Hosanna

Minggu Palma Mengenang Sengsara Tuhan

5 April 2020

Matius 21: 1-11 dan Matius 26: 14—27: 66

palm n crossHari ini, kita merayakan Minggu Palma. Di banyak negara, hari ini adalah perayaan besar dan umat dengan penuh semangat memenuhi Gereja. Saya ingat waktu masih kecil saya selalu paling semangat ikut perarakan romo yang memasuki Gereja dan kami mengikutinya dengan membawa daun palma kami masing-masing.

Namun, sesuatu yang memilukan terjadi tahun ini. Gereja-gereja di banyak negara ditutup sementara, umat beriman diminta untuk tidak berkumpul, termasuk menghadiri Ekaristi suci, dan orang-orang bingung apa yang harus dilakukan dengan Perayaan Pekan Suci. Seorang umat paroki bertanya dengan sedih kepada saya, “Romo, karena Gereja ditutup, apa yang harus saya lakukan dengan cabang-cabang palma yang saya petik?” Tentunya, selalu ada solusi pastoral untuk hal-hal ini, tetapi masalah sebenarnya bukan tentang bagaimana mengatasi kebingungan, tetapi bagaimana menghadapi kepedihan yang mendalam karena kehilangan apa yang membuat kita menjadi Katolik. Tidak ada palma di tangan kita, tidak ada ciuman kaki salib, dan tidak ada Tubuh Kristus.

Orang-orang Yerusalem yang menyambut Yesus dan berteriak, “Hosanna!” Kata Ibrani “Hosanna” secara harfiah berarti “selamatkan kami!” atau “beri kami keselamatan!” Itu adalah seruan harapan. Kita perlu ingat bahwa orang-orang Israel pada masa ini berada di bawah pendudukan Kekaisaran Romawi. Umumnya, kehidupan itu sulit dan banyak orang menanggung pajak berat dan peraturan yang membebankan. Banyak orang Yahudi yang setia mengharapkan Mesias yang dijanjikan, yang seperti Daud, akan memulihkan dua belas suku Israel yang hilang, membebaskan mereka dari cengkeraman bangsa Romawi dan membawa mereka ke kerajaan yang mulia. Mereka melihat Yesus sebagai pewarta karismatik, penyembuh ajaib, dan penakluk alam yang ganas, dan tentunya, Yesus bisa menjadi raja yang akan menjungkirbalikkan pasukan Romawi. Kita perlu mengingat juga konteks Injil hari ini, bahwa dalam beberapa hari, orang-orang Yahudi akan merayakan pesta besar Paskah, dan ribuan orang berkumpul di Yerusalem. Dengan begitu banyak energi dan euforia, insiden kecil bisa memicu pemberontakan skala besar. Dan Yesus berada di pusat pusaran ini.

Yesus memang seorang raja dan penyelamat, tetapi Ia bukan raja yang diharapkan banyak orang. Dia adalah raja damai, bukan jendral perang, itulah sebabnya Dia memilih keledai yang lembut daripada kuda yang kuat. Mahkotanya bukan emas dan berlian yang bersinar, tetapi duri yang tajam. Jubahnya bukan kain halus ungu, tetapi kulit yang penuh luka. Takhta-Nya tidak megah, tetapi sebuah salib yang hina.

Kita mungkin seperti orang-orang di Yerusalem, dan kita berteriak “Hosanna!” kepada Yesus, mengharapkan Dia untuk menyelamatkan kita dari pandemi yang mengerikan ini, untuk mengembalikan perayaan liturgi kita, dan untuk menyelesaikan semua masalah kita. Namun, seperti orang-orang Yerusalem, kita mungkin keliru. Yesus adalah Juru Selamat kita, tetapi Dia mungkin menyelamatkan kita dengan cara yang bahkan tidak kita sukai.

Tantangannya adalah apakah kita kehilangan kesabaran dan mengatakan bahwa Yesus sebagai pewarta hoax, dan bukan kabar baik, atau menanggung penghinaan dengan-Nya; apakah kita berkecil hati dan mulai berteriak, “Salibkan Dia!” atau kita berdiri di dekat salib-Nya. Tantangannya adalah apakah kita menjadi pahit dan mulai mengejek otoritas gereja karena ketidakmampuan mereka menangani krisis, atau kita terus mendukung mereka pada masa pencobaan; apakah kita mengutuk situasi yang suram, atau kita mulai menyebarkan cahaya sekecil apa pun itu.

Mengapa Tuhan membiarkan kita menanggung pengalaman mengerikan ini, atau lebih tepatnya, mengapa Allah membiarkan diri-Nya menanggung pengalaman mengerikan ini? Mari kita tunggu jawabannya di Jumat Agung.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus’ Ideal Parents

The feast of Presentation

February 2, 2020

Luke 2:22-40

presentation 2If we are given a chance to choose our parents, what kind of parents will be our choice? Perhaps, some will prefer billionaire parents so that we can sing like Bruno Mars, “I wanna be a billionaire… Buy all of the things I never had… I wanna be on the cover of Forbes magazine, and Smiling next to Oprah and the Queen.” Perhaps some of us want to become the children of a king. So, royal blood is flowing through our vein, and people call us as a prince, princess, or royal highness. Perhaps, we want to be born from Korean megastars, because we want to become the prettiest or the most handsome.

Yet, if we ask the same question to the Lord, what would be His choice? The choice is obvious, Joseph and Mary. But, why?  Joseph and Mary are not wealthy, and even poor. They can only afford turtle dove, the offering of the poor. Indeed, Joseph is the descendant of King David, but in reality, he is a humble carpenter from the unknown village, Nazareth. I do believe that Joseph is handsome and Mary is beautiful! From here, we can deduce that richness, fame, and physical beauty as God’s criteria for His parents. So, what is it?

If we look closer into today’s Gospel and some other verses, we may discover the best character of Joseph and Mary as a couple and parents are their love and fidelity to God. Mary and Joseph know well the Law of God, and they are faithfully observing His Law.

Today’s feast is traditionally called the Presentation. Jesus is presented and consecrated to God in the Temple. Why do Joseph and Mary offer Jesus in the Temple? Because they are aware of the Jewish Law that any firstborn shall be consecrated to the Lord because they belong to the Lord [see Exo 13:2]. The feast of Presentation is also called the feast of the Purification of Mary. She is purified not because she is sinful, but because, according to the Mosaic Law, any woman who gives birth will be ritually unclean or unfit for the worship. She has to undergo 40 days of purification period, and at the end of the period, she offers a sacrifice to the priest [Lev 12:1-8]. From the Gospel of Matthew, Joseph is described as “the righteous man.” This means that Joseph is not only well-versed in Mosaic Law, but he is faithfully observing them.

Jesus does not concern Himself with His parents’ economic condition, social status, or physical appearance. Jesus is looking for whether His parents love God, whether His parents know and observe God’s law, and whether His parents have faith in God. Why are these characteristics crucial for Jesus’ parents? Because Jesus understands the best inheritance parents can give to their children is faith, because money can only provide you with security in this life, but faith will bring us to heaven.

The primary duty of parents is not merely to provide food, shelter, and clothing, not only send their children to schools and not only bring them to the doctors when they are sick but primarily to walk with them to heaven. Like Mary and Joseph present Jesus to God, we are also offering our children to God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Tua Ideal Yesus 

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

2 Februari 2020

Lukas 2: 22-40

presentation 1Jika kita diberi kesempatan untuk memilih orang tua kita sendiri, orang tua ideal seperti apa yang akan menjadi pilihan kita? Mungkin, beberapa akan lebih suka orang tua miliarder, supaya hidup terjamin, mendapatkan Pendidikan terbaik, dan masa depan cerah. Mungkin sebagian dari kita ingin menjadi anak-anak raja. Jadi, memiliki darah ningrat, dan orang-orang memanggil kita sebagai pangeran, puteri atau bangsawan. Mungkin kita ingin dilahirkan dari megabintang Korea, karena kita ingin menjadi yang tercantik atau paling tampan.

Namun, jika kita mengajukan pertanyaan yang sama kepada Tuhan, apa yang akan menjadi pilihan-Nya? Pilihannya jelas, Yusuf dan Maria. Tapi kenapa? Yusuf dan Maria tidak kaya, dan bahkan miskin. Mereka hanya mampu membeli burung merpati, persembahan orang miskin. Memang, Yusuf adalah keturunan raja Daud, tetapi dalam kenyataannya, ia adalah seorang tukang kayu sederhana dari desa yang tidak dikenal, Nazareth. Saya tetap percaya bahwa Yusuf itu tampan dan Maria cantik! Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa kekayaan, ketenaran, dan kecantikan fisik sebagai kriteria Allah bagi orang tua-Nya. Jadi, apa?

Jika kita melihat lebih dekat Injil hari ini dan beberapa ayat lainnya, kita dapat menemukan karakter terbaik dari Yusuf dan Maria sebagai pasangan dan orang tua adalah cinta dan iman mereka kepada Tuhan. Maria dan Yusuf mengetahui dengan baik Hukum Allah dan mereka dengan setia mematuhi Hukum-Nya.

Pesta hari ini secara tradisional disebut sebagai Yesus dipersembahkan di Bait Allah [Presentation]. Yesus dipersembahkan kepada Allah di Bait Suci. Mengapa Yusuf dan Maria mempersembahkan Yesus di Bait Suci? Karena mereka sadar akan Hukum Taurat bahwa setiap anak sulung akan dikuduskan bagi Tuhan karena mereka adalah milik Tuhan [lihat Kel 13: 2]. Hari ini juga disebut pesta Pemurnian Maria [Purification of Mary]. Dia dimurnikan bukan karena dia berdosa, tetapi karena menurut Hukum Musa, setiap wanita yang melahirkan akan menjadi “tidak bersih” secara ritual atau tidak layak untuk penyembahan, dan dia harus menjalani 40 hari periode pemurnian, dan pada hari ke-40, dia mempersembahkan korban kepada imam [Im 12: 1-8].

Yesus tidak peduli dengan kondisi ekonomi, status sosial, atau penampilan fisik orang tua-Nya. Yesus mencari apakah orang tua-Nya benar-benar mencintai Allah, apakah orang tua-Nya tahu dan mematuhi hukum Allah, dan apakah orang tua-Nya memiliki iman kepada Allah. Mengapa karakteristik ini penting bagi orang tua Yesus? Karena Yesus memahami warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka adalah iman, karena uang hanya dapat memberi Anda keamanan dalam kehidupan ini, tetapi iman akan membawa kita ke surga.

Tugas utama orang tua bukan hanya menyediakan makanan, tempat tinggal, dan pakaian, tidak hanya mengirim anak-anak mereka ke sekolah, dan tidak hanya membawa mereka ke dokter ketika mereka sakit, tetapi terutama berjalan bersama mereka ke surga. Seperti Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus kepada Allah, maka kita juga mempersembahkan anak-anak kita kepada Allah.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sincere Pilgrimage

The Solemnity of the Epiphany of the Lord – January 5, 2020 – Matthew 2:1-12

They were overjoyed at seeing the star (Mat 2:10

three magiThe journey of the three wise men from the East embodies the deepest human longing for a meaningful life and true happiness. Balthazar, Melchior and Gaspar, as the tradition called them, were neither Jews nor baptized Christians. In Greek ancient manuscripts of the Gospel, the word used to describe them is ‘magos’, meaning ‘someone with magical power’ or ‘magicians’, and practicing magic is detestable in the eyes of the Jews (2 Cro 33:6). Though we cannot be sure what kind of magic they crafted, but one thing is sure that they read the sign of times and followed the star. Because of this, they were instantaneously accused as one of those astrologers, star-readers who predict the human behaviors and the future, but I would argue that they were actually early astronomers instead astrologers. Like ordinary seamen who gazed the stars and hoped that they would guide them home, the magi did look at the star and believed that they would navigate their way to the true end.

They were people heatedly called the “Gentiles”; people who knew nothing about God and His mighty acts; and people who would fatefully perish because they were far from God’s Law. Yet, God always turns His eyes toward those who are sincerely looking for Him. They became one among the first persons to whom God chose to reveal Himself, and together with them were the simple shepherds. Surprisingly, these people were not learned Jews, wealthy aristocrats and definitely not King Herod the great.

The journey of the wise men is rightly considered as a pilgrimage for a very simple yet essential reason: they have God as their end. It was not a recreational picnic to reenergize oneself. It was never an educational tour to add up knowledge. Surely, it was not a business trip to make one richer. The Gospel tells us they was searching for the “newborn King of the Jews” and intending to pay homage. But, why did they have to give utmost respect to this weak baby whereas there were a lot of powerful kings around them? It was because they were aware that this King was not a typical warlord nor a power-addict politician, but a King that would answer their heart’s desire: the fullness of life and true wisdom. They indeed looked for God Himself and this made them truly wise.

Deep inside us, there is always yearning for real happiness and genuine completeness. Yet, we are often like Herod the Great who boxed himself in his own man-made palace and we seek the answer within ourselves, in richness, power and bodily pleasure. This brings us nothing but frustration and emptiness. The pilgrimage of the three wise men from the east should be ours as well. The three magi give us an authentic example by looking the answer not in ourselves but in God, and only in Him we may find our joy.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perziarahan Sejati

Hari Raya Epiphani – 5 Januari 2020 – Matius 2:1-12

three magi 2Perjalanan tiga orang bijak dari Timur menjadi symbol dari kerinduan terdalam manusia untuk kehidupan yang bermakna dan kebahagiaan sejati. Balthazar, Melchior dan Gaspar, sebagaimana tradisi menyebut mereka, bukanlah orang Yahudi ataupun Kristiani. Dalam naskah kuno Yunani dari Injil, kata yang digunakan untuk mendeskripsikan mereka adalah ‘magos’, yang berarti ‘seseorang dengan kekuatan magis’ atau ‘penyihir’, dan melakukan magis/sihir adalah kejahatan di mata orang-orang Yahudi (2 Taw 33:6). Meskipun kita tidak bisa memastikan apakah mereka sungguh penyihir apa bukan, satu hal yang pasti bahwa mereka membaca tanda-tanda zaman dan mengikuti sang bintang. Karena itu, mereka sering dituduh sebagai astrolog, pembaca bintang untuk memprediksi perilaku manusia dan masa depan, hal yang dilarang banyak agama, tapi saya berpendapat bahwa mereka sebenarnya adalah astronom. Seperti pelaut yang menatap bintang-bintang dan berharap bahwa bintang-bintang ini akan membimbing mereka pulang, orang majus ini juga melihat bintang dan percaya bahwa mereka akan berjalan di jalan yang benar.

Mereka adalah orang-orang yang disebut sebagai “bangsa-bangsa lain” atau “kafir”, orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang Tuhan, dan orang-orang yang dipercaya akan binasa karena mereka jauh dari Hukum Allah. Namun, Tuhan tidak akan menutup mata-Nya terhadap mereka yang dengan tulus mencari Dia. Sungguh, tiga majus ini menjadi salah satu dari antara orang-orang pertama kepada siapa Allah memilih untuk menampakan diri-Nya, dan bersama-sama dengan mereka adalah para gembala sederhana. Anehnya, orang-orang istimewa ini bukanlah orang Yahudi yang terpelajar, bangsawan kaya raya ataupun Raja Herodes yang agung.

Perjalanan dari orang-orang bijak secara tepat bisa kita dianggap sebagai sebuah perziarahan karena mereka memiliki Tuhan sebagai tujuan akhir mereka. Ini bukanlah sekedar piknik untuk menyegarkan diri sendiri. Ini bukanlah wisata pendidikan untuk menambah pengetahuan. Tentunya, ini bukanlah perjalanan bisnis untuk membuat mereka kaya. Injil menyatakan bahwa mereka mencari “Raja orang Yahudi yang baru lahir” dan berniat untuk memberi penghormatan. Namun, mengapa mereka harus memberikan hormat kepada bayi yang lemah ini sementara ada banyak raja-raja yang lebih berkuasa di sekitar mereka? Hal ini karena mereka sadar bahwa Raja ini bukanlah seorang panglima perang maupun politisi yang haus akan kekuasaan, tapi Raja yang akan memenuhi keinginan hati: sebuah kepenuhan hidup dan kebijaksanaan sejati. Mereka memang mencari Allah dan ini membuat mereka benar-benar bijaksana.

Jauh di dalam lubuk hati kita, selalu ada kerinduan untuk kebahagiaan sejati dan kepenuhan yang sempurna. Namun, kita sering seperti Herodes Agung yang mengunci dirinya sendiri di dalam istana buatan manusia karena kita mencari jawaban dalam diri kita sendiri, dalam kekayaan, kekuasaan dan kenikmatan sesaat. Hal ini hanya membawa kita pada kekosongan dan frustasi. Perziarahan tiga orang bijak dari timur harus menjadi perziarahan kita juga. Tiga orang majus ini memberi kita contoh otentik dengan melihat jawabannya tidak dalam diri kita sendiri tetapi hanya kepada Allah, dan hanya kepada-Nya kita dapat menemukan sukacita kita sejati.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Not a Perfect Family

Feast of the Holy Family – December 29, 2019 – Matthew 2:13-23

If we were given the choice to choose our parents, what kind of parents would we like to have? Perhaps, some of us want to have rich parents. Some of us may desire to have beautiful or genius parents. Some of us may wish to be born in a royal and politically influential family. These are our usual dreams. Yet, surprisingly, these are not the options that God made when He chose His parents. In His beautiful wisdom, God selected Mary and Joseph of Nazareth.

Joseph was a descendant of acclaimed King David, but the Davidic Kingdom was the only thing of the past in the time of Joseph. He was also a carpenter and despite hardworking, this profession just gave enough to survive. Mary was an ordinary young woman from an unknown village called Nazareth. Joseph and Mary were simple if not poor people living within the time where most Israelites were suffering from the oppression of the Roman empire. In the eyes of the world, this couple was nothing.

However, our God is the God of surprises, and He has a hobby to upset “the established world’s order.” For God, the crucial criteria to be His parents are not wealth, popularity, or noble line. God has no need of these things. So, what is the basis of His choice?

The fundamental criterium is faith in God. Joseph and Mary possessed nothing of this world, but both are the man and woman of faith, or the man and woman of God. Joseph was called as the “righteous man,” meaning he was a man who knew the Torah by heart and obeyed them faithfully. Joseph loved God and His laws. Moreover, when Gabriel appeared to Joseph and revealed the plan of God, Joseph immediately got up and followed Angel’s instruction without any question asked. Mary did basically the same thing. When Gabriel told her about God’s plan that she would be the mother of God, Mary did not understand, but she did not simply give her nod, but she accepted God’s design as her own. Joseph and Mary knew well that the moment they participated in God’s way, they had to surrender their own plans, dreams, and hopes. Their lives were practically thrown into the unknown. Yet, their faith is bigger than their fear or pride, and they believed that God’s way is always the best way. These are the kind of parents whom God chose.

Like Joseph and Mary, I do believe that the first attitude that any parents have is faith in God. Every child is a gift, yet this gift will challenge and change the parents who receive them. As a child enters the life of their parents, husband and wife shall also enter the life of sacrifice. Sometimes, I am sudden by the decision of some Catholic couples who refuse to have children. We understand that it is difficult to raise children, but our refusal to accept a gift from God might point to our lack of faith, even to our selfishness, our obsessiveness to our plans, career, and ambitions.

God does not need a perfect couple to raise His Son, He rather chooses a man and woman of faith.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bukan Keluarga Sempurna

Pesta Keluarga Kudus –  29 Desember 2019 – Matius 2: 13-23

holy family 2Jika kita diberi pilihan untuk memilih orang tua kita, orang tua seperti apa yang kita inginkan? Mungkin, sebagian dari kita ingin memiliki orang tua yang kaya. Beberapa dari kita mungkin berhasrat untuk memiliki orang tua yang berupa cantik, tampan atau berotak jenius. Beberapa dari kita mungkin ingin dilahirkan dalam keluarga kerajaan dan berpengaruh secara politis. Ini adalah impian-impian kita yang sangat wajar. Namun, yang mengejutkan, ini bukanlah pilihan yang Allah buat ketika Dia memilih orang tua-Nya. Dalam kebijaksanaan-Nya yang indah, Allah memilih Maria dan Yusuf dari Nazaret.

Yusuf adalah keturunan Raja Daud yang terkenal, tetapi Kerajaan Daud sudah tidak ada di zaman Yusuf. Dia juga seorang tukang kayu dan meskipun bekerja keras, profesi ini hanya cukup untuk bertahan hidup. Maria adalah seorang wanita muda biasa dari desa yang tidak dikenal bernama Nazareth. Yusuf dan Maria adalah orang sederhana, bahkan orang miskin yang hidup di masa ketika sebagian besar orang Israel menderita karena penindasan kekaisaran Romawi. Di mata dunia, pasangan ini bukan apa-apa.

Namun, Tuhan kita adalah Tuhan memberi kejutan, dan Dia memiliki hobi untuk mengacaukan “tatanan dunia yang mapan.” Bagi Tuhan, kriteria penting untuk menjadi orang tua-Nya bukanlah kekayaan, popularitas, atau darah. Tuhan tidak membutuhkan hal-hal ini. Jadi, apa dasar dari pilihan-Nya?

Kriteria mendasar adalah iman kepada Tuhan. Yusuf dan Maria tidak memiliki apa pun di dunia ini, tetapi keduanya adalah pria dan wanita beriman, atau pria dan wanita Allah. Yusuf disebut sebagai “orang yang tulus hati,” yang berarti dia adalah orang yang mengenal Hukum Taurat dan menaati mereka dengan setia. Yusuf mencintai Tuhan dan hukum-hukum-Nya. Terlebih lagi, ketika Gabriel menampakkan diri kepada Yusuf dan mengungkapkan rencana Tuhan, Yusuf segera bangkit dan mengikuti instruksi Malaikat tanpa ada pertanyaan. Maria pada dasarnya melakukan hal yang sama. Ketika Gabriel memberi tahu dia tentang rencana Tuhan bahwa dia akan menjadi ibu Tuhan, Maria tidak mengerti, tetapi dia tidak hanya memberikan persetujuannya, tetapi dia menerima rancangan Tuhan sebagai miliknya sendiri. Yusuf dan Maria tahu betul bahwa saat mereka mengambil bagian dalam jalan Tuhan, mereka harus menyerahkan rencana, impian, dan harapan mereka sendiri. Namun, iman mereka lebih besar daripada ketakutan atau kesombongan mereka, dan mereka percaya bahwa jalan Tuhan selalu merupakan jalan terbaik, meski mereka tidak mengerti. Ini adalah tipe orang tua yang Tuhan pilih.

Seperti Yusuf dan Maria, saya percaya bahwa sikap pertama yang harus dimiliki setiap orang tua adalah iman kepada Tuhan. Setiap anak adalah karunia, namun karunia ini akan mengubah orang tua yang menerimanya. Ketika seorang anak memasuki kehidupan orang tua mereka, suami dan istri juga akan memasuki kehidupan pengorbanan. Terkadang, saya sedih mendengar keputusan beberapa pasangan Katolik yang menolak untuk memiliki anak. Kita memahami bahwa tentunya sulit untuk membesarkan anak-anak, tetapi penolakan kita untuk menerima karunia dari Tuhan mungkin menunjukkan kurangnya iman kita, bahkan keegoisan kita, obsesi kita terhadap rencana, karier, dan ambisi kita.

Tuhan tidak membutuhkan pasangan yang sempurna untuk membesarkan Putranya, Ia lebih memilih seorang pria dan wanita yang memiliki iman.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Joseph, the Man of Faith

Fourth Sunday of Advent [A] – December 21, 2019 – Matthew 1:18-24

Let-Mom-Rest(1)A few days ago, a nativity scene went viral. The image is called “Let Mom Rest”. The prominent character of this scene is that Joseph is taking care of the baby Jesus while Mary is resting. This image presents to us untouched yet powerful aspects of Jesus’ birth and thus, Christmas. Often, we focus our attention on Jesus with Mary, His mother. We honor Mary because of her willingness to carry Jesus on her womb despite so many dangers and difficulties and to remain a faithful disciple of Jesus till the end. However, the image brings us to another important character that we often overlook, St. Joseph, as the man of faith.

If God has chosen and prepared the most fitting woman in human history to become the mother of His Son, the same logic governs also the choice of the foster father of Jesus. The most suitable man is chosen for this massive yet wonderful task.

Unfortunately, we do not know much about Joseph. Matthew only gave us very little information, but from this little knowledge, we can extract some important truths. Firstly, Joseph is from the house of David. This means that any child that he begets or accepts legally shall be part of the house of David as well. Joseph is the link that connects between Jesus and David, and thus, Jesus’ birth shall fulfill the prophecy that the Messiah shall come from the line of David.

Secondly, he is a carpenter, and being a carpenter is not a promising job to survive first-century Palestine. Yet, Joseph well knows that hard-work, precision, and perfection are parts of his trade. A tough life is nothing but a daily routine for Joseph. God knows to raise His Son will require a tremendous amount of sacrifice, and Joseph, the carpenter, is up to the challenge.

To accept and to raise a child who is not his own, is certainly a tough call, but Joseph obeyed the will of God that has been expressed in his dream, “Do not be afraid to take Mary as your wife.” Yet, more than that, Joseph made sure that this mission would be brought to completion. From the image of “Let Mom Rest”, it seems that Mary just gave birth to Jesus and giving birth is certainly a draining and tough process. Mary was exhausted. Joseph takes over the responsibility to care for the baby Jesus, while Mary received her most-needed rest. This is just one small concrete example of who Joseph exercised the God-given mission to raise the Child of God. Certainly, his duty is not only manifested in that event. He protected Mary and her Child from dangers, especially from the threat from Herod the Great who would kill Jesus. For the rest of his life, Joseph would work hard to provide, educate and raise Jesus as a man who is ready to give His life for all.

Like Mary, Joseph did not understand also why he had to be a father who someone else’s child, why he had to put his life and future on the line for a son who is not his own? Yet, like Mary, Joseph had faith and accepted the will of God in his life. Not only simply accepting God’s will, but he also made sure that he gave his best and made God’s plan come to fulfillment.

We often do not understand why God’s plan for us. We do know where God will bring us. Yet, like Mary and Joseph, we are called to be the men and women of faith, to receive God’s plan as our own and bring His will into fruitful completion.

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yusuf, sang Ayah Penuh Iman

Minggu Keempat Adven [A] – 21 Desember 2019 – Matius 1: 18-24

Let-Mom-Rest(1)Beberapa hari yang lalu, ada sebuah gambar akan  kelahiran Tuhan Yesus menjadi viral. Gambar itu disebut “Biarkan Bunda Beristirahat”. Karakter utama dari gambar ini adalah Yusuf mengendong bayi Yesus sementara Maria beristirahat. Gambaran ini menunjukkan kepada kita aspek yang jarang tersentuh dari kelahiran Yesus. Seringkali, kita memusatkan perhatian kita pada Yesus bersama Maria, ibu-Nya. Kita menghormati Maria karena kesediaannya untuk mengandung Yesus di rahimnya meskipun begitu banyak bahaya dan kesulitan dan untuk tetap menjadi murid Yesus yang setia sampai akhir. Namun, gambar ini membawa kita kepada karakter penting lain yang sering kita abaikan, St Yusuf, sebagai orang beriman.

Jika Tuhan telah memilih dan mempersiapkan wanita yang paling cocok dalam sejarah manusia untuk menjadi ibu dari Anak-Nya, logika yang sama juga mengatur pilihan ayah angkat Yesus. Orang yang paling cocok dipilih untuk tugas besar namun luar biasa ini jatuh ke tangan St. Yusuf.

Sayangnya, kita tidak tahu banyak tentang Yusuf. Matius hanya memberi kita informasi yang sangat sedikit, tetapi dari sedikit pengetahuan ini, kita dapat mengekstraksi beberapa kebenaran penting. Pertama, Yusuf berasal dari keluarga Daud. Ini berarti bahwa setiap anak yang ia terima secara hukum akan menjadi bagian dari keluarga Daud juga. Yusuf adalah mata rantai yang menghubungkan antara Yesus dan Daud, dan dengan demikian, kelahiran Yesus akan menggenapi nubuat bahwa Mesias akan datang dari garis keturunan Daud.

Kedua, dia adalah seorang tukang kayu, dan menjadi seorang tukang kayu bukanlah pekerjaan yang menjanjikan untuk bertahan hidup di Palestina abad pertama. Namun, Yusuf tahu betul bahwa kerja keras, presisi, dan kesempurnaan adalah bagian dari pekerjaannya. Kehidupan yang sulit adalah rutinitas harian bagi Yusuf. Tuhan tahu untuk membesarkan Anak-Nya akan membutuhkan banyak pengorbanan, dan Yusuf, sang tukang kayu, sanggup menghadapi tantangan itu.

Menerima dan membesarkan anak yang bukan miliknya, tentu merupakan panggilan yang sulit, tetapi Yusuf mematuhi kehendak Allah yang telah dinyatakan dalam mimpinya, “Jangan takut untuk mengambil Maria sebagai istrimu.” Selain itu, Yusuf memastikan bahwa misi ini akan tuntas. Dari gambar “Biarkan Bunda Beristirahat”, tampaknya Maria baru saja melahirkan Yesus dan proses melahirkan tentunya yang menguras tenaga. Maria kelelahan. Yusuf mengambil alih tanggung jawab untuk merawat bayi Yesus, sementara Maria mendapatkan kesempatan beristirahat. Ini hanyalah satu contoh konkret kecil dari bagaimana Yusuf menjalankan misi yang diberikan Allah untuk membesarkan Anak Allah. Tentu saja, tugasnya tidak hanya diwujudkan dalam peristiwa ini. Dia melindungi Maria dan Anaknya dari bahaya, terutama dari ancaman dari Herodes Agung yang akan membunuh Yesus. Selama sisa hidupnya, Yusuf akan bekerja keras untuk menyediakan, mendidik, dan membesarkan Yesus sebagai seorang manusia yang siap memberikan hidup-Nya untuk semua.

Seperti Maria, Yusuf juga tidak mengerti mengapa ia harus menjadi ayah dari akan orang lain, mengapa ia harus mempertaruhkan nyawanya dan masa depannya untuk seorang putra yang bukan anaknya? Namun, seperti Maria, Yusuf memiliki iman dan menerima kehendak Allah dalam hidupnya. Tidak hanya sekadar menerima kehendak Tuhan, tetapi dia juga memastikan bahwa dia memberikan yang terbaik dan membuat rencana Tuhan terwujud.

Kita sering tidak mengerti mengapa rencana Tuhan untuk kita. Kita tahu kemana Tuhan akan membawa kita. Namun, seperti Maria dan Yusuf, kita dipanggil untuk menjadi pria dan wanita yang beriman, untuk menerima rencana Allah sebagai milik kita sendiri dan membawa kehendak-Nya ke dalam kesempurnaan.

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God’s House

33rd Sunday in Ordinary Time – November 17, 2019 – Luke 21:5-9

Cathedral of Notre-Dame of Paris fire aftermath, France - 16 Apr 2019During the reign of Herod the Great, the Temple of Jerusalem was refurbished, adorned by gold and other precious metals, and expanded, and thus making it the crown jewel of the Jewish nation. However, the Temple was not merely a magnificent building, but primarily the center of Jewish religious worship and religion. Every morning and evening, sacrifices were offered, and every year, Jewish men from all over the world made their pilgrimage, and paid their homage the Lord God. It was the place where God chose to stay, the place where the Israelites meet their God, and the house of God.

Looking at the majestic view of the Temple and its religious significance, many would believe that the Temple would last forever because God Himself would defend His house. Yet, Jesus prophesied against the sentiment of the Israelites and told His disciples that this beautiful Temple would be destroyed. Surely, Jesus’ words offended the religious sensitivity of His time and one of the accusations against Him was precisely because Jesus spoke against the Temple, against God Himself. Yet, 40 years later, in 70 AD, the Romans under General Titus, burned the Temple and razed the city to the ground.

Jesus’ prophesy opens us to the profound truth that even God allows His house on earth to be destroyed. Hagia Sophia in Constantinople (now Istanbul) was the grandest church in the 4th and 5th centuries and considered to be an architectural and engineering marvel. Yet, when Constantinople fell to the Turks, the church stopped functioning as a Christian worship place. In our time, the Cathedral of Notre Dame was an iconic Gothic building at the heart of Paris. Yet, on April 15, 2019, the fire destroyed many parts of this holy building. Just this month, some churches in Chile became the target of violent demonstrators. They forcefully entered the churches, took out the pews and other religious images, and burnt them outside the churches, not to mention, the desecration of the tabernacles. The houses of God have been the object of vandalism, violent anger, and untold destruction, and God allows those to take place in our midst. But why? Is God weak enough to stop these from happening? Does God not care? Has God forsaken us?

The Churches as the house of God symbolize the inner sanctuary of our faith. An attack on the Church means an attack on our cherished faith. If God allows His house to be humiliated, so God also allows our faith to be challenged, shocked, and shaken. God allows trials to batter our lives, doubts to question our faith, and darkness to envelop our vision. But why?

When the fire that burned the Church of Notre Dame was extinguished, many things have been lost, but at the center of the Church, one image survived the blazing fire: the huge cross stood still. God allows His houses destroyed, and our faith was shaken to show us what truly matters in life and our journey of faith. It is God and God alone. It is not so much the monuments we build for Him nor the works and mission for Him, even our talents, charism and fruits of prayers. These are surely important, but these easily vanish. Only one remains God alone. God allows us to be shaken so we may find Him again, surprisingly more alive and ever closer.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP