Iman dan Citra Allah

Minggu Paskah kelima. 14 Mei 2017 [Yohanes 14: 1-12]

 “ Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku (Yoh 14: 1)”

faithYesus hendak meninggalkan murid-murid-Nya dan kembali kepada Bapa-Nya. Para murid bingung dan tidak mengerti. Beberapa takut kehilangan Mesias dan guru mereka. Beberapa tidak mengerti dengan tindakan dan perkataan Yesus. Namun, terlepas dari kebingungan dan ketakutan ini, Yesus mengingatkan mereka agar tidak merasa cemas dan tetap memiliki iman kepada Allah dan kepada-Nya.

Situasi yang dialami para murid Yesus ini sebenarnya adalah situasi yang kita alami juga saat ini. Kita menghadapi banyak permasalahan dan kitapun gelisah. Ada banyak hal yang datang mencobai kita dan kita tidak mengerti mengapa. Kita tidak tahu mengapa begitu banyak penderitaan dan kejahatan menimpa bangsa kita. Kita tidak mengerti mengapa orang baik ditindas dan mereka yang telah melakukan perbuatan jahat tampaknya memiliki kehidupan yang baik. Kita tidak mengerti mengapa kita kehilangan pekerjaan atau usaha kita; mengapa kita mengalami masalah keuangan; mengapa kita kehilangan anggota keluarga kita; Mengapa kita bergulat dengan masalah kesehatan. Kita terus bertanya mengapa.

Injil hari ini mengingatkan kita untuk tidak gelisah dan percaya kepada Allah dan Yesus. Ya, kita mengaku sebagai orang beriman, sudah dibaptis dan ke gereja setiap minggu. Namun, apakah kita benar-benar memiliki iman kepada Allah atau kita sebenarnya beriman kepada citra Allah yang kita ciptakan di dalam hati kita? Mungkin, kita cenderung melihat Tuhan sebagai sang pemecah masalah instan yang akan menangani semua masalah kita kapan saja kita membutuhkan-Nya, atau sebagai sang pemberi hukum tertinggi yang harus dipatuhi setiap saat. Namun, di masa-masa sulit, kita melihat Allah tidak menyelesaikan masalah kita secara instan, atau kita terus mengalami ketidakadilan dan Dia tampaknya tidak berbuat apa. Kita gelisah karena Allah kita atau citra Allah kita tidak sesuai dengan harapan kita.

Jika iman kita adalah keteguhan hati untuk berpegang pada citra Allah tertentu, ini bukanlah iman yang benar, tapi fundamentalisme. Entah kita pada akhirnya akan kehilangan iman kepada Allah atau kita akan mulai memaksa diri kita dan orang lain untuk memiliki citra Allah kita. Melalui pencobaan dan kesulitan dalam hidup, citra Allah kita yang lama dan tidak lagi memadai ditantang oleh Allah sendiri dan kita diundang untuk menemukan kembali Allah yang benar sekali lagi, yang lebih hidup dan membebaskan. Kita akan kehilangan iman kita kepada Tuhan jika kita hanya berpegangan pada citra-citra tua dan menolak untuk membuka diri kita kepada ‘banyak tempat tinggal’ yang Tuhan siapkan untuk kita. Yesus meminta kita untuk percaya kepada Allah, dan bukan di dalam diri kita sendiri maupun dalam citra Allah yang kita ciptakan. Iman yang benar berarti mengetahui bahwa Tuhan akan menghancurkan citra-citra kita tentang Dia namun, tetap percaya bahwa ini semua untuk kebaikan kita. Memang benar, seringkali kita tidak mengerti, tapi karena kita terus memiliki iman, dan kita akan menemukan Tuhan yang lebih hidup dan membebaskan. Dia mungkin datang sebagai Tuhan yang diam, yang memungkinkan kita untuk terus bertanya; sebagai Allah yang penuh kejutan, yang menyentuh kita pada saat yang paling tak terduga; sebagai Tuhan yang bersahaja, yang berjalan bersama kita dalam perjuangan sehari-hari kita; dan masih banyak lagi citra-Nya di luar imajinasi kita.

Apa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi sekarang? Apa citra Allah yang kita miliki di dalam hati kita sekarang? Apakah kita memiliki iman kepada Allah atau dalam diri kita sendiri?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Paradox of Resurrection

Second Sunday of Easter. April 23, 2017 [John 20:19-31]

“Unless I see the mark of the nails in his hands and put my finger into the nailmarks and put my hand into his side, I will not believe (John 20:25).”

doubting thoms 1Thomas was looking for a proof that Jesus truly rose from the dead. Not only seeing Him in person, he required another sign: touching the crucifixion marks that Jesus bore.  He was one of the Twelve, the inner cycle of Jesus’ disciples, and being one, he had the privilege to walk with Jesus, dine with Him, and witness His mighty deeds. At a first glance, he would easily recognize Jesus, his Master, but still, he demanded the marks of the nails. Why did Thomas insist on searching the wounds?

The reason is that Thomas wanted to make sure that he and other disciples were not seeing a ghost or just hallucinating. Moreover, he wanted to confirm that the person he was going to meet was truly Jesus and not an impostor. The crucifixion wounds of Jesus became a practical identification of the risen Christ. Though it is really practical, there is also a downside of it. Thomas identified Jesus primarily with His wounds. Thomas was not alone here. Often, not only doubting, we follow Thomas also in identifying other people with their wounds and weaknesses.

Napoleon Bonaparte was once a great general and he led his army to conquer Europe. Yet, in 1815, in the battle of Waterloo in present-day Belgium, Napoleon was defeated and it was sealed his fate. Waterloo gradually becomes not only the crucifixion mark of Napoleon but also a metaphor for the failures of many people. The same goes with Achilles who was a hero in Greek Mythology and the main protagonist of Homer’s epic, the Iliad. He was the most skillful warrior who brought the mighty Troy to its knees. He had only one vulnerable point in his body, his heel, and indeed, he died after the enemy shot an arrow to his heel. Even the greatest warrior has his weakness, and since then, the Achilles’ heel becomes a symbol of fatal weakness to everyone.

We have our own weaknesses, failures, and vulnerabilities. Often, we associate ourselves or other people with this wounds and marks. Bayu, who is always late; Alex, the jobless; Ram, the sickly; Andre, the obsessed; Francis, the ex-con; Peter, the impulsive denier; Thomas, the doubter; Mary, possessed by the seven demons; Judas, the betrayer; Jesus, the crucified. We are our wounds. We are as good as the mark we bear.

However, in today’s Gospel, Jesus did not rebuke Thomas for looking only for His marks. Jesus did not demand Thomas to focus on the best of Him. He even asked him to see and touch the wounds. Jesus embraced the very marks of His defeat and made it a sign of His resurrection. This has become the proof of God’s marvelous works, and the counter place between Thomas and God. It is not a ‘positive talk’ that goes “if you fail a hundred times, get up one hundred and one times!” It goes beyond it. The resurrection calls us neither to deny nor to hide our weaknesses, but to see the Lord even in these lowest situations of our lives. At times, when we are weak, our defenses are down, and it is the time, God enters our lives. At times, when we fail and lose, we fall to our knees and pray. This is the paradox of the resurrection!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Kebutaan dan Visi Iman

Minggu Keempat Prapaskah. 26 Maret 2017 [Yohanes 9: 1-41]

“karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Yoh 9:3)”

jesus-heals-blind-manKebutaan adalah cacat yang paling mengerikan. Kita akan kehilangan penglihatan, hidup dalam kegelapan total untuk seluruh kehidupan kita. Ketidakmampuan untuk melihat keindahan dunia dan orang-orang yang kita cintai. Dalam Perjanjian Lama, kebutaan memberikan seseorang kelemahan besar. Kita tahu cerita Ishak yang ditipu oleh Yakub, anaknya sendiri sehingga ia bisa mendapatkan berkat, dan ini semua dimulai ketika Ishak kehilangan penglihatannya. Menjadi buta juga menghambat mereka untuk memenuhi kewajiban agama. Hukum Musa mengatur bahwa orang buta tidak bisa mempersembahkan korban kepada Tuhan, bahkan hewan kurban pun tidak boleh buta (lihat Im 21-22). Orang-orang berdosa juga dikaitkan dengan kebutaan (lihat Ul 28:29). Itulah sebabnya murid-murid Yesus bertanya apakah kebutaan seseorang disebabkan oleh dosanya sendiri atau orang tuanya.

Penyembuhan orang buta dalam Perjanjian Lama jarang terjadi, namun para nabi menubuatkan bahwa jaman Mesianik akan ditandai dengan penyembuhan orang buta dan lumpuh. Dengan demikian, dalam Injil, kita membaca banyak cerita dari orang buta disembuhkan Yesus, dan ini memberitahukan kita bahwa Yesus adalah Mesias yang telah lama diharapkan dan kerajaan-Nya telah dimulai. Dalam Injil Yohanes, kisah penyembuhan orang buta jarang terjadi, namun Yohanes mengabdikan seluruh bab 9 untuk satu orang buta yang tak bernama. Orang itu disembuhkan oleh Yesus pada hari Sabat. Sayangnya, penyembuhan dalam Sabbath dilarang oleh Hukum Taurat, dan orang-orang Farisi pun mencerca sang pria denga serangkaian pertanyaan, terutama mempertanyakan otoritas Yesus. Pria itu yakin bahwa meskipun melanggar Sabat, Yesus adalah orang kudus karena tidak ada orang yang berdosa dapat menyembuhkan. Cerita berakhir dengan dia diusir dari rumah ibadat. Sebuah ironi terjadi dalam cerita ini, dimana orang buta bisa melihat dan percaya kepada Yesus, tetapi beberapa orang Farisi terus hidup dalam kegelapan dan tidak percaya kepada Yesus.

Kisah orang buta ini mengingatkan saya akan Louis Braille. Louis kehilangan penglihatannya pada usia yang sangat muda karena sebuah kecelakaan dan benda tajam menusuk matanya. Namun, ia bertekad untuk terus belajar dengan indranya yang tersisa. Ayahnya membuatnya tongkat, saudaranya mengajarinya echolocation, pastor di desanya mengajarinya untuk mengenali pohon dengan sentuhan dan burung dengan suara mereka, dan ibunya mengajarkan dia untuk bermain domino dengan menghitung titik-titik dengan ujung jarinya. Dia ingin membaca dan belajar lebih banyak, tapi itu praktis tidak mungkin. Setelah beberapa waktu, ia menerima kabar bahwa Charles Barbier, seorang komandan militer menemukan kode komunikasi militer menggunakan pola titik-titik untuk mewakili suara. Louis mengadopsi sistem ini untuk dirinya sendiri, namun ia merasa kode itu terlalu lambat. Jadi, bukannya mewakili suara, ia merekayasa sistem titik ini untuk mewakili huruf. Dia menekan titik-titik di atas kertas dengan alat penusuk yang tajam dan kecil, seperti alat yang menyebabkan kebutaannya. Pada usia 15, ia menemukan abjad Braille. Tekadnya ini telah membantu banyak orang dengan kebutaan dan visibilitas rendah, untuk membaca dan melihat dunia.

Tentu saja, mata kita baik-baik saja karena kita mampu membaca refleksi ini! Tapi, pertanyaan sesungguhnya adalah, di Masa Pra-Paskah ini, apakah mata kita membantu kita untuk melihat apa yang paling penting dalam hidup. Apakah kita menghargai karunia penglihatan kita? Apakah visi kita membawa kita kepada iman yang lebih dalam? Apakah kita membantu orang lain untuk melihat Yesus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Jesus and the Samaritan Woman

Third Sunday of Lent. John 4:5-42 [March 19, 2017]

“Many of the Samaritans of that town began to believe in him because of the word of the woman (Jn 4:39)”

samaritan-woman-at-the-wellMany of us will see Jesus’ conversation with the Samaritan woman as something ordinary, a chat between a man and a woman. But, if we go back to the time of Jesus, we will discover it as unthinkable. This Samaritan woman embodied what the Jews hated most. Firstly, despite their common ancestry, the Samaritans and the Jews were excommunicating each other. Despite worshipping the same God, they condemned one another as religious heretics and they proclaimed their own religion as the true one. No wonder, sometimes, the encounter between the two turned violent and the Romans had to quell the riots.

Secondly, this Samaritan is a woman. The ancient Jewish society, just like many ancient cultures, placed women as second class citizens. They were treated as objects, either owned by the patriarch or the husband. They could be easily divorced by their husbands if they could not bear a child. Despite some outstanding and exceptional women due to their noble birth and wealth, women generally were discriminated from the public and religious sphere. Many could neither study the Torah nor have a voice of their own. No wonder, many Jews praised the Lord because they were born not as a woman!

However, in today’s Gospel, Jesus talked to a Samaritan woman. Not only talking, He asked for water. Not only did he asked for water, He revealed Himself for the first time as the Living Water as well as the Messiah. The conversation transformed her.  While many Jews refused to believe in Jesus, the Samaritan woman believed. Not only did she become a believer, she turned to be a preacher of faith. She spread the Good News to her townsfolk and they came to Jesus because of her. The Gospel of John narrates to us that even a Samaritan and a woman can be chosen by Jesus to be His preacher. The effects of her preaching were unprecedented. The Samaritans began to make peace with other Jews, the disciples who also believe in Jesus.

We are living in a better world. Women can enjoy the same rights that men enjoy almost in all aspects. Indonesia, a country with the largest Muslim population in the world, used to have a woman president. In the Philippines, many major positions are occupied by women, like Chief Justice, Senators, and even military general. Yet, still many women are subject to various forms of exploitation: human trafficking, prostitution, domestic violence, and abuses. Following Jesus means standing up against injustice against women.

The Gospel also points out to us that women are capable of preaching the faith. Surely, women cannot preach in the pulpit, but many of them are responsible for faith growth in many Christ-centered communities. I still remember how my mother taught me the basic prayers and the rosary. She also encouraged me as an altar server to love the Eucharist. In Indonesia, it is a practice in many parishes for priests to receive their daily meals from the people, and many women are doing their best to provide for the priests. Some religious sisters and lay women have contributed to my philosophical and theological formation, and they were great professors. Over and above these, many women have generously supported the Church and her Evangelization mission, through their resources, time, effort and prayer. From the depth of our hearts, we thank them.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Perempuan Samaria

Minggu Prapaskah Ketiga. Yohanes 4: 5-42 [19 Maret 2017]

 “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu (Yoh 4:39)”

 Banyak dari kita akan melihat percakapan antara Yesus dengan perempuan Samaria sebagai sesuatu yang biasa, percakapan antara seorang pria dan seorang wanita. Tapi, jika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan menemukan hal ini sebagai hal yang tak terbayangkan. Perempuan Samaria ini menjadi symbol dari apa yang orang-orang Yahudi paling benci. Pertama, walaupun berasal dari nenek moyang yang sama, orang-orang Samaria dan Yahudi saling mengucilkan satu sama lain. Meskipun menyembah Tuhan yang sama, mereka mengutuk satu sama lain sebagai bidah dan mereka mengklaim bahwa agama mereka sendirilah sebagai yang benar. Tidak heran, kadang-kadang, pertemuan antara keduanya berubah menjadi kekerasan dan tentara Romawi harus turun tangan untuk menghentikan kerusuhan ini.

Kedua, orang Samaria ini adalah seorang wanita. Masyarakat Yahudi tempo dulu, seperti banyak kebudayaan kuno, menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Mereka diperlakukan sebagai objek, baik yang dimiliki oleh bapak keluarga atau suami. Mereka bisa dengan mudah diceraikan oleh suami mereka jika mereka tidak bisa memiliki anak. Meskipun ada beberapa pengecualian, wanita umumnya didiskriminasi dari ruang publik dan agama. Banyak perempuan tidak mempelajari Taurat atau memiliki suara mereka sendiri untuk menentukan masa depan mereka. Tak heran, banyak orang Yahudi tempo dulu memuji Tuhan karena mereka dilahirkan bukan sebagai seorang wanita!

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus berbicara dengan seorang perempuan Samaria. Tidak hanya berbicara, Dia meminta air. Tidak hanya dia meminta air, Ia menyatakan diri-Nya untuk pertama kalinya sebagai Air Kehidupan serta Mesias. Percakapan ini mengubah sang perempuan. Sementara banyak orang Yahudi menolak untuk percaya kepada Yesus, wanita Samaria percaya. Tidak hanya percaya, ia berubah menjadi seorang pewarta iman. Dia menyebarkan Kabar Baik kepada warga di desanya dan mereka datang kepada Yesus karena dia. Injil Yohanes menceritakan kepada kita bahwa bahkan seorang Samaria dan seorang wanita dapat dipilih oleh Yesus untuk menjadi pewarta iman-Nya. Buah dari pewartaanya pun luar biasa. Orang Samaria mulai berdamai dengan orang-orang Yahudi, secara khusus para murid yang juga percaya pada Yesus.

Kita hidup di dunia yang lebih baik. Perempuan dapat menikmati hak yang sama seperti laki-laki hampir dalam semua aspek kehidupan. Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, pernah memiliki seorang presiden perempuan. Di Filipina, banyak posisi utama diduduki oleh perempuan, seperti Ketua MA, Senator, dan bahkan jenderal militer. Namun, masih banyak wanita yang tunduk pada berbagai bentuk eksploitasi: perdagangan manusia, prostitusi, kekerasan dalam rumah tangga, dan kejahatan seksual. Mengikut Yesus berarti kita berdiri melawan ketidakadilan terhadap perempuan.

Injil juga menunjukkan kepada kita bahwa perempuan mampu memberitakan iman. Tentunya, perempuan tidak bisa berkhotbah di mimbar, tapi banyak dari mereka yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan iman di banyak komunitas. Saya masih ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar dan rosario. Dia juga mendorong saya aktif di Gereja dan mencintai Ekaristi. Di Indonesia, di banyak paroki, para imam menerima ‘rantangan’ dari umat, dan banyak wanita yang terlibat dalam menyediakan makanan bagi para imam ini. Beberapa suster dan awam perempuan telah memberikan kontribusi bagi formasi filosofis dan teologis saya, dan mereka ada para guru yang handal. Akhirnya, banyak perempuan telah bermurah hati untuk mendukung Gereja dan misi Evangelisasi, melalui sumber daya mereka, waktu, tenaga dan doa. Dari kedalaman hati kita, kita berterima kasih kepada para perempuan ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The God of Transfiguration

Second Sunday of Lent (Year A). March 12, 2017 [Matthew 17:1-9]

“They were coming down from the mountain… (Mat 17:9)”

transfiguration-jesusmafa-438In the Bible, the mountain is the place where God meets His people. On Mount Horeb, Moses saw the burning bush and received his calling to lead Israel out of Egypt’s slavery (see Exo 3). On Mount Sinai, after the liberation of the Hebrews, Moses met the Lord and received the Law in the Mount Sinai (see Exo 19). Again on Mount Horeb, Elijah discovered the gentle presence of God (1 Kings 19:11-15).

Psalmists also considered the mountain as the Lord’s dwelling place (like Psa 3:5; 24:3). In fact, one of the titles of the Lord is El Shaddai, and one of its probable meaning is: the Lord, the strong mountain (Gen 17:1).

In today’s Gospel, Jesus led the three disciples up to the high mountain. There, he was transfigured. His face was shining like a sun and his cloth turned to be white as light. Then two great figures of Old Testament, Moses and Elijah appeared and conversed with Jesus. Finally, the bright cloud covered them and a voice was heard, “This is my beloved Son, with whom I am well pleased; listen to him.” The disciples were so terrified and overwhelmed. Turning back to the ordinary form, Jesus touched them and assured them, “Rise and do not be afraid.” Then they went down from the mountain and continued their journey to Jerusalem.

The Old Testament motif takes place once again in the New Testament, but looking closely, there are several striking differences. Firstly, people climb the Mountain to see God, but when the disciples were there, they saw Jesus transfigured instead. The episode becomes an early sign of Jesus’ divinity in the New Testament. Secondly, Moses and Elijah were representing the best of Old Testament: the Law and the Prophet. Yet, Moses and Elijah were also the very characters that encountered God on the mountain. They reappeared in the transfiguration because they wanted to tell us that Jesus was the God they had encountered in the mountains. Thirdly, Jesus did not stay forever on the mountain, but He went down and continued His life among His disciples and other Israelites. This is a life-changing revelation: our God does not stay and sit nicely on the high mountain, but He goes down and is staying with us, in our ordinariness of life.

Sometimes we are expecting to encounter the glorious God only on the high mountain. For some feel God in the charismatic worship meetings. Others encounter God in the great retreats and long recollections. Nothing’s wrong with these noble devotions and religious practices. Yet, the danger is that we begin to dichotomize the religious life that is limited to the church or rituals and our daily lives outside the church. We must not forget the point of transfiguration that our God is also dwelling among us. Jesus is with us in our family and our efforts in raising our children. The Lord is present in our workplaces as we toil for our daily bread. He embraces us in the moment of trials and pains. He is never far, and we are never alone. And He is our God.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Allah Transfigurasi

Minggu Prapaskah kedua (Tahun A). 12 Maret 2017 [Matius 17: 1-9]

tumblr_inline_njjg9wzNYO1qkqzlvDalam Alkitab, gunung adalah tempat di mana Allah bertemu umat-Nya. Musa melihat semak duri yang menyala dan menerima panggilannya untuk memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir di Gunung Horeb (lihat Kel 3). Setelah pembebasan, Musa bertemu dengan Tuhan dan menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai (lihat Kel 19). Elia menemukan kehadiran Allah yang lembut di Gunung Horeb (1 Raja 19:11-15). Pemazmur juga melihat gunung sebagai tempat Tuhan bersemayam (seperti Mzm 3:5; 24:3). Bahkan, salah satu gelar Tuhan adalah El Shaddai, yang  mungkin berarti Tuhan adalah gunung yang kuat (Kej 17:1).

Dalam Injil hari ini, Yesus dan ketiga murid naik ke gunung yang tinggi. Di sana, ia berubah rupa. Wajahnya bersinar seperti matahari dan kain nya berubah menjadi putih seperti cahaya. Kemudian dua tokoh besar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia muncul dan berbicara dengan Yesus. Akhirnya, awan terang menaungi mereka dan suara berkata, Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Para murid sangat ketakutan. Beralih kembali ke bentuk biasa, Yesus menyentuh mereka dan meyakinkan mereka, Berdirilah, jangan takut.” Kemudian mereka turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan ke Yerusalem.

Motif Perjanjian Lama berlangsung sekali lagi dalam Perjanjian Baru, tetapi jika kita mencermati lebih dekat, ada beberapa perbedaan mencolok di sini. Pertama, manusia mendaki gunung untuk melihat Allah, tapi ketika para rasul berada di sana, mereka melihat Yesus berubah. Episode menjadi salah satu tanda dari keilahian Yesus dalam Perjanjian Baru. Kedua, Musa dan Elia yang mewakili yang terbaik dari Perjanjian Lama: Hukum dan Nabi. Namun, Musa dan Elia adalah juga tokoh Perjanjian Lama yang ditemui Allah di gunung. Mereka muncul kembali di transfigurasi karena mereka ingin memberitahu kita bahwa Yesus adalah Tuhan yang mereka temui di gunung tinggi. Ketiga, Yesus tidak tinggal selamanya di gunung, tetapi Dia turun dan meneruskan hidup-Nya di antara para murid-Nya dan bangsa Israel. Ini adalah wahyu yang sejatinya menggegerkan: Allah kita tidak tinggal dan duduk manis di atas gunung yang tinggi, tetapi Dia turun dan tinggal bersama kita, di hiruk-pikuk hidup kita.

Kadang-kadang kita mengharapkan untuk menemukan Allah yang mulia hanya pada gunung yang tinggi. Beberapa dari kita merasakan Allah hanya dalam pertemuan ibadah karismatik, dengan musik yang kuat dan doa-doa yang sangat ekspresif. Lainnya berjumpa dengan Allah dalam retret agung dan rekoleksi yang panjang. Tidak ada yang salah dengan praktik-praktik keagamaan ini. Namun, bahayanya adalah bahwa kita mulai memisahkan kehidupan beragama yang terbatas di dalam gereja, dan kehidupan sehari-hari di luar gereja. Kita tidak boleh lupa makna dari transfigurasi adalah bahwa Allah kita juga tinggal di antara kita. Yesus bersama kita dalam keluarga kita dan upaya kita dalam membesarkan anak-anak kita. Tuhan hadir di tempat kerja kita saat kita bekerja keras untuk mencari sesuap nasi. Dia memeluk kita di saat kita mengalami penderitaan. Dia tidak pernah jauh, dan kita tidak pernah sendirian. Dan Dia adalah Allah kita, Allah transfigurasi.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Mammon

8th Sunday in Ordinary Time (Year A). February 26, 2017 [Matthew 6:24-34]

 “You cannot serve God and mammon (Mat 6:24)”

liberationMammon in Aramaic, the native language of Jesus, means riches, money or even properties. And nobody can serve both the true God and Mammon. In original Greek, Mathhew chose a stronger word than “to serve” Mammon, but it is to ‘become slave’ of Mammon. A slave is someone who no longer possesses freedom of his or her own; the lives are dependent on their master’s whim. Interesting to note is that the Mammon is not even a living being, and yet, people are freely laying their freedom to be its slave. It is irrational and in fact, unthinkable, but the reality narrates countless stories of people being possessed by riches and do inhuman things.

It is not an uncommon story that in many nations government officials are involved in large-scale corruptions, while ordinary citizens have to break their bones working and paying taxes. In Brazil, the Philippines and other countries, small farmers are violently evicted from their homes and lands by the greedy landowners. The grim reality of human trafficking is covert yet enormous. The children and women are abducted and traded as commodities, used as drug mules or sex objects. While others face immediate death as their bodily organs are harvested and sold in black market. Our beautiful forest and mountains are destroyed because of massive illegal logging and mining. This leads to nothing but ecological destruction, the animals are endangered, the rivers and seas become giant dumped sites of toxic waste, and our land is sorely barren and dead.

The mammon-worship does not only take place outside our fence, but without realizing it, it also plagues our own house and families. Who among us are addicted to work and begin to sideline our responsibilities in the family and neglect our health? Who among us start to think that giving money to our children is enough for their growth? Sometimes, the clergy and the religious are caught in the same mentality. We do our ministry as if there will be no tomorrow. We begin putting aside the basics like prayers, study, and community.

St. Thomas Aquinas makes it clear that riches and money cannot satisfy our deepest longing. He argues that wealth’s purpose is to meet our temporal human needs, but never to fulfill our spiritual and supreme desire. The real problem happens when we mistakenly accept riches as the fulfillment of our infinite desire for the infinite God. We make Mammon a god. We dethrone the true God and all serious problems start flooding in.

Jesus calls us to once again go back to true God. Other forms of gods, like wealth, money, gadgets, properties, cars, sex, prestige, works only drag us into slavery and misery. Just like the Hebrews in Egypt, only when they followed Yahweh, were they liberated from the slavery and marched toward the Promised Land. Yet, it was not easy. Like the Israelites who wanted to go back to Egypt after some time in the desert, we also cling to our Mammon firmly. It took 40 years for Israelites to struggle with their faithfulness to God, and perhaps we need years to before we rediscover the true God in your lives. Difficult indeed, yet, it is necessary because only God can bring us true happiness and liberation. We are liberated from the illusion of self-sufficiency, from the excessive ego-centrism. Not only we are freed, but also our family and our society, our environment and our earth. Want to make our world a better place? Let God be your God!

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mamon

Minggu pada Pekan Biasa ke-8 (Tahun A) 26 Februari 2017 [Matius 6:24-34]

Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat 6:24)

slaveMamon dalam bahasa Aram, bahasa asli Yesus, berarti kekayaan, uang atau bahkan properti. Dan tidak ada yang dapat melayani Allah yang benar dan Mamon bersamaan. Dalam bahasa Yunani, Matius memilih kata yang lebih kuat dari “melayani” Mamon, tapi ia mengunakan untuk ‘menjadi budak’ Mamon. Seorang budak adalah seseorang yang tidak lagi memiliki kebebasan dan kehidupannya tergantung pada kemauan tuannya. Menarik untuk dicatat adalah bahwa Mamon itu bukan makhluk hidup, namun, banyak orang mau meletakkan kebebasan mereka untuk menjadi budaknya. Hal ini tidak rasional dan pada kenyataannya, tak terpikirkan, tetapi kenyataannya banyak orang yang memilih kekayaan dan melakukan hal-hal yang tidak manusiawi demi Mamon.

Bukan hal baru di banyak negara, pejabat pemerintah terlibat dalam korupsi besar-besaran, sementara warga biasa harus bekerja keras dan membayar pajak. Di Brazil, Filipina dan negara-negara lain, petani-petani kecil diusir dari rumah dan tanah mereka oleh tuan tanah yang serakah. Kita juga menghadapi Realitas suram perdagangan manusia yang terselubung namun  sangat besar. Anak-anak dan perempuan diculik dan diperdagangkan sebagai komoditas, digunakan sebagai pengantar narkoba atau objek seks. Sementara yang lain menghadapi kematian karena organ tubuh mereka dijual di pasar gelap. Hutan dan pegunungan yang indah hancur karena penebangan liar dan pertambangan ilegal. Hal ini menyebabkan kehancuran ekologi, satwa terancam punah, sungai dan laut menjadi situs limbah beracun raksasa, dan tanah menjadi sangat tandus dan mati.

Penyembahan Mamon tidak hanya berlangsung di luar sana, tapi tanpa disadari, hal ini juga menjadi malapetaka di rumah dan keluarga kita sendiri. Siapa di antara kita yang kecanduan kerja dan mulai mengesampingkan tanggung jawab kita dalam keluarga dan mengabaikan kesehatan kita? Siapa di antara kita mulai berpikir bahwa memberikan uang kepada anak-anak kita sudah cukup untuk pertumbuhan mereka? Kadang-kadang, para imam dan rohaniawan terjebak dalam mentalitas yang sama. Kami melakukan pelayanan seolah-olah tidak ada hari esok. Kita mulai menyisihkan dasar-dasar seperti doa, studi, dan komunitas.

St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa kekayaan dan uang tidak dapat memuaskan kerinduan terdalam kita. Dia berpendapat bahwa tujuan kekayaan adalah untuk memenuhi kebutuhan duniawi kita yang fana, tetapi tidak bisa memenuhi kebutuhan spiritual dan tertinggi kita. Masalah sebenarnya terjadi ketika kita keliru dan menjadikan kekayaan sebagai pemenuhan keinginan kita yang tak terbatas. Kita membuat Mamon tuhan. Kita meninggalkan Allah yang benar dan semua masalah serius pun dating karena kita mulai menjadi seperti Mamon, tidak rasional, tidak berpikir dan tidak hidup.

Yesus memanggil kita untuk kembali ke Allah yang benar. Bentuk lain dari mamon, seperti kekayaan, uang, gadget, properti, mobil, sex, prestise, pekerjaan hanya menyeret kita ke dalam perbudakan dan kesengsaraan. Sulit memang karena kenikmatan instan yang kita terima, namun, hal ini perlu karena hanya Tuhan yang bisa membawa kita kebahagiaan sejati dan pembebasan. Kita dibebaskan dari ilusi keperkasaan kita, dari berlebihan ego-sentrisme kita. Tidak hanya kita dibebaskan, tetapi juga keluarga dan masyarakat kita, lingkungan kita dan bumi kita juga terbebaskan. Ingin membuat dunia kita menjadi tempat yang lebih baik? Lepaskanlah mamon dan biarkan Allah menjadi Allah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Surpassing the Pharisees

6th Sunday in Ordinary Time. February 12, 2017 [Matthew 5:20-37]

 “I tell you, unless your righteousness surpasses that of the scribes and Pharisees, you will not enter into the kingdom of heaven. (Mat 5:20)”

phariseeThe word ‘Pharisee’ has a rather negative connotation for us. In the Gospels, they are the bad guys. They often argued with Jesus and Jesus challenged their way of life. Even some planned to get rid of Jesus (see Mat 12:14). In our time, the term ‘Pharisaic’ simply means hypocrite.

However, if we look from another angle, the Pharisees are not that ugly. In the time of Jesus, they had important roles to play. They, in fact, revolutionized the Jewish society itself. What did they do? They brought the Law, various rituals and devotional practices from the Temple of Jerusalem to the Jewish communities and families in Israel. Many Pharisees took care of the local synagogues and made sure that the people would observe properly the Law and its traditions, like the Sabbath and rituals of cleansing. Unlike the priests who served in the Temple, the Pharisees were lay people who loved the Law in their ordinariness of life. Thus, when the Temple was destroyed by the Roman army in 70 AD, the priestly clan also disappeared, but the Jewish cultural fabrics and religion continued to live because of the Pharisees, the lay people.

Jesus criticized them not because they were following the Law and traditions, but because of their ‘interpretations’ of the Law. Doubtless, the Pharisees loved the Law of Moses dearly, but they fell into fundamentalism. They absolutized the letters of the Law and the traditions, and trivialized what or who is actually at the service of the Law: God and fellow human beings. To become a fundamentalist means we opt to follow the dead letters of the Law of the Bible, which is easier, rather than to dialogue with the Person behind it and persons in front of it.

Without realizing it, many of us are acting like the Pharisees. Like them, we love God, His Law, and His Church, but sometimes, we are too busy with the trivial things. I am sad when some people are arguing on how to receive the Holy Eucharist, kneeling, standing, by hands or directly to the mouth. Some accuse Charismatic mass as heretical. Others label the Latin Mass as ultra-conservative. I am also saddened with a young Catholic apologist who is zealously debating on the Internet, yet does not lift a finger to help his sick mother. Yes, Sacred Scripture and the Liturgy is an essential part of our faith as the exercise of the priestly office of Jesus Christ and means of salvation, but if we are disintegrated because of details of the rituals, we miss the point.

We forget to transform our love for God and His Church into love for others. St. Dominic sold his expensive books made of animal skins so he could feed the poor, and argued, “Would you have me study from these dead skins when the living skins are dying of hunger?” Who among us are involved in feeding the poor around us? Who among us are doing something meaningful to the victims of injustice in the society? Who among us have the patience towards our ‘difficult’ brothers and sisters in the family or community? Remember that we are called to surpass the righteousness of the Pharisees.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP