Minggu ke-32 dalam Masa Biasa [11 November 2018] Markus 12: 38-44
[Para ahli Taurat] yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat (Markus 12:40)
Pada masa Yesus hidup, para ahli Taurat adalah orang Yahudi terdidik dan menjadi ahli dalam Hukum Musa. Beberapa dari mereka berasal dari keluarga kaya, dan yang lain dibesarkan dari klan imam. Mampu mengajar dan menafsirkan Hukum, mereka menerima respek dan kehormatan dari masyarakat Yahudi. Dengan demikian, orang-orang Yahudi kebanyakan akan menyapa dengan hormat para ahli Taurat ini dan mempersiapkan bagi mereka kursi kehormatan di sinagoga dan perjamuan. Tentunya, tidak ada masalah dengan menerima salam dan duduk sebagai tamu kehormatan. Yesus sendiri sering disambut sebagai “Guru” atau “Rabi”, dan Dia menghadiri perjamuan sebagai tamu kehormatan (lihat Mar 14:3). Masalah muncul ketika beberapa ahli Taurat memiliki “hasrat narsistik”, menjadi gila hormat dan dengan sengaja mencari yang kehormatan dan semua hak-hak istimewa.
Namun, Yesus tidak hanya mengkritik mereka karena sikap narsis ini, Dia dengan serius mengecam tindakan ketidakadilan mereka, terutama karena mereka “menelan rumah para janda.” Pada zaman Yesus hidup, para janda (bahasa Ibrani “almanah”) dianggap sebagai salah satu bagian masyarakat Yahudi yang paling miskin dan lemah. Mereka adalah wanita yang tidak hanya kehilangan suaminya, tetapi juga jatuh miskin karena mereka tidak lagi memiliki sarana penopang hidup. Mereka beruntung jika keluarga dan kerabat mereka merawat mereka, tetapi pada masa-masa sulit, mereka dibiarkan terlantar. Hukum Musa menyatakan bahwa para janda, bersama dengan anak-anak yatim dan orang asing harus dilindungi (lihat Ul. 10:18).
Karena para ahli Taurat adalah salah satu anggota masyarakat yang paling dihormati dan kaya, itu adalah pilihan logis untuk mempercayakan pelayanan kepada para janda Yahudi kepada mereka. Sayangnya, alih-alih membantu dan membela para janda, beberapa ahli Taurat menindas dan mencuri dari para janda miskin ini. Mencuri itu jahat, tetapi merampas dari orang-orang yang menaruh kepercayaan mereka pada kita adalah kejahatan yang jauh lebih besar. Namun, hal ini bukanlah yang terburuk. Setelah dengan sempurna menyembunyikan tindakan ketidakadilan mereka, beberapa ahli Taurat tanpa malu pergi ke Bait Allah dan membaca doa yang panjang. Ini adalah kemunafikan!
Ketika hari pentahbisan saya semakin dekat, beberapa frater dan teman-teman mulai memanggil saya dengan sapaan kehormatan seperti “reverend” (- yang dihormati). Harus diakui, saya tidak nyaman. Saya berharap bahwa orang-orang tetap memanggil saya sebagai frater atau “Brother”. Namun, ini telah menjadi tradisi umum bagi para awam memanggil mereka yang telah tertahbis. Saya hanya bisa berdoa dan berhasrat bahwa saya tidak akan seperti beberapa ahli Taurat “narsistik” dan gila akan pujian orang-orang dan semua kenyamanan hidup. George Weigel, seorang penulis Katolik Amerika, dalam artikel terbarunya, menelusuri akar kemarahan umat Katolik terhadap para klerus di AS. Dia menulis bahwa memang benar bahwa banyak para romo dan uskup yang baik dan kudus, tetapi umat tidak lagi tahan dengan sikap narsisisme yang diperlihatkan sejumlah oknum klerus di Amerika.
Belajar dari ahli-ahli Taurat, narsisisme adalah benih yang tertanam dalam hati mereka yang tertahbis. Jika dibiarkan benih ini tumbuh menjadi tindakan-tindakan ketidakadilan yang tersembunyi. Dan dari kejahatan ketidakadilan, kaum berjubah putih bisa hidup dalam kemunafikan. Adalah harapan saya bahwa kita terus berdoa, mendukung dan bahkan mengoreksi saudara-saudara kita yang adalah hamba Allah dan umat-Nya. Tanpa rahmat Allah, kerendahan hati dan doa serta bantuan para umat awam, para diakon, imam, dan uskup kita mungkin bisa menjadi seperti ahli Taurat yang narsis dan munafik.
Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hari-hari ini, saya sedang mempersiapkan tahbisan diakonat saya. Diakon sendiri adalah tahap transisi sebelum saya menjadi seorang imam. Terlepas dari kenyataan bahwa diakonat adalah masa transisi, seorang Diakon itu sendiri adalah masa hidup yang penting dalam kehidupan Gereja. Uskup Virgilio David, DD dari Kalookan, Metro Manila, mengingatkan 15 diakon Yesuit yang baru saja ditahbiskan Oktober lalu bahwa kita jangan melihat Diakon hanya sebagai langkah pertama menuju tingkat yang lebih tinggi, seperti imam dan uskup. Diakon adalah inti dalam lapisan lingkaran konsentris yang membentuk pelayanan tertahbis di Gereja. Diakon menjadi inti dari lingkaran pelayanan ini dan tanpa inti ini, para imam dan uskup akan runtuh. Ini adalah fondasi tempat kita membangun kepemimpinan di Gereja. Namun, mengapa Diakon harus ditempatkan sebagai inti dan menjadi fondasi?
Saya mengucapkan kaul lebih dari delapan tahun yang lalu bersama dengan 12 frater lainnya. Salah satu momen paling menyentuh dalam ritual profesi religius ini adalah ketika Romo Provinsial bertanya kepada kami, “Apa yang kamu cari?” Dan kami semua bersujud dan berbaring di lantai, sambil berseru, “Belas kasih Tuhan dan juga komunitas!” Setelah beberapa saat, Pastor Provinsi meminta kami untuk berdiri, dan kami mulai mengucapkan kaul kami di hadapannya. Saat saya mengingat momen yang penting ini, saya merenungkan dalam hati saya, “Mengapa harus meminta belas kasih?” Mengapa kita tidak memilih keutamaan lainnya? Mengapa tidak keadilan, yang adalah salah satu keutamaan penting dalam tradisi Kristiani? Mengapa tidak cinta kasih, yang adalah keutamaan terbesar dari semua keutamaan?
“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Pepatah ini berasal dari bangsawan Inggris, Lord Acton dalam suratnya kepada Uskup Mandell Creighton pada 1887. Lord Acton mengamati bahwa orang-orang yang memiliki kekuasaan mutlak atas orang lain cenderung menyalahgunakan kekuasaan mereka dan mengeksploitasi bawahan mereka. Ini terjadi sepanjang sejarah manusia. Yesus dan murid-murid-Nya sendiri menyaksikan para pemimpin korup ini pada zaman mereka dan akhirnya, menjadi korban kekuasaan yang korup tersebut.
Kita menemukan setidaknya tiga episode dalam Alkitab di mana Yesus secara eksplisit menyatakan bahwa Dia mengasihi seseorang. Yang pertama adalah Yesus yang mengasihi Marta, Maria, dan Lazarus (Yohanes 11: 5). Yang kedua adalah kasih Yesus bagi murid-murid-Nya (Yohanes 13:34). Yang ketiga dan menjadi fokus kita hari ini adalah Yesus yang mengasihi orang muda kaya yang mencari kehidupan kekal (Mrk 10:21).
Jika ada satu doa yang mampu mengubah jalannya sejarah dunia, itu adalah pendarasan rosario. Pada 1571, melalui doa rosario tanpa henti, liga negara-negara Katolik yang dipanggil oleh Paus Pius V mampu menghentikan kemajuan militer dari kerajaan Ottoman ke Eropa Barat di perang Lepanto, dekat Yunani. Pada tahun 1917, Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga anak kecil di Fatima, dan salah satu pesannya adalah berdoa rosario untuk kedamaian dunia. Melalui pendarasaan rosario secara nasional, Austria terbebas dari rezim komunis pada tahun 1955. Pada tahun 1960, dipimpin oleh wanita-wanita Katolik yang turun ke jalan sambil berdoa rosario, Brasil juga terhindar dari komunisme.
Ketika saya bertugas pelayanan di rumah sakit di Manila, saya menyadari bahwa kasus diabetes berkembang secara pesat, dan juga efeknya yang menakutkan bagi para pasien. Secara sederhana, diabetes adalah suatu kondisi pada seseorang yang tidak lagi dapat secara alami mengelola gula darahnya. Dalam kasus yang lebih serius, tubuh kehilangan kemampuan alami untuk menyembuhkan luka-lukanya. Pada awalnya adalah luka yang kecil, namun karena tubuh tidak lagi bisa meyembuhkan, infeksi-infeksi pun berkembang, dan ini mengarah pada gangren atau kematian jaringan-jaringan tubuh. Saya menemani beberapa pasien yang bergulat dengan situasi ini, dan menyaksikan bagaimana jari atau bahkan kaki mereka menghitam dan berubah bentuk. Ketika pengobatan biasa tidak lagi bekerja, amputasi menjadi satu-satunya pilihan untuk mencegah penyebaran infeksi. Sebagai seorang frater yang bertugas di rumah sakit, mendampingi pasien-pasien ini adalah salah satu misi terberat saya di rumah sakit.
Ketika saya merenungkan Injil hari Minggu ini, saya membaca beberapa berita tentang Gereja. Ada Kabar baik. Gereja Katolik di Filipina mempersiapkan diri untuk perayaan 500 tahun kedatangan iman Kristiani di negara ini. Baptisan dan Ekaristi pertama terjadi pada tahun 1521 sewaktu para misionaris Spanyol memulai misi evangelisasi mereka. Sebagai bagian dari persiapan besar ini, para Uskup Filipina memutuskan untuk merayakan tahun ini sebagai tahun para klerus [daikon, imam, dan uskup] dan rohaniwan. Dengan demikian, banyak program dan kegiatan diselenggarakan di berbagai keuskupan di Filipina untuk membantu para klerus dan biarawan untuk memperdalam komitmen mereka pada Allah dan pelayanan mereka kepada umat dan bangsa.
Beberapa tahun yang lalu, saya memberikan ceramah pengantar Kristologi bagi sekelompok profesional muda Filipina yang ingin memperdalam spiritualitas mereka. Pertanyaan pertama yang saya tanyakan kepada mereka adalah, “Menurut kamu, siapakah Yesus itu?” Jawabannya beragam. Beberapa memberikan formula dogmatis seperti Yesus adalah Allah, ada yang mengutip Alkitab dan mengatakan Yesus adalah Firman yang menjadi daging, seseorang menyatakan dengan berani bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan, dan sisanya berbagi keyakinan pribadi seperti Yesus adalah sahabat terdekat mereka, atau Yesus adalah Gembala mereka. Semua jawaban ini benar, tetapi tidak ada yang mengklaim bahwa Yesus adalah Kristus. Mempertimbangkan bahwa ceramah kami adalah Kristologi, kami sepertinya lupa akan identitas dasar Yesus, dalam bahasa Yunani, “Christos,” dalam bahasa Ibrani, “Mesias,” yang berarti “Yang Diurapi”. Untungnya, sekitar dua ribu tahun yang lalu, Simon Petrus mampu mengucapkan identitas dasar ini ketika Yesus Sendiri menanyakan pertanyaan ini.
Minggu ini kita mendengar tentang Yesus yang menyembuhkan seorang tuli dan bisu. Terinspirasi oleh mukjizat ini, kita berharap bahwa Yesus akan menyembuhkan penyakit kita dan memecahkan segala masalah kita. Jadi, kita pergi ke berbagai tempat ataupun kegiatan di mana kita percaya Yesus akan menyembuhkan kita. Kita pergi ke situs ziarah, kita menghadiri pertemuan doa, dan kita menjadi aktif terlibat di Gereja. Kita percaya bahwa iman kita kepada Yesus akan menyelamatkan kita. Namun, bagaimana jika doa kita tidak dikabulkan? Bagaimana jika masalah kita tidak selesai tetapi bertambah jumlahnya? Bagaimana jika penyakit kita tidak sembuh, tetapi semakin parah? Suatu kali, saya mengunjungi Flora [bukan nama sebenarnya], pasien kanker usus besar, dan dia bertanya kepada saya, “Frater, saya memiliki iman kepada Tuhan Yesus, dan saya dengan setia melayani di Gereja, tetapi mengapa saya menderita penyakit yang mengerikan ini? “Tentunya, ini pertanyaan yang sulit dijawab.