untuk peduli dan mengasihi orang-orang. Memang, mereka dengan setia membawa roti tersebut kepada orang-orang. Mukjizat ini adalah langkah pertama namun penting bagi Yesus dan murid-murid-Nya, karena tak lama lagi, Yesus akan mempercayakan murid-murid ini untuk membawa Yesus sendiri kepada umat-Nya dalam Ekaristi.

Yesus pasti dapat melakukan mukjizat sendiri, dan sebagai Tuhan, Dia tidak membutuhkan bantuan siapa pun. Namun, karena kodrat-Nya adalah kasih, Dia ingin agar orang-orang yang Dia kasihi menjadi kasih sama seperti Dia. Yesus mengundang para murid untuk berpartisipasi dalam mukjizat kasih-Nya, dan agar mereka dapat belajar untuk mengasihi lebih dalam. Ketika Yesus membagikan hidup-Nya kepada mereka, para murid sebagai rekan kerja misi-Nya, pada akhirnya akan membagikan diri mereka dan mengasihi sampai akhir.

Itulah bagaimana Yesus membentuk kita sebagai murid-Nya. Dia mengundang kita untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan dan misi-Nya. Ini adalah misi untuk memberi makan, untuk peduli dan untuk mengasihi umat-Nya. Inilah keindahan iman dan agama kita. Ini bukan iman yang pasif dan tidak berdaya, namun iman yang benar-benar hidup, dibagikan dan memperkaya, iman yang tumbuh menjadi harapan dan harapan disempurnakan menjadi kasih.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Harta Sejati

Minggu ke-17 dalam Masa Biasa [A]

26 Juli 2020

Matius 13: 44-52

parable of hidden treasure 2Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang indah adalah salah satu dari perumpamaan Yesus yang paling pendek namun memikat. Menemukan mutiara yang sangat indah atau harta yang tersembunyi tentu saja merupakan penemuan yang luar biasa. Kita secara alami dapat merasakan kebahagiaan dari orang-orang menemukan hal yang berharga ini. Namun, kunci untuk membuka rahasia perumpamaan adalah untuk menemukan hal-hal yang mengejutkan dari cerita tersebut. Jika kita menemukan harta terpendem, kita secara naluriah langsung mengambilnya dan membawanya pulang. Jika harta itu sangat besar dan banyak, kita dapat mengambil sebagian dan menggunakannya untuk membeli tanah. Agak ceroboh rasanya untuk menjual semuanya dulu dan kemudian membeli tanah tersebut. Bagaimana jika pemilik tanah tiba-tiba menolak menyerahkan tanah itu? Hal yang sama berlaku untuk pembelian mutiara yang indah. Terkadang seorang pengusaha melakukan investasi berisiko untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan. Namun, menjual segalanya untuk mutiara tersebut adalah sebuah tindakan yang gegabah. Pedagang itu masih membutuhkan uang untuk mempertahankan kehidupan dan bisnisnya sehari-hari, dan bagaimana jika investasinya gagal?

Melalui dua perumpamaan ini, Yesus mengajar murid-murid-Nya bahwa kerajaan-Nya sangat berharga, dan untuk mencapainya, kita harus menyerahkan segalanya. Kita tidak bisa menipu atau mencurinya. Kita harus menerimanya dengan cara yang benar. Ajaran seperti ini sendiri bukanlah sesuatu yang baru dalam Injil Matius. Kembali pada bab 10, Yesus menyatakan bahwa mereka yang lebih mengasihi orang tua mereka daripada Yesus, tidak layak bagi Yesus. Semua atau tidak sama sekali bagi Yesus! Prinsip yang sama juga berlaku bagi kerajaan-Nya.

Apakah mungkin untuk menyerahkan segalanya untuk Yesus dan Kerajaan-Nya? Jawabannya tergantung apakah kita menganggap Kerajaan sebagai sesuatu yang benar-benar berharga bagi kita. Pedagang itu, misalnya, bisa saja melihat bahwa Mutiara itu adalah mutiara yang indah, tetapi jika ia tidak melihatnya sebagai sangat berharga, ia tidak akan menjual segala yang ia miliki untuk membeli mutiara itu. Sekedar mengetahui itu berbeda dari menerimanya sebagai sesuatu yang berharga. Yang satu tetap ada di pikiran dan yang lain bergerak di dalam hati. Kita mungkin menyadari bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan kita, tetapi apakah kita menghargai Dia dan menjadikan Dia sebagai prioritas utama kita? Kita mungkin sadar bahwa Gereja adalah Kerajaan Allah, tetapi apakah kita menganggapnya berharga? Apakah kita menyerahkan segalanya untuk Yesus dan tubuh-Nya, Gereja?

Bagaimana kita membuat sesuatu yang berharga? Ketika kita mencintai seseorang atau sesuatu, kita menghargainya. Ketika mereka berharga, kita menjadikannya seperti harta kita. Ketika itu adalah harta kita, di sanalah hati kita berada. Kita melihat seorang anak kecil. Dia mencintai mainannya. Ini menjadi berharga baginya. Dan sebagai barang berharga, dia menghabiskan waktunya bersamanya dan merawatnya. Ketika kita mencintai pekerjaan kita, kita menghargainya dan menjadikannya sebagai prioritas kita. Ketika kita mencintai keluarga kita, kita menghargai mereka, dan kita mengerahkan waktu dan upaya kita untuk membuat mereka bahagia.

Kita dapat dibaptis sebagai seorang Katolik dan orang tua kita mengajar kita bahwa Yesus adalah Tuhan kita. Kita mungkin belajar di sekolah-sekolah Katolik dan pergi ke Gereja setiap Minggu. Tetapi, apakah kita mengasihi Yesus dan Gereja-Nya atau hal ini hanya sebatas pengetahuan di kepala? Apakah Yesus berharga dan berharga bagi kita sehingga kita rela menyerahkan segalanya untuk-Nya? Apakah kita menghargai Yesus dan menaruh hati kita di dalam Dia?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gandum di antara Ilalang

Minggu ke-16 di Masa Biasa [A]

19 Juli 2020

Matius 13: 24-43

wheat 1Perumpamaan tentang gandum dan ilalang adalah sangat unik. Jika kita meneliti detailnya, kita seharusnya terkejut. Pertama, jika kita menjadi orang yang akan menghancurkan ladang gandum lawan kita, kita tahu bahwa ada beberapa cara lain yang lebih efektif untuk mencapainya. Kita cukup membakar beberapa gandum, dan seluruh ladang pada akhirnya akan berubah menjadi api raksasa. Tetapi, musuh ini memilih taktik yang tidak lazim: menabur benih ilalang selama masa tanam. Sementara ilalang dapat mengganggu pertumbuhan gandum, mereka tidak akan cukup merusak dan menggagalkan panen. Jadi, apa tujuannya? Yang mengejutkan adalah keputusan pemilik ladang. Ketika dia diberitahu tentang keberadaan ilalang, dia segera tahu pelakunya, dan bukannya bertindak cepat untuk melindungi gandumnya, dia memutuskan untuk membiarkan ilalang tumbuh subur di antara gandumnya.

Seperti minggu lalu, para murid bingung dengan perumpamaan itu, dan ketika para murid menanyakan arti dari perumpamaan ini, mereka menemukan jawaban yang sekali lagi mencengangkan. Pemilik ladang adalah Allah Sendiri dan Dia mengizinkan anak-anak si jahat tumbuh di antara anak-anak Allah, baik di dunia maupun di Gereja. Tuhan sungguh mengizinkan hal itu! Dia mengizinkan anak-anak-Nya tidak akan memiliki perjalanan dan pertumbuhan yang mulus di dunia. Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya diganggu dan bahkan dianiaya oleh si jahat. Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya mengalami cobaan dan saat-saat sulit. Pertanyaannya adalah mengapa?

Kita dapat mengambil petunjuk dari St Paul. Dia pernah menulis, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. [Rom 8:28].” Tuhan mengizinkan hal-hal buruk terjadi karena ini untuk kebaikan kita! Kebaikan macam apa ini? Dari sudut pandang manusiawi kita, mungkin ini tidak masuk akal, tetapi dari sudut pandang-Nya, segala sesuatunya terjadi dengan sangat indah bagaikan sebuah simfoni.

Yesus mengundang kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa, dan surat kepada orang-orang Ibrani mengingatkan kita, “karena Tuhan mendisiplinkan orang yang dikasihi-Nya,  dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Pencobaan dan kesulitan adalah pedagogi Tuhan terhadap siapa yang Dia kasihi. Sebagai orang tua, kita tahu bahwa kepedulian dan disiplin harus berjalan bersamaan. Kita sangat menyadari bahwa disiplin sejati juga adalah cara mencintai. Jika kita ingin anak-anak kita berhasil dalam kehidupan mereka, kita perlu mengajar mereka untuk menunda kepuasan mereka. Kita membiarkan mereka mengalami rasa sakit dan kesulitan terlebih dahulu sebelum kita memberi mereka hadiah. Orang tua saya biasanya meminta saya untuk belajar dan menyelesaikan PR terlebih dahulu, sebelum saya dapat menikmati televisi. Ini menghasilkan tidak hanya nilai baik di sekolah, tetapi juga kebiasaan saya untuk tidak lari dari masalah, tetapi untuk bersabar menghadapinya.

Saya percaya bahwa hal ini juga sama dengan Bapa kita di surga. Dia mengasihi kita dengan mengizinkan kita menanggung rasa sakit di dunia ini sehingga kita dapat benar-benar menghargai karunia rohani. Izinkan saya mengakhiri refleksi ini, dengan mengutip St. Paulus, “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita , karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,  dan ketekunan menimbulkan tahan uji [karakter sebagai anak-anak Allah-ed] dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan  tidak mengecewakan…”[Rom 5:3-5]

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus Sang Penabur

Minggu ke-15 dalam Masa Biasa [A]

12 Juli 2020

Matius 13: 1-23

child confessionDalam Injil hari ini, kita mengamati reaksi para murid setelah Yesus berbicara perumpamaan-Nya yang pertama. Mereka bingung dan heran! Mengapa? Karena Yesus tiba-tiba mengubah metode pengajaran-Nya. Dalam bab-bab sebelumnya, Yesus mengajar mereka dengan jelas, seperti dalam khotbah di Bukit [Mat 5-7], dan ajaran-Nya sangat mudah dimengerti walaupun kadang sulit untuk dilaksanakan. Namun, Yesus membuat perubahan tak terduga yang membuat banyak orang dan termasuk murid-Nya tak paham dengan mengunakan perumpamaan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Untuk memahami perumpamaan Yesus, kita perlu melihat bahwa perumpamaan telah digunakan bahkan sebelum Yesus, secara khusus dalam Perjanjian Lama. Salah satu contoh klasik adalah perumpamaan dari nabi Natan yang ditujukan kepada raja Daud [Lihat 1 Raja 12].

Raja Daud telah melakukan dosa yang sangat besar dengan melakukan perzinaan dengan Batsyeba dan merencanakan pembunuhan suaminya, Uria. Kemudian, nabi Nathan mengecam Daud, namun secara tidak langsung dengan menceritakan sebuah perumpamaan. Ini tentang seorang pria kaya yang dengan paksa merampak anak domba seorang pria miskin. Mendengarkan cerita itu, Daud geram dan menyatakan bahwa orang kaya itu harus mati. Kemudian, Nathan membuka kartunya, “Daud, kamu adalah orang kaya itu!” Untungnya, Daud adalah raja yang baik hati dan setia, dan dia bertobat ketika dia ditegur.

Itulah kekuatan perumpamaan. Ini adalah pesan tersembunyi yang tidak langsung untuk membuat orang berpikir lebih dalam tentang diri mereka sendiri. Yesus mulai berbicara dalam perumpamaan ketika Yesus menyadari bahwa pertentangan dari orang-orang Farisi dan penatua semakin memburuk, dan banyak orang yang hanya ingin dihibur daripada mengikuti Yesus.

Dengan demikian, perumpamaan tentang penabur mengungkapkan kondisi nyata dari pewartaan Yesus. Para penatua dan orang-orang Farisi seperti jalan setapak. Mereka mendengar khotbah Yesus, tetapi masih memilih untuk berada di bawah pengaruh kegelapan, dan berusaha untuk menghancurkan Yesus. Banyak orang seperti tanah berbatu karena mereka hanya mencari Yesus untuk memuaskan kebutuhan mereka. Yang lain seperti tanah yang dipenuhi duri karena mereka mengikuti Yesus untuk sementara waktu, tetapi ketika pencobaan datang, mereka meninggalkan Yesus. Terakhir, tanah subur adalah para murid.

Perumpamaan tentang penabur tidak mencerminkan berbagai jenis pendengar tentang Yesus selama masa-Nya, tetapi juga mengungkapkan realitas zaman kita. Sebagian dari kita seperti jalan setapak, mungkin kita dibaptis Katolik, tetapi kita tidak pernah hidup seperti itu, dan masih hidup dalam dosa. Beberapa dari kita seperti tanah berbatu. Kita memperlakukan Yesus dan Gereja-Nya sebagai tempat hiburan, dan kita hanya mencari diri sendiri daripada Tuhan. Sebagian dari kita seperti tanah yang dipenuhi duri. Kita gembira menjadi orang Kristen, tetapi kita tidak masuk lebih dalam iman kita, dan ketika pencobaan atau keraguan melanda, kita dengan mudah meninggalkan Tuhan. Dan semoga, banyak dari kita seperti tanah subur. Kita melakukan yang terbaik untuk menerima Firman Tuhan dan memastikan bahwa itu akan tumbuh dan menghasilkan buah.

Kabar baiknya adalah firman Tuhan sangat berdayaguna sehingga bahkan dapat berbuah adalah tanah yang berbatu-batu sekalipun. Rahmat sungguh cuma-cuma tetapi tidak murahan, dan kita perlu melakukan bagian kita. Adalah misi kita untuk mengubah tanah berbatu menjadi tanah yang subur bagi Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kuk Yesus

Minggu ke-14 dalam Waktu Biasa [A]

5 Juli 2020

Matius 11: 25-30

jesus carry crossDari dua hari Minggu sebelumnya, Yesus menunjukkan apa yang harus kita serahkan untuk menjadi murid-Nya. Dan hal-hal yang harus kita lepaskan demi Yesus sanggatlah sulit. Kita harus mengikuti Yesus ke mana pun Dia pergi. Kita harus mengasihi Yesus lebih dari yang lain bahkan orang tua kita. Kita harus siap untuk menderita, menanggung  kesulitan, memikul salib, dan menyerahkan hidup bagi Yesus. Pilihannya adalah Yesus atau tidak sama sekali. Namun, mengikuti Yesus tidak semua tentang kesulitan dan pengorbanan. Hari ini kita mendengarkan bahwa menjadi murid-Nya, kita menerima “hal-hal baik” yang hanya Yesus bisa berikan.

Injil Hari Ini adalah salah satu favorit pribadi saya. Di sini, Yesus menunjukkan sisi yang lain. Hari Minggu terakhir, kita menyaksikan Yesus, yang teguh dan teguh dalam mengikuti kehendak Bapa, dan Dia menuntut hal yang sama dari para murid-Nya. Sekarang, Dia menunjukkan diri-Nya sebagai orang yang lembut dan rendah hati. Dia bahkan berjanji untuk memberi kelegaan atau istirahat kepada mereka yang datang kepada-Nya. Namun, ada satu hal menarik dari apa yang Yesus katakan: bahwa untuk beristirahat, kita perlu memikul kuk Yesus. Kuk adalah alat yang diletakkan di atas bahu untuk membawa beban. Bagi Yesus, istirahat bukanlah membuang kuk. Kita perlu memikul kuk kita, tanggung jawab kita sehari-hari, dan misi dalam hidup. Namun, meski membawa kuk, justru kita akan mendapatkan kelegaan. Bagaimana mungkin?

Kita ingat bahwa Yesus adalah putra seorang tukang kayu dan dia sendiri seorang tukang kayu. Dia tahu betul bahwa kuk yang tidak pas di bahu hanya akan menambah beban dan membuat sakit. Namun, kuk yang dirancang sempurna dan pas dengan bahu akan terasa mudah dan bahkan nyaman diangkat. Ini adalah kuk Yesus, kuk yang cocok untuk kita masing-masing, karena Dia adalah tukang kayu yang baik.

Poin kedua adalah bahwa ada semacam kuk yang bisa dipikul oleh dua binatang secara bersamaan, atau kita sebut “kuk ganda.” Saya percaya bahwa ini adalah jenis kuk yang ditawarkan Yesus kepada kita. Mengapa kuk ganda? Karena kita tidak pernah sendirian membawa kuk ini, dan Yesus akan membawa kuk bersama kita. Dan ketika kita merasa lelah, itulah saatnya Dia mengambil alih dan kita menemukan istirahat dan kelegaan.

Dalam Injil Matius, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk membawa dua hal di pundak mereka. Yang pertama adalah memikul salib [Mat 10:38], dan yang kedua adalah kuk [Mat 11:29]. Yesus tampaknya membuat hubungan nyata antara keduanya: kuk-Nya adalah salib kita. Jika ini benar, maka implikasinya sangat besar. Salib harian kita sebenarnya tidak seberat yang kita duga karena sangat cocok untuk kita dan bahkan, Yesus membawanya bersama kita. Saya percaya bahwa dalam banyak momen dalam hidup kita, Yesuslah yang membawa salib kita. Pada awalnya, Yesus terdengar sangat tegas dengan tuntutan-Nya yang hampir mustahil, terutama untuk memikul salib kita, tetapi melihat Injil kita lebih dalam, kita menyadari bahwa tidak hanya salib kita ini pas buat kita, Yesus juga yang memikul salib kita. Itulah alasan kenapa memanggul salib-Nya, kita menemukan istirahat dan penghiburan sejati.

Jika kita menemukan diri kita masih terbebani dan kelelahan dengan hidup kita, kita bisa bertanya: Apakah kita memikul salib Yesus atau salib yang lain? Apakah kita membawa kuk sendirian dan hanya mengandalkan kekuatan kita? Apakah kita memikul beban yang tidak perlu yang seharusnya diturunkan sejak lama?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus atau Tidak Sama Sekali

Minggu ke-13 dalam Masa Biasa

28 Juni 2020

Matius 10: 37-42

simon cyreneDalam banyak budaya seperti di Indonesia, Filipina dan Cina, menghormati orang tua kita adalah hal yang sangat penting. Di Indonesia, untuk mendidik nilai ini, cerita rakyat “Malin Kudang” diajarkan bahkan di sekolah dasar. Intinya, Malin tidak hanya gagal menghormati orang tuanya, tetapi juga sengaja mengabaikan ibunya yang sudah tua. Karena itu, dia dikutuk menjadi batu. Adalah sesuatu yang tidak termaafkan untuk tidak menghormati seseorang yang telah memberikan hidup kita dan mendidik kita untuk  hidup.

Menghargai orang tua juga merupakan salah satu nilai tertinggi bagi bangsa Yahudi. Yang luar biasa adalah bahwa mereka tidak menghormati orang tua mereka karena itu adalah sesuatu yang wajar untuk dilakukan, tetapi karena itu adalah perintah Ilahi. Kembali ke Sepuluh Perintah Allah, untuk menghormati ibu dan ayah kita sebenarnya adalah perintah keempat, tertinggi di antara perintah-perintah yang mengatur komunitas manusia. Bahkan kata Ibrani yang digunakan adalah “kabad”, yang dapat berarti “untuk menghormati” tetapi bisa juga berarti “memuliakan”. Karena itu, Tuhan memerintahkan baik orang Israel dan maupun umat Kristiani untuk tidak hanya menghormati tetapi juga untuk memuliakan orang tua kita.

Namun, Injil hari ini mengatakan bahwa Yesus menuntut bahkan sesuatu yang tidak terpikirkan, bahwa jika kita mengasihi orang tua kita lebih daripada Yesus, kita tidak layak bagi-Nya. Petrus, Andreas, dan Yohanes serta murid-murid lainnya telah meninggalkan pekerjaan mereka yang stabil dan kenyamanan rumah mereka untuk mengikuti Yesus, tetapi Yesus bahkan menetapkan persyaratan yang lebih radikal. Untuk mengikuti-Nya tidak hanya secara fisik hadir bersama-Nya, tetapi para murid harus memberikan kasih total mereka kepada Yesus di atas semua orang. Siapakah Yesus ini sehingga Dia patut menerima kasih para pengikut-Nya lebih dari orang tua kita?

Jawabannya tidak terlalu rumit. Yesus pantas mendapatkan semua cinta dan kesetiaan yang kita miliki hanya karena Dia adalah Allah. Dalam Kitab Ulangan [6:4-5], Musa menginstruksikan orang Israel cara untuk mengasihi dan menghormati Allah, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Hanya Allah yang layak menerima segalanya dari kita.

Dan bagaimana Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya mengasihi Dia lebih dari yang lain, dan bukan hanya sekedar kata-kata saja? Sebagai bukti kasih mereka, Yesus meminta mereka untuk menunjukkan ini: “Pikullah salibmu dan ikuti aku!” Pada zaman Yesus, salib adalah metode penyiksaan dan eksekusi yang paling mengerikan, dan dirancang untuk memperpanjang penderitaan. Intinya, Yesus memberi tahu para murid-Nya jika mereka benar-benar mencintai-Nya di atas segalanya, mereka harus siap untuk menanggung penderitaan yang berkepanjangan dan bahkan mati bagi-Nya. Ketika kita menghadapi Yesus, pilihannya adalah: semua untuk Yesus atau tidak sama sekali.

Apakah itu berarti kita akan berhenti mencintai orang tua dan anak-anak kita? Apakah itu berarti kita tidak lagi melakukan pekerjaan baik untuk orang lain dan hanya berdoa selama yang kita bisa? Tentu saja tidak. Mengasihi Tuhan di atas hal-hal lain menempatkan kita dalam perspektif yang benar dan mengarahkan kita ke tujuan yang benar. Sekarang kita dapat mengasihi orang lain termasuk keluarga kita sebagai bentuk kasih kita  bagi Tuhan. Ini berarti bahwa ketika kita mencintai mereka, kita membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan. Sekarang kita dapat melakukan pekerjaan dan pelayanan kita untuk Tuhan, bukan demi mendapatkan keuntungan pribadi. Ketika kita bekerja keras dan kita diberkati dengan kesuksesan, hal pertama yang kita ingat adalah untuk memuji Tuhan. Dan, jika kita menghadapi hambatan dalam hidup kita atau jika kita perlu menanggung penderitaan, kita tidak kehilangan harapan karena ini juga merupakan kesempatan untuk lebih mengasihi sesama dan Tuhan lebih dalam.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jangan Takut

Minggu ke-12 dalam Masa Biasa [A]

21 Juni 2020

Matius 10: 26-33

little sparrowYesus tidak pernah berjanji bahwa murid-murid-Nya akan memiliki kehidupan yang mudah dan makmur. Yesus menuntut yang sebaliknya. Setelah dipilih, kedua belas murid diutus untuk mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, namun mereka tidak akan pergi seperti utusan kerajaan duniawi dengan pengawalan voorijder. Tidak! Mereka akan pergi sebagai orang sederhana yang berjalan kaki dan membawa persediaan ala kadarnya. Mereka akan mengandalkan kemurahan hati tuan rumah mereka, dan bagian terburuknya adalah mereka akan menghadapi penolakan.

Secara alami, mereka akan merasa takut. Namun, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa misi ini hanya semacam “magang” karena mereka akan menjalani sesuatu yang bahkan lebih sulit di masa depan. Sungguh terjadi, setelah Pentekosta, mereka akan mewartakan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan mereka menghadapi penolakan yang keras, penganiayaan yang mengerikan, dan bahkan kematian yang keji. Seperti yang Yesus ajarkan kepada mereka, “para murid tidak lebih besar dari gurunya.” Jika Yesus, guru mereka, ditolak, dihina, dan dihukum mati, para murid akan mengikuti jalan yang sama. Petrus disalibkan terbalik, Yakobus, saudara Yohanes, dipenggal kepalanya, dan Yakobus anak Alfeus, dilempari batu sampai mati.

Yesus memahami ketakutan manusiawi mereka, tetapi Yesus mengatakan kepada mereka bahwa mereka jangan takut. Mengapa? Jawaban Yesus sederhana. Mengapa kita harus takut mati jika kita toh akan mati juga akhirnya? Pilihannya adalah apakah kita mati sebagai saksi Kristus atau mati lari dari Kristus?

Lebih jauh, Yesus mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa kita tidak perlu takut: kita memiliki Allah, yang adalah Bapa yang pengasih dan peduli. Yesus memberikan penjelasan yang cerdas namun sederhana: bagaimana Tuhan memperlakukan seekor burung pipit yang kecil. Pipit adalah jenis burung  yang tidak berharga di mata kita, tetapi bagi Tuhan, burung kecil ini adalah ciptaan-Nya, dan ketika Dia menciptakan sesuatu, Dia memiliki rencana yang baik untuknya, dan Dia memastikan bahwa rencana ini akan mencapai kepenuhannya. Dalam kata Filsuf Katolik Peter Kreeft, Tuhan pun mengasihi nyamuk. Jika Tuhan peduli dan mencintai burung pipit, akankah Dia tidak peduli dan mengasihi kita? Sekali lagi, Yesus menunjukkan kebenaran yang indah: Tuhan lebih mengenal daripada kita mengenal diri kita sendiri, bahkan Ia menghitung rambut kita!

Ketika seekor burung gereja jatuh dan mati, itu tidak lepas dari rencana Allah yang sempurna, dan ketika para murid mengalami penolakan, pencobaan, dan bahkan kematian, itu juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah. Ya, seringkali, penderitaan kita tidak bisa mengerti. Mengapa kita harus kehilangan seseorang yang kita cintai? Mengapa kita menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan? Kita tidak mengerti, tetapi bahkan hal-hal mengerikan dalam kehidupan ini juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah.

Kita mungkin tidak melihatnya sekarang, tetapi mungkin kita melihatnya di lain waktu, atau mungkin, kita tidak pernah menemukan alasannya karena pikiran kita terlalu sempit. Namun, di mata Tuhan, hal-hal terlihat sebagai sebuah lukisan yang sempurna, walaupun ada warna-warna gelap di dalamnya. Kematian para martir yang mengerikan, misalnya, tidak masuk akal. Tetapi, Tertullianus, seorang apologis Katolik pada abad ke-3, melihatnya dalam perspektif yang lebih dalam dan menulis, “Semakin kamu menghancurkan kami, kami pertumbuh semakin banyak: darah para martir adalah benih Gereja.”

Yesus tidak memanggil kita untuk menikmati kehidupan yang sukses tetapi untuk menjadi saksi-Nya. Meskipun segala sesuatu dapat berbalik melawan kita, Yesus menyatakan bahwa kita tidak perlu takut dan khawatir karena, pada akhirnya, semua akan bekerja sesuai dengan rencana-Nya yang indah karena Dia mengasihi kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tubuh Kristus dan Tubuh Kita

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [Corpus Christi] – A

14 Juni 2020

Yohanes 6: 51-58

monstranHari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus berawal dari inisiatif St. Juliana dari Liege, yang meminta uskupnya dan sahabat-sahabatnya untuk menghormati  secara khusus sakramen Ekaristi, dan kehadiran nyata Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Berdirinya Ekaristi sendiri terjadi dalam Perjamuan Terakhir Tuhan, dan setiap Kamis Putih, Gereja merayakan peristiwa ini. Namun, karena Kamis Putih adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Trihari suci Paskah, perhatian diberikan pada persiapan bagi umat beriman untuk memasuki misteri Sengsara dan Kebangkitan Tuhan kita. Karena berakar di Kamis Putih, Hari Raya Corpus Christi dirayakan pada hari Kamis setelah hari Minggu Tritunggal. Namun, di beberapa negara seperti Indonesia, perayaan dipindahkan ke hari Minggu berikutnya untuk mengakomodasi partisipasi yang lebih besar dari umat beriman.

 Dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa tubuh-Nya adalah makanan yang nyata, dan setiap orang yang ingin memiliki hidup yang kekal perlu menyantap tubuh-Nya. Kita mungkin bertanya-tanya: mengapa dalam kebijaksanaan-Nya, Yesus memutuskan untuk memberikan tubuh-Nya sebagai makanan rohani kita? Mengapa Yesus tidak langsung menanamkan rahmat langsung ke jiwa kita? Jawabannya mungkin sangat sederhana. Hal ini dipilih Tuhan karena tubuh kita ini adalah nyata dan baik. Jika kita kembali ke kisah penciptaan di Buku Kejadian, Tuhan menciptakan pria dan wanita dalam kodrat manusia, termasuk tubuh kita, sebagai sesuatu yang sangat baik. Meskipun tubuh kita berasal dari tanah, tubuh kita telah dirancang dengan luar biasa untuk menerima roti ilahi, kehidupan rohani. Tubuh kita pada dasarnya baik, dan begitu baik sehingga tubuh kita bisa menerima rahmat. Dalam perkataan St Agustinus, “Capax Dei” (memiliki kemampuan untuk mengenal dan menerima Tuhan).

Sejak awal berdirinya, Gereja telah memerangi sebuah ajaran sesat yang disebut Gnostisisme. Intinya, gnostisisme mengajarkan ada dualisme dalam ciptaan, bahwa dunia spiritual itu baik dan dunia material, termasuk tubuh kita, adalah jahat. Jadi, setiap aspek ragawi dari kemanusiaan kita harus dibuang dan dihancurkan. Gereja dengan keras menentang ini karena Allah telah menciptakan dunia secara totalitas sebagai yang baik dan indah. Pertempuran berlanjut pada masa St. Dominikus de Guzman, pendiri Ordo Pengkhotbah, yang berhadapan melawan kelompok Albigensia [adaptasi gnostisisme pada abad pertengahan). Syukurlah, kaum Albigentia tidak ada lagi, tetapi sayangnya, gnostisisme terus hidup.

Sebagai umat Kristiani, kita bersama Gereja terus memerangi gnostisisme modern. Jenis gnostisisme sangat sederhana dan tanpa disadari kita pun telah menjadi korban dari virus mematikan ini. Setiapkali kita memperlakukan tubuh kita hanya alat untuk mencapai kesuksesan dan popularitas, ketika kita menyalahgunakan tubuh kita untuk merasakan kenikmatan instan, ketika kita menjual tubuh kita sebagai keuntungan ekonomi belaka, kita tanpa sadar jatuh ke dalam perangkap ini ajaran sesat ini.

Pesta Corpus Christi membawa kita kebenaran yang lebih besar dari tubuh kita. Dengan menjadi manusia dan akhirnya memberikan tubuh-Nya, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa tubuh tidak hanya mampu menerima rahmat, tetapi juga mampu menjadi rahmat dan kasih bagi sesama. Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus telah memberikan tubuh-Nya sebagai ekspresi kasih tertinggi. Namun, untuk dibagikan, tubuh-Nya harus dihancurkan, namun meski hancur, tubuh mulia ini dipersembahkan dalam ucapan syukur.

 Pada masa pandemi ini, kita tidak dapat menghadiri Misa Kudus, dan kita sangat merindukan Tubuh Kristus. Namun, kabar baiknya adalah bahwa inilah saatnya bagi kita untuk menjadi Tubuh Kristus bagi sesama kita yang membutuhkan. Hanya dengan membagikan tubuh kita dalam kasih, kita memenuhi tujuan kita sebagai makhluk ragawi yang diciptakan menurut citra-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Citra Trinitas

Hari Raya Tritunggal Mahakudus

7 Juni 2020

Yohanes 3: 16-18

trinity 3Kita memasuki kembali masa biasa Gereja, dan salah satu perayaan terbesar dalam masa biasa adalah kesungguhan Tritunggal Mahakudus. Gereja telah menempatkan perayaan besar ini pada hari Minggu setelah Pentekosta. Alasannya mungkin tidak begitu jelas bagi kita, tetapi jika kita melihat gambaran yang lebih besar, itu sebenarnya adalah prosesi kebenaran yang wajar. Di Paskah, kita merayakan kebangkitan Yesus yang mengukuhkan keilahian Kristus, dan pada hari Pentekosta, kita menyaksikan keilahian Roh Kudus ditegaskan [lihat refleksi hari Minggu lalu]. Sekarang, kami bersukacita karena Tiga pribadi Ilahi di dalam Tuhan.

Tritunggal Minggu diakui sebagai yang paling ditakuti oleh banyak pastor atau romo karena banyak yang masih bingung bagaimana menunjukkan kebenaran yang paling dalam ini dan yang lain takut untuk menjelaskan Tritunggal karena bisa-bisa menyebarkan konsep yang keliru. Lagipula, kita berhadapan dengan sumber dan puncak semua misteri iman. Namun, itu bukan alasan yang tepat untuk tidak menampilkan keindahan Tritunggal yang mahakudus. Para imam harus bekerja keras dan menghabiskan lebih banyak waktu dalam belajar dan mempersiapkan homili.

Dalam renungan ini, saya ingin membawa kita semua kembali ke Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, realitas Tritunggal tersembunyi di sebagian besar ayat, namun kebenaran suci ini tampak di saat-saat fundamental. Mari kita baca Kejadian 1: 1-3, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk  dan kosong gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang” Lalu terang itu jadi” Umat Kristiani perdana seperti St. Irenaeus dari Lyon, segera melihat ini sebagai Trinitas yang bekerja sebagai satu, Allah, Roh dan Firman. Kabar baiknya adalah bahwa dunia dan segala ciptaan adalah mahakarya dari Tritunggal Mahakudus, dan sampat tingkat tertentu, ciptaan itu mencerminkan kesempurnaan Tritunggal.

Selain itu, dalam Kejadian 1:26, ketika Tuhan menciptakan pria dan wanita, Tuhan berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” Perikop ini sedikit aneh karena Allah yang satu tiba-tiba menyebut diri sendiri dalam bentuk jamak. Tradisi Yahudi menafsirkan hal ini bahwa Allah berbicara kepada dewan surgawi-Nya, para malaikat, tetapi sekali lagi, tradisi Kristiani melihat ini sebagai tiga pribadi Ilahi. Kabar baiknya adalah bahwa jika kita diciptakan menurut citra Allah, dan jika Allah kita adalah Tritunggal, maka kita adalah citra Tritunggal.

Memang benar bahwa kita tidak dapat sepenuhnya memahami misteri Ilahi, tetapi kita sebenarnya tidak jauh dari misteri ini. Bahkan, kita diundang untuk seperti Trinitas. Sebagai citra Trinitas, kita tidak dapat menemukan sukacita sejati dengan menimbun hal-hal duniawi seperti kekayaan, ketenaran untuk diri kita sendiri. Seperti Bapa dan Putra saling mengasihi dalam Roh Kudus, kita dipanggil untuk memberikan diri kita kepada sesama dalam kasih.

Ini mengapa Gereja Katolik terus menjaga kesakralan pernikahan. Karena melalui pernikahan, pria dan wanita dapat memberikan diri mereka sepenuhnya satu sama lain. Cinta kasih mereka begitu kuat sehingga cinta kasih ini bahkan bisa melahirkan kehidupan baru. Dan saat kehidupan baru ini [anak] datang di tengah hidup sang pria dan wanita, kasih mereka dapat semakin tumbuh bahkan secara eksponensial. Dan dalam pernikahan dan keluarga, kita menemukan identitas kita sebagai citra Trinitas, dan saat kita menemukan hal ini, kita menemukan makna terdalam hidup kita.

Memang mengasihi sangat sulit, tetapi kabar baiknya adalah kita dirancang untuk memberikan kasih dan kehidupan. Tritunggal Mahakudus adalah asal usul kita, dan Tritunggal Mahakudus adalah tujuan kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Selamat Ulang Tahun, Gereja!

Minggu Pantekosta [A]

31 Mei 2020

Yohanes 20: 19-23

pentecost 3“Selamat ulang tahun!” Hari ini adalah hari raya Pentekosta, dan hari ini adalah kelahiran Gereja. Kita harus bersukacita karena Gereja kita bertambah dalam usia, tetapi semakin kuat, bijaksana dan kreatif dalam memberitakan Kabar Baik. Namun, pertanyaannya adalah mengapa kita merayakan ulang tahun Gereja pada hari Minggu Pentekosta?

Untuk menjawab ini, kita perlu memahami makna alkitabiah dari perayaan Pentekosta dan apa yang terjadi pada para murid pada saat Roh Kudus turun ke atas mereka. Kata Pentekosta berarti “yang kelima puluh”, dan hari raya Pentekosta terjadi pada hari kelima puluh setelah Minggu Paskah. Namun, pesta Gereja itu sendiri pada awalnya adalah sebuah festival keagamaan Yahudi: Hari Raya Shavuot atau Hari Raya Tujuh Minggu. Perayaan itu berlangsung tujuh minggu setelah perayaan akbar Paskah. Bersama-sama dengan Paskah dan Hari Raya Pondok Daun, Pentekosta adalah perayaan perziarahan utama yang mengharuskan setiap pria Yahudi untuk melakukan perjalanan ke Yerusalem. Awalnya, ini adalah perayaan agrikultural. Orang-orang Israel bersyukur atas panen yang berhasil dan mempersembahkan hasil panen mereka kepada Tuhan. Namun, itu juga memiliki makna religius. Dalam perayaan Shavuot, orang Israel memperingati pemberian Hukum dan pembuatan perjanjian dengan Tuhan Allah di Gunung Sinai.

Ini menjelaskan mengapa banyak orang dari berbagai bangsa berkumpul di sekitar tempat para murid: mereka adalah peziarah Pentekosta. Perayaan ini juga menjawab pertanyaan yang lebih mendasar tentang identitas Roh Kudus: Mengapa Roh Kudus harus menampakkan diri-Nya sebagai api, dan tidak dengan citra yang lain seperti merpati? Jika kita kembali ke peristiwa di gunung Sinai itu sendiri, kita akan menemukan sesuatu yang luar biasa. Ketika Allah membuat perjanjian-Nya dan menyerahkan Hukum-Nya, Dia menampakkan diri-Nya kepada seluruh Israel sebagai api [lihat Kel 19:18]. Roh Kudus hadir dalam api hanya karena Dia adalah Allah yang sama yang memanifestasikan diri-Nya di Sinai. Hari Minggu Pentekosta mengungkapkan kebenaran mendasar tentang Roh Kudus bahwa Parakletos yang dijanjikan itu adalah Tuhan.

Di Sinai, orang Israel menerima Hukum dan masuk ke dalam perjanjian dengan Tuhan. Allah menjadikan mereka “kerajaan imamat dan bangsa yang kudus [lihat Kel 19: 6]. Bangsa Israel menjadi bangsa yang kepemilikan Tuhan. Dalam Pentekosta yang baru, Roh Kudus turun ke atas para murid dan menanamkan dalam diri mereka Hukum Cinta Kasih yang Baru. Dia membentuk mereka untuk menjadi Umat Allah yang baru [lihat Pet 2: 9]. Komunitas baru keluarga Allah telah lahir hari ini!

Namun, umat Allah baru ini bahkan lebih besar. Roh Kudus memberi kuasa kepada para murid untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang dari berbagai bangsa dan bahasa. Pentekosta membalikkan efek negatif dari menara Babel [lihat Kejadian 11: 1-9]. Ketika orang-orang begitu bangga pada diri mereka sendiri dan berusaha menjadi seperti Tuhan dengan kekuatan mereka, berbagai bahasa berubah menjadi kutukan yang memecah belah mereka. Namun, dengan Roh Kudus yang mengubah hati dan menanamkan kerendahan hati, bahasa menjadi berkat yang menyatukan orang-orang yang berbeda.

Kita bersyukur kepada Roh Kudus yang telah melahirkan Gereja. Kita bersyukur kepada Roh Kudus yang telah memanggil kita untuk menjadi bagian dari umat Allah yang baru.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP