Minggu ke-22 pada Masa Biasa [2 September 2018] Markus 7: 1-8, 14-15, 21-23
“Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Markus 7: 8)
Dalam Injil hari ini, Yesus tampaknya menolak semua tradisi. Namun, pernyataan ini terlalu disederhanakan. Alasannya adalah bahwa manusia adalah makhluk tradisi. Tradisi berasal dari kata Latin, “tradere”, yang berarti “menurunkan”. Jadi, secara sederhana, tradisi adalah segala sesuatu yang telah diturunkan atau diwariskan dari para pendahulu kita. Tradisi berkisar dari sesuatu yang berwujud seperti teknologi, hingga sesuatu yang tidak berwujud seperti bahasa, ilmu pengetahuan, dan banyak lagi. Saya ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar, seperti Bapa Kami, Salam Maria, dan Rosario, dan bagaimana ayah saya secara teratur membawa kami ke Gereja setiap Minggu. Ini adalah tradisi agama keluarga saya. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Filipina, saya mengapresiasi tradisi “Pano Po” di antara orang Filipina. Ini adalah sikap menghormati orang yang lebih tua dan juga memberi berkat kepada yang lebih muda. Orang Filipina yang lebih muda akan memegang tangan mereka yang lebih tua, dan meletakkannya di dahi mereka.
Seandainya Yesus meninggalkan semua tradisi, Dia seharusnya berhenti berbicara bahasa Aram, menahan diri untuk mengajar orang-orang, dan mulai melepas semua pakaian Yahudi-Nya. Namun, Yesus tidak melakukan hal-hal itu. Yesus menghormati tradisi dan mengakui pentingnya hal-hal ini. Namun, Yesus juga mengakui bahwa ada beberapa tradisi yang bermasalah dan perlu ditinggalkan. Menjadi bagian dalam arus tradisi, Yesus mengajak kita untuk memahami dengan baik tradisi apa yang membawa kita kepada ibadat sejati kepada Allah dan kemajuan sejati bagi komunitas manusia.
Lebih dekat dengan Injil hari ini, orang-orang Yahudi memiliki ritual-ritual pemurnian karena mereka hanya bisa menyembah Tuhan ketika mereka bersih secara ritual atau tidak najis. Mereka pun dengan hati-hati menghindari benda-benda yang dapat membuat mereka najis seperti darah dan binatang-binatang najis, termasuk juga benda apa pun yang bersentuhan dengan hal-hal najis ini. Karena mereka tidak yakin apakah tangan dan peralatan makan mereka tidak bersentuhan dengan hal-hal najis, terutama jika mereka datang dari pasar atau ladang, mereka membuat kebiasaan untuk memurnikan tangan dan peralatan mereka untuk menghindari hal ini. Dengan demikian, berbagai ritual pemurnian berkembang menjadi tradisi bagi orang Yahudi. Ujud dari tradisi-tradisi ini baik karena mereka membantu orang-orang Yahudi bersih dari kenajisan dan dapat menyembah Tuhan. Namun, beberapa orang Farisi memberi penekanan berlebihan pada tradisi-tradisi ini dan menjadikannya absolut seolah-olah kegagalan untuk menjalankan ritual-ritual ini berarti mereka gagal untuk menghormati Tuhan. Mereka tidak bisa membedakan antara ibadat sejati yang mendatangkan kehormatan sejati bagi Tuhan, dan praktik-praktik tradisional lainnya yang membantu orang dalam mencapai ibadah ini.
Yesus tidak hanya mengundang kita untuk membedakan dengan seksama berbagai tradisi yang kita miliki, tetapi Yesus juga memberikan kepada kita sebuah tradisi yang lebih mendasar dalam menyembah Allah. Alih-alih “menurunkan” sebuah praktik atau hal, Yesus “menurunkan” sesuatu yang paling penting, yakni hidup-Nya sendiri untuk Allah dan kita semua. Yesus menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya, diri-Nya yang sepenuhnya, dalam Perjamuan Terakhir, dan pengorbanan ini mencapai puncaknya di Salib. Persembahan diri-Nya menjadi ibadah yang paling sempurna bagi Allah, dan memenangkan rahmat keselamatan bagi kita semua. Yesus menyerahkan Tradisi besar ini kepada para murid-murid-Nya dan sepanjang zaman, kita dengan setia menjalan Tradisi ini dan mempersembahkan pengorbanan Yesus Kristus dalam Ekaristi. Sewaktu kita mengambil bagian dari persembahan diri Yesus, kita juga diberdayakan untuk “menurunkan” dan menyerahkan diri kita kepada orang lain. Ini berarti kita diundang untuk melakukan pengorbanan kita sehari-hari, bertekun dalam melakukan kebaikan, dan setia pada komitmen kita baik sebagai suami-istri, orang tua, imam, kaum religius, atau seorang profesional. Ketika kita menjalani tradisi terbesar ini setiap hari, kita tidak hanya membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, tetapi menawarkan ibadah yang sempurna kepada Tuhan.
Frater Valentinus Bayuahadi Ruseno, OP



Saat ini saya sedang menjalani pelayanan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Selain mengunjungi pasien dan melayani kebutuhan rohani mereka, kami juga mengikuti sesi pengolahan yang dipandu oleh seorang pengawas. Dalam salah satu sesi, pengawas kami bertanya kepada saya, “Di mana sumber utama pewartaanmu?” Sebagai anggota Ordo Pengkhotbah, saya terperangah. Reaksi awal saya adalah mengucapkan motto kami, “Contemplare, di contemplata aliis tradere (untuk berkontemplasi dan membagikan buah dari kontemplasi).”
To say “Amen” is something usually we do in prayer. Commonly it is used to end a prayer. Our biblical prayers like Our Father and Hail Mary are usually concluded by amen. In several occasions, amen is mentioned more often. One of my duties as a hospital chaplain is to lead a prayer of healing for the sick. I always ask the family and friends who accompany the patients to pray together. Sometimes, they will say amen at the end of the prayer. However, some others will utter several amens within the prayer, and in fact, some people will say more amens than my prayer! In several occasions, amen is utilized outside the context of prayer. Preachers with a charismatic gift will invite their listeners to say amen. Surely, it is a good technique to keep the listeners awake!
Tidak seperti Injil lainnya, Injil Yohanes tidak memiliki kisah tentang penetapan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir. Namun, ini tidak berarti Yohanes penginjil tidak menulis apa pun tentang Ekaristi. Nyatanya, Yohanes menulis tulisan yang paling luhur tentang roti hidup dalam bab 6 Injilnya. Bab itu sendiri relatif panjang, dan Gereja telah distribusikannya ke beberapa bacaan Injil hari Minggu (dari hari ini hingga 26 Agustus). Penjelasan tentang Roti Hidup ini dimulai dengan kisah Yesus yang memberi makan banyak orang.
Saat ini saya menjalani pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Sudah satu bulan sejak saya melakukan kunjungan pastoral pertama saya. Saya telah bertemu banyak pasien yang bergulat dengan berbagai jenis penyakit. Tugas pelayanan saya sebagai pekerja pastoral adalah untuk menemani mereka dalam perjalanan penyembuhan mereka. Saya merasakan sukacita yang luar biasa ketika saya dapat menjadi saksi dalam proses penyembuhan mereka, dari seseorang yang terbaring lemah di tempat tidur, sampai menjadi seseorang yang berdiri tegak dan siap untuk meninggalkan rumah sakit.
Injil hari ini berbicara tentang misi dua belas rasul. Mereka dikirim untuk melakukan tiga tugas pokok: mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan pertobatan. Misi ini mencerminkan misi Yesus dalam Injil Markus. Untuk memfasilitasi misi mereka, mereka perlu melakukan perjalanan dengan ringan. Mereka perlu melakukan perjalanan berdua-dua yang menandakan dimensi komunal dan eklesial misi Yesus. Mereka akan bergantung juga pada kemurahan hati orang-orang yang mereka layani. Ketika mereka menghadapi penolakan, mereka akan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan simbolis terhadap mereka yang menolaknya. Pada zaman itu, orang-orang Yahudi mengebaskan debu dari kaki mereka ketika mereka masuk kembali ke tanah Israel dari wilayah non-Yahudi, sebagai tanda penolakan dan ketidaksetujuan mereka terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi.
Ketika Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret, para pendengar kagum dengan kebijaksanaan-Nya. Yesus berbicara seperti seorang nabi yang perkasa. Namun, orang-orang segera melakukan pemeriksaan latar belakang pada Yesus, dan mereka menyadari identitas Yesus dan latar belakang keluarganya. Nazaret adalah desa kecil di Galilea, dan semua penduduk saling mengenal satu sama lain di lingkungan seperti ini. Orang-orang Nazaret mengenal Yesus sebagai putra seorang tukang kayu, dan dirinya sendiri adalah tukang kayu. Mereka juga akrab dengan keluarga dan kerabat Yesus.
Injil hari ini tampaknya tidak berbeda dengan kisah-kisah mukjizat penyembuhan Yesus, tetapi jika kita membaca dengan seksama, kisah penyembuhan perempuan dengan pendarahan ini sebenarnya luar biasa. Kita tidak tahu dengan pasti pendarahan apa yang dideritanya, tetapi fakta bahwa ia menderita kondisi ini selama 12 tahun, menghabiskan banyak untuk pengobatan dan kondisinya semakin memburuk, ini berarti sangat serius. Pada zaman itu, tabib sangat jarang, dan berobat perlu mengeluarkan banyak uang. Perempuan ini mungkin berasal dari keluarga kaya, tetapi dia jatuh miskin karena kondisinya tersebut. Perempuan ini mulai kehilangan hidupnya dan menghadapi keputusasaan. Saya saat ini ditugaskan sebagai asisten imam di salah satu rumah sakit di Metro Manila, dan tugas saya adalah melakukan kunjungan pastoral ke pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tidak jarang saya menjumpai pasien yang menderita kondisi kesehatan yang menguras semua sumber daya mereka, dan tampaknya situasi mereka tidak menjadi lebih baik. Saya menyadari kisah perempuan dengan pendarahan ini bukan hanya kisahnya yang terjadi di masa lalu, tetapi juga kisah umat manusia di zaman ini.