Tradisi

Minggu ke-22 pada Masa Biasa [2 September 2018] Markus 7: 1-8, 14-15, 21-23

“Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Markus 7: 8)

burning candleDalam Injil hari ini, Yesus tampaknya menolak semua tradisi. Namun, pernyataan ini terlalu disederhanakan. Alasannya adalah bahwa manusia adalah makhluk tradisi. Tradisi berasal dari kata Latin, “tradere”, yang berarti “menurunkan”. Jadi, secara sederhana, tradisi adalah segala sesuatu yang telah diturunkan atau diwariskan dari para pendahulu kita. Tradisi berkisar dari sesuatu yang berwujud seperti teknologi, hingga sesuatu yang tidak berwujud seperti bahasa, ilmu pengetahuan, dan banyak lagi. Saya ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar, seperti Bapa Kami, Salam Maria, dan Rosario, dan bagaimana ayah saya secara teratur membawa kami ke Gereja setiap Minggu. Ini adalah tradisi agama keluarga saya. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Filipina, saya mengapresiasi tradisi “Pano Po” di antara orang Filipina. Ini adalah sikap menghormati orang yang lebih tua dan juga memberi berkat kepada yang lebih muda. Orang Filipina yang lebih muda akan memegang tangan mereka yang lebih tua, dan meletakkannya di dahi mereka.

Seandainya Yesus meninggalkan semua tradisi, Dia seharusnya berhenti berbicara bahasa Aram, menahan diri untuk mengajar orang-orang, dan mulai melepas semua pakaian Yahudi-Nya. Namun, Yesus tidak melakukan hal-hal itu. Yesus menghormati tradisi dan mengakui pentingnya hal-hal ini. Namun, Yesus juga mengakui bahwa ada beberapa tradisi yang bermasalah dan perlu ditinggalkan. Menjadi bagian dalam arus tradisi, Yesus mengajak kita untuk memahami dengan baik tradisi apa yang membawa kita kepada ibadat sejati kepada Allah dan kemajuan sejati bagi komunitas manusia.

Lebih dekat dengan Injil hari ini, orang-orang Yahudi memiliki ritual-ritual pemurnian karena mereka hanya bisa menyembah Tuhan ketika mereka bersih secara ritual atau tidak najis. Mereka pun dengan hati-hati menghindari benda-benda yang dapat membuat mereka najis seperti darah dan binatang-binatang najis, termasuk juga benda apa pun yang bersentuhan dengan hal-hal najis ini. Karena mereka tidak yakin apakah tangan dan peralatan makan mereka tidak bersentuhan dengan hal-hal najis, terutama jika mereka datang dari pasar atau ladang, mereka membuat kebiasaan untuk memurnikan tangan dan peralatan mereka untuk menghindari hal ini. Dengan demikian, berbagai ritual pemurnian berkembang menjadi tradisi bagi orang Yahudi. Ujud dari tradisi-tradisi ini baik karena mereka membantu orang-orang Yahudi bersih dari kenajisan dan dapat menyembah Tuhan. Namun, beberapa orang Farisi memberi penekanan berlebihan pada tradisi-tradisi ini dan menjadikannya absolut seolah-olah kegagalan untuk menjalankan ritual-ritual ini berarti mereka gagal untuk menghormati Tuhan. Mereka tidak bisa membedakan antara ibadat sejati yang mendatangkan kehormatan sejati bagi Tuhan, dan praktik-praktik tradisional lainnya yang membantu orang dalam mencapai ibadah ini.

Yesus tidak hanya mengundang kita untuk membedakan dengan seksama berbagai tradisi yang kita miliki, tetapi Yesus juga memberikan kepada kita sebuah tradisi yang lebih mendasar dalam menyembah Allah. Alih-alih “menurunkan” sebuah praktik atau hal, Yesus “menurunkan” sesuatu yang paling penting, yakni hidup-Nya sendiri untuk Allah dan kita semua. Yesus menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya, diri-Nya yang sepenuhnya, dalam Perjamuan Terakhir, dan pengorbanan ini mencapai puncaknya di Salib. Persembahan diri-Nya menjadi ibadah yang paling sempurna bagi Allah, dan memenangkan rahmat keselamatan bagi kita semua. Yesus menyerahkan Tradisi besar ini kepada para murid-murid-Nya dan sepanjang zaman, kita dengan setia menjalan Tradisi ini dan mempersembahkan pengorbanan Yesus Kristus dalam Ekaristi. Sewaktu kita mengambil bagian dari persembahan diri Yesus, kita juga diberdayakan untuk “menurunkan” dan menyerahkan diri kita kepada orang lain. Ini berarti kita diundang untuk melakukan pengorbanan kita sehari-hari, bertekun dalam melakukan kebaikan, dan setia pada komitmen kita baik sebagai suami-istri, orang tua, imam, kaum religius, atau seorang profesional. Ketika kita menjalani tradisi terbesar ini setiap hari, kita tidak hanya membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, tetapi menawarkan ibadah yang sempurna kepada Tuhan.

Frater Valentinus Bayuahadi Ruseno, OP

Iman dan Penderitaan

Minggu ke-21 pada Masa Biasa [26 Agustus 2018] Yohanes 6: 60-69

“Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal (Yoh. 6:68).”

prayer in church
photo by Harry SJ

Dalam Injil kita Minggu ini, Simon Petrus dan murid-murid lain menghadapi pertanyaan penting: apakah mereka akan percaya pada kata-kata Yesus bahwa mereka perlu mengkonsumsi darah dan daging-Nya untuk mendapatkan kehidupan yang kekal, atau mereka akan menganggap Yesus sebagai orang gila dan meninggalkan Dia. Mereka berurusan dengan kebenaran yang sangat sulit dipercaya, dan hal paling termudah untuk dilakukan adalah meninggalkan Yesus. Namun, di tengah keraguan dan kurangnya pemahaman, Petrus menyatakan, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal (Yoh 6:68).” Adalah iman yang menang atas keraguan terbesar, iman yang kita butuhkan juga.

 

Saya mengakhiri karya pastoral saya di salah satu rumah sakit tersibuk di Metro Manila. Pengalaman ini benar-benar memperkaya iman dan membentuk hati saya. Untuk melayani banyak pasien di rumah sakit ini adalah sebuah berkat bagi saya. Salah satu pertemuan yang paling mengesankan adalah dengan Christian [bukan nama sebenarnya].

Ketika saya mengunjungi bangsal anak, saya melihat seorang anak lelaki mungil, mungkin sekitar enam tahun, terbaring di tempat tidurnya. Dia ditutupi oleh selimut tipis dan tampak kesakitan. Kemudian saya berbincang dengan ibunya, Maria [bukan nama sebenarnya]. Dia mengatakan kepada saya bahwa proses dialisis tidak berjalan dengan baik dan dia sedikit demam sekarang. Ketika percakapan berlanjut, saya terkejut bahwa orang Christian tidaklah semuda yang saya kira. Dia sebenarnya berusia 16 tahun. Saya tidak mempercayai mata saya, tetapi sang ibu menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena ginjalnya menyusut dan bahkan hilang, dan karena kondisi yang mengerikan ini, pertumbuhannya berhenti, dan tubuhnya juga menyusut. Christian telah menjalani dialisis selama beberapa tahun, dan karena infeksi yang berulang, rumah sakit telah menjadi rumah keduanya. Maria sendiri kehilangan suaminya yang meninggal beberapa tahun yang lalu, dan berhenti bekerja untuk merawat Christian. Kakak perempuan Christian harus berhenti sekolah dan bekerja untuk mendukung keluarga.

Menyaksika Christian dan mendengarkan Maria, saya hampir mencucurkan air mata saya. Terlepas dari formasi teologis dan filsafat saya yang panjang, saya tetap mempertanyakan Tuhan, “Mengapa Tuhan membiarkan penderitaan mengerikan semacam ini terjadi pada lelaki kecil yang tidak berdosa? Mengapa Tuhan membiarkan hidupnya dan masa depan dirampas oleh penyakit ini?” Iman saya terguncang. Kemudian, saya bertanya kepada Maria bagaimana dia bisa menghadapi situasi itu. Dia menceritakan bahwa hal ini benar-benar sulit, tetapi dia telah menerima kondisinya, dan dia terus berjuang sampai akhir karena dia mengasihi Christian. Saya juga bertanya padanya apa yang membuatnya kuat, dan saya tidak akan pernah melupakan jawabannya. Dia mengatakan bahwa dia kuat ketika dia bisa melihat senyum kecilnya, dan ketika dia merasakan kebahagiaan yang sederhana yang terpancar dari wajah Christian.

Melalui Maria, saya merasa Tuhan telah menjawab pertanyaan dan keraguan saya. Memang benar hal-hal buruk terjadi, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia ada di dalam senyum sederhana Christian. Dia ada di dalam tindakan-tindakan kecil kasih dari Maria untuk putranya. Memang benar bahwa hidup penuh dengan penderitaan yang tidak dapat dimengerti dan momen-momen yang memilukan, seperti kehilangan orang yang dicintai, relasi yang berantakan, masalah kesehatan dan keuangan. Ini dapat memicu kemarahan dan kekecewaan kita terhadap Tuhan. Kita akan tetap marah, bingung dan tersesat jika kita fokus pada realitas yang menyakitkan ini, tetapi Tuhan mengundang kita untuk melihat-Nya dalam hal-hal sederhana yang tanpa diduga memberi kita kenyamanan, kekuatan, dan sukacita. Jika Yesus memanggil kita untuk memiliki iman sebesar biji sesawi, itu karena iman ini memberdayakan kita untuk mengenali Tuhan dalam hal-hal sederhana dalam hidup kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tubuh Kristus dalam Kehidupan Kita

Minggu ke-20 dalam Masa Biasa
19 Agustus 2018
Yohanes 6: 51-58

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal… (Yoh. 6:54)”

consecration 2
foto oleh Fr. Harry SJ

Ekaristi adalah salah satu ajaran Yesus yang paling sulit untuk dipahami apalagi di dipercayai. Orang-orang dapat dengan mudah setuju dengan Yesus ketika Dia mengatakan bahwa kita perlu mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Orang-orang mungkin kesulitan untuk memaafkan dan mengasihi musuh, tetapi mereka akan menerima bahwa pembalasan dan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Namun, Yesus tidak hanya mengajarkan hal-hal yang indah ini. Yesus mewartakan kebenaran yang total tentang keselamatan kita. Dia adalah Roti Kehidupan, dan Roti Hidup ini adalah darah dan daging-Nya sendiri. Yesus tidak hanya meminta kita untuk percaya tetapi untuk memakan daging-Nya dan minum darah-Nya sehingga kita dapat memiliki hidup yang kekal.

Bagi orang Yahudi waktu itu, makan daging manusia adalah sebuah kekejian dan minum darah, bahkan darah hewan, adalah hal terlarang. Jadi, ketika Yesus mengatakan kepada mereka untuk mengkonsumsi Daging dan Darah-Nya, banyak orang Yahudi berpikir bahwa Yesus itu gila. Orang-orang mengikuti Yesus karena mereka menyaksikan kuasa Yesus dalam melipatgandakan roti, dan mereka ingin menjadikan-Nya pemimpin mereka. Namun, Yesus mengingatkan mereka bahwa tidak tepat jika mereka hanya mengikuti Dia karena dia memberi mereka makan dengan roti biasa. Mereka perlu bekerja untuk Roti Hidup yakni Yesus sendiri. Banyak pengikut awal Yesus bersungut-sungut, dan akhirnya, mereka meninggalkan Dia, karena pengajaran yang sangat sulit ini.

Di zaman sekarang, Ekaristi tetap sulit untuk dipahami. Apakah roti tawar kecil putih dan setetes anggur ini benar-benar Tubuh dan Darah Kristus? Bagaimana makanan biasa ini mengandung kepenuhan keilahian dan kemanusiaan Yesus? Mengapa kita harus menekuk lutut kita dihadapan hosti kecil? Pemikir-pemikir besar telah mencoba menjelaskan misteri itu, tetapi tidak satu pun dari penjelasan mereka yang cukup memadai. Santo Thomas Aquinas yang mampu menulis salah satu penjelasan paling mendalam tentang Ekaristi, akhirnya harus mengakui bahwa ini adalah misteri iman. Dia menulis dalam nyanyiannya kepada Sakramen Mahakudus, Tantum Ergo, “Præstet fides supplementum, Sensuum defectu (Biarkan iman melengkapi, saat indera gagal).”

Sungguh, iman terbesar diperlukan untuk menerima misteri terbesar, karena bentuk makanan yang paling sederhana membawa kita ke kehidupan kekal. Namun, ini menjadi salah satu Kabar Baik yang Yesus bawa. Kehidupan kekal bukanlah sesuatu yang hanya kita peroleh di akhirat, tetapi Yesus menjadikan kehidupan ini tersedia di sini dan saat ini. Jika Tuhan bisa benar-benar hadir dalam roti kecil ini, Dia juga hadir dalam kehidupan kita sehari-hari, bahkan di dalam hal paling sederhana sekalipun. Jika Yesus dipecah dan dibagikan dalam Ekaristi, Iapun mampu memeluk kita di saat-saat yang paling gelap dan pahit dalam hidup. Jika Yesus yang adalah sang Kebijaksanaan Allah, terkandung dalam hosti kecil ini, Kebijaksanaan ini memberi kita makna yang sejati dalam kehidupan kita yang sederhana.

Saya akan mengakhiri karya pastoral saya di rumah sakit, dan satu hal yang paling saya syukuri adalah bahwa saya diberi kesempatan untuk menemani banyak pasien, dan melayani Komuni Kudus bagi mereka. Ekaristi sebagai kehadiran Kristus yang nyata menjadi penghiburan dan kekuatan mereka. Ini menjadi tanda terbesar bahwa Tuhan tidak meninggalkan mereka meskipun ada banyak masalah yang harus mereka hadapi. Melalui Tubuh Kristus dalam Ekaristi dan Firman-Nya di dalam Alkitab, kita bersama-sama melakukan perjalanan untuk menemukan makna di tengah-tengah realitas sakit dan kematian. Dalam Ekaristi, hidup kita bukan sekedar serentetan peristiwa-peristiwa tanpa arti, tetapi partisipasi kita dalam kehidupan kekal Allah.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mewartakan Iman

Minggu ke-19 dalam Masa Biasa [12 Agustus 2018] Yohanes 6: 41-51

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. 48 Akulah roti hidup. (Yoh 6: 47-48)

faith1Saat ini saya sedang menjalani pelayanan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Selain mengunjungi pasien dan melayani kebutuhan rohani mereka, kami juga mengikuti sesi pengolahan yang dipandu oleh seorang pengawas. Dalam salah satu sesi, pengawas kami bertanya kepada saya, “Di mana sumber utama pewartaanmu?” Sebagai anggota Ordo Pengkhotbah, saya terperangah. Reaksi awal saya adalah mengucapkan motto kami, “Contemplare, di contemplata aliis tradere (untuk berkontemplasi dan membagikan buah dari kontemplasi).”

Dia menekan lebih jauh dan bertanya apa yang ada di balik kontemplasi itu. Saya mulai bingung mencari jawaban. “Apakah ini studi? Hidup komunistas? Atau doa? Dia mengatakan bahwa semua jawaban saya adalah benar, tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar. Saya akui saya tidak tahu. Dia pun tersenyum dan dia mengatakan, ini adalah iman.

Jawabannya sangat sederhana namun sangat masuk akal. Kita berdoa karena kita memiliki iman kepada Tuhan. Kita pergi ke Gereja karena kita memiliki iman kepada Allah yang penuh belas kasih yang memanggil kita untuk menjadi umat pilihan-Nya. Sedangkan, saya sendiri memasuki Ordo Dominikan karena saya memiliki iman bahwa Allah yang murah hati memanggil saya untuk hidup membiara. Kita mewartakan karena kita memiliki iman pada Tuhan yang pengasih dan kita ingin berbagi Tuhan dengan sesama.

Saya telah menghabiskan bertahun-tahun belajar filsafat dan teologi di salah satu universitas ternama di Filipina, tetapi ketika saya bertemu pasien dengan penyakit dan masalah yang sanget berat, saya menyadari bahwa semua pencapaian, pengetahuan, dan kebanggaan saya itu sia-sia. Bagaimana saya akan membantu pasien untuk membayar tagihan rumah sakit dengan jumlah yang sangat besar? Bagaimana saya akan membantu pasien-pasien di saat-saat terakhir mereka? Bagaimana saya akan membantu pasien yang marah pada Tuhan atau kecewa dengan hidup mereka? Namun, saya harus ada di sana untuk mereka menjadi pewartaan yang terbaik dan paling mendasar. Ini bukan pewartaan dalam bentuk diskursus teologis, diskusi filosofis, dan khotbah atau nasihat yang panjang. Untuk mewartakan di sini adalah untuk membagikan iman saya dan untuk menerima iman mereka. Saya ada di sana untuk bersama mereka, untuk mendengarkan kisah dan pergulatan mereka, untuk berbagi sedikit canda dan tawa serta berdoa bersama dengan mereka. Berdoa untuk mereka adalah saat-saat langka, di mana saya berdoa dengan semua iman saya sebab saya tahu bahwa hanya iman ini yang dapat saya berikan kepada mereka.

Dalam Injil kita hari ini, kita membaca bahwa beberapa orang Yahudi bersungut-sungut karena mereka tidak memiliki iman kepada Yesus. Namun, Yesus tidak hanya memanggil mereka untuk hanya percaya kepada-Nya, tetapi juga untuk benar-benar memakan-Nya karena Dia adalah Roti Kehidupan. Iman dalam Ekaristi sungguh menjadi penentu. Hanya dua kemungkinan: sebuah kegilaan atau iman terbesar. Sebagai umat Kristiani yang percaya pada Ekaristi dan menerima Yesus di setiap misa, kita menerima rahmat dan ditantang luar biasa untuk memiliki dan menyatakan iman ini. Namun, ketika kita gagal untuk menghargai arti dan keindahan dari iman ini dan hanya menerima Roti Hidup secara rutin, kita akan kehilangan iman ini.

Sebagai orang yang pergi ke Gereja setiap Minggu dan menerima Ekaristi secara teratur, apakah kita benar-benar percaya kepada Yesus, Sang Roti Hidup? Apakah iman kita mampu memberdayakan kita untuk melihat Tuhan di tengah-tengah perjuangan dan tantangan hidup kita sehari-hari? Apakah kita memiliki iman yang dapat kita bagikan di saat yang paling penting?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Amen

18th Sunday in Ordinary Time [August 5, 2018] John 6:24-35

“This is the work of God, that you believe in the one he sent.” (Jn. 6:29)

amen 1To say “Amen” is something usually we do in prayer. Commonly it is used to end a prayer. Our biblical prayers like Our Father and Hail Mary are usually concluded by amen. In several occasions, amen is mentioned more often. One of my duties as a hospital chaplain is to lead a prayer of healing for the sick. I always ask the family and friends who accompany the patients to pray together. Sometimes, they will say amen at the end of the prayer. However, some others will utter several amens within the prayer, and in fact, some people will say more amens than my prayer! In several occasions, amen is utilized outside the context of prayer. Preachers with a charismatic gift will invite their listeners to say amen. Surely, it is a good technique to keep the listeners awake!

Amen is a simple and yet very powerful word. Amen indicates our strong affirmation and agreement to something. It is the most concise manifesto of our faith. Amen is a biblical language, and in fact, it is a Hebrew word, that means “surely!” or “Let it be done!”. It is interesting to note that the early usage of amen in the Bible is to affirm curses and punishments (see Num 5:22; Deu 27:15). Fortunately, the Book of Psalm teaches us to use amen to affirm God’s blessings. Jesus Himself is fond of saying Amen. He uses amen to affirm the truth and power of His words (see Mat 5:18; Mat 8:5). There is a radical shift here. Unlike the usual practice to affirm God’s blessing, Jesus says amen to His own words. This is because Jesus’ words are God’s blessing per se. Thus, learning from the Biblical tradition, we say amen to affirm God’s blessings. Moreover, learning from Jesus, we say amen to express our faith in His words, and ultimately to Jesus Himself. Surprisingly, the first person in the New Testament to proclaim the great amen to Jesus is none other than His mother, Mary. Before the angel Gabriel, she says “Be it done to me according to your words,” in short, “Amen!” (see Luk 1:38)

One of the greatest amen we proclaim is when we receive the Eucharist. For hundreds of millions of Christian Catholics who receive the Holy Communion every Sunday, to say amen seems rather usual. Yet, it is supposed to be the most difficult amen we say. To believe and affirm that a little consecrated white bread is the Body of Christ containing the fullness of Jesus’ divinity and humanity is either totally insane or a sign of extraordinary faith. Yet, I do believe this is Jesus’ invitation to believe in Him in the Eucharist. Relating to this Sunday’ Gospel, Jesus says that the work of God is to believe in Jesus, the one sent by the Father (see John 6:29). Continue reading chapter 6 of this Gospel of John, we discover that to believe in Jesus means to accept that He is the Bread of Life, and those who eat this Bread will have eternal life (see John 6:51). Thus, to say faith-filled amen to the Eucharist is the fulfillment of Jesus’ words, and leading to the fullness of acceptance of Jesus as God and Savior.

As people who go to the Church every Sunday and receive the Eucharist in a regular basis, do we say our Amen in the fullness of our faith or is it just a mechanical repetition? Does our Amen enable us to recognize the daily blessing we receive? Like Mary, does our faith manifest in our daily actions, and make a difference in lives?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lebih dari Roti

Minggu ke-17 dalam Masa Biasa [29 Juli 2018] Yohanes 6: 1-15

Yesus berkata kepada Filipus, ” Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6: 5)

barley loaves 2Tidak seperti Injil lainnya, Injil Yohanes tidak memiliki kisah tentang penetapan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir. Namun, ini tidak berarti Yohanes penginjil tidak menulis apa pun tentang Ekaristi. Nyatanya, Yohanes menulis tulisan yang paling luhur tentang roti hidup dalam bab 6 Injilnya. Bab itu sendiri relatif panjang, dan Gereja telah distribusikannya ke beberapa bacaan Injil hari Minggu (dari hari ini hingga 26 Agustus). Penjelasan tentang Roti Hidup ini dimulai dengan kisah Yesus yang memberi makan banyak orang.

Mari kita perhatikan pertanyaan Yesus kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6:5) Filipus, tampaknya akrab dengan tempat itu, menyatakan bahwa mustahil untuk memberi makan orang sebanyak itu, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini… ” (Yoh. 6: 7) Filipus cukup realistis, tetapi ia tidak menjawab pertanyaan. Yesus tidak menanyakan “berapa,” tetapi “di mana.” Mungkin, jika Filipus hidup di zaman now, dia akan mengarahkan Yesus ke mal terdekat! Intinya adalah bahwa Filipus akan dengan semangat menyederhanakan seluruh masalah ke dalam masalah keuangan. Filipus tidak salah karena keuangan dan ekonomi adalah tulang punggung kehidupan kita sehari-hari dan bahkan kelangsungan hidup kita sebagai spesies, tetapi uang bukanlah satu-satunya hal yang penting. Filipus nantinya akan melihat setelah mujizat penggandaan roti, bahwa “di mana” merujuk pada Yesus sendiri. Dan seperti yang akan kita baca dalam bab 6, roti yang Yesus tawarkan tidak hanya dimaksudkan untuk manfaat biologis dan ekonomi, tetapi untuk kehidupan kekal.

Saat ini saya sedang menjalankan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Salah satu misi yang dipercayakan kepada saya adalah membagikan Komuni Kudus bagi orang sakit. Dengan melayani orang sakit, khususnya melalui doa dan pemberian Komuni Kudus, saya diingatkan bahwa aspek fisik dan biologis dari kemanusiaan kita bukanlah satu-satunya hal yang harus dijaga. Memang benar bahwa banyak pasien yang saya temui bergulat dengan masalah keuangan, seperti bagaimana mendapatkan uang untuk membayar tagihan rumah sakit dan obat-obatan yang mahal. Mereka juga harus bergumul dengan penyakit mereka yang kadang tidak dapat disembuhkan. Saya sendiri bingung bagaimana cara membantu mereka dalam masalah yang mendesak ini. Namun, seringkali, para pasien sendiri adalah orang yang meyakinkan saya bahwa Tuhan akan membuka jalan. Apa yang saya lakukan, kemudian, adalah memperkuat iman mereka. Doa dan pemberian Komuni Kudus adalah manifestasi nyata dari kehadiran Yesus di antara kita, dan kehadiran-Nya bahkan lebih terasa bagi orang sakit. Seperti Injil kita saat ini, Yesus tidak hanya memperhatikan aspek fisik dari kehidupan kita, tetapi lebih mendasar lagi, Dia membawa kita ke realitas yang lebih dalam yang merupakan kerinduan jiwa kita yang terdalam. Sungguh sebuah paradoks bahwa dalam sakit, mereka menemukan Yesus.

Saat kita masih kuat dan sehat, seringkali kita melupakan kebenaran sederhana ini. Seperti Filipus, kita lebih peduli dengan mengumpulkan kekayaan, meraih ketenaran, dan mencapai kesuksesan. Bahkan sebagai orang yang melayani Gereja dan komunitas, kita menghabiskan lebih banyak waktu dalam mengatur acara-acara amal, mengumpulkan dana, dan bahkan berdebat di antara kita sendiri tentang hal-hal sederhana. Kita kehilangan tujuan utama mengapa kita pergi ke Gereja. Kita gagal bertemu Yesus. Kita berdoa dan berharap bahwa kita dapat menjawab pertanyaan Yesus dengan benar, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya kita ini dapat makan?”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menghadapi Kematian

Minggu Keenam Belas dalam Masa Biasa [22 Juli 2018] Markus 6: 30-34

Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” (Mrk 6:31)

person-in-hospital-bed-holding-hands-05Saat ini saya menjalani pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Sudah satu bulan sejak saya melakukan kunjungan pastoral pertama saya. Saya telah bertemu banyak pasien yang bergulat dengan berbagai jenis penyakit. Tugas pelayanan saya sebagai pekerja pastoral adalah untuk menemani mereka dalam perjalanan penyembuhan mereka. Saya merasakan sukacita yang luar biasa ketika saya dapat menjadi saksi dalam proses penyembuhan mereka, dari seseorang yang terbaring lemah di tempat tidur, sampai menjadi seseorang yang berdiri tegak dan siap untuk meninggalkan rumah sakit.

Namun, hak istimewa terbesar bagi saya adalah bahwa saya diberi kesempatan untuk menemani beberapa orang dalam perjalanan mereka menghadapi kematian. Kita tidak suka berbicara tentang kematian karena kita semua takut akan kematian, dan banyak yang masih memandang kematian sebagai hal tabu. Namun, di rumah sakit, memerangi kematian adalah aktivitas sehari-hari baik bagi pasien maupun para tenaga kerja medis. Kematian menjadi menakutkan karena hal ini mengakhiri hidup kita, menghancurkan impian kita, dan memutuskan hubungan kita dengan orang yang kita cintai. Saya berteman dengan seorang pria muda yang baru saja lulus dari sebuah universitas dengan banyak mimpi di dalam benaknya, namun kanker merampas impiannya dan dia harus menjalani kemoterapi yang merusak tubuhnya. Saya juga menemani seorang remaja yang mengalami gagal ginjal dan harus menghabiskan banyak uang untuk dialisis dan obatnya. Dia pun tidak bisa menyelesaikan sekolahnya, mencari pekerjaan, dan mengejar mimpinya. Seorang ibu muda harus meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil di kampung halaman, pindah ke Manila, pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, hanya untuk sembuh dari kanker payudaranya. Keinginannya hanya satu untuk bersatu kembali dengan anak-anaknya.

Namun, ketika saya melakukan perjalanan bersama mereka, saya menemukan bahwa kematian tidak hanya menakutkan tetapi juga sebuah kesempatan istimewa. Memang benar bahwa menghadapi kematian dapat memicu banyak perasaan negatif seperti penyangkalan, kemarahan, kepahitan, dan bahkan depresi. Seseorang dapat menyalahkan dirinya sendiri, atau marah kepada Tuhan atas apa yang terjadi. Seseorang yang hanya bisa bergantung pada kemurahan hati orang-orang di sekitarnya bisa merasa tidak berdaya dan bahkan putus asa. Namun, ketika pasien mulai menerima situasinya, menghadapi kematian dapat berubah menjadi momen rahmat. Seseorang yang sedang menghadapi kematian dapat melihat apa yang benar-benar penting dalam hidup. Sebagai orang sehat, kita bisa melakukan banyak hal; kita bekerja keras, kita mencapai banyak hal. Dengan begitu banyak hal di hidup kita, kita cenderung mengabaikan apa yang paling penting dalam hidup kita. Menghadapi kematian memperlambat kita, dan memberi kita waktu untuk berpikir jernih. Ini memberi kita kesempatan langka untuk menyelesaikan urusan yang belum selesai dan untuk melakukan misi terakhir yang Tuhan percayakan kepada kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengundang murid-murid-Nya untuk beristirahat. Setelah bekerja keras menjalankan misi mereka, Yesus membawa mereka ke tempat yang sepi. Setelah berhasil dalam pewartaan mereka, para murid dapat dengan mudah menjadi angkuh dan penuh dengan diri mereka sendiri. Namun, peristirahatan yang sejati dapat menenangkan mereka dan mengarahkan kembali diri mereka kepada Yesus, sumber dari misi dan kesuksesan mereka.

Kita tidak harus menderita penyakit berat yang menghadapi kematian dan merenungkan hal-hal yang sungguh penting dalam hidup. Kita selalu dapat beristirahat, melalui doa dan refleksi. Tentunya, selalu baik untuk merefleksikan kata-kata Santo Yohanes dari Salib, “di saat kita mencapai senja kehidupan, Tuhan tidak akan menghakimi kita berdasarkan  harta duniawi dan keberhasilan kita, tetapi pada seberapa besar kita mengasihi.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Debu di Kakimu

Minggu kelima belas pada Masa Biasa [15 Juli 2018] Markus 6:7-13

Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.”  (Markus 6:11)

feet of jesusInjil hari ini berbicara tentang misi dua belas rasul. Mereka dikirim untuk melakukan tiga tugas pokok: mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan pertobatan. Misi ini mencerminkan misi Yesus dalam Injil Markus. Untuk memfasilitasi misi mereka, mereka perlu melakukan perjalanan dengan ringan. Mereka perlu melakukan perjalanan berdua-dua yang menandakan dimensi komunal dan eklesial misi Yesus. Mereka akan bergantung juga pada kemurahan hati orang-orang yang mereka layani. Ketika mereka menghadapi penolakan, mereka akan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan simbolis terhadap mereka yang menolaknya. Pada zaman itu, orang-orang Yahudi mengebaskan debu dari kaki mereka ketika mereka masuk kembali ke tanah Israel dari wilayah non-Yahudi, sebagai tanda penolakan dan ketidaksetujuan mereka terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi.

 

Saat ini, saya sedang menjalani program pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Program ini melatih saya untuk menjadi seorang pekerja pastoral yang baik dan penuh kasih. Salah satu tugas pokok saya adalah mengunjungi pasien dan selama kunjungan saya akan mendengarkan pasien serta mendampingi mereka dalam masa pemulihan mereka di rumah sakit. Sampai taraf tertentu, saya merasa bahwa saya berpartisipasi dalam misi dua belas murid Yesus, khususnya dalam pelayanan penyembuhan orang sakit. Namun, tidak seperti para murid Yesus, saya sadar bahwa saya tidak memiliki karunia penyembuhan. Saya sering mendoakan pasien, tetapi sejauh ini tidak ada penyembuhan instan, dan pasien terus berjuang sembuh dengan penyakit mereka. Namun, penyembuhan tidak terbatas hanya pada aspek fisik dan biologis. Penyembuhan adalah menyeluruh mencakup penyembuhan emosional dan spiritual. Dokter, perawat, dan staf rumah sakit telah melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit pasien atau setidaknya membantu mereka untuk menanggung penyakit mereka dengan bermartabat. Saya percaya bahwa mereka merupakan rekan kerja utama Yesus dalam pelayanan penyembuhan. Namun, dengan begitu banyaknya beban kerja yang mereka bawa dan waktu serta energi yang terbatas, mereka harus fokus pada penyembuhan fisik dan biologis. Para pekerja pastoral ada di sana untuk mengisi kekosongan yang tidak bisa dipenuhi oleh praktisi medis untuk memenuhi kebutuhan pemulihan secara emosional dan spiritual.

 

Dalam beberapa kunjungan saya, saya bersyukur bahwa banyak yang menyambut kehadiran saya. Namun, kadang-kadang, saya merasa keberadaan dan kunjungan saya tidak diinginkan. Pada saat seperti ini, saya tergoda untuk “mengebaskan debu dari kaki saya” sebagai peringatan bagi mereka. Seperti halnya, para murid diinstruksikan untuk melakukan itu. Namun, saya mencoba memahami mengapa pasien tidak begitu ramah. Mungkin, mereka merasa sakit. Mungkin, mereka butuh istirahat. Mungkin, obat mempengaruhi disposisi emosional mereka. Mungkin, mereka masih memiliki beberapa masalah serius yang harus mereka hadapi. Dengan kesadaran ini, saya tidak bisa hanya menilai mereka sebagai “orang jahat”. Mencoba untuk memahami mereka dan berempati dengan mereka, saya juga “mengebaskan debu dari kaki saya”, tetapi kali ini, itu bukan sebagai bentuk peringatan, tetapi mengebaskan “debu” kesalahpahaman, terburu-buru menghakimi dan apatis. Seorang pekerja pastoral adalah orang yang menjalankan misi Kristus untuk membawa kesembuhan, dan jika saya menanggapi penolakan dan kesulitan dengan kemarahan dan kebencian, maka saya hanya menciptakan lebih banyak rasa sakit dan perpecahan.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ketidakpercayaan

Minggu Keempat Belas pada Masa Biasa [8 Juli 2018] Markus 6: 1-6

“Dia kagum pada kurangnya iman mereka.” (Markus 6: 6)

jesus at nazarethKetika Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret, para pendengar kagum dengan kebijaksanaan-Nya. Yesus berbicara seperti seorang nabi yang perkasa. Namun, orang-orang segera melakukan pemeriksaan latar belakang pada Yesus, dan mereka menyadari identitas Yesus dan latar belakang keluarganya. Nazaret adalah desa kecil di Galilea, dan semua penduduk saling mengenal satu sama lain di lingkungan seperti ini. Orang-orang Nazaret mengenal Yesus sebagai putra seorang tukang kayu, dan dirinya sendiri adalah tukang kayu. Mereka juga akrab dengan keluarga dan kerabat Yesus.

Tidak mungkin bagi seorang tukang kayu, menghabiskan sebagian besar waktunya melakukan pekerjaan kasar untuk memperoleh kebijaksanaan yang demikian mendalam. Orang-orang Nazaret juga mengenal bahwa Yesus adalah putra Maria dan mengenal sanak keluarga-Nya. Tampaknya orang-orang sadar bahwa kerabat Yesus hanyalah orang Yahudi biasa dan miskin. Tak satu pun dari mereka tampaknya memiliki kepribadian yang menonjol. Yesus harus tinggal di tempatnya: seorang Yahudi biasa dan tukang kayu yang miskin. Jadi, bagi Yesus untuk menjadi pengkhotbah yang karismatik dan seorang rabi yang mengagumkan sungguh tidak layak dan tidak mungkin. Yesus, mengenali akar penyebabnya: ketidakpercayaan.

Kita hidup dua milenium setelah Kristus, tetapi sayangnya, mentalitas yang melemahkan ini terus ada dan bahkan berkembang di tengah-tengah kita. Ini adalah mentalitas yang mengurung orang-orang dalam keterbatasan mereka dan mengubur potensi mereka untuk tumbuh dan berkembang. Inilah mentalitas yang mendorong fundamentalisme, rasisme, stereotip-stereotip negatif, dan ideologi destruktif lainnya yang memecah belah umat manusia. Sekali pecundang, selalu pecundang; sekali orang Jawa, selalu orang Jawa; sekali pecandu, selalu seorang pecandu. Namun, mentalitas ini tidak hanya terletak pada ideologi besar, tetapi juga mempengaruhi kehidupan pribadi kita: ketika kita berpikir kita selalu benar, dan yang lain salah; ketika kita percaya bahwa kita lebih suci dari yang lain; ketika kita hanya mempercayai diri kita sendiri; ketika kita menolak untuk memaafkan orang lain; ketika kita berpegang teguh pada keangkuhan kita.

Menghadapi mentalitas yang melumpuhkan ini, Yesus menunjuk pada sebuah kebenaran bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan iman. Dengan iman, yang adalah karunia rohani dari Allah, kita diberdayakan untuk melampaui batasan-batasan budaya, mental, tubuh kita sendiri. Dalam Injil, iman memungkinkan kuasa Allah untuk melakukan lebih banyak lagi dalam kehidupan kita, dan iman yang sama mengilhami kita untuk melihat karya Allah di dalam kita. Orang lumpuh disembuhkan karena iman teman-temannya yang membawanya kepada Yesus (Markus 2:1-6); wanita dengan pendarahan disembuhkan karena imannya (Markus 5:25-34); Yesus memberi tahu Yairus, pejabat sinagoga untuk memiliki iman dan Yesus menghidupkan putrinya (Markus 5: 35-43).

Saat ini saya melakukan tugas pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Tugas saya adalah mengunjungi para pasien, memberi berkat, doa dan Komuni Kudus, tetapi pada dasarnya, adalah untuk bersama mereka dan mendengarkan mereka. Saya tidak dapat melakukan banyak hal dalam hal penyembuhan fisik, tetapi saya menyadari bahwa penyakit tidak hanya bersifat fisik. Kesembuhan mencakup aspek psikologis dan spiritual. Saya melakukan perjalanan bersama para pasien dalam sukacita, kesedihan, frustrasi, dan harapan mereka. Saya menemani mereka saat mereka mencoba menyelesaikan beberapa masalah seperti kemarahan, hubungan yang rusak, dan masa lalu yang menyakitkan. Ketika saya berjalan bersama mereka, saya juga menyadari kelemahan saya. Namun, terlepas dari hal-hal buruk ini, orang-orang dengan iman selalu menemukan kekuatan dan keberanian untuk menyembuhkan, untuk melampaui diri mereka sendiri dan menjalani kehidupan yang bermakna.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman Sang Perempuan

Minggu Ketiga Belas pada Masa Biasa [1 Juli 2018] Markus 5: 21-43

“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu.” (Mrk 5:34)

woman with hemorrhageInjil hari ini tampaknya tidak berbeda dengan kisah-kisah mukjizat penyembuhan Yesus, tetapi jika kita membaca dengan seksama, kisah penyembuhan perempuan dengan pendarahan ini sebenarnya luar biasa. Kita tidak tahu dengan pasti pendarahan apa yang dideritanya, tetapi fakta bahwa ia menderita kondisi ini selama 12 tahun, menghabiskan banyak untuk pengobatan dan kondisinya semakin memburuk, ini berarti sangat serius. Pada zaman itu, tabib sangat jarang, dan berobat perlu mengeluarkan banyak uang. Perempuan ini mungkin berasal dari keluarga kaya, tetapi dia jatuh miskin karena kondisinya tersebut. Perempuan ini mulai kehilangan hidupnya dan menghadapi keputusasaan. Saya saat ini ditugaskan sebagai asisten imam di salah satu rumah sakit di Metro Manila, dan tugas saya adalah melakukan kunjungan pastoral ke pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tidak jarang saya menjumpai pasien yang menderita kondisi kesehatan yang menguras semua sumber daya mereka, dan tampaknya situasi mereka tidak menjadi lebih baik. Saya menyadari kisah perempuan dengan pendarahan ini bukan hanya kisahnya yang terjadi di masa lalu, tetapi juga kisah umat manusia di zaman ini.

 Kita tidak boleh lupa bahwa protagonis kita juga seorang perempuan. Menjadi seorang perempuan di zaman Yesus berarti menjadi warga kelas dua dalam masyarakat patriarkal Yahudi dan sering kali, mereka dianggap hanya sebagai barang milik suami atau kepala keluarga. Sementara pria bekerja di luar dan bersosialisasi, kaum perempuan tinggal di rumah, dan berfungsi sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak. Biasanya, mereka tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan orang asing apalagi laki-laki, kecuali di bawah pengawasan suami atau ayah mereka. Ini bukan waktu yang mudah bagi perempuan untuk hidup. Sang perempuan juga mengalami pendarahan, ini berarti dia menjadi najis di Hukum Taurat, dan siapa pun yang menyentuh dia akan menjadi najis juga (Im 15:19).

Perempuan dengan pendarahan memiliki iman pada Yesus dan ingin disembuhkan, namun untuk melakukan itu, dia harus menantang norma-norma budaya yang mengikatnya. Dia mengambil resiko yang besar. Bagaimana jika dia tidak disembuhkan? Bagaimana jika ia membuat Yesus dan murid-murid-Nya menjadi najis? Bagaimana jika dia dicap sebagai perempuan yang tak tahu malu oleh masyarakat? Rasa malu menahannya, tetapi iman mendorongnya. Ia pun mengambil langkah “win-win solution“. Dia mencoba untuk mencapai jubah Yesus, dan dia memastikan bahwa dia tidak akan membuat kontak dengan Yesus. Mukjizat terjadi. Dia disembuhkan, tetapi sayangnya, Yesus menemukannya. Dengan gemetar dan ketakutan, dia jatuh di hadapan Yesus dan mengaku. Dia takut bukan hanya karena dia “mengambil” kekuatan dari Yesus, tetapi karena dia telah melanggar norma-norma budaya Yahudi. Namun, tanggapan Yesus mengejutkan murid-muridnya dan semua yang menyaksikan peristiwa itu. Alih-alih menghukumnya karena perilaku yang tidak pantas, Yesus memuji imannya, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkanmu.”

Ini adalah imannya yang membuatnya menjadi protagonis yang proaktif dari cerita mukjizat ini. Dia menolak untuk menyerah pada keputusasaan dan membuat jalannya menuju ke Yesus. Kita melihat sebagian besar tindakan dalam cerita ini dilakukan oleh sang perempuan, dan Yesus ada di sana untuk meneguhkannya. Benar, Yesus menyebut dia “anak” karena Yesus mengakui dia juga sebagai keturunan Abraham, bapa iman yang besar. Kisah perempuan dengan pendarahan adalah perjalanan iman seorang perempuan yang terkurung dalam berbagai kondisi yang melemahkannya. Itu adalah iman yang tumbuh bahkan di tengah-tengah situasi tanpa harapan dari penyakit, krisis keuangan, dan masa depan yang tidak pasti. Ini adalah iman yang tumbuh di tengah keterbatasan manusia, dan melampaui batas-batas budaya. Itu adalah iman yang menggerakkan gunung. Ini adalah imam sang perempuan, dan ini adalah iman yang juga kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP