Maria Magdalena dan Kebangkitan

Minggu Paskah [21 April 2019] Yohanes 20: 1-9

mary magdalene at tombMaria Magdalena adalah seorang murid perempuan yang sangat mencintai gurunya, dan sebagai seorang wanita, ada sesuatu yang dia ajarkan kepada kita. Lukas mengatakan dalam Injilnya bahwa Maria adalah sebagai seorang wanita “yang darinya tujuh setan keluar” [lihat Luk 8:2]. Pastinya merupakan pengalaman yang mengerikan untuk disiksa oleh tujuh setan, dan ketika Yesus menyembuhkannya, ia mengungkapkan rasa terima kasihnya yang mendalam dengan mengikuti Yesus. Sebagai salah satu murid Yesus, ia terbukti paling setia kepada gurunya. Ketika banyak pengikut Yesus melarikan diri untuk menyelamatkan hidup mereka, dan bahkan Petrus, tokoh utama dalam kelompok itu, menyangkal Yesus, Maria mengikuti Yesus dalam jalan Salib-Nya sampai akhir. Dia menerima penghinaan yang Yesus terima, dia menanggung malu yang Yesus tanggung. Bahkan, dia berdiri di samping salib bersama dengan ibu Yesus dan Yohanes yang terkasih.

Namun, cinta Maria bahkan lebih besar daripada kematian. Dia adalah orang pertama yang mengunjungi makam Yesus pagi-pagi buta. Kita ingat bahwa setelah Yesus mati di kayu salib, tubuhnya dengan tergesa-gesa dibawa ke makam oleh Nikodemus dan Joseph Arimathea karena hari Sabat semakin dekat. Selama hari Sabat, orang Yahudi tidak diizinkan untuk menguburkan orang mati. Maria tahu bahwa tubuh Yesus tidak dirawat dengan baik, dan dia ingin memastikan bahwa Yesus mendapatkan penguburan yang layak. Dia datang ke makam untuk mengekspresikan cintanya yang terakhir kalinya bagi sang Guru. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Maria hanya melihat makam kosong. Ketakutan luar biasa merasuki dirinya. Dia mungkin berpikir bahwa beberapa pria jahat mencuri dan menodai tubuh sang Guru. Secara naluriah, dia berlari kepada para pemimpin Gereja setelah Yesus sendiri, Petrus dan Yohanes.

Setelah memeriksa makam, Petrus gagal untuk mengerti apa yang terjadi, dan dia kembali ke rumah. Maria juga tidak mengerti dan menangisi kehilangan cintanya, tetapi ada perbedaan yang signifikan, tidak seperti Petrus, Maria tidak meninggalkan makam. Dalam kebingungan dan ketidakberartian, Maria tidak meninggalkan Yesus. Sungguh, Juruselamat tidak mengecewakan dan memberi Maria Magdalena hak istimewa untuk menyaksikan Yesus yang telah bangkit. Cinta dan kesetiaannya yang luar biasa menuntunnya ke sukacita Kebangkitan. Dia pun menjadi pewarta pertama akan Yesus yang bangkit.

Dalam Injil, seringkali murid perempuan digambarkan sebagai model cinta kasih, kesetiaan dan ketekunan. Tuhan menciptakan pria dan wanita setara dalam martabat, tetapi mereka berbeda dalam karakter. Memang, pria seperti Petrus, adalah figur otoritas, tetapi wanita unggul dalam apa yang sering kurang pada murid pria. Saya telah mengunjungi banyak tempat, komunitas dan gereja di Indonesia dan Filipina, dan satu hal yang sama dari tempat-tempat ini, adalah bahwa wanita sering kali lebih banyak jumlahnya dari kaum pria. Saya baru saja ditugaskan di Paroki Redemptor Mundi, Surabaya, Indonesia, dan pandangan sederhana akan membuktikan bahwa lebih banyak wanita menghadiri misa pagi harian kami.

Maria Magdalena, seorang murid perempuan, menunjukkan kepada kita bahwa adalah mungkin untuk mencintai dan setia ketika segala sesuatu menjadi sulit, ketika hidup melempari kita segala permasalahan, dan ketika kebingungan dan ketidakberartian tampaknya berkuasa. Maria Magdalena adalah wanita-wanita yang terus-menerus berdoa untuk para imam meskipun begitu banyak kegagalan yang mereka buat. Maria adalah para ibu yang berkorban setiap harinya untuk anak-anak mereka meskipun tidak dihargai. Maria adalah para suster religius yang melayani orang miskin dengan penuh komitmen meskipun ada banyak jalan terjal dan gosip tidak sedap yang harus dihadapi. Kita harus berterima kasih banyak kepada Maria Magdalena di sekitar kita. Mereka menunjukkan kepada kita bahwa di sana kasih benar-benar mengalahkan maut, dan bahwa ada kebangkitan bahkan di kubur kosong yang tidak masuk akal.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Our Core Memories

Palm Sunday of the Lord’s Passion [April 14, 2019] Luke 19:28-40/Luke 23:1-49

“Blessed is the king who comes in the name of the Lord (Luk 19:38).”

jesus enter jerusalem 3One of the greatest gifts to humanity is the gift of memory. It gives us a sense of identity. Biology teaches us that almost all our body parts are being replaced over the years. One-year-old Stephen is biologically different from thirty-year-old Stephen. All bodily cells, with the sole exception of his eyes’ lens, are changed. What unites thirty-year-old Stephen with his younger self as well as his future self is his memory.

Not only does memory enable us to connect to ourselves, but it also relates us to other people. We are able to recognize our parents, siblings, and friends because we remember all the good thing, we have received from them. Our memories shape who we are. Thus, the illness that ruins our memories like Alzheimer, is one of the most heinous. Persons with Alzheimer gradually can no longer remember persons who love them; they even cannot recall doing their basic functions like eating and going to the restroom.

One of the uniqueness of human beings is that we do not have only individual memory, but we have communal memory. These common memories are passed through generations, and these form the identity of a group. We are Indonesians, Filipinos, Indians, Americans, or other nations because we have common memories that unite us as a nation. When a nation is inflicted by a kind “Alzheimer” that destroys its common memory, it begins to lose its identity as a nation. Cardinal Robert Sarah from Guinea reminds that Europe is in crisis and in danger of dissolution. He argues that the reason is that the European people began to forget their historical and cultural roots, their common memories.

We Christian share the core and fundamental memory. Palm Sunday or Jesus’ entrance to Jerusalem marks the beginning of the most important drama of the Gospel, the drama of the Holy Week. The memory was so significant to the early Christians that the episode was recorded in all four Gospels with great details (Mat 21:1-11, Mark 11:1-11, and John 12:12-19), though with some different emphases. We may even say that the Holy Week especially the Last Supper, the Passion, and Resurrection are the core and foundational memory of every true Christian.

This explains why the Church celebrates Holy Week every year, not because she simply wants to have big events, but because this celebration reconnects us with the core memories that make us as Christians. Yet, we do not only remember the events of the past; we are not just spectators. Through the power of the liturgy, we relive the fundamental stories of Jesus Christ. Together with Christ, we enter Jerusalem. Together with Him, we celebrate the Passover. Together with Him, we are persecuted, crucified and we die. Together with Him, we are buried in the dark tomb. But together with Him, we are raised from the dead.

However, it is our choice whether to follow Him or go against Him: to become people who shout “Hosanna” or people who cry “Crucify Him”; to become a disciple who walks the way of the cross or disciples who run away from Him; to be crucified with Jesus or to crucify Jesus. But it is only the true followers of Jesus who can together with Him be raised from the dead. Holy Week is our time to make that choice: to follow Jesus or to go against Him.

Deacon Valentinus Bayuhadi Rusneo, OP

Memori Kita

Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan [14 April 2019] Lukas 19: 28-40 / Lukas 23: 1-49

jesus enter jerusalem 2Salah satu karunia terbesar bagi umat manusia adalah memori. Ini memberi kesadaran akan identitas kita. Biologi mengajarkan kita bahwa hampir semua bagian tubuh kita akan tergantikan saat kita hidup. Stephen yang berusia satu tahun secara biologis berbeda dari Stephen yang berusia tiga puluh tahun. Semua sel tubuhnya telah digantikan dan akan terus digantikan sampai ia wafat. Apa yang menyatukan Stephen yang berusia tiga puluh tahun dengan dirinya yang lebih muda serta diri di masa depannya adalah ingatannya.

Memori tidak hanya memungkinkan kita terhubung dengan diri kita sendiri, tetapi juga menghubungkan kita dengan orang lain. Kita dapat mengenali orang tua, saudara, dan teman-teman kita karena kita mengingat semua hal baik yang kita terima dari mereka. Ingatan kita membentuk siapa kita. Jadi, penyakit yang merusak ingatan kita seperti Alzheimer, adalah salah satu yang paling kejam. Orang-orang dengan Alzheimer secara bertahap tidak lagi dapat mengingat orang-orang yang mencintai mereka, dan bahkan mereka tidak dapat mengingat melakukan fungsi dasar mereka seperti makan dan pergi ke kamar kecil.

Salah satu keunikan manusia adalah bahwa kita tidak hanya memiliki ingatan individu, tetapi kita memiliki ingatan bersama. Ingatan bersama ini diturunkan dari generasi ke generasi, dan ini membentuk identitas kelompok. Kita adalah orang Indonesia, Filipina, India, Amerika, atau bangsa lain karena kita memiliki memori bersama yang menyatukan kita sebagai suatu bangsa. Ketika suatu bangsa dipengaruhi oleh jenis “alzhaimer” yang menghancurkan ingatan bersama mereka, mereka mulai kehilangan identitas mereka sebagai suatu bangsa. Kardinal Robert Sarah dari Guinea mengingatkan bahwa Eropa sedang dalam krisis dan dalam bahaya pembubaran. Dia berpendapat bahwa alasannya adalah bahwa orang-orang Eropa mulai melupakan akar sejarah dan budaya mereka, memori bersama mereka.

Kita umat Kristiani berbagi memori inti dan fundamental yang sama. Minggu Palma atau Yesus yang memasuki kota Yerusalem menandai dimulainya drama Injil yang paling penting, drama Pekan Suci. Memori ini begitu penting bagi pengikut Yesus perdana sehingga episode ini direkam dalam keempat Injil dengan sangat rinci (Mat 21: 1-11, Markus 11: 1-11, dan Yohanes 12: 12-19), meskipun dengan beberapa tekanan berbeda. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa Pekan Suci terutama Perjamuan Terakhir, Kisah Sengsara, Wafat dan Kebangkitan adalah memori inti dan mendasar dari setiap orang Kristiani sejati.

Inilah mengapa Gereja merayakan Pekan Suci setiap tahun bukan karena ia hanya ingin mengadakan acara besar, tetapi perayaan ini menghubungkan kembali kita dengan memori inti yang menjadikan kita sebagai orang Kristiani. Namun, kita tidak hanya mengingat peristiwa masa lalu, dan kita bukan hanya sekedar penonton. Melalui kekuatan liturgi, kita menghidupkan kembali kisah-kisah mendasar tentang Yesus Kristus. Bersama dengan Kristus, kita memasuki Yerusalem. Bersama-sama dengan Dia, kita merayakan Perjamuan Terakhir. Bersama-sama dengan Dia, kita dianiaya, disalibkan dan mati. Bersama-sama dengan Dia, kita dimakamkan di makam yang gelap. Dan bersama-sama dengan Dia, kita dibangkitkan dari kematian.

Namun, itu adalah pilihan kita untuk mengikuti-Nya atau melawan-Nya: untuk menjadi orang-orang yang berseru “Hosanna” atau orang-orang yang berteriak “Salibkan Dia”; untuk menjadi seorang murid yang berjalan di jalan salib atau murid-murid yang melarikan diri dari-Nya; untuk disalibkan bersama Yesus atau untuk menyalibkan Yesus. Sekarang hanya pengikut Yesus yang benar yang dapat bersama-sama dengan Yesus dibangkitkan dari kematian. Pekan Suci adalah waktu kita untuk membuat pilihan untuk mengikuti Yesus atau untuk melawan Dia.

Diakon Valentinus Bayuhadi Rusneo, OP

A Father Who Never Abandons His Son

Fourth Sunday of Lent [March 31, 2019] Luke 15:1-3, 11-32

prodigal fatherThe Parable of the Prodigal Son is one of the most moving stories of Jesus and has been regarded as the all-time favorite. Why? I guess one of the reasons is the story of the Prodigal Son is also our story.

Let us look at some details of the parable especially the father and the younger son. The son demands his inheritance while his father is still alive and well. That’s a no-no! It simply means the son wishes his father’s death, and wills that he is no longer part of the family [see Sir 33:20-24]. The offended father has the authority to discipline the ungrateful son, but he does not! Because of his tremendous love for the son, he allows the son to get what he wants. Like the son, we often offend the Lord, wishing to be away from Him. We choose “the inheritance”, the good things God created like wealth, power, and pleasure above and over Him. We keep abusing His love and kindness, knowing that He is a Good Father.

However, the younger son’s action has a terrible consequence. The farther he is away from his father, the more pitiful his life becomes. The inheritance without the true owner is nothing but a passing shadow. The Jewish young man loses everything, and even becomes the caretaker of pigs, the very animal Jews hate! He becomes so low to the point of eating what the pigs eat. Like the younger son, without God, we become miserable. Yes, we may become richer, more powerful and famous, but we have lost our souls. We never become truly happy because these pleasurable things without God are mere addiction.

The son comes to his sense when he remembers his father and his life with him. Even the father is far away, it does not mean he is idle. He is drawing his lost son through good memories they share. No matter far we are from God, He is constantly pulling us back to Him through His mysterious ways. Yet, it remains our choice to heed the voice of our conscience but ignore it and plunge ourselves further into sin.

The parable also speaks about the father who is patiently waiting, looking forward to the day that his son returns home. The moment he sees his son from distance, without a second thought, he runs toward his son and embraces him and kisses him. The son never thinks that he deserves to be his son once more, and just wants to be treated like a servant. But, mercy precisely is to receive something we do not deserve. The father receives back his young man as his child.

Allow me to close this simple reflection with a story. In 1988, a terrible earthquake hit Armenia. In just four minutes, buildings crumbled, and thousands died. A man immediately ran to a school where his son studied. He had promised to his son that he would be there to fetch him. He saw that the school was now piles of rubbles. He rushed to the site where the class used to be. He started digging barehandedly. Some people tried to help him but stopped afterward. Some people discouraged him, saying, “It is useless. They are dead!” He refused to give up, and continue digging for hours. Then after more than 30 hours of searching, he heard a small voice from the rubble. He shouted, “Arman!” and he heard a response, “Father!” His boy was still alive, and together with him were other pupils. That day, the man had saved 14 children who got trapped. Arman told his friends, “I told you, my father will come no matter what!”

The parable of the Prodigal Son is so beautiful because it does not only reflect who we are but also reveals who our God is. He is a merciful Father who refuses to give up hope on us, however desperate we have become.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Exodus

First Sunday of Lent [March 10, 2019] Luke 4:1-11

missionary of charityThe Spirit leads Jesus to the desert and Jesus remains there for forty days. The questions are: why does the Holy Spirit bring Jesus to the desert? Why does it have to be forty days? If we are familiar with the Old Testament, we recall that the journey of the Israelites in the desert lasted for forty years – the great exodus. After the great escape from the slavery of Egypt, they needed to walk through the desert before entering the Promise Land. Yet, it is not simply about the story of greatest escape in the history, but how God formed Israel as His people. In desert, God made a covenant with Israel through the mediation of Moses. In desert, God gave the Law as the basic guide for the Israelites living as His people. In the desert, God provided them with water, manna from heaven, and protected them from their enemies. However, in the desert also, the Israelites rebelled against God. They made and worship the golden calf. They complained a lot, and they wanted to kill Moses. It was a foundational story that covered almost the four Books of Moses [Exodus, Leviticus, Numbers and Deuteronomy].

The Spirit brings Jesus to the wilderness because Jesus is going to enter into His Exodus. Jesus is the New Moses who leads the New Israel into the new exodus. If we want to follow Jesus and call ourselves as the Christian, we need to follow Jesus to the wilderness and the new Exodus. Yet, the desert is far from being a comfortable place. It is a place of trials and temptation. But, why does Jesus want us to follow Him into the place of trials? Because Jesus understands that faith without temptation is empty, hope without challenges is fantasy and love without sacrifice is cheap.

If we read closely the story of Israel in the desert, they could reach the Promised Land in just two-week time even by walking. But, why did it took them forty years? It is because when they were about to enter the Land, they became afraid of the native people who stayed there, and they complained against God. They were just one step away from the promised land, and yet they squandered the opportunity because they did not have faith in God. Then, God punished them, and placed them in the desert for forty years. They needed to learn the lesson in a hard way.

Living a comfortable life does not make us really grow in faith. In fact, it is in the harshest places that we discover God alive and fresh. When I visited the hospitals, meeting the patients with terrible sickness like cancer and kidney failure; when I visited the jails, talking to inmates, I witnessed the stronger faith, hope and love.

Once I met this lady, just called her Mary. She was a single mother, and her only child was a special child. His brain is shrinking, and he cannot do anything but clap his hands. It was a truly difficult situation, and what made it worse was when some other Christians who professed that Jesus is Lord and Savior said to her that the child was a curse. She was living in a cruel world, and terrible people around him. She was figuratively living in the wilderness. And I asked her what made her remain active in the Church. She said, “because I know God loves me through my special child.” Once again I saw a faith that moves a mountain.

Often it is through trials, challenges and the “desert” that we learn the true value of faith, hope and love.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Eksodus

Hari Minggu Prapaskah Pertama [9 Maret 2019] Lukas 4: 1-11

Satan-Tempts-Jesus-GettyImages-463967715-5808f7b65f9b58564c318113Roh membawa Yesus ke padang gurun dan Yesus tinggal di sana selama empat puluh hari. Pertanyaannya adalah: mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun? Mengapa harus empat puluh hari? Jika kita akrab dengan Perjanjian Lama, kita tahu bahwa bangsa Israel berjalan di padang gurun selama empat puluh tahun. Sebuah peristiwa yang disebut juga sebagai “eksodus”. Setelah keluar dari dari perbudakan Mesir, mereka harus berjalan melalui padang gurun sebelum memasuki Tanah Perjanjian. Namun, ini bukan hanya tentang kisah pelarian mereka dari Mesir, tetapi bagaimana Allah membentuk Israel sebagai umat-Nya. Di padang gurun Sinai, Allah membuat perjanjian dengan Israel melalui mediasi Musa. Di padang gurun, Allah memberikan Hukum sebagai pedoman dasar bagi Israel yang hidup sebagai umat-Nya. Di padang gurun, Tuhan memberi mereka air, manna dari surga, dan melindungi mereka dari musuh. Namun, di padang gurun juga, Israel memberontak melawan Tuhan. Mereka membuat dan menyembah anak lembu emas. Mereka banyak mengeluh dan tidak tahu berterima kasih. Itu adalah kisah mendasar yang mencakup hampir empat Kitab Musa [Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan].

Roh membawa Yesus ke padang gurun karena Yesus akan menjalani Eksodus-Nya. Yesus adalah sang Musa yang Baru yang memimpin Israel Baru ke dalam eksodus baru. Jika kita ingin mengikuti Yesus dan menyebut diri kita sebagai orang Kristiani, kita perlu mengikuti Yesus ke padang gurun dan eksodus baru. Namun, padang gurun bukanlah tempat yang nyaman. Itu adalah tempat pencobaan dan godaan. Tetapi, mengapa Yesus ingin kita mengikuti Dia ke tempat pencobaan? Karena Yesus mengerti bahwa iman tanpa godaan adalah hampa, harapan tanpa tantangan adalah fantasi dan kasih tanpa pengorbanan adalah murahan.

Jika kita membaca dengan cermat kisah bangsa Israel di padang gurun, mereka sebenarnya dapat mencapai Tanah Perjanjian hanya dalam waktu dua minggu bahkan dengan berjalan kaki. Tetapi, mengapa itu menjadi empat puluh tahun? Hal ini karena ketika mereka akan memasuki Tanah Perjanjian, mereka takut pada penduduk asli yang tinggal di sana, dan mereka mengeluh kepada Tuhan. Hanya satu langkah lagi sebelum sampai di Tanah Terjanji, namun mereka menyia-nyiakan kesempatan itu karena mereka tidak memiliki iman kepada Tuhan. Kemudian, Tuhan menghukum mereka, dan menempatkan mereka di padang gurun selama empat puluh tahun. Mereka perlu belajar dengan cara yang sulit.

Hidup dalam kenyamanan tidak membuat kita benar-benar tumbuh dalam iman. Tanpa terduga, di tempat-tempat terberat saya menemukan Tuhan hidup dan berkuasa. Ketika saya mengunjungi rumah sakit, menemui pasien dengan penyakit mengerikan seperti kanker dan gagal ginjal; Ketika saya mengunjungi penjara, berbicara dengan para tahanan, saya menyaksikan iman, harapan, dan kasih yang luar biasa.

Suatu kali saya bertemu seorang wanita, sebut saja dia Maria. Dia adalah seorang ibu tunggal, dan satu-satunya anak adalah anak yang berkebutuhan khusus. Otaknya menyusut, dan dia tidak bisa melakukan apa pun selain bertepuk tangan. Itu benar-benar situasi yang sulit, dan yang lebih buruk adalah ketika beberapa orang-orang lain yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat mengatakan kepadanya bahwa anak itu adalah kutukan. Dia hidup di dunia yang kejam, dan sungguh hidup di padang gurun. Dan saya bertanya kepadanya apa yang membuatnya tetap aktif di Gereja. Dia berkata, “karena saya tahu Tuhan mencintai saya melalui anak saya yang special ini.” Sekali lagi saya melihat iman yang dapat memindahkan gunung.

Seringkali melalui cobaan, tantangan, dan “gurun” kita belajar nilai sebenarnya dari iman, harapan, dan kasih.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Heart

Reflection on the 8th Sunday in Ordinary Time [March 3, 2019] Luke 6:39-45

prisoner prayer
Prisoner praying during church ceremony at Naivasha Maxium Security Prison. During the church service some prisoners pray on their own. – 24.11.2012. Copyright: Ulrik Pedersen

These past three Sundays, we have been listening on the series of Jesus’ teachings given at the Plain [Luk 6:20-49]. Two Sundays ago, we read about the Beatitudes. This is the set of conditions that leads us to true happiness and blessedness. Last Sunday we discover some practical steps to achieve this Beatitude, like we shall love our enemies. And this Sunday, we find the heart of Jesus’ teachings: it is the formation of the heart.

In our contemporary world, the heart generally symbolizes the source of affection, passion and love. Filipinos love basketball, and they give their best support every time their national team compete in international tournaments. Their battle cry is “Laban! Puso!” literally translated as “Fight! Heart!” Surely, the heart here refers to the burning passion to overcome enormous challenges during the ball game.

When a lady is not sure whether to accept or not a man to be her boyfriend, we often advise her to follow her “heart”. When she has a new boyfriend and is in love, she calls him as her “sweetheart”. But, when she suddenly loses her boyfriend because of unexpected betrayal, she suffers an immense “broken heart”. Because of this traumatic experience, she refuses to love anymore, and she now possesses “the heart of stone.” Surely, a lot of hearts!

However, the word “Heart” in Bible has a slightly different meaning from our common understandings. Heart in the Bible is not just the source of our emotional life, but the center of the human life, vitality and personality. It is also the seat of human intellect, judgment and conscience. Thus, when Jesus says “A good person out of the store of goodness in his heart produces good…” it does not simply mean that person has the emotions that support him in doing good. It means a person has a fundamental judgement, stable attitude and permanent character to choose and do good, despite the contrary feelings he has. Good-hearted person can do good even person he hates. For Jesus, heart is not only affection, but it is also action.

In the context, the formation of the heart means the formation of the entire human person. Jesus understands that unless we possess the characters of a good man or woman, we are just staging a play, and become hypocrites [meaning actors] before other people.

How are we going to form our hearts? Jesus gives us a hint as He says, “from the fullness of the heart the mouth speaks.” The question then is: what fills our hearts? It is evil and wicked things, or good and holy things?

I am currently assigned in General Santos City, Mindanao, Philippines, and one of the highlights of my stay is when I visit and celebrate mass with the female inmates in the city jail. At first, I was hesitant and afraid to interact with them as I perceived them as being “criminals”. These are women with “wicked hearts”. But, I was totally wrong. When I prayed with them, I witnessed women prayed earnestly and deeply in faith. I met this woman, just call her Mary, and I listened to her story. She has been in the prison for five years, and due to ineffective justice system, her trial is still on going. She is a single mother with five children. She was caught using drugs, and she admitted it to escape from the reality of harsh life. She was crying as she narrated her story. And, I asked her what made endure her terrible situation. She simply answered, “I have God in my heart.”

We are living in much better condition than Mary, but do we have God in our heart? What fills our heart? Do we fill our hearts with Godly things? Do we allow God to reign in our hearts?

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hati

Renungan pada Minggu ke-8 pada Masa Biasa [3 Maret 2019] Lukas 6: 39-45

bible-in-jailTiga hari Minggu terakhir ini, kita telah mendengarkan serangkaian ajaran Yesus yang diberikan di Dataran [Luk 6]. Dua Minggu yang lalu, kita membaca tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun kita menuju kebahagiaan dan berkat sejati. Minggu lalu kita mendapatkan beberapa langkah praktis untuk mencapai Sabda Bahagia ini. Dan hari Minggu ini, kita menemukan inti dari ajaran Yesus: ini adalah pembentukan hati manusia.

Di dunia kontemporer, “hati” umumnya melambangkan sumber kasih sayang, perasaan, dan cinta. Orang Filipina sangat senang dengan permainan bola basket, dan mereka memberikan dukungan terbaik mereka setiap kali tim nasional mereka bersaing di turnamen internasional. Seruan mereka bagi tim national mereka adalah “Laban! Puso! ”Secara harfiah diterjemahkan sebagai“ Berjuang dengan sepenuh hati! ”Tentunya, hati di sini mengacu pada hasrat yang membara untuk mengatasi tantangan besar di setiap pertandingan.

Ketika seorang wanita tidak yakin harus menerima atau tidak seorang pria menjadi kekasihnya, kita sering menasihatinya untuk mengikuti  kata “hati”-nya. Ketika dia memiliki kekasih baru dan sedang jatuh “hati”, dia memanggilnya sebagainya sebagai “belahan hati”. Tapi, ketika dia tiba-tiba kehilangan kekasihnya karena pengkhianatan yang tak terduga, dia menderita “patah hati” yang sangat mendalam. Karena pengalaman traumatis ini, ia menolak untuk mencintai lagi, dan sekarang ia “berhati batu.”

Namun, kata “Hati” dalam Alkitab memiliki arti yang sedikit berbeda. Hati di dalam Alkitab bukan hanya sumber kehidupan emosional kita, tetapi juga pusat kekuatan hidup, dan kepribadian manusia. Ini juga merupakan tahta hati nurani manusia, akal budi dan kebebasan. Jadi, ketika Yesus berkata, “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik …” ini bukan hanya berarti bahwa orang tersebut memiliki perasaan-perasaan yang mendukungnya melakukan perbuatan baik. Ini berarti seseorang memiliki orientasi mendasar, sikap stabil dan karakter permanen untuk memilih dan berbuat baik, walaupun terkadang perasaannya tidak mendukungnya berbuat baik. Bagi Yesus, hati bukan hanya perasaan, tetapi juga tindakan.

Dalam Kitab Suci pembentukan hati berarti pembentukan manusia secara total. Yesus memahami bahwa kecuali kita memiliki karakter pria atau wanita yang baik, kita hanya melakukan sandiwara, dan menjadi orang munafik di hadapan orang lain.

Bagaimana kita akan membentuk hati kita? Yesus memberi kita petunjuk ketika Dia berkata, “dari kepenuhan hati, mulut berbicara.” Pertanyaannya kemudian adalah: apa yang memenuhi hati kita? Apakah hal-hal yang jahat, atau hal yang baik dan suci?

Saat ini saya ditugaskan di General Santos City, Mindanao, Filipina, dan salah satu hal yang paling berkesan selama saya tinggal di sini adalah ketika saya mengunjungi dan merayakan misa bersama para narapidana wanita di penjara kota ini. Pada awalnya, saya ragu-ragu dan takut untuk berinteraksi dengan mereka karena saya menganggap mereka sebagai “criminal”.  Ada pemikiran bahwa mereka adalah wanita-wanita dengan “hati yang jahat”. Kalo hati mereka baik, kenapa harus masuk penjara? Tapi, saya benar-benar salah. Ketika saya berdoa bersama mereka, saya menyaksikan para wanita berdoa dengan kepenuhan iman. Sesuatu hal yang saya jarang lihat di luar penjara. Saya juga berbicara dengan seorang wanita, sebut saja namanya Maria. Dia telah berada di penjara selama lima tahun, dan karena sistem peradilan yang tidak efektif, persidangannya masih berlangsung, dan dia tidak tahu sampai kapan. Dia adalah ibu tunggal dengan lima anak. Dia kedapatan menggunakan narkoba, dan dia mengaku menggunakan narkoba karena ingin melarikan diri dari kenyataan hidup yang keras. Dia menangis ketika dia menceritakan kisahnya. Dan, saya bertanya kepadanya apa yang membuat dia bertahan dalam situasi yang mengerikan itu. Dia hanya menjawab, “Saya memiliki Tuhan di hati saya.”

Kita hidup dalam kondisi yang jauh lebih baik daripada Maria, tetapi apakah kita memiliki Allah di dalam hati kita? Apa yang memenuhi hati kita? Apakah kita mengisi hati kita dengan hal-hal yang saleh? Apakah kita membiarkan Tuhan berkuasa di hati kita?

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Behind God’s Calling

Fifth Sunday of Ordinary Time [February 10, 2019] Luke 5:1-11

procession 2This Sunday, we listen to the vocation stories of great men in the Bible. From the first reading, we learn how Isaiah was called by God to be His prophet to Judah. In the Temple of Jerusalem, he saw the Lord God surrounded by His seraphim. Isaiah was terrified and said that he had unclean lips. An angel then placed a burning ember on his tongue to remove his wickedness. God, then said, “Whom shall I send?” Isaiah replied with confidence, “Here I am, send me!”

In the second reading, St. Paul wrote to the Church in Corinth and reminded them about the Gospel they had received. Paul assured them that he himself was the recipient of this Gospel no less from the risen Christ Himself. Though he used to be the zealous persecutor of Christians, Jesus called him. By the grace of God, Paul toiled day and night for the building up of the Church.

From today’s Gospel, we listen to the call of the first disciples: Simon, Andrew, James, and John. Luke the evangelist tells us about seasoned fishermen who failed to catch any fish, but Jesus, a carpenter, tells them to ‘go into the deep’. They hesitate, but they follow nonetheless. Lo and behold, they are able to catch a large amount of fish, to the point of destroying their nets. Eventually, Jesus calls them and makes them as fishers of men, and they follow Jesus.

Like Isaiah, Paul and the first Disciples, we are also called by God to follow Him. Some may receive a vocation to the priesthood, some others to religious life, others to build a family, and others may be single yet living a holy life. God also calls us in various ways. Like Isaiah or Paul, some receive extraordinary mystical experiences. But, many of us may be called in the most ordinary and unexpected ways. One day a young man asked whether he has a vocation to the priesthood, especially to the Dominican Order. I said to him, “Well, take the entrance exam first! If you pass you may have the vocation, if not, God may call you somewhere else.”

Sometimes, we ask the Lord a deeper question, “Why me Lord?” but often, we no longer bother to find the answer. Yet, it remains a valid question to be answered. Why did He choose Isaiah, Paul, and Peter? Why does Jesus choose you and me? The answer surprisingly is in the Bible.

When Moses made his farewell speech before the Israelites who were about to enter the Promised Land, he reminded them the reason why God chose Israel, “It was because the LORD loved you and because of his fidelity to the oath he had sworn to your ancestors (Deu 7:8).” God’s choice for Israel is because of His love and faithfulness. The same love and fidelity are the reason behind our calling. God just simply loves us and He draws us to Himself. It is not because we are good, smart and talented. It is not because we are worthy of the call. Isaiah was a man of unclean lips, Paul was a persecutor of the Church, and Peter had his own agenda. Yet, despite these imperfections, God keeps calling us and giving us what we need. How many times, when we betray Him and run away from His call, He remains patient with us and ready to accept us back. If it is not a love, what is it?

We have a God, and this God is love. This is why we are unworthy, yet called; unqualified, yet accepted; unlovable, yet loved.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Panggilan Tuhan

Minggu Kelima dalam Masa Biasa [10 Februari 2019] Lukas 5: 1-11

touching 2Minggu ini, kita mendengarkan kisah panggilan tokoh-tokoh besar dalam Alkitab. Dari bacaan pertama, kita belajar bagaimana Yesaya dipanggil oleh Allah untuk menjadi nabi-Nya bagi Kerajaan Yehuda. Di Kuil Yerusalem, ia melihat Tuhan Allah dikelilingi oleh serafim-Nya. Yesaya sangat ketakutan dan berkata bahwa dia memiliki bibir yang najis. Seorang malaikat kemudian menaruh bara api di lidahnya untuk menghilangkan dosanya. Tuhan lalu berkata, “Siapa yang akan Kuutus?” Yesaya menjawab dengan percaya diri, “Ini aku, utuslah aku!”

Dalam bacaan kedua, St. Paulus menulis kepada Gereja di Korintus dan mengingatkan mereka tentang Injil yang telah mereka terima. Paulus meyakinkan mereka bahwa ia sendiri adalah penerima Injil keselamatan ini dari Kristus yang bangkit itu. Meskipun ia dulunya adalah penganiaya yang berkobar-kobar umat Kristiani, Yesus memanggilnya. Dengan rahmat Allah, Paulus bekerja keras siang dan malam untuk membangun Gereja yang pernah ia aniaya.

Dari Injil hari ini, kami mendengarkan panggilan para murid pertama: Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Lukas sang penginjil bercerita tentang para nelayan berpengalaman yang gagal menangkap ikan, tetapi Yesus, seorang tukang kayu, memberi tahu mereka untuk “pergi ke kedalaman”. Mereka ragu, tetapi mereka tetap mengikuti-Nya. Namun, ternyata mereka mampu menangkap sejumlah besar ikan, sampai hampir merusak jala mereka. Akhirnya, Yesus memanggil mereka dan menjadikan mereka sebagai penjala manusia, dan mereka mengikuti Yesus.

Seperti Yesaya, Paulus dan para Murid pertama, kita juga dipanggil oleh Tuhan untuk mengikuti-Nya. Beberapa mungkin menerima panggilan menjadi seorang imam, beberapa lainnya untuk kehidupan membiara, yang lain untuk membangun keluarga, dan yang lain mungkin seorang lajang namun menjalani kehidupan yang suci. Tuhan juga memanggil kita dengan berbagai cara. Seperti Yesaya atau Paulus, beberapa menerima pengalaman mistis yang luar biasa. Tetapi, banyak dari kita mungkin dipanggil dengan cara yang paling biasa dan tidak terduga. Suatu hari seorang remaja putra bertanya apakah dia memiliki panggilan sebagai seorang imam, terutama menjadi bagian Ordo Dominikan. Saya menjawab, “Cobalah ambil ujian masuk dulu! Jika kamu lulus kamu mungkin memiliki panggilan, jika tidak, Tuhan mungkin memanggil kamu di tempat lain.”

Sayangnya setelah kita dipanggil, kita jarang bertanya lebih jauh, “Mengapa saya Tuhan?” Namun, ini tetap menjadi pertanyaan yang mendasar untuk dijawab. Mengapa Dia memilih Yesaya, Paulus, dan Petrus? Mengapa Yesus memilih kamu dan aku, dengan cara-Nya yang unik? Jawabannya secara mengejutkan ada di Alkitab.

Ketika Musa menyampaikan pesan perpisahannya di hadapan orang Israel yang akan memasuki Tanah Perjanjian, ia mengingatkan mereka alasan mengapa Allah memilih Israel, “… karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu… (Ul 7:8). ” Pilihan Allah bagi Israel adalah karena kasih dan kesetiaan-Nya. Kasih dan kesetiaan yang sama adalah alasan di balik setiap panggilan kita. Kita dipanggil bukan karena kita baik, pintar dan berbakat; bukan karena kita layak menerima panggilan itu; bukan karena kita yang paling berkwalitas. Yesaya adalah orang yang tidak bersih bibirnya, Paulus adalah seorang penganiaya Gereja, dan Petrus akan menyangkal Yesus tiga kali. Namun, terlepas dari ketidaksempurnaan ini, Tuhan terus memanggil kita dan memberi apa yang kita butuhkan untuk mengikuti-Nya. Bahkan ketika kita mengkhianati Dia dan melarikan diri dari panggilan-Nya, Dia tetap sabar dan siap menerima kita kembali. Ini adalah kasih, ini adalah kesetiaan.

Kita memiliki Tuhan, dan Tuhan ini adalah cinta kasih. Inilah sebabnya kita yang tidak layak, namun tetap dipanggil; tidak memenuhi syarat, namun diterima; tidak patut menerima kasih, namun tetap dikasihi.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP