The Death of Priesthood

(a reflection of a religious brother for three Filipino priests who recently martyred)

June 17, 2018

paez ventura niloThe Catholic Church in the Philippines is once again in profound grief after one of her priests was mercilessly murdered. Fr. Richmond Nilo, from the diocese of Cabanatuan was shot several times just before he celebrated the mass at a chapel in Zaragoza, Nueva Ecija. His body was laying on the floor at the foot of the image of Blessed Virgin, soaked with blood. Another disturbing and painful image. He becomes the third priest losing his life in a bloody attack in the past six months. On December 4, 2017, Fr. Marcelito Paez was ambushed in Jean, Nueva Ecija. Just a few weeks ago on April 29, Fr. Mark Ventura was also gunned down moment after celebrating the mass. We may also include Fr. Rey Urmeneta who was attacked by a hit man in Calamba, Laguna. He sustained a bullet in his body, yet he survived death.

Several weeks ago I wrote an emotional reflection on the death of Fr. Ventura (see “A Death of Priest) and I would never hope that I would write another one. Yet, just sometime after the priest was buried without justice being served, Fr. Nilo lost his life in the line of duty. Surely, this is not the first time a priest is killed in the Philippines. The history has witnessed the killing of both Filipino and foreign priests in this land, but to lose three lives in just six months is truly alarming. I was asking myself, “Are we now living in the perilous time for priests? Is to become a priest a dangerous vocation? What’s the point of becoming a priest if it brings nothing but persecution and death?” We have left everything for Christ, our family, our future. Should we give up our lives in this heinous manner as well?

These questions are valid, yet these questions also, I realize, spring from fear. Many priests and even seminarians, myself included, have lived in the comfort of our seminaries, parishes or convents. Provided with readily available basic necessities, with individual rooms, with good-quality education, with other facilities and even amenities, we are actually living as middle-class bachelors. These privileges are meant to make us better and well-formed priests for the service of the people, but getting used to these facilities, we often lose sight of their primary purpose. Our priesthood is called as the ministerial priesthood because the ordained priests are to serve the people of God, but sometimes, the priests end up being served by the people of God. At times, the virus of clericalism and careerism infect our minds. Ordinations and positions in the Church are seen as promotions, career, or prestige. A better position means better perks! If the priesthood is just another way to make us rich, we have lost the priesthood even before we die! The death of a priest is terrible sorrow, but the death of priesthood in our hearts is tragedy!

Bishop Pablo David, DD of Caloocan, Metro Manila, reminds seminarians who are aspiring to become priests, that if the deaths of the priests gave them discouragement, rather than inspiration, it is better for them to forget the priesthood and leave the seminary as soon as they can. Bishop David notes that they are not helpless victims, but rather martyrs that bravely choose to face the dangerous consequence of preaching the Gospel and working for justice.

Since the beginning of Christianity, to become Christians and especially priests are dangerous vocations because we follow Christ in His way of the Cross. Yet, the martyrdom of the three priests turns out to be a shock therapy that wakes us up from our comfortable slumber. It is a call for many of us, seminarians, religious, and priests to ask what the purpose of our priesthood is. Have we died every day to ourselves? Are we ready to give up our lives to God and His people? Are we ready to follow Christ till the end?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kematian Tiga Imam

(refleksi seorang frater atas kematian tiga romo di Filipina)

17 Juni 2018

 

paez ventura niloGereja Katolik di Filipina sekali lagi berduka setelah salah satu imamnya dibunuh. Rm. Richmond Nilo, dari keuskupan Cabanatuan ditembak beberapa kali sebelum dia merayakan misa di sebuah kapel di Zaragoza, Nueva Ecija. Tubuhnya terbaring di lantai di kaki patung Santa Perawan, bersimbah darah. Sebuah peristiwa yang sungguh menyakitkan. Dia menjadi imam ketiga yang kehilangan nyawanya dalam serangan berdarah dalam enam bulan terakhir di Filipina. Pada 4 Desember 2017, Rm. Marcelito Paez ditembak saat dia sedang mengadakan perjalanan di Jean, Nueva Ecija. Baru beberapa Minggu yang lalu pada 29 April, Rm. Mark Ventura juga ditembak mati setelah merayakan misa. Juga bisa kita mungkin doakan juga Rm. Rey Urmeneta yang diserang oleh pembunuh bayaran di Calamba, Laguna. Dia terkena peluru, dan harus dirawat intensif, namun dia selamat dari kematian.

