Minggu Biasa ke-19 [13 Agustus 2017] Matius 14: 22-33
“Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat 14:31)
Laut adalah anugerah bagi umat manusia. Bagi banyak dari kita, laut berarti berbagai macam seafood, dan tempat untuk menikmati liburan. Bila kita membayangkan lautan luas dengan pantai yang indah, kita siap untuk berenang, snorkeling atau menyelam. Namun, ini jauh berbeda bagi jutaan nelayan dan pelaut. Laut berarti kehidupan karena mereka menggantungkan hidup mereka dan keluarga mereka pada laut, baik sumber daya yang dimiliki dan perkerjaan yang dihasilkan. Sayangnya, laut tidak selalu berarti kehidupan. Laut adalah tempat bagi badai-badai dahsyat dan gelombang-gelombang raksasa yang bahkan bisa menelan kapal-kapal terbesar yang pernah dibangun manusia. Dengan efek pemanasan global, polusi laut yang masif dan cara-cara penangkapan ikan yang merusak alam, sekarang semakin sulit bagi nelayan sederhana untuk mendapatkan tangkapan yang baik. Penulis Ernest Hemingway dalam bukunya “The Old Man and the Sea” menceritakan tentang kehidupan nelayan tua yang setelah mempertaruhkan nyawanya untuk menangkap ikan raksasa, tidak membawa pulang apapun kecuali tulang ikan karena tangkapannya dihabisi oleh ikan-ikan lain. Mayoritas para nelayan terus berjuang dengan hutang dan sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk perahu mereka. Merekapun menjadi semakin miskin dari hari ke hari. Hal ini membuat nelayan dan pelaut adalah profesi yang berbahaya.
Danau Galilea bukanlah lautan. Tentunya, ini jauh lebih aman daripada laut terbuka, namun Injil mengatakan bahwa danau ini bisa mematikan bahkan bagi nelayan berpengalaman seperti Petrus dan rasul lainnya. Seperti Petrus dan para rasul di tengah badai, para Dominikan Filipina yang menjadi misionaris ke kepulauan Babuyan di ujung utara Filipina tahu betul apa artinya berada pada belas kasihan lautan. Untuk menuju ke tempat misi mereka, mereka harus menyeberangi selat dengan perahu sekitar 4 sampai 8 jam perjalanan. Ini mungkin sebuah selat kecil, tapi ini adalah selat yang ganas dan berbahaya karena menghubungkan Samudra Pasifik ke timur dan Laut Cina Selatan ke barat. Saat laut di selat ini dalam kondisi yang tidak baik, maka perahu-perahu dihantam dan dipermainkan oleh ombak-ombak raksasa. Inilah saat misionaris kita dan semua yang ada perahu tersebut tidak dapat melakukan apapun kecuali berdoa, dan mungkin ini adalah doanya yang paling tulus yang pernah mereka daraskan dalam hidup mereka. Ketika berada pada belas kasihan samudera, kita mulai menyadari bahwa apa yang paling penting dalam hidup adalah hidup itu sendiri, dan karena hanya hidup ini yang paling penting, segala sesuatu yang lain sepertinya sepele dan tidak banyak artinya.
Namun, di sinilah muncul sebuah paradoks. Di tengah laut yang ganas, berpegangan pada hidup yang rapuh, kita menjadi paling dekat dengan pencipta kehidupan sendiri. Laut yang dasyat menyapu bersih segala hal yang berdiri di antara kita dan Tuhan. Semua hal yang menambahkan berbagai lapisan pada kehidupan kita tersapu bersih. Seiring semakin banyaknya pencapaian kita, kekayaan, pencapaian pendidikan, keindahan fisik, berbagai barang dan kehormatan, kita cenderung semakin penuh dengan diri kita sendiri, dan menjadi lebih mandiri dari Tuhan yang memberi berkat-berkat itu. Seperti Petrus, iman kita menjadi kecil, terlalu bergantung pada diri kita sendiri. Kemudian, saat badai datang, ketika kita mulai tenggelam, kita menyadari bahwa semua pencapaian kita ini tidak akan menyelamatkan kita.
Apakah di dalam hidup kita yang berdiri di antara kita dan Tuhan? Apakah kita seperti Petrus, orang yang iman kecil? Apa pengalaman badai laut dalam hidup kita? Bagaimana kita menjumpai Tuhan dalam pengalaman laut yang penuh badai ini?
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Today, we are celebrating the Mystery of the Most Holy Trinity. This Mystery is rightly called the mystery of all the mysteries because the Holy Trinity is at the core of our Christian faith. Yet, the fundamental truth we believe is not only extremely difficult to understand, but in fact, it goes beyond our natural reasoning. How is it possible that we believe in three distinct Divine Persons, the Father, the Son and the Holy Spirit, and yet they remain One God? Many great minds have tried to explain, but at the face of such immense truth, the best explanations would seem like a drop of water in the infinite ocean. Yet, we believe it precisely because the mystery is not coming from the human mind, but is revealed to us by God Himself.
Hari ini, kita merayakan Misteri Tritunggal Mahakudus. Misteri ini disebut sebagai misteri dari semua misteri karena Tritunggal Mahakudus merupakan inti dari iman Kristiani kita. Namun, kebenaran mendasar yang kita percaya ini tidak hanya sangat sulit untuk dipahami, namun pada kenyataannya, melampaui penalaran alamiah kita. Bagaimana mungkin kita mempercayai tiga Pribadi Ilahi yang berbeda, Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun tetap satu Tuhan? Banyak pemikir besar seperti St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas telah mencoba menjelaskan, namun saat berhadapan dengan kebenaran yang begitu besar, penjelasan terbaik pun sepertinya setetes air di samudera raya. Namun, kita percaya justru karena misteri itu tidak berasal dari manusia, namun diwahyukan kepada kita oleh Tuhan sendiri.
Jesus was about to leave His disciples and go back to His Father. The disciples were confused and failed to understand. Some were afraid of losing their Messiah. Some were puzzled by the actions of Jesus. Yet, despite this confusion and fear, Jesus reminded them not be troubled and to have faith in God and in Him.
Yesus hendak meninggalkan murid-murid-Nya dan kembali kepada Bapa-Nya. Para murid bingung dan tidak mengerti. Beberapa takut kehilangan Mesias dan guru mereka. Beberapa tidak mengerti dengan tindakan dan perkataan Yesus. Namun, terlepas dari kebingungan dan ketakutan ini, Yesus mengingatkan mereka agar tidak merasa cemas dan tetap memiliki iman kepada Allah dan kepada-Nya.
Thomas was looking for a proof that Jesus truly rose from the dead. Not only seeing Him in person, he required another sign: touching the crucifixion marks that Jesus bore. He was one of the Twelve, the inner cycle of Jesus’ disciples, and being one, he had the privilege to walk with Jesus, dine with Him, and witness His mighty deeds. At a first glance, he would easily recognize Jesus, his Master, but still, he demanded the marks of the nails. Why did Thomas insist on searching the wounds?
Kebutaan adalah cacat yang paling mengerikan. Kita akan kehilangan penglihatan, hidup dalam kegelapan total untuk seluruh kehidupan kita. Ketidakmampuan untuk melihat keindahan dunia dan orang-orang yang kita cintai. Dalam Perjanjian Lama, kebutaan memberikan seseorang kelemahan besar. Kita tahu cerita Ishak yang ditipu oleh Yakub, anaknya sendiri sehingga ia bisa mendapatkan berkat, dan ini semua dimulai ketika Ishak kehilangan penglihatannya. Menjadi buta juga menghambat mereka untuk memenuhi kewajiban agama. Hukum Musa mengatur bahwa orang buta tidak bisa mempersembahkan korban kepada Tuhan, bahkan hewan kurban pun tidak boleh buta (lihat Im 21-22). Orang-orang berdosa juga dikaitkan dengan kebutaan (lihat Ul 28:29). Itulah sebabnya murid-murid Yesus bertanya apakah kebutaan seseorang disebabkan oleh dosanya sendiri atau orang tuanya.
Many of us will see Jesus’ conversation with the Samaritan woman as something ordinary, a chat between a man and a woman. But, if we go back to the time of Jesus, we will discover it as unthinkable. This Samaritan woman embodied what the Jews hated most. Firstly, despite their common ancestry, the Samaritans and the Jews were excommunicating each other. Despite worshipping the same God, they condemned one another as religious heretics and they proclaimed their own religion as the true one. No wonder, sometimes, the encounter between the two turned violent and the Romans had to quell the riots.

In the Bible, the mountain is the place where God meets His people. On Mount Horeb, Moses saw the burning bush and received his calling to lead Israel out of Egypt’s slavery (see Exo 3). On Mount Sinai, after the liberation of the Hebrews, Moses met the Lord and received the Law in the Mount Sinai (see Exo 19). Again on Mount Horeb, Elijah discovered the gentle presence of God (1 Kings 19:11-15).