Mary’s Fiat

Fourth Sunday in Ordinary Time [B]

December 20, 2020

Luke 1:28-36

Christmas is fast approaching, and the Church is inviting us to reflect on the story of the Annunciation. Allow me to once more focus on the Blessed Virgin’s Fiat. To appreciate her answer to God’s will and plan, we need to see at least two things. Firstly, it is her historical and social context. Secondly, it is the language analysis of her response.

Mary was a young girl. According to tradition, she was around 13 or 14 years old when she got married. For many of us, living in urban settings, Mary’s marriage was remarkably too early. But, this kind of practice was nothing but expected. Lives were hard, and many people died too young due to sickness, famine, calamity, or wars. To sustain a healthy number of populations, young girls were prepared for the duty of motherhood.

Mary was betrothed to Joseph from the family of David. In the Jewish community, betrothal is the first formal step in a Jewish marriage. The exchange of vows was done in this betrothal. Mary and Joseph were spouses in the eye of Jewish law and society, except for the intimate relationship. The couple had to wait around one year before the bride moved to the house prepared by the groom from the betrothal. Usually, there was a light procession from the bride’s original place to the new house, where the wedding ceremony and reception would occur.

Legally, Mary was Joseph’s wife, and if something wrong happened, it was judged to be adultery. The Law of Moses abhors adultery since it reflects Israel’s infidelity toward Yahweh, breaking the sacred covenant. Thus, for those who were unfaithful, severe punishment awaited them. In Deu 20:22, the Torah explicitly stated that if a betrothed woman commits adultery, she and the man shall be stoned to death.  As a good Jew, Mary was aware of this terrible consequence when archangel Gabriel announced the glad tiding. If she gave her affirmation, she might face certain, untimely death. Nobody would believe her if she tried to defend her supernatural virginal conception. “She must be insane!” some would say. However, despite this imminent horrible future, Mary accepted her mission.

Now, why did she say her Fiat? I used to think that Mary’s fiat is about surrendering everything to God.  She did not understand, but her faith enabled her to trust in God’s providence. In the face of ominous dangers, to have this kind of faith is extremely remarkable. However, as I read more about this Fiat, I discover that Mary’s Fiat is more than an act of self-surrender. The Greek word used by Mary is “genomai.” This word is rather special because it expresses not an act of submission but an act of longing. This tiny detail spells the great difference. Mary did not just submit to the will of God, but she longed to do it. She was not passively accepting her fate but rather proactively fulfilling God’s plan in her. There were no traces of fear, doubt, and worry. Her yes was driven by passion, hope, and eagerness. Despite bleak tomorrow, she knew that she was about to depart into an unimaginably amazing journey. For her, the Lord’s plan is always the best and the only way to reach our utmost potential.

Do we have what it takes to have Mary’s Fiat?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Phil hearing

Fiat Maria

Minggu Keempat di Waktu Biasa [B]

20 Desember 2020

Lukas 1: 28-36

Natal semakin dekat dan Gereja mengundang kita sekali lagi untuk merenungkan kisah Kabar Sukacita. Izinkan saya untuk sekali lagi fokus pada “Fiat” atau jawaban Ya Perawan Maria [Fiat sendiri berasal dari bahasa Latin, artinya “terjadilah”]. Untuk mengerti lebih dalam jawaban Maria atas kehendak dan rencana Tuhan, kita perlu melihat setidaknya dua hal. Pertama, konteks sejarah dan sosialnya, dan kedua adalah analisis bahasa dari tanggapan Maria.

Maria adalah seorang gadis muda. Menurut tradisi, dia berusia sekitar 13 atau 14 tahun saat menikah dengan Yusuf. Bagi banyak dari kita yang tinggal di lingkungan perkotaan, pernikahan semacam ini terlalu dini. Tapi, praktik semacam ini tidak hanya wajar tetapi dibutuhkan. Kehidupan pada zaman itu sangat sulit, dan banyak orang meninggal dalam usia muda karena penyakit, kelaparan, bencana atau perang. Untuk menopang jumlah populasi yang sehat, gadis-gadis muda harus dipersiapkan untuk menjalankan tugas seorang  ibu.

Injil menjelaskan bahwa Maria “bertunangan” dengan Yusuf dari keluarga Daud. Kata pertunangan sebenarnya kurang tepat, karena tidak menggambarkan realitas yang terjadi. Dalam komunitas Yahudi, ada dua tahap pernikahan. Tahap pertama adalah pertukaran janji antara pria dan wanita. Dengan pertukaran janji ini, Maria dan Yusuf sudah menjadi pasangan suami istri di mata hukum dan masyarakat Yahudi. Dari pertukaran janji ini, pasangan ini harus menunggu sekitar satu tahun sebelum pengantin wanita memasuki rumah yang telah disiapkan oleh pengantin pria. Biasanya, tahap kedua ini dimulai dengan prosesi cahaya dari tempat asal pengantin wanita ke rumah barunya yang menjadi tempat berbagai ritual upacara pernikahan dan resepsi akan dilangsungkan.

Secara hukum, Maria adalah istri Yusuf, dan jika Maria tidak setia, hal ini dianggap perzinaan. Hukum Taurat membenci perzinaan karena hal ini mencerminkan ketidaksetiaan Israel terhadap Yahwe, sebuah pelanggaran dari perjanjian suci. Karena itu, bagi mereka yang tidak setia, hukuman berat menanti mereka. Dalam Ulangan 20:22, Hukum Taurat secara eksplisit menyatakan bahwa jika seorang wanita yang telah mengikrarkan janji nikah dan melakukan perzinaan, dia dan pria itu akan dilempari batu sampai mati. Sebagai seorang Yahudi yang baik, Maria menyadari konsekuensi yang mengerikan ini, ketika malaikat agung Gabriel menyatakan kepadanya sebuah kabar gembira. Jika dia memberikan persetujuannya, besar kemungkinannya Maria akan menghadapi kematian yang mengenaskan. Tentunya, siapa yang akan mempercayai Maria jika dia mencoba menjelaskan bahwa bayi yang dikandungannya adalah karena kuasa Roh Kudus. Orang-orang akan berkata, “Dia pasti sudah gila!”. Namun, meski masa depan mengerikan menunggunya, Maria tetap menerima misinya.

Sekarang mengapa dia mengatakan Fiat? Saya dulu berpikir bahwa Fiat Maria adalah tentang menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Dia tidak mengerti tetapi imannya memungkinkan dia untuk percaya dan berpasrah kepada Tuhan. Dalam menghadapi bahaya yang mengancam jiwanya, iman seperti ini sanggatlah luar biasa. Namun, saat saya membaca lebih banyak tentang Fiat ini, saya menemukan bahwa Fiat Maria lebih dari sekadar tindakan penyerahan atau pasrah diri. Kata Yunani yang digunakan Maria adalah “genomai”. Kata ini istimewa karena sejatinya tidak mengungkapkan penyerahan, tetapi kerinduan.

Detail kecil ini menunjukkan perbedaan yang besar. Maria tidak hanya sekedar tunduk pada kehendak Tuhan, tetapi dia berhasrat untuk berpartisipasi dalam pemenuhannya. Dia tidak pasif menerima takdirnya, melainkan secara proaktif memenuhi rencana Tuhan dalam dirinya. Tidak ada jejak ketakutan, keraguan dan kekhawatiran. Fiat Maria didorong oleh semangat, harapan, dan keinginan kuat. Meskipun hari esok suram, dia tahu bahwa dia akan berangkat ke perjalanan yang luar biasa tak terbayangkan bersama Tuhan. Bagi Maria, rencana Tuhan selalu merupakan rencana terbaik, dan satu-satunya jalan untuk mencapai potensi terbaik kita, keselamatan kita.

Apakah kita melihat seperti Maria melihat? Apakah kita memiliki iman seperti Maria? Apakah Fiat Maria adalah Fiat kita juga?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: arni svanur

 

 

The Master’s Trust

33rd Sunday in Ordinary Time

November 15, 2020

Matthew 25:14-30

The original meaning of talent is not God’s given ability, but a unit of weight and value, normally gold and silver. More importantly, talent is a huge amount of money. One talent is equal to around six thousand denarii. If one denarius is the wage of ordinary daily labor, one talent means six thousand days of works or approximately seventeen to twenty years of work.

To seek the value of this parable, we need to discover the surprising twists in the story. This time, I would like to invite you all to focus on the master of the servants. The master is giving a total of 8 talents to his three servants [literally slaves]. If we pause a moment, we begin to realize how fantastic amount of money they receive. The act of giving presupposes either two things: either the master is unimaginable rich that he does not care really about these talents, or he is utterly generous and trusting. I believe it is the second reason.

To entrust these talents entails grave risks. One possibility is that the servants may fail in their trading, and thus, the master may lose his money. Another chance is the servants may run away with talents, and therefore, the master may lose both his money and his servants. Yet, despite these nightmarish possibilities, the master is firm in his decision. He trusts his servants, and it pays off. Except for his lazy servant, the master earns double!

From this, we learn a precious lesson. The best way to expand our talent is by sharing it with others. The usual way to develop our talents is by practicing it often. However, this method does not bring us exponential growth. Yet, by sharing the talents, the possibility of growth is unimaginable. Yet again, the parable is not simply about talents, but the relationship between the master and the servants, on the trust and faith of the master and gratitude of the servants. Indeed, the ability to recognize the master’s trust produces gratitude, and gratitude propels the servants to do their best.

One probable reason that the servant becomes lazy is that he fails to recognize his master’s trust and focuses on the smallness of his talent. Ironically, one talent is still a huge amount of wealth! Thus, instead of gratitude, envy creeps in, and laziness prevails. We also notice that the servant is not losing the talent, but he still receives the punishment. Though the talent is not missing, the trust of the master has been lost. And when this trust’s lost, everything is lost.

Learning from this parable, we are called to have that ability to recognize God’s “trust” and love in us. Different talents we have are just a simple manifestation of this love. Slaves as we are, we do not deserve anything from God, but God has given us superabundantly. From this realization, only gratitude shall naturally flow. But, if we miss the point, we may fall into many other sins: envy, anger, slander, or simply laziness. Again, it is not about the talents we have, but the trust and love God has in us.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Di Balik Talenta

Minggu ke-33 di Masa Biasa

15 November 2020

Matius 25: 14-30

Sejatinya talenta bukanlah bakat atau kemampuan yang diberikan Tuhan, tetapi sebuah unit bobot dan nilai, biasanya dari emas dan perak. Mudahnya, talenta adalah jumlah uang yang sangat besar. Satu talenta setara dengan sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar adalah upah kerja satu hari, satu talenta berarti enam ribu hari kerja atau sekitar tujuh belas hingga dua puluh tahun kerja.

Untuk mencari makna dari perumpamaan ini, kita perlu menemukan bagian dari cerita yang mengejutkan. Kali ini, saya ingin mengajak kita semua fokus pada tuan para hamba ini. Tuannya memberikan total 8 talenta kepada hamba-hambanya [secara harfiah adalah budak]. Jika kita berhenti sejenak, kita mulai menyadari betapa fantastisnya jumlah uang yang mereka terima. Tindakan memberi mengandaikan salah satu dari dua hal: entah sang tuan adalah orang yang sangat kaya sehingga dia tidak benar-benar peduli dengan talenta-talenta ini, atau dia sangat murah hati dan percaya kepada para hambanya. Saya percaya dia adalah orang yang murah hati dan percaya kepada hambanya.

Mempercayakan talenta ini memiliki risiko besar. Salah satu kemungkinannya adalah bahwa para hamba bisa gagal dalam usaha mereka dan dengan demikian, tuannya bisa kehilangan uangnya. Kemungkinan lain adalah para hamba bisa saja kabur dengan membawa talenta, dan dengan demikian, tuannya bisa kehilangan uang dan para hambanya. Namun, terlepas dari kemungkinan sangat buruk ini, sang tuan teguh dalam keputusannya. Dia mempercayai para hambanya, dan kepercayaannya berbuah. Kecuali untuk hambanya yang malas, sang tuan mendapat dua kali lipat!

Dari sini, kita mendapat pelajaran berharga. Cara terbaik untuk mengembangkan talenta kita adalah dengan membagikannya kepada orang lain. Cara yang biasa untuk mengembangkan talenta kita adalah dengan menggunakannya. Namun, metode ini tidak membawa kita pertumbuhan eksponensial. Namun, dengan berbagi talenta, kemungkinan untuk berkembang tidak terbayangkan. Lebih dari itu, perumpamaan ini bukan hanya tentang talenta, tetapi tentang hubungan antara tuan dan hambanya, tentang kepercayaan dan kasih sang tuan dan rasa syukur para hamba. Memang, kemampuan untuk melihat kepercayaan sang tuan akan menghasilkan rasa syukur, dan rasa syukur mendorong para hamba untuk melakukan yang terbaik.

Salah satu kemungkinan alasan hamba menjadi malas adalah karena dia gagal mengenali kepercayaan tuannya dan berfokus pada kecilnya talenta yang ia terima. Ironisnya, satu talenta masih merupakan kekayaan yang sangat besar! Jadi, alih-alih bersyukur, iri hati menghancurkan jiwanya dan kemalasanlah yang menang. Kita juga memperhatikan bahwa hamba ketiga tidak kehilangan talenta, tetapi dia masih menerima hukuman. Meskipun talentanya tidak hilang, kepercayaan tuannya telah hilang. Dan saat kepercayaan ini hilang, semuanya akan hilang.

Belajar dari perumpamaan ini, kita dipanggil untuk memiliki kemampuan untuk mengenali kepercayaan dan kasih Tuhan kepada kita. Berbagai talenta yang kita miliki hanyalah perwujudan sederhana dari kasih ini. Sebagai hamba kita, kita tidak pantas mendapatkan apa pun dari Tuhan, tetapi Tuhan telah memberi kita secara berlebihan. Dari kesadaran ini, hanya rasa syukur yang mengalir dengan sendirinya. Tetapi, jika kita tidak bisa melihat hal ini, kita mungkin jatuh ke dalam banyak dosa lain: iri hati, kemarahan, fitnah, atau sekadar kemalasan. Sekali lagi, ini bukan tentang talenta yang kita miliki, tetapi kepercayaan dan kemurahan yang Tuhan berikan kepada kita.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Focus on Jesus

19th Sunday in Ordinary Time

August 9, 2020

Matthew 14:22-33

just walk on waterThe story of Jesus walking on water is a well-known account being shared by three gospels: Matthew 14:22-33, Mark 6:45–52 and John 6:15–21. However, unique to Matthew is the part of Peter who also walked on water, but sank after a few steps. Let us focus our attention on this unique moment in the life of Simon Peter.

The sudden and unusual appearance of Jesus startled the disciples who were still battling the strong wind. The disciples’ natural reaction was fear. They thought they saw a ghost. Matthew gives us a little interesting detail: the disciples were afraid not because of the raft sea, but because of Jesus’ presence. We remember that many of them were seasoned fishermen and dealing with unpredictable conditions in the lake of Galilee was their part of their job description.  Yet, to see someone walked on water was just unprecedented. Thus, Jesus took the initiative to calm the storms inside their hearts and assured them that He is the “I AM” who controlled the forces of nature.

Peter, the bold leader and yet impulsive man, wanted to prove what he saw and heard. He then challenged Jesus and himself by saying, “Lord, if it is you, command me to come to you on the water.” Jesus invited him to come. The miracle took place. Simon Peter was able to walk on water. Yet, his weak human nature once again set in. After a few miraculous steps, he got distracted by the wind, lost his focus on Jesus, and he began to sink. Jesus had to save him and told him, “O you of little faith, why did you doubt?” We notice that Jesus did not say, “You, who have no faith!” but rather, “little faith.” This shows that Peter possessed indeed faith, proven by his several miraculous steps, but it was still small, easily distracted, and doubt-ridden.

Many of us can easily relate to Simon Peter, our first Pope. We believe in Jesus, and we know that we have faith in Him. Yet, we are aware also that our faith is still small. We may go to the Church every Sunday or pray from time to time, believe that Jesus, our God and Savior, and accept the teachings of the Church, but our faith is just tiny part of our life, that can be set aside when other and bigger concerns like work, career, relationship and others. We give God our leftovers, our time and effort. Even in our prayer and worship, we are easily distracted. Rather than focusing ourselves in Jesus, we give our attention to our cellphones and all the excitement they offer. Then, when we face the storms of life, we begin to sink, and when we are drowning, that is that the time, we shout, like Peter, “Lord, save me!”

We are called to set our gaze on Him and to learn to have true eyes of faith. These are eyes to ponder the Eucharist not as mere bread and wine, not as monotonous repetition, but as the real presence of Jesus who has sacrificed His life for us. This is a faith that empowers us to see Jesus’ presence in our daily and ordinary events. Thus, not even the fiercest storms can sink us because we focus our eyes on Jesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fokus pada Yesus

Minggu ke-19 di Masa Biasa [A]

9 Agustus 2020

Matius 14: 22-33

jesus walk water 2Kisah Yesus berjalan di atas air adalah kisah terkenal yang ditulis oleh tiga Injil: Matius 14: 22-33, Markus 6: 45–52 dan Yohanes 6: 15–21. Namun, yang unik dari Matius adalah bagian dari Petrus yang juga berjalan di atas air, namun tenggelam setelah beberapa langkah. Mari kita fokuskan perhatian kita pada momen unik dalam kehidupan Simon Petrus ini.

Kehadiran Yesus yang tiba-tiba dan tidak biasa mengejutkan para murid yang masih berjuang melawan angin kencang. Reaksi alami para murid adalah ketakutan. Mereka mengira mereka melihat hantu. Matius memberi kita sedikit detail yang menarik: para murid takut bukan karena badai laut, tetapi karena kehadiran Yesus. Kita ingat bahwa banyak dari mereka adalah nelayan berpengalaman dan berurusan dengan kondisi tak terduga di danau Galilea adalah bagian dari pekerjaan mereka. Namun, melihat seseorang berjalan di atas air belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi, Yesus mengambil inisiatif untuk menenangkan badai di dalam hati mereka dan meyakinkan mereka bahwa dialah Yesus yang mengendalikan kekuatan alam.

Petrus, pemimpin yang berani namun juga impulsif, ingin membuktikan apa yang dilihat dan didengarnya. Dia kemudian menantang Yesus dan dirinya sendiri dengan berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”  Yesus mengundang dia untuk datang. Mujizat terjadi. Simon Petrus bisa berjalan di atas air! Namun, sifat kemanusiaannya yang lemah sekali lagi muncul. Setelah beberapa langkah mujizat, dia terganggu oleh angin, kehilangan fokusnya pada Yesus, dan dia mulai tenggelam. Yesus harus menyelamatkannya dan berkata kepadanya, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Kita memperhatikan bahwa Yesus tidak berkata, “Kamu, yang tidak memiliki iman!” melainkan, “kurang percaya!” Ini menunjukkan bahwa Petrus sebenarnya memiliki iman, dibuktikan dengan beberapa langkah mukjizatnya, tetapi iman itu masih kecil, mudah terganggu, dan sarat keraguan.

Banyak dari kita dapat dengan mudah melihat diri kita seperti Simon Petrus, Paus pertama kita. Kita percaya kepada Yesus namun, kita sadar juga bahwa iman kita masih kecil. Kita mungkin pergi ke Gereja setiap hari Minggu atau berdoa dari waktu ke waktu, percaya bahwa Yesus, Tuhan dan Juru selamat kita, dan menerima ajaran Gereja, tetapi iman kita hannyalah bagian kecil dari hidup kita, yang dapat dikesampingkan ketika hal-hal yang lebih besar seperti pekerjaan, karier, relasi, dan lainnya mulai memenuhi hati kita. Kita memberikan kepada Tuhan sisa-sisa kita, baik waktu maupun usaha kita. Bahkan dalam doa dan ibadah kita, kita mudah terganggu. Daripada memfokuskan diri kita pada Yesus, kita memberikan perhatian kita pada ponsel kita dan semua kegembiraan yang mereka tawarkan. Kemudian, saat kita menghadapi badai kehidupan, kita mulai tenggelam, dan saat itulah, kita berseru, seperti Petrus, “Tuhan, selamatkan aku!”

Kita dipanggil untuk mengarahkan pandangan kita pada-Nya dan untuk belajar memiliki mata iman yang sejati. Ini adalah mata untuk melihat Ekaristi bukan hanya sebagai roti dan anggur, bukan sebagai pengulangan yang monoton, tetapi sebagai kehadiran nyata Yesus yang telah mengorbankan hidup-Nya bagi kita. Ini adalah iman yang memberdayakan kita untuk melihat kehadiran Yesus dalam kegiatan sehari-hari dan biasa kita. Jika ini sungguh menjadi iman kita, badai yang paling dahsyat sekalipun tidak dapat menenggelamkan kita karena kita memusatkan perhatian pada Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rekan Kerja Yesus

Minggu ke-18 dalam Waktu Biasa [A]

2 Agustus 2020

Matius 14: 13-21

five bread n two fishMukjizat penggandaan roti adalah salah satu dari sedikit kisah yang muncul dalam keempat Injil. Ini mungkin karena kebenaran mukjizat itu sendiri yang mengesankan dan membekas di hati para rasul. Meskipun alur ceritanya sama, setiap Penginjil telah memberikan penekanan mereka sendiri. Hari ini kita memusatkan perhatian pada Injil Matius dan penekanannya yang khas.

Salah satu penekanan ini adalah peran khusus para murid. Tentu saja, tanpa Yesus, tidak akan ada mukjizat sama sekali, tetapi Yesus memastikan bahwa murid-murid-Nya juga akan berpartisipasi dalam pekerjaan ajaib-Nya, tetapi yang luar biasa adalah para murid menanggapi dengan baik ajakan Yesus ini. Mari kita lihat beberapa detail penting dari cerita ini.

Pertama, inisiatif datang dari para murid. Para murid sebenarnya memperhatikan kondisi orang-orang yang mengikuti Yesus, dan mereka kelelahan dan kelaparan. Mereka mengusulkan solusi praktis untuk situasi ini: mengirim mereka pergi untuk mencari makanan. Mereka mungkin datang dengan rencana seperti itu karena alasan yang mulia. Mereka ingin guru mereka yang lelah serta orang-orang mendapatkan istirahat setelah hari mengajar dan penyembuhan yang panjang. Namun, mereka lupa bahwa Yesus sendirilah yang beristirahat, seperti yang pernah dikatakan-Nya, “datang kepadaku, kamu yang lesu dan berbeban berat,  Aku akan memberimu kelegaan [Mat 11:28].” Bagi Yesus, inisiatif itu patut dipuji, tetapi Dia tidak puas dengan solusinya. Karena itu, Dia berkata kepada mereka, “Kamu memberi mereka makan sendiri.”

Kita bisa membayangkan wajah para murid. Mereka saling memandang dan bingung. Namun, bukannya menolak permintaan Yesus sebagai sesuatu yang absurd, mereka malah melakukan sesuatu yang luar biasa. Mereka menawarkan kepada Yesus apa yang mereka miliki. Ini sedikit dan jauh dari cukup, namun tetap merupakan persembahan yang tulus. Dari sini, kita sudah dapat mendeteksi bahwa para murid telah berubah. Mereka telah mengikuti Guru mereka selama beberapa waktu dan mereka telah menyaksikan banyak mukjizat Yesus, mendengarkan banyak ajaran-Nya dan melihat betapa Yesus dengan sabar mengasihi orang-orang. Mereka telah tumbuh seperti Yesus. Mereka memiliki iman bahwa Yesus dapat melakukan hal yang mustahil, dan mereka menjadi lebih berbelas kasih seperti Yesus saat melihat orang yang menderita.

Tidak mengherankan bahwa setelah Yesus memberkati dan memecahkan roti, Dia memilih untuk memberikannya kepada para murid. Dia percaya sekarang bahwa para murid akan menjalankan misi-Nya untuk peduli dan mengasihi orang-orang. Memang, mereka dengan setia membawa roti tersebut kepada orang-orang. Mukjizat ini adalah langkah pertama namun penting bagi Yesus dan murid-murid-Nya, karena tak lama lagi, Yesus akan mempercayakan murid-murid ini untuk membawa Yesus sendiri kepada umat-Nya dalam Ekaristi.

Yesus pasti dapat melakukan mukjizat sendiri, dan sebagai Tuhan, Dia tidak membutuhkan bantuan siapa pun. Namun, karena kodrat-Nya adalah kasih, Dia ingin agar orang-orang yang Dia kasihi menjadi kasih sama seperti Dia. Yesus mengundang para murid untuk berpartisipasi dalam mukjizat kasih-Nya, dan agar mereka dapat belajar untuk mengasihi lebih dalam. Ketika Yesus membagikan hidup-Nya kepada mereka, para murid sebagai rekan kerja misi-Nya, pada akhirnya akan membagikan diri mereka dan mengasihi sampai akhir.

Itulah bagaimana Yesus membentuk kita sebagai murid-Nya. Dia mengundang kita untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan dan misi-Nya. Ini adalah misi untuk memberi makan, untuk peduli dan untuk mengasihi umat-Nya. Inilah keindahan iman dan agama kita. Ini bukan iman yang pasif dan tidak berdaya, namun iman yang benar-benar hidup, dibagikan dan memperkaya, iman yang tumbuh menjadi harapan dan harapan disempurnakan menjadi kasih.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Wheat among the Weeds

16th Sunday in Ordinary Time [A]

July 19, 2020

Matthew 13:24-43

wheat n weed 1The parable of the wheat and weed is one of a kind. If we survey the details, we are supposed to raise our eyebrows. Firstly, if you become a person who will destroy your opponent’s field of wheat, you know that there are several other effective ways to accomplish that. We can simply set a small fire on the wheat, and the entire field will eventually turn to be an inferno. But, the enemy chose unorthodox tactic: to sow seeds of weed during the planting period. While the weed may disturb the growth of the wheat, they will not sufficiently damage and stop the harvest.  So, what is the purpose? What is surprising is that the decision of the field’s owner. When he was notified about the presence of the weed, he immediately knew the culprit, and instead to act promptly and protect their wheat, he decided to allow the weeds to thrive among his wheat.

As expected, the disciples were puzzled by the parable, and when the disciples asked the meaning of this parable, they found another mind-blogging answer. The owner of the field is God Himself and He allowed the children of the evil one to grow among the children of God both in the world and in the Church. Yes, God allows that! He allows His children will not have a smooth journey and growth in the world. God allows His children to be harassed, bullied, and even persecuted by the evil one. God allows His children to experience trials and difficult moments. The question is why?

We may take the cue from St. Paul. He once magnificently wrote, “We know that all things work together for good for those who love God, who are called according to his purpose [Rom 8:28].” God allows bad things to happen because these are for our good! What kind of goodness why we may ask? From our human perspective, perhaps it is nothing but absurd, but from His vantage point, things fall into its proper places.

Jesus invites us to call God as Father, and letter to the Hebrews reminds us, “for the Lord disciplines those whom he loves, and chastises every child whom he accepts [Heb 12:6].” Trials and difficulties are God’s pedagogy toward whom He loves. As parents, we know care and discipline have to work hand in hand. We are well aware that true discipline is also a way of loving. If we want our children to succeed in their lives, we need to teach them to delay their gratification. We allow them to experience pain and difficulty first before we give them a reward. My parents used to ask me to study and finish their homework first before I could enjoy watching television. It resulted not only in good grades, but also my acquired habit not to run from problems, but to endure it.

I do believe that it is also the same as our Father in heaven. He loves us by allowing us to endure the pain in this world so that we may truly appreciate the spiritual gifts. Allow me to end this reflection, by quoting St. Paul, “We also boast in our sufferings, knowing that suffering produces endurance, and endurance produces character [as children of God], and character produces hope, and hope does not disappoint us..” [Rom 5:3-5]

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gandum di antara Ilalang

Minggu ke-16 di Masa Biasa [A]

19 Juli 2020

Matius 13: 24-43

wheat 1Perumpamaan tentang gandum dan ilalang adalah sangat unik. Jika kita meneliti detailnya, kita seharusnya terkejut. Pertama, jika kita menjadi orang yang akan menghancurkan ladang gandum lawan kita, kita tahu bahwa ada beberapa cara lain yang lebih efektif untuk mencapainya. Kita cukup membakar beberapa gandum, dan seluruh ladang pada akhirnya akan berubah menjadi api raksasa. Tetapi, musuh ini memilih taktik yang tidak lazim: menabur benih ilalang selama masa tanam. Sementara ilalang dapat mengganggu pertumbuhan gandum, mereka tidak akan cukup merusak dan menggagalkan panen. Jadi, apa tujuannya? Yang mengejutkan adalah keputusan pemilik ladang. Ketika dia diberitahu tentang keberadaan ilalang, dia segera tahu pelakunya, dan bukannya bertindak cepat untuk melindungi gandumnya, dia memutuskan untuk membiarkan ilalang tumbuh subur di antara gandumnya.

Seperti minggu lalu, para murid bingung dengan perumpamaan itu, dan ketika para murid menanyakan arti dari perumpamaan ini, mereka menemukan jawaban yang sekali lagi mencengangkan. Pemilik ladang adalah Allah Sendiri dan Dia mengizinkan anak-anak si jahat tumbuh di antara anak-anak Allah, baik di dunia maupun di Gereja. Tuhan sungguh mengizinkan hal itu! Dia mengizinkan anak-anak-Nya tidak akan memiliki perjalanan dan pertumbuhan yang mulus di dunia. Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya diganggu dan bahkan dianiaya oleh si jahat. Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya mengalami cobaan dan saat-saat sulit. Pertanyaannya adalah mengapa?

Kita dapat mengambil petunjuk dari St Paul. Dia pernah menulis, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. [Rom 8:28].” Tuhan mengizinkan hal-hal buruk terjadi karena ini untuk kebaikan kita! Kebaikan macam apa ini? Dari sudut pandang manusiawi kita, mungkin ini tidak masuk akal, tetapi dari sudut pandang-Nya, segala sesuatunya terjadi dengan sangat indah bagaikan sebuah simfoni.

Yesus mengundang kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa, dan surat kepada orang-orang Ibrani mengingatkan kita, “karena Tuhan mendisiplinkan orang yang dikasihi-Nya,  dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Pencobaan dan kesulitan adalah pedagogi Tuhan terhadap siapa yang Dia kasihi. Sebagai orang tua, kita tahu bahwa kepedulian dan disiplin harus berjalan bersamaan. Kita sangat menyadari bahwa disiplin sejati juga adalah cara mencintai. Jika kita ingin anak-anak kita berhasil dalam kehidupan mereka, kita perlu mengajar mereka untuk menunda kepuasan mereka. Kita membiarkan mereka mengalami rasa sakit dan kesulitan terlebih dahulu sebelum kita memberi mereka hadiah. Orang tua saya biasanya meminta saya untuk belajar dan menyelesaikan PR terlebih dahulu, sebelum saya dapat menikmati televisi. Ini menghasilkan tidak hanya nilai baik di sekolah, tetapi juga kebiasaan saya untuk tidak lari dari masalah, tetapi untuk bersabar menghadapinya.

Saya percaya bahwa hal ini juga sama dengan Bapa kita di surga. Dia mengasihi kita dengan mengizinkan kita menanggung rasa sakit di dunia ini sehingga kita dapat benar-benar menghargai karunia rohani. Izinkan saya mengakhiri refleksi ini, dengan mengutip St. Paulus, “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita , karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,  dan ketekunan menimbulkan tahan uji [karakter sebagai anak-anak Allah-ed] dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan  tidak mengecewakan…”[Rom 5:3-5]

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus the Sower

15th Sunday in Ordinary Time [A]

July 12, 2020

Matthew 13:1-23

Processed with VSCO with e1 preset

In today’s Gospel, we observe the reaction of the disciples after Jesus spoke His first parable. They were puzzled and confused. Why? because Jesus took a sudden change of method. In previous chapters, Jesus taught them plainly, like in the sermon of the Mount [Mat 5-7], and His teachings were as clear as broad daylight. Yet, Jesus made an unexpected turn that makes many people, and including His disciple lost. What really happened?

To understand the parable, we need to see that parable has been used even before Jesus, in the Old Testament. One of the classic examples is the parable of the prophet Nathan addressed to king David [See 1 King 12]. King David has done unthinkably grave sin by committing adultery with Bathsheba and orchestrating the murder of her husband, Uriah. Then, prophet Nathan confronted David, yet indirectly by narrating him a parable. It was about a rich man who forcefully robbed a ewe of a poor man. Listening to the story, David was infuriated and declared that the rich man should die. Then, Nathan dropped the bomb: “David, you are the rich man!” Fortunately, David was a kindhearted and faithful king, and he repented when he was reminded.

That is the power of a parable. It is an indirect and concealed message to make people think deeper about themselves. Jesus began to talk in parables as Jesus realizes that the opposition of the Pharisees and the scribes were worsening, and many people who just want to be entertained rather than to follow Jesus.

Thus, the parable of the sower expresses the real condition of Jesus’ ministry. The elders and the Pharisees were like the pathway. They heard Jesus’ preaching, but still chose to be under the influence of darkness, and sought to destroy Jesus. Many people were like the rocky ground because they simply looked for Jesus to satisfy their needs. Others were like soil filled with thorns because they followed Jesus for a time, but when the trials came, they abandoned Jesus. Lastly, the rich soil was the disciples.

The parable of the sower is not reflecting different kinds of hearers of Jesus during His time, but it is also revealing the reality of our time. Some of us are like the pathway, perhaps we were baptized Catholics, but we never live as such, and still living in sin. Some of us are like rocky ground. We treat Jesus and His Church as a place of entertainment, and we simply look for ourselves rather than God. Some of us are like soil filled with thorns. We are elated of being Christians, but we do not go deeper in our faith, and when the trials or doubts hit, we easily leave the Lord. And hopefully, many of us are like rich soil. We do our best to receive God’s Word and see to it that it will grow and bear fruits.

The good news is the word of God is exceedingly powerful that even it can bear fruit is the rocky ground. Yet, the initial grace is free but it is not cheap, and we need our part. It is our mission to transform even the rocky ground into the rich soil for the Lord.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP