Minggu Keempat Belas pada Masa Biasa [8 Juli 2018] Markus 6: 1-6
“Dia kagum pada kurangnya iman mereka.” (Markus 6: 6)
Ketika Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret, para pendengar kagum dengan kebijaksanaan-Nya. Yesus berbicara seperti seorang nabi yang perkasa. Namun, orang-orang segera melakukan pemeriksaan latar belakang pada Yesus, dan mereka menyadari identitas Yesus dan latar belakang keluarganya. Nazaret adalah desa kecil di Galilea, dan semua penduduk saling mengenal satu sama lain di lingkungan seperti ini. Orang-orang Nazaret mengenal Yesus sebagai putra seorang tukang kayu, dan dirinya sendiri adalah tukang kayu. Mereka juga akrab dengan keluarga dan kerabat Yesus.
Tidak mungkin bagi seorang tukang kayu, menghabiskan sebagian besar waktunya melakukan pekerjaan kasar untuk memperoleh kebijaksanaan yang demikian mendalam. Orang-orang Nazaret juga mengenal bahwa Yesus adalah putra Maria dan mengenal sanak keluarga-Nya. Tampaknya orang-orang sadar bahwa kerabat Yesus hanyalah orang Yahudi biasa dan miskin. Tak satu pun dari mereka tampaknya memiliki kepribadian yang menonjol. Yesus harus tinggal di tempatnya: seorang Yahudi biasa dan tukang kayu yang miskin. Jadi, bagi Yesus untuk menjadi pengkhotbah yang karismatik dan seorang rabi yang mengagumkan sungguh tidak layak dan tidak mungkin. Yesus, mengenali akar penyebabnya: ketidakpercayaan.
Kita hidup dua milenium setelah Kristus, tetapi sayangnya, mentalitas yang melemahkan ini terus ada dan bahkan berkembang di tengah-tengah kita. Ini adalah mentalitas yang mengurung orang-orang dalam keterbatasan mereka dan mengubur potensi mereka untuk tumbuh dan berkembang. Inilah mentalitas yang mendorong fundamentalisme, rasisme, stereotip-stereotip negatif, dan ideologi destruktif lainnya yang memecah belah umat manusia. Sekali pecundang, selalu pecundang; sekali orang Jawa, selalu orang Jawa; sekali pecandu, selalu seorang pecandu. Namun, mentalitas ini tidak hanya terletak pada ideologi besar, tetapi juga mempengaruhi kehidupan pribadi kita: ketika kita berpikir kita selalu benar, dan yang lain salah; ketika kita percaya bahwa kita lebih suci dari yang lain; ketika kita hanya mempercayai diri kita sendiri; ketika kita menolak untuk memaafkan orang lain; ketika kita berpegang teguh pada keangkuhan kita.
Menghadapi mentalitas yang melumpuhkan ini, Yesus menunjuk pada sebuah kebenaran bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan iman. Dengan iman, yang adalah karunia rohani dari Allah, kita diberdayakan untuk melampaui batasan-batasan budaya, mental, tubuh kita sendiri. Dalam Injil, iman memungkinkan kuasa Allah untuk melakukan lebih banyak lagi dalam kehidupan kita, dan iman yang sama mengilhami kita untuk melihat karya Allah di dalam kita. Orang lumpuh disembuhkan karena iman teman-temannya yang membawanya kepada Yesus (Markus 2:1-6); wanita dengan pendarahan disembuhkan karena imannya (Markus 5:25-34); Yesus memberi tahu Yairus, pejabat sinagoga untuk memiliki iman dan Yesus menghidupkan putrinya (Markus 5: 35-43).
Saat ini saya melakukan tugas pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Tugas saya adalah mengunjungi para pasien, memberi berkat, doa dan Komuni Kudus, tetapi pada dasarnya, adalah untuk bersama mereka dan mendengarkan mereka. Saya tidak dapat melakukan banyak hal dalam hal penyembuhan fisik, tetapi saya menyadari bahwa penyakit tidak hanya bersifat fisik. Kesembuhan mencakup aspek psikologis dan spiritual. Saya melakukan perjalanan bersama para pasien dalam sukacita, kesedihan, frustrasi, dan harapan mereka. Saya menemani mereka saat mereka mencoba menyelesaikan beberapa masalah seperti kemarahan, hubungan yang rusak, dan masa lalu yang menyakitkan. Ketika saya berjalan bersama mereka, saya juga menyadari kelemahan saya. Namun, terlepas dari hal-hal buruk ini, orang-orang dengan iman selalu menemukan kekuatan dan keberanian untuk menyembuhkan, untuk melampaui diri mereka sendiri dan menjalani kehidupan yang bermakna.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Injil hari ini tampaknya tidak berbeda dengan kisah-kisah mukjizat penyembuhan Yesus, tetapi jika kita membaca dengan seksama, kisah penyembuhan perempuan dengan pendarahan ini sebenarnya luar biasa. Kita tidak tahu dengan pasti pendarahan apa yang dideritanya, tetapi fakta bahwa ia menderita kondisi ini selama 12 tahun, menghabiskan banyak untuk pengobatan dan kondisinya semakin memburuk, ini berarti sangat serius. Pada zaman itu, tabib sangat jarang, dan berobat perlu mengeluarkan banyak uang. Perempuan ini mungkin berasal dari keluarga kaya, tetapi dia jatuh miskin karena kondisinya tersebut. Perempuan ini mulai kehilangan hidupnya dan menghadapi keputusasaan. Saya saat ini ditugaskan sebagai asisten imam di salah satu rumah sakit di Metro Manila, dan tugas saya adalah melakukan kunjungan pastoral ke pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tidak jarang saya menjumpai pasien yang menderita kondisi kesehatan yang menguras semua sumber daya mereka, dan tampaknya situasi mereka tidak menjadi lebih baik. Saya menyadari kisah perempuan dengan pendarahan ini bukan hanya kisahnya yang terjadi di masa lalu, tetapi juga kisah umat manusia di zaman ini.
Hari ini kita merayakan kelahiran Yohanes Pembaptis. Ada dua tokoh protagonis pada Injil kita hari ini, Elizabeth, dan Zakharia. Santo Lukas mendeskripsikan pasangan itu sebagai “orang benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.” (Luk 1: 6) ”. Tapi, mereka tidak memiliki anak. Kemungkinan memiliki anak juga mendekati nol karena Elizabeth adalah mandul dan Zakharia sudah tua. Dalam masyarakat Yahudi kuno, anak dianggap sebagai berkat Tuhan dan sumber kehormatan, dan kemandulan adalah kutukan dan rasa malu.
Gereja Katolik di Filipina sekali lagi berduka setelah salah satu imamnya dibunuh. Rm. Richmond Nilo, dari keuskupan Cabanatuan ditembak beberapa kali sebelum dia merayakan misa di sebuah kapel di Zaragoza, Nueva Ecija. Tubuhnya terbaring di lantai di kaki patung Santa Perawan, bersimbah darah. Sebuah peristiwa yang sungguh menyakitkan. Dia menjadi imam ketiga yang kehilangan nyawanya dalam serangan berdarah dalam enam bulan terakhir di Filipina. Pada 4 Desember 2017, Rm. Marcelito Paez ditembak saat dia sedang mengadakan perjalanan di Jean, Nueva Ecija. Baru beberapa Minggu yang lalu pada 29 April, Rm. Mark Ventura juga ditembak mati setelah merayakan misa. Juga bisa kita mungkin doakan juga Rm. Rey Urmeneta yang diserang oleh pembunuh bayaran di Calamba, Laguna. Dia terkena peluru, dan harus dirawat intensif, namun dia selamat dari kematian.
Tubuh kita adalah bagian integral dari kemanusiaan kita dan diciptakan oleh Tuhan sebagai sesuatu yang baik. Tubuh kita adalah sebuah karunia. Dengan cuma-cuma, kita menerima tubuh kita dari orang tua kita, dan orang tua kita dari orang tua mereka dan ini berlangsung terus sampai kita menemukan Tuhan sebagai sumber dari karunia ini. Karena tubuh kita adalah karunia dari Tuhan, kita dipanggil untuk menghormati tubuh kita sebagaimana kita menghormati Sang pemberi karunia.
Seminggu yang lalu, tiga gereja di Surabaya, Indonesia diserang oleh para pelaku bom bunuh diri. Ketakutan segera memenuhi hati saya karena lokasi pengeboman tidak jauh dari komunitas Dominikan di Surabaya. Beberapa teman baik saya juga berasal dari Surabaya, dan mereka mungkin terluka karena ledakan bom. Namun, saya bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa mereka aman, tetapi bagian dari hati saya tetap sangat terluka karena banyak orang, baik umat Kristinani dan Muslim, polisi, warga biasa, dan bahkan anak-anak, menjadi kurban. Mereka adalah orang-orang yang dipenuhi harapan dan impian mereka, kisah dan iman mereka, dengan keluarga dan teman-teman mereka. Namun, serangan brutal itu langsung menghancurkan semuanya. Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apa artinya merayakan Pentekosta, hari raya pencurahan Roh Kudus, di dunia yang dipenuhi rasa takut dan kekerasan?
Kita biasanya tidak ingin berpisah dari orang-orang yang kita cintai. Ikatan emosional yang telah terbangun membuat kita sulit untuk menjauh dari mereka yang kita cintai. Orang tua tidak ingin terpisahkan dari anak-anak mereka. Sepasang kekasih benci ketika mereka harus jauh dari satu sama lain. Kita sedih ketika mereka harus berpisah dengan sahabat kita.
Kita hidup di belahan dunia dimana kekerasan dan kematian telah menjadi konsumsi sehari-hari kita. Setiap hari, kehidupan manusia secara paksa dirampas karena alasan yang sangat sepele. Orang tua membunuh bayi mereka. Saudara menghabisi saudara. Sahabat memanipulasi dan memanfaatkan sahabat. Beberapa dari kita mungkin turun ke jalan dan menuntut keadilan. Namun, banyak dari kita terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari, karena kita harus bekerja, belajar dan menjalankan tugas-tugas lainnya. Kita menjadi mati rasa atau buta terhadap tanah yang telah menjadi merah oleh darah saudara-saudari kita. Kehidupan, berharga di mata Tuhan, ternyata sangat murah di tangan manusia.