Beberapa Minggu yang lalu saya menulis sebuah refleksi emosional tentang kematian Rm. Ventura (lihat “Kematian Seorang Imam) dan saya tidak akan pernah berharap bahwa saya akan menulis lagi tentang ini. Namun, hanya beberapa saat setelah sang imam dimakamkan tanpa keadilan, Rm. Nilo kehilangan nyawanya saat menjalankan tugas sucinya. Tentunya, ini bukan pertama kalinya seorang imam dibunuh di Filipina. Sejarah telah menyaksikan pembunuhan imam di negeri ini, tetapi kehilangan tiga nyawa hanya dalam kurun waktu enam bulan benar-benar mengkhawatirkan. Beberapa pertanyaan tersirat dalam benak saya, “Apakah kita (secara khusus umat di Filipina) sekarang hidup dalam waktu yang berbahaya bagi para imam? Apakah menjadi imam adalah panggilan yang berbahaya? Apa gunanya menjadi seorang imam jika hal ini tidak membawa apa pun kecuali penganiayaan dan kematian?” Kita telah meninggalkan segalanya bagi Kristus, keluarga kita, masa depan kita. Haruskah kita menyerahkan hidup kita dengan cara yang keji ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini benar adanya, tetapi saya sadari bahwa pertanyaan-pertanyaan ini juga muncul dari rasa takut. Banyak imam dan bahkan seminaris, termasuk saya, telah hidup dalam kenyamanan seminari, paroki, atau biara kita. Dilengkapi dengan berbagai kebutuhan dasar, dengan kamar individu yang nyaman, dengan pendidikan berkualitas, dengan fasilitas lainnya, kita sebenarnya hidup sebagai bujangan kelas menengah atas. Hak-hak istimewa ini tentunya dimaksudkan untuk membuat kita menjadi imam yang lebih baik dalam pelayanan, tetapi terbiasa dan dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas ini, kita sering kehilangan tujuan utama dari imamat suci. Imamat adalah sakramen yang ditujukan untuk pelayanan karena itu, imam ditahbiskan untuk melayani umat Allah secara khusus kebutuhan rohani mereka. Namun, alih-alih melayani, para imam akhirnya yang dilayani oleh umat Allah. Kadang-kadang, virus klerikalisme dan karierisme menginfeksi pikiran kita. Pentahbisan dan posisi di Gereja dilihat sebagai promosi, karier, atau prestise. Posisi yang lebih baik berarti tunjangan yang lebih baik! Jika imamat hanyalah sebuah cara untuk membuat kita kaya, kita telah kehilangan imamat bahkan sebelum kita mati! Kematian seorang imam adalah sebuah duka, tetapi kehilangan imamat adalah sebuah tragedi.

Uskup Pablo David, DD dari Caloocan, Metro Manila, mengingatkan para seminaris yang bercita-cita menjadi imam, bahwa jika kematian para imam ini memberi mereka keputusasaan, bukan inspirasi, lebih baik bagi mereka untuk melupakan imamat dan meninggalkan seminari sesegera mungkin. Uskup David menyatakan bahwa tiga imam ini bukanlah korban yang tidak berdaya, tetapi para martir yang dengan berani memilih untuk menghadapi konsekuensi berbahaya dari memberitakan Injil dan bekerja untuk keadilan.

Sejak permulaan agama Kristiani, menjadi seorang Kristiani dan terutama imam adalah panggilan yang berbahaya karena kita mengikuti Kristus di jalan salib-Nya. Namun, kematian ketiga imam ini ternyata merupakan terapi kejut yang membangunkan kita dari tidur yang nyaman. Ini adalah seruan bagi banyak dari kita, para seminaris, religius, dan imam untuk melihat kembali apa tujuan dari imamat kita. Apakah kita mati setiap hari pada diri kita sendiri? Apakah kita siap menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dan umat-Nya? Apakah kita siap mengikuti Kristus sampai akhir?

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus and His Family

10th Sunday in Ordinary Time [June 10, 2018] Mark 3:20-35

“For whoever does the will of God is my brother and sister and mother (Mrk 3:35).”

family
photo by Harry Setianto, SJ

In ancient Israel as well as in many Asian and African cultures, family and kinship are core to one’s identity. The family is practically everything. A person is born, growing, getting old and dying within a family and clan. In traditional Filipino and Indonesian settings, a house is meant for an extended and expanded family. Several generations are living in one house. When I ask some of my Filipino friends, “If your house is burning, what are the first things you will save?” Their answer is not money, important documents or jewelry, but family pictures! In 1977, the Tanzanian President Julius Nyerere, one of the most prominent African figures during that time, visited the US and talked before the African students who studied there. Before them, he criticized those Africans who received much support from their families and clan, yet refused to go back after their studies. It was an act of cowardice and betrayal to Africa.

 

However, closely reading today’s Gospel from Mark, a good family-oriented and devoted Catholic will be startled. Naturally, we would expect Jesus to welcome Mary, his mother, and his relatives who come and look for Him. Surprisingly, Jesus does not do what is expected, but rather He takes that occasion to show His new family, “looking around at those seated in the circle he said, ‘Here are my mother and my brothers. For whoever does the will of God is my brother and sister and mother.’” (Mk. 3:34-35) Jesus’ words seem to be harsh since Jesus appears to exclude Mary and Jesus’ relatives from the composition of His new family. Does it mean Jesus disrespect Mary, His parent? Does it mean that for Jesus, the biological and traditional family have no value?

The answer is plain no. Certainly, Jesus respects and loves His mother as He fulfills the fourth commandment of the Law, “Thou shall honor thy parents.” Jesus also upholds and teaches the sanctity of both marriage and family life (see Mat 5:31-32; Mat 19:19). The early Christians also follow Jesus’ teaching on the integrity of marriage and family life, as reflected in various letters of St. Paul and other apostles (see 1 Cor 7:1-17; Eph 6:1-5). We are sure that for Jesus, marriage and family are good, but the point of our Gospel is Jesus is calling all of us to go beyond this natural relationship. The new family of Jesus is not based on blood but rooted in following Jesus and doing the will of God. This is also the call that Jesus addresses to Mary and His relatives. Surely, Mary becomes the model of faith as she obeys the will of God in the Annunciation (Lk 2:26-38), follows Jesus even to the cross (Jn 19:25-26) and stays and prays together with the early Church (Acts 1:14). St. Augustine says about Mary in his homily, “It means more for her, an altogether greater blessing, to have been Christ’s disciple than to have been Christ’s mother.”

The family as a natural institution is good, but Jesus teaches that we need to be the good disciples of Jesus first before we become a good family member. Otherwise, the family will be exposed to evil and destruction. Corruption, nepotism, and cronyism are evil practices rooted in the natural family. Another extreme is when brothers fight, even kill, each other over inheritance as if they are not coming from the same womb. It is the will of God that we are faithful to one another, that we do justice, that we are merciful especially to the weak and poor. Without Christian values, the family will not become the source of goodness. Echoing the words of St. Augustine, it is a blessing to be part of a family, but it is an altogether a greater blessing to become Christ’s disciple.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Keluarga-Nya

Minggu ke-10 dalam Masa Biasa [10 Juni 2018] Markus 3: 20-35

“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’ (Mrk 3:35).”

aku indonesia
picture by Harry Setiawan SJ

Dalam kebudayaan Israel kuno dan juga banyak budaya di Asia dan Afrika, keluarga adalah inti dari identitas seseorang. Seseorang dilahirkan, tumbuh, menjadi tua dan wafat dalam keluarga. Sewaktu uskup agung Pontianak, Agustinus Agus memberi ceramah di University of Santo Tomas, Manila, dia bangga sebagai bagian suku Dayak yang berasal rumah betang. Dalam budaya tradisional suku Dayak, sebuah keluarga besar atau klan tinggal, hidup dan melakukan rutinitas bersama di rumah besar dan panjang. Inilah rumah betang.

 

Ketika saya bertanya kepada beberapa teman Filipina saya, “Jika rumah kamu terbakar, apa hal pertama yang akan kamu selamatkan?” Jawaban mereka bukanlah uang, dokumen penting atau perhiasan, tetapi foto keluarga! Pada tahun 1977, Presiden Tanzania Julius Nyerere, salah satu tokoh Afrika paling terkenal waktu itu, mengunjungi Amerika Serikat dan berbicara di depan para mahasiswa Afrika yang belajar di sana. Di depan mereka, dia mengkritik orang-orang Afrika yang menerima banyak dukungan dari keluarga dan suku mereka, namun menolak untuk kembali ke tanah Afrika setelah belajar. Itu adalah tindakan pengecut dan pengkhianatan ke Afrika.

Namun, membaca Injil hari ini dengan seksama, umat Katolik yang baik akan terkejut. Kita tentunya mengharapkan Yesus menyambut dengan baik Maria, ibu-Nya, dan saudara-saudaranya yang datang dan mencari Dia. Anehnya, Yesus tidak melakukan apa yang diharapkan, tetapi sebaliknya Dia mengambil kesempatan itu untuk menunjukkan siapa keluarga baru-Nya, “Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, ‘Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’”(Mrk 3:34-35) Kata-kata Yesus terkesan keras karena Yesus tampaknya tidak memasukkan Maria dan saudara-saudara-Nya dari komposisi keluarga baru-Nya. Apakah ini berarti Yesus tidak menghormati Maria, yang adalah orang tua-Nya? Apakah ini berarti bahwa keluarga biologis dan tradisional tidak memiliki nilai?

Jawabannya jelas tidak. Tentu saja, Yesus menghormati dan mengasihi ibu-Nya. Yesus juga mengajarkan kekudusan sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga (lihat Mat 5:31-32; Mat 19:19). Jemaat Gereja perdana juga mengikuti ajaran Yesus tentang integritas sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga, sebagaimana tercermin dalam surat-surat St. Paulus (lihat 1 Kor 7: 1-17; Ef 6: 1-5). Kita yakin bahwa bagi Yesus, pernikahan dan keluarga itu baik. Namun, inti dari Injil kita hari ini adalah Yesus memanggil kita semua untuk melampaui hubungan alami ini. Keluarga baru Yesus tidak didasarkan pada darah tetapi berakar pada iman dan kemauan kita menjalankan kehendak Allah. Ini juga panggilan yang Yesus alamatkan kepada Maria dan sanak saudara-Nya. Tentunya, Maria menjadi model iman ketika dia mematuhi kehendak Allah saat ia menerima Kabar Sukacita (Luk 2: 26-38), ketika ia mengikuti Yesus bahkan sampai ke salib (Yoh 19: 25-26) dan setia berdoa bersama dengan Gereja perdana (Kis 1:14). Santo Agustinus pun mengatakan dalam kotbahnya, “Suatu berkat yang lebih besar bagi Maria karena ia telah menjadi murid Kristus daripada menjadi ibu Kristus.”

Keluarga sebagai institusi itu baik, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita perlu menjadi murid-Nya Yesus terlebih dahulu sebelum kita menjadi anggota keluarga yang baik. Kalau tidak, keluarga akan terbuka terhadap godaan sang jahat. Korupsi, nepotisme, dan kronisme adalah praktik jahat yang berakar dalam keluarga. Sisi ekstrim lainnya adalah ketika saudara saling bertikai, bahkan membunuh, karena rebutan warisan seolah-olah mereka tidak berasal dari rahim yang sama. Adalah kehendak Tuhan bahwa kita setia, bahwa kita melakukan keadilan, bahwa kita berbelas kasih terutama bagi yang lemah dan miskin. Tanpa nilai-nilai Kristiani, keluarga tidak akan menjadi sumber kebaikan. Menggemakan kata-kata St. Agustinus, menjadi bagian dari keluarga adalah sebuah berkat, tetapi menjadi murid Kristus adalah berkat yang jauh lebih besar.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Trinity and Us

The Solemnity of the Most Holy Trinity [May 27, 2018] Matthew 28:16-20

“Go, therefore, and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit, (Matt. 28:19)”

big bang
photo by Harry Setianto, SJ

This Mystery of Trinity is rightly called the mystery of all the mysteries because the Holy Trinity is at the core of our Christian faith. Yet, the fundamental truth we believe is not only extremely difficult to understand, but in fact, it goes beyond our natural reasoning. How is it possible that we believe in three distinct Divine Persons, the Father, the Son and the Holy Spirit, and yet they remain One God? Some of the greatest minds like St. Augustine, St. Thomas Aquinas and Pope Emeritus Benedict XVI have attempted to shed a little light on the mystery. However, in the face of such immense truth, the best explanations would seem like a drop of water in the vast ocean.

 

I have no illusion that I could explain the mystery better than the brightest minds of the Church, but we may reflect on its meaning in our ordinary lives. The joyful Easter season ended with the celebration of the Pentecost Sunday last week, and we resume the liturgical season of the year or simply known as the ordinary season. As we begin once again the ordinary season, the Church invites us to celebrate the Solemnity of the Most Holy Trinity or the Trinity Sunday. The Church seems to tell us that the unfathomable mystery of Trinity is in fact intimately closed to our day-to-day living, to our daily struggles and triumphs, to our everyday pains and joys. How is our faith in the greatest mystery of all connected to our ordinary and mundane lives?

We often have false images of God. We used to think that God or Trinity is the greatest person (or three persons) among things that exist He is like a universal CEO that manages things from an undisclosed location or a super big and powerful being that controls practically everything. Yet, this is not quite right. He is not just one among countless beings. God is the ground of our existence. He is the very reason why anything exists rather than nothing. Thus, the act of creation is not what happened at the Big Bang 13.7 billion years ago. It is fundamentally God’s gift of existence to us. To be created means that we do not necessarily exist. Every single moment of our life is God’s gratuitous gift.

The Scriptures reveals the mystery of our God. He is not solitary and self-absorbed God, but our God is one God in three divine persons. Our God is a community founded on creative mutual love and constant self-giving. Therefore, our creation is not a mere accident, but God’s creative act and His gift of love. We exist in the world because God cannot but love us and wants us to share in the perfect life of the Trinity. St. Thomas Aquinas rightly says that we only believe two fundamental teachings, two credibilia : first, God exists, and second, we are loved in Jesus Christ.

We often take for granted our lives and immerse in daily concern of life; we rarely ask what the purpose of this life is. Yet, it does not diminish the truth that God lovingly sustains our existence and cares for us, even to the tiniest fraction of our atom. Whether we are busy doing our works, focus on our family affairs, or simply enjoying our hobbies, God is intimately involved. Thus, apart from God, our lives, our daily toils, and concerns, our sorrows and joys are meaningless and even revert to nothingness. Celebrating the Trinity Sunday means to rejoice in our existence as a gift, and to glorify God who is immensely loving and caring for us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Allah Tritunggal dan Kita

Hari Raya dari Tritunggal Mahakudus [27 Mei 2018] Matius 28: 16-20

“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. (Mat. 28:19)”

star gazing
photo by Harry Setianto, SJ

Hari ini kita merayakan Misteri Tritunggal Mahakudus. Misteri ini tepat disebut misteri dari semua misteri karena Tritunggal Mahakudus merupakan inti dari iman Kristiani kita. Namun, kebenaran mendasar ini tidak hanya sangat sulit untuk dimengerti, tetapi juga pada kenyataannya, melampaui penalaran manusiawi kita. Bagaimana mungkin kita bisa percaya pada tiga Pribadi Ilahi yang berbeda, Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun mereka tetap satu Allah? Beberapa tokoh besar seperti St. Agustinus, St. Thomas Aquinas dan Paus Emeritus Benediktus XVI telah berusaha untuk memberi sedikit cahaya pada misteri ini. Namun, dihadapan kebenaran maha besar ini, penjelasan terbaik pun akan tampak seperti setetes air di samudra raya

 

Saya sendiri tidak memiliki ilusi bahwa saya dapat menjelaskan misteri ini dengan baik, tetapi kita mungkin merefleksikan bersama maknanya dalam kehidupan sehari-hari kita. Masa Paskah yang penuh sukacita berakhir dengan perayaan hari Pentakosta Minggu lalu, dan kitapun melanjutkan masa biasa tahun liturgi. Ketika kita melanjutkan masa biasa, Gereja mengundang kita untuk merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Gereja tampaknya mengajarkan kita bahwa misteri Trinitas yang melebihi segala nalar sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia, dengan perjuangan kita sehari-hari, dengan rasa sakit dan sukacita kita sehari-hari. Bagaimana iman kita dalam misteri terbesar dari semua misteri ini dapat terhubung dengan kehidupan sehari-hari dan bahkan duniawi kita?

Kita sering memiliki gambaran salah tentang Tuhan. Kita kadang berpikir bahwa Tuhan atau Allah Tritunggal adalah pribadi terbesar (atau tiga pribadi terbesar) di antara hal-hal yang ada. Dia seperti seorang CEO universal yang mengelola semua hal dari lokasi yang dirahasiakan atau makhluk super besar dan super kuat yang mengendalikan hampir segalanya. Namun, gambaran ini tidak sepenuhnya benar. Ia bukan sekedar “satu” di antara makhluk yang tak terhitung jumlahnya. Tuhan adalah dasar dari segala yang ada. Dia adalah alasan mengapa sesuatu ada, daripada tidak ada sama sekali. Jadi, penciptaan bukanlah yang terjadi pada “Big Bang” 13,7 miliar tahun lalu. Penciptaan pada dasarnya adalah karunia keberadaan dari Allah bagi kita. Menjadi makhluk ciptaan berarti keberadaan kita tidak mutlak. Kita ada fana. Namun, saat kita tahu bahwa kita sungguh ada di dunia, kita menyadari bahwa setiap saat dalam hidup kita adalah karunia Tuhan.

Kitab Suci mengungkapkan misteri Allah kita. Dia bukan Tuhan yang menyendiri dan mementingkan diri sendiri, tetapi Tuhan kita adalah satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi. Tuhan kita adalah komunitas yang berdasarkan pada kasih hidup dan kreatif dan pada pemberian diri yang total dan konstan. Oleh karena itu, perciptaan kita bukanlah sekedar ketidaksengajaan semata, tetapi tindakan kreatif Allah dan karunia kasih-Nya. Kita ada karena kita adalah bagian dari rencana kasih-Nya. Kita ada di dunia karena Tuhan tidak dapat tidak mengasihi kita dan ingin kita berbagi dalam kehidupan yang sempurna dalam Tritunggal. St Thomas Aquinas pun mengatakan bahwa kita hanya percaya dua ajaran dasar, dua “credibilia”: pertama, Tuhan itu ada, dan kedua, kita dikasihi dalam Yesus Kristus.

Kita sering menerima begitu saja hidup kita dan terlarut dalam masalah sehari-hari; kita jarang bertanya apa tujuan dan makna kehidupan ini. Namun, hal ini tidak mengurangi kebenaran bahwa Tuhan dengan penuh kasih menopang keberadaan, bahkan sampai ke bagian terkecil dari atom kita, dan peduli kepada kita, setiap detik dari hidup kita. Apakah kita sibuk melakukan pekerjaan, fokus pada urusan keluarga, atau hanya menikmati hobi, Tuhan terlibat dan memperhatikan. Jadi, terlepas dari Tuhan, hidup kita, kerja harian kita, dan kekhawatiran, kesedihan dan sukacita kita tidak ada artinya dan bahkan kembali ke ketiadaan. Merayakan Tritunggal Mahakudus berarti bersuka-cita dalam keberadaan kita sebagai karunia, dan memuliakan Tuhan yang sangat mengasihi kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ascension and Mission

The Ascension of the Lord [May 13, 2018] Mark 16:15-20

“Jesus said to them, “Go into the whole world and proclaim the gospel to every creature.” (Mk. 16:15)

father and daughter at beach 2We normally do not want to part away from the people we love. The emotional bond that has grown makes it difficult and painful for us to be away from the persons whom we love. Parents do not want to be separated from their children. Couple hates when they have to be far from each other. Friends cry when they have to go separate ways.

However, Jesus does the opposite when He is ascending into heaven. The resurrected Jesus could have stayed, done more miracles and accompanied the disciples. His permanent physical presence could boost the disciples’ morale, give them comfort and protection. Yet, He chooses to go and leave His disciples on earth. Why does Jesus do that cruel thing?

When we read today’s Gospel closely, Jesus does not simply leave behind His disciples, but He sends them for the mission, “Go to the whole world and preach the Gospel to every creature.” (Mrk 16:15) In fact, the Ascension is more about sending rather than departing. He goes up so that the disciples may go forward. Jesus understands that to stay put means to infantilize the disciples and hinder the disciples to become the men they are meant to be. As they go, they grow to be the persons whom they never expect before. They have faith even more, and to gradually grow in hope and charity. Had Peter stayed behind, he would not have become a leader of the great Church. Had John gone home, he would not have become the elder of the Church in Ephesus and written the Fourth Gospel.

The story of faith begins with a mission. God called Abraham, asked him to go from in his land of Ur, and made his way to Canaan. He became the Father of great nations not in his homeland, his comfort, and his safe zone, but in the dangerous and unknown land. God called Moses and Israelites to go out from the land of Egypt, from the land that gave them cucumber, onion, and garlic. They became people free to worship their only God, not in Egypt, land of thousand gods, but in the land, God has promised them. St. Dominic de Guzman began the Order of Preachers by sending his small and fragile community into various cities. Some brothers doubted others resisted, and few objected his decision. Yet, his decision was proved to be a watershed for the Order. The mission of Order is not to be another ancient stable monastery, but a group of iterant preachers. Dominic’s faith has given birth to the Dominican family that is currently present in more than 100 countries.

I always thank my parents for allowing me to enter the seminary at the tender age of 14. I know it was a tough and painful decision, but their courage has made me a man who I am now. At first, both my parents and I were not sure what would come for me, what my particular mission in life be, but we are sure that I have been sent, from the comfort of my family into the midst of an immensely vast Church. Have we grown and become mature and courageous people? Have we allowed people we love to grow into the person they are meant to be? Have we entrusted ourselves and our loved ones into God’s mission?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kenaikan dan Misi

Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga [10 Mei 2018/ 13 Mei 2018] Markus 16: 15-20

“Yesus berkata kepada mereka, ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.’ ”(Markus 16:15)

father and daughter at beachKita biasanya tidak ingin berpisah dari orang-orang yang kita cintai. Ikatan emosional yang telah terbangun membuat kita sulit untuk menjauh dari mereka yang kita cintai. Orang tua tidak ingin terpisahkan dari anak-anak mereka. Sepasang kekasih benci ketika mereka harus jauh dari satu sama lain. Kita sedih ketika mereka harus berpisah dengan sahabat kita.

Namun, hari ini kita melihat bahwa Yesus justru melakukan hal yang sebaliknya ketika Dia naik ke surga. Kristus yang telah bangkit bisa saja memilih tinggal dan menemani para murid. Kehadiran fisiknya yang permanen dapat meningkatkan semangat para murid, memberi mereka kenyamanan dan perlindungan. Namun, Dia memilih untuk pergi dan meninggalkan para murid-Nya di bumi. Mengapa Yesus melakukan hal yang tampaknya sangat kejam ini?

Ketika kita membaca Injil hari ini dengan seksama, Yesus tidak sekedar meninggalkan murid-muridNya, tetapi Dia juga mengutus mereka untuk menjalankan misi mereka, “Pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil kepada setiap makhluk.” (Mrk 16:15) Faktanya, Kenaikan Tuhan Yesus lebih banyak berbicara tentang pengutusan daripada perpisahan. Dia naik ke surga supaya murid-murid bisa bergerak maju. Yesus memahami bahwa jika Ia tinggal lebih lama, Ia menghalangi para murid untuk tumbuh dan berkembang. Ketika mereka diutus, mereka tumbuh menjadi orang-orang yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Mereka memiliki iman yang bahkan lebih tinggi, dan secara bertahap tumbuh dalam harapan dan kasih. Seandainya Petrus tetap tinggal, dia tidak akan menjadi pemimpin Gereja. Seandainya Yohanes tidak diutus, dia tidak akan menjadi penatua Gereja di Efesus dan menulis Injil Keempat.

Kisah iman dimulai dengan sebuah misi. Tuhan memanggil Abraham, mengutusnya pergi dari tanahnya di Ur, dan pergi ke Kanaan. Dia menjadi Bapak dari bangsa-bangsa besar bukan di tanah airnya, dimana dia hidup dalam kenyamanan, tetapi di tanah yang berbahaya dan tidak dikenal. Allah memanggil Musa dan orang Israel untuk pergi keluar dari tanah Mesir, dari tanah yang memberi mereka mentimun, bawang, dan melon. Mereka menjadi orang-orang yang bebas untuk menyembah Tuhan mereka, bukan di Mesir, tanah seribu dewa, tetapi di tanah yang Tuhan telah janjikan kepada mereka. St. Dominikus de Guzman memulai Ordo Pewarta (OP) dengan mengirimkan komunitasnya yang kecil dan rapuh ke berbagai kota di Eropa. Beberapa saudaranya meragukannya, beberapa menolak, dan lainnya berkeberatan dengan keputusannya. Namun, keputusannya terbukti menjadi titik balik bagi Ordo. Misi Ordo Pewarta bukanlah untuk membangun pertapaan stabil seperti halnya ordo-ordo lainnya yang lebih dahulu ada, tetapi menjadi sekelompok pewarta yang hidup dalam pengembaraan. Iman St. Dominikus telah melahirkan sebuah keluarga Dominikan yang saat ini hadir di lebih dari 100 negara.

Saya selalu berterima kasih kepada orang tua saya karena mengizinkan saya masuk seminari pada usia muda 14 tahun. Saya mengerti bahwa ini adalah keputusan yang sulit dan menyakitkan, tetapi keberanian mereka telah menjadikan saya seorang manusia yang sekarang ini. Pada mulanya, kedua orang tua saya dan saya sendiri tidak yakin apa yang akan terjadi pada diri saya di seminari, tetapi kami yakin bahwa saya telah diutus, dari kenyamanan sebuah keluarga ke tengah-tengah Gereja yang sangat luas.

Sudahkah kita tumbuh dan menjadi orang yang dewasa dan berani? Beranikah kita mengutus orang yang kita cintai agar tumbuh menjadi orang yang lebih dewasa? Sudahkah kita mempercayakan diri kita dan orang-orang yang kita kasihi ke dalam misi Allah?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Death of a Priest

(for +Fr. Mark Anthony Ventura)

Sixth Sunday of Easter [May 6, 2018] John 15:9-17

mark venturaWe are living in the part of the world that violence and death have become our daily consumption. Every day, people’s lives are forcibly snatched away for unbelievably trivial reasons. Parents kill their babies. Brothers murder their brothers. Friends manipulate and sell their friends. Some of us used to go down on the street and cry for justice. Yet, many of us are just busy with daily pressing concerns like works, study and chores. We become numb or blind to the soil that has been painted red by the blood of our brothers and sisters. The life, precious in the eyes of God, turns out to be cheap at the hands of men.

However, few days ago, I was deeply troubled by the news of a young priest brutally murdered. His name is Fr. Mark Ventura, and he was just 37 years old when he was merciless gunned down. His life was taken moments after he celebrated his morning mass in Cagayan, Philippines. He was still inside the small chapel, had given his blessing to children and suddenly, an unidentified man shot him. His advocacy for justice and peace in his place may be the reason why he lived so short.

His death is less dramatic than of Archbishop Oscar Romero of San Salvador. The holy bishop was killed right after consecration of the body and blood of Christ, and he fell to the ground, his blood was mingled with the blood of Christ. Another bishop, a Dominican Bishop Pierre Claverie, OP of Oran, Algeria suffered the same fate. The terrorists planted a bomb in his car, and its explosion did not only kill Bishop Pierre, but also his young Muslim friend and driver. In a bloody scene, his flesh was mixed with the flesh of his Muslim friend. Yet, that is beside the point. Witnessing Fr. Mark’s body laying soulless on the ground and soaked with blood, is not only deeply disturbing, but is also deeply hurtful. It is enormously disturbing because it gives us the chilling effect that if these evil men could mercilessly kill a priest, the herald of forgiveness and mercy, now they may kill anyone who stands on their way. Yet, his death is also painful because his death is also our death as the People of God. His white soutane soiled and colored by blood, is our white garment we wore during our baptism. His lifeless hands used to bless the people and consecrate the holy hosts and wine, are also our hands that raise our children and build our society. His silenced mouth used to proclaim the Good News, to forgive sins, and to denounce evil, are also our mouth that receive the Holy Communion and teach wisdom to our children. The murder of Fr. Mark is a murder of a priest, and symbolically it is the killing of all of us, Christians.

The way of the priesthood is what some of us choose, the way that often provides us with earthly comforts, and unexpected bonuses; the way that catapults us from a rug to a rich kid; and the way that showers us with fame, success, and glory. Yet, it is the same way that confronts us with the face of evil; the way that challenges us to be at the side of the victims and to denounce injustice; and the way that gets us persecuted, mocked and killed. The choice is ours. To end my humble reflection, let me quote Archbishop Oscar Romero, “A church that doesn’t provoke any crises, a gospel that doesn’t unsettle, a word of God that doesn’t get under anyone’s skin, a word of God that doesn’t touch the real sin of the society in which it is being proclaimed — what gospel is that?”

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Kematian Seorang Imam

Minggu Paskah ke-6 [6 Mei 2018] Yohanes 15:9-17

mark venturaKita hidup di belahan dunia dimana kekerasan dan kematian telah menjadi konsumsi sehari-hari kita. Setiap hari, kehidupan manusia secara paksa dirampas karena alasan yang sangat sepele. Orang tua membunuh bayi mereka. Saudara menghabisi saudara. Sahabat memanipulasi dan memanfaatkan sahabat. Beberapa dari kita mungkin turun ke jalan dan menuntut keadilan. Namun, banyak dari kita terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari, karena kita harus bekerja, belajar dan menjalankan tugas-tugas lainnya. Kita menjadi mati rasa atau buta terhadap tanah yang telah menjadi merah oleh darah saudara-saudari kita. Kehidupan, berharga di mata Tuhan, ternyata sangat murah di tangan manusia.

Namun, beberapa hari yang lalu, saya sangat terganggu oleh berita seorang imam muda yang dibunuh secara brutal. Namanya adalah Mark Antony Ventura, dan dia baru berusia 37 tahun ketika dia tanpa belas kasih ditembak mati. Hidupnya diambil beberapa saat setelah ia merayakan misa paginya di Cagayan, Filipina. Dia masih di dalam kapel kecil, sedang memberikan berkatnya kepada anak-anak, dan tiba-tiba, seorang pria tak dikenal datang dan menembaknya. Alasan kepada dia dihabisi belum jelas, namun advokasinya untuk keadilan dan kedamaian mungkin menjadi alasan utama.

Kematiannya mengingatkan akan kematian Uskup Agung Oscar Romero dari San Salvador. Uskup kudus ini dibunuh tepat setelah mengkonsekrasikan tubuh dan darah Kristus, dan saat dia jatuh ke tanah, darahnya bersatu dengan darah Kristus. Uskup lainnya, seorang Dominikan, Pierre Claverie, OP dari Oran, Aljazair mengalami nasib yang serupa. Para teroris meletakan bom di mobilnya, dan ledakannya tidak hanya membunuh Bishop Pierre, tetapi juga sahabat dan sopirnya yang beragama Islam. Dalam kejadian berdarah itu, dagingnya bersatu dengan daging teman Muslimnya.

Menyaksikan tubuh romo Mark yang terbaring tanpa nyawa di tanah dan bersimbah darah, tidak hanya sangat mengusik hati nurani, tetapi juga sangat menyakitkan. Hal ini sangat mengusik hati nurani karena memberi kita efek mengerikan bahwa jika orang-orang jahat ini bisa tanpa ampun membunuh seorang imam, duta pengampunan dan belas kasih, sekarang mereka bisa menghancurkan siapa saja yang menghalangi di jalan mereka. Namun, kematiannya juga menyakitkan karena kematiannya adalah juga kematian kita sebagai Umat Tuhan. Jubah putihnya yang bercampur tanah dan bersimbah darah, adalah pakaian putih kita yang kita kenakan saat kita dibaptis. Tangannya yang tidak lagi bernyawa, yang pernah memberkati orang-orang dan menguduskan roti dan anggur suci, adalah juga tangan kita yang membesarkan anak-anak kita dan membangun masyarakat. Mulutnya yang terbungkam yang pernah mewartakan Kabar Baik, mengampuni dosa, dan mengutuk kejahatan, adalah juga mulut kita yang menerima hosti kudus dan mengajarkan kebijaksanaan kepada anak-anak kita. Pembunuhan romo Markus adalah pembunuhan seorang imam, dan secara simbolis ini adalah pembunuhan kita semua, umat Allah.

Jalan imamat adalah jalan yang saya dan beberapa dari kita telah pilih. Ini adalah jalan yang sering memberi kita kenyamanan duniawi, dan bonus tak terduga. Ini adalah jalan yang menghujani kita dengan ketenaran, kesuksesan, dan kemuliaan. Namun, ini adalah jalan yang sama yang menghadapkan kita dengan wajah kejahatan. Ini adalah jalan yang yang menantang kita untuk berada di sisi para korban dan membela keadilan. Ini adalah jalan yang membuat kita dianiaya, diejek dan bahkan dibunuh. Pilihannya adalah milik kita. Untuk mengakhiri renungan kecil ini, izinkan saya mengutip Uskup Agung Oscar Romero, “Sebuah gereja yang tidak memprovokasi krisis apa pun, sebuah Injil yang tidak mengusik hati nurani, sebuah Firman Tuhan yang tidak ada masuk ke dalam jiwa siapa pun, sebuah Injil yang tidak berhadapan dengan dosa nyata dari masyarakat di mana Injil itu diwartakan – Injil macam apakah itu? ”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP