Preaching Faith

Nineteenth Sunday in Ordinary Time [August 12, 2018] John 6:41-51

Amen, amen, I say to you, whoever believes has eternal life. I am the bread of life.  (Jn 6:47-48)

I am currently having my pastoral clinical education in one of the hospitals in the Metro Manila. Aside from visiting the patients and attending to their spiritual needs, we also have processing sessions guided by our supervisor.  During one of the sessions, our supervisor asked me, “Where is the ultimate source of your preaching?” As a member of the Order of Preachers, I was caught off guard. My initial reaction was to say our deeply revered motto, “Contemplare, at contemplata aliis tradere (to contemplate, and to share the fruits of one’s contemplation).” He pressed further and asked what is behind this contemplation. I began scrambling for answers. “Is it study? Community? Or prayer? He said that those were right answers, but there is something more basic. I admitted I am clueless. While he was smiling, he said “It is faith.”

His answer is very simple and yet makes a lot of sense. We pray because we have faith in God. We go to the Church because we have faith in the merciful God who calls us to be His chosen people. As for myself, I entered the Dominican Order because I have faith that generous God invites me to this kind of life. We preach because we trust in the loving God and we want to share this God with others.

I have spent years studying philosophy and theology at one of the top universities in the Philippines, but when I meet the patients with so much pain and problems, I realize that all my achievements, knowledge and pride are coming to naught. How am I going to help patients having troubles to settle hospital bills with astronomical amount?  How am I going to help persons in their dying moments? How am I going to help patients who are angry with God or disappointed with their lives? However, as a chaplain, I need to be there for them, and the best preaching is in fact, the most basic one. It is not preaching in the forms of theological discourse, philosophical discussion, and a long sermon or advice. To preach here is to sharing my faith and to receive their faith. I am there to be with them, to listen to their stories and struggles, to share a little humor and laughter, and to pray together with them. To pray for them is the rare moments that I pray with all my faith because I know that only my faith I can offer to them.

In our Gospel today, we read that some Jews are murmuring because they have no faith in Jesus. Yet, Jesus does not only call them to simply trust in Him, but also to literally eat Him because He is the Bread of Life. The faith in the Eucharist is indeed a tipping point. It is either the craziest of the crazy or the greatest faith that can move even a mountain. As Christians who believe in the Eucharist and receive Jesus in every Mass, we are tremendously privilege and challenged to have and express this faith. However, when we fail to appreciate this meaning and beauty of this faith, and only receive the Bread of Life in a routinely and mechanical fashion, we may lose altogether this faith.

As people who go to Church every Sunday and receive the Eucharist on a regular basis, do we truly believe in Jesus the Bread of Life? Does our faith empower us to see God in the midst of our daily struggles and challenges? Do we have faith that we can share when it matters most?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mewartakan Iman

Minggu ke-19 dalam Masa Biasa [12 Agustus 2018] Yohanes 6: 41-51

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. 48 Akulah roti hidup. (Yoh 6: 47-48)

faith1Saat ini saya sedang menjalani pelayanan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Selain mengunjungi pasien dan melayani kebutuhan rohani mereka, kami juga mengikuti sesi pengolahan yang dipandu oleh seorang pengawas. Dalam salah satu sesi, pengawas kami bertanya kepada saya, “Di mana sumber utama pewartaanmu?” Sebagai anggota Ordo Pengkhotbah, saya terperangah. Reaksi awal saya adalah mengucapkan motto kami, “Contemplare, di contemplata aliis tradere (untuk berkontemplasi dan membagikan buah dari kontemplasi).”

Dia menekan lebih jauh dan bertanya apa yang ada di balik kontemplasi itu. Saya mulai bingung mencari jawaban. “Apakah ini studi? Hidup komunistas? Atau doa? Dia mengatakan bahwa semua jawaban saya adalah benar, tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar. Saya akui saya tidak tahu. Dia pun tersenyum dan dia mengatakan, ini adalah iman.

Jawabannya sangat sederhana namun sangat masuk akal. Kita berdoa karena kita memiliki iman kepada Tuhan. Kita pergi ke Gereja karena kita memiliki iman kepada Allah yang penuh belas kasih yang memanggil kita untuk menjadi umat pilihan-Nya. Sedangkan, saya sendiri memasuki Ordo Dominikan karena saya memiliki iman bahwa Allah yang murah hati memanggil saya untuk hidup membiara. Kita mewartakan karena kita memiliki iman pada Tuhan yang pengasih dan kita ingin berbagi Tuhan dengan sesama.

Saya telah menghabiskan bertahun-tahun belajar filsafat dan teologi di salah satu universitas ternama di Filipina, tetapi ketika saya bertemu pasien dengan penyakit dan masalah yang sanget berat, saya menyadari bahwa semua pencapaian, pengetahuan, dan kebanggaan saya itu sia-sia. Bagaimana saya akan membantu pasien untuk membayar tagihan rumah sakit dengan jumlah yang sangat besar? Bagaimana saya akan membantu pasien-pasien di saat-saat terakhir mereka? Bagaimana saya akan membantu pasien yang marah pada Tuhan atau kecewa dengan hidup mereka? Namun, saya harus ada di sana untuk mereka menjadi pewartaan yang terbaik dan paling mendasar. Ini bukan pewartaan dalam bentuk diskursus teologis, diskusi filosofis, dan khotbah atau nasihat yang panjang. Untuk mewartakan di sini adalah untuk membagikan iