Rumah Tuhan

Minggu Biasa ke-33 – 17 November 2019 – Lukas 21: 5-9

church in tacloban

Pada masa pemerintahan Herodes Agung, Bait Allah di Yerusalem diperbaharui, dihiasi oleh emas dan batu-batu mulia lainnya, diperluas, dan dengan demikian menjadikannya sebagai kebanggaan bangsa Yahudi. Namun, Bait Allah itu bukan hanya bangunan yang megah, tetapi terutama pusat ibadah agama Yahudi. Setiap pagi dan sore, korban dipersembahkan, dan setiap tahun, orang-orang Yahudi dari seluruh dunia melakukan ziarah ke Bait ini, dan memberi penghormatan kepada Tuhan Allah. Itu adalah tempat di mana Allah memilih untuk tinggal, tempat di mana orang Israel bertemu dengan Allah mereka, dan ini adalah rumah Allah.

Melihat pemandangan Bait Allah yang agung, banyak orang akan percaya bahwa Bait Allah itu akan bertahan selamanya karena Allah Sendiri akan mempertahankan rumah-Nya. Namun, Yesus bernubuat dan memberi tahu para murid-Nya bahwa Bait Allah yang indah ini akan dihancurkan. Tentunya, kata-kata Yesus menyinggung banyak orang Yahudi pada zaman-Nya dan salah satu tuduhan terhadap Yesus adalah Yesus berbicara menghujat Bait Allah, yang berarti melawan Allah Sendiri. Namun, 40 tahun kemudian setelah Yesus diangkat ke Surga, pada tahun 70 Masehi, orang-orang Romawi di bawah komando Jenderal Titus, membakar Bait Allah dan menghancurkan kota Yerusalem sampai rata dengan tanah.

Nubuat Yesus membuka kita pada kebenaran mendalam bahwa bahkan Allah mengizinkan rumah-Nya di dunia dihancurkan. Hagia Sophia di Konstantinopel (sekarang Istanbul) adalah gereja termegah di abad ke-4 dan ke-5 dan dianggap sebagai keajaiban arsitektur. Namun, ketika Konstantinopel jatuh ke tangan orang Turki, gereja ini berhenti berfungsi sebagai tempat ibadah Kristiani. Pada zaman kita, Katedral Notre Dame adalah bangunan Gotik ikonis di jantung kota Paris. Namun, pada 15 April 2019, api menghancurkan banyak bagian bangunan suci ini. Baru bulan ini, beberapa gereja di Chili menjadi sasaran para demonstran yang melakukan kekerasan. Mereka dengan paksa memasuki gereja-gereja, mengambil bangku dan benda-benda religius lainnya, dan membakar mereka di luar gereja, belum lagi, penodaan terhadap tabernakel. Rumah-rumah Tuhan telah menjadi objek vandalisme, brutalitas, dan kehancuran yang tak terhitung, dan Tuhan mengizinkan hal-hal ini terjadi di tengah-tengah kita. Tapi kenapa? Apakah Tuhan cukup lemah untuk menghentikan ini terjadi? Apakah Tuhan tidak peduli? Sudahkah Tuhan meninggalkan kita?

Gereja-gereja sebagai rumah Allah melambangkan iman kita. Serangan terhadap Gereja berarti serangan terhadap iman kita yang berharga. Jika Tuhan membiarkan rumah-Nya dihancurkan, Tuhan juga mengizinkan iman kita ditantang, dikejutkan, dan diguncang. Tuhan mengizinkan pencobaan menerpa hidup kita, keraguan atas iman kita, dan kegelapan untuk menyelimuti visi kita. Tapi kenapa?

Ketika api yang membakar Gereja Notre Dame padam, banyak hal telah hilang, tetapi di pusat Gereja, satu benda selamat dari nyala api yang menyala-nyala: salib besar berdiri tegak. Tuhan membiarkan rumah-Nya hancur, dan iman kita terguncang untuk menunjukkan kepada kita apa yang benar-benar penting dalam hidup dan perjalanan iman kita. Hanya Tuhan. Hal-hal yang kita bangun untuk Tuhan atau pekerjaan dan misi untuk-Nya, bahkan talenta, karisma, dan buah doa kita, dapat diambil oleh Tuhan dari kita. Ini memang penting, tetapi ini tidak kekal. Hanya satu yang kekal yakni Tuhan saja. Tuhan membiarkan kita terguncang sehingga kita dapat menemukan-Nya lagi, secara mengejutkan lebih hidup dan semakin dekat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

External and Internal

30th Sunday in Ordinary Time [October 27, 2019] Luke 18:9-14

pharisee n tax collectorIn Jesus’ time, they were several Jewish religious groups and one of them is the Pharisees. These are the people who love the Lord and devoutly observe the Law of Moses and the traditions of the elders even in their daily lives. Thus, Jewish people regard them as righteous because they are faithful to the Law, and pious because they pray often. Many Pharisees turn to be the caretakers of the local synagogues and zealously teach the Law during Sabbath days. No wonders, the Jewish people offer the Pharisees the best places in the worship places and the parties. The leaders are called the Rabbis or teachers.

In contrast, we have tax collectors. This is the profession that most Jews hate at least for two reasons. Firstly, tax collectors tend to corrupt by demanding more than what is due. Secondly, the tax collectors work for the Roman Empire, a gentile and oppressive nation. This makes them both sinners and unclean.

When Jesus presents these two characters in His parable, His Jewish listeners immediately see that the Pharisee is the good guy and the tax collector is the bad guy. The Temple of Jerusalem consists of several courts, from the Holy of Holies going out to the court of the Gentiles. The Pharisee as a devout and clean Israelite will pray at the inner court of the Temple, closer to the sanctuary. While the tax collector is standing perhaps at the court of the Gentiles, where the unclean people and sinners are allowed to get closer.

However, Jesus once again twists the minds of His listeners. The tax collector comes up as the hero of the story, as God hears his prayers and accepts his sincere repentance.

Before God, we are judged not so much by external appearance and social standing, but primarily by internal disposition, by faith. The Pharisee is full of himself and doing nothing but praying to himself [see verse 11]. How can a person pray to himself? He boastfully compares himself with others and puts down others. This is not a prayer, but rather a litany of self-praise. But, the tax collector in all humility recognizes himself as a sinner and asks nothing but God’s mercy.

Appearances and social standing do not guarantee our holiness, and this has a massive implication in our daily lives. We cannot simply judge that a priest who celebrates the mass, who stands on the sanctuary, is holier than an ordinary man who prays at last pew of the Church. We cannot judge a woman who visits the adoration chapel and recite the rosary every day is holier than a woman who has no time to visit the Church because she has to work hard to feed her children. We cannot judge that a man who is active in the parish is holier than a man who is inside the jail. In the first place, it is not our duty to judge others’ holiness. If we are busy judging others, we are no different from the Pharisee in the story who even prays to himself.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Eksternal dan Internal

Minggu ke-30 dalam Waktu Biasa [27 Oktober 2019] Lukas 18: 9-14

pharisee n tax collector 2Pada zaman Yesus, ada beberapa kelompok di dalam agama Yahudi dan salah satunya adalah orang-orang Farisi. Inilah orang-orang yang mencintai Tuhan dan dengan taat mematuhi Hukum Musa dan tradisi para penatua bahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Jadi, orang Yahudi menganggap mereka sebagai orang benar karena mereka setia kepada Hukum, dan saleh karena mereka sering berdoa. Banyak orang Farisi menjadi pengurus sinagoga dan dengan tekun mengajarkan Hukum saat hari-hari Sabat. Tidak heran, orang-orang Yahudi memberikan kepada orang-orang Farisi tempat-tempat terbaik di tempat-tempat ibadah dan pesta-pesta, dan memanggil beberapa dari mereka sebagai Rabi atau guru.

Sebaliknya, ada juga sang pemungut cukai. Ini adalah profesi yang dibenci oleh kebanyakan orang Yahudi setidaknya karena dua alasan. Pertama, pemungut cukai cenderung korup dengan menuntut lebih dari yang seharusnya. Kedua, para pemungut cukai bekerja untuk Kekaisaran Romawi, sebuah bangsa kafir dan penindas. Ini membuat mereka berdosa dan najis.

Ketika Yesus menampilkan dua karakter ini dalam perumpamaan-Nya, para pendengar yang adalaha orang Yahudi-Nya segera melihat bahwa orang Farisi adalah orang baik dan pemungut cukai adalah orang jahat. Bait Allah Yerusalem terdiri dari beberapa lapisan, dari tempat yang  Mahakudus di pusat Bait Allah, dan yang paling luar adalah tempat bagi bangsa-bangsa yang bukan Yahudi. Orang Farisi sebagai orang Israel yang saleh dan bersih, akan berdoa di dalam Bait Suci, lebih dekat ke tempat kudus. Sementara pemungut pajak berdiri mungkin di tempat yang ditujukan bagi mereka yang bukan orang Yahudi, di mana orang-orang najis dan orang berdosa diijinkan untuk lebih dekat.

Namun, Yesus sekali lagi memelintir pikiran para pendengar-Nya. Pemungut cukai muncul sebagai pahlawan dalam cerita ini, ketika Tuhan mendengar doanya dan menerima pertobatannya yang tulus.

Di hadapan Tuhan, kita dihakimi bukan karena penampilan luar dan kedudukan sosial, tetapi terutama oleh disposisi internal, iman kita. Orang Farisi penuh dengan dirinya sendiri dan tidak melakukan apa-apa selain berdoa kepada dirinya sendiri [lihat ayat 11]. Bagaimana seseorang bisa berdoa pada dirinya sendiri? Dia dengan sombong membandingkan dirinya dengan orang lain dan menjatuhkan orang lain. Ini bukan doa, melainkan litani pujian diri. Tapi, pemungut cukai dalam segala kerendahan hati mengakui dirinya sebagai orang berdosa dan tidak meminta apa pun selain belas kasih Tuhan.

Penampilan dan kedudukan sosial tidak menjamin kekudusan kita, dan ini memiliki implikasi besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak bisa begitu saja menilai bahwa seorang imam yang merayakan misa, yang berdiri di tempat kudus, lebih suci daripada seorang bapak yang berdoa di bangku terakhir Gereja. Kita tidak dapat menilai seorang wanita yang mengunjungi adorasi kapel dan berdoa rosario setiap hari lebih suci daripada seorang wanita yang tidak memiliki waktu untuk rajin ke Gereja karena dia harus bekerja keras untuk memberi makan anak-anaknya. Kita tidak dapat menilai bahwa seorang pria yang aktif di paroki lebih suci daripada seorang pria yang berada di dalam penjara. Pertama, itu bukan tugas kita untuk menilai kekudusan orang lain. Jika kita sibuk menilai orang lain, kita tidak berbeda dengan orang Farisi dalam cerita yang bahkan berdoa untuk dirinya sendiri.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Suffering and God’s Way

28th Sunday of the Ordinary Time – October 13, 2019 – Luke 17:11-19

Jesus_Mafa_Healing_of_LeperSuffering, sickness, and death do not care whether you are Jews or Samaritans, whether you are rich or poor, whether you are old or young. When it strikes, it strikes. In time of Jesus, leprosy or Hansen’s disease was still one of most dreadful sicknesses. It ate you your skin and made you ugly. It is highly contagious, and thus, cut you from your community. It was incurable and thus brought you a slow and agonizing death.

While it is true, and we thank God, that leprosy is now curable, humanity continues to battle with deadly diseases that bring untold suffering and death. When I was still in a brother in the formation, he was assigned to the hospital in Manila to be a chaplain. My duty was to accompany those people who were struggling with terrible sickness. Some were battling cancers and they had to endure painful chemotherapy. Some were having kidney failures and had to patiently undergo hemodialysis. Some were helpless victims of HIV and had to bear various complications.

I never forgot to meet one young man in that hospital. We just call him John. He was a new college graduate, and he had high hopes for his future life. Yet, all were changed when just several weeks after his graduation, he was diagnosed with cancer, stage 3. Thus, to survive he must take up severe medication like surgery and chemotherapy. In the hospital, I learned how painful chemotherapy was and there was no assurance that the treatment would succeed. In fact, it may destroy the body in the process. He lost his hair, he lost his appetite, and every time he tried to eat, he would throw up. He became terribly weak and sickly.

One day, I decided to visit him and had a little chat. I was expecting a very depressing case, but to my surprise, he said that he was doing fine and in fact grateful. Initially, I thought the medication was working, but it was not really the case. I was confused with his answer. In dealing with patients with grave sickness, the chaplains were told about the five stages of grieving: denial, anger, bargaining, depression, and acceptance. Nowhere in the process, a sick person will be grateful. Yet, John was thankful for his condition. Why?

When I asked further, I heard an unforgettable answer. He said that in his sickness and suffering, he discovered what is truly important and indispensable in his life. He learned how the love of his parents made his life more meaningful. He saw how God has given life that is simple and yet totally free. A very breath, a very heartbeat, a very memory is precious gift from God. He cannot but be grateful for simple blessings from God, despite his deadly sickness.

John teaches me that suffering is sometimes God’s way to remind us to discover what is truly essential in our life. When we are suffering, we realize our beautiful bodies are no longer important, our richness is empty, and our ambitions are just like passing air. We thank the Lord that we are not suffering like John, but we do not have to wait until we get sick, to find the essentials. The time is now and the place is here.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penderitaan sebagai Jalan Tuhan

Minggu ke-28 pada Masa Biasa – 13 Oktober 2019 – Lukas 17: 11-19

jesushealstenlepers6Penderitaan, penyakit, dan kematian menyerang tanpa pandang bulu. Tidak peduli apakah orang Yahudi atau orang Samaria, apakah kaya atau miskin, apakah tua atau muda. Pada zaman Yesus, kusta atau penyakit Hansen masih merupakan salah satu penyakit yang paling mengerikan. Itu memakan kulit kita dan membuat kita jelek. Ini sangat menular, dan dengan demikian, dikucilkan dari komunitas. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan dengan demikian membawa kematian yang lambat dan menyakitkan.

Kita berterima kasih kepada Tuhan, bahwa kusta sekarang dapat disembuhkan,  tetapi umat manusia terus berjuang dengan penyakit mematikan yang membawa penderitaan dan kematian yang tak terhitung. Ketika saya masih seorang frater dalam formasi, saya ditugaskan ke rumah sakit di Manila untuk mendampingi para pasien. Tugas saya adalah menemani orang-orang yang bergulat dengan penyakit yang mengerikan. Beberapa berjuang melawan kanker dan mereka harus menjalani kemoterapi yang menyakitkan. Beberapa mengalami gagal ginjal dan harus menjalani hemodialisis dengan sabar. Beberapa adalah korban HIV yang tak berdaya dan harus menanggung berbagai komplikasi.

Saya tidak pernah lupa bertemu dengan seorang pemuda di rumah sakit itu. Sebutlah dia sebagai John. Dia adalah lulusan perguruan tinggi yang baru diwisuda, dan dia memiliki harapan besar untuk kehidupan masa depannya. Namun, semua berubah ketika hanya beberapa minggu setelah lulus, ia didiagnosis menderita kanker, stadium 3. Dengan demikian, untuk bertahan hidup ia harus mengambil pengobatan yang sangat agresif seperti operasi dan kemoterapi. Di rumah sakit, saya belajar bagaimana kemoterapi yang menyakitkan ini tidak ada jaminan bahwa perawatan ini akan berhasil. Bahkan, itu bisa menghancurkan tubuh dalam proses. Dia kehilangan rambutnya, kehilangan nafsu makan, dan setiap kali dia mencoba makan, dia akan muntah. Dia menjadi sangat lemah dan sakit-sakitan.

Suatu hari, saya memutuskan untuk mengunjunginya dan mengobrol sedikit. Saya melihat kasus yang sangat menyedihkan, tetapi yang mengejutkan saya, dia mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan sebenarnya bersyukur. Awalnya, saya pikir obatnya bekerja, tetapi sebenarnya tidak demikian. Saya bingung dengan jawabannya. Saat berhadapan dengan pasien dengan penyakit serius, kita diberitahu tentang lima tahap menghadapi duka: penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Tidak ada di dalam tahapan ini dimana orang yang sakit akan bersyukur. Namun, John bersyukur atas kondisinya. Mengapa?

Ketika saya bertanya lebih lanjut, saya mendengar jawaban yang tak terlupakan. Dia mengatakan bahwa dalam penyakit dan penderitaannya, dia menemukan apa yang benar-benar penting dan sangat diperlukan dalam hidupnya. Dia mulai mengerti bagaimana kasih orang tuanya membuat hidupnya lebih bermakna. Dia melihat bagaimana Tuhan telah memberikan kehidupan yang sederhana namun sepenuhnya cuma-cuma. Setiap nafas, setiap detak jantung, setiap kenangan adalah anugerah berharga dari Tuhan. Dia tidak bisa tidak bersyukur atas berkat sederhana dari Tuhan, meskipun dia sakit parah.

John mengajarkan saya bahwa penderitaan kadang-kadang cara Tuhan untuk mengingatkan kita untuk menemukan apa yang benar-benar penting dalam hidup kita. Ketika kita menderita, kita menyadari tubuh indah kita bukanlah segalanya, kekayaan kita kosong, dan ambisi kita seperti nafas yang lewat. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa kita tidak menderita seperti John, tetapi kita tidak harus menunggu sampai sakit, untuk menemukan hal-hal yang penting. Waktunya sekarang dan tempatnya ada di sini untuk kita bertanya, apakah yang paling penting di dalam hidup ini.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Our Catholic Faith

27th Sunday in Ordinary Time [C] – October 6, 2019 – Luke 17:5-10

mustard seed n crossIf there is one most powerful force in the universe, it will be faith. Jesus teaches us that even faith as small as a mustard seed can do the impossible. Jesus preaches that with this little faith, we can command a sycamore tree be uprooted and be planted in the sea. One of the smallest things on earth can move the most significant reality in the world. The sycamore tree has both deep, strong and widespread roots. It is just impossible to uproot it when it has grown mature. Yet, Jesus surprises further even by saying that we can replant this on the bed of the ocean. That makes it doubly impossible. Jesus is pushing his teaching on faith beyond natural human reasoning!

The question is whether Jesus is merely exaggerating the power of faith, or He is unveiling the deepest of truth of faith. To answer this question, we need to know first what is faith? Surely there are several definitions of faith. In the broadest sense, it is a belief in the divine, something that is much more powerful than us, something beyond us. In many religious traditions, this transcendence is a person that is called God. This faith makes us different those who claim themselves as atheists. In narrower sense, it refers to a belief in a particular set of teachings about the divine. In this sense, the Catholic faith is different from the Protestant Lutheran faith.

St. Thomas Aquinas reminds us that faith is basically an ascent of the intellect. This is precisely what faith is mighty. It does not rely on earthly possession, nor our biological nature, nor our emotions. If we base our faith on moods, every time, we feel unhappy or depressed, and we may lose our faith. Mother Teresa of Calcutta once wrote in her diary that she did not feel the presence of God in her life for almost ten years. If she had depended on her emotion, she would have lost her faith. If we place our faith in our bodily wellbeing, the moment we get sick, or our body weakens, we may lose faith. Padre Pio of Pietrelcina received the gift of stigmata and had to endure the excruciating pain of the crucifixion for more than 50 years. Had he relied on his body, he would have lost his faith long time ago.

It is the ascent of the intellect that makes faith unbelievably powerful. When I was ordained to both to the diaconate and to the priesthood, especially during the most essential part of the ceremony, the laying of bishop’s hands on my head, I confess that I did not feel anything but a little pressure on my head. Does it mean my ordination invalid? Fortunately, the validity of my ordination is not based on my feelings! It is the faith, my faith, my bishop’s faith, the faith of the people, the faith of the Church. It is the faith that allows the unseen, unfelt grace of God to transform my soul into a soul of Jesus, the priest.

Our Catholic faith is indeed the mustard seed that moves a mountain. It is the faith that make our ears to hear the Word of God in the ordinary pages of the Scriptures. It is the faith that opens our minds to see the Body of Christ in a small tiny bread. It is the faith that encourages us to be humble before God and confess our sins before a priest. It is the faith that empowers many Christians to persevere in persecutions and to readily give their blood for Jesus. It is the faith that enables us to sacrifice our lives for others and to love the end.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman Katolik kita

Minggu ke-27 dalam Waktu Biasa [C] – 6 Oktober 2019 – Lukas 17: 5-10

faith n fishJika ada satu kekuatan paling dahsyat di alam semesta, ini adalah iman. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa iman sekecil biji sesawi dapat melakukan hal yang mustahil. Yesus menyatakan bahwa dengan iman yang kecil ini, kita dapat memerintahkan pohon ara dicabut dan ditanam di laut. Salah satu hal terkecil di bumi dapat menggerakkan realitas paling besar di dunia. Pohon ara memiliki akar yang dalam, kuat dan menyebar. Tidak mungkin mencabutnya ketika sudah dewasa. Namun, Yesus bahkan mengatakan bahwa kita tidak hanya mampu mencabutnya tetapi juga menanam kembali ini di dasar samudera. Itu membuatnya mustahilnya doble! Inilah hebatnya iman yang kita miliki.

Pertanyaannya adalah apakah Yesus hanya melebih-lebihkan kekuatan iman, atau Ia sedang mengungkap kebenaran iman yang paling dalam. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu tahu dulu apa itu iman? Tentunya ada beberapa definisi iman. Dalam arti yang lebih luas, iman adalah kepercayaan pada yang ilahi, sesuatu yang jauh lebih kuat dari kita. Dalam banyak tradisi keagamaan, yang ilahi ini adalah pribadi yang disebut Tuhan. Iman ini membuat kita berbeda dengan mereka yang mengklaim diri mereka sebagai ateis. Dalam arti yang lebih sempit, ini merujuk pada kepercayaan pada serangkaian ajaran tertentu tentang yang ilahi. Dalam pengertian ini, iman Katolik berbeda dari iman Lutheran Protestan.

Thomas Aquinas mengingatkan kita bahwa iman pada dasarnya adalah persetujuan dari akal budi dan kehendak. Inilah kenapa iman menjadi luar biasa kuat. Iman tidak bergantung pada kepemilikan duniawi, atau sifat biologis kita, atau emosi kita. Jika kita mendasarkan iman kita pada suasana hati, setiap saat kita merasa tidak bahagia atau tertekan, kita mungkin kehilangan iman kita. Bunda Teresa dari Calcutta pernah menulis dalam buku hariannya bahwa dia tidak merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya selama hampir sepuluh tahun. Jika dia hanya bergantung pada emosinya, dia akan kehilangan imannya. Jika kita menempatkan iman kita pada kesejahteraan tubuh kita, saat kita sakit, atau tubuh kita melemah, kita mungkin kehilangan iman. Padre Pio dari Pietrelcina menerima karisma stigmata dan harus menanggung rasa sakit yang luar biasa penyaliban selama lebih dari 50 tahun. Jika dia mengandalkan tubuhnya, dia akan kehilangan imannya juga.

Persetujuan akal budi inilah yang membuat iman sangat kuat. Ketika saya ditahbiskan menjadi imam, bagian yang terpenting dari upacara ini adalah penumpangan tangan uskup di atas kepala saya. Namun, saya mengakui bahwa saya tidak merasakan apa pun kecuali sedikit tekanan di kepala saya. Apakah itu berarti tahbisan saya tidak valid? Syukurnya, validitas penahbisan saya tidak didasarkan pada perasaan saya! Ini adalah iman, iman saya, iman uskup saya, iman umat, iman Gereja. Imanlah yang memungkinkan rahmat Allah yang tak terlihat dan tak terasa mengubah jiwa saya menjadi seperti jiwa Yesus, sang imam.

Iman Katolik kita memang benih sesawi yang menggerakkan gunung. Iman inilah yang membuka pikiran kita untuk melihat Tubuh Kristus dalam roti kecil putih tak berasa. Iman inilah yang mendorong kita untuk menjadi rendah hati di hadapan Allah dan mengakui dosa-dosa kita di hadapan seorang imam. Iman inilah yang memberdayakan banyak orang beriman untuk bertahan dalam penganiayaan dan siap memberikan darah mereka bagi Yesus. Iman yang memampukan kita untuk mengorbankan hidup kita untuk orang lain dan untuk mengasihi sampai akhirnya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Heart of the Gospel

Reflection on the 24th Sunday in Ordinary Time [C] – September 15, 2019 – Luke 15:1-32

shepherdChapter 15 of the Gospel of Luke contains three of the most heartwarming as well as powerful parables in the entire Bible. These three parables are known as the parable of the lost sheep, the parable of the lost coin, and the parable of the prodigal son. If we look closer into these three parables, what is so stunning and astonishing is how Jesus bends, twists and stretches human logic and natural tendency to nail His point.

In ancient Israel, shepherds knew that to pastor the flock of sheep was not an easy job because they had to lead their flocks in constant search for food and water in the wilderness. Sheep was naturally dumb animal and possessed no natural defense mechanism. As a sheep looked for food, it quickly went astray and was exposed to imminent threats like wolves, hyaenas or robbers. The shepherd had to exert extra effort to watch over their sheep. Yet, occasionally, a sheep or two got lost, and the shepherd had to go into search and rescue mission.

However, Jesus tells us about a good shepherd who dares to leave the other sheep to search for a single lost sheep. Along the way, he may stumble upon life-threating dangers like robbers or pack of wolves. There is no assurance that he will find his sheep. He is practically risking his own life for this dumb sheep. What even remarkable is that after the shepherd discovers his lost animal, he rejoices exceedingly and throws a party for the finding. His mission is a huge success, and it is time to share the joy with others. It is simply heartwarming story. Then, when Jesus’ listeners are still mesmerized, Jesus drops the bomb. He points out that God is this good shepherd! God is the woman who rejoices for the small coin. God is the father who accepts and celebrates for his runaway son who returns. Through these parables, Jesus teaches us our God is merciful, and His mercy is beyond our wildest imagination. This is why they have been called “the Gospel of the Gospel” because the three parables carry the heart of the Gospel, that is the mercy of God.

Every one of us is like the lost sheep, the lost coin or the lost son. There are points in our lives we are so low and feeling meaningless. No amount of worldly happiness can fill our hearts until Jesus finds us. Carolyn Kolleger was a successful American model and movie actress. As a baby, she was baptized Catholic, but she never knew and loved her faith. As a model, she never thought anything else but herself. She also got married to Erwin Kolleger, a businessman, who enjoyed worldly pleasures. They were rich, throwing a lot of parties, drinking alcohol and even consuming drugs. Until she got pregnant. She did not want to lose her career and was pushed by her husband, she aborted the baby. She did it not only once but thrice. She got depressed, and her marriage was about to collapse. Until a priest came and helped Carolyn and Edwin. They began to meet a Catholic counselor who helped their marriage. Carolyn decided to repent and go back They were received back into the Catholic Church. She prayed the rosary and read the Bible on more regular basis, and attended the Eucharist. Eventually her husband also followed her and rebuilt their marriage and family, not based on worldly measures, but faith, hope, and love. They were blessed with four children and find true happiness.

This is our God, a compassionate and merciful God who tirelessly seeks His lost sons and daughter.

Faithful and Wise Stewards

19th Sunday in Ordinary Time [C] – August 11, 2019 – Luke 12:32-48

light lampIn ancient Israel, the masters of the house were often leaving their homes for business trips or attending social gatherings like weddings. They would entrust their houses and their possessions to chief servants. And this was the world without a cellular phone, internet, and GPS. Thus, the servants have no idea of the ETA (estimated time of arrival) of their masters. It could be 8 PM, midnight or even early in the morning. The best attitude of a servant in this scenario is to be always vigilant and prepared for the arrival of his master.

However, being prepared is not understood as being idle or passivity, like someone who does nothing but waits near the door, and opens the door when the master knocks. Jesus says, “Gird your loins and light your lamps… (Lk. 12:35)” In ancient Israel, people were wearing robe or tunic. It is a long dress that covers the entire body, from the neck down to the leg. When people are working, they gird their loins with a robe or belt, to make sure that their tunic will not get in the way. In short, the servants are doing their jobs, making sure that the house is in order, and ready to receive any order just in case their masters arrive. This is a kind of readiness and preparedness that Jesus asks of His disciples.

This kind of preparedness naturally comes the humble recognition of who we are. If the servant accepts that he is a servant and aware that the house belongs to his master, he will not act as if he is the owner of the house and neglect his jobs, but perform his tasks well despite the absence of his master. So, we need also to recognize who we are and do the works that follow from our identity well. If our pride gets in the way, and we fail to understand who we are. We start playing God, and we begin doing whatever we please, even to confidently predict the end of the world.

Based on the Scriptures, the Church always believes that Jesus will come for the second time in glory and bring the final judgment to the world. We do not know when Jesus will come as the King and those who prophesy that they understand when, turn to be a dangerous hoax. In 1997, Marshall Applewhite predicted that the earth would be destroyed by the alien spaceships, and the only way to survive was to “transfer” their souls to another planet by committing suicide. Marshall and 36 followers killed themselves, yet the earth’s destruction never happened. Marshall was playing God, and he brought calamity to himself and his followers.

Be ready for the coming of Jesus means that we realize who we are before God. If we are God’s children, we love and obey our Father, and care for the other creations because God cares for them as well. If we are God’s disciples, we faithfully follow Him and continuously learn from Him. If we are fathers, we love, protect, and provide for their family. If we are mothers, we love, care, and educate our children. And when the Lord truly comes, we may be one of those “Blessed servants who are faithful and prudent [see Lk. 12:42]”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hamba yang Setia dan Bijaksana

Minggu ke-19 dalam Waktu Biasa [C] – 11 Agustus 2019 – Lukas 12: 32-48

faithful servantDi Israel kuno, tuan rumah sering meninggalkan rumah mereka untuk perjalanan bisnis atau menghadiri pertemuan sosial seperti pernikahan. Mereka akan mempercayakan rumah dan harta benda mereka kepada seorang hamba yang adalah hamba utama. Dan kita perlu ingat bahwa ini adalah dunia tanpa telepon seluler, internet dan GPS. Dengan demikian, para pelayan tidak tahu dengan pasti waktu kedatangan dari tuan mereka. Bisa jadi jam 8 malam, tengah malam atau bahkan dini hari. Sikap terbaik seorang pelayan dalam skenario ini adalah untuk selalu waspada dan siap menghadapi kedatangan tuannya.

Namun, bersiap tidak dipahami seperti seseorang yang tidak melakukan apa-apa selain menunggu di dekat pintu, dan hanya membuka pintu ketika tuannya mengetuk. Yesus berkata, “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala… (Luk. 12:35)” Di Israel kuno, orang-orang mengenakan jubah [tunik] sebagai pakaian sehari-hari. Ini adalah pakaian panjang yang menutupi seluruh tubuh, dari leher hingga kaki. Ketika orang-orang bekerja, mereka mengikat pinggang mereka, untuk memastikan bahwa tunik mereka tidak akan menghalangi kerja mereka. Singkatnya, Yesus mengingatkan bahwa para pelayan tetap melakukan pekerjaan mereka walaupun tuan mereka tidak ada, memastikan bahwa rumah sudah rapi, dan siap untuk menerima perintah apa pun sewaktu-waktu tuan mereka tiba. Ini adalah kesiapan yang Yesus minta dari para murid-Nya termasuk kita.

Kesiapsiagaan semacam ini secara alami datang dari pengakuan rendah hati tentang siapa kita. Jika hamba menerima bahwa dia adalah hamba dan dia sadar bahwa rumah itu milik tuannya, dia tidak akan bertindak seolah-olah dia adalah pemilik rumah dan mengabaikan pekerjaannya, tetapi melakukan pekerjaannya dengan baik meskipun tuannya sedang tidak ada. Jadi, kita juga perlu mengenali siapa diri kita dan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan identitas kita dengan baik. Satu hal yang menghambat kita mengenali siapa diri kita adalah keangkuhan. Saat kita dipenuhi kesombongan, Kita mulai bertingkah seperti tuhan dan kita mulai melakukan apa pun yang kita suka, bahkan untuk memprediksi akhir dunia dengan penuh percaya diri.

Berdasarkan Kitab Suci, Gereja selalu percaya bahwa Yesus akan datang untuk kedua kalinya dalam kemuliaan dan membawa penghakiman terakhir ke dunia. Kita tidak tahu kapan Yesus akan datang sebagai Raja, dan mereka yang bernubuat bahwa mereka tahu kapan, adalah sebuah hoax yang berbahaya. Pada tahun 1997, Marshall Applewhite meramalkan bahwa bumi akan dihancurkan oleh pesawat ruang angkasa alien dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah “memindahkan” jiwa mereka ke planet lain dengan melakukan bunuh diri. Marshall dan 36 pengikut pun bunuh diri, namun alien tidak pernah datang menyerang dan kehancuran bumi tidak pernah terjadi. Marshall bertingkah seperti tuhan dan dia membawa malapetaka bagi dirinya dan para pengikutnya.

Kesiapan untuk kedatangan Yesus berarti kita menyadari siapa kita di hadapan Tuhan. Jika kita adalah anak-anak Tuhan, kita mencintai dan menaati Bapa kita, dan merawat ciptaan lain karena Tuhan juga memperhatikan mereka. Jika kita adalah murid Tuhan, kita dengan setia mengikuti-Nya dan terus-menerus belajar dari-Nya. Jika kita adalah ayah, kita mencintai, melindungi, dan memenuhi kebutuhan keluarga kita. Jika kita adalah ibu, kita mencintai, merawat, dan mendidik anak-anak kita. Dan ketika Tuhan benar-benar datang, kita mungkin salah satu dari mereka “Hamba yang setia dan bijaksana [lihat Luk 12:42]”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP