Yesus Sang Penabur

Minggu ke-15 dalam Masa Biasa [A]

12 Juli 2020

Matius 13: 1-23

child confessionDalam Injil hari ini, kita mengamati reaksi para murid setelah Yesus berbicara perumpamaan-Nya yang pertama. Mereka bingung dan heran! Mengapa? Karena Yesus tiba-tiba mengubah metode pengajaran-Nya. Dalam bab-bab sebelumnya, Yesus mengajar mereka dengan jelas, seperti dalam khotbah di Bukit [Mat 5-7], dan ajaran-Nya sangat mudah dimengerti walaupun kadang sulit untuk dilaksanakan. Namun, Yesus membuat perubahan tak terduga yang membuat banyak orang dan termasuk murid-Nya tak paham dengan mengunakan perumpamaan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Untuk memahami perumpamaan Yesus, kita perlu melihat bahwa perumpamaan telah digunakan bahkan sebelum Yesus, secara khusus dalam Perjanjian Lama. Salah satu contoh klasik adalah perumpamaan dari nabi Natan yang ditujukan kepada raja Daud [Lihat 1 Raja 12].

Raja Daud telah melakukan dosa yang sangat besar dengan melakukan perzinaan dengan Batsyeba dan merencanakan pembunuhan suaminya, Uria. Kemudian, nabi Nathan mengecam Daud, namun secara tidak langsung dengan menceritakan sebuah perumpamaan. Ini tentang seorang pria kaya yang dengan paksa merampak anak domba seorang pria miskin. Mendengarkan cerita itu, Daud geram dan menyatakan bahwa orang kaya itu harus mati. Kemudian, Nathan membuka kartunya, “Daud, kamu adalah orang kaya itu!” Untungnya, Daud adalah raja yang baik hati dan setia, dan dia bertobat ketika dia ditegur.

Itulah kekuatan perumpamaan. Ini adalah pesan tersembunyi yang tidak langsung untuk membuat orang berpikir lebih dalam tentang diri mereka sendiri. Yesus mulai berbicara dalam perumpamaan ketika Yesus menyadari bahwa pertentangan dari orang-orang Farisi dan penatua semakin memburuk, dan banyak orang yang hanya ingin dihibur daripada mengikuti Yesus.

Dengan demikian, perumpamaan tentang penabur mengungkapkan kondisi nyata dari pewartaan Yesus. Para penatua dan orang-orang Farisi seperti jalan setapak. Mereka mendengar khotbah Yesus, tetapi masih memilih untuk berada di bawah pengaruh kegelapan, dan berusaha untuk menghancurkan Yesus. Banyak orang seperti tanah berbatu karena mereka hanya mencari Yesus untuk memuaskan kebutuhan mereka. Yang lain seperti tanah yang dipenuhi duri karena mereka mengikuti Yesus untuk sementara waktu, tetapi ketika pencobaan datang, mereka meninggalkan Yesus. Terakhir, tanah subur adalah para murid.

Perumpamaan tentang penabur tidak mencerminkan berbagai jenis pendengar tentang Yesus selama masa-Nya, tetapi juga mengungkapkan realitas zaman kita. Sebagian dari kita seperti jalan setapak, mungkin kita dibaptis Katolik, tetapi kita tidak pernah hidup seperti itu, dan masih hidup dalam dosa. Beberapa dari kita seperti tanah berbatu. Kita memperlakukan Yesus dan Gereja-Nya sebagai tempat hiburan, dan kita hanya mencari diri sendiri daripada Tuhan. Sebagian dari kita seperti tanah yang dipenuhi duri. Kita gembira menjadi orang Kristen, tetapi kita tidak masuk lebih dalam iman kita, dan ketika pencobaan atau keraguan melanda, kita dengan mudah meninggalkan Tuhan. Dan semoga, banyak dari kita seperti tanah subur. Kita melakukan yang terbaik untuk menerima Firman Tuhan dan memastikan bahwa itu akan tumbuh dan menghasilkan buah.

Kabar baiknya adalah firman Tuhan sangat berdayaguna sehingga bahkan dapat berbuah adalah tanah yang berbatu-batu sekalipun. Rahmat sungguh cuma-cuma tetapi tidak murahan, dan kita perlu melakukan bagian kita. Adalah misi kita untuk mengubah tanah berbatu menjadi tanah yang subur bagi Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Be Not Afraid

12th Sunday in Ordinary Time [A]

June 21, 2020

Matthew 10:26-33

peter image 2Jesus never promises that the disciple will have easy and prosperous lives. Jesus demands the opposite. After being chosen, the twelve disciples are sent to preach that the Kingdom is at hand, and yet they will not go like any royal emissaries with their military escort. No! They will travel as simple men going on foot and carrying minimal provision. They will rely on the generosity of their hosts, and the worst part is that they are going to face rejection.

Naturally, humans as they are, they are growing fear. Yet, Jesus tells them that this mission is just “on the job training,” because they are going to undergo something even deadlier in the future. True enough, after the Pentecost, they will preach that Jesus is Lord, and they are facing severe rejection, terrible persecution, and even gruesome death. As Jesus teaches them, “the disciples are no greater than their master.” If Jesus, their master, is rejected, insulted, and condemned to death, the disciples will share the same path. Peter is crucified upside down, James, brother of John, is beheaded, and James son of Alpheus, is stoned to death.

Jesus understands their human and natural fear, but Jesus tells them that they shall not fear. Why? The answer of Jesus is simple. Why should we fear dying if we will perish anyway? The choices are whether we die as a witness to Christ or die running from Christ?

Furthermore, Jesus reveals the real reason why we should not be afraid: we have God, who is a loving and caring Father. Jesus gives a lucid yet simple explanation: how God treats a little sparrow. Sparrow is a kind of vertebrates that is practically worthless in the eyes of merchants, but for God, this little bird is His creatures, and when He created something, He has a good plan for it, and He sees to it that this plan will unfold providentially. In the word of Christian Philosopher Peter Kreeft, even God loves mosquitos. If God cares and loves the sparrow, would He not care and love for us? Again, Jesus points out a lovely truth: God knows better than we know ourselves, even He counts our hairs!

When a sparrow falls and dies, it is part of God’s perfect plan, and so when the disciples are experiencing rejections, trials, and even death, it is also part of God’s providence. Yes, often, our sufferings can be absurd. Why do we have to lose someone we love? Why do we suffer from incurable sickness? We do not understand, but even these terrible things in life are also parts of God’s providence.

We may not see it now, but perhaps we may see it at a later time, or perhaps, we never discover the reasons because of our too narrow minds. Yet, in God’s eyes, it is totally making sense. The gruesome death of martyrs, for example, is unthinkable. Still, Tertullian, a Christian apologist in 3rd century, saw it in a deeper perspective and wrote, “We spring up in greater numbers the more we are mown down by you: the blood of the Christians is the seed of Christianity.”

Jesus does not call us to enjoy a prosperous life but to be His witnesses. Though things may turn against us, Jesus tells us not to fear and worry because, in the end, all will work according to His beautiful plan because He loves us.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jangan Takut

Minggu ke-12 dalam Masa Biasa [A]

21 Juni 2020

Matius 10: 26-33

little sparrowYesus tidak pernah berjanji bahwa murid-murid-Nya akan memiliki kehidupan yang mudah dan makmur. Yesus menuntut yang sebaliknya. Setelah dipilih, kedua belas murid diutus untuk mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, namun mereka tidak akan pergi seperti utusan kerajaan duniawi dengan pengawalan voorijder. Tidak! Mereka akan pergi sebagai orang sederhana yang berjalan kaki dan membawa persediaan ala kadarnya. Mereka akan mengandalkan kemurahan hati tuan rumah mereka, dan bagian terburuknya adalah mereka akan menghadapi penolakan.

Secara alami, mereka akan merasa takut. Namun, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa misi ini hanya semacam “magang” karena mereka akan menjalani sesuatu yang bahkan lebih sulit di masa depan. Sungguh terjadi, setelah Pentekosta, mereka akan mewartakan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan mereka menghadapi penolakan yang keras, penganiayaan yang mengerikan, dan bahkan kematian yang keji. Seperti yang Yesus ajarkan kepada mereka, “para murid tidak lebih besar dari gurunya.” Jika Yesus, guru mereka, ditolak, dihina, dan dihukum mati, para murid akan mengikuti jalan yang sama. Petrus disalibkan terbalik, Yakobus, saudara Yohanes, dipenggal kepalanya, dan Yakobus anak Alfeus, dilempari batu sampai mati.

Yesus memahami ketakutan manusiawi mereka, tetapi Yesus mengatakan kepada mereka bahwa mereka jangan takut. Mengapa? Jawaban Yesus sederhana. Mengapa kita harus takut mati jika kita toh akan mati juga akhirnya? Pilihannya adalah apakah kita mati sebagai saksi Kristus atau mati lari dari Kristus?

Lebih jauh, Yesus mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa kita tidak perlu takut: kita memiliki Allah, yang adalah Bapa yang pengasih dan peduli. Yesus memberikan penjelasan yang cerdas namun sederhana: bagaimana Tuhan memperlakukan seekor burung pipit yang kecil. Pipit adalah jenis burung  yang tidak berharga di mata kita, tetapi bagi Tuhan, burung kecil ini adalah ciptaan-Nya, dan ketika Dia menciptakan sesuatu, Dia memiliki rencana yang baik untuknya, dan Dia memastikan bahwa rencana ini akan mencapai kepenuhannya. Dalam kata Filsuf Katolik Peter Kreeft, Tuhan pun mengasihi nyamuk. Jika Tuhan peduli dan mencintai burung pipit, akankah Dia tidak peduli dan mengasihi kita? Sekali lagi, Yesus menunjukkan kebenaran yang indah: Tuhan lebih mengenal daripada kita mengenal diri kita sendiri, bahkan Ia menghitung rambut kita!

Ketika seekor burung gereja jatuh dan mati, itu tidak lepas dari rencana Allah yang sempurna, dan ketika para murid mengalami penolakan, pencobaan, dan bahkan kematian, itu juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah. Ya, seringkali, penderitaan kita tidak bisa mengerti. Mengapa kita harus kehilangan seseorang yang kita cintai? Mengapa kita menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan? Kita tidak mengerti, tetapi bahkan hal-hal mengerikan dalam kehidupan ini juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah.

Kita mungkin tidak melihatnya sekarang, tetapi mungkin kita melihatnya di lain waktu, atau mungkin, kita tidak pernah menemukan alasannya karena pikiran kita terlalu sempit. Namun, di mata Tuhan, hal-hal terlihat sebagai sebuah lukisan yang sempurna, walaupun ada warna-warna gelap di dalamnya. Kematian para martir yang mengerikan, misalnya, tidak masuk akal. Tetapi, Tertullianus, seorang apologis Katolik pada abad ke-3, melihatnya dalam perspektif yang lebih dalam dan menulis, “Semakin kamu menghancurkan kami, kami pertumbuh semakin banyak: darah para martir adalah benih Gereja.”

Yesus tidak memanggil kita untuk menikmati kehidupan yang sukses tetapi untuk menjadi saksi-Nya. Meskipun segala sesuatu dapat berbalik melawan kita, Yesus menyatakan bahwa kita tidak perlu takut dan khawatir karena, pada akhirnya, semua akan bekerja sesuai dengan rencana-Nya yang indah karena Dia mengasihi kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Image of the Trinity

Solemnity of the Most Holy Trinity [A]

June 7, 2020

John 3:16-18

Trinity 2We are re-entering the ordinary season of the Church, and one of the greatest feasts within the ordinary time is the solemnity of the Most Holy Trinity. The Church has placed the celebration of the great feast on Sunday after the Pentecost. The reason may not be that obvious, but if we look at the bigger picture, it is nothing but a natural procession of truth. In Easter, we are celebrating the resurrection of Jesus that cements the divinity of Christ. On the Pentecost, we witness the divinity of the Holy Spirit being affirmed [see last Sunday’s reflection]. Now, we are rejoicing for the Three divine persons in God.

The Trinity Sunday is admittedly the most dreaded by many preachers because many are still at a loss of how to show the beauty of this most profound truth, and others are afraid to explain the Trinity because they may spread erroneous concepts. After all, we are facing the source and summit of all mysteries, the mystery of all mysteries. However, it is not the right excuse not to bring forth the beauty of the Holy Trinity. The preachers have to roll up their sleeves and spend more time in researching and preparing our homilies.

In my reflection, I would like to bring you to the Old Testament. In the Old Testament, the reality of the Trinity is hidden in most parts, and yet the sacred truth comes up in the surprisingly key moments. Let us read Gen 1:1-3, “In the beginning when God created the heavens and the earth, the earth was a formless void and darkness covered the face of the deep, while a wind from God swept over the face of the waters. Then God said, “Let there be light,”; and there was light.” The early Christians like St. Irenaeus of Lyon, immediately saw this as Trinity working as one, God, the Spirit, and the Word. The good news is that the creation is the masterpiece of the Holy Trinity, and to a certain degree, it reflects the perfection of the Trinity.

And wait, something more! In Gen 1:26, when God created the man and the woman, God said, “let us create the man and woman in our image and likeness.” This passage is a bit strange because why God, who is one, suddenly self-refer in plural? The Jewish tradition would interpret that God is addressing His heavenly council, the angels, but again, the Christian tradition instinctively saw them as the three divine persons. The good news is that if we are created in the image of God, and if our God is the Trinity, then we are created in the image of Trinity.

This explains a lot of things. Indeed, we cannot fully comprehend the mystery, but we surprisingly are very close to this mystery. Trinity is both our origin and destiny. As the image of Trinity, we cannot discover real joy by hoarding things to ourselves. We cannot be selfish and truly delighted at the same time. Like the Father and the Son love each other in the Holy Spirit, we are called to give ourselves to others in life.

Why does the Catholic Church fearlessly defend the sacredness of marriage? Because through marriage, the man and woman may give themselves totally to each other in love. Their love is so strong that love can give birth to life. When this new life [children] come to their lives, their love can grow even exponentially. In loving and giving ourselves, we may find the fullness of our identity, the image of Trinity. Indeed, it is tough, but the good news is that we are designed to give love and life. Holy Trinity is our origin, and Holy Trinity is our destiny.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Citra Trinitas

Hari Raya Tritunggal Mahakudus

7 Juni 2020

Yohanes 3: 16-18

trinity 3Kita memasuki kembali masa biasa Gereja, dan salah satu perayaan terbesar dalam masa biasa adalah kesungguhan Tritunggal Mahakudus. Gereja telah menempatkan perayaan besar ini pada hari Minggu setelah Pentekosta. Alasannya mungkin tidak begitu jelas bagi kita, tetapi jika kita melihat gambaran yang lebih besar, itu sebenarnya adalah prosesi kebenaran yang wajar. Di Paskah, kita merayakan kebangkitan Yesus yang mengukuhkan keilahian Kristus, dan pada hari Pentekosta, kita menyaksikan keilahian Roh Kudus ditegaskan [lihat refleksi hari Minggu lalu]. Sekarang, kami bersukacita karena Tiga pribadi Ilahi di dalam Tuhan.

Tritunggal Minggu diakui sebagai yang paling ditakuti oleh banyak pastor atau romo karena banyak yang masih bingung bagaimana menunjukkan kebenaran yang paling dalam ini dan yang lain takut untuk menjelaskan Tritunggal karena bisa-bisa menyebarkan konsep yang keliru. Lagipula, kita berhadapan dengan sumber dan puncak semua misteri iman. Namun, itu bukan alasan yang tepat untuk tidak menampilkan keindahan Tritunggal yang mahakudus. Para imam harus bekerja keras dan menghabiskan lebih banyak waktu dalam belajar dan mempersiapkan homili.

Dalam renungan ini, saya ingin membawa kita semua kembali ke Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, realitas Tritunggal tersembunyi di sebagian besar ayat, namun kebenaran suci ini tampak di saat-saat fundamental. Mari kita baca Kejadian 1: 1-3, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk  dan kosong gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang” Lalu terang itu jadi” Umat Kristiani perdana seperti St. Irenaeus dari Lyon, segera melihat ini sebagai Trinitas yang bekerja sebagai satu, Allah, Roh dan Firman. Kabar baiknya adalah bahwa dunia dan segala ciptaan adalah mahakarya dari Tritunggal Mahakudus, dan sampat tingkat tertentu, ciptaan itu mencerminkan kesempurnaan Tritunggal.

Selain itu, dalam Kejadian 1:26, ketika Tuhan menciptakan pria dan wanita, Tuhan berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” Perikop ini sedikit aneh karena Allah yang satu tiba-tiba menyebut diri sendiri dalam bentuk jamak. Tradisi Yahudi menafsirkan hal ini bahwa Allah berbicara kepada dewan surgawi-Nya, para malaikat, tetapi sekali lagi, tradisi Kristiani melihat ini sebagai tiga pribadi Ilahi. Kabar baiknya adalah bahwa jika kita diciptakan menurut citra Allah, dan jika Allah kita adalah Tritunggal, maka kita adalah citra Tritunggal.

Memang benar bahwa kita tidak dapat sepenuhnya memahami misteri Ilahi, tetapi kita sebenarnya tidak jauh dari misteri ini. Bahkan, kita diundang untuk seperti Trinitas. Sebagai citra Trinitas, kita tidak dapat menemukan sukacita sejati dengan menimbun hal-hal duniawi seperti kekayaan, ketenaran untuk diri kita sendiri. Seperti Bapa dan Putra saling mengasihi dalam Roh Kudus, kita dipanggil untuk memberikan diri kita kepada sesama dalam kasih.

Ini mengapa Gereja Katolik terus menjaga kesakralan pernikahan. Karena melalui pernikahan, pria dan wanita dapat memberikan diri mereka sepenuhnya satu sama lain. Cinta kasih mereka begitu kuat sehingga cinta kasih ini bahkan bisa melahirkan kehidupan baru. Dan saat kehidupan baru ini [anak] datang di tengah hidup sang pria dan wanita, kasih mereka dapat semakin tumbuh bahkan secara eksponensial. Dan dalam pernikahan dan keluarga, kita menemukan identitas kita sebagai citra Trinitas, dan saat kita menemukan hal ini, kita menemukan makna terdalam hidup kita.

Memang mengasihi sangat sulit, tetapi kabar baiknya adalah kita dirancang untuk memberikan kasih dan kehidupan. Tritunggal Mahakudus adalah asal usul kita, dan Tritunggal Mahakudus adalah tujuan kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pray like Jesus

7th Sunday of Easter

May 24, 2020

John 17:1-11a

man in prayer 2We are aware that prayer is a fundamental part of Jesus’ life. He prays on a regular basis, and especially when He is preparing to embrace decisive events, like Baptism on the Jordan [Luke 3:21], the election of the twelve apostles [Luke 6:12], transfiguration [Luke 9:28], and the Passion [Matt 26:36–44]. However, we seldom hear what Jesus says in His prayers. In the Synoptic Gospels [Matthew, Mark, and Luke], we are fortunate enough to hear Jesus’ compact and emotional prayer in the Garden of Gethsemane before He enters into His Passion. However, John the evangelist makes sure that we are going to discover what Jesus prays, and it is substantially longer than we ever heard before.

John devotes the entire chapter of His Gospel for this prayer [John 17:1-26]. As expected, He prays to the Father with extraordinary affection and confidence. Yet, what makes it noteworthy is that Jesus does not say only about Himself and His mission, but also prays for His disciples. Jesus is acting as the priest who is interceding on behalf of His disciples. That is why we call this section the high priest’s prayer of Jesus Christ.

From Jesus’ prayer, we unearth some powerful lessons:

Firstly, if prayer is essential in the life of Jesus, it is because Jesus understands that prayer is His line of communication to the Father. Jesus knows well that communication is the key to every flourishing relationship. Perhaps, we fail to see this truth, and that is why we feel prayer is burdensome. We are not eager to attend the mass because we simply understand it as an obligation. We relegate personal prayer to the sideline as we make other things as our priority. Sadly, we immediately blame God if our plans do not work according to our whim, or we even threaten God to grant our wishes. Thus, changing perspective about prayer is crucial and even life-transforming.

Secondly, if prayer is communication, then it should always be a dialogue. Often when we start growing in prayer, we think that we need to always say something to the Lord. I remember one seminarian asked me, “Father, what else should I say if I am running out of words in my prayers?” I told him, “Perhaps, it is time to listen to God.” The next expected question is, “How do I listen to God?” Surely there is no one-size-fits-all answer to this, but I like what St. Jerome says, “You pray: You speak to the bridegroom. You read [scriptures]: He speaks to you.” Yet, we need to remember that dialogue of words is not the end of the communication. The end is the unity of the persons in dialogue. Jesus says, “I am in my Father, and you are in me, and I am in you [John 14:20].”

Lastly, our prayer involves the third person. This is the direct consequence of Jesus’ priestly prayer. Prayer is a dialogue, but just like other dialogue, it may speak about other persons. This is when we pray to God for others. Because Jesus leaves us an example in His priestly prayer, it is all the more imperative for us to care for others through prayers. In time we cannot reach other people who need our help; prayers remain the best way to love them. Indeed the saints in heaven continue to care for us despite not able to physically appear to us through their prayers.

Prayer unites us with God in love and prayer also unites us with people we love in God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus and His Bride in Time of Pandemic

5th Sunday of Easter

May 10, 2020

John 14:1-12

joseph n maryWe have closed our churches for public service for weeks. We shifted to livestreaming masses, and we are learning to adjust and to give priority to our health and life, we realize our hearts remain troubled. We long to see Jesus in the Most Blessed Sacrament, we desire to receive Him in the Eucharist, we want to serve Him in the churches, and we miss the sacrament of confession. We are unsure when it is going to end and be back to normal.

We are like the disciples in the Gospel. Their hearts were troubled because Jesus was about to leave them. They were having a Passover meal, and it was supposed a festive celebration. Yet, Jesus announced to them that someone would betray Him, and He would be taken away from them. The disciples had thrown everything away and followed Jesus because they were hoping that Jesus, as the Messiah, would overthrow the Roman empire and restore the glory of Israel. They could not square with the probability of utter failure. Were they holding on false hope? Was Jesus a hoax? Were their sacrifices useless? We are like the disciples. After we give everything to follow Jesus, to serve His Church, and to work in His vineyard, we feel He is missing. Where is Jesus when we needed Him most?

Jesus knew His disciples’ hearts and assured them as He did to have in God and Jesus. Yet, what comes after this word of affirmation is that Jesus told the disciples that there are many dwelling places in His Father’s house, and He will go to prepare the places. To comfort the disciples, Jesus did not say that He would come back victorious, or He would destroy all enemies of Israel. He said that He is going to prepare a dwelling place. It is just not making much sense.

To understand this, we need to know the wedding ceremony at the time of Jesus. During this time, the wedding was done in two steps. The first one is the betrothal, and the second stage is the wedding celebration. During the betrothal, the couple has exchanged vows and have become husband and wife in the eyes of the Law, but they have not stayed together in one house. They had to wait for around one year before the final ceremony. After around year, the bride would be brought in procession to the home of the groom, and they will have a week-long celebration. Why one-year wait? The reason is practical. It gives enough time for the man to prepare for the celebration as well as build a proper place for the bride.

One particular image that the Church has in relation to Jesus is that she is the bride of Christ. If we apply this Jewish wedding rite to the Church and Jesus, we discover that betrothal has taken place, but not yet the final step. Jesus is not with His Church because He is Father’s House to prepare the dwelling place for us, His bride.

In the time of the pandemic, our hearts are sorely troubled, and with the churches are closed, we feel that our Lord is taken away from us. Yet, a difficult time can actually be a passage going to the much better dwelling place prepared by Jesus. We may not see yet the better things we will experience, yet Jesus assures us that God is in control. In this stormy life, we may see a beautiful place prepared by Jesus, our groom.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Mempelai-Nya di Masa Pandemi

Minggu Paskah ke-5

10 Mei 2020

Yohanes 14: 1-12

last supperKita telah menutup gereja-gereja kita untuk pelayanan publik untuk beberapa minggu sekarang. Kita beralih ke misa livestreaming, dan kita belajar untuk menyesuaikan diri dan mengutamakan kesehatan dan kehidupan kita. Tetapi, kita menyadari bahwa hati kita tetap gelisah. Kita ingin melihat Yesus dalam Sakramen Mahakudus, kita berhasrat untuk menerima-Nya dalam Ekaristi, kita ingin melayani-Nya di paroki dan komunitas, dan kita kehilangan sakramen pengakuan dosa. Kita tidak yakin kapan akan berakhir dan kembali normal.

Kita seperti para murid dalam Injil minggu ini. Hati mereka gelisah karena Yesus akan meninggalkan mereka. Mereka sedang berada pada perjamuan Paskah, dan hal ini seharusnya merupakan perayaan yang menggembirakan. Namun, Yesus mengumumkan kepada mereka bahwa seseorang akan mengkhianati Dia dan Dia akan diambil dari mereka. Para murid telah meninggalkan segalanya, dan mengikuti Yesus karena mereka berharap bahwa Yesus sebagai Mesias akan menggulingkan kekaisaran Romawi dan mengembalikan kemuliaan Israel. Mereka tidak bisa menerima kemungkinan kegagalan total dari Yesus. Apakah mereka berpegang pada harapan palsu? Apakah Yesus menyebarkan kabar hoax? Apakah pengorbanan mereka sia-sia? Kita seperti para murid. Setelah kita memberikan segalanya untuk mengikuti Yesus, untuk melayani Gereja-Nya dan untuk bekerja di kebun anggur-Nya, kita merasa Dia hilang. Di mana Yesus ketika kita paling membutuhkan Dia?

Yesus mengenal hati para murid-Nya dan meyakinkan mereka untuk miliki iman kepada Allah dan kepada-Nya. Namun, apa yang muncul setelah kata penguatan ini adalah bahwa Yesus memberi tahu para murid bahwa ada banyak tempat tinggal di rumah Bapa-Nya dan Dia akan pergi untuk mempersiapkan tempat-tempat itu. Untuk menghibur para murid, Yesus tidak mengatakan bahwa Ia akan kembali menjadi pemenang, atau Ia akan menghancurkan semua musuh Israel. Dia berkata bahwa Dia akan menyiapkan tempat tinggal. Hal ini tidak masuk akal.

Untuk memahami hal ini, kita perlu mengetahui upacara pernikahan di zaman Yesus. Pada masa ini, pernikahan dilakukan dalam dua tahap. Yang pertama adalah pertunangan dan tahap kedua adalah perayaan pernikahan. Pada tahap pertunangan, kedua mempelai sebenarnya telah berjanji dan telah menjadi suami dan istri di mata Hukum, tetapi mereka belum tinggal bersama dalam satu rumah. Mereka harus menunggu sekitar satu tahun sebelum upacara tahap terakhir. Setelah sekitar tahun, pengantin wanita akan dibawa dalam prosesi ke rumah pengantin pria, dan mereka akan mengadakan perayaan selama seminggu. Kenapa menunggu satu tahun? Alasannya praktis. Ini memberi cukup waktu bagi mempelai lelaki itu untuk mempersiapkan perayaan serta membangun tempat yang layak bagi pengantin wanita.

Satu citra Gereja sehubungan dengan Yesus adalah bahwa ia adalah mempelai wanita Kristus [lih. Yoh 3:29; 2 Kor 11:2]. Jika kita menerapkan upacara pernikahan Yahudi pada zaman Yesus ini bagi Gereja dan Yesus, kita menemukan bahwa pertunangan telah terjadi, tetapi belum mencapai perayaan pernikahan. Yesus tidak bersama Gereja-Nya karena Dia ada Rumah Bapa untuk mempersiapkan tempat tinggal bagi kita, mempelai-Nya.

Pada saat pandemi, hati kita pasti gelisah, dan dengan gereja-gereja ditutup, kita merasa bahwa Tuhan kita diambil dari kita. Namun, waktu yang sulit sebenarnya bisa menjadi perjalanan menuju tempat tinggal yang jauh lebih baik yang disiapkan oleh Yesus. Kita mungkin belum melihat hal-hal yang lebih baik yang akan kita alami, tetapi Yesus meyakinkan kita bahwa Allah memegang kendali. Dalam kehidupan yang penuh badai ini, kita dapat melihat tempat yang indah yang disiapkan oleh Yesus, mempelai kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Domba

Minggu Paskah keempat [A]

3 Mei 2020

Yohanes 10: 1-10

good shepherd 4Hari ini adalah hari Minggu Paskah keempat dan secara tradisional juga disebut sebagai Minggu Gembala yang Baik. Bacaan Injil berbicara tentang Yesus yang memperkenalkan diri-Nya sebagai pintu gerbang domba dan juga Gembala yang Baik. Mazmur tanggapan diambil dari mazmur 23 yang menyatakan bahwa “Tuhanlah gembalaku.” St. Petrus dalam Suratnya mengatakan bahwa kita adalah domba-Nya yang hilang, tetapi sekarang telah kembali kepada Yesus sang Gembala [lih. 1 Pet 2:25].

Injil Yohanes tidak memiliki perumpamaan seperti ketiga Injil lainnya, tetapi Yohanes memiliki hal lain. Injil ini memberi kita tujuh pernyataan “AKU ADALAH”. “Aku adalah roti kehidupan.” (Yoh 6:35, 41, 48, 51); “Aku adalah terang dunia.” (Yoh 8:12); “Aku adalah pintu domba.” (Yoh 10: 7,9); “Aku adalah kebangkitan dan hidup.” (Yoh 11:25); “Aku adalah gembala yang baik.” (Yoh 10:11, 14); “Aku adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan.” (Yoh 14: 6); “Aku pohon anggur yang benar.” (Yoh 15: 1, 5). Pernyataan-pernyataan ini mengungkapkan cara-cara istimewa Yesus berhubungan dengan kita para murid-Nya. Jika Yesus adalah roti kehidupan, kita tidak dapat hidup tanpa memakan Dia. Jika Dia adalah terang, kita tidak dapat melihat dan menemukan jalan pulang.

Ketika Yesus menyatakan bahwa Dia adalah pintu domba dan gembala yang baik, ini mengasumsikan bahwa Yesus memperlakukan kita sebagai domba-Nya. Pertanyaannya adalah mengapa domba? Mengapa tidak binatang yang lebih lucu seperti kucing Persia atau Shih Tzu? Mengapa bukan sesuatu yang bermanfaat seperti anjing German shepherd atau kuda? Ok, domba bisa bermanfaat juga sebagai hewan ternak. Daging domba adalah salah satu daging terbaik, dan wolnya bisa menjadi kain mahal. Tetapi, apakah Yesus menganggap kita sebagai domba karena keimutan atau kegunaan kita?

Bersama dengan kambing, domba adalah salah satu hewan paling awal yang telah didomestikasi. Manusia telah memelihara domba sejak sepuluh ribu tahun. Di Palestina pada zaman Yesus, domba adalah hewan yang sangat umum, dan meskipun bekerja sebagai tukang kayu, tidak sulit bagi Yesus untuk mengamati kehidupan gembala dan kawanan ternaknya. Apa yang membuat domba berbeda dari kambing adalah bahwa domba tidak memiliki mekanisme pertahanan diri. Kambing di sisi lain dilengkapi dengan tanduk yang keras dan bisa menjadi agresif ketika diserang. Domba pada dasarnya tidak berdaya dan karena itu, mereka sangat bergantung pada gembala untuk melindungi mereka.

Kita mungkin menolak gagasan bahwa kita tidak berdaya seperti domba. Bagaimanapun, manusia berada di puncak kerajaan hewan karena kecerdasan dan kecakapan fisik kita. Memang, ini benar, jika kita hanya membatasi diri pada aspek biologis atau alami dari kemanusiaan kita. Namun, jika kita mempertimbangkan kehidupan rohani kita, kita tidak lebih baik dari domba. Tanpa perlindungan Tuhan dan para malaikat-Nya, kita hanya menjadi bulan-bulanan roh jahat. Tanpa hukum dan petunjuk Tuhan, kita hanya membahayakan diri kita sendiri. Lebih penting lagi, tanpa Tuhan, kita tidak bisa diselamatkan.

Meminjam kata-kata Uskup Robert Barron, Kekristenan adalah agama keselamatan, dan bukan “self-help religion”. Betapa pun baiknya kita, kita tidak dapat mencapai surga tanpa rahmat Tuhan. Tindakan kita hanya bermakna sejauh itu dibantu oleh kasih Tuhan. Gambaran domba membawa kita pada kesadaran tentang siapa kita. Kita bukan apa-apa tanpa Tuhan, namun walaupun kita lemah secara rohani dan tidak berdaya, Tuhan tetap setia kepada kita dan akan memimpin padang rumput hijau karena Dia adalah Gembala Baik kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hosanna

Palm Sunday of the Lord’s Passion

April 5, 2020

Matthew 21:1-11 and Matthew 26:14—27:66

palm at homeToday, we are celebrating the Palm Sunday of the Lord’s Passion. In many countries, today is a big celebration where people excitedly throng the Church. I remember when I was still studying in the Philippines, the faithful would pack almost all the 11 masses in our Church, Santo Domingo Church. It was a festive celebration as many people were carrying palm branches of a coconut tree.

However, something bizarre takes place this year. The churches in many countries are temporarily closed, the faithful are asked to avoid gathering, including the Holy Eucharist, and people are confused about what to do with the Celebration of the Holy Week. A parishioner once painfully asked me, “Father, since the Church is closed, what shall I do with the palm branches I have?” Surely, there is always a pastoral solution to any problem that the faithful have. Yet, the real issue is not so much about how to clear up the confusion, but how to deal with the deep pain of losing what makes us Catholics. No palm in our hands, no kissing of the crucifix, and no Body of Christ.

Reflecting on our Gospels’ today, we are somehow like the people of Jerusalem who welcomed Jesus and shouted, “Hosanna!” The Hebrew word “Hosanna” literally means “save us!” or “give us salvation!” It is a cry of hop `e and expectation. We need to remember that the people of Israel during this time was were under the Roman Empire’s occupations. Commonly, lives were hard and many people endured heavy taxation under severe punishment. Many faithful Jews were anticipating the promised Messiah, who like David, would restore the lost twelve tribes of Israel, deliver them from the grip of the Romans and bring them into a glorious kingdom. They saw Jesus as a charismatic preacher, miraculous healer, and nature conqueror, and surely, Jesus could be the king that would turn the Roman legions upside down. We need to remember also the context of the Gospel that in few days, the Jewish people would celebrate the great feast of Passover, and thousands of people were gathered in Jerusalem. With so much energy and euphoria, a small incident could ignite a full-scale rebellion. And Jesus was at the center of this whirlpool.

Jesus is indeed a king and savior, but He is not the kind of king that many people would expect. He is a peaceful king, rather than a warmonger, that is why He chose a gentle ass rather than a strong horse. His crown is not shining gold and diamond, but piercing thorns. His robe is not purple and fine-linen, but skin full of scars. His throne is neither majestic nor desirable, but a cross.

We may be like people of Jerusalem, and we shout “Hosanna!” to Jesus, expecting Him to save us from this terrible pandemic, to bring our liturgical celebrations back, and to solve all our problems. However, like people of Jerusalem, we may get it wrong. Jesus is our Savior, but He may save us in the way that we do not even like.

The challenge is whether we lose patience and dismiss Jesus as a preacher of fake news, rather than good news, or endure the humiliation with Him; whether we get discouraged and begin to shout, “Crucify Him!” or we stand by His cross. The challenge is whether we get bitter and start mocking the church authorities for their incompetence handling the crisis or we continue to support them in time of trial; whether we are cursing the grim situations or we begin to spread the light however small it is.

Why does God allow us to endure this terrible experience, or to be more precise, why does God allow Himself to endure this terrible experience? Let us wait at the Good Friday.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP