Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [23 Juni 2019] Lukas 9: 11-17
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Di banyak negara seperti Indonesia, hari ini adalah waktu terbaik bagi anak-anak yang sudah siap untuk menerima Komuni Suci pertama mereka. Saya masih ingat hari saya menerima hosti dan anggur suci. Banyak dari kami berusia sekitar 10 tahun, cukup dewasa untuk mengenali kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Saya ingat bahwa saya mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan dasi kecil dan celana hitam. Ketika pastor mencelupkan hosti putih ke dalam piala anggur, dan berkata “tubuh dan darah Kristus”, saya berkata “Amin.” Ini adalah pertama kalinya saya menikmati manisnya anggur, dan tentu saja, minuman beralkohol!
Pada saat itu, saya hanya tahu bahwa penerimaan hosti yang kudus diperlukan untuk melengkapi perayaan Ekaristi, dan juga menerima berkat, tetapi saya tidak pernah benar-benar memahami makna mendalam dari misteri agung ini. Bagi saya, cukuplah bahwa saya menghadiri misa dan mengonsumsi hosti yang dikuduskan. Hal ini telah menjadi rutinitas dan tradisi, dari Minggu ke Minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Mungkin banyak dari kita berpikiran yang sama dengan saya bahwa ini hanyalah sekedar tradisi yang dihidupi sebagai seorang Katolik. Sampai saat kita menjadi orang tua dan kita juga membawa anak-anak kita untuk komuni pertama mereka. Dan ketika seseorang bertanya kepada kita, “mengapa Anda membawa anak-anak Anda ke komuni pertama?” Jawaban kita mungkin seperti, “Ya, kami ingin anak-anak kami seperti kami. Ini adalah tradisi keluarga. ”Jawabannya sederhana, tetapi terlalu sederhana sehingga memunculkan lebih banyak pertanyaan, seperti: Mengapa Tubuh dan Darah Yesus? Kenapa harus Tuhan harus dimakan?
Kita sering lupa untuk menyadari bahwa roti dan anggur yang kudus ini telah menjadi adalah Yesus Kristus yang seutuhnya, dengan segala kemanusian dan keilahian-Nya. Jadi, Tuhan sungguh menawarkan diri-Nya untuk dimakan. Kenapa harus memakan Tuhan? Jawabannya ada di Perjanjian Lama kita. Pertama, kita ingat bahwa orang tua pertama kita jatuh karena sebuah tindakan yakni makan. Sekarang, dalam Ekaristi, Tuhan menggunakan tindakan makan yang sama untuk memulihkan putra-putri dari Adam dan Hawa dalam rahmat. Kedua, di tengah taman Eden, ada dua pohon, yakni pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat yang adalah pohon terlarang, dan pohon kehidupan [Kej 2:9]. Sayangnya, orang tua pertama kami memilih untuk memakan buah dari pohon terlarang. Dengan demikian, untuk mengembalikan manusia kepada rahmat, sekarang Allah memberikan kepada kita buah-buah dari pohon kehidupan, dari pohon salib Kristus. Ketiga, kita ingat Paskah pertama adalah tentang kisah bagaimana Allah membebaskan orang-orang Ibrani dari perbudakan di Mesir. Paskah dimulai dengan penyembelihan anak domba, dan darahnya dipercikkan di pintu rumah orang Israel sehingga anak sulung mereka akan diselamatkan dari kematian. Namun, penyembelihan dan percikan darah bukanlah puncak dari Paskah Yahudi. Orang-orang Ibrani harus memakan domba untuk menuntaskan Paskah pertama mereka [Kel 12:8]. Sekarang, Yesus, Anak Domba Allah, telah dikorbankan di atas kayu salib, namun itu bukanlah puncaknya. Seperti Paskah Ibrani, kita perlu mengonsumsi Anak Domba Allah untuk menuntaskah Paskah Baru kita, yakni Ekaristi.
Ada begitu banyak tema dan aspek yang dapat kita renungkan tentang Ekaristi, dan khususnya hari ini, Gereja mengingatkan kita bahwa Ekaristi, khususnya penerimaan Komuni Kudus bukan hanya rutinitas hari Minggu kita, sebuah tradisi keluarga. Itu adalah rencana esensial Allah untuk keselamatan kita, agar kita bisa menerima kepenuhan hidup, bersekutu dengan Allah, Tritunggal Maha kudus.
Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The distinctive mark of being Christian is the Holy Trinity. We share the claim of monotheism [only one God] with other prominent religions, yet our belief in one God in three divine persons enables us to stand unique among others. Doubtless, our God is one, yet the same undoubtedly, there are three persons in this one God. The Father is different from the Son and the Holy Spirit. The Son is also unique. And, the Holy Spirit maintains His personal identity. Yet, they remain always one! How is this possible?!
Tanda khas menjadi Kristiani adalah iman kepada Tritunggal Mahakudus. Kita berbagi klaim monoteisme [hanya satu Tuhan] dengan agama-agama besar lainnya, namun kepercayaan kita pada satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi memungkinkan kita untuk berdiri secara unik di antara yang lain. Tidak diragukan lagi Allah kita adalah satu, namun tidak diragukan juga ada tiga persona dalam satu kodrat ilahi ini. Bapa berbeda dari Putra dan Roh Kudus. Sang Putra juga benar-benar unik. Dan, Roh Kudus menjaga identitas pribadi-Nya. Namun, mereka tetap selalu satu! Bagaimana ini mungkin?!
Maria Magdalena adalah seorang murid perempuan yang sangat mencintai gurunya, dan sebagai seorang wanita, ada sesuatu yang dia ajarkan kepada kita. Lukas mengatakan dalam Injilnya bahwa Maria adalah sebagai seorang wanita “yang darinya tujuh setan keluar” [lihat Luk 8:2]. Pastinya merupakan pengalaman yang mengerikan untuk disiksa oleh tujuh setan, dan ketika Yesus menyembuhkannya, ia mengungkapkan rasa terima kasihnya yang mendalam dengan mengikuti Yesus. Sebagai salah satu murid Yesus, ia terbukti paling setia kepada gurunya. Ketika banyak pengikut Yesus melarikan diri untuk menyelamatkan hidup mereka, dan bahkan Petrus, tokoh utama dalam kelompok itu, menyangkal Yesus, Maria mengikuti Yesus dalam jalan Salib-Nya sampai akhir. Dia menerima penghinaan yang Yesus terima, dia menanggung malu yang Yesus tanggung. Bahkan, dia berdiri di samping salib bersama dengan ibu Yesus dan Yohanes yang terkasih.
One of the greatest gifts to humanity is the gift of memory. It gives us a sense of identity. Biology teaches us that almost all our body parts are being replaced over the years. One-year-old Stephen is biologically different from thirty-year-old Stephen. All bodily cells, with the sole exception of his eyes’ lens, are changed. What unites thirty-year-old Stephen with his younger self as well as his future self is his memory.
Salah satu karunia terbesar bagi umat manusia adalah memori. Ini memberi kesadaran akan identitas kita. Biologi mengajarkan kita bahwa hampir semua bagian tubuh kita akan tergantikan saat kita hidup. Stephen yang berusia satu tahun secara biologis berbeda dari Stephen yang berusia tiga puluh tahun. Semua sel tubuhnya telah digantikan dan akan terus digantikan sampai ia wafat. Apa yang menyatukan Stephen yang berusia tiga puluh tahun dengan dirinya yang lebih muda serta diri di masa depannya adalah ingatannya.
The Parable of the Prodigal Son is one of the most moving stories of Jesus and has been regarded as the all-time favorite. Why? I guess one of the reasons is the story of the Prodigal Son is also our story.
The Spirit leads Jesus to the desert and Jesus remains there for forty days. The questions are: why does the Holy Spirit bring Jesus to the desert? Why does it have to be forty days? If we are familiar with the Old Testament, we recall that the journey of the Israelites in the desert lasted for forty years – the great exodus. After the great escape from the slavery of Egypt, they needed to walk through the desert before entering the Promise Land. Yet, it is not simply about the story of greatest escape in the history, but how God formed Israel as His people. In desert, God made a covenant with Israel through the mediation of Moses. In desert, God gave the Law as the basic guide for the Israelites living as His people. In the desert, God provided them with water, manna from heaven, and protected them from their enemies. However, in the desert also, the Israelites rebelled against God. They made and worship the golden calf. They complained a lot, and they wanted to kill Moses. It was a foundational story that covered almost the four Books of Moses [Exodus, Leviticus, Numbers and Deuteronomy].
Roh membawa Yesus ke padang gurun dan Yesus tinggal di sana selama empat puluh hari. Pertanyaannya adalah: mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun? Mengapa harus empat puluh hari? Jika kita akrab dengan Perjanjian Lama, kita tahu bahwa bangsa Israel berjalan di padang gurun selama empat puluh tahun. Sebuah peristiwa yang disebut juga sebagai “eksodus”. Setelah keluar dari dari perbudakan Mesir, mereka harus berjalan melalui padang gurun sebelum memasuki Tanah Perjanjian. Namun, ini bukan hanya tentang kisah pelarian mereka dari Mesir, tetapi bagaimana Allah membentuk Israel sebagai umat-Nya. Di padang gurun Sinai, Allah membuat perjanjian dengan Israel melalui mediasi Musa. Di padang gurun, Allah memberikan Hukum sebagai pedoman dasar bagi Israel yang hidup sebagai umat-Nya. Di padang gurun, Tuhan memberi mereka air, manna dari surga, dan melindungi mereka dari musuh. Namun, di padang gurun juga, Israel memberontak melawan Tuhan. Mereka membuat dan menyembah anak lembu emas. Mereka banyak mengeluh dan tidak tahu berterima kasih. Itu adalah kisah mendasar yang mencakup hampir empat Kitab Musa [Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan].