Di Balik Talenta

Minggu ke-33 di Masa Biasa

15 November 2020

Matius 25: 14-30

Sejatinya talenta bukanlah bakat atau kemampuan yang diberikan Tuhan, tetapi sebuah unit bobot dan nilai, biasanya dari emas dan perak. Mudahnya, talenta adalah jumlah uang yang sangat besar. Satu talenta setara dengan sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar adalah upah kerja satu hari, satu talenta berarti enam ribu hari kerja atau sekitar tujuh belas hingga dua puluh tahun kerja.

Untuk mencari makna dari perumpamaan ini, kita perlu menemukan bagian dari cerita yang mengejutkan. Kali ini, saya ingin mengajak kita semua fokus pada tuan para hamba ini. Tuannya memberikan total 8 talenta kepada hamba-hambanya [secara harfiah adalah budak]. Jika kita berhenti sejenak, kita mulai menyadari betapa fantastisnya jumlah uang yang mereka terima. Tindakan memberi mengandaikan salah satu dari dua hal: entah sang tuan adalah orang yang sangat kaya sehingga dia tidak benar-benar peduli dengan talenta-talenta ini, atau dia sangat murah hati dan percaya kepada para hambanya. Saya percaya dia adalah orang yang murah hati dan percaya kepada hambanya.

Mempercayakan talenta ini memiliki risiko besar. Salah satu kemungkinannya adalah bahwa para hamba bisa gagal dalam usaha mereka dan dengan demikian, tuannya bisa kehilangan uangnya. Kemungkinan lain adalah para hamba bisa saja kabur dengan membawa talenta, dan dengan demikian, tuannya bisa kehilangan uang dan para hambanya. Namun, terlepas dari kemungkinan sangat buruk ini, sang tuan teguh dalam keputusannya. Dia mempercayai para hambanya, dan kepercayaannya berbuah. Kecuali untuk hambanya yang malas, sang tuan mendapat dua kali lipat!

Dari sini, kita mendapat pelajaran berharga. Cara terbaik untuk mengembangkan talenta kita adalah dengan membagikannya kepada orang lain. Cara yang biasa untuk mengembangkan talenta kita adalah dengan menggunakannya. Namun, metode ini tidak membawa kita pertumbuhan eksponensial. Namun, dengan berbagi talenta, kemungkinan untuk berkembang tidak terbayangkan. Lebih dari itu, perumpamaan ini bukan hanya tentang talenta, tetapi tentang hubungan antara tuan dan hambanya, tentang kepercayaan dan kasih sang tuan dan rasa syukur para hamba. Memang, kemampuan untuk melihat kepercayaan sang tuan akan menghasilkan rasa syukur, dan rasa syukur mendorong para hamba untuk melakukan yang terbaik.

Salah satu kemungkinan alasan hamba menjadi malas adalah karena dia gagal mengenali kepercayaan tuannya dan berfokus pada kecilnya talenta yang ia terima. Ironisnya, satu talenta masih merupakan kekayaan yang sangat besar! Jadi, alih-alih bersyukur, iri hati menghancurkan jiwanya dan kemalasanlah yang menang. Kita juga memperhatikan bahwa hamba ketiga tidak kehilangan talenta, tetapi dia masih menerima hukuman. Meskipun talentanya tidak hilang, kepercayaan tuannya telah hilang. Dan saat kepercayaan ini hilang, semuanya akan hilang.

Belajar dari perumpamaan ini, kita dipanggil untuk memiliki kemampuan untuk mengenali kepercayaan dan kasih Tuhan kepada kita. Berbagai talenta yang kita miliki hanyalah perwujudan sederhana dari kasih ini. Sebagai hamba kita, kita tidak pantas mendapatkan apa pun dari Tuhan, tetapi Tuhan telah memberi kita secara berlebihan. Dari kesadaran ini, hanya rasa syukur yang mengalir dengan sendirinya. Tetapi, jika kita tidak bisa melihat hal ini, kita mungkin jatuh ke dalam banyak dosa lain: iri hati, kemarahan, fitnah, atau sekadar kemalasan. Sekali lagi, ini bukan tentang talenta yang kita miliki, tetapi kepercayaan dan kemurahan yang Tuhan berikan kepada kita.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kebodohan

Minggu ke-32 di Masa Biasa

8 November 2020

Matius 25: 1-13

Upacara pernikahan adalah salah satu acara terindah di banyak budaya dan masyarakat. Ini termasuk di masyarakat Yahudi di Palestina abad pertama Masehi. Bagi orang Ibrani yang hidup pada zaman Yesus tersebut, upacara pernikahan memiliki dua tahap. Yang pertama adalah pertukaran janji. Pasangan tersebut sudah menikah secara resmi, dan mereka diakui sebagai suami dan istri di mata komunitas Yahudi. Namun, mereka akan menunggu sekitar satu tahun sebelum mereka bisa hidup bersama. Sang suami akan mempersiapkan rumah mereka serta perayaan pesta nikah yang mungkin berlangsung selama 7 hari lamanya.

Tahap kedua adalah pesta pernikahan. Ini dimulai dengan pengantin pria menjemput sang istri dari rumah keluarganya, dan membawanya ke rumahnya dengan prosesi tarian dan musik. Karena prosesi biasanya berlangsung pada malam hari, api dan obor sangat diperlukan. Sepuluh gadis ini adalah mungkin beberapa teman dekat dari pengantin wanita dan bahkan kerabat dari pasangan tersebut. Mereka ditempatkan tidak jauh dari tempat pernikahan untuk menyambut pasangan suami istri tersebut. Karena tidak ada internet dan GPS, kesepuluh perawan mungkin tidak dapat mengetahui posisi prosesi tersebut dengan tepat, tetapi mereka diharapkan siap kapanpun pasangan ini datang.

Mari kita perhatikan sikap dari lima gadis yang bodoh ini. Dalam bahasa Yunani, kelima gadis ini disebut “moros” di mana kita mendapatkan kata dalam bahasa Inggris “moron”. Itu pasti kata yang keras. Namun, jika kita amati dengan seksama, apa yang dilakukan perawan ini sungguh bodoh dan ceroboh. Bukan hanya gagal mempersiapkan kedatangan pengantin, mereka juga mencari minyak di tengah malam. Mereka tidak hidup di era modern di mana kita dapat dengan mudah membeli barang-barang di toko seperti indomart atau alfamart. Kita bisa membayangkan bagaimana mereka dengan tergesa-gesa mencari pedagang, dan dengan panik mengetuk pintu toko atau rumah mereka. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan bahkan kegaduhan yang tidak perlu dan menimbulkan rasa malu bagi sang pasangan. Ini mungkin juga menjadi alasan mengapa tuan rumah menolak untuk menerima lima gadis bodoh ini.

Perumpamaan Yesus ini memberi kita peringatan yang kuat untuk tidak menjadi bodoh dalam menjalani hidup kita sebagai orang Kristiani. Kita diberi peran dan misi tertentu dalam hidup kita. Beberapa dari kita dipanggil untuk menjadi pasangan suami-istri dan orang tua, dan beberapa dari kita melayani sebagai imam atau rohaniawan seperti para suster. Beberapa dari kita adalah pendidik iman, beberapa dari kita adalah pemimpin komunitas dan yang lainnya terlibat dalam berbagai pelayanan. Dalam peran apapun kita miliki, Yesus meminta kita untuk bijak dalam melakukan hidup dan pelayanan kita, dan menuntut kita untuk tidak melakukan hal-hal bodoh dan bahkan menyebabkan penderitaan yang tidak perlu bagi orang lain.

Jika kita, sebagai orang Kristiani, bertindak bodoh, kita tidak hanya mempermalukan diri kita sendiri, tetapi juga Kristus sendiri. Tapi, jika kita menghasilkan perbuatan bijak, kita membawa kemuliaan bagi Tuhan, dan lebih banyak orang akan memuji Tuhan kita.

St. Josemaria Escriva pernah berkata, “wajah murung, tidak sopan, tampil konyol, tidak ramah. Itukah caramu berharap untuk mengispirasi orang lain untuk mengikuti Kristus?”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dipanggil Menjadi Orang Kudus

Hari Raya Semua Orang Kudus

1 November 2020

Matius 5: 1-12

Hari ini Gereja merayakan hari raya semua orang kudus. Ini adalah salah satu pesta kuno di Gereja yang memperingati dan menghormati semua orang yang telah berpulang dan menerima pahala kekal mereka, Tuhan Sendiri. Kita mungkin mengenali beberapa dari mereka, seperti St. Dominikus de Guzman, St. Fransiskus dari Assisi, dan St. Catharine dari Siena, dan St. Ignatius, tetapi ini hanya sebagian kecil dari seluruh penghuni surgawi. Kabar baiknya adalah bahwa mereka semua berdoa untuk kita, dan siapa tahu, beberapa dari orang-orang yang kita kasihi yang telah meninggal telah menjadi bagian dari persekutuan kudus ini.

Berbicara tentang orang-orang kudus, hal pertama yang sering muncul di benak kita adalah bahwa mereka adalah para raksasa iman kita. Banyak orang kudus adalah martir. Mereka mempersembahkan hidup mereka untuk Kristus dengan menghadapi kematian yang mengerikan. Banyak orang kudus melakukan mukjizat yang tak tertandingi. St. Benediktus dari Nursia pernah membangkitkan seorang pemuda yang tewas dalam kecelakaan saat membangun biaranya. Tidak hanya mukjizat, beberapa orang kudus juga melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpikirkan. Sebuah tradisi mengatakan bahwa Santo Antonius dari Padua memutuskan untuk berkhotbah kepada ikan ketika para bidaah menolak untuk mendengarkannya, dan ikan-ikan itu memberikan perhatian mereka kepada pengkhotbah kebenaran. Ketika St. Vincentius Ferrer berkhotbah, suaranya dapat didengar bahkan sejauh 3 KM. St. Katarina dari Siena menerima karunia stigmata, yakni luka-luka Kristus di salib. St Padre Pio dari Pietrelcina memiliki karunia untuk menembus kedalaman hati manusia, sehingga orang tidak dapat menyembunyikan apapun di hadapannya selama pengakuan dosa.

Melihat kehidupan orang-orang kudus, kita mungkin bertanya-tanya, “Apakah kekudusan ini untuk saya?” Saya takut mati apalagi sebagai martir. Saya tidak memiliki kemampuan super, bahkan saya tidak bisa berbicara dengan hewan peliharaan saya di rumah. Lebih buruk lagi, saya terus bergumul dengan dosa-dosa saya. Sepertinya, kekudusan jauh dari kebanyakan dari kita.

Namun, pada kenyataannya kita semua diciptakan untuk menjadi orang kudus. Ya, tujuan mengapa Tuhan menciptakan kita adalah untuk menjadi kudus, menjadi bagian dari surga, dan untuk berbagi kehidupan ilahi-Nya. Dalam analisis terakhir, kita hanya memiliki dua pilihan mendasar: untuk Tuhan atau melawan Tuhan. Jika kita untuk Tuhan, maka tujuan akhir kita adalah surga, dan keanggotaan dalam sukacita kekal ini adalah untuk orang-orang kudus. Namun, jika kita menolak untuk bersama Tuhan, maka neraka adalah tempat pembuangan akhir kita. Jadi, pilihan kita hanya dua sebenarnya: menjadi orang kudus atau pergi ke neraka. Pilihan yang sulit!

Namun, orang-orang kudus dengan cerita yang luar biasa hanyalah puncak gunung es. Mayoritas orang kudus menjalani kehidupan yang sederhana namun setia. St Martinus de Porres menjalani seluruh hidupnya sebagai seorang bruder yang sederhana, membersihkan dan merawat biara. St Theresia dari Lisieux tidak melakukan hal-hal luar biasa selama hidupnya, tetapi berdoa dengan tulus kepada Tuhan. St. Louis and Azelie Martin, pasangan sederhana, tetapi setia dalam iman, menjadi orang tua dari 5 orang biarawati, St. Theresia dari Lisieux satu di antaranya. Beato Carlo Acutis masih muda dan suka bermain Playstation, tetapi dia bisa menjadi kudus dengan mengikuti misa setiap hari, mengaku dosa seminggu sekali, dan berdoa rosario setiap hari. Kita dipanggil menuju kekudusan, dan kita dirancang untuk surga, kita hanya perlu terbuka pada kasih karunia Tuhan untuk bekerja di dalam kita.

Para kudus di surga, doakanlah kami!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Lisandro Garcia

Perintah Terbesar Yesus

Minggu ke-30 di Waktu Biasa [A]

25 Oktober 2020

Matius 22: 34-50

Pertanyaannya adalah “Apakah Hukum yang terutama?” Sekali lagi, untuk mengerti pertanyaan ini konteks historis dan religius sangat penting. Ketika Yesus dan ahli Hukum Taurat membahas tentang Hukum yang terutama, mereka berbicara tentang Hukum Taurat yang paling utama. Hukum Taurat sendiri menunjuk pada lima kitab Musa [Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan] dan sangat banyak peraturan ada di sana. Menurut tradisi para rabi, Taurat berisi 613 hukum. Jadi, orang Farisi sedang menguji Yesus tentang yang paling penting di antara 613 perintah.

Bagi orang-orang yang mengerti Taurat, jawabannya sebenarnya tidak sulit, dan mungkin kita juga sudah tahu jawabannya. Hukum yang paling mendasar di antara hukum-hukum itu adalah Sepuluh Perintah Allah. Ini adalah hukum pertama yang diberikan kepada orang Israel melalui Musa di Gunung Sinai. Sepuluh Perintah Allah sendiri diurutkan berdasarkan tingkat keutamaannya, yang berarti yang pertama adalah yang paling esensial, dan yang terakhir adalah yang tidak terlalu esensial. Oleh karena itu, yang pertama di antara Sepuluh Perintah adalah yang terbesar di antara 613 hukum. Perintah pertama berbunyi, “Akulah Tuhan, Allahmu … tidak ada Allah lain selain Aku [Kel 20: 2-3].”

Namun, Yesus tidak ingin terkurung dari jawaban standar yang sudah ada, dan merekonstruksi jawaban-Nya sendiri yang akan menjadi dasar moral Gereja. Jawaban Yesus adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap pikiranmu … Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Meskipun jawabannya tidak biasa, tetapi tetap ortodoks karena sumbernya juga adalah Hukum Musa. Untuk mengasihi Tuhan dengan segala yang kita miliki, sebenarnya berakar pada doa dasar Yahudi “Shema” [lihat Ulangan 6: 4-6], dan untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, juga mengalir dari kitab Imamat [19:18]. Apa yang Yesus lakukan adalah Dia secara radikal mengubah orientasi Hukum Musa. Alih-alih membatasi diri pada Sepuluh Perintah yang bersifat larangan, Yesus menetapkan kasih yang proaktif sebagai arahannya. Kasih mencari kebaikan yang dikasihi, dan kasih tidak pernah berhenti sampai kita bersatu dengan yang kita kasihi. Mematuhi 10 Perintah adalah dasar, tapi itu minimum. Yesus mengajarkan kita untuk tidak sekedar memenuhi yang minimum, tetapi untuk aktif memenuhi kehendak Allah sampai kita bersatu dengan Tuhan dan sesama di dalam Tuhan.

Sebelumnya, saya berpikir bahwa perintah Yesus adalah kata-kata yang indah dan imut. Saya mengasihi Tuhan dengan pergi ke Gereja setiap hari Minggu, terutama selama Natal dan Paskah, dan saya mengasihi sesama dengan sesekali membantu mereka atau memberi sumbangan kepada orang miskin. Tapi saya menyadari bahwa Yesus tidak pernah berkata, “ini adalah saran, anjuran atau nasihat terbesar saya.” Apa yang Yesus katakan kepada kita, “Ini adalah perintah yang terutama!” Hukum dimaksudkan untuk ditaati, dan di sini, kita berurusan dengan hukum terbesar! Untuk mengasihi Tuhan dengan segenap diri kita bukanlah pilihan, itu adalah suatu keharusan, dan untuk mengasihi saudara dan saudari kita tidak didasarkan pada kenyamanan kita, tetapi itu adalah kewajiban ilahi. Mengasihi Tuhan itu bukan pekerjaan paruh waktu atau mengasihi sesama kita bukanlah hobi. Ini adalah perintah terbesar Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo: Anna Earl

Untuk Kaisar atau Untuk Tuhan?

Minggu ke-29 di Masa Biasa

18 Oktober 2020

Matius 22: 15-21

Untuk memahami Injil hari ini, kita perlu melakukan perjalanan waktu ke zaman Tuhan Yesus. Orang-orang Yahudi pada abad pertama Masehi Palestina bukanlah orang-orang merdeka, dan mereka tunduk pada kekaisaran Romawi. Sebagai penduduk jajahan, mereka diharuskan membayar pajak yang cukup berat. Uang ini pada akhirnya akan digunakan untuk membayar tentara yang menjaga “keamanan” di Palestina. Tak ayal, membayar pajak adalah salah satu hal yang paling dibenci dan menimbulkan gejolak. “Mengapa saya harus membayar untuk penindasan saya sendiri?”

Masalah pembayaran pajak bahkan lebih sensitif karena koin yang digunakan untuk transaksi memiliki gambar atau citra Kaisar. Tidak hanya berukir wajah Caesar, di sekitar gambar, ada tulisan, “Tiberivs Caesar Divi Avgvsti Filivs Avgvstvs (Kaisar Augustus Tiberius, putra Augustus yang ilahi).” Koin itu menjadi semacam hujatan kepada orang-orang Yahudi yang mengakui bahwa tidak ada tuhan, selain Tuhan Allah.

Dengan latar belakang ini, orang Farisi berencana untuk menjebak Yesus dengan pertanyaan yang sangat dilematis: “haruskah kita membayar pajak kepada Kaisar?” Jika Yesus mengangguk, Dia akan dianggap sebagai pengkhianat bagi banyak nasionalis Yahudi dan penyembah berhala bagi orang Israel yang saleh. Tetapi, jika Yesus menggelengkan kepala, Dia akan segera dicap sebagai pemberontak dan menghadapi murka orang Romawi. Namun, tidak pernah bijaksana untuk menguji Yesus, karena itu tidak akan pernah berhasil. Sekali lagi, Yesus tidak hanya lolos dari dilema dengan bijaksana tetapi juga memberikan pelajaran yang mendalam bagi semua orang.

Dia mengambil koin Romawi dan menunjukkan bahwa koin itu memiliki citra Kaisar. Kemudian, Dia berkata, “berikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaisar …” Dasar kepemilikan adalah kehadiran “citra.” Koin itu milik Kaisar karena memiliki citra Kaisar. Jadi, membayar pajak sejatinya bentuk pengembalian koin yang sejak awal adalah milik Kaisar dan Kekaisaran Romawi. Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ. Dia juga mengajarkan, “berikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan.” Dan apakah yang menjadi milik Tuhan? Jawabannya adalah hal-hal yang memiliki citra Tuhan. Kembali ke Kejadian 1:26, kita menemukan bahwa kita diciptakan menurut citra Allah, dan oleh karena itu, Yesus ingin menunjukan bahwa kita adalah milik Allah.

Di sini, Yesus tidak hanya menghindari serangan orang Farisi, tetapi mengajarkan kebenaran mendasar tentang siapa kita dan ke mana kita akan pergi. Kita diciptakan menurut citra Tuhan, bukan citra HP, bukan uang, bukan juga piala. Meskipun mereka mungkin menawarkan kesenangan instan, hal-hal ini tidak bisa memberi kita kebahagiaan sejati. Hanya Tuhan yang benar-benar dapat memenuhi kerinduan kita yang terdalam. Meskipun hal-hal ini secara alami baik dan dapat bermanfaat, mereka hannyalah sarana untuk mencapai tujuan sejati kita, Tuhan sendiri. Kita mungkin sibuk mengejar kekayaan, popularitas atau pengaruh, tetapi apa gunanya kita kehilangan Tuhan?

St Ignatius dari Loyola dalam Latihan Rohaninya mengingatkan kita bahwa, “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati, dan melayani Tuhan, dan dengan cara-cara inilah manusia menyelamatkan jiwanya. Hal-hal lain di muka bumi diciptakan bagi manusia untuk membantunya dalam mencapai tujuan penciptaannya… Oleh karena itu, kita harus membuat diri kita sendiri tak terikat terhadap semua ciptaan… Satu keinginan dan pilihan kita haruslah jatuh pada hal-hal yang lebih kondusif untuk mencapai tujuan penciptaan kita.”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menghormati Sang Raja

Minggu ke-28 di Masa Biasa

11 Oktober 2020

Matius 22: 1-14

Untuk memahami perumpamaan yang kita dengar Minggu ini, kita perlu melihat elemen-elemen yang mengejutkan. Pertama, perjamuan ini bukalah perjamuan pernikahan biasa, tapi pernikahan putra raja. Tentunya, orang-orang dalam daftar undangan adalah tamu terhormat dan istimewa, tetapi mereka menolak untuk datang sampai dua kali dan bahkan menganiaya para utusan raja. Apa yang mereka lakukan tidak terpikirkan! Mereka gagal untuk melihat betapa berharganya undangan tersebut dan malah memilih urusan-urusan sepele mereka sendiri. Mereka sama saja melontarkan hinaan kepada raja yang telah menghormati mereka. Tak heran, raja menghukum mereka.

Namun, raja ini adalah raja yang murah hati, dan dia memutuskan untuk mengundang semua orang yang bukan bagian dari tamu kehormatannya. Dia memberikan undangan kerajaan dan kehormatan bagi semua orang. Banyak yang memang datang dan memenuhi undangan tersebut. Namun, ada satu orang yang gagal mengenakan pakaian yang layak bagi perjamuan. Berpakaian pantas dalam menghadiri perjamuan pernikahan tidak hanya sesuatu yang wajar, tetapi juga menunjukkan bagaimana kita menghormati orang yang mengundang kita. Orang ini adalah tamu kehormatan, tetapi dia gagal menghargai kehormatan yang dia terima, gagal berperilaku sesuai harapan, dan membawa aib besar kepada raja. Karena itu, raja melemparkannya bukan ke sembarang tempat, melainkan ke kegelapan yang berkesudahan.

Kita sama seperti tamu perjamuan nikah ini karena kita menerima penghormatan yang tak terukur karena pada kenyataannya kita tidak pantas dipanggil oleh Tuhan untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya. Pada sudah sepatutnya, kita perlu melakukan bagian kita untuk menghormati Dia yang mengundang kita, dan untuk menunjukkan rasa syukur yang terbaik kepada Tuhan. Pertanyaannya kemudian, apa yang dimaksudkan dengan pakaian yang layak untuk perjamuan pernikahan ini? Jika kita melihat Kitab Wahyu 19, kita akan melihat sebuah perjamuan pernikahan juga. Ini adalah perjamuan pernikahan Anak Domba, dan dalam Wahyu 19: 8, “… karena lenan halus itu adalah perbuatan benar orang-orang kudus.” Iman kepada Yesus itu seperti menerima undangan dan datang ke perjamuan, tetapi kita tidak boleh berhenti sampai di situ, kita juga akan mengenakan pakaian yang terbentuk dari perbuatan-perbuatan benar. Iman awal kita harus tumbuh menjadi kasih.

Prinsip dasarnya adalah rahmat itu cuma-cuma, tapi itu tidak murahan. Faktanya, rahmat bersatu dengan Tuhan ini adalah hal paling berharga yang pernah kita terima dalam hidup kita. Perbuatan-perbuatan benar kita tidak dimaksudkan sebagai alat tawar-menawar dengan Tuhan, melainkan sebagai tanda terima kasih kita. Kita melakukan perbuatan benar bukan karena kita ingin dipuji, tetapi karena kita ingin menghormati Dia yang telah memanggil kita ke perjamuan surgawi. Sebagai imam, kami melayani umat terutama karena meskipun memiliki kelemahan, kami dipilih untuk menjadi saran rahmatnya. Sebagai pasangan suami-istri, kita dipanggil untuk membangun keluarga tidak hanya berdasarkan ketertarikan emosional, kebutuhan biologis, dan stabilitas ekonomi, tetapi rasa syukur kepada Tuhan yang telah mempersatukan suami istri dalam kasih dan rahmat. Sebagai orang tua, kita membesarkan anak-anak kita tidak hanya untuk menjadi sukses, kaya atau berpengaruh, tetapi terutama untuk menjadi pria dan wanita yang kudus karena kita menyadari bahwa anak-anak ini adalah berkat dari Tuhan. Dunia akan menjadi dunia yang lebih baik dengan orang-orang yang dipenuhi rasa syukur, dan dengan orang-orang kudus.

Refleksi ini didedikasikan bagi Carlo Acutis yang pada hari ini [10 Oktober] menjadi seorang beato, seorang model kekudusan bagi kita semua.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

picture by : mateus campos filipe

Menjaga Berkat

Minggu ke-27 di Masa Biasa [A]

4 September 2020

Matius 21: 33-43

Pemilik kebun anggur dalam perumpamaan hari ini luar biasa tak terduga. Dia tahu bahwa para penyewa adalah serakah dan korup, dan jika saya menjadi dia, saya akan segera mengusir para penyewa itu. Namun, pemilik ini melakukan yang sebaliknya. Dia terus mengirim utusannya dan sampai memberikan putranya sendiri, pewaris sejati. Pemilik kebun anggur ini pasti sudah gila! Dan, itulah citra Tuhan kita yang sangat penuh belas kasih dan sabar. Namun, itu bukanlah akhir dari cerita. Perumpamaan ditutup dengan sebuah penghakiman: jika kita terus menyalahgunakan belas kasihan Tuhan, keadilan-Nya pada akhirnya akan meraja.

Ketika Yesus berbicara tentang perumpamaan kebun anggur ini, konteksnya adalah Yesus menghadapi para penatua dan imam kepala. Alih-alih melayani umat Allah, mereka memilih mencari keuntungan pribadi dan terlibat dalam berbagai praktik korupsi. Yesus mengingatkan mereka bahwa kebun anggur akan diambil jika mereka tidak bertobat. Sayangnya, mereka terlalu rakus dan sombong. Jadi, mereka memilih untuk menyingkirkan Yesus, sang Putra Allah. Sejarah akhirnya menceritakan bahwa pada tahun 70 M, sekitar 40 tahun setelah Kristus, Yerusalem dibakar, dan Bait Suci diratakan dengan tanah.

Sebenarnya, cerita tentang berkat yang diberi dan kemudian diambil lagi, adalah salah satu pola dasar dalam Alkitab. Adam dan Hawa diberi hak istimewa di taman Eden, namun mereka melukai hati Tuhan, dan mereka kehilangan firdaus. Orang Israel dibebaskan dari tanah Mesir, tetapi di padang gurun, mereka terus bersungut-sungut dan bahkan menyembah dewa palsu. Oleh karena itu, mereka harus mati di gurun pasir, dan hanya anak-anak mereka yang diizinkan masuk ke Tanah Terjanji.

Tuhan telah memberi kita masing-masing, sesuatu anugerah yang istimewa, berkat yang berharga. Dan kita harus menjaga dan melindungi pemberian ini. Jika tidak, anugerah ini akan diambil dari kita.

Iman adalah anugerah. Iman adalah langkah pertama kita ke surga. Namun, kita harus menumbuhkan iman kita, memupuknya dengan ajaran Gereja yang benar dan menumbuhkan hubungan yang mesra dengan Tuhan. Kita harus menjaganya tidak hanya dari ajaran-ajaran yang menyesatkan tetapi juga dari kemalasan dan ketidakpeduliaan kita. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Panggilan imamat dan sebagai seorang bruder dan suster adalah sebuah anugerah. Ini adalah sebuah kesempatan untuk melayani umat Tuhan, untuk memberitakan Firman Tuhan, dan untuk melayani sakramen kasih karunia dan keselamatan. Kita perlu memeliharanya setiap hari dengan tekun dalam doa, belajar dengan sungguh-sungguh, dan dengan setia menjalankan kaul kita. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Panggilan untuk menjadi suami-istri dan keluarga adalah anugerah. Merupakan kesempatan untuk menjadi rekan pencipta dan rekan kerja Tuhan; untuk melahirkan kehidupan dan memelihara kehidupan. Kita perlu melindunginya dari dosa ketidaksetiaan dan keegoisan, dan memeliharanya dengan cinta, komitmen, dan bahkan keterbukaan. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Bumi adalah anugerah bagi kita. Ini adalah rumah kita, rumah yang menakjubkan untuk ditinggali, dan di antara miliaran planet di galaksi, tidak ada yang seperti bumi. Kita perlu mempertahankannya dari eksploitasi, penambangan berlebihan, penangkapan ikan berlebihan, dan bahkan dari gaya hidup kita yang secara bertahap merusak alam. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Dan kita harus menjaga dan melindungi semua pemberian ini. Jika tidak, hadiah ini akan diambil dari kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: S. Danilo

Kerendahan Hati dan Kesombongan Rohani

Minggu ke-26 dalam Masa Biasa [A]

27 September 2020

Matius 21: 28-31

Untuk memahami perumpamaan tentang dua anak laki-laki pemilik kebun anggur ini, kita perlu membaca seluruh Matius pasal 21. Yesus baru saja memasuki kota Yerusalem dan disambut oleh orang-orang dengan teriakan “Hosana” dan ranting palem. Kemudian, Dia pergi ke area Bait Allah untuk menyucikannya dari malpraktek yang terjadi. Jadi, para penatua dan imam kepala, yang bertanggung jawab atas Bait Allah, mempertanyakan Yesus, “siapa kamu? Dengan wewenang apa Anda bertindak demikian? ”

Jadi, Yesus menjawab mereka melalui perumpamaan. Perumpamaan ini berbicara tentang dua anak laki-laki; yang pertama mewakili para penatua dan yang kedua mewakili para pemungut pajak dan pelacur. Namun, yang mengejutkan para tetua adalah mereka  menjadi antagonis dari cerita tersebut. Yang memperparah adalah para sesepuh praktis berada dalam kondisi yang lebih buruk dari para pemungut pajak, karena mereka masih jauh dari kebun anggur, dari keselamatan. Namun, alih-alih bertobat, para penatua menjadi marah dan memutuskan untuk menghabisi Yesus selamanya.

Pertanyaannya adalah “mengapa pemungut cukai bisa bertobat sedangkan yang penatua tidak?” Jawabannya ada hubungannya dengan dua kekuatan yang saling bertentangan: di satu sisi adalah kerendahan hati dan yang lainnya adalah kesombongan rohani. Kita mulai dengan kesombongan rohani. Berdasarkan tradisi Gereja, kesombongan adalah yang paling mematikan dari tujuh dosa maut. St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa kesombongan adalah “hasrat berlebihan atas keunggulan diri sendiri dan akhirnya menolak tunduk kepada Tuhan.” Singkatnya, manusia yang sombong menganggap diri mereka lebih baik daripada yang lain. Apa yang membuat kesombongan begitu berbahaya adalah kesombongan membuat orang berpikir bahwa mereka mandiri dan bahkan tidak membutuhkan Tuhan.

Kesombongan juga sangat susah dideteksi karena dapat mengakar bahkan dalam hal-hal rohani. Kita tidak bisa mengatakan bahwa saya bernafsu untuk berdoa, tetapi kita bisa sombong dengan kehidupan rohani kita. Kita melihat diri kita lebih suci dan lebih saleh daripada orang lain berdasarkan standar kita.

Lawan dari kesombongan adalah kerendahan hati. Menurut St. Thomas Aquinas, kerendahan hati adalah keutamaan yang “mengolah jiwa, sehingga tidak menghasratkan yang lebih dari kodratnya.” Singkatnya, kerendahan hati adalah penangkal kesombongan rohani. Kerendahan hati dalam bahasa Latin “humilitas” berakar dari kata “humus” yang berarti tanah. Orang yang rendah hati mengenali identitas mereka yang berasal dari debu, dan nafas kehidupan serta kesempurnaan adalah anugerah Tuhan. Kerendahan hati ini akan mendatangkan rasa syukur karena kita menyadari bahwa meskipun hanya debu, Tuhan sangat murah hati dan penuh belas kasihan kepada kita.

Namun, kadang kita membingungkan antara menjadi rendah hati dengan menjadi minder. Minder itu kurang percaya diri dan biasanya lari dari tanggung jawab, karena belum dewasa. Minder berakar pada citra diri yang tidak lengkap dan bahkan terdistorsi. Sementara kerendahan hati dimulai dengan pemahaman yang benar tentang diri kita sendiri, bahwa kita secara sempurna dikasihi oleh Tuhan. Orang yang rendah hati adalah orang yang kuat karena hanya yang kuat yang bisa mengakui dosa-dosanya. Orang yang rendah hati adalah orang yang dewasa karena hanya yang dewasa yang bisa mengakui kelemahannya, meminta maaf, dan meminta bantuan. Pria dan wanita yang rendah hati adalah orang yang tangguh karena mereka bisa memaafkan walaupun itu sangat sulit.

Tuhan, berikan aku kerendahan hati, agar aku mengikuti kehendak-Mu yang suci.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perumpamaan Kerahiman

Minggu ke-25 dalam Waktu Biasa [A]

20 September 2020

Matius 20: 1-16

Di antara banyak perumpamaan Yesus, perumpamaan tentang pemilik kebun anggur yang satu ini adalah perumpamaan yang sulit saya pahami. Setiap saya membaca perumpamaan ini, saya selalu merasa ada yang tidak beres. Mungkin, saya dengan mudah mengasosiasikan diri dengan pekerja yang pertama datang, yang bekerja dari pagi hingga matahari terbenam. Mereka adalah para buruh yang menghabiskan waktu dan energi mereka di bawah terik matahari dan mengerahkan upaya mereka untuk memenuhi tuntutan pemilik kebun anggur. Namun, mereka menerima upah yang sama dengan mereka yang hanya memberikan satu jam kerja. Tentunya pemilik kebun anggur tidak melanggar kontrak, tapi tetap sepertinya ada ketidakadilan.

Mungkin, pengalaman ini seperti saat saya masih kuliah di Manila. Saya belajar keras untuk mendapatkan yang terbaik yang bisa saya raih. Memang, saya mendapat nilai baik, tetapi yang membuat saya tidak terima adalah ketika teman-teman sekelas saya yang saya tahu bahwa mereka pas-pasan, mendapat nilai yang sama dengan saya. Bagi saya, itu tidak adil, tetapi saya tidak dapat melayangkan keluhan saya karena nilai akhir adalah hak prerogatif dosen.

Namun, hal ini mulai terlihat berbeda ketika saya menjadi dosen. Pada satu titik, saya perlu memberi nilai akhir kepada siswa saya. Dan ini adalah saat yang paling dilematis bagi saya karena saya menyadari bahwa di satu sisi, saya perlu memberikan keadilan, tetapi di sisi lain, saya ingin semua siswa saya lulus dan berhasil. Akhirnya, saya lebih sering memilih belas kasihan dan mengizinkan murid-murid saya yang pas-pasan untuk lulus. Saya sepenuhnya sadar bahwa beberapa siswa saya akan merasa bahwa saya tidak adil, dan itulah beban yang harus saya tanggung sebagai dosen yang memilih untuk berbelas kasihan.

Jika kita mencoba melihat dengan teliti apa yang dilakukan pemilik kebun anggur, kita akan menganggapnya lucu dan bahkan aneh. Dia terus mencari dan memperkerjakan orang baru hampir setiap tiga jam. Lebih parah lagi, dia memberikan upah harian yang sama untuk semua. Dalam ekonomi dan bisnis, pengeluaran berlebihan dan kelebihan tenaga kerja adalah resep kebangkrutan! Tapi, si pemilik kebun anggur sepertinya tidak peduli dan terus mencari tenaga kerja. Mungkin, dia tahu betul jika orang-orang ini tanpa pekerjaan, mereka akan mati kelaparan, namun jika mereka bekerja dan menerima kurang dari upah minimum, mereka juga tidak akan bisa bertahan hidup. Dia tidak bisa memuaskan semua orang, tapi setidaknya dia akan bisa menyelamatkan semuanya.

Belajar dari perumpamaan ini, daripada mengeluh kepada Tuhan, kita perlu bersukacita karena Tuhan kita penuh belas kasihan, yang bahkan Dialah berinisiatif dan berupaya untuk mencari kita yang membutuhkan keselamatan, dan yang dengan sedia memberikan kehidupan kekal bahkan bagi mereka yang selama hidupnya tidak baik, tetapi pada saat terakhir bertobat.

 Kita harus bersukacita karena dalam mata Tuhan, kita semua adalah pekerja terakhir yang memohon belas kasihan pemilik kebun anggur. Siapa tahu, pekerja yang datang pertama sebenarnya adalah para malaikat, dan kita benar-benar pendatang terakhir yang tidak layak. Dengan dosa kita, kita semua pantas masuk neraka, tapi Tuhan mengulurkan tangan-Nya dan membuka Gerbang Surga. Kita harus bersukacita bahwa surga bukanlah tempat yang sepi di mana hanya sedikit orang benar yang layak mendapatkannya, tetapi surga penuh dengan orang-orang yang bersyukur yang menikmati belas kasihan Tuhan walau tidak layak.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Picture: Maja Patric

Belas Kasih: Jalan Kehidupan

Minggu ke-24 di Masa Biasa [A]

13 September 2020

Matius 18: 21-35

josue-escoto-UkpYNiJyx8A-unsplash

Minggu lalu, Injil berbicara tentang bagaimana perlu menegur saudara kita yang berdosa. Jika seorang saudara berdosa kepada kita, kita wajib memberikan koreksi dalam kasih. Minggu ini, Injil berbicara tentang apa yang harus kita lakukan jika seseorang yang telah menerima koreksi, bertobat dan meminta pengampunan. Jawabannya sederhana: kita memaafkannya, dan kita merangkulnya kembali ke dalam persekutuan.

Simon Petrus mencoba untuk mengesankan Guru-nya. Dia menyatakan bahwa dia bersedia memaafkan hingga tujuh kali. Simon Petrus ingin menunjukkan kepada Yesus bahwa dia juga mampu memiliki standar yang tinggi. Yang mengejutkan adalah Yesus tidak terkesan, dan pada kenyataannya, mengajarkan kepada para murid keutamaan lainnya yakni tentang keadilan, belas kasihan dan pengampunan.

Kali ini, Yesus mengajar dengan metode favorit-Nya: menceritakan sebuah perumpamaan, dan kita akan menghargai perumpamaan ini jika kita dapat mengenali konteks sejarah dan hal yang tidak terduga. Seorang hamba berhutang 10.000 talenta kepada seorang raja. Pada zaman Yesus, talenta adalah koin emas yang berharga, dan itu setara dengan 6.000 dinar. Satu dinar sendiri setara dengan upah satu hari kerja. Jadi, hamba ini berhutang 60.000.000 hari kerja kepada tuannya [atau sekitar 160.000 tahun kerja!]. Yang paling mengejutkan bukanlah jumlah hutang sang hamba, tetapi sikap sang raja yang dengan mudah mengampuni dan menghapus seluruh hutang ketika hamba memohon belas kasihan.

Oleh karena itu, ketika raja menerima berita bahwa hamba yang telah dimaafkan ini menolak untuk mengampuni sesama hamba yang memiliki hutang yang jauh lebih kecil [100 dinar], kemarahannya dapat dibenarkan, dan belas kasihannya berubah menjadi keadilan.

Dengan bercermin pada perumpamaan ini, kita memahami bahwa di hadapan Tuhan Allah, kita tidak berbeda dengan hamba ini. Kita tidak berhak mendapatkan apapun dari Tuhan kecuali satu hal: neraka! Dosa telah menghancurkan hubungan kita dengan Tuhan, dan kita menciptakan lubang yang sangat dalam. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menutup celah yang tidak terbatas ini. Hanya Tuhan yang mahakuasa yang memiliki kemampuan untuk membangun jembatan yang mustahil diseberangi ini. Syukurlah, Yesus telah meyakinkan kita bahwa Bapa-Nya juga adalah kerahiman itu sendiri. Meskipun kita tidak pantas mendapatkan apa-apa selain neraka, Tuhan telah membukakan pintu surga bagi kita.

Karena tidak ada yang bisa mendapatkan belas kasihan Tuhan, kerahiman-Nya selalu cuma-cuma, tetapi tidak berarti hal ini murahan. Tuhan ingin kita melakukan sesuatu juga untuk menerima belas kasihan-Nya. Dia mau kita untuk berbelas kasihan. Dia mengampuni kita, maka kita juga perlu mengampuni mereka yang telah menyakiti kita. Yesus sendiri mengingatkan kita bahwa kita harus berbelas kasihan seperti Bapa kita di surga yang penuh belas kasihan [Luk 6:36]. Berbelas kasihan bukanlah sekedar pilihan. Sesungguhnya, keadilanlah yang akan diterapkan pada kita di penghakiman terakhir.

Kita tahu bahwa mengampuni itu sulit, tetapi sekali lagi kita bisa belajar dari Yesus bagaimana cara mengampuni. Di kayu salib, Dia berkata, “Bapa, ampunilah mereka; karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan [Luk 23:34]. ” Langkah pertama adalah berdoa untuk orang-orang yang telah bersalah kepada kita. Dengan sering berdoa, kita melatih hati kita untuk melepaskan amarah dan kepahitan kita, dan bahkan belajar mengasihi seperti Tuhan mengasihi orang-orang yang memusuhi Dia.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP