Keledai

Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan [B]

28 Maret 2021

Markus 11: 1-10; Markus 14 – 15

Minggu Palma menandai awal Pekan Suci, minggu paling sakral dalam tahun liturgi kita. Perayaan tahun ini mungkin berbeda dari tahun-tahun lainnya karena pandemi, namun hal tersebut tidak menghentikan kita untuk menjalankan perayaan yang khusyuk dan bermakna. Salah satu pertanyaan yang biasa diajukan tentang perayaan Minggu Palma, “Mengapa Yesus menunggangi keledai?” Dengan bercanda, saya menjawab, “Ya, mungkin taksi online belum ada pada saat itu!”

Jawaban standar untuk pertanyaan ini adalah bahwa Yesus ingin menunjukkan diri-Nya sebagai raja yang lemah lembut dan rendah hati, dan bukan seorang jenderal yang haus kekuasaan dan suka berperang yang disimbolkan dengan kuda dewasa. Jawaban ini benar, tetapi tidak memberi kita gambaran yang lengkap. Jika kita mencoba untuk masuk lebih dalam ke Injil Markus saja, kita akan menemukan banyak penggenapan Perjanjian Lama.

Pemilihan keledai ini dilakukan oleh Yesus karena Dia memenuhi nubuat Zakharia. Intinya, nabi Zakharia menubuatkan bahwa suatu hari nanti seorang raja yang lembut namun jaya akan memasuki Yerusalem, menunggangi seekor keledai muda [lihat Zak 9:9]. Tapi, ini bukan satu-satunya nubuat yang dipenuhi Yesus.

Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, kita akan menemukan seorang raja Israel yang benar-benar menaiki keledai. Dia adalah Salomon, putra Daud, ketika dia dinobatkan sebagai raja dan naik takhta [1 Raja 1:33]. Dengan mengendarai seekor keledai muda, Yesus menandakan bahwa Dia adalah Salomon baru yang naik ke tahta baru-Nya, salib.

Markus juga memberi kita informasi bahwa orang-orang juga menyebarkan pakaian mereka di hadapan Yesus. Kembali ke Perjanjian Lama, kita juga menemukan seorang raja Yehuda yang menerima perlakuan yang sama seperti ini juga dari rakyatnya. Namanya adalah Yehu [2 Raja 9:12]. Selain itu, Markus menulis bahwa orang-orang menyambut Yesus dengan ranting-ranting yang hijau. Sekali lagi, jika kita kembali ke perjanjian lama, ranting hijau digunakan untuk menerima Yudas Makabe, yang berhasil merebut kembali Yerusalem dari tangan musuh [2 Mak 10:7]. Yesus memang raja yang lembut, tetapi Dia juga pemenang yang jaya atas musuh-musuh-Nya. Satu hal lagi adalah bahwa Markus menambahkan ungkapan ‘… Bapa kita Daud…” Daud sejatinya bukanlah salah satu dari bapa bangsa Israel [yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub]. Namun, orang Israel mengakui raja Daud sebagai bapak bangsa mereka, seorang raja yang melindungi dan memimpin rakyatnya.

Dari sini, kita bisa menarik kesimpulan yang menakjubkan pada Minggu Palma ini. Yesus menunggangi keledai muda untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Raja Mesias dalam garis keturunan Daud, seperti Salomon dan Yehu, serta raja yang jaya yang akan menaklukkan musuh-musuh-Nya. Namun, ada sesuatu yang bahkan luar biasa. Markus memberi kita detail unik: keledai ini belum pernah ditunggangi. Artinya keledai ini masih liar dan belum terlatih. Pilihan Yesus untuk menunggangi binatang yang masih liar ini menunjukkan kekuasaann dan otoritas-Nya atas binatang-binatang buas dan alam. Dia bukan hanya raja Israel, raja umat manusia, tetapi Dia adalah raja dari segala alam. Sungguh, seekor keledai adalah tumpangan yang sempurna bagi raja alam semesta.

Namun, kita tidak boleh terlalu cepat gembira. Ada lebih banyak rahasia yang harus dibuka dan lebih banyak nubuatan yang harus digenapi saat kita memasuki drama Pekan Suci.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kemuliaan Sejati

Minggu ke-5 Prapaskah [B]
21 Maret 2021
Yohanes 12: 20-33

njil Yohanes biasanya dibagi menjadi dua divisi utama: Buku Tanda-Tanda [bab 1-12] dan Buku Kemuliaan [Bab 13-21]. Buku Tanda-Tanda berfokus pada pelayanan publik Yesus dan juga tujuh ‘tanda’ Yesus. Dalam Injil Yohanes, ‘Tanda’ adalah istilah teknis untuk mukjizat. Tanda-tanda Yesus ini dimulai dengan mengubah air menjadi anggur di Kana dan mencapai puncaknya dengan membangkitkan Lazarus dari kematian. Sedangkan Buku Kemuliaan menjelaskan kepada kita bagaimana Yesus ‘dimuliakan’. Buku kedua dimulai dengan Yesus dan murid-murid-Nya di Ruang Atas dan berpuncak pada sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya.

Injil hari ini diambil dari Yohanes bab 12, dan bab ini berfungsi sebagai transisi antara Buku Tanda-Tanda ke Buku Kemuliaan. Ini juga mengapa Gereja memilih bacaan ini: untuk mempersiapkan kita memasuki Minggu Palma Sengsara Yesus dan Pekan Suci.

Satu pelajaran berharga yang dapat kita lihat dalam Injil hari ini adalah bagaimana Yesus memandang sengsara dan kematian-Nya. Tidak dapat disangkal, Yesus akan disalibkan dan wafat dengan cara yang mengerikan. Penyaliban adalah hukuman mengerikan yang hanya diperuntukkan bagi penjahat kelas berat dan pemberontak terhadap bangsa Romawi. Penyaliban ini mengerikan karena tujuannya adalah untuk memperpanjang penderitaan yang terhukum sebelum mereka menemui ajalnya. Di kayu salib, orang diperlakukan lebih rendah daripada hewan. Ini adalah kematian mengerikan yang Yesus akan rangkul.

Namun, dalam Injil Yohanes, Yesus tidak sekedar melihat penyaliban-Nya sebagai peristiwa manusia belaka tetapi sebagai penyelenggaraan ilahi. Yesus menyebut penyaliban-Nya sebagai kemuliaan Anak Manusia. Pandangan Yesus ini tidak hanya membalikkan perspektif salib tetapi secara radikal mentransformasinya. Penyaliban-Nya, bagi Yesus bukan hanya sesuatu yang baik atau positif, tetapi itu adalah puncak kemenangan dari hidup-Nya. Yesus menyatakan bahwa salib adalah waktu penghakiman terhadap iblis, penguasa dunia [Yoh 12:31]. Yesus juga mengklaim bahwa salib adalah saat orang-orang dari segala bangsa berkumpul menjadi satu dan menerima keselamatan [Yoh 12:32].

Apakah ini berarti Yesus mengabaikan sisi kemanusiaan-Nya dan menekan emosi-Nya sebelum menderita di kayu salib? Tentu tidak! Yesus juga mengenali dan menghidupi emosi manusiawi-Nya. Kita tahu bahwa Yesus menghadapi kengerian kematian-Nya di dalam sakratul maut di taman Getsemani, namun walaupun penuh pergulatan, Yesus tetap teguh untuk melakukan kehendak Bapa dan untuk mengasihi sampai akhir.

Dari sini, kita dapat mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari Yesus. Dalam mengikuti Kristus, kita mungkin menghadapi pencobaan dan kesulitan dalam hidup, namun kita diajak untuk percaya pada penyelenggaraan Tuhan, dan kita dapat merangkul penderitaan kita sebagai momen kemuliaan kita. Percaya pada penyelenggaraan Tuhan bukan berarti lari dari kenyataan hidup, tetapi sebaliknya, hal ini mengandaikan bahwa kita merangkul seluruh kemanusiaan kita.

Kita selalu bisa belajar dari kehidupan para kudus kita. Sebagai contoh, St Agatha dapat dengan mudah lolos dari kematian, tetapi dia menolak untuk menyangkal Kristus dan menantang siksaan dan kematian yang mengerikan. Para penyiksanya memotong payudaranya, dan dia dibakar hidup-hidup. Di mata dunia, kematiannya tidak masuk akal, tetapi bagi mereka, yang berbagi dalam penderitaan Kristus, dan dengan demikian, berbagi dalam Kemuliaan-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: manuel-asturias

Ular, Manna dan Ekaristi

Minggu Keempat Prapaskah [B]

14 Maret 2021

Yohanes 3: 14-21

Injil hari ini memberi kita salah satu perkataan Yesus yang paling sulit dimengerti, “sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun,  demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,  supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Untuk memahami perkataan ini, kita perlu kembali ke Perjanjian Lama, terutama Kitab Bilangan.

Dalam kitab Bilangan bab 21, kita akan menemukan kisah bani Israel di padang gurun yang mengeluh tentang Manna yang diberikan Tuhan. Mereka bahkan menyebut Manna dari Tuhan tersebut sebagai makanan tidak ada gunanya atau bahkan tidak berharga. Tentunya, tindakan mereka ini membawa hukuman yang mengerikan. Ular tedung menyerang dan membunuh banyak orang Israel. Sadar bahwa mereka akan binasa, orang Israel memohon belas kasihan. Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat ular perunggu dan memasangnya di tiang untuk dilihat orang. Mereka yang telah digigit dan melihat ular perunggu itupun pulih. Dengan latar belakang cerita ini, Yesus menampilkan diri-Nya seperti ular perunggu. Dia akan ditinggikan di kayu salib sehingga mereka yang melihat Dia dan percaya akan menerima hidup yang kekal.

Namun, ada hal yang menarik yang kita tidak boleh lewatkan! Jika kita memperhatikan, alasan dari mengapa orang Israel kena hukuman adalah bahwa orang Israel gagal menghargai roti dari surga dan bahkan menyebutnya tidak berharga. Tentunya, ini adalah tindakan tidak tahu berterima kasih, tetapi lebih dalam, ini merupakan tindakan penodaan terhadap roti surgawi itu sendiri. Inilah mengapa hukumannya sangat berat. Yang menarik adalah Yesus menunjukkan bahwa manna di gurun adalah tanda dari roti Ekaristi yang akan Dia berikan [lihat Yoh 6: 48-50]. Jadi, kejadian di Bilangan 21 mengajarkan kita pelajaran pahit apa yang akan terjadi jika kita tidak menghargai anugerah Tuhan, dan terutama anugerah yang paling berharga yakni, Tubuh Kristus dalam Ekaristi.

Yang bertanggung jawab atas kematian orang Israel adalah ular tedung.  Jika kita perhatikan, kata ibrani yang digunakan adalah ‘saraph.’ Kata ‘saraph’ atau ‘yang terbakar’ mengingatkan kita pada seraphim, salah satu malaikat di surga. Selain itu, cerita tentang ular yang menyerang umat manusia mengingatkan kita pada serangan pertama Setan terhadap Adam dan Hawa. Ular ini bukanlah ular biasa seperti ular cobra atau ular sanca. Serangan terhadap bangsa Israel di padang gurun bukan hanya fenomena alami, melainkan supranatural. Iblis sendiri yang datang membawa malapetaka bagi orang-orang Israel.

Jika sekarang kita menghubungkan hal-hal ini, kita akan melihat hubungan antara manna, ular ‘saraph’ dan ular perunggu. Ketika orang Israel menodai manna, ular seraph terlepas dan memulai serangan mereka. Manna tidak hanya memberi makan orang Israel, tetapi juga melindungi mereka dari bahaya rohani. Sekarang, jika manna di gurun adalah tanda dari Ekaristi, ular adalah iblis, dan ular perunggu adalah Yesus yang disalibkan, kita bisa melangkah lebih jauh. Setiap kali kita menodai Ekaristi, kita tidak hanya menghina Tuhan, tetapi juga membuka gerbang neraka dan membiarkan kekuatan jahat menguasai kita dan komunitas kita. Penodaan ini hanya dapat diperbaiki dengan pertobatan sejati dan salib Yesus.

Jika kita melihat diri kita sendiri, keluarga kita dan komunitas kita berantakan dan menjadi sasaran empuk iblis, akarnya adalah kita gagal menghormati Ekaristi. Seperti Manna yang melindungi orang Israel dari ular, dan memberi makan mereka sepanjang perjalanan mereka, ekaristi adalah benteng pertahanan kita melawan serangan setan, dan makanan rohani kita yang memelihara dan memperkuat kita dalam perjalanan duniawi ini menuju tanah air surgawi.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Bait Allah yang Baru

Minggu Prapaskah ke-3

7 Maret 2021

Yohanes 2: 13-25

Sebagai pembaca modern, kita sering gagal paham akan Injil hari ini. Kisah Yesus yang satu ini sering menjadi dasar bagi sebagian dari kita untuk menolak penggunaan bangunan gereja untuk kegiatan non-keagamaan, apalagi untuk keperluan untuk mencari untung. Saya pribadi setuju bahwa bagian dalam gedung Gereja merupakan tempat yang dikhususkan untuk peribadatan dan doa. Ini adalah daerah suci bagi umat untuk bertemu dengan Tuhan dan mengalami surga.

Namun, Injil hari ini lebih kompleks dari apa yang sering kita pahami. Kita cenderung berasumsi bahwa Yesus membersihkan Bait Suci dari para pedagang hewan dan penukar uang karena Yesus melihat mereka sebelumnya bukan bagian dari Bait Allah, tetapi tiba-tiba mereka menjamur di area Bait Suci. Namun, jika kita kembali ke zaman Yesus, pedagang hewan dan penukar koin adalah bagian dari sistem penyembahan dari Bait Suci. Para peziarah dari berbagai belahan Palestina dan dunia berdatangan ke Bait Allah setiap hari, dan meskipun membawa hewan kurban mereka sendiri itu bisa dilakukan, hal ini tidaklah praktis. Hewan-hewan ini akan menambah beban perjalanan dan hewan-hewan ini mungkin mendapatkan cacat atau cedera di sepanjang jalan. Dengan luka atau kerusakan tersebut, hewan-hewan tersebut tidak layak lagi untuk dipersembahkan. Karenanya, sebuah solusi bagi para peziarah yang lelah ini hadir: para pedagang di Yerusalem siap membantu dengan menyediakan hewan kurban yang sehat dan layak.

Penukar uang juga terikat ke Bait Allah. Untuk mendukung pemeliharaan Bait Allah, para peziarah harus menyumbangkan sejumlah uang, namun Bait Allah tidak menerima koin Romawi. Otoritas Bait Allah menganggap koin itu sebagai tanda penindasan asing. Koin Romawi juga dianggap menghujat karena koin itu mengakui Kaisar sebagai dewa. Sementara itu, orang Yahudi tidak diperbolehkan mencetak koin mereka. Sebagai solusinya, mereka menerima koin dari kota tetangga, Tirus. Di sinilah peran para penukar koin. Tanpa penjual hewan dan layanan penukaran uang, Bait Allah Yerusalem tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Sama halnya seperti jika kita perlu memproduksi anggur dan roti sendiri untuk perayaan Ekaristi.

Biasanya, pedagang hewan dan pedagang koin berada di dekat tetapi di luar Bait Allah. Namun, masalah bermula ketika otoritas Bait Allah mengizinkan para penjual ini berada di dalam area Bait Allah, terutama di sekitar pelataran bangsa-bangsa [yang diperuntukkan bagi bangsa non-Yahudi]. Pelataran bangsa-bangsa, meskipun terjauh dari tempat yang paling suci, masih merupakan bagian integral dari bait suci dan tetap menjadi tempat berdoa, terutama bagi orang-orang non-Yahudi yang percaya kepada Tuhan Israel.

Yesus tidak hanya ingin melindungi rumah Tuhan sebagai rumah doa dan penyembahan, tetapi Dia juga ingin agar orang-orang bukan Yahudi mendapat tempat di rumah doa ini. Sayangnya, Bait Allah Yerusalem dihancurkan pada 70 M oleh kekaisaran Romawi. Namun, bukan berarti visi Yesus tetap sirna. Keinginan-Nya untuk mempersatukan bangsa-bangsa dalam doa dan penyembahan kepada Tuhan yang benar terwujud dan mencapai kesempurnaan dalam tubuh-Nya, yakni Bait Allah yang baru.

Di manakah kita sekarang menemukan Tubuh [dan Darah] Kristus? Tentunya, ada dalam Ekaristi. Dalam Ekaristi, orang-orang dari berbagai bangsa dan bahasa berkumpul untuk mempersembahkan ibadat yang layak kepada Tuhan yang benar. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita menjadi saksi hidup dari visi penyembahan Yesus untuk semua bangsa. Kita bisa menyembah Tuhan yang benar karena Yesus menyiapkan tempat untuk kita.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mendaki Gunung Tuhan

Minggu Kedua Prapaskah [B]

28 Februari 2021

Markus 9: 2-11

Gunung adalah tempat khusus di dalam Kitab Suci. Ini adalah tempat dimana Tuhan bertemu dengan umat-Nya. Dalam Perjanjian Lama, ada banyak contoh di mana gunung menjadi titik penting dalam sejarah keselamatan. Setelah banjir besar yang membersihkan dunia, Bahtera nabi Nuh mendarat di Gunung Ararat dan di sana, Nuh mempersembahkan korban kepada Tuhan [lihat Kejadian 8: 4]. Abraham diminta oleh Tuhan untuk mempersembahkan putranya, Ishak, di Gunung Moria. Tepat sebelum pengorbanan, malaikat Tuhan mencegah Abraham dan Tuhan menerima iman Abraham [lihat Kejadian 22]. Ketika Musa sedang menggembalakan kawanan bapa mertuanya, Musa melihat semak bernyala tapi tidak habis terbakar, dan di sana, di gunung Horeb, Tuhan memanggil Musa untuk menyelamatkan bani Israel dari Mesir [lihat Keluaran 3].

Peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Yesus terjadi di Pegunungan. Ada gunung pencobaan, di mana iblis membawa Yesus dan memperlihatkan kemuliaan duniawi kepada-Nya. Ada gunung doa, di mana Yesus menghabiskan waktu tenang-Nya dengan Bapa. Ada gunung pengajaran, di mana Yesus mengajarkan pelajaran-pelajaran agung-Nya seperti Sabda Bahagia dan mengasihi musuh. Ada gunung Transfigurasi, di mana Yesus menunjukkan kemuliaan ilahi-Nya. Ada gunung salib, atau Golgota, tempat Yesus memberikan hidup-Nya untuk keselamatan kita. Terakhir, ada gunung kenaikan, di mana Yesus kembali ke surga dan mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa.

Kembali ke gunung tansfigurasi. Salah satu ciri khas dalam gunung transfigurasi adalah bahwa Yesus mengundang tiga murid-Nya: Petrus, Yakobus dan Yohanes. Ada banyak alasan mengapa ketiganya dipilih. St Ambrosius dari Milan, mewakili para Bapa Gereja, percaya bahwa ketiganya dipilih karena Petrus yang menerima kunci kerajaan, Yohanes, yang menjadi komitmen ibu Tuhan kita, dan Yakobus yang pertama kali mati sebagai martir. Sementara itu, St Thomas Aquinas, seorang teolog Abad Pertengahan, berpendapat bahwa Yakobus adalah martir pertama, Yohanes adalah murid yang paling dikasihi dan Petrus adalah murid yang paling mengasihi Yesus. Namun, kita bisa melihat juga dari cara yang sederhana. Ketiganya adalah murid-murid yang siap mengikuti Yesus dan mampu mendaki gunung yang tinggi.

Mendaki gunung adalah misi yang berat. Seseorang harus membuat persiapan yang matang tanpa berlebihan. Mendaki membutuhkan stamina fisik serta ketangguhan mental. Saat pendakian berlangsung, karakter asli orang tersebut akan terungkap. Menghadapi kesulitan, seseorang bisa menjadi sangat egois, tetapi juga bisa rela berkorban. Menghadapi tantangan, seseorang dapat maju terus dengan keberanian atau mundur dalam ketakutan. Dalam situasi yang mengerikan, seseorang dapat menunjukkan kepemimpinan yang tegas atau menjadi panik dan tersesat. Petrus, Yakobus dan Yohanes siap untuk tantangan itu, dan mereka bertahan untuk melihat Yesus yang berubah rupa.

Seringkali Yesus memanggil kita untuk mendaki gunung bersama-Nya. Terkadang, kita mendaki gunung doa karena kita harus menghadapi banyak rintangan dalam kehidupan doa kita. Terkadang, kita perlu mendaki gunung pengajaran karena kita bergumul dengan ajaran-ajaran tertentu Gereja. Kadang-kadang, kita mendaki gunung Kalvari, dan kita perlu memikul salib kita, dan di puncaknya, kita tidak menemukan penghiburan selain kematian sang Juruselamat.

Namun, kabar baiknya adalah Yesus yang mengundang kita mendaki gunung, juga berjalan bersama kita. Saat kita berjalan dengan Yesus, Dia membimbing kita, menguatkan kita dan membentuk kita. Jika kita setia di gunung godaan dan golgota, kita juga akan ikut serta dalam mendaki gunung transfigurasi, kebangkitan dan kenaikan-Nya.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Empat Puluh Hari di Padang Gurun

Minggu Pertama Prapaskah [B]

21 Februari 2021

Markus 1: 12-15

Mengapa Yesus harus tinggal di padang gurun selama 40 hari? Jawabannya tidak sulit. Dia mengulangi apa yang dilakukan orang Israel ketika mereka dibebaskan dari perbudakan Mesir. Orang Israel tinggal selama 40 tahun di padang gurun sebelum mereka memasuki tanah perjanjian. Namun, ada satu hal lagi! Markus memberi kita detail kecil namun penting: di padang gurun, Yesus tinggal bersama binatang-binatang. Kenapa demikian? Jika ada satu orang yang hidup bersama para binatang di dalam kitab suci, dia tidak lain adalah Adam. Yesus bukan hanya Israel baru yang menanggung kondisi keras padang gurun, tetapi juga Adam baru yang menghadapi serangan setan.

Yesus memasuki padang gurun selama empat puluh hari dan Dia diuji di sana oleh kondisi keras gurun Yudea. Tidak hanya menghadapi tandusnya gurun, tetapi Yesus juga menghadapi iblis itu di sana. Dari sini saja, kita dapat melihat hubungan yang kuat antara bangsa Israel di padang gurun dan Yesus, serta antara Adam dan Yesus. Seperti Israel kuno yang bergumul dengan ego mereka sendiri, Yesus juga menanggung kelemahan manusia. Seperti Adam menghadapi si penggoda, Yesus juga dicobai oleh iblis. Namun terdapat perbedaan yang signifikan.

Sementara orang Israel menggerutu dan mengeluh, Yesus dengan setia berpuasa dan berdoa. Sementara orang Israel menggerutu untuk mendapatkan makanan, dan Adam memakan buah terlarang, Yesus menolak godaan Setan untuk mengubah batu menjadi roti. Sementara orang Israel kehilangan iman dan menyembah iblis dalam bentuk anak lembu emas, dan Adam ingin menjadi seperti Tuhan, Yesus menolak untuk tunduk kepada iblis meskipun semua kemuliaan duniawi yang ditawarkannya. Sementara orang Israel kehilangan harapan atas tanah perjanjian dan Adam menyalahkan sang wanita, Yesus tetap teguh dan menolak untuk menguji Tuhan. Yesus adalah Israel baru dan Adam baru. Sementara Israel lama goyah dan Adam menyerah pada pencobaan dan godaan, Yesus tampil sebagai pemenang. Yesus mengoreksi dan menyempurnakan Israel lama dan Adam lama.

Kita adalah tubuh Kristus, dan kita adalah bagian dari Israel baru. Saat Yesus memasuki padang gurun, demikianlah kita pergi ke pertempuran rohani kita. Namun, kita hanya bisa menjadi pemenang ketika kita mengandalkan kepada Tuhan dan berpartisipasi di dalam Kristus. Iblis jauh lebih kuat dari kita, dan tanpa Tuhan, kita pasti akan kalah.

Bagaimana kita akan menang melawan pertempuran spiritual ini? Yesus memberi kita tipsnya: puasa-pantang, amal dan doa. Puasa membuat kita lapar namun menyadarkan kita bahwa tidak semua keinginan jasmani kita harus segera dipenuhi. Karya amal mungkin melukai kantong kita, tetapi itu membuka kita pada kebenaran bahwa kita bisa hidup bermakna dengan memberi, bukan menimbun. Doa mungkin terkesan hanya membuang-buang waktu, tetapi doa membawa kita kepada kenyataan paling mendasar bahwa tanpa Tuhan, kita bukan apa-apa. Kita adalah bagian dari Adam baru dan Israel baru, dan hanya di dalam Dia, kita mencapai kemenangan sejati kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kusta

Minggu Keenam dalam Masa Biasa [B]

14 Februari 2021

Markus 1: 40-45

Penyakit kusta pada zaman Yesus tidak hanya mematikan secara fisik dan mental, tetapi juga melumpuhkan secara rohani. Kusta atau yang sekarang dikenal dengan penyakit Hansen adalah penyakit yang mengerikan karena tidak hanya membunuh orangnya secara perlahan, tetapi lambat laun akan merusak wujud dan melumpuhkan orang tersebut. Bakteri kusta menyebabkan kerusakan yang parah pada jaringan saraf sehingga orang tersebut tidak lagi dapat merasakan sensasi, terutama rasa sakit. Tanpa sensasi ini, orang tersebut gagal mengenali dan menghindari cedera pada tubuh. Kehilangan anggota tubuh seperti jari adalah hal yang biasa terjadi pada penderita kusta stadium lanjut.

Karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan sangat menular pada zaman dahulu, reaksi alami bagi para penduduk adalah untuk mengeluarkan orang yang terinfeksi dari komunitas. Bisa dibayangkan dampak pengusiran yang diderita para korban. Mereka terputus dari sumber kebutuhan dasar, dipisahkan dari keluarga dan teman-teman mereka, dan mereka sadar bahwa mereka akan meninggal dengan cara yang mengerikan. Penderita kusta bisa dengan mudah menjadi gila. Kesadaran bahwa mereka tidak akan bertahan hidup sendiri di luar masyarakat mendorong para penderita kusta untuk berkumpul dan membentuk komunitasnya. Oleh karena itu, koloni penderita kusta dianggap sebagai solusi praktis untuk saling mendukung dalam menghadapi kenyataan hidup yang suram.

Dalam konteks Yahudi kuno, penyakit kulit khususnya kusta tidak hanya merupakan masalah biologis, mental dan sosial, tetapi merupakan masalah agama. Kitab Imamat menyatakan bahwa orang dengan penyakit kulit tertentu termasuk kusta harus menghadap imam dan diperiksa tubuhnya. Kemudian, sang imam dapat menyatakan orang itu najis. Setelah putusan ini, orang tersebut harus keluar dari komunitas, memakai kain lusuh, dan membiarkan rambutnya acak-acakan. Ini menjadi tanda-tanda bahwa mereka mengidap penyakit menular dan najis. Namun, jika seseorang tetap mendekati mereka, mereka akan berteriak, “Najis! Najis!” Ini untuk memastikan orang yang sehat dan tahir tidak akan mendekat. [Im 13] Jika seseorang dinyatakan sebagai najis, ini berarti orang tersebut tidak layak untuk beribadah dan tidak diperbolehkan memasuki kawasan suci seperti Bait Allah. Jadi, bagi seorang Yahudi yang mengidap penyakit kusta, ia tidak hanya dikucilkan secara fisik dan mental, tetapi juga secara agama. Penyakit itu juga memisahkan mereka dari Tuhan yang mereka layani dan sembah.

Dalam Injil, kita belajar banyak dari sang penderita kusta. Kita melihat sang penderita kusta adalah orang yang berinisiatif untuk mendekati Yesus, dan dengan demikian, melanggar larangan paling mendasar untuk menjauh dari manusia lain dan Tuhan. Permintaan penderita kusta bukanlah untuk disembuhkan, melainkan untuk ‘menjadi tahir’. Keinginan terdalam dari penderita kusta ini bukanlah pertama-tama penyembuhan fisik, tetapi menjadi tahir agar bisa menyembah Tuhannya. Kesembuhan yang sejati datang hanya jika kita bisa mendekati dan menyembah Tuhan yang benar. Melihat keberanian dan kerinduannya yang terdalam, Yesus tergerak oleh belas kasihan dan membuatnya tahir.

Penderita kusta dalam Injil mengajar kita banyak hal tentang keinginan sejati untuk kesembuhan. Mungkin, banyak dari kita mencari Tuhan karena ingin sembuh dari penyakit, mencari kesuksesan finansial atau terbebas dari masalah lain. Namun, kita jarang ingin melihat Tuhan karena kita ingin disembuhkan secara rohani, dibebaskan dari dosa, dan menjadi satu dengan Dia. Injil mengajarkan kepada kita bahwa penyembuhan sejati lebih dari sekedar kesehatan fisik dan stabilitas ekonomi, tetapi persatuan dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Penyembuh Jiwa Kita

Minggu Kelima dalam Masa Biasa [B]

7 Februari 2021

Markus 1: 29-39

Yesus tidak dapat dipisahkan dari pelayanan penyembuhan-Nya. Beberapa kisah kesembuhan merupakan kejadian yang luar biasa seperti kesembuhan seorang wanita dengan pendarahan dan juga anak perempuan Jarius [Markus 5: 321-43]. Penyembuhan ini adalah mujizat karena kasus-kasus yang dihadapi Yesus adalah hal-hal mustahil disembuhkan pada zaman-Nya. Sang wanita telah menderita pendarahan selama dua belas tahun tanpa harapan, dan putri Jarius sebenarnya sudah meninggal. Di sisi lain, Yesus tidak hanya menyembuhkan orang yang sakit parah, tapi juga mereka yang sakitnya tergolong tidak membahayakan.

Yesus ada di rumah Simon, dan Dia melihat bahwa ibu mertua Simon sedang demam. Demam adalah gejala yang biasanya terjadi karena adanya infeksi, bisa karena flu biasa hingga covid-19. Dalam kasus ibu mertua Simon, kita dapat berasumsi bahwa dia mengalami penyakit yang sebenarnya tidak berat. Dengan istirahat dan obat yang tepat, sang ibu mertua akan kembali beraktivitas dengan normal. Namun, walaupun sakitnya tergolong tidak membahayakan dan bahkan tanpa permintaan khusus dari sang wanita, Yesus memutuskan untuk menyembuhkannya. Yesus memahami bahwa penyakit, entah seberapa kecilnya, tetap sebuah hal yang tidak tepat bagi hidup kita. Menjadi orang yang sehat adalah rencana Tuhan bagi kita.

Jika kita melihat hidup kita, kita dengan mudah menyadari bahwa sakit adalah bagian dari hidup kita. Penyakit selalu menjadi pengingat bahwa tubuh kita terbatas dan rapuh. Memang, kita memiliki sistem kekebalan, tetapi seringkali perlindungan alami ini tidak cukup. Dengan pandemi yang disebabkan oleh Covid-19, kita menyadari bahwa manusia tidak sekuat yang kita pikirkan. Saat kita berjuang untuk menemukan berbagai obat dan alat-alat kesehatan, virus, bakteri, dan penyebab penyakit lainnya juga berkembang dan semakin mematikan. Penyakit menyebabkan rasa sakit dan penderitaan, dan kelemahan ini mengingatkan kita pada kematian kita. Namun, terlepas dari realisasi ini, jauh di lubuk hati, kita tahu bahwa penyakit ini adalah sesuatu yang tidak wajar, sebuah kekurangan, bukan kesempurnaan. Kita ingin sehat, kita berjuang untuk menjadi sehat dan hanya dengan sehat, kita dapat mencapai potensi kita sebagai manusia.

Inilah alasan mengapa kita pergi ke dokter jika kita sakit, kita melakukan olahraga lain, dan kita menjalani gaya hidup sehat. Inilah alasan yang sama yang dicari orang dengan karunia kesembuhan. Ini adalah alasan yang sama mengapa banyak orang ingin disembuhkan Yesus.

Kita mungkin bertanya, mengapa Yesus tidak menyembuhkan kita semua? Jawabannya tidak mudah, tetapi kita dapat mengatakan bahwa Yesus pertama-tama datang untuk menyembuhkan hubungan kita yang rusak dengan Allah Bapa. Dia menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, sebuah penyakit rohani. Kesembuhan ragawi adalah tanda-tanda penebusan ini. Bahkan dalam misteri penyelenggaraan-Nya, Tuhan dapat menggunakan penyakit dan penderitaan kita untuk membuat kita semakin dekat secara rohani dengan-Nya. Kita bisa belajar dari para kudus.

St. Dominikus de Guzman dikenal melakukan mati raga yang sangat berat. Seorang saksi mata mengatakan bahwa tali rantai diikat erat-erat di pahanya dan baru dilepas ketika dia meninggal. Mortifikasi atau mati raga adalah salah satu cara favorit orang-orang kudus untuk mencari Tuhan. Mereka tidak ingin tubuh mereka yang sehat menjadi penghalang untuk mencari Tuhan. Sementara itu, Beato Carlo Acutis yang sakit leukemia, penyakit yang sangat menyakitkan yang akhirnya merenggut nyawanya, mempersembahkan penderitaannya kepada Tuhan. Dia berkata, “Saya mempersembahkan semua penderitaan yang harus saya derita untuk Tuhan, untuk Paus, dan Gereja”

Yesus memberi kita kesembuhan bagi jiwa dan raga kita. Namun, dalam misteri penyelenggaraan-Nya, kelemahan tubuh kitapun dapat membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Jonathan-borba

Yesus dan Eksorsisme

Minggu Keempat di Masa Biasa [B]

31 Januari 2021

Markus 1: 21-28

Yesus melakukan pengusiran setan atau eksorsisme pertama-Nya dalam Injil Markus. Membaca konteksnya, kita menemukan bahwa Yesus sedang mengajar di sinagoga dan orang-orang mengenali Dia mengajar dengan otoritas. Ketika Yesus mengajar dengan otoritas, ini tidak hanya berarti Dia berkhotbah dengan kefasihan dan krisma, tetapi ajaran-Nya dimanifestasikan dalam tanda-tanda yang nyata dan menakjubkan, seperti penyembuhan dan pengusiran setan.

Kata eksorsisme biasanya diartikan sebagai mengusir roh-roh jahat dari seseorang yang kerasukan atau tempat yang terjangkiti. Sayangnya, karena pengaruh yang datang dari film-film Hollywood, pemahaman tentang eksorsisme telah terdistorsi, dan bahkan menjadi bahan lelucon. Namun, bagi Gereja Katolik, eksorsisme berakar di dalam pribadi Yesus Kristus sendiri, dan sebuah misi yang mulia.

Arti harafiah dari ‘eksorsisme’ adalah ‘mengikat dengan sumpah.’ Lalu, bagaimana kata ini bisa akhirnya berhubungan dengan roh jahat? Ketika kita bersumpah, kita perlu memanggil seseorang yang lebih tinggi dari diri kita sebagai penjamin janji kita. Secara sederhana, sumpah adalah mengucapkan janji dengan memanggil Tuhan sendiri sebagai saksi kita. Dalam konteks eksorsisme, imam yang bertugas sebagai eksorsis akan memanggil nama Tuhan untuk mengikat setan, dan mengirim mereka ‘ke kaki salib Yesus’ untuk menerima penghakiman. Kita tidak bisa mengusir setan dengan menggunakan otoritas kita sendiri karena setan adalah makhluk yang juah lebih kuat dari kita. Hanya dalam nama Tuhan yang benar, eksorsisme yang sejati dan efektif dapat terjadi.

Satu hal yang menarik dari Injil adalah Yesus mengusir setan tanpa menyebut nama Tuhan. Dia hanya berkata, “Diam, keluarlah dari dia!” Yesus mengusir dengan otoritas-Nya sendiri dan setan-setan mematuhi-Nya karena mereka mengenali kuasa ilahi-Nya. Setan juga mengenali Yesus bukan hanya sebagai Mesias atau sebagai raja orang Yahudi, tetapi sebagai ‘Yang Kudus dari Tuhan.’ Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, gelar khusus ini mengacu pada imam agung Israel, secara khusus Harun. “… Harun, Yang Kudus dari Tuhan… [Mzm 106: 16].” Melalui mulut setan, Injil mengungkapkan dimensi lain dari identitas Yesus: Dia adalah sang Imam Agung. Dari kebenaran ini, kita dapat menyimpulkan bahwa eksorsisme adalah bagian dari tugas imamat.

Berpartisipasi dalam identitas Yesus sebagai imam agung, para uskup adalah eksorsis utama di keuskupan mereka. Kita ingat bahwa uskup adalah imam agung di keuskupan masing-masing. Setiap uskup kemudian dapat menunjuk dan mendelegasikan beberapa imam yang terlatih untuk menjadi eksorsis di keuskupan mereka. Waktu saya di Manila, saya beruntung bisa bertemu dan berdiskusi banyak hal, dengan Romo Jose Syquia, seorang eksorsis dari Keuskupan Agung Manila.

Namun demikian, kita tidak boleh lupa bahwa karena pembaptisan kita, kita juga mengambil bagian dalam imamat Yesus Kristus. Jadi, kita juga memiliki otoritas atas roh-roh jahat. Sebagai orang awam, kita diizinkan untuk mengucapkan doa-doa pembebasan tertentu ketika kita merasakan kehadiran dan aktivitas roh-roh jahat yang luar biasa. Doa kepada St. Michael, sang malaikat agung, adalah salah satu contoh doa pembebasan yang bisa digunakan kaum awam. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa sebenarnya roh-roh jahat bekerja dengan cara yang sangat halus, terutama melalui godaan untuk berbuat dosa. Seringkali, tanpa disadari, kita sudah di bawah kendali iblis saat kita menjalani hidup yang penuh dengan dosa dan kejahatan. Sebagai pengikut Kristus, kita perlu menghadapi perang kita sehari-hari melawan kerajaan Setan, dan kita tidak bisa menang tanpa menyebut nama Yesus, tanpa doa yang konstan, tanpa sakramen, dan tanpa bantuan Gereja.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita adalah Penjala Manusia

Minggu ke-3 di Masa Biasa [B]

24 Januari 2021

Markus 1: 14-20

Kita mendengarkan kisah panggilan murid-murid pertama: Simon dan Andreas, juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus. Yesus memanggil mereka dan Dia akan menjadikan mereka ‘penjala manusia’. Namun, dari berbagai profesi dan pekerjaan yang tak terhitung jumlahnya, mengapa mereka harus menjadi ‘penjala manusia’? Mengapa tidak jadi tim promosi Yesus? Mengapa bukan tentara Yesus?

Jawabannya tidak jauh dari siapa murid pertama itu. Mereka adalah para nelayan di Galilea. Namun, kali ini, mereka tidak lagi menangkap ikan, tetapi mengumpulkan orang bagi Kristus. Meskipun mereka meninggalkan hampir semuanya dan mengikuti Yesus, pada dasarnya mereka membawa serta kehidupan, karakter, pengalaman, dan keterampilan mereka. Mereka tetap menjadi nelayan, tetapi kali ini Yesus mengubah objek yang mereka tangkap: manusia.

Alasan kedua mengapa mereka disebut ‘penjala manusia’ bahkan lebih bermakna. Hal ini berbicara tentang pemenuhan sebuah nubuat di Perjanjian Lama. Nabi besar Yeremia yang hidup sekitar 500 tahun sebelum Kristus, pernah berkata, “Sebab Aku akan membawa mereka pulang ke tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka. Sesungguhnya, Aku mau menyuruh banyak penangkap ikan, demikianlah firman TUHAN, yang akan menangkap mereka… [Yer 16: 15-16].” Untuk mengerti maksud nubuat ini, kita perlu melihat konteks historisnya. Setelah pemerintahan raja Salomon, kerajaan Israel terbagi menjadi dua kerajaan yang lebih kecil. Kerajaan utara yang merupakan gabungan 10 suku, dan kerajaan selatan yaitu suku Yehuda dan Benyamin. Pada 721 SM, kerajaan utara dihancurkan oleh kekaisaran Asyur, dan sepuluh suku itu dideportasi ke negeri asing. Kemudian pada tahun 587 SM, kerajaan bagian selatan dihancurkan oleh kerajaan Babel, dan penduduknya dibawa ke tanah Babel. Yeremia bernubuat bahwa Tuhan akan mengembalikan bangsa Israel yang tercerai-berai dengan mengirim ‘penangkap ikan’.

Dengan menyebut murid-murid-Nya yang pertama sebagai ‘penjala manusia’, Yesus sedang memenuhi nubuat Yeremia. Yesus sedang mengumpulkan kembali suku-suku Israel yang hilang di dalam diri-Nya sebagai Israel baru. Inilah mengapa Yesus memanggil dan memilih dua belas rasul. Kedua belas rasul akan menjadi pemimpin dari dua belas suku baru Israel.

Identitas dan misi sebagai ‘penjala manusia’ ini tidak hanya bagi para rasul, namun setiap orang yang telah dibaptis berbagi dalam identitas ini. Kita adalah penjala manusia bagi Kristus. Beberapa dari kita mungkin dipanggil untuk mendapatkan tangkapan yang berlimpah, seperti seorang imam yang membaptis ribuan orang. Beberapa dari kita mungkin dipanggil untuk memiliki hasil yang berkualitas, seperti orang tua yang membesarkan dan mendidik anak-anak mereka sebagai orang Katolik yang dewasa dan bertanggung jawab. Beberapa dari kita berdiri di antara dua jenis tangkapan ini, seperti katekis yang berdedikasi, misionaris awam yang berani, suster yang setia mengurus sekolah atau panti asuhan, atau pemimpin komunitas yang tak kenal lelah.

Pastinya menjadi nelayan bukanlah pekerjaan yang bebas stres. Terkadang, kita menghadapi badai dan bahaya. Terkadang, kita tidak mendapatkan apa-apa setelah usaha terbaik kita. Terkadang, kita berselisih paham dengan sesama pekerja. Namun, Injil mengingatkan kita bahwa kita bukan penjala manusia karena kita layak dan sempurna, tetapi karena Yesus memanggil kita dan menjadikan kita penjala manusia-Nya. Kita mengambil tujuan dan kekuatan kita dari Yesus karena kita berpartisipasi dalam misi Yesus untuk menyatukan seluruh umat manusia di dalam-Nya. Kita bekerja dengan para rasul untuk memenuhi janji Tuhan tentang Israel Baru. Kita adalah penjala manusia.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: fredrik ohlander