Heart

Reflection on the 8th Sunday in Ordinary Time [March 3, 2019] Luke 6:39-45

prisoner prayer
Prisoner praying during church ceremony at Naivasha Maxium Security Prison. During the church service some prisoners pray on their own. – 24.11.2012. Copyright: Ulrik Pedersen

These past three Sundays, we have been listening on the series of Jesus’ teachings given at the Plain [Luk 6:20-49]. Two Sundays ago, we read about the Beatitudes. This is the set of conditions that leads us to true happiness and blessedness. Last Sunday we discover some practical steps to achieve this Beatitude, like we shall love our enemies. And this Sunday, we find the heart of Jesus’ teachings: it is the formation of the heart.

In our contemporary world, the heart generally symbolizes the source of affection, passion and love. Filipinos love basketball, and they give their best support every time their national team compete in international tournaments. Their battle cry is “Laban! Puso!” literally translated as “Fight! Heart!” Surely, the heart here refers to the burning passion to overcome enormous challenges during the ball game.

When a lady is not sure whether to accept or not a man to be her boyfriend, we often advise her to follow her “heart”. When she has a new boyfriend and is in love, she calls him as her “sweetheart”. But, when she suddenly loses her boyfriend because of unexpected betrayal, she suffers an immense “broken heart”. Because of this traumatic experience, she refuses to love anymore, and she now possesses “the heart of stone.” Surely, a lot of hearts!

However, the word “Heart” in Bible has a slightly different meaning from our common understandings. Heart in the Bible is not just the source of our emotional life, but the center of the human life, vitality and personality. It is also the seat of human intellect, judgment and conscience. Thus, when Jesus says “A good person out of the store of goodness in his heart produces good…” it does not simply mean that person has the emotions that support him in doing good. It means a person has a fundamental judgement, stable attitude and permanent character to choose and do good, despite the contrary feelings he has. Good-hearted person can do good even person he hates. For Jesus, heart is not only affection, but it is also action.

In the context, the formation of the heart means the formation of the entire human person. Jesus understands that unless we possess the characters of a good man or woman, we are just staging a play, and become hypocrites [meaning actors] before other people.

How are we going to form our hearts? Jesus gives us a hint as He says, “from the fullness of the heart the mouth speaks.” The question then is: what fills our hearts? It is evil and wicked things, or good and holy things?

I am currently assigned in General Santos City, Mindanao, Philippines, and one of the highlights of my stay is when I visit and celebrate mass with the female inmates in the city jail. At first, I was hesitant and afraid to interact with them as I perceived them as being “criminals”. These are women with “wicked hearts”. But, I was totally wrong. When I prayed with them, I witnessed women prayed earnestly and deeply in faith. I met this woman, just call her Mary, and I listened to her story. She has been in the prison for five years, and due to ineffective justice system, her trial is still on going. She is a single mother with five children. She was caught using drugs, and she admitted it to escape from the reality of harsh life. She was crying as she narrated her story. And, I asked her what made endure her terrible situation. She simply answered, “I have God in my heart.”

We are living in much better condition than Mary, but do we have God in our heart? What fills our heart? Do we fill our hearts with Godly things? Do we allow God to reign in our hearts?

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hati

Renungan pada Minggu ke-8 pada Masa Biasa [3 Maret 2019] Lukas 6: 39-45

bible-in-jailTiga hari Minggu terakhir ini, kita telah mendengarkan serangkaian ajaran Yesus yang diberikan di Dataran [Luk 6]. Dua Minggu yang lalu, kita membaca tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun kita menuju kebahagiaan dan berkat sejati. Minggu lalu kita mendapatkan beberapa langkah praktis untuk mencapai Sabda Bahagia ini. Dan hari Minggu ini, kita menemukan inti dari ajaran Yesus: ini adalah pembentukan hati manusia.

Di dunia kontemporer, “hati” umumnya melambangkan sumber kasih sayang, perasaan, dan cinta. Orang Filipina sangat senang dengan permainan bola basket, dan mereka memberikan dukungan terbaik mereka setiap kali tim nasional mereka bersaing di turnamen internasional. Seruan mereka bagi tim national mereka adalah “Laban! Puso! ”Secara harfiah diterjemahkan sebagai“ Berjuang dengan sepenuh hati! ”Tentunya, hati di sini mengacu pada hasrat yang membara untuk mengatasi tantangan besar di setiap pertandingan.

Ketika seorang wanita tidak yakin harus menerima atau tidak seorang pria menjadi kekasihnya, kita sering menasihatinya untuk mengikuti  kata “hati”-nya. Ketika dia memiliki kekasih baru dan sedang jatuh “hati”, dia memanggilnya sebagainya sebagai “belahan hati”. Tapi, ketika dia tiba-tiba kehilangan kekasihnya karena pengkhianatan yang tak terduga, dia menderita “patah hati” yang sangat mendalam. Karena pengalaman traumatis ini, ia menolak untuk mencintai lagi, dan sekarang ia “berhati batu.”

Namun, kata “Hati” dalam Alkitab memiliki arti yang sedikit berbeda. Hati di dalam Alkitab bukan hanya sumber kehidupan emosional kita, tetapi juga pusat kekuatan hidup, dan kepribadian manusia. Ini juga merupakan tahta hati nurani manusia, akal budi dan kebebasan. Jadi, ketika Yesus berkata, “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik …” ini bukan hanya berarti bahwa orang tersebut memiliki perasaan-perasaan yang mendukungnya melakukan perbuatan baik. Ini berarti seseorang memiliki orientasi mendasar, sikap stabil dan karakter permanen untuk memilih dan berbuat baik, walaupun terkadang perasaannya tidak mendukungnya berbuat baik. Bagi Yesus, hati bukan hanya perasaan, tetapi juga tindakan.

Dalam Kitab Suci pembentukan hati berarti pembentukan manusia secara total. Yesus memahami bahwa kecuali kita memiliki karakter pria atau wanita yang baik, kita hanya melakukan sandiwara, dan menjadi orang munafik di hadapan orang lain.

Bagaimana kita akan membentuk hati kita? Yesus memberi kita petunjuk ketika Dia berkata, “dari kepenuhan hati, mulut berbicara.” Pertanyaannya kemudian adalah: apa yang memenuhi hati kita? Apakah hal-hal yang jahat, atau hal yang baik dan suci?

Saat ini saya ditugaskan di General Santos City, Mindanao, Filipina, dan salah satu hal yang paling berkesan selama saya tinggal di sini adalah ketika saya mengunjungi dan merayakan misa bersama para narapidana wanita di penjara kota ini. Pada awalnya, saya ragu-ragu dan takut untuk berinteraksi dengan mereka karena saya menganggap mereka sebagai “criminal”.  Ada pemikiran bahwa mereka adalah wanita-wanita dengan “hati yang jahat”. Kalo hati mereka baik, kenapa harus masuk penjara? Tapi, saya benar-benar salah. Ketika saya berdoa bersama mereka, saya menyaksikan para wanita berdoa dengan kepenuhan iman. Sesuatu hal yang saya jarang lihat di luar penjara. Saya juga berbicara dengan seorang wanita, sebut saja namanya Maria. Dia telah berada di penjara selama lima tahun, dan karena sistem peradilan yang tidak efektif, persidangannya masih berlangsung, dan dia tidak tahu sampai kapan. Dia adalah ibu tunggal dengan lima anak. Dia kedapatan menggunakan narkoba, dan dia mengaku menggunakan narkoba karena ingin melarikan diri dari kenyataan hidup yang keras. Dia menangis ketika dia menceritakan kisahnya. Dan, saya bertanya kepadanya apa yang membuat dia bertahan dalam situasi yang mengerikan itu. Dia hanya menjawab, “Saya memiliki Tuhan di hati saya.”

Kita hidup dalam kondisi yang jauh lebih baik daripada Maria, tetapi apakah kita memiliki Allah di dalam hati kita? Apa yang memenuhi hati kita? Apakah kita mengisi hati kita dengan hal-hal yang saleh? Apakah kita membiarkan Tuhan berkuasa di hati kita?

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Behind God’s Calling

Fifth Sunday of Ordinary Time [February 10, 2019] Luke 5:1-11

procession 2This Sunday, we listen to the vocation stories of great men in the Bible. From the first reading, we learn how Isaiah was called by God to be His prophet to Judah. In the Temple of Jerusalem, he saw the Lord God surrounded by His seraphim. Isaiah was terrified and said that he had unclean lips. An angel then placed a burning ember on his tongue to remove his wickedness. God, then said, “Whom shall I send?” Isaiah replied with confidence, “Here I am, send me!”

In the second reading, St. Paul wrote to the Church in Corinth and reminded them about the Gospel they had received. Paul assured them that he himself was the recipient of this Gospel no less from the risen Christ Himself. Though he used to be the zealous persecutor of Christians, Jesus called him. By the grace of God, Paul toiled day and night for the building up of the Church.

From today’s Gospel, we listen to the call of the first disciples: Simon, Andrew, James, and John. Luke the evangelist tells us about seasoned fishermen who failed to catch any fish, but Jesus, a carpenter, tells them to ‘go into the deep’. They hesitate, but they follow nonetheless. Lo and behold, they are able to catch a large amount of fish, to the point of destroying their nets. Eventually, Jesus calls them and makes them as fishers of men, and they follow Jesus.

Like Isaiah, Paul and the first Disciples, we are also called by God to follow Him. Some may receive a vocation to the priesthood, some others to religious life, others to build a family, and others may be single yet living a holy life. God also calls us in various ways. Like Isaiah or Paul, some receive extraordinary mystical experiences. But, many of us may be called in the most ordinary and unexpected ways. One day a young man asked whether he has a vocation to the priesthood, especially to the Dominican Order. I said to him, “Well, take the entrance exam first! If you pass you may have the vocation, if not, God may call you somewhere else.”

Sometimes, we ask the Lord a deeper question, “Why me Lord?” but often, we no longer bother to find the answer. Yet, it remains a valid question to be answered. Why did He choose Isaiah, Paul, and Peter? Why does Jesus choose you and me? The answer surprisingly is in the Bible.

When Moses made his farewell speech before the Israelites who were about to enter the Promised Land, he reminded them the reason why God chose Israel, “It was because the LORD loved you and because of his fidelity to the oath he had sworn to your ancestors (Deu 7:8).” God’s choice for Israel is because of His love and faithfulness. The same love and fidelity are the reason behind our calling. God just simply loves us and He draws us to Himself. It is not because we are good, smart and talented. It is not because we are worthy of the call. Isaiah was a man of unclean lips, Paul was a persecutor of the Church, and Peter had his own agenda. Yet, despite these imperfections, God keeps calling us and giving us what we need. How many times, when we betray Him and run away from His call, He remains patient with us and ready to accept us back. If it is not a love, what is it?

We have a God, and this God is love. This is why we are unworthy, yet called; unqualified, yet accepted; unlovable, yet loved.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Panggilan Tuhan

Minggu Kelima dalam Masa Biasa [10 Februari 2019] Lukas 5: 1-11

touching 2Minggu ini, kita mendengarkan kisah panggilan tokoh-tokoh besar dalam Alkitab. Dari bacaan pertama, kita belajar bagaimana Yesaya dipanggil oleh Allah untuk menjadi nabi-Nya bagi Kerajaan Yehuda. Di Kuil Yerusalem, ia melihat Tuhan Allah dikelilingi oleh serafim-Nya. Yesaya sangat ketakutan dan berkata bahwa dia memiliki bibir yang najis. Seorang malaikat kemudian menaruh bara api di lidahnya untuk menghilangkan dosanya. Tuhan lalu berkata, “Siapa yang akan Kuutus?” Yesaya menjawab dengan percaya diri, “Ini aku, utuslah aku!”

Dalam bacaan kedua, St. Paulus menulis kepada Gereja di Korintus dan mengingatkan mereka tentang Injil yang telah mereka terima. Paulus meyakinkan mereka bahwa ia sendiri adalah penerima Injil keselamatan ini dari Kristus yang bangkit itu. Meskipun ia dulunya adalah penganiaya yang berkobar-kobar umat Kristiani, Yesus memanggilnya. Dengan rahmat Allah, Paulus bekerja keras siang dan malam untuk membangun Gereja yang pernah ia aniaya.

Dari Injil hari ini, kami mendengarkan panggilan para murid pertama: Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Lukas sang penginjil bercerita tentang para nelayan berpengalaman yang gagal menangkap ikan, tetapi Yesus, seorang tukang kayu, memberi tahu mereka untuk “pergi ke kedalaman”. Mereka ragu, tetapi mereka tetap mengikuti-Nya. Namun, ternyata mereka mampu menangkap sejumlah besar ikan, sampai hampir merusak jala mereka. Akhirnya, Yesus memanggil mereka dan menjadikan mereka sebagai penjala manusia, dan mereka mengikuti Yesus.

Seperti Yesaya, Paulus dan para Murid pertama, kita juga dipanggil oleh Tuhan untuk mengikuti-Nya. Beberapa mungkin menerima panggilan menjadi seorang imam, beberapa lainnya untuk kehidupan membiara, yang lain untuk membangun keluarga, dan yang lain mungkin seorang lajang namun menjalani kehidupan yang suci. Tuhan juga memanggil kita dengan berbagai cara. Seperti Yesaya atau Paulus, beberapa menerima pengalaman mistis yang luar biasa. Tetapi, banyak dari kita mungkin dipanggil dengan cara yang paling biasa dan tidak terduga. Suatu hari seorang remaja putra bertanya apakah dia memiliki panggilan sebagai seorang imam, terutama menjadi bagian Ordo Dominikan. Saya menjawab, “Cobalah ambil ujian masuk dulu! Jika kamu lulus kamu mungkin memiliki panggilan, jika tidak, Tuhan mungkin memanggil kamu di tempat lain.”

Sayangnya setelah kita dipanggil, kita jarang bertanya lebih jauh, “Mengapa saya Tuhan?” Namun, ini tetap menjadi pertanyaan yang mendasar untuk dijawab. Mengapa Dia memilih Yesaya, Paulus, dan Petrus? Mengapa Yesus memilih kamu dan aku, dengan cara-Nya yang unik? Jawabannya secara mengejutkan ada di Alkitab.

Ketika Musa menyampaikan pesan perpisahannya di hadapan orang Israel yang akan memasuki Tanah Perjanjian, ia mengingatkan mereka alasan mengapa Allah memilih Israel, “… karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu… (Ul 7:8). ” Pilihan Allah bagi Israel adalah karena kasih dan kesetiaan-Nya. Kasih dan kesetiaan yang sama adalah alasan di balik setiap panggilan kita. Kita dipanggil bukan karena kita baik, pintar dan berbakat; bukan karena kita layak menerima panggilan itu; bukan karena kita yang paling berkwalitas. Yesaya adalah orang yang tidak bersih bibirnya, Paulus adalah seorang penganiaya Gereja, dan Petrus akan menyangkal Yesus tiga kali. Namun, terlepas dari ketidaksempurnaan ini, Tuhan terus memanggil kita dan memberi apa yang kita butuhkan untuk mengikuti-Nya. Bahkan ketika kita mengkhianati Dia dan melarikan diri dari panggilan-Nya, Dia tetap sabar dan siap menerima kita kembali. Ini adalah kasih, ini adalah kesetiaan.

Kita memiliki Tuhan, dan Tuhan ini adalah cinta kasih. Inilah sebabnya kita yang tidak layak, namun tetap dipanggil; tidak memenuhi syarat, namun diterima; tidak patut menerima kasih, namun tetap dikasihi.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fear

The Epiphany of the Lord [January 6, 2019] Matthew 2:1-12

three magi chineseThe third question Archbishop Socrates Villegas asked me during my ordination was “Are you afraid enough? Just like the first two questions, this one is also counterintuitive. One of my favorite phrases in the Bible is “Do not be afraid!” In many occasions in the Scriptures, this statement does not simply convey encouragement, but also a life-changing mission. When Abram was getting old and he was childless, he doubted to enter the convent with the Lord who promised him descendants like the stars in heaven, God said, “do not fear!” (Gen 15) Then, Abraham became the father of all nations. When God called Jeremiah to prophesy to Judah, he found an excuse in his young age, but God said, “do not be afraid!” (Jer 1:8) Then, Jeremiah became one of the greatest prophets of Israel. When Joseph felt betrayed and yet in his mercy, planned to divorce Mary in secret, the angel said to him, “Joseph, son of David, do not be afraid to take Mary your wife into your home.” (Mat 1:20) Then, Joseph became the foster father of the Son of God. When Mary received the Good News from the angel Gabriel, she did not understand what was happening, Gabriel said to her, “Do not be afraid, Mary, for you have found favor with God.” (Luk. 1:30) Then, she became the Mother of God.

We need in the Church, the people who are not afraid to follow God’s call to love and to serve. We need priests who do not fear to proclaim the Gospel despite hardship, trials, and even threats to their lives. We need religious men and women who do not fret to serve the poor, the marginalized and the forgotten. We need the clergymen who dare to say no to the comfort of life, to fight off laziness, and to serve and to be served. We need lay men and women who are courageous in making their daily sacrifice for their families and in witnessing to Jesus Christ. We can learn also from the three Magi who traveled a thousand miles from the east, braved all dangers including the bandits and violent weathers, and challenged the power-hungry Herod, just to see the baby Jesus.

However, to have no fear does not mean recklessness. In the same Bible, we discover also that there is one fear that is needed and in fact, holy. This is the fear of the Lord (Job 28:28; Psalm 110:10). It is not the fear that flows from the fearsome and vengeful image of God. We are afraid because God will punish us and throw us to hell! No, it is a wrong image. We fear the Lord because we are afraid to offend someone who loves, someone who has loved us tremendously. We should be afraid that we lose God because of our sinful attachments. We must fear that we are separate from God who is the source of our life. The priests should be afraid to celebrate the Eucharist unworthily. The lay men and women must be afraid to approach the Eucharist and other sacraments in vain. The clergymen should be afraid to steal the money of the Church. The men of God must fear to deny the spiritual needs of the people. Again, the three Magi are our good model. They dared many challenges and defied Herod the great, but before the baby Jesus, they prostrated themselves and gave homage. It is the holy fear of God.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Takut

Hari Raya Penampakan Tuhan [6 Januari 2019] Matius 2:1-12

three magi africanPertanyaan ketiga yang diajukan Uskup Agung Socrates Villegas kepada saya saat saya ditahbiskan adalah, “Apakah kamu takut? Sama seperti dua pertanyaan sebelumnya, pertanyaan ini juga berlawanan dengan intuisi dasar. Salah satu ungkapan favorit saya dalam Alkitab adalah “Jangan takut!” Dalam banyak kesempatan dalam Kitab Suci, pernyataan ini tidak hanya menyampaikan dorongan semangat, tetapi juga sebuah misi yang mengubah hidup. Ketika Abram menjadi tua dan tidak memiliki anak, dia ragu dengan janji Tuhan yang menjanjikan keturunan seperti bintang-bintang di langit, Allah berkata, “Jangan takut!” (Kej 15) Akhirnya, Abraham menjadi bapak dari bangsa-bangsa. Ketika Allah memanggil Yeremia untuk bernubuat kepada Yehuda, ia ragu dan beralasan bahwa usianya yang masih muda, tetapi Tuhan berkata, “Jangan takut!” (Yer 1:8) Lalu, Yeremia menjadi salah satu nabi terbesar Israel. Ketika Yusuf merasa dikhianati saat dia mengetahui Maria mengandung diluar nikah, namun dalam belas kasihannya, ia berencana untuk menceraikan Maria secara rahasia, malaikat pun berkata kepadanya, “Yusuf, anak Daud, jangan takut untuk mengambil Maria sebagai istrimu.” (Mat 1:20) Kemudian, Yusuf menjadi ayah angkat Putra Allah. Ketika Maria menerima Kabar Baik dari malaikat Gabriel, dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, Gabriel pun berkata kepadanya, “Jangan takut, Maria sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” (Luk. 1:30) Lalu, dia menjadi Bunda Allah.

Kita membutuhkan di Gereja, orang-orang yang tidak takut untuk mengikuti panggilan Allah untuk mengasihi dan melayani. Kita membutuhkan para imam yang tidak takut untuk memberitakan Injil terlepas dari kesulitan, cobaan, dan bahkan ancaman terhadap hidup mereka. Kita membutuhkan biarawan-biarawati yang tekun melayani yang miskin, yang terpinggirkan dan yang terlupakan. Kita membutuhkan imam yang berani mengatakan tidak untuk kenyamanan hidup, untuk melawan kemalasan, dan untuk melayani dan bukan dilayani. Kita membutuhkan pria dan wanita awam yang berani dalam melakukan pengorbanan setiap hari untuk keluarga mereka dan dalam memberikan kesaksian kepada dunia. Kita dapat belajar juga dari ketiga orang Majus yang melakukan perjalanan ribuan mil dari timur, menantang semua bahaya termasuk para perampok dan cuaca yang tidak bersahabat, dan berhadapan dengan Herodes yang haus kekuasaan, hanya untuk melihat bayi Yesus.

Namun, tidak memiliki rasa takut bukan berarti nekat, ceroboh dan seenaknya sendiri. Dalam Alkitab yang sama, kita juga menemukan bahwa ada satu ketakutan yang diperlukan dan pada kenyataannya, kudus. Ini adalah takut akan Tuhan (Ayub 28:28; Mazmur 110: 10). Ini bukanlah rasa takut yang mengalir dari citra Allah yang menakutkan dan penuh dendam. Kita takut karena Tuhan akan menghukum kita dan melemparkan kita ke neraka! Tidak, ini gambar yang salah.

Kita takut akan Tuhan karena kita takut melukai seseorang yang mengasihi kita dan seseorang yang sangat kita kasihi. Kita harus takut saat kita kehilangan Tuhan karena kelekatan kita terhadap dosa. Kita harus takut bahwa kita terpisah dari Tuhan yang merupakan sumber kehidupan kita. Para imam harus takut untuk merayakan Ekaristi dengan tidak layak. Kaum awam harus takut untuk mendekati Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya dengan keadaan berdosa. Para imam harus takut untuk mencuri uang Gereja. Para klerus harus takut menolak kebutuhan rohani umat. Sekali lagi, ketiga majus adalah model yang baik kita. Mereka berani menghadapi banyak tantangan dan menentang Herodes agung, tetapi di hadapan bayi Yesus, mereka bersujud dan memberi hormat. Jangan takut terhadap hal-hal yang menghalangi kita jalan kita menuju Tuhan, dan kita takut dengan hal-hal yang menjauhkan kita dengan Tuhan.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Tale of Two Mothers

Fourth Sunday of Advent [December 23, 2018] Luke 1: 46-56

“Blessed are you who believed that what was spoken to you by the Lord would be fulfilled.”  (Lk. 1:45)

5236277111_0c2ebf8133_bToday’s Gospel is truly beautiful. We have two protagonists. They are women, and they are both pregnant. Who are they? Mary and Elizabeth. Yet, why is the story beautiful? It is just natural for women to get pregnant. Unless we need to go closer to the stories and place ourselves in the shoes of Mary and Elisabeth, we can never see the true beauty of their story.

First, Mary, she is young, and at the same time, she is pregnant with no husband. St. Joseph is indeed the husband of Mary, but he is not the father of the baby. Perhaps, in our time, if a woman gets pregnant and yet without a husband, this is an unfortunate event, but life goes on for both the woman and child. however, if we go back to the time of Mary, way back two thousand years ago, that woman would be a great disgrace her family and community. She would be expelled from the community, and sometimes, they would be also stoned to death. Mary understands that when she accepts the will of God, to be the mother of Jesus, she faces death. Indeed, death is the future of Mary.

Second, Elizabeth. Elizabeth has a husband, so nobody will stone her, but her situation is also difficult. She is too old to get pregnant. Once I asked my medical doctor-friends, why is it risky to get pregnant if you are old? One said that as we grow old, so does our body and our muscles. With weaker muscles, a mother will have a difficult time during the process of giving birth, and this can be very dangerous to the baby and the mother.  I said further, why not caesarian? They said that it is also difficult if not deadly. As we grow old, our hearts weaken. If we place ourselves under the knife, with weaker hearts, there is a big possibility that we will not wake up. Like Mary, death may be the future of Elizabeth.

If Mary and Elizabeth know that it is dangerous and even deadly to be pregnant, why are they still following the will of the Lord?

The answer is at the very name of Elizabeth and her husband Zechariah. Zachariah is from the Hebrew word “Zakar”, meaning to remember. Meanwhile, Elizabeth is formed two Hebrew words, Eli and Sabbath, meaning God’s oath or promise. So if we combine the two names, Zachariah-Elizabeth, they mean “God remembers His promise” or “God fulfills His promise.”

Elizabeth knows it is deadly to have John in her womb, but she still follows the will of God, because she is aware the baby was a fulfillment of God’s promise. Mary from Nazareth, the north part of Israel, travels to Judea, the south of Israel, in haste. But, why in haste? Mary is excited, and she wishes to witness how God fulfills His promise to Elizabeth. The moment Mary sees Elizabeth; she knows that the baby inside her womb is also a fulfillment of God’s promise.

Every child, indeed every on us is the fulfillment of God’s promise. Mary and Elizabeth never see the babies in their wombs as mere inconveniences in their lives or unplanned garbage that can be disposed of. Yet, to accept these babies as gifts of God, Mary and Elizabeth have to be courageous because they are going to sacrifice a lot including their own lives. Elizabeth and Mary are brave women and mothers.

The questions are for us: Who among us is not coming from a woman’s womb? We are all here because of a mother. Indeed, not all mothers are perfect. Some of them are not rich, some are having attitude problems, some are not good examples. Yet, the mere fact we are here now, one woman in our life, against all odds, has decided to courageously accept us as a gift, as the fulfillment of God’s promise. To all mothers, thank you very much.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Dua Ibu

Hari Minggu Keempat Adven [23 Desember 2018] Lukas 1: 46-56

“Berbahagialah Anda yang percaya bahwa apa yang diucapkan kepada Anda oleh Tuhan akan digenapi.” (Luk 1:45)

The Visitation - Mary and Elizabeth meet - Luke 1:39-45Injil hari ini benar-benar indah. Kita memiliki dua protagonis. Mereka adalah wanita, dan mereka berdua sedang hamil. Siapa mereka? Maria dan Elizabeth. Namun, mengapa cerita mereka indah? Tentunya, wajar bagi wanita untuk hamil. Hanya dengan melihat lebih dekat kisah mereka berdua, kita baru bisa melihat keindahan sejati dari kisah mereka.

Pertama adalah Maria. Dia masih muda, dan pada saat yang sama, dia juga hamil tanpa suami. St Yosef memang suami Maria, tetapi ia bukan bapak bayi yang dikandung oleh Maria. Mungkin, di zaman kita, jika seorang wanita hamil tanpa suami, ini adalah peristiwa yang tidak tidak baik, tetapi hidup terus berlanjut bagi sang wanita dan anak. Namun, jika kita kembali ke zaman di saat Maria hidup, wanita yang hamil di luar nikah akan menjadi aib besar bagi keluarga dan komunitasnya. Dia akan diusir dari komunitas, dan kadang-kadang, dia juga akan dirajam sampai mati. Maria memahami bahwa ketika dia menerima kehendak Allah, untuk menjadi bunda Yesus, dia sebenarnya menghadapi kematian.

Kedua adalah Elizabeth. Dia bersuami, jadi tidak ada yang akan merajam dia, tetapi situasinya juga sulit. Dia terlalu tua untuk hamil. Saya pernah bertanya kepada teman dokter, mengapa hamil diusia tua cukup beresiko? Ia mengatakan bahwa ketika kita semakin tua, tubuh dan otot kita juga semakin lemah. Dengan otot yang lebih lemah, seorang ibu akan mengalami kesulitan saat proses melahirkan, dan ini bisa sangat berbahaya bagi bayi dan ibu. Saya kemudian bertanya, mengapa tidak operasi caesar? Ia mengatakan bahwa itu juga sulit dilakukan. Ketika kita semakin tua, jantung kita melemah. Jika kita menjalani operasi dengan jantung yang tidak kuat, ada kemungkinan besar bahwa kita tidak akan pernah bangun lagi. Seperti Maria, Elizabet juga menghadapi kematian.

Jika Maria dan Elizabeth tahu bahwa itu berbahaya dan bahkan mematikan untuk hamil, mengapa mereka masih mengikuti kehendak Tuhan?

Jawabannya adalah atas nama Elizabeth dan suaminya, Zakharia. Zakharia berasal dari kata Ibrani “Zakar”, yang berarti mengingat. Sementara itu, Elizabeth membentuk dua kata Ibrani, Eli dan Sabat, yang berarti janji atau janji Allah. Jadi jika kita menggabungkan kedua nama itu, Zakaria-Elisabet, itu berarti “Tuhan mengingat janji-Nya” atau “Tuhan menggenapi janji-Nya.”

Elizabeth mengerti bahwa ia bisa saja kehilangan nyawanya jika ia mengandung, tetapi ia tetap mengikuti kehendak Allah, karena ia mengerti bahwa sang bayi adalah penggenapan dari janji Allah. Maria melakukan perjalanan dari Nazaret ke Yudea. Tapi, mengapa Maria harus berjalan sangat jauh? Maria ingin menyaksikan bagaimana Tuhan memenuhi janji-Nya kepada Elizabeth. Saat Maria melihat Elizabeth, Maria mengerti bahwa bayi di dalam rahimnya juga merupakan pemenuhan janji Allah.

Setiap anak, memang setiap dari kita adalah pemenuhan janji Allah. Maria dan Elizabeth tidak pernah melihat bayi di dalam rahim mereka hanya sebagai ketidaknyamanan dalam hidup atau sampah yang dapat dibuang kapan saja. Namun, untuk menerima bayi-bayi ini sebagai sebuah penggenapan janji Tuhan, Maria dan Elizabeth harus menjadi wanita yang berani dan tangguh karena mereka akan banyak berkorban termasuk mengorbankan hidup mereka sendiri.

Pertanyaannya untuk kita semua: Siapa di antara kita yang tidak berasal dari rahim seorang wanita? Kita semua di sini karena seorang ibu. Memang, tidak semua ibu sempurna. Beberapa dari mereka tidak kaya, ada yang kurang perhatian, ada juga yang bukan contoh yang baik. Namun, fakta bahwa kita ada di sini sekarang, ini berarti ada seorang wanita dalam hidup kita, dengan menghadapi segala resiko dan bahaya, telah memutuskan untuk dengan berani menerima kita sebagai sebuah pemenuhan janji Allah. Kepada semua ibu, terima kasih banyak.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Gift of Ordination

First Sunday of Advent [December 2, 2018] Luke 21:25-28, 34-36

ordinationI have been in the Dominican formation for more than 12 years, and if I add four years of my minor seminary formation in Indonesia, it stretches to 16 years! It is insanely long that it occupies a more than half of my life. If we believe that everything has a purpose, I can ask myself, “what is the point of this extremely lengthy formation?” Why should I stay through thick and thin of formation life, through hours of assiduous study, through various programs, through daily rigor of prayer life?

The answer is surprisingly not difficult to see. It is because I want to become a priest and not any priest, it is a Dominican priest, and not only any Dominican priest, but it is a holy, faithful and holistically mature Dominican priest. It looks a simple answer, but every word in that answer carries certain enormous understanding and consequences. Having this so noble aim perhaps explains why the formation is incredibly extensive and long.

However, after passing through literally more than 5 thousand days in the formation, battling many tough examinations, attending countless prayers and spiritual exercise, involving myself in community activities, I am now standing before the threshold of the being-transforming rite what we call the ordination. Looking back, I am aware that I have reached that unprecedented improvements and growth. However, it is also true that I have come short in many aspects. I have committed untold stupidities, things that 14-year-old Bayu would not dare to contemplate. Thank God, that despite these shortcomings, I am still alive!

Honestly evaluating these things, I realize that I am not worthy of this ordination. I could boast some of my achievements, both in academic and non-academic fields. I could show myself as a brother who lives a religious life with certain regularity. I could boast the numbers of talks and lectures I prepared and gave. I could boast the Latin honor I received in every graduation. However, these things are just a bunch of straws!

However, why does this ordination remain within my reach despite my unworthiness? I realize that the vocation to the diaconate is a gift. In Philosophy expounded by St. Thomas Aquinas, I learn my essence is not my existence, meaning to exist is not even my right. Yet, the mere fact, I exist, means God, who is the source of all existence, has willed that I should live. Fundamentally my life is not right or a must, but a gift. My existence is an utter gift of God and so also my ordination. It is not a gift based on a merit system, otherwise, it is called a reward. It is not a gift I could demand because it is my right. It is neither a gift coming from my inheritance nor a gift that I could purchase in the Church. It is a free, absolutely free. God in the mystery of His infinite mercy and wisdom, has decided to grant me this beautiful gift. As I receive this gift despite my unworthiness, I cannot be forever grateful.

The gift does not only speak of me, the recipient. Ultimately it points to the giver. The gift represents how the giver values the recipient. The more valuable the gift is, the more precious the recipient to the giver. The ordinary gift may symbolize the goodwill of the giver, but the gift that hurts the giver is certainly extraordinary because it bears the sacrificial love of the giver. The gift of ordination reveals who my God is. He is God who sees beyond my weakness and flaws, who considers me as His precious own, who dares to share His own life and mission with me. Thus, I am forever grateful.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Karunia Pentahbisan

Hari Minggu Pertama Adven [2 Desember 2018] Lukas 21: 25-28, 34-36

prostrationSaya telah berada di formasi Ordo Dominikan di Filipina selama lebih dari 12 tahun, dan jika saya menambahkan empat tahun formasi seminari kecil saya di Indonesia, totalnya sampai 16 tahun! Ini sangat panjang karena lebih dari separuh hidup saya berada di formasi. Jika kita percaya bahwa semuanya memiliki tujuan, saya bertanya pada diri sendiri, “apa tujuan dari formasi yang sangat panjang ini?” Mengapa saya harus tetap berada dalam kehidupan formasi dengan suka dan dukanya? Mengapa saya harus menghabiskan banyak waktu dalam belajar? Mengapa saya harus bertekun dalam doa?

Jawabannya ternyata tidak sulit untuk ditemukan. Ini karena saya ingin menjadi imam secara khusus seorang imam Dominikan. Namun, tidak hanya sekedar imam Dominikan, tetapi seorang imam Dominika yang kudus, setia  dan juga dewasa. Jawabannya tampak sederhana, tetapi setiap kata dalam jawaban ini membawa pemahaman dan konsekuensi yang sangat besar. Memiliki tujuan yang begitu mulia ini mungkin menjelaskan mengapa formasi saya harus sangat panjang.

Namun, setelah melewati lebih dari 16 tahun dalam formasi, berjuang menghadapi banyak ujian yang sulit, menghadiri doa dan latihan rohani yang tak terhitung jumlahnya, melibatkan diri dalam kegiatan komunitas, saya sekarang berdiri di depan ambang pintu yang akan merubah hidup saya selamanya, yakni pentahbisan. Melihat ke belakang, saya sadar bahwa saya telah berkembang dan bertumbuh. Namun, benar juga bahwa saya mengalami banyak kegagalan dan bahkan melakukan kebodohan yang tak terkatakan. Puji Tuhan, bahwa meskipun kekurangan ini, saya masih hidup!

Dengan jujur mengevaluasi hidup saya, saya menyadari bahwa saya tidak layak untuk pentahbisan ini. Saya dapat membanggakan beberapa pencapaian saya, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Saya bisa menunjukkan diri sebagai seorang frater yang menjalani kehidupan religius dengan baik. Saya bisa membanggakan berbagai kerasulan yang saya berikan. Saya bisa membanggakan penghargaan yang saya terima di setiap kelulusan. Namun, hal-hal ini hanyalah sekedar angin yang datang dan pergi!

Namun, mengapa pentahbisan ini tetap berada dalam jangkauan saya meskipun ketidaklayakan saya? Saya sadar bahwa panggilan ke menjadi seorang daikon ataupun imam adalah sebuah karunia. Dalam Filosofi yang diuraikan oleh St. Thomas Aquinas, manusia bukanlah mahkluk yang mutlak. Keberadaan bukanlah hak manusia dan kapan saja manusia bisa kehilangan eksistensinya. Semua tergantung pada sang sumber dari segala kehidupan, Tuhan sendiri. Pada dasarnya hidup saya bukan hak atau keharusan, tapi karunia. Keberadaan saya adalah anugerah Tuhan dan begitu juga tahbisan saya. Ini bukan karunia berdasarkan sistem point, jika tidak, itu disebut upah. Ini bukan karunia yang saya bisa tuntut berdasarkan hak saya. Itu bukanlah karunia yang datang dari warisan saya atau yang dapat saya beli di Gereja. Ini adalah karunia yang sungguh cuma-cuma. Tuhan dalam misteri belas kasih dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, telah memutuskan untuk memberikan saya karunia yang indah ini. Menerima karunia ini walaupun ketidaklayakan saya, saya hanya bisa bersyukur.

Karunia ini tidak hanya berbicara tentang saya, sang penerima. Akhirnya ini menunjuk pada sang pemberi. Karunia menunjukkan bagaimana sang pemberi menghargai sang penerima. Semakin berharga karunianya, semakin berharga sang penerima bagi sang pemberi. Sebuah hadiah yang sederhana melambangkan niat baik dari sang pemberi, tetapi karunia yang menuntut pengorbanan sang pemberi, tentu saja luar biasa. Karunia pentahbisan mengungkapkan siapa Allah saya. Dia adalah Tuhan yang melihat di luar kelemahan dan kekurangan saya, yang menganggap saya sebagai milik-Nya yang berharga, yang berani berbagi kehidupan dan misi-Nya dengan saya. Sungguh, saya senantiasa bersyukur memiliki Allah yang adalah kasih.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP