Anak Sebagai Tanda Belas Kasih Allah

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis [24 Juni 2018] Lukas 1:57-66.80

“Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.” (Lk. 1:58)

child in church 2Hari ini kita merayakan kelahiran Yohanes Pembaptis. Ada dua tokoh protagonis pada Injil kita hari ini, Elizabeth, dan Zakharia. Santo Lukas mendeskripsikan pasangan itu sebagai “orang benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.” (Luk 1: 6) ”. Tapi, mereka tidak memiliki anak. Kemungkinan memiliki anak juga mendekati nol karena Elizabeth adalah mandul dan Zakharia sudah tua. Dalam masyarakat Yahudi kuno, anak dianggap sebagai berkat Tuhan dan sumber kehormatan, dan kemandulan adalah kutukan dan rasa malu.

Namun, malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Zakharia dan mengatakan kepadanya bahwa istrinya akan hamil meskipun usia mereka yang lanjut. Melihat lebih dekat makna dari nama pasangan ini, kitapun bisa berefleksi lebih dalam. Zakharia dalam bahasa Ibrani berarti “mengingat”, dan Elisabet berasal dari dua kata Ibrani, “Eli” dan “Sabath” berarti janji Tuhan. Dengan demikian, kedua nama itu bisa berarti Tuhan mengingat janji-Nya. Dalam Kitab Suci, ketika Tuhan mengingat, ini bukan sekedar berarti Tuhan mengingat kembali sesuatu dari memori, tetapi ini berarti Tuhan memenuhi apa yang pernah dijanjikan-Nya. Karena Allah telah memenuhi janji-Nya kepada leluhur Zakharia, maka Allah juga mengingat janji-Nya kepada Elisabet. Kisah Elizabeth menggemakan kisah-kisah para wanita hebat dalam Perjanjian Lama: Sarah (Kej 15: 3; 16: 1), Ribka (Kej 25:21), Rahel (Kej 29:31; 30: 1), ibu dari Simson dan istri Manoah (Hak 13: 2-3), dan Hana (1 Sam 1: 2).

Apa janji Tuhan kepada Elizabeth dan Zakharia, dan juga bagi kita semua? St. Lukas menunjukkan kepada kita bahwa janji Allah adalah Dia akan menunjukkan rahmat dan belas kasihan-Nya kepada Elisabeth dan Zakharia (lihat Luk 1:58). Kelahiran Yohanes Pembaptis menjadi tanda rahmat dan belas kasihan Allah terhadap pasangan yang saleh ini. Dengan demikian, kelahiran setiap anak adalah tanda bahwa janji Allah digenapi, tanda belas kasihan Allah kepada setiap orang tua. Kita ingat bahwa rahmat belas kasihan bukanlah sesuatu yang pantas kita terima. Belas kasih adalah berkat dan anugerah. Melalui setiap anak, Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita, dan bersama-sama dengan Elizabeth dan Zakharia, kita juga akan bersukacita.

Namun, hal ini tidak mudah. Kita hidup di dunia yang semakin merasa tidak nyaman dengan kehadiran anak-anak kecil di sekitar kita. Ada mentalitas jahat yang merayap ke generasi zaman now. Ini adalah mentalitas yang mempromosikan kesuksesan individu sebagai nilai kebahagiaan yang utama. Jadi, apa pun yang menghalangi kesuksesan harus diberantas. Ini termasuk pernikahan, kehidupan berkeluarga dan akhirnya anak-anak. Mereka tidak lagi dilihat sebagai anugerah yang diterima dengan rasa syukur, tetapi beban yang harus dihindari. Ketika saya mengunjungi Korea Selatan tahun lalu, sahabat saya dari negeri tersebut mengatakan bahwa generasi muda Korea bekerja sangat keras sampai mereka tidak lagi membuat pernikahan dan memiliki anak sebagai prioritas mereka. Memang, tidak seperti di Filipina atau Indonesia, tidak mudah menemukan anak-anak kecil bermain dengan bebas di Seoul. Saya kira penurunan pertumbuhan penduduk adalah masalah di banyak negara yang maju.

Kita tidak menyangkal fakta bahwa untuk membesarkan anak-anak adalah tanggung jawab yang melelahkan, dan kita juga tidak menyangkal kenyataan bahwa tidak semua dipanggil untuk menjadi orang tua. Namun, adalah sebuah kebenaran bahwa anak-anak adalah anugerah tidak hanya bagi keluarga tertentu, tetapi untuk seluruh umat manusia, dan dengan demikian, kita semua memiliki panggilan suci untuk melindungi dan menjaga kesejahteraan anak-anak kita. Kita akan melindungi anak-anak kita dari segala bentuk pelecehan, dari efek melemahkan kemiskinan, dan dari mentalitas egosentris dan kontrasepsi. Menghargai sebuah pemberian berarti menghormati sang pemberi, dan dengan demikian, menghormati setiap anak berarti menghormati Tuhan yang memberi mereka kepada kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kematian Tiga Imam

(refleksi seorang frater atas kematian tiga romo di Filipina)

17 Juni 2018

 

paez ventura niloGereja Katolik di Filipina sekali lagi berduka setelah salah satu imamnya dibunuh. Rm. Richmond Nilo, dari keuskupan Cabanatuan ditembak beberapa kali sebelum dia merayakan misa di sebuah kapel di Zaragoza, Nueva Ecija. Tubuhnya terbaring di lantai di kaki patung Santa Perawan, bersimbah darah. Sebuah peristiwa yang sungguh menyakitkan. Dia menjadi imam ketiga yang kehilangan nyawanya dalam serangan berdarah dalam enam bulan terakhir di Filipina. Pada 4 Desember 2017, Rm. Marcelito Paez ditembak saat dia sedang mengadakan perjalanan di Jean, Nueva Ecija. Baru beberapa Minggu yang lalu pada 29 April, Rm. Mark Ventura juga ditembak mati setelah merayakan misa. Juga bisa kita mungkin doakan juga Rm. Rey Urmeneta yang diserang oleh pembunuh bayaran di Calamba, Laguna. Dia terkena peluru, dan harus dirawat intensif, namun dia selamat dari kematian.

Beberapa Minggu yang lalu saya menulis sebuah refleksi emosional tentang kematian Rm. Ventura (lihat “Kematian Seorang Imam) dan saya tidak akan pernah berharap bahwa saya akan menulis lagi tentang ini. Namun, hanya beberapa saat setelah sang imam dimakamkan tanpa keadilan, Rm. Nilo kehilangan nyawanya saat menjalankan tugas sucinya. Tentunya, ini bukan pertama kalinya seorang imam dibunuh di Filipina. Sejarah telah menyaksikan pembunuhan imam di negeri ini, tetapi kehilangan tiga nyawa hanya dalam kurun waktu enam bulan benar-benar mengkhawatirkan. Beberapa pertanyaan tersirat dalam benak saya, “Apakah kita (secara khusus umat di Filipina) sekarang hidup dalam waktu yang berbahaya bagi para imam? Apakah menjadi imam adalah panggilan yang berbahaya? Apa gunanya menjadi seorang imam jika hal ini tidak membawa apa pun kecuali penganiayaan dan kematian?” Kita telah meninggalkan segalanya bagi Kristus, keluarga kita, masa depan kita. Haruskah kita menyerahkan hidup kita dengan cara yang keji ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini benar adanya, tetapi saya sadari bahwa pertanyaan-pertanyaan ini juga muncul dari rasa takut. Banyak imam dan bahkan seminaris, termasuk saya, telah hidup dalam kenyamanan seminari, paroki, atau biara kita. Dilengkapi dengan berbagai kebutuhan dasar, dengan kamar individu yang nyaman, dengan pendidikan berkualitas, dengan fasilitas lainnya, kita sebenarnya hidup sebagai bujangan kelas menengah atas. Hak-hak istimewa ini tentunya dimaksudkan untuk membuat kita menjadi imam yang lebih baik dalam pelayanan, tetapi terbiasa dan dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas ini, kita sering kehilangan tujuan utama dari imamat suci. Imamat adalah sakramen yang ditujukan untuk pelayanan karena itu, imam ditahbiskan untuk melayani umat Allah secara khusus kebutuhan rohani mereka. Namun, alih-alih melayani, para imam akhirnya yang dilayani oleh umat Allah. Kadang-kadang, virus klerikalisme dan karierisme menginfeksi pikiran kita. Pentahbisan dan posisi di Gereja dilihat sebagai promosi, karier, atau prestise. Posisi yang lebih baik berarti tunjangan yang lebih baik! Jika imamat hanyalah sebuah cara untuk membuat kita kaya, kita telah kehilangan imamat bahkan sebelum kita mati! Kematian seorang imam adalah sebuah duka, tetapi kehilangan imamat adalah sebuah tragedi.

Uskup Pablo David, DD dari Caloocan, Metro Manila, mengingatkan para seminaris yang bercita-cita menjadi imam, bahwa jika kematian para imam ini memberi mereka keputusasaan, bukan inspirasi, lebih baik bagi mereka untuk melupakan imamat dan meninggalkan seminari sesegera mungkin. Uskup David menyatakan bahwa tiga imam ini bukanlah korban yang tidak berdaya, tetapi para martir yang dengan berani memilih untuk menghadapi konsekuensi berbahaya dari memberitakan Injil dan bekerja untuk keadilan.

Sejak permulaan agama Kristiani, menjadi seorang Kristiani dan terutama imam adalah panggilan yang berbahaya karena kita mengikuti Kristus di jalan salib-Nya. Namun, kematian ketiga imam ini ternyata merupakan terapi kejut yang membangunkan kita dari tidur yang nyaman. Ini adalah seruan bagi banyak dari kita, para seminaris, religius, dan imam untuk melihat kembali apa tujuan dari imamat kita. Apakah kita mati setiap hari pada diri kita sendiri? Apakah kita siap menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dan umat-Nya? Apakah kita siap mengikuti Kristus sampai akhir?

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Keluarga-Nya

Minggu ke-10 dalam Masa Biasa [10 Juni 2018] Markus 3: 20-35

“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’ (Mrk 3:35).”

aku indonesia
picture by Harry Setiawan SJ

Dalam kebudayaan Israel kuno dan juga banyak budaya di Asia dan Afrika, keluarga adalah inti dari identitas seseorang. Seseorang dilahirkan, tumbuh, menjadi tua dan wafat dalam keluarga. Sewaktu uskup agung Pontianak, Agustinus Agus memberi ceramah di University of Santo Tomas, Manila, dia bangga sebagai bagian suku Dayak yang berasal rumah betang. Dalam budaya tradisional suku Dayak, sebuah keluarga besar atau klan tinggal, hidup dan melakukan rutinitas bersama di rumah besar dan panjang. Inilah rumah betang.

 

Ketika saya bertanya kepada beberapa teman Filipina saya, “Jika rumah kamu terbakar, apa hal pertama yang akan kamu selamatkan?” Jawaban mereka bukanlah uang, dokumen penting atau perhiasan, tetapi foto keluarga! Pada tahun 1977, Presiden Tanzania Julius Nyerere, salah satu tokoh Afrika paling terkenal waktu itu, mengunjungi Amerika Serikat dan berbicara di depan para mahasiswa Afrika yang belajar di sana. Di depan mereka, dia mengkritik orang-orang Afrika yang menerima banyak dukungan dari keluarga dan suku mereka, namun menolak untuk kembali ke tanah Afrika setelah belajar. Itu adalah tindakan pengecut dan pengkhianatan ke Afrika.

Namun, membaca Injil hari ini dengan seksama, umat Katolik yang baik akan terkejut. Kita tentunya mengharapkan Yesus menyambut dengan baik Maria, ibu-Nya, dan saudara-saudaranya yang datang dan mencari Dia. Anehnya, Yesus tidak melakukan apa yang diharapkan, tetapi sebaliknya Dia mengambil kesempatan itu untuk menunjukkan siapa keluarga baru-Nya, “Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, ‘Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’”(Mrk 3:34-35) Kata-kata Yesus terkesan keras karena Yesus tampaknya tidak memasukkan Maria dan saudara-saudara-Nya dari komposisi keluarga baru-Nya. Apakah ini berarti Yesus tidak menghormati Maria, yang adalah orang tua-Nya? Apakah ini berarti bahwa keluarga biologis dan tradisional tidak memiliki nilai?

Jawabannya jelas tidak. Tentu saja, Yesus menghormati dan mengasihi ibu-Nya. Yesus juga mengajarkan kekudusan sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga (lihat Mat 5:31-32; Mat 19:19). Jemaat Gereja perdana juga mengikuti ajaran Yesus tentang integritas sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga, sebagaimana tercermin dalam surat-surat St. Paulus (lihat 1 Kor 7: 1-17; Ef 6: 1-5). Kita yakin bahwa bagi Yesus, pernikahan dan keluarga itu baik. Namun, inti dari Injil kita hari ini adalah Yesus memanggil kita semua untuk melampaui hubungan alami ini. Keluarga baru Yesus tidak didasarkan pada darah tetapi berakar pada iman dan kemauan kita menjalankan kehendak Allah. Ini juga panggilan yang Yesus alamatkan kepada Maria dan sanak saudara-Nya. Tentunya, Maria menjadi model iman ketika dia mematuhi kehendak Allah saat ia menerima Kabar Sukacita (Luk 2: 26-38), ketika ia mengikuti Yesus bahkan sampai ke salib (Yoh 19: 25-26) dan setia berdoa bersama dengan Gereja perdana (Kis 1:14). Santo Agustinus pun mengatakan dalam kotbahnya, “Suatu berkat yang lebih besar bagi Maria karena ia telah menjadi murid Kristus daripada menjadi ibu Kristus.”

Keluarga sebagai institusi itu baik, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita perlu menjadi murid-Nya Yesus terlebih dahulu sebelum kita menjadi anggota keluarga yang baik. Kalau tidak, keluarga akan terbuka terhadap godaan sang jahat. Korupsi, nepotisme, dan kronisme adalah praktik jahat yang berakar dalam keluarga. Sisi ekstrim lainnya adalah ketika saudara saling bertikai, bahkan membunuh, karena rebutan warisan seolah-olah mereka tidak berasal dari rahim yang sama. Adalah kehendak Tuhan bahwa kita setia, bahwa kita melakukan keadilan, bahwa kita berbelas kasih terutama bagi yang lemah dan miskin. Tanpa nilai-nilai Kristiani, keluarga tidak akan menjadi sumber kebaikan. Menggemakan kata-kata St. Agustinus, menjadi bagian dari keluarga adalah sebuah berkat, tetapi menjadi murid Kristus adalah berkat yang jauh lebih besar.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tubuh

Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus [3 Juni 2018] Markus 14: 12-16, 22-26

“Ambil; inilah tubuhku ”(Markus 14:22)

african-last-supper-lukandwa-dominicTubuh kita adalah bagian integral dari kemanusiaan kita dan diciptakan oleh Tuhan sebagai sesuatu yang baik. Tubuh kita adalah sebuah karunia. Dengan cuma-cuma, kita menerima tubuh kita dari orang tua kita, dan orang tua kita dari orang tua mereka dan ini berlangsung terus sampai kita menemukan Tuhan sebagai sumber dari karunia ini. Karena tubuh kita adalah karunia dari Tuhan, kita dipanggil untuk menghormati tubuh kita sebagaimana kita menghormati Sang pemberi karunia.

Sejak awal mulanya, Gereja telah berjuang melawan berbagai ajaran sesat yang merongrong integritas dan kesucian tubuh. Gereja dengan gigih membela kebaikan tubuh melawan sekte Gnostik yang mengajarkan tubuh sebagai jahat, penjara bagi jiwa kita, dan kutukan bagi eksistensi kita. Saya adalah anggota Order of Pewarta (atau Dominikan), dan Ordo ini didirikan untuk keselamatan jiwa-jiwa. Beberapa teman saya mengomentari mengapa kami hanya menyelamatkan jiwa dan mengabaikan aspek lain dari kemanusiaan kita. Saya mengingatkan mereka bahwa Ordo ini awalnya didirikan untuk memerangi sekte Albigensian, dan salah satu ajaran dasar mereka adalah bahwa tubuh adalah jahat, bahwa bunuh diri adalah sarana yang baik untuk mencapai pembebasan akhir. Untuk mewartakan dan berjuang bagi kebaikan dan integritas tubuh kita adalah mendasar bagi pewartaan Dominikan, seperti juga untuk pewartaan Gereja.

Sayangnya, ajaran gnostik tetap bertumbuh dan mengambil bentuk-bentuk baru di dunia modern. Kesucian tubuh kita terus diremehkan dan bahkan menjadi sebuah komoditas. Perdagangan manusia adalah salah satu pelanggaran terbesar terhadap tubuh kita. Perempuan muda, sebagian besar dari latar belakang miskin, terjebak ke dalam prostitusi dan menjadi objek seks belaka. Anak-anak muda dipaksa bekerja dalam kondisi yang tidak manusiawi di banyak negara. Pengambilan organ tubuh telah menjadi bisnis paling menggiurkan yang melibatkan jumlah uang yang luar biasa besar. Ada harga untuk setiap organ yang kita miliki. Bahkan, ada cerita di media sosial tentang seorang remaja yang menjual ginjalnya untuk membeli iPhone model terbaru. Tambahan ‘tubuh’ lain di dalam rahim menjadi sebuah beban dan hambatan untuk kemajuan diri dan pengembangan karier, dan dengan demikian, lebih baik untuk mengaborsi ‘tubuh’ ini sebelum mereka tumbuh dan menjadi masalah yang lebih besar.

Hari ini kita merayakan tubuh dan darah Yesus Kristus, dan kita diundang melalui bacaan Injil, untuk kembali ke Perjamuan Terakhir Yesus. Di sana, Yesus dengan bebas mempersembahkan tubuh-Nya sebagai karunia kepada murid-murid-Nya, “Ambillah, ini tubuh-Ku.” Dia kemudian meminta para murid ini untuk membagikan tubuh-Nya yang telah mereka terima kepada generasi murid-murid masa depan. Yesus menerima tubuh-Nya sebagai karunia, dan sekarang, dalam Perjamuan Terakhir-Nya, Dia memberikan karunia ini agar kita dapat memiliki kehidupan yang penuh. Ini adalah dasar dari Ekaristi, juga inti dari seksualitas Kristiani.

Di dalam sakramen pernikahan, suami dan istri tidak lagi “dua tetapi satu tubuh.” Ketika kedua pasangan menghadap altar Allah, mereka mengakui bahwa tubuh mereka adalah karunia dari Tuhan, dan dengan mempersembahkan tubuh mereka kepada pasangan mereka, mereka menghormati Tuhan yang telah menciptakan mereka. Kita menentang seks pra-nikah dan seks di luar nikah karena hanya saat tubuh kita diberikan secara bebas dan total dalam komitmen pernikahan, kita selalu akan selalu menghancurkan tubuh kita. Tubuh suami atau istri bukan sekadar “milik” atau objek untuk memuaskan kebutuhan seksual dan psikologis, tetapi itu adalah karunia dari Tuhan yang bahkan menuntun kita untuk menghargai tubuh kita sendiri. Dalam pernikahan, suami dan istri memberikan tubuh mereka sebagai karunia terhadap satu sama lain dalam kasih dan hormat, sehingga mereka dapat memiliki kehidupan yang lebih berlimpah dan juga, mereka dapat menyambut tubuh baru, kehidupan baru, karunia baru, ke dalam pernikahan mereka.

Kehidupan pernikahan adalah salah satu di antara beberapa cara dimana kita bisa menerima dan mempersembahkan tubuh kita sebagai karunia. Kehidupan selibat yang didedikasikan untuk melayani sesama adalah cara lain untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai karunia. Seperti Yesus dalam Perjamuan Terakhir, hanya dengan menerima tubuh kita sebagai karunia dan dengan bebas mempersembahkannya sebagai karunia, kita memiliki kehidupan yang penuh dan bermakna.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Allah Tritunggal dan Kita

Hari Raya dari Tritunggal Mahakudus [27 Mei 2018] Matius 28: 16-20

“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. (Mat. 28:19)”

star gazing
photo by Harry Setianto, SJ

Hari ini kita merayakan Misteri Tritunggal Mahakudus. Misteri ini tepat disebut misteri dari semua misteri karena Tritunggal Mahakudus merupakan inti dari iman Kristiani kita. Namun, kebenaran mendasar ini tidak hanya sangat sulit untuk dimengerti, tetapi juga pada kenyataannya, melampaui penalaran manusiawi kita. Bagaimana mungkin kita bisa percaya pada tiga Pribadi Ilahi yang berbeda, Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun mereka tetap satu Allah? Beberapa tokoh besar seperti St. Agustinus, St. Thomas Aquinas dan Paus Emeritus Benediktus XVI telah berusaha untuk memberi sedikit cahaya pada misteri ini. Namun, dihadapan kebenaran maha besar ini, penjelasan terbaik pun akan tampak seperti setetes air di samudra raya

 

Saya sendiri tidak memiliki ilusi bahwa saya dapat menjelaskan misteri ini dengan baik, tetapi kita mungkin merefleksikan bersama maknanya dalam kehidupan sehari-hari kita. Masa Paskah yang penuh sukacita berakhir dengan perayaan hari Pentakosta Minggu lalu, dan kitapun melanjutkan masa biasa tahun liturgi. Ketika kita melanjutkan masa biasa, Gereja mengundang kita untuk merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Gereja tampaknya mengajarkan kita bahwa misteri Trinitas yang melebihi segala nalar sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia, dengan perjuangan kita sehari-hari, dengan rasa sakit dan sukacita kita sehari-hari. Bagaimana iman kita dalam misteri terbesar dari semua misteri ini dapat terhubung dengan kehidupan sehari-hari dan bahkan duniawi kita?

Kita sering memiliki gambaran salah tentang Tuhan. Kita kadang berpikir bahwa Tuhan atau Allah Tritunggal adalah pribadi terbesar (atau tiga pribadi terbesar) di antara hal-hal yang ada. Dia seperti seorang CEO universal yang mengelola semua hal dari lokasi yang dirahasiakan atau makhluk super besar dan super kuat yang mengendalikan hampir segalanya. Namun, gambaran ini tidak sepenuhnya benar. Ia bukan sekedar “satu” di antara makhluk yang tak terhitung jumlahnya. Tuhan adalah dasar dari segala yang ada. Dia adalah alasan mengapa sesuatu ada, daripada tidak ada sama sekali. Jadi, penciptaan bukanlah yang terjadi pada “Big Bang” 13,7 miliar tahun lalu. Penciptaan pada dasarnya adalah karunia keberadaan dari Allah bagi kita. Menjadi makhluk ciptaan berarti keberadaan kita tidak mutlak. Kita ada fana. Namun, saat kita tahu bahwa kita sungguh ada di dunia, kita menyadari bahwa setiap saat dalam hidup kita adalah karunia Tuhan.

Kitab Suci mengungkapkan misteri Allah kita. Dia bukan Tuhan yang menyendiri dan mementingkan diri sendiri, tetapi Tuhan kita adalah satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi. Tuhan kita adalah komunitas yang berdasarkan pada kasih hidup dan kreatif dan pada pemberian diri yang total dan konstan. Oleh karena itu, perciptaan kita bukanlah sekedar ketidaksengajaan semata, tetapi tindakan kreatif Allah dan karunia kasih-Nya. Kita ada karena kita adalah bagian dari rencana kasih-Nya. Kita ada di dunia karena Tuhan tidak dapat tidak mengasihi kita dan ingin kita berbagi dalam kehidupan yang sempurna dalam Tritunggal. St Thomas Aquinas pun mengatakan bahwa kita hanya percaya dua ajaran dasar, dua “credibilia”: pertama, Tuhan itu ada, dan kedua, kita dikasihi dalam Yesus Kristus.

Kita sering menerima begitu saja hidup kita dan terlarut dalam masalah sehari-hari; kita jarang bertanya apa tujuan dan makna kehidupan ini. Namun, hal ini tidak mengurangi kebenaran bahwa Tuhan dengan penuh kasih menopang keberadaan, bahkan sampai ke bagian terkecil dari atom kita, dan peduli kepada kita, setiap detik dari hidup kita. Apakah kita sibuk melakukan pekerjaan, fokus pada urusan keluarga, atau hanya menikmati hobi, Tuhan terlibat dan memperhatikan. Jadi, terlepas dari Tuhan, hidup kita, kerja harian kita, dan kekhawatiran, kesedihan dan sukacita kita tidak ada artinya dan bahkan kembali ke ketiadaan. Merayakan Tritunggal Mahakudus berarti bersuka-cita dalam keberadaan kita sebagai karunia, dan memuliakan Tuhan yang sangat mengasihi kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Roh Kudus Pentekosta

Hari Raya Pantekosta [20 Mei 2018] Yohanes 20: 19-23

“kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Kisah 2:11).”

kami tidak takutSeminggu yang lalu, tiga gereja di Surabaya, Indonesia diserang oleh para pelaku bom bunuh diri. Ketakutan segera memenuhi hati saya karena lokasi pengeboman tidak jauh dari komunitas Dominikan di Surabaya. Beberapa teman baik saya juga berasal dari Surabaya, dan mereka mungkin terluka karena ledakan bom.  Namun, saya bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa mereka aman, tetapi bagian dari hati saya tetap sangat terluka karena banyak orang, baik umat Kristinani dan Muslim, polisi, warga biasa, dan bahkan anak-anak, menjadi kurban. Mereka adalah orang-orang yang dipenuhi harapan dan impian mereka, kisah dan iman mereka, dengan keluarga dan teman-teman mereka. Namun, serangan brutal itu langsung menghancurkan semuanya. Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apa artinya merayakan Pentekosta, hari raya pencurahan Roh Kudus, di dunia yang dipenuhi rasa takut dan kekerasan?

Pada hari Pentakosta pertama, Roh Kudus datang dalam bentuk lidah nyala api dan hinggap pada setiap rasul dan murid lainnya. Mereka dipenuhi oleh Roh Kudus dan mulai berbicara bahasa yang berbeda, dan mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Hari itu, orang-orang yang datang dari berbagai bangsa bisa mendengar dan mengerti karya Allah dan dipersatukan sebagai komunitas. Dari cerita ini, kita bisa melihat bahwa misi Roh Kudus sebagai prinsip kesatuan di antara kita yang dipisahkan oleh banyak tembok dan sekat-sekat perbedaan.

Kita datang dari berbagai bahasa, budaya, dan bangsa, dengan beragam latar belakang, karakter, dan sistem nilai. Kita memiliki kepercayaan, keyakinan dan iman yang berbeda. Ini adalah pekerjaan roh jahat untuk menabur benih rasa takut dan kebohongan, dan dengan ketakutan dan ketidakpahaman terhadap yang lain, lebih mudah bagi kita untuk membangun tembok yang lebih tinggi dan menggali parit yang lebih dalam. Ini menjadi akar fundamentalisme dan radikalisme yang mematikan.

Roh Kudus mendorong kita untuk keluar dari diri kita sendiri dan menjangkau yang lain. Jika kita diciptakan menurut citra Allah yang adalah Tritunggal Mahakudus, dan jika Tritunggal adalah tiga pribadi ilahi yang unik, namun hidup dalam kesatuan kasih, kita juga dirancang untuk menjadi individu yang unik, namun kita juga diciptakan sebagai pribadi yang hidup dengan sesama dan bagi sesama. Roh Kudus seperti induk burung elang yang ketika waktunya tiba, akan melemparkan anak-anak mereka dari tebing tinggi dan memampukan mereka terbang.

Beberapa jam setelah pengeboman, masyarakat membanjiri rumah sakit tempat para korban teror dirawat, dan menawarkan diri untuk menjadi donor darah bagi para korban. Seorang relawan berkomentar bahaw darah tidak mengenal suku, agama atau bangsa; hanya tahu tipe O, A, B atau AB! Roh Kudus bekerja melawan pekerjaan roh kudus, bapa segala dusta. Dengan demikian, Roh Kudus memberdayakan kita untuk mewartakan kebenaran dan karya besar Allah. Beberapa menit setelah pemboman, media sosial dibanjiri oleh gambar-gambar kurban-kurban yang tewas untuk menyebarkan ketakutan, tetapi kemudian para pengguna internet Indonesia menolak untuk menyebarkan rasa takut, dan mulai memasang di akun media sosial mereka tagar #kamitidaktakut.

 Kisah-kisah heroik juga muncul. Ada Aloysius Bayu, seorang sukarelawan paroki Santa Maria Tak Bercela Surabaya, yang tewas dalam ledakan. Seandainya dia tidak menghentikan para teroris yang mencoba memasuki premis gereja, bisa tak terhitung orang menjadi korban hari itu. Kematiannya tidak hanya mengakhiri hidupnya, tetapi juga menghancurkan kehidupan seorang wanita yang mengharapkan suaminya pulang dan seorang bayi kecil yang membutuhkan ayahnya. Namun, itu bukan tanpa harapan. Dari pada menyerah pada ketakutan atau kemarahan, teman-teman Bayu melihat kematiannya sebagai pengorbanan yang mengarah ke harapan baru. Salah seorang temannya menyatakan, “Kita tidak boleh berhenti pergi ke Gereja karena takut. Jika kita berhenti, Bayu akan mati sia-sia. ” Roh Kudus mendorong kita untuk berani mewartakan karya Allah dan membuat dunia yang penuh kejahatan menjadi tempat yang lebih baik.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kenaikan dan Misi

Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga [10 Mei 2018/ 13 Mei 2018] Markus 16: 15-20

“Yesus berkata kepada mereka, ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.’ ”(Markus 16:15)

father and daughter at beachKita biasanya tidak ingin berpisah dari orang-orang yang kita cintai. Ikatan emosional yang telah terbangun membuat kita sulit untuk menjauh dari mereka yang kita cintai. Orang tua tidak ingin terpisahkan dari anak-anak mereka. Sepasang kekasih benci ketika mereka harus jauh dari satu sama lain. Kita sedih ketika mereka harus berpisah dengan sahabat kita.

Namun, hari ini kita melihat bahwa Yesus justru melakukan hal yang sebaliknya ketika Dia naik ke surga. Kristus yang telah bangkit bisa saja memilih tinggal dan menemani para murid. Kehadiran fisiknya yang permanen dapat meningkatkan semangat para murid, memberi mereka kenyamanan dan perlindungan. Namun, Dia memilih untuk pergi dan meninggalkan para murid-Nya di bumi. Mengapa Yesus melakukan hal yang tampaknya sangat kejam ini?

Ketika kita membaca Injil hari ini dengan seksama, Yesus tidak sekedar meninggalkan murid-muridNya, tetapi Dia juga mengutus mereka untuk menjalankan misi mereka, “Pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil kepada setiap makhluk.” (Mrk 16:15) Faktanya, Kenaikan Tuhan Yesus lebih banyak berbicara tentang pengutusan daripada perpisahan. Dia naik ke surga supaya murid-murid bisa bergerak maju. Yesus memahami bahwa jika Ia tinggal lebih lama, Ia menghalangi para murid untuk tumbuh dan berkembang. Ketika mereka diutus, mereka tumbuh menjadi orang-orang yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Mereka memiliki iman yang bahkan lebih tinggi, dan secara bertahap tumbuh dalam harapan dan kasih. Seandainya Petrus tetap tinggal, dia tidak akan menjadi pemimpin Gereja. Seandainya Yohanes tidak diutus, dia tidak akan menjadi penatua Gereja di Efesus dan menulis Injil Keempat.

Kisah iman dimulai dengan sebuah misi. Tuhan memanggil Abraham, mengutusnya pergi dari tanahnya di Ur, dan pergi ke Kanaan. Dia menjadi Bapak dari bangsa-bangsa besar bukan di tanah airnya, dimana dia hidup dalam kenyamanan, tetapi di tanah yang berbahaya dan tidak dikenal. Allah memanggil Musa dan orang Israel untuk pergi keluar dari tanah Mesir, dari tanah yang memberi mereka mentimun, bawang, dan melon. Mereka menjadi orang-orang yang bebas untuk menyembah Tuhan mereka, bukan di Mesir, tanah seribu dewa, tetapi di tanah yang Tuhan telah janjikan kepada mereka. St. Dominikus de Guzman memulai Ordo Pewarta (OP) dengan mengirimkan komunitasnya yang kecil dan rapuh ke berbagai kota di Eropa. Beberapa saudaranya meragukannya, beberapa menolak, dan lainnya berkeberatan dengan keputusannya. Namun, keputusannya terbukti menjadi titik balik bagi Ordo. Misi Ordo Pewarta bukanlah untuk membangun pertapaan stabil seperti halnya ordo-ordo lainnya yang lebih dahulu ada, tetapi menjadi sekelompok pewarta yang hidup dalam pengembaraan. Iman St. Dominikus telah melahirkan sebuah keluarga Dominikan yang saat ini hadir di lebih dari 100 negara.

Saya selalu berterima kasih kepada orang tua saya karena mengizinkan saya masuk seminari pada usia muda 14 tahun. Saya mengerti bahwa ini adalah keputusan yang sulit dan menyakitkan, tetapi keberanian mereka telah menjadikan saya seorang manusia yang sekarang ini. Pada mulanya, kedua orang tua saya dan saya sendiri tidak yakin apa yang akan terjadi pada diri saya di seminari, tetapi kami yakin bahwa saya telah diutus, dari kenyamanan sebuah keluarga ke tengah-tengah Gereja yang sangat luas.

Sudahkah kita tumbuh dan menjadi orang yang dewasa dan berani? Beranikah kita mengutus orang yang kita cintai agar tumbuh menjadi orang yang lebih dewasa? Sudahkah kita mempercayakan diri kita dan orang-orang yang kita kasihi ke dalam misi Allah?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kematian Seorang Imam

Minggu Paskah ke-6 [6 Mei 2018] Yohanes 15:9-17

mark venturaKita hidup di belahan dunia dimana kekerasan dan kematian telah menjadi konsumsi sehari-hari kita. Setiap hari, kehidupan manusia secara paksa dirampas karena alasan yang sangat sepele. Orang tua membunuh bayi mereka. Saudara menghabisi saudara. Sahabat memanipulasi dan memanfaatkan sahabat. Beberapa dari kita mungkin turun ke jalan dan menuntut keadilan. Namun, banyak dari kita terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari, karena kita harus bekerja, belajar dan menjalankan tugas-tugas lainnya. Kita menjadi mati rasa atau buta terhadap tanah yang telah menjadi merah oleh darah saudara-saudari kita. Kehidupan, berharga di mata Tuhan, ternyata sangat murah di tangan manusia.

Namun, beberapa hari yang lalu, saya sangat terganggu oleh berita seorang imam muda yang dibunuh secara brutal. Namanya adalah Mark Antony Ventura, dan dia baru berusia 37 tahun ketika dia tanpa belas kasih ditembak mati. Hidupnya diambil beberapa saat setelah ia merayakan misa paginya di Cagayan, Filipina. Dia masih di dalam kapel kecil, sedang memberikan berkatnya kepada anak-anak, dan tiba-tiba, seorang pria tak dikenal datang dan menembaknya. Alasan kepada dia dihabisi belum jelas, namun advokasinya untuk keadilan dan kedamaian mungkin menjadi alasan utama.

Kematiannya mengingatkan akan kematian Uskup Agung Oscar Romero dari San Salvador. Uskup kudus ini dibunuh tepat setelah mengkonsekrasikan tubuh dan darah Kristus, dan saat dia jatuh ke tanah, darahnya bersatu dengan darah Kristus. Uskup lainnya, seorang Dominikan, Pierre Claverie, OP dari Oran, Aljazair mengalami nasib yang serupa. Para teroris meletakan bom di mobilnya, dan ledakannya tidak hanya membunuh Bishop Pierre, tetapi juga sahabat dan sopirnya yang beragama Islam. Dalam kejadian berdarah itu, dagingnya bersatu dengan daging teman Muslimnya.

Menyaksikan tubuh romo Mark yang terbaring tanpa nyawa di tanah dan bersimbah darah, tidak hanya sangat mengusik hati nurani, tetapi juga sangat menyakitkan. Hal ini sangat mengusik hati nurani karena memberi kita efek mengerikan bahwa jika orang-orang jahat ini bisa tanpa ampun membunuh seorang imam, duta pengampunan dan belas kasih, sekarang mereka bisa menghancurkan siapa saja yang menghalangi di jalan mereka. Namun, kematiannya juga menyakitkan karena kematiannya adalah juga kematian kita sebagai Umat Tuhan. Jubah putihnya yang bercampur tanah dan bersimbah darah, adalah pakaian putih kita yang kita kenakan saat kita dibaptis. Tangannya yang tidak lagi bernyawa, yang pernah memberkati orang-orang dan menguduskan roti dan anggur suci, adalah juga tangan kita yang membesarkan anak-anak kita dan membangun masyarakat. Mulutnya yang terbungkam yang pernah mewartakan Kabar Baik, mengampuni dosa, dan mengutuk kejahatan, adalah juga mulut kita yang menerima hosti kudus dan mengajarkan kebijaksanaan kepada anak-anak kita. Pembunuhan romo Markus adalah pembunuhan seorang imam, dan secara simbolis ini adalah pembunuhan kita semua, umat Allah.

Jalan imamat adalah jalan yang saya dan beberapa dari kita telah pilih. Ini adalah jalan yang sering memberi kita kenyamanan duniawi, dan bonus tak terduga. Ini adalah jalan yang menghujani kita dengan ketenaran, kesuksesan, dan kemuliaan. Namun, ini adalah jalan yang sama yang menghadapkan kita dengan wajah kejahatan. Ini adalah jalan yang yang menantang kita untuk berada di sisi para korban dan membela keadilan. Ini adalah jalan yang membuat kita dianiaya, diejek dan bahkan dibunuh. Pilihannya adalah milik kita. Untuk mengakhiri renungan kecil ini, izinkan saya mengutip Uskup Agung Oscar Romero, “Sebuah gereja yang tidak memprovokasi krisis apa pun, sebuah Injil yang tidak mengusik hati nurani, sebuah Firman Tuhan yang tidak ada masuk ke dalam jiwa siapa pun, sebuah Injil yang tidak berhadapan dengan dosa nyata dari masyarakat di mana Injil itu diwartakan – Injil macam apakah itu? ”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pokok Anggur

Minggu Paskah Kelima [29 April 2018] Yohanes 15: 1-8

 “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. (Yoh 15:1)”

cross among bushJika Yesus adalah seorang tukang kayu, mengapa Ia berbicara tentang pokok anggur? Apakah Dia memiliki kompetensi untuk mengajar dari bidang yang bukan keahlian-Nya? Kita ingat bahwa Yesus tumbuh dan hidup di Galilea, dan di wilayah utara Israel ini, tanahnya relatif subur dan industri agrikultur cukup berkembang. Beberapa temuan arkeologi menunjukkan bahwa di Nazaret, meskipun adalah desa kecil, penduduknya terlibat dalam pertanian skala kecil, dan juga pembuatan anggur. Sebagai penduduk Nazaret, Yesus muda sedikit banyak terlibat dengan kegiatan pertanian ini, dan mungkin pernah membantu di kebun anggur terdekat. Karena pengalaman hidup ini, Yesus tidak ragu untuk mengajarkan kebijaksanaan menggunakan citra-citra yang berasal dari dunia agrikultur, seperti perumpamaan yang berhubungan dengan kebun anggur (Mat 20: 1-16), menanam benih (Mat 13: 1-9), gandum dan lalang (Mat 13: 24-30), dan panenan (Mat 9:35).

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan para murid-Nya bahwa Dia adalah pokok anggur yang benar dan Bapa-Nya adalah sang pengusaha anggur. Seperti Yesus, para murid tentu tidak asing dengan perkebunan anggur dan proses pembuatan anggur. Bahkan, bagi orang Yahudi, minum anggur bukan sekadar masalah kesenangan, tetapi juga bagian penting dari ritual perjamuan Paskah Yahudi yang menghidupkan kembali pengalaman pembebasan dari Mesir. Jadi, citra-citra seperti pokok anggur, penanam anggur dan ranting-ranting anggur tidak hanya akrab bagi para murid, tetapi juga menjadi sarana yang sungguh bermakna untuk menyampaikan ajaran Yesus.

Membaca Injil hari ini dengan seksama, Yesus dan para murid sedang merayakan Perjamuan Terakhir, dan kita membayangkan bahwa ketika Yesus mengajarkan kebenaran ini, para murid sedang menikmati makanan dan minuman anggur mereka. Ketika mereka sedang minum anggur, para murid menyadari bahwa anggur berkualitas tinggi berasal dari buah anggur unggulan, dan buah anggur ini diproduksi oleh kebun anggur terbaik yang memiliki pokok anggur yang sehat dan para pekerja yang tekun. Melalui citra ini, Yesus telah meyakinkan para murid-Nya bahwa Dia dan Bapa-Nya telah melakukan yang terbaik untuk membuat ranting-ranting-Nya berbuah, dan sekarang adalah pilihan para murid untuk menghasilkan buah. Sebagai ranting, satu-satunya cara menghasilkan buah adalah dengan tetap bersatu dengan pokok anggur yang benar.

Instruksi Yesus untuk tinggal di dalam Dia tampaknya tidak sulit untuk diikuti. Tetapi, hanya beberapa jam berselang setelah Perjamuan Terakhir, Yesus akan ditangkap, dan para murid segera melupakan semua yang Yesus ajarkan. Yudas mengkhianati Dia, Petrus menyangkal Dia, dan sisanya melarikan diri dan bersembunyi. Hanya beberapa murid yang tetap tinggal bersama Dia: beberapa murid wanita, Murid yang dikasihi Yesus, dan ibu-Nya. Intinya jelas sekarang. Sangat mudah untuk tinggal di dalam Yesus ketika segala sesuatu mudah dan nyaman, tetapi ketika hal-hal menjadi sulit, para murid menghadapi pertanyaan eksistensial: apakah akan tetap tinggal di dalam Yesus atau pergi meninggalkan Dia?

Ketika hidup kita menjadi seperti gurun dan tidak menghasilkan buah yang diharapkan, apakah kita akan tetap tinggal di dalam Yesus? Seorang teman bercerita bagaimana dia awalnya bersemangat melayani Gereja dengan bergabung dengan sebuah organisasi. Namun, setelah beberapa waktu, ia frustrasi dan kecewa oleh sikap-sikap yang tidak menyenangkan dari beberapa anggota. Dia menyadari bahwa kelompoknya tidak berbeda dengan organisasi lain yang diganggu oleh gosip, intrik, dan perpecahan. Tentu saja, saya menyarankan dia untuk meninggalkan kelompoknya dan mencari kelompok yang lebih baik, seperti Ordo Dominikan! Namun, dia memilih untuk tetap tinggal dan mengatakan kepada saya bahwa kelompok yang sulit ini memberinya kesempatan untuk mengasihi Yesus lebih besar. Saya mulai menyadari bahwa saat dia memilih untuk tinggal, dia telah memiliki banyak buah, yakni kesabaran, belas kasihan, dan pengertian.

Pertanyaan yang sama sekarang ditujukan kepada kita. Apakah kita akan tetap tinggal di dalam Kristus pada masa-masa sulit? Apakah kita tetap tinggal bahkan ketika kita tidak merasakan buahnya? Apakah kita tetap setia sampai akhir?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Poto oleh Harry Setianto, SJ

Gembala yang Baik

Hari Minggu Paskah keempat [22 April 2018] Yohanes 10: 11-18

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (Yoh 10:11).”

jesus good shepherd
foto oleh Harry Setianto, SJ

Kitab Suci itu dipenuhi dengan citra gembala yang baik. Mazmur favorit saya adalah Mazmur 23, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Nabi Yesaya yang menghibur bangsa Israel di pembuangan Babel, berbicara tentang Tuhan yang seperti gembala yang akan mengumpulkan kembali domba-domba Israel yang hilang dan membawa mereka pulang (Yes 40:11). Beberapa pemimpin besar Israel adalah gembala. Musa merawat kawanan domba ayah mertuanya ketika ia dipanggil oleh Allah (Kel 3). Daud juga sedang menjaga kawanan domba ayahnya ketika Samuel datang dan mengurapi dia sebagai raja (1 Sam 16). Tidak heran jika Yesus juga memperkenalkan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik.

 

 Dari Injil hari ini, kita dapat mempelajari tiga karakter gembala yang baik. Pertama, Yesus membedakan antara Gembala yang Baik dan para gembala yang buruk. Gembala yang baik adalah pemilik domba-dombanya dan bertanggung jawab atas hidup mereka. Sementara, para gembala yang buruk  merasa tidak memiliki domba, dan bekerja terutama untuk uang, bukan untuk domba. Inilah mengapa ketika bahaya datang dari serangan hewan buas atau pencuri, mereka akan lari dan menyelamatkan nyawa mereka sendiri daripada melindungi domba mereka. Nabi Yeremia mengkritik para pemimpin Israel yang korup dan tidak adil pada masanya dan iapun bernubuat, “Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak (Yer 23:1)!”

Karakter kedua dari seorang gembala yang baik adalah dia mengenal dengan baik domba-dombanya dan memanggil mereka dengan nama mereka. Domba-domba di Yudea dipelihara untuk mendapatkan bulu domba atau wol dan untuk dikorbankan. Khususnya yang ditujukan untuk produksi wol, gembala akan hidup bersama dengan kawanannya selama bertahun-tahun. Tidak heran jika dia mengenal dengan baik setiap domba, karakternya, dan bahkan ciri-ciri fisiknya yang unik. Dia akan memanggil mereka dengan nama seperti ‘kaki kecil’ atau ‘telinga besar’. Karena ikatan erat antara keduanya, domba-domba itu begitu akrab dengan suara gembala dan akan mendengarkan setiap kali dia memanggil mereka. Ini mengingatkan saya pada anjing peliharaan kami di rumah. Kami menyebutnya “cipluk,” dan ibu dan adik saya merawatnya dengan baik. Jadi, setiap kali ibu atau adik saya memanggil namanya, cipluk segera lari mendekati mereka. Namun, setiap kali saya mencoba memanggil namanya, cipluk tidak memberi perhatian!

Karakter ketiga dan paling penting adalah gembala yang baik akan menyerahkan hidupnya bagi domba-dombanya. Karakter ini tampaknya berlebihan, namun hal ini sungguh terjadi. Kita ingat bahwa gembala yang baik memiliki ikatan yang kuat dengan domba-dombanya dan merawat mereka dengan baik, iapun tidak akan ragu-ragu dalam menjaga domba-dombanya dari serangan predator dan perampok yang berbahaya. Tidak jarang, gerombolan perampok tanpa belas kasih memukuli gembala yang berani bahkan sampai mati. Gembala-gembala ini secara harfiah menyerahkan hidupnya untuk domba-domba itu. Ini tidak jarang terjadi pada zaman Yesus di Palestina, dan masih terjadi di zaman kita di beberapa belahan dunia.

Tuhan kita adalah Gembala yang baik dan ini berarti bahwa kita adalah domba-domba milik-Nya. Dia mengenal kita masing-masing secara mendalam, bahkan lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Dia tidak akan meninggalkan kita ketika hidup kita menghadapi masalah serius dan bahaya. Dia tidak hanya akan memperhatikan kita selama kita menghasilkan “wol,” tetapi Dia terus mengasihi kita bahkan saat kita tidak menjadi domba yang baik. Yesus Sang Gembala baik meletakkan hidup-Nya di kayu salib, sehingga kita, domba-domba-Nya, dapat memiliki hidup yang berkelimpahan. Pertanyaannya sekarang: Sudahkah kita menjadi domba yang baik? Apakah kita mengenali suara-Nya? Apakah kita mendengarkan Dia? Apakah kita benar-benar mengikuti Dia?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP