Minggu Prapaskah Pertama [18 Februari 2018] Markus 1:12-15
“Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya…(Mk. 1:12-13)”
Berpuasa merupakan praktek yang sangat tua dalam sejarah umat kehidupan. Orang-orang dari berbagai budaya dan agama memiliki kegiatan puasa dalam tradisi mereka. Kaum Brahmana dan para pertapa di India tekun berpuasa dan bermati raga. Para biksu Buddha tidak makan daging dan berpuasa secara teratur. Saudara-saudari kita Muslim berpuasa dari sebelum fajar menyingsing sampai matahari terbenam selama bulan Ramadhan. Ilmuwan juga telah membuktikan bahwa puasa memiliki banyak manfaat kesehatan.
Kita menahan diri untuk mengkonsumsi makanan dan air dalam jangka waktu tertentu karena berbagai alasan dan motif. Beberapa orang berpuasa untuk menundukkan keinginan daging dan mendisiplinkan diri. Beberapa orang berpuasa karena melihatnya sebagai cara untuk mencapai kebijaksanaan dan pencerahan. Beberapa yang lain berpuasa untuk mencapai hidup sehat dan seimbang. Sedangkan yang lain diminta untuk berpuasa sebagai persyaratan medis atau tes kesehatan. Saya ingat seorang teman dokter mengharuskan saya untuk berpuasa selama 6 sampai 8 jam sebelum darah saya diambil untuk pemeriksaan laboratorium.
Kita sekali lagi memasuki masa Prapaskah, dan Gereja menginstruksikan kita untuk berpuasa, berpantang, dan mengintensifkan doa kita. Namun, dibandingkan tradisi-tradisi lainnya, puasa kita sebenarnya sangat ringan. Kita hanya diwajibkan berpuasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung, dua hari saja dalam setahun! Cara kita berpuasa juga tidak terlalu sulit itu. Kita berpuasa dengan hanya makan sekali kenyang dalam sehari. Namun, pernah kita bertanya, mengapa kita, orang-orang Kristiani, harus berpuasa? Mengapa Gereja ingin kita mengikatkan diri pada praktik kuno ini?
Salah satu alasannya adalah kita mengikuti teladan para nabi besar kita. Musa berpuasa selama 40 hari sebelum dia menerima Hukum dari Tuhan di gunung Sinai (Kel 34:28). Elia berpuasa dari makanan ketika dia berjalan 40 hari untuk melihat Tuhan di gunung Horeb (1 Raja 19: 8). Akhirnya, Yesus sendiri pergi ke padang gurun dan berpuasa selama 40 hari sebelum Ia memulai misi-Nya. Mengapa para nabi besar ini dan Yesus sendiri berpuasa? Jika kita memperhatikan dengan seksama, Musa dan Elia berpuasa karena mereka mempersiapkan diri untuk bertemu Tuhan. Seperti mereka, puasa kita terkait secara fundamental dengan perjalanan kita menuju Tuhan. Seringkali kita sangat bangga dengan diri kita sendiri, merasa mandiri karena kita telah mencapai dan mengumpulkan banyak hal dalam hidup kita. Puasa membuat kita lapar dan lemah, dan sekali lagi kita diingatkan akan kerentanan dan kefanaan kita sebagai manusia. Ketika kita merasa tidak berdaya, inilah juga saat ketika kita diajak menyadari ketergantungan radikal kita terhadap Tuhan, yang adalah kekuatan sejati kita. Sungguh, menjadi seorang manusia yang sejati adalah menjadi manusia yang benar-benar terhubung dengan Tuhan, sumber kemanusiaan dan kehidupan kita. Puasa menjadi sarana yang baik untuk memurnikan hati kita untuk melihat Tuhan karena hanya ‘hati yang murni bisa melihat Tuhan.”
Kita juga mengamati bahwa Musa, Elia, dan Yesus berpuasa sesaat sebelum mereka memulai misi besar mereka. Musa menerima hukum Taurat dan mengajarkannya kepada bangsa Israel. Elia diutus untuk mengurapi Hazael sebagai raja Aram, Yehu sebagai raja Israel, dan Elisa sebagai seorang nabi. Yesus akan memulai pelayanan-Nya yang akan membawa-Nya ke kayu salib, sengsara, wafat, dan juga kebangkitan-Nya. Seperti halnya mereka, puasa kita mempersiapkan kita untuk misi sejati kita sebagai orang Kristiani. Seringkali, kita sibuk dengan banyak hal, dan puasa membantu kita untuk mengarahkan dan memfokuskan kembali diri kita pada misi yang telah Tuhan berikan kepada kita. Dengan waktu kita yang terbatas di bumi ini, apa hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup kita? Dengan tubuh fana kita, sudahkah kita memberi cukup waktu dan usaha untuk misi kita? Apakah puasa kita membawa kita lebih dekat kepada Tuhan dan misi kita?
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rabu Abu adalah awal dari Masa liturgi Pra-paskah di Gereja Katolik. Nama ini berasal dari tradisi kuno di mana setiap orang Katolik yang menghadiri misa pada hari ini akan menerima tanda salib abu di dahinya. Abu ini biasanya berasal dari daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya, dan kemudian dibakar.




Menurut tradisi, nama tiga orang Majus adalah Balthazar, Melchior, dan Gaspar. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan untuk Majus adalah ‘magos’, yang berarti ‘seseorang dengan kekuatan magis atau sihir’, dan mempraktekkan ilmu magis adalah sebuah kesalahan besar di mata orang-orang Yahudi (2 Taw 33: 6). Bahkan Gereja Katolik sendiri melarang kita memiliki kontak dengan praktek magis atau sihir apa pun (Katekismus 2116). Namun, kita tidak bisa memastikan bentuk magis apa yang digunakan oleh orang Majus ini, tapi satu hal yang pasti bahwa mereka membaca tanda zaman dan mengikuti bintang. Karena itu, mereka bias disebut sebagai astrolog kuno, pembaca bintang yang memprediksi perilaku manusia dan masa depan.
Hari ini, Gereja merayakan Pesta Keluarga Kudus. Santo Yusuf dan Perawan Maria adalah pria dan wanita adalah paling kudus di antara manusia, dan pusat keluarga mereka adalah Yesus, Putra Allah. Sungguh tidak ada keluarga lain yang dapat menyamai keluarga kudus yang satu ini. Melihat keluarga kita sendiri, kita sadar bahwa kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Keluarga Kudus ini. Benar bahwa kita semua dipanggil untuk menjadi kudus seperti mereka, tapi kita terus bergulat dan gagal. Tidak ada di antara kita yang dikandung tanpa noda seperti Perawan Maria. Tidak ada wanita di antara kita yang melahirkan Putra Allah melalui kuasa Roh Kudus. Banyak dari kita pasti suka tidur, tapi siapa di antara kita seperti St. Yusuf, yang menerima kabar dari Malaikat Allah dalam mimpi kita? Terlepas dari upaya terbaik kita, kita terus saling menyakiti, gagal, jatuh, dan jauh dari contoh ideal Keluarga Kudus.
Natal adalah salah satu hari yang paling menggembirakan di dalam Gereja. Tapi, apa yang membuat kita gembira Natal ini? Apakah karena banyak pesta? Apakah karena kita menerima banyak hadiah? Apakah karena kita bisa berkumpul dengan keluarga? Terlarut dalam banyak perayaan, kegembiraan, belanja, dan liburan, kita sering melupakan alasan utama di balik Natal. Tentunya, kita semua tahu Natal adalah hari kelahiran Yesus Kristus, tapi apa arti sesungguhnya kelahiran ini bagi kita? Mari kita berhenti sejenak dan merenungkan Injil Yohanes.