Allah Transfigurasi

Minggu Prapaskah kedua (Tahun A). 12 Maret 2017 [Matius 17: 1-9]

tumblr_inline_njjg9wzNYO1qkqzlvDalam Alkitab, gunung adalah tempat di mana Allah bertemu umat-Nya. Musa melihat semak duri yang menyala dan menerima panggilannya untuk memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir di Gunung Horeb (lihat Kel 3). Setelah pembebasan, Musa bertemu dengan Tuhan dan menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai (lihat Kel 19). Elia menemukan kehadiran Allah yang lembut di Gunung Horeb (1 Raja 19:11-15). Pemazmur juga melihat gunung sebagai tempat Tuhan bersemayam (seperti Mzm 3:5; 24:3). Bahkan, salah satu gelar Tuhan adalah El Shaddai, yang  mungkin berarti Tuhan adalah gunung yang kuat (Kej 17:1).

Dalam Injil hari ini, Yesus dan ketiga murid naik ke gunung yang tinggi. Di sana, ia berubah rupa. Wajahnya bersinar seperti matahari dan kain nya berubah menjadi putih seperti cahaya. Kemudian dua tokoh besar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia muncul dan berbicara dengan Yesus. Akhirnya, awan terang menaungi mereka dan suara berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Para murid sangat ketakutan. Beralih kembali ke bentuk biasa, Yesus menyentuh mereka dan meyakinkan mereka, “Berdirilah, jangan takut.” Kemudian mereka turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan ke Yerusalem.

Motif Perjanjian Lama berlangsung sekali lagi dalam Perjanjian Baru, tetapi jika kita mencermati lebih dekat, ada beberapa perbedaan mencolok di sini. Pertama, manusia mendaki gunung untuk melihat Allah, tapi ketika para rasul berada di sana, mereka melihat Yesus berubah. Episode menjadi salah satu tanda dari keilahian Yesus dalam Perjanjian Baru. Kedua, Musa dan Elia yang mewakili yang terbaik dari Perjanjian Lama: Hukum dan Nabi. Namun, Musa dan Elia adalah juga tokoh Perjanjian Lama yang ditemui Allah di gunung. Mereka muncul kembali di transfigurasi karena mereka ingin memberitahu kita bahwa Yesus adalah Tuhan yang mereka temui di gunung tinggi. Ketiga, Yesus tidak tinggal selamanya di gunung, tetapi Dia turun dan meneruskan hidup-Nya di antara para murid-Nya dan bangsa Israel. Ini adalah wahyu yang sejatinya menggegerkan: Allah kita tidak tinggal dan duduk manis di atas gunung yang tinggi, tetapi Dia turun dan tinggal bersama kita, di hiruk-pikuk hidup kita.

Kadang-kadang kita mengharapkan untuk menemukan Allah yang mulia hanya pada gunung yang tinggi. Beberapa dari kita merasakan Allah hanya dalam pertemuan ibadah karismatik, dengan musik yang kuat dan doa-doa yang sangat ekspresif. Lainnya berjumpa dengan Allah dalam retret agung dan rekoleksi yang panjang. Tidak ada yang salah dengan praktik-praktik keagamaan ini. Namun, bahayanya adalah bahwa kita mulai memisahkan kehidupan beragama yang terbatas di dalam gereja, dan kehidupan sehari-hari di luar gereja. Kita tidak boleh lupa makna dari transfigurasi adalah bahwa Allah kita juga tinggal di antara kita. Yesus bersama kita dalam keluarga kita dan upaya kita dalam membesarkan anak-anak kita. Tuhan hadir di tempat kerja kita saat kita bekerja keras untuk mencari sesuap nasi. Dia memeluk kita di saat kita mengalami penderitaan. Dia tidak pernah jauh, dan kita tidak pernah sendirian. Dan Dia adalah Allah kita, Allah transfigurasi.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Mammon

8th Sunday in Ordinary Time (Year A). February 26, 2017 [Matthew 6:24-34]

 “You cannot serve God and mammon (Mat 6:24)”

liberationMammon in Aramaic, the native language of Jesus, means riches, money or even properties. And nobody can serve both the true God and Mammon. In original Greek, Mathhew chose a stronger word than “to serve” Mammon, but it is to ‘become slave’ of Mammon. A slave is someone who no longer possesses freedom of his or her own; the lives are dependent on their master’s whim. Interesting to note is that the Mammon is not even a living being, and yet, people are freely laying their freedom to be its slave. It is irrational and in fact, unthinkable, but the reality narrates countless stories of people being possessed by riches and do inhuman things.

It is not an uncommon story that in many nations government officials are involved in large-scale corruptions, while ordinary citizens have to break their bones working and paying taxes. In Brazil, the Philippines and other countries, small farmers are violently evicted from their homes and lands by the greedy landowners. The grim reality of human trafficking is covert yet enormous. The children and women are abducted and traded as commodities, used as drug mules or sex objects. While others face immediate death as their bodily organs are harvested and sold in black market. Our beautiful forest and mountains are destroyed because of massive illegal logging and mining. This leads to nothing but ecological destruction, the animals are endangered, the rivers and seas become giant dumped sites of toxic waste, and our land is sorely barren and dead.

The mammon-worship does not only take place outside our fence, but without realizing it, it also plagues our own house and families. Who among us are addicted to work and begin to sideline our responsibilities in the family and neglect our health? Who among us start to think that giving money to our children is enough for their growth? Sometimes, the clergy and the religious are caught in the same mentality. We do our ministry as if there will be no tomorrow. We begin putting aside the basics like prayers, study, and community.

St. Thomas Aquinas makes it clear that riches and money cannot satisfy our deepest longing. He argues that wealth’s purpose is to meet our temporal human needs, but never to fulfill our spiritual and supreme desire. The real problem happens when we mistakenly accept riches as the fulfillment of our infinite desire for the infinite God. We make Mammon a god. We dethrone the true God and all serious problems start flooding in.

Jesus calls us to once again go back to true God. Other forms of gods, like wealth, money, gadgets, properties, cars, sex, prestige, works only drag us into slavery and misery. Just like the Hebrews in Egypt, only when they followed Yahweh, were they liberated from the slavery and marched toward the Promised Land. Yet, it was not easy. Like the Israelites who wanted to go back to Egypt after some time in the desert, we also cling to our Mammon firmly. It took 40 years for Israelites to struggle with their faithfulness to God, and perhaps we need years to before we rediscover the true God in your lives. Difficult indeed, yet, it is necessary because only God can bring us true happiness and liberation. We are liberated from the illusion of self-sufficiency, from the excessive ego-centrism. Not only we are freed, but also our family and our society, our environment and our earth. Want to make our world a better place? Let God be your God!

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mamon

Minggu pada Pekan Biasa ke-8 (Tahun A) 26 Februari 2017 [Matius 6:24-34]

“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat 6:24)”

slaveMamon dalam bahasa Aram, bahasa asli Yesus, berarti kekayaan, uang atau bahkan properti. Dan tidak ada yang dapat melayani Allah yang benar dan Mamon bersamaan. Dalam bahasa Yunani, Matius memilih kata yang lebih kuat dari “melayani” Mamon, tapi ia mengunakan untuk ‘menjadi budak’ Mamon. Seorang budak adalah seseorang yang tidak lagi memiliki kebebasan dan kehidupannya tergantung pada kemauan tuannya. Menarik untuk dicatat adalah bahwa Mamon itu bukan makhluk hidup, namun, banyak orang mau meletakkan kebebasan mereka untuk menjadi budaknya. Hal ini tidak rasional dan pada kenyataannya, tak terpikirkan, tetapi kenyataannya banyak orang yang memilih kekayaan dan melakukan hal-hal yang tidak manusiawi demi Mamon.

Bukan hal baru di banyak negara, pejabat pemerintah terlibat dalam korupsi besar-besaran, sementara warga biasa harus bekerja keras dan membayar pajak. Di Brazil, Filipina dan negara-negara lain, petani-petani kecil diusir dari rumah dan tanah mereka oleh tuan tanah yang serakah. Kita juga menghadapi Realitas suram perdagangan manusia yang terselubung namun  sangat besar. Anak-anak dan perempuan diculik dan diperdagangkan sebagai komoditas, digunakan sebagai pengantar narkoba atau objek seks. Sementara yang lain menghadapi kematian karena organ tubuh mereka dijual di pasar gelap. Hutan dan pegunungan yang indah hancur karena penebangan liar dan pertambangan ilegal. Hal ini menyebabkan kehancuran ekologi, satwa terancam punah, sungai dan laut menjadi situs limbah beracun raksasa, dan tanah menjadi sangat tandus dan mati.

Penyembahan Mamon tidak hanya berlangsung di luar sana, tapi tanpa disadari, hal ini juga menjadi malapetaka di rumah dan keluarga kita sendiri. Siapa di antara kita yang kecanduan kerja dan mulai mengesampingkan tanggung jawab kita dalam keluarga dan mengabaikan kesehatan kita? Siapa di antara kita mulai berpikir bahwa memberikan uang kepada anak-anak kita sudah cukup untuk pertumbuhan mereka? Kadang-kadang, para imam dan rohaniawan terjebak dalam mentalitas yang sama. Kami melakukan pelayanan seolah-olah tidak ada hari esok. Kita mulai menyisihkan dasar-dasar seperti doa, studi, dan komunitas.

St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa kekayaan dan uang tidak dapat memuaskan kerinduan terdalam kita. Dia berpendapat bahwa tujuan kekayaan adalah untuk memenuhi kebutuhan duniawi kita yang fana, tetapi tidak bisa memenuhi kebutuhan spiritual dan tertinggi kita. Masalah sebenarnya terjadi ketika kita keliru dan menjadikan kekayaan sebagai pemenuhan keinginan kita yang tak terbatas. Kita membuat Mamon tuhan. Kita meninggalkan Allah yang benar dan semua masalah serius pun dating karena kita mulai menjadi seperti Mamon, tidak rasional, tidak berpikir dan tidak hidup.

Yesus memanggil kita untuk kembali ke Allah yang benar. Bentuk lain dari mamon, seperti kekayaan, uang, gadget, properti, mobil, sex, prestise, pekerjaan hanya menyeret kita ke dalam perbudakan dan kesengsaraan. Sulit memang karena kenikmatan instan yang kita terima, namun, hal ini perlu karena hanya Tuhan yang bisa membawa kita kebahagiaan sejati dan pembebasan. Kita dibebaskan dari ilusi keperkasaan kita, dari berlebihan ego-sentrisme kita. Tidak hanya kita dibebaskan, tetapi juga keluarga dan masyarakat kita, lingkungan kita dan bumi kita juga terbebaskan. Ingin membuat dunia kita menjadi tempat yang lebih baik? Lepaskanlah mamon dan biarkan Allah menjadi Allah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Surpassing the Pharisees

6th Sunday in Ordinary Time. February 12, 2017 [Matthew 5:20-37]

 “I tell you, unless your righteousness surpasses that of the scribes and Pharisees, you will not enter into the kingdom of heaven. (Mat 5:20)”

phariseeThe word ‘Pharisee’ has a rather negative connotation for us. In the Gospels, they are the bad guys. They often argued with Jesus and Jesus challenged their way of life. Even some planned to get rid of Jesus (see Mat 12:14). In our time, the term ‘Pharisaic’ simply means hypocrite.

However, if we look from another angle, the Pharisees are not that ugly. In the time of Jesus, they had important roles to play. They, in fact, revolutionized the Jewish society itself. What did they do? They brought the Law, various rituals and devotional practices from the Temple of Jerusalem to the Jewish communities and families in Israel. Many Pharisees took care of the local synagogues and made sure that the people would observe properly the Law and its traditions, like the Sabbath and rituals of cleansing. Unlike the priests who served in the Temple, the Pharisees were lay people who loved the Law in their ordinariness of life. Thus, when the Temple was destroyed by the Roman army in 70 AD, the priestly clan also disappeared, but the Jewish cultural fabrics and religion continued to live because of the Pharisees, the lay people.

Jesus criticized them not because they were following the Law and traditions, but because of their ‘interpretations’ of the Law. Doubtless, the Pharisees loved the Law of Moses dearly, but they fell into fundamentalism. They absolutized the letters of the Law and the traditions, and trivialized what or who is actually at the service of the Law: God and fellow human beings. To become a fundamentalist means we opt to follow the dead letters of the Law of the Bible, which is easier, rather than to dialogue with the Person behind it and persons in front of it.

Without realizing it, many of us are acting like the Pharisees. Like them, we love God, His Law, and His Church, but sometimes, we are too busy with the trivial things. I am sad when some people are arguing on how to receive the Holy Eucharist, kneeling, standing, by hands or directly to the mouth. Some accuse Charismatic mass as heretical. Others label the Latin Mass as ultra-conservative. I am also saddened with a young Catholic apologist who is zealously debating on the Internet, yet does not lift a finger to help his sick mother. Yes, Sacred Scripture and the Liturgy is an essential part of our faith as the exercise of the priestly office of Jesus Christ and means of salvation, but if we are disintegrated because of details of the rituals, we miss the point.

We forget to transform our love for God and His Church into love for others. St. Dominic sold his expensive books made of animal skins so he could feed the poor, and argued, “Would you have me study from these dead skins when the living skins are dying of hunger?” Who among us are involved in feeding the poor around us? Who among us are doing something meaningful to the victims of injustice in the society? Who among us have the patience towards our ‘difficult’ brothers and sisters in the family or community? Remember that we are called to surpass the righteousness of the Pharisees.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Lebih Baik Dari Farisi

Minggu ke-6 dalam Masa Biasa. 12 Februari 2017 [Matius 5: 20-37]

“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Mat 5:20)”

pharisees2Kata ‘Farisi’ memiliki konotasi negatif bagi kita. Dalam Injil, mereka adalah lawan-lawan Yesus. Mereka sering berdebat dengan Yesus dan Yesus mengkritik cara hidup mereka. Bahkan beberapa merencanakan untuk menyingkirkan Yesus (lihat Mat 12:14). Pada zaman sekarang, istilah ‘Farisi’ sering kali diasosiasikan dengan kemunafikan.

Namun, jika kita melihat dari sudut pandang yang lain, orang-orang Farisi tidak seutuhnya jahat. Dalam zaman Yesus, mereka memiliki peran penting, yakni merevolusi masyarakat Yahudi. Apa yang mereka lakukan? Mereka membawa Hukum Taurat, berbagai ritual dan praktek devosi dari Bait Allah di Yerusalem ke komunitas-komunitas dan keluarga-keluarga Yahudi di Israel. Banyak orang-orang Farisi mengelola rumah-rumah ibadat setempat di berbagai penjuru Palestina dan memastikan bahwa orang-orang akan melaksanakan dengan baik Hukum Taurat dan tradisi, seperti Sabat dan ritual pembersihan. Berbeda dengan imam yang bertugas di Bait Allah, orang-orang Farisi adalah orang-orang awam yang mencintai Hukum Taurat di dalam kesederhanaan hidup sehari-hari mereka. Dengan demikian, ketika Bait Allah dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 Masehi, kasta imam juga menghilang, tapi budaya dan agama Yahudi terus hidup karena orang-orang Farisi ini yang adalah orang-orang awam.

Yesus mengkritik mereka bukan karena mereka mencintai Hukum Taurat dan tradisi, tetapi bagaimana mereka ‘menginterpretasi’ Hukum tersebut. Tak diragukan lagi orang-orang Farisi mencintai Hukum Musa, tetapi bahayanya adalah mereka bisa jatuh ke dalam fundamentalisme. Mereka memutlakkan setiap huruf Hukum Taurat dan tradisi, dan melupakan tujuan utama Hukum tersebut: melayani: Allah dan sesama manusia. Untuk menjadi fundamentalis itu mudah karena kita memilih untuk mengikuti huruf-huruf mati yang tertera di Kitab suci. Jauh lebih sulit untuk berdialog dengan Dia yang ada di balik huruf-huruf tersebut dan mereka yang ada di depan huruf-huruf tersebut.

Tanpa disadari, banyak dari kita yang bertindak seperti orang Farisi. Seperti mereka, kita mengasihi Tuhan, Hukum-Nya dan Gereja-Nya, tapi kadang-kadang, kita terlalu sibuk dengan hal-hal sepele. Saya sedih ketika tidak sedikit orang berdebat tentang bagaimana menerima Ekaristi Kudus, berlutut, berdiri, dengan tangan atau langsung ke mulut. Beberapa menuduh misa Karismatik itu sesat. Beberapa lainnya menyatakan bahwa Misa Latin sebagai ultra-konservatif. Saya juga sedih dengan seorang teman dan juga apologis Katolik muda di Filipina yang rajin berdebat di internet, namun tidak melakukan apa-apa untuk membantu ibunya yang sedang sakit. Ya, Kitab Suci dan Liturgi merupakan bagian penting dari iman kita dan juga sarana keselamatan, tetapi jika kita terpecah-belah dan menjadi fundamentalis-fundamentalis kecil, kita melepas tujuan utama iman kita.

Kita lupa untuk mengubah kasih kita kepada Allah dan Gereja-Nya ke dalam kasih bagi orang lain. St. Dominikus de Guzman menjual buku-bukunya yang mahal terbuat dari kulit binatang sehingga ia bisa memberi makan orang-orang miskin, dan berkata, “Apakah kamu mau saya belajar dari ini kulit mati ini ketika kulit hidup mati kelaparan?” Siapa di antara kita yang terlibat memberi makan orang miskin sekitar kita? Siapa di antara kita melakukan sesuatu yang berarti bagi korban ketidakadilan di masyarakat? Siapa di antara kita memiliki kesabaran terhadap saudara dan saudari kita yang bermasalah dalam keluarga atau masyarakat? Ingat bahwa kita dipanggil untuk melampaui kebenaran orang-orang Farisi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

The Star

The Epiphany of the Lord. January 8, 2017 [Matthew 2:1-12]

 “We saw his star at its rising and have come to do him homage (Mat 2:2).”

three-kings-epiphany

Today we are celebrating the Epiphany of the Lord. The word Epiphany comes from the Greek word ‘epiphananie’, meaning ‘appearance’.  Therefore, today is also known as the feast of the manifestation of the Lord. This celebration is considered to be one of the oldest and most important because the Baby God invited not only the Jews but also the Gentiles, represented by the Magi, to visit and finally worship Him. In His earliest appearance, Jesus brought light to all the nations.

One little question may linger: why did the Magi from the East follow the star? Their journey was based on an ancient belief that the birth of a great king was signified by the appearance of a new star in the sky. Yet, we are never sure what ‘star’ the Magi actually saw. Was it a comet, a supernova, an unusual constellation, a planet, or a supernatural light? One thing we are sure of, this star possessed the greatest importance, that Gaspar, Balthazar, and Melchior abandoned the comfort of their homeland, traveled thousand miles westward and faced all the dangers and uncertainties.

 Now if we look at the night sky, we may observe hundreds and hundreds of stars. Then, we may ask what makes this star of Jesus different from the rest of the lights? These Magi were expert in astronomy or studies of celestial bodies, and they were able to distinguish the star as the one that would bring them to the newborn King. This star does not simply shine just like the rest, but it also illuminates and guides. Like the seasoned fishermen, before the discovery of GPS, they would depend their lives on the light of the stars, and among billion stars on the clear sky, they recognize that only a few truly point them the true directions.

We are all called to be a star. But the temptation is that we simply shine and attract others to ourselves. We fail to recognize that the light that God has given us is to illuminate and guide others to Jesus. When St. Thomas Aquinas was asked what makes his Order more prominent than other congregations, he answered that just like it is better to illuminate than to shine, so it is better to share one’s fruits of contemplate than just merely to contemplate. Of course, the Benedictines will disagree! One of the major features in the image of St. Dominic is the star at his forehead. Certainly, this is a symbol of guidance and direction for anyone who seeks God. No wonder if St. Dominic is less famous than other Dominican saints like St. Thomas Aquinas, St. Catherine of Siena or St. Martin de Porres, it is because until the end of his life, like a guiding star, his life always pointed to God.

To have the light is not enough. We may become stars that merely shine brightly. We turn to be a campus star, company star, parish star or even star preacher. Certainly, to receive a lot of attention from many people gives pleasure and sense of fulfillment, but that is not the true purpose of our light. Epiphany is the appearance of the Lord, but who among us have tried to cover Him with our dazzling lights? How many people have we led to Jesus? Yet, it is not too late. Epiphany is a time for us to realign with the real objective of our light: not to merely shine, but to illuminate.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bintang

Hari Raya Penampakan Tuhan. 8 Januari 2017 [Matius 2:1-12]

“Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia (Mat 2:2).”

graphics-epiphanyHari ini kita merayakan Hari Raya Epifani Tuhan. Kata Epifani berasal dari kata Yunani ‘epiphananie’, yang berarti ‘penampakan’. Oleh karena itu, tidak salah jika hari ini juga dikenal sebagai Hari Raya Penampakan Tuhan. Perayaan ini dianggap salah satu yang tertua dan paling penting karena Bayi Allah mengundang tidak hanya orang-orang Yahudi, tetapi juga bangsa-bangsa lain, diwakili oleh orang-orang Majus, untuk mengunjungi dan akhirnya menyembah Dia. Di awal hidup-Nya, Yesus memperlihatkan sendiri sebagai Raja segala bangsa.

Satu pertanyaan kecil mungkin belum terjawab: mengapa orang-orang Majus dari Timur mengikuti sang bintang? Perjalanan mereka didasarkan pada kepercayaan kuno bahwa kelahiran seorang raja besar ditandai dengan penampilan bintang baru di langit. Namun, kita tidak pernah yakin ‘bintang’ seperti apa yang benar-benar dilihat orang Majus. Apakah itu sebuah komet, supernova, konstelasi tidak biasa, planet, atau cahaya supranatural? Satu hal yang kita yakin. Bintang ini memiliki arti sangat penting sehingga Gaspar, Balthazar dan Melchior berani meninggalkan kenyamanan di tanah air mereka, berjalan ribuan mil dan menghadapi semua bahaya dan ketidakpastian.

Sekarang jika kita melihat langit malam, kita dapat mengamati jutaan bintang. Kemudian, kita mungkin bertanya apa yang membuat bintang Yesus ini berbeda dari cahaya-cahaya yang lain? Orang Majus adalah ahli dalam bidang astronomi, atau ilmu tentang objek langit, dan mereka mampu untuk membedakan bintang mana yang akan membawa mereka ke Raja yang baru lahir. Bintang ini tidak hanya bersinar seperti yang lainnya, tetapi juga menerangi dan memberi panduan. Seperti nelayan yang berpengalaman, sebelum adanya GPS, mereka akan menggantungkan hidup mereka pada cahaya bintang-bintang, dan di antara miliaran bintang di langit, hanya sedikit yang benar-benar menunjukkan mereka arah yang benar dan membawa mereka kembali ke pelabuhan.

Kita semua dipanggil untuk menjadi bintang. Tapi godaan adalah kita sekedar bersinar dan menarik orang lain pada diri kita sendiri. Kita gagal untuk mengenali bahwa cahaya yang Allah telah berikan kepada kita adalah untuk menerangi dan membimbing orang lain kepada Yesus. Ketika St. Thomas Aquinas ditanya apa yang membuat Ordonya lebih menonjol dari Kongregasi lainnya, ia menjawab bahwa seperti halnya lebih baik untuk menerangi daripada sekedar bersinar, jadi lebih baik untuk berbagi buah kontemplasi daripada hanya sekedar berkontemplasi. Tentu saja, para Benediktin tidak akan setuju! Salah satu fitur utama dalam patung St. Dominikus adalah bintang di dahinya. Tentu saja, ini adalah simbol dari bimbingan dan arahan bagi siapa saja yang mencari Allah. Tak heran jika St. Dominikus kurang terkenal dibandingkan Dominikan lain seperti St. Thomas Aquinas, St. Katarina dari Siena atau St. Martin de Porres, karena sampai akhir hidupnya, seperti bintang yang membimbing, hidupnya selalu menunjuk kepada Allah.

Untuk memiliki cahaya tidaklah cukup. Kita mungkin menjadi bintang yang hanya bersinar terang. Kita beralih menjadi bintang kampus, bintang perusahaan, bintang paroki atau bahkan pengkhotbah bintang. Tentu saja, untuk menerima banyak perhatian dari banyak orang memberikan kepuasan, tapi ini bukan tujuan sebenarnya dari cahaya kita. Epifani adalah penampakan dari Tuhan, tapi siapa di antara kita telah mencoba untuk menutupi-Nya dengan cahaya kita yang menyilaukan? Berapa banyak dari kita yang membawa orang lain kepada Yesus? Namun, ini belum terlambat. Epifani adalah waktu bagi kita untuk menyelaraskan kembali dengan tujuan sejati dari cahaya kita: tidak hanya bersinar, tapi untuk menerangi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Real New Year

Solemnity of Mary Mother of God. January 1, 2017 [Luke 2:16-21]

“And Mary kept all these things, reflecting on them in her heart (Luk 2:19).”

mary-mother-of-godToday, the world is celebrating its new beginning. Many of us are going to the parties, watching fireworks, and dancing and singing. Surely, nothing is wrong with those. Yet, today, the Church decides to go against the tide and celebrates something else, or someone else: Mary the Mother of God. To make it worse, today is a holiday of obligation, meaning we need to go to the mass whether we like or not.  I remember attending the Eucharistic mass on January 1 in my own parish, and the priest never dropped a single greetings of a Happy New Year to the congregation. What a kill-joy!

We may ask, “Why do we still need to celebrate this solemnity at the beginning of the year?”  Firstly, it is just fitting to remember Mary as the mother of Jesus within the context of Christmas. Thus, exactly a week after the birth of Christ, we honor the woman who has offered her womb, her body and her whole life to God. Secondly, we are reminded that the true beginning is not only something marked in our calendar, or with outward celebrations. The real beginning takes place inside minds and hearts. Like in the process of pregnancy and birthing, initially, the change is not obvious. It happens inside the silent womb, and it takes some time before the embryo grows bigger and makes its presence felt. The process is difficult, hard to understand, and oftentimes painful. Yet, within that womb is a life that carries with it a future, unpredicted, yet exciting and hopeful.

When the Angel Gabriel announced the News to Mary, she was troubled and confused. But, she was certain that her life was in great danger. Unlike some modern societies wherein unmarried women who get pregnant are just normal, the ancient Jewish community was ready to punish such women. Mary was with a child practically outside of marriage, and she had to bear with all the consequences, There could be a great shame to her family, her future husband, Joseph, and herself. The baby might be called a bastard son for his entire life. And finally, she with her baby could be stoned to death. Yet, her faith in God was greater than her fear. She courageously carried in her womb, the little baby that would be the future of the world.

Ten years ago, in 2006, the Dominican mission in Indonesia began in utter simplicity. We were only two Indonesian priests, Frs. Adrian and Robini, and a Filipino counterpart, Fr. Terry and a lay missionary, Ms. Jemely. We had practically nothing. No institution, no house, no money. We even stayed at a little and simple quarter inside a Diocesan seminary in Borneo. We had to work hard just to support our daily lives and we relied on the generosity of many people. Nobody among us was sure what future will bring, but we had faith in God. Now, after 10 years, we have grown significantly. We have two stable houses in Pontianak and Surabaya. Now we are ministering to the multitude of people through various apostolates. Of course, young and talented people come and join our way of life.

Mary teaches us to have faith in God because for Him, nothing is impossible. The future may be uncertain, frightening and dark, but ‘… the One who began a good work in you will continue to complete it until the day of Christ Jesus (Phil 1:6).’ This is the spirit of the true New Year, the soul of real change, the faith that animates us to move forward.

Bro. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tahun Baru yang Sesungguhnya

Hari Raya Maria Bunda Allah. 1 Januari 2017. Lukas 2: 16-21

“Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkanny (Luk 2:19).”

happy-new-year-2017Hari ini, dunia merayakan tahun baru. Dan, banyak dari kita merayakannya dengan berpesta, menonton kembang api, menari dan menyanyi. Namun, hari ini, Gereja memutuskan untuk melawan arus dan merayakan sesuatu yang berbeda, Maria Bunda Allah. Apalagi, hari ini telah ditetapkan sebagai hari raya kewajiban yang berarti kita harus pergi ke gereja suka atau tidak. Saya ingat menghadiri Ekaristi pada 1 Januari di paroki saya di Bandung, dan sang imam tidak pernah sekalipun memberi ucapan Selamat Tahun Baru kepada jemaat sampai misa selesai!

Kita mungkin bertanya, “Mengapa kita harus masih merayakan Bunda Allah pada awal tahun?” Pertama, mengingat Maria sebagai ibu Yesus dalam konteks Natal adalah sesuatu yang tepat secara theologis dan liturgis. Jadi, tepat seminggu setelah kelahiran Kristus, kita menghormati wanita yang telah mempersembahkan rahimnya, tubuhnya dan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Kedua, kita diingatkan bahwa awal yang benar tidak hanya sesuatu yang ditandai di dalam kalender kita, atau dengan perayaan-perayaan besar penuh kesenangan. Awal yang sejati terjadi di dalam diri kita. Seperti dalam proses kehamilan dan melahirkan, pada mulanya, perubahan ini tidak begitu jelas. Hal ini terjadi di dalam rahim, dan dibutuhkan beberapa waktu sebelum embrio tumbuh lebih besar dan membuat kehadirannya terasa. Proses ini sulit, tidak mudah untuk dipahami, dan kadang-kadang menyakitkan. Namun, di dalam rahim ini ada hidup yang membawa masa depan, yang belum begitu jelas, namun menarik dan penuh harapan.

Ketika Malaikat Gabriel memberitakan kepada Maria, dia menjadi bingung dan takut.  Maria tahu jika ia berkata ya, hidupnya aka ada dalam bahaya besar. Tidak seperti beberapa masyarakat modern dimana perempuan yang belum menikah dan hamil adalah sesuatu yang lumrah, komunitas Yahudi kuno siap untuk menghukum pelanggaran ini. Maria mengandung praktis di luar nikah, dan dia harus menanggung semua konsekuensinya. Ia akan membawa aib untuk keluarganya, tunangannya, Joseph, dan dirinya sendiri. Bayinya mungkin akan disebut anak haram. Dan akhirnya, dia dan bayinya bisa dirajam sampai mati. Namun, imannya kepada Allah lebih besar dari ketakutannya. Diapun berani menerima dalam rahimnya, bayi kecil yang akan menjadi masa depan dunia.

Pada tahun 2006, misi Dominikan di Indonesia dimulai dalam kesederhanaan. Kami hanya terdiri dari dua imam, Pastor Adrian dan Robini, dan rekan Filipina, Rm. Terry dan seorang misionaris awam, Ms. Jemely. Praktis kami tidak memiliki apa-apa. Tidak ada institusi, tidak ada rumah, tidak ada uang. Kami bahkan tinggal di rumah kecil dan sederhana di dalam seminari keuskupan di Kalimantan. Kami harus bekerja keras hanya untuk mendukung kehidupan kami sehari-hari dan kami bergantung pada kemurahan hati banyak orang. Tak seorang pun di antara kami yakin apa yang masa depan akan bawa kepada kami. Tetapi, kami terus beriman kepada Allah. Sekarang, setelah 10 tahun, kami telah tumbuh secara signifikan. Kami memiliki dua rumah yang stabil di Pontianak dan Surabaya. Sekarang kita melayani banyak orang melalui berbagai karya kerasulan. Tentu saja, orang-orang muda dan berbakat datang dan bergabung dengan kami.

Maria mengajarkan kita untuk memiliki iman kepada Allah karena bagi-Nya, tidak ada yang mustahil. Masa depan mungkin tidak pasti, menakutkan dan gelap, tetapi “bahwa Dia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan terus melengkapinya sampai hari Kristus Yesus (Fil 1:6).” Ini adalah semangat Tahun Baru yang benar, sebuah jiwa dari perubahan nyata, sebuah iman yang menjiwai kita untuk bergerak maju.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP