Lautan

Minggu Biasa ke-19  [13 Agustus 2017] Matius 14: 22-33

“Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat 14:31)

jesus rescues peter 2Laut adalah anugerah bagi umat manusia. Bagi banyak dari kita, laut berarti berbagai macam seafood, dan tempat untuk menikmati liburan. Bila kita membayangkan lautan luas dengan pantai yang indah, kita siap untuk berenang, snorkeling atau menyelam. Namun, ini jauh berbeda bagi jutaan nelayan dan pelaut. Laut berarti kehidupan karena mereka menggantungkan hidup mereka dan keluarga mereka pada laut, baik sumber daya yang dimiliki dan perkerjaan yang dihasilkan. Sayangnya, laut tidak selalu berarti kehidupan. Laut adalah tempat bagi badai-badai dahsyat dan gelombang-gelombang raksasa yang bahkan bisa menelan kapal-kapal terbesar yang pernah dibangun manusia. Dengan efek pemanasan global, polusi laut yang masif dan cara-cara penangkapan ikan yang merusak alam, sekarang semakin sulit bagi nelayan sederhana untuk mendapatkan tangkapan yang baik. Penulis Ernest Hemingway dalam bukunya “The Old Man and the Sea” menceritakan tentang kehidupan nelayan tua yang setelah mempertaruhkan nyawanya untuk menangkap ikan raksasa, tidak membawa pulang apapun kecuali tulang ikan karena tangkapannya dihabisi oleh ikan-ikan lain. Mayoritas para nelayan terus berjuang dengan hutang dan sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk perahu mereka. Merekapun menjadi semakin miskin dari hari ke hari. Hal ini membuat nelayan dan pelaut adalah profesi yang berbahaya.

Danau Galilea bukanlah lautan. Tentunya, ini jauh lebih aman daripada laut terbuka, namun Injil mengatakan bahwa danau ini bisa mematikan bahkan bagi nelayan berpengalaman seperti Petrus dan rasul lainnya. Seperti Petrus dan para rasul di tengah badai, para Dominikan Filipina yang menjadi misionaris ke kepulauan Babuyan di ujung utara Filipina tahu betul apa artinya berada pada belas kasihan lautan. Untuk menuju ke tempat misi mereka, mereka harus menyeberangi selat dengan perahu sekitar 4 sampai 8 jam perjalanan. Ini mungkin sebuah selat kecil, tapi ini adalah selat yang ganas dan berbahaya karena menghubungkan Samudra Pasifik ke timur dan Laut Cina Selatan ke barat. Saat laut di selat ini dalam kondisi yang tidak baik, maka perahu-perahu dihantam dan dipermainkan oleh ombak-ombak raksasa. Inilah saat misionaris kita dan semua yang ada perahu tersebut tidak dapat melakukan apapun kecuali berdoa, dan mungkin ini adalah doanya yang paling tulus yang pernah mereka daraskan dalam hidup mereka. Ketika berada pada belas kasihan samudera, kita mulai menyadari bahwa apa yang paling penting dalam hidup adalah hidup itu sendiri, dan karena hanya hidup ini yang paling penting, segala sesuatu yang lain sepertinya sepele dan tidak banyak artinya.

Namun, di sinilah muncul sebuah paradoks. Di tengah laut yang ganas, berpegangan pada hidup yang rapuh, kita menjadi paling dekat dengan pencipta kehidupan sendiri. Laut yang dasyat menyapu bersih segala hal yang berdiri di antara kita dan Tuhan. Semua hal yang menambahkan berbagai lapisan pada kehidupan kita tersapu bersih. Seiring semakin banyaknya pencapaian kita, kekayaan, pencapaian pendidikan, keindahan fisik, berbagai barang dan kehormatan, kita cenderung semakin penuh dengan diri kita sendiri, dan menjadi lebih mandiri dari Tuhan yang memberi berkat-berkat itu. Seperti Petrus, iman kita menjadi kecil, terlalu bergantung pada diri kita sendiri. Kemudian, saat badai datang, ketika kita mulai tenggelam, kita menyadari bahwa semua pencapaian kita ini tidak akan menyelamatkan kita.

Apakah di dalam hidup kita yang berdiri di antara kita dan Tuhan? Apakah kita seperti Petrus, orang yang iman kecil? Apa pengalaman badai laut dalam hidup kita? Bagaimana kita menjumpai Tuhan dalam pengalaman laut yang penuh badai ini?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Revelation of Love

Solemnity of the Most Holy Trinity. June 11, 2017 [John 3:16-18]

 “For God so loved the world that he gave his only Son, so that everyone who believes in him might not perish but might have eternal life (Joh 3:16)”

holy trinityToday, we are celebrating the Mystery of the Most Holy Trinity. This Mystery is rightly called the mystery of all the mysteries because the Holy Trinity is at the core of our Christian faith. Yet, the fundamental truth we believe is not only extremely difficult to understand, but in fact, it goes beyond our natural reasoning.  How is it possible that we believe in three distinct Divine Persons, the Father, the Son and the Holy Spirit, and yet they remain One God? Many great minds have tried to explain, but at the face of such immense truth, the best explanations would seem like a drop of water in the infinite ocean. Yet, we believe it precisely because the mystery is not coming from the human mind, but is revealed to us by God Himself.

The clearest experience of the Trinity in the Scriptures will be coming from St. Matthew. Jesus said to the disciples, “Go, therefore, and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit (Mat 28:19).” We observe that we are baptized for salvation only in “one name”. Surely this one name refers to one God himself. Yet, within this one Holy Name, there are three persons: the Father, the Son and the Holy Spirit.

St. Paul, the apostle to the Gentiles, often uttered blessings in the name of Holy Trinity. In his second letter, he greeted and blessed the Corinthians, saying “The grace of the Lord Jesus Christ and the love of God and the fellowship of the Holy Spirit be with all of you (13:13).” The same practice was also followed by St. Peter. In his first letter, he greeted the fellow Christians, “in the foreknowledge of God the Father, through sanctification by the Spirit, for obedience and sprinkling with the blood of Jesus Christ: may grace and peace be yours in abundance (1:2). It is true that the term Trinity is not in the Bible because the word was coined to facilitate our understanding, but as we have read, the Holy Scriptures revealed the truth and reality of the Holy Trinity.

If then the Holy Trinity is indeed revealed by God Himself, what is the point of having faith in the Holy Trinity then?  The answer may be discovered in today’s Gospel. The identity of God is love (see 1 Jn 4:6). The Father loves the Son totally, and the Son loves the Father radically, and the love that unites the Father and the Son is the Holy Spirit. In love, there is the beautiful dynamic of the three loves. Love is one, yet it is three. Now, it makes sense why God so loved the world and sent His only Son for our salvation. All because God is love.

If God is love and He wants to share His love and life with us, we have to get ready to enter that love. And the best way to prepare ourselves is that we need to become love itself. We need to be more loving, forgiving and generous. In short, we have to be more and more like the Trinity. As St. John of the Cross said, “In the twilight of life, God will not judge us on our earthly possessions and human successes, but on how well we have loved.”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Pewahyuan Kasih

Hari Raya Tritunggal Mahakudus. 11 Juni 2017 [Yohanes 3: 16-18]

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16)”

Holy Trinity21Hari ini, kita merayakan Misteri Tritunggal Mahakudus. Misteri ini disebut sebagai misteri dari semua misteri karena Tritunggal Mahakudus merupakan inti dari iman Kristiani kita. Namun, kebenaran mendasar yang kita percaya ini tidak hanya sangat sulit untuk dipahami, namun pada kenyataannya, melampaui penalaran alamiah kita. Bagaimana mungkin kita mempercayai tiga Pribadi Ilahi yang berbeda, Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun tetap satu Tuhan? Banyak pemikir besar seperti St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas telah mencoba menjelaskan, namun saat berhadapan dengan kebenaran yang begitu besar, penjelasan terbaik pun sepertinya setetes air di samudera raya. Namun, kita percaya justru karena misteri itu tidak berasal dari manusia, namun diwahyukan kepada kita oleh Tuhan sendiri.

Pernyataan yang paling jelas tentang Trinitas dalam Kitab Suci datang dari St. Matius. Yesus berkata kepada murid-murid, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19).” Kita mengamati bahwa kita dibaptis untuk keselamatan hanya dalam “satu Nama”. Tentunya satu nama ini mengacu pada satu Tuhan Allah. Namun, di dalam satu Tuhan, ada tiga pribadi: Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Santo Paulus, rasul bagi bangsa-bangsa, sering mengucapkan berkat dalam nama Tritunggal Mahakudus. Dalam suratnya yang kedua, dia memberkati jemaat di Korintus, dengan mengatakan “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian (13:14).” Praktik yang sama juga Diikuti oleh Santo Petrus. Dalam surat pertamanya, dia menyapa sesama dan memberkati semua jemaat, “…sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu (1:2).” Memang benar bahwa istilah Trinitas tidak ada dalam Alkitab karena kata ini dibentuk untuk memudahkan pemahaman kita, namun seperti yang telah kita baca, Kitab Suci mewahyukan kebenaran dan realitas Tritunggal Mahakudus.

Jika kemudian Tritunggal Mahakudus memang diwahyukan oleh Tuhan sendiri, apa gunanya memiliki iman kepada Tritunggal Mahakudus? Jawabannya bisa ditemukan pada Injil hari ini. Identitas Allah adalah kasih (lihat 1 Yoh 4: 6). Bapa mengasihi Putra sepenuhnya, dan Putra mengasihi Bapa secara radikal, dan kasih yang mempersatukan Bapa dan Putra adalah Roh Kudus. Dalam kasih, ada dinamika indah dari tiga kasih. Kasih itu satu, tapi tiga. Sekarang, masuk akal mengapa Tuhan sangat mengasihi dunia dan mengutus Putra Tunggal-Nya untuk keselamatan kita. Semua karena Tuhan itu kasih.

Jika Tuhan itu kasih dan Dia ingin berbagi kasih-Nya dan kehidupan-Nya dengan kita, kita harus bersiap untuk memasuki kasih tersebut. Dan cara terbaik untuk mempersiapkan diri kita adalah kita perlu menjadi kasih itu sendiri. Kita harus belajar untuk lebih mengasihi, memaafkan dan bermurah hati. Singkatnya, kita harus menjadi terus seperti Trinitas. Seperti yang dikatakan oleh St. Yohanes dari Salib, “Di akhir kehidupan kita, Allah tidak akan mengadili kita berdasarkan harta duniawi dan kesuksesan manusiawi kita, namun seberapa baik kita telah mengasihi.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Faith and the Image of God

Fifth Sunday of Easter. May 14, 2017 [John 14:1-12]

 “Do not let your hearts be troubled. You have faith in God; have faith also in me (Joh 14:1)”

 have faith 1Jesus was about to leave His disciples and go back to His Father. The disciples were confused and failed to understand. Some were afraid of losing their Messiah. Some were puzzled by the actions of Jesus. Yet, despite this confusion and fear, Jesus reminded them not be troubled and to have faith in God and in Him.

The situation of the disciples almost two thousand years ago is actually our situation also here and now. We are troubled and perplexed by many problems. There are a lot of things that come our way and we do not understand why. We do not know why so much suffering and evil are afflicting our nation. We do not understand why good people are oppressed and those who have committed evil acts seem to have a good life. We do not understand why we are losing our job or business; why we are having so much financial troubles; why we are losing our family members; why we are having health issues. We keep asking why.

Today’s Gospel reminds us not to be troubled and have faith in God and in Jesus. Yes, we profess that we have faith in God. Yet, do we truly have faith in God or we actually believe in the images of a god we simply created in our minds? Perhaps, we tend to see God as an instant troubleshooter, who will handle all our problems anytime we need Him, or as a supreme law-giver who must be obeyed at all time. Yet, in difficult times, we see God does not solve our problems instantly or we observe those myriad injustices in our world that God seems to be inactive. We become troubled because our God or our images of God do not fit the reality.

If our faith is the stubbornness of a will to cling to particular images of God, then it is not true faith, but fundamentalism. Either we will eventually lose faith in God or we will begin to force to ourselves and other people to adhere to our image of God. Through trials and difficulties in life, our old, inadequate even false images of God are challenged and we are invited to rediscover the true God once again, more alive, more liberating. We will lose our faith in God if we simply cling to these old images and refuse to open ourselves to ‘many rooms’ God prepares for us. Jesus asks us to believe in God, and not in ourselves nor in the images of God we created. True faith means knowing that God will destroy our images of Him and yet, trust that it is all for our good. It is true, often we do not understand, but as we continue to have faith, and we may discover God who is more alive and liberating. He may come to him as the God of silence, who allows us to keep asking; as the God of surprises, who touches us in the most unexpected moments; as God of the ordinary, who walks with us in our daily struggles; and much more genuine images beyond our imagination.

What are trials and challenges that we have now? What are the images of God we have in our hearts now? Do we have faith in God or in ourselves?

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Iman dan Citra Allah

Minggu Paskah kelima. 14 Mei 2017 [Yohanes 14: 1-12]

 “ Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku (Yoh 14: 1)”

faithYesus hendak meninggalkan murid-murid-Nya dan kembali kepada Bapa-Nya. Para murid bingung dan tidak mengerti. Beberapa takut kehilangan Mesias dan guru mereka. Beberapa tidak mengerti dengan tindakan dan perkataan Yesus. Namun, terlepas dari kebingungan dan ketakutan ini, Yesus mengingatkan mereka agar tidak merasa cemas dan tetap memiliki iman kepada Allah dan kepada-Nya.

Situasi yang dialami para murid Yesus ini sebenarnya adalah situasi yang kita alami juga saat ini. Kita menghadapi banyak permasalahan dan kitapun gelisah. Ada banyak hal yang datang mencobai kita dan kita tidak mengerti mengapa. Kita tidak tahu mengapa begitu banyak penderitaan dan kejahatan menimpa bangsa kita. Kita tidak mengerti mengapa orang baik ditindas dan mereka yang telah melakukan perbuatan jahat tampaknya memiliki kehidupan yang baik. Kita tidak mengerti mengapa kita kehilangan pekerjaan atau usaha kita; mengapa kita mengalami masalah keuangan; mengapa kita kehilangan anggota keluarga kita; Mengapa kita bergulat dengan masalah kesehatan. Kita terus bertanya mengapa.

Injil hari ini mengingatkan kita untuk tidak gelisah dan percaya kepada Allah dan Yesus. Ya, kita mengaku sebagai orang beriman, sudah dibaptis dan ke gereja setiap minggu. Namun, apakah kita benar-benar memiliki iman kepada Allah atau kita sebenarnya beriman kepada citra Allah yang kita ciptakan di dalam hati kita? Mungkin, kita cenderung melihat Tuhan sebagai sang pemecah masalah instan yang akan menangani semua masalah kita kapan saja kita membutuhkan-Nya, atau sebagai sang pemberi hukum tertinggi yang harus dipatuhi setiap saat. Namun, di masa-masa sulit, kita melihat Allah tidak menyelesaikan masalah kita secara instan, atau kita terus mengalami ketidakadilan dan Dia tampaknya tidak berbuat apa. Kita gelisah karena Allah kita atau citra Allah kita tidak sesuai dengan harapan kita.

Jika iman kita adalah keteguhan hati untuk berpegang pada citra Allah tertentu, ini bukanlah iman yang benar, tapi fundamentalisme. Entah kita pada akhirnya akan kehilangan iman kepada Allah atau kita akan mulai memaksa diri kita dan orang lain untuk memiliki citra Allah kita. Melalui pencobaan dan kesulitan dalam hidup, citra Allah kita yang lama dan tidak lagi memadai ditantang oleh Allah sendiri dan kita diundang untuk menemukan kembali Allah yang benar sekali lagi, yang lebih hidup dan membebaskan. Kita akan kehilangan iman kita kepada Tuhan jika kita hanya berpegangan pada citra-citra tua dan menolak untuk membuka diri kita kepada ‘banyak tempat tinggal’ yang Tuhan siapkan untuk kita. Yesus meminta kita untuk percaya kepada Allah, dan bukan di dalam diri kita sendiri maupun dalam citra Allah yang kita ciptakan. Iman yang benar berarti mengetahui bahwa Tuhan akan menghancurkan citra-citra kita tentang Dia namun, tetap percaya bahwa ini semua untuk kebaikan kita. Memang benar, seringkali kita tidak mengerti, tapi karena kita terus memiliki iman, dan kita akan menemukan Tuhan yang lebih hidup dan membebaskan. Dia mungkin datang sebagai Tuhan yang diam, yang memungkinkan kita untuk terus bertanya; sebagai Allah yang penuh kejutan, yang menyentuh kita pada saat yang paling tak terduga; sebagai Tuhan yang bersahaja, yang berjalan bersama kita dalam perjuangan sehari-hari kita; dan masih banyak lagi citra-Nya di luar imajinasi kita.

Apa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi sekarang? Apa citra Allah yang kita miliki di dalam hati kita sekarang? Apakah kita memiliki iman kepada Allah atau dalam diri kita sendiri?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Paradox of Resurrection

Second Sunday of Easter. April 23, 2017 [John 20:19-31]

“Unless I see the mark of the nails in his hands and put my finger into the nailmarks and put my hand into his side, I will not believe (John 20:25).”

doubting thoms 1Thomas was looking for a proof that Jesus truly rose from the dead. Not only seeing Him in person, he required another sign: touching the crucifixion marks that Jesus bore.  He was one of the Twelve, the inner cycle of Jesus’ disciples, and being one, he had the privilege to walk with Jesus, dine with Him, and witness His mighty deeds. At a first glance, he would easily recognize Jesus, his Master, but still, he demanded the marks of the nails. Why did Thomas insist on searching the wounds?

The reason is that Thomas wanted to make sure that he and other disciples were not seeing a ghost or just hallucinating. Moreover, he wanted to confirm that the person he was going to meet was truly Jesus and not an impostor. The crucifixion wounds of Jesus became a practical identification of the risen Christ. Though it is really practical, there is also a downside of it. Thomas identified Jesus primarily with His wounds. Thomas was not alone here. Often, not only doubting, we follow Thomas also in identifying other people with their wounds and weaknesses.

Napoleon Bonaparte was once a great general and he led his army to conquer Europe. Yet, in 1815, in the battle of Waterloo in present-day Belgium, Napoleon was defeated and it was sealed his fate. Waterloo gradually becomes not only the crucifixion mark of Napoleon but also a metaphor for the failures of many people. The same goes with Achilles who was a hero in Greek Mythology and the main protagonist of Homer’s epic, the Iliad. He was the most skillful warrior who brought the mighty Troy to its knees. He had only one vulnerable point in his body, his heel, and indeed, he died after the enemy shot an arrow to his heel. Even the greatest warrior has his weakness, and since then, the Achilles’ heel becomes a symbol of fatal weakness to everyone.

We have our own weaknesses, failures, and vulnerabilities. Often, we associate ourselves or other people with this wounds and marks. Bayu, who is always late; Alex, the jobless; Ram, the sickly; Andre, the obsessed; Francis, the ex-con; Peter, the impulsive denier; Thomas, the doubter; Mary, possessed by the seven demons; Judas, the betrayer; Jesus, the crucified. We are our wounds. We are as good as the mark we bear.

However, in today’s Gospel, Jesus did not rebuke Thomas for looking only for His marks. Jesus did not demand Thomas to focus on the best of Him. He even asked him to see and touch the wounds. Jesus embraced the very marks of His defeat and made it a sign of His resurrection. This has become the proof of God’s marvelous works, and the counter place between Thomas and God. It is not a ‘positive talk’ that goes “if you fail a hundred times, get up one hundred and one times!” It goes beyond it. The resurrection calls us neither to deny nor to hide our weaknesses, but to see the Lord even in these lowest situations of our lives. At times, when we are weak, our defenses are down, and it is the time, God enters our lives. At times, when we fail and lose, we fall to our knees and pray. This is the paradox of the resurrection!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Kebutaan dan Visi Iman

Minggu Keempat Prapaskah. 26 Maret 2017 [Yohanes 9: 1-41]

“karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Yoh 9:3)”

jesus-heals-blind-manKebutaan adalah cacat yang paling mengerikan. Kita akan kehilangan penglihatan, hidup dalam kegelapan total untuk seluruh kehidupan kita. Ketidakmampuan untuk melihat keindahan dunia dan orang-orang yang kita cintai. Dalam Perjanjian Lama, kebutaan memberikan seseorang kelemahan besar. Kita tahu cerita Ishak yang ditipu oleh Yakub, anaknya sendiri sehingga ia bisa mendapatkan berkat, dan ini semua dimulai ketika Ishak kehilangan penglihatannya. Menjadi buta juga menghambat mereka untuk memenuhi kewajiban agama. Hukum Musa mengatur bahwa orang buta tidak bisa mempersembahkan korban kepada Tuhan, bahkan hewan kurban pun tidak boleh buta (lihat Im 21-22). Orang-orang berdosa juga dikaitkan dengan kebutaan (lihat Ul 28:29). Itulah sebabnya murid-murid Yesus bertanya apakah kebutaan seseorang disebabkan oleh dosanya sendiri atau orang tuanya.

Penyembuhan orang buta dalam Perjanjian Lama jarang terjadi, namun para nabi menubuatkan bahwa jaman Mesianik akan ditandai dengan penyembuhan orang buta dan lumpuh. Dengan demikian, dalam Injil, kita membaca banyak cerita dari orang buta disembuhkan Yesus, dan ini memberitahukan kita bahwa Yesus adalah Mesias yang telah lama diharapkan dan kerajaan-Nya telah dimulai. Dalam Injil Yohanes, kisah penyembuhan orang buta jarang terjadi, namun Yohanes mengabdikan seluruh bab 9 untuk satu orang buta yang tak bernama. Orang itu disembuhkan oleh Yesus pada hari Sabat. Sayangnya, penyembuhan dalam Sabbath dilarang oleh Hukum Taurat, dan orang-orang Farisi pun mencerca sang pria denga serangkaian pertanyaan, terutama mempertanyakan otoritas Yesus. Pria itu yakin bahwa meskipun melanggar Sabat, Yesus adalah orang kudus karena tidak ada orang yang berdosa dapat menyembuhkan. Cerita berakhir dengan dia diusir dari rumah ibadat. Sebuah ironi terjadi dalam cerita ini, dimana orang buta bisa melihat dan percaya kepada Yesus, tetapi beberapa orang Farisi terus hidup dalam kegelapan dan tidak percaya kepada Yesus.

Kisah orang buta ini mengingatkan saya akan Louis Braille. Louis kehilangan penglihatannya pada usia yang sangat muda karena sebuah kecelakaan dan benda tajam menusuk matanya. Namun, ia bertekad untuk terus belajar dengan indranya yang tersisa. Ayahnya membuatnya tongkat, saudaranya mengajarinya echolocation, pastor di desanya mengajarinya untuk mengenali pohon dengan sentuhan dan burung dengan suara mereka, dan ibunya mengajarkan dia untuk bermain domino dengan menghitung titik-titik dengan ujung jarinya. Dia ingin membaca dan belajar lebih banyak, tapi itu praktis tidak mungkin. Setelah beberapa waktu, ia menerima kabar bahwa Charles Barbier, seorang komandan militer menemukan kode komunikasi militer menggunakan pola titik-titik untuk mewakili suara. Louis mengadopsi sistem ini untuk dirinya sendiri, namun ia merasa kode itu terlalu lambat. Jadi, bukannya mewakili suara, ia merekayasa sistem titik ini untuk mewakili huruf. Dia menekan titik-titik di atas kertas dengan alat penusuk yang tajam dan kecil, seperti alat yang menyebabkan kebutaannya. Pada usia 15, ia menemukan abjad Braille. Tekadnya ini telah membantu banyak orang dengan kebutaan dan visibilitas rendah, untuk membaca dan melihat dunia.

Tentu saja, mata kita baik-baik saja karena kita mampu membaca refleksi ini! Tapi, pertanyaan sesungguhnya adalah, di Masa Pra-Paskah ini, apakah mata kita membantu kita untuk melihat apa yang paling penting dalam hidup. Apakah kita menghargai karunia penglihatan kita? Apakah visi kita membawa kita kepada iman yang lebih dalam? Apakah kita membantu orang lain untuk melihat Yesus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Jesus and the Samaritan Woman

Third Sunday of Lent. John 4:5-42 [March 19, 2017]

“Many of the Samaritans of that town began to believe in him because of the word of the woman (Jn 4:39)”

samaritan-woman-at-the-wellMany of us will see Jesus’ conversation with the Samaritan woman as something ordinary, a chat between a man and a woman. But, if we go back to the time of Jesus, we will discover it as unthinkable. This Samaritan woman embodied what the Jews hated most. Firstly, despite their common ancestry, the Samaritans and the Jews were excommunicating each other. Despite worshipping the same God, they condemned one another as religious heretics and they proclaimed their own religion as the true one. No wonder, sometimes, the encounter between the two turned violent and the Romans had to quell the riots.

Secondly, this Samaritan is a woman. The ancient Jewish society, just like many ancient cultures, placed women as second class citizens. They were treated as objects, either owned by the patriarch or the husband. They could be easily divorced by their husbands if they could not bear a child. Despite some outstanding and exceptional women due to their noble birth and wealth, women generally were discriminated from the public and religious sphere. Many could neither study the Torah nor have a voice of their own. No wonder, many Jews praised the Lord because they were born not as a woman!

However, in today’s Gospel, Jesus talked to a Samaritan woman. Not only talking, He asked for water. Not only did he asked for water, He revealed Himself for the first time as the Living Water as well as the Messiah. The conversation transformed her.  While many Jews refused to believe in Jesus, the Samaritan woman believed. Not only did she become a believer, she turned to be a preacher of faith. She spread the Good News to her townsfolk and they came to Jesus because of her. The Gospel of John narrates to us that even a Samaritan and a woman can be chosen by Jesus to be His preacher. The effects of her preaching were unprecedented. The Samaritans began to make peace with other Jews, the disciples who also believe in Jesus.

We are living in a better world. Women can enjoy the same rights that men enjoy almost in all aspects. Indonesia, a country with the largest Muslim population in the world, used to have a woman president. In the Philippines, many major positions are occupied by women, like Chief Justice, Senators, and even military general. Yet, still many women are subject to various forms of exploitation: human trafficking, prostitution, domestic violence, and abuses. Following Jesus means standing up against injustice against women.

The Gospel also points out to us that women are capable of preaching the faith. Surely, women cannot preach in the pulpit, but many of them are responsible for faith growth in many Christ-centered communities. I still remember how my mother taught me the basic prayers and the rosary. She also encouraged me as an altar server to love the Eucharist. In Indonesia, it is a practice in many parishes for priests to receive their daily meals from the people, and many women are doing their best to provide for the priests. Some religious sisters and lay women have contributed to my philosophical and theological formation, and they were great professors. Over and above these, many women have generously supported the Church and her Evangelization mission, through their resources, time, effort and prayer. From the depth of our hearts, we thank them.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Perempuan Samaria

Minggu Prapaskah Ketiga. Yohanes 4: 5-42 [19 Maret 2017]

 “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu (Yoh 4:39)”

 Banyak dari kita akan melihat percakapan antara Yesus dengan perempuan Samaria sebagai sesuatu yang biasa, percakapan antara seorang pria dan seorang wanita. Tapi, jika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan menemukan hal ini sebagai hal yang tak terbayangkan. Perempuan Samaria ini menjadi symbol dari apa yang orang-orang Yahudi paling benci. Pertama, walaupun berasal dari nenek moyang yang sama, orang-orang Samaria dan Yahudi saling mengucilkan satu sama lain. Meskipun menyembah Tuhan yang sama, mereka mengutuk satu sama lain sebagai bidah dan mereka mengklaim bahwa agama mereka sendirilah sebagai yang benar. Tidak heran, kadang-kadang, pertemuan antara keduanya berubah menjadi kekerasan dan tentara Romawi harus turun tangan untuk menghentikan kerusuhan ini.

Kedua, orang Samaria ini adalah seorang wanita. Masyarakat Yahudi tempo dulu, seperti banyak kebudayaan kuno, menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Mereka diperlakukan sebagai objek, baik yang dimiliki oleh bapak keluarga atau suami. Mereka bisa dengan mudah diceraikan oleh suami mereka jika mereka tidak bisa memiliki anak. Meskipun ada beberapa pengecualian, wanita umumnya didiskriminasi dari ruang publik dan agama. Banyak perempuan tidak mempelajari Taurat atau memiliki suara mereka sendiri untuk menentukan masa depan mereka. Tak heran, banyak orang Yahudi tempo dulu memuji Tuhan karena mereka dilahirkan bukan sebagai seorang wanita!

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus berbicara dengan seorang perempuan Samaria. Tidak hanya berbicara, Dia meminta air. Tidak hanya dia meminta air, Ia menyatakan diri-Nya untuk pertama kalinya sebagai Air Kehidupan serta Mesias. Percakapan ini mengubah sang perempuan. Sementara banyak orang Yahudi menolak untuk percaya kepada Yesus, wanita Samaria percaya. Tidak hanya percaya, ia berubah menjadi seorang pewarta iman. Dia menyebarkan Kabar Baik kepada warga di desanya dan mereka datang kepada Yesus karena dia. Injil Yohanes menceritakan kepada kita bahwa bahkan seorang Samaria dan seorang wanita dapat dipilih oleh Yesus untuk menjadi pewarta iman-Nya. Buah dari pewartaanya pun luar biasa. Orang Samaria mulai berdamai dengan orang-orang Yahudi, secara khusus para murid yang juga percaya pada Yesus.

Kita hidup di dunia yang lebih baik. Perempuan dapat menikmati hak yang sama seperti laki-laki hampir dalam semua aspek kehidupan. Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, pernah memiliki seorang presiden perempuan. Di Filipina, banyak posisi utama diduduki oleh perempuan, seperti Ketua MA, Senator, dan bahkan jenderal militer. Namun, masih banyak wanita yang tunduk pada berbagai bentuk eksploitasi: perdagangan manusia, prostitusi, kekerasan dalam rumah tangga, dan kejahatan seksual. Mengikut Yesus berarti kita berdiri melawan ketidakadilan terhadap perempuan.

Injil juga menunjukkan kepada kita bahwa perempuan mampu memberitakan iman. Tentunya, perempuan tidak bisa berkhotbah di mimbar, tapi banyak dari mereka yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan iman di banyak komunitas. Saya masih ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar dan rosario. Dia juga mendorong saya aktif di Gereja dan mencintai Ekaristi. Di Indonesia, di banyak paroki, para imam menerima ‘rantangan’ dari umat, dan banyak wanita yang terlibat dalam menyediakan makanan bagi para imam ini. Beberapa suster dan awam perempuan telah memberikan kontribusi bagi formasi filosofis dan teologis saya, dan mereka ada para guru yang handal. Akhirnya, banyak perempuan telah bermurah hati untuk mendukung Gereja dan misi Evangelisasi, melalui sumber daya mereka, waktu, tenaga dan doa. Dari kedalaman hati kita, kita berterima kasih kepada para perempuan ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The God of Transfiguration

Second Sunday of Lent (Year A). March 12, 2017 [Matthew 17:1-9]

“They were coming down from the mountain… (Mat 17:9)”

transfiguration-jesusmafa-438In the Bible, the mountain is the place where God meets His people. On Mount Horeb, Moses saw the burning bush and received his calling to lead Israel out of Egypt’s slavery (see Exo 3). On Mount Sinai, after the liberation of the Hebrews, Moses met the Lord and received the Law in the Mount Sinai (see Exo 19). Again on Mount Horeb, Elijah discovered the gentle presence of God (1 Kings 19:11-15).

Psalmists also considered the mountain as the Lord’s dwelling place (like Psa 3:5; 24:3). In fact, one of the titles of the Lord is El Shaddai, and one of its probable meaning is: the Lord, the strong mountain (Gen 17:1).

In today’s Gospel, Jesus led the three disciples up to the high mountain. There, he was transfigured. His face was shining like a sun and his cloth turned to be white as light. Then two great figures of Old Testament, Moses and Elijah appeared and conversed with Jesus. Finally, the bright cloud covered them and a voice was heard, “This is my beloved Son, with whom I am well pleased; listen to him.” The disciples were so terrified and overwhelmed. Turning back to the ordinary form, Jesus touched them and assured them, “Rise and do not be afraid.” Then they went down from the mountain and continued their journey to Jerusalem.

The Old Testament motif takes place once again in the New Testament, but looking closely, there are several striking differences. Firstly, people climb the Mountain to see God, but when the disciples were there, they saw Jesus transfigured instead. The episode becomes an early sign of Jesus’ divinity in the New Testament. Secondly, Moses and Elijah were representing the best of Old Testament: the Law and the Prophet. Yet, Moses and Elijah were also the very characters that encountered God on the mountain. They reappeared in the transfiguration because they wanted to tell us that Jesus was the God they had encountered in the mountains. Thirdly, Jesus did not stay forever on the mountain, but He went down and continued His life among His disciples and other Israelites. This is a life-changing revelation: our God does not stay and sit nicely on the high mountain, but He goes down and is staying with us, in our ordinariness of life.

Sometimes we are expecting to encounter the glorious God only on the high mountain. For some feel God in the charismatic worship meetings. Others encounter God in the great retreats and long recollections. Nothing’s wrong with these noble devotions and religious practices. Yet, the danger is that we begin to dichotomize the religious life that is limited to the church or rituals and our daily lives outside the church. We must not forget the point of transfiguration that our God is also dwelling among us. Jesus is with us in our family and our efforts in raising our children. The Lord is present in our workplaces as we toil for our daily bread. He embraces us in the moment of trials and pains. He is never far, and we are never alone. And He is our God.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP