Minggu Paskah ketiga [5 Mei 2019] Yohanes 21: 1-19

Jika kita mengamati bacaan-bacaan Injil pada hari-hari terakhir, kita perhatikan bahwa kebanyakan dari mereka berbicara tentang penampakan Kristus yang bangkit kepada murid-murid-Nya. Salah satu fitur yang sederhana namun menarik dalam cerita-cerita ini adalah adanya makanan.
Kepada dua murid yang berjalan ke Emaus, Yesus diundang untuk makan malam. Bagi mereka, Yesus mengambil roti, mengucapkan berkat, memecahnya, dan memberikannya, dan Dia menghilang. Kedua murid itu segera menyadari bahwa Dia adalah Yesus [Luk 24:30]. Ketika Yesus menampakkan diri kepada sebelas rasul dan murid-murid lainnya, mereka ketakutan. Untuk menghilangkan keraguan mereka tentang kebangkitan-Nya, Yesus menunjukkan tubuh-Nya dan memakan ikan yang diberikan kepada-Nya [Luk 24:42]. Dan dalam Injil hari ini, Yesus mengundang ketujuh murid-Nya untuk sarapan di tepi Danau Tiberias. Setelah mujizat penangkapan ikan, Yesus menyiapkan roti dan ikan untuk para murid yang tidak lagi bingung dengan penampakan Guru mereka [Yoh 21:13].
Kita mungkin bertanya, “Mengapa roti dan ikan?” Ini adalah makanan sederhana yang sering tersedia di rumah tangga Yahudi. Namun, melihat lebih dalam, roti dan ikan memiliki makna yang dalam. Roti dan ikan adalah simbol awal Kristus dan Gereja. Roti, khususnya pemecahan roti, adalah nama teknis Alkitabiah untuk Ekaristi. Dalam Kisah Para Rasul, jemaat pertama berkumpul di sekitar para rasul untuk pengajaran dan pemecahan roti [Kis 2:42]. Pada hari Minggu, Paulus memimpin komunitas di Troas dalam ibadat, dan ia berkhotbah dan memecahkan roti [Kis 20:7]. Ikan, dalam bahasa Yunani, adalah “Ichthus” dan itu singkatan dari “Iesous Christos Theos Hyios Soter”, yang berarti Yesus Kristus, Allah Putra [dan] Juruselamat. Simbol ikan tersebar di katakombe Roma sebagai tanda pertemuan jemaat pada masa penganiayaan.
Pertanyaannya: mengapa Tuhan yang bangkit meminta makanan dan mengundang para murid untuk makan? Pertama, makan makanan adalah salah satu kegiatan paling dasar manusia. Itu menunjuk pada fungsi biologis kita yang menopang kehidupan dan pertumbuhan tubuh kita. Tubuh tanpa roh maupun roh tanpa tubuh tidak mengkonsumsi makanan. Yesus menunjukkan kepada para murid-Nya bahwa kebangkitan-Nya bukanlah masalah pencerahan spiritual, tetapi benar-benar suatu realitas jasmani. Murid-muridnya tidak melihat roh mengambang di udara, juga tidak hanya percaya bahwa Guru mereka hidup di dalam hati mereka. Makam itu kosong karena Yesus, termasuk tubuh-Nya, telah bangkit.
Kedua, makan bersama tidak hanya memuaskan perut kita, tetapi juga membuat kita lebih dekat dengan satu sama lain. Sementara kita menikmati makanan, kita juga berbagi pikiran dan hati kita. Makan bersama membangun tidak hanya tubuh, tetapi juga dialog dan komunitas. Salah satu kegiatan favorit saya di biara adalah waktu makan, bukan karena saya senang makan, tetapi kami bisa berbagi banyak cerita dan pendapat. Kami berbicara tentang apa pun, dari film terbaru, Avenger Endgame, masalah politik saat ini, hingga diskusi teologis tentang St Thomas Aquinas. Kami juga menceritakan kegembiraan, keprihatinan, dan kekhawatiran kami dalam pelayanan dan masa depan kami sebagai sebuah komunitas. Makanan sederhana menjadi ikatan persaudaraan.
Dengan realitas sederhana yakni makan bersama, Yesus membangun komunitas-Nya. Dalam perjamuan bersama, Dia menceritakan kembali kisah-kisah-Nya tentang penderitaan yang menyakitkan dan kematian yang memalukan, dan menggali maknanya yang mendalam terutama sebagai penggenapan dari Kitab Suci. Peristiwa kematiannya dulunya adalah sebuah absurditas dan kehilangan harapan, tetapi di meja makan, Tuhan yang bangkit memulihkan iman, harapan dan cinta yang menjadi redup.
Yesus memberikan kita Ekaristi, memecahkan roti, perjamuan kudus. Seperti para murid pertama, di sinilah kita menemukan Tuhan yang bangkit yang membagikan tubuh-Nya sebagai makanan rohani, dan Firman-Nya sebagai makna hidup kita. Dalam Ekaristi, kita diyakinkan bahwa yang terburuk di dunia ini tidak memiliki suara terakhir, dan makna dan pengertian mengalahkan kegelapan dan keputusasaan.
Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Today is the Divine Mercy Sunday. From the Gospel, Jesus institutes the sacrament of reconciliation as He bestows His Holy Spirit upon the Disciples. He grants them the divine authority to forgive (and not to forgive) sins and charges them to be the agents of Mercy. While it is true that only priests can minister the sacrament of confession, every disciple of Christ is called to be an agent of Mercy and forgiveness. Yet, how we are going to be the bearers of Mercy and Forgiveness? I think we need to understand first the dynamic of fear and peace.
Hari ini adalah Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Dari Injil, Yesus membentuk sakramen rekonsiliasi saat Ia menganugerahkan Roh Kudus-Nya kepada para Murid. Dia memberi mereka otoritas ilahi untuk mengampuni (dan tidak mengampuni) dosa dan mengutus mereka sebagai pekerja Kerahiman. Meskipun benar bahwa hanya imam yang dapat melayani sakramen pengakuan dosa, setiap murid Kristus dipanggil untuk menjadi pekerja Kerahiman dan pengampunan. Namun, bagaimana kita akan menjadi pembawa Kerahiman dan Pengampunan? Kita perlu memahami dulu dinamika antara rasa takut dan kedamaian.
Maria Magdalena adalah seorang murid perempuan yang sangat mencintai gurunya, dan sebagai seorang wanita, ada sesuatu yang dia ajarkan kepada kita. Lukas mengatakan dalam Injilnya bahwa Maria adalah sebagai seorang wanita “yang darinya tujuh setan keluar” [lihat Luk 8:2]. Pastinya merupakan pengalaman yang mengerikan untuk disiksa oleh tujuh setan, dan ketika Yesus menyembuhkannya, ia mengungkapkan rasa terima kasihnya yang mendalam dengan mengikuti Yesus. Sebagai salah satu murid Yesus, ia terbukti paling setia kepada gurunya. Ketika banyak pengikut Yesus melarikan diri untuk menyelamatkan hidup mereka, dan bahkan Petrus, tokoh utama dalam kelompok itu, menyangkal Yesus, Maria mengikuti Yesus dalam jalan Salib-Nya sampai akhir. Dia menerima penghinaan yang Yesus terima, dia menanggung malu yang Yesus tanggung. Bahkan, dia berdiri di samping salib bersama dengan ibu Yesus dan Yohanes yang terkasih.
Seminggu yang lalu, tiga gereja di Surabaya, Indonesia diserang oleh para pelaku bom bunuh diri. Ketakutan segera memenuhi hati saya karena lokasi pengeboman tidak jauh dari komunitas Dominikan di Surabaya. Beberapa teman baik saya juga berasal dari Surabaya, dan mereka mungkin terluka karena ledakan bom. Namun, saya bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa mereka aman, tetapi bagian dari hati saya tetap sangat terluka karena banyak orang, baik umat Kristinani dan Muslim, polisi, warga biasa, dan bahkan anak-anak, menjadi kurban. Mereka adalah orang-orang yang dipenuhi harapan dan impian mereka, kisah dan iman mereka, dengan keluarga dan teman-teman mereka. Namun, serangan brutal itu langsung menghancurkan semuanya. Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apa artinya merayakan Pentekosta, hari raya pencurahan Roh Kudus, di dunia yang dipenuhi rasa takut dan kekerasan?
We normally do not want to part away from the people we love. The emotional bond that has grown makes it difficult and painful for us to be away from the persons whom we love. Parents do not want to be separated from their children. Couple hates when they have to be far from each other. Friends cry when they have to go separate ways.
Kita biasanya tidak ingin berpisah dari orang-orang yang kita cintai. Ikatan emosional yang telah terbangun membuat kita sulit untuk menjauh dari mereka yang kita cintai. Orang tua tidak ingin terpisahkan dari anak-anak mereka. Sepasang kekasih benci ketika mereka harus jauh dari satu sama lain. Kita sedih ketika mereka harus berpisah dengan sahabat kita.
We are living in the part of the world that violence and death have become our daily consumption. Every day, people’s lives are forcibly snatched away for unbelievably trivial reasons. Parents kill their babies. Brothers murder their brothers. Friends manipulate and sell their friends. Some of us used to go down on the street and cry for justice. Yet, many of us are just busy with daily pressing concerns like works, study and chores. We become numb or blind to the soil that has been painted red by the blood of our brothers and sisters. The life, precious in the eyes of God, turns out to be cheap at the hands of men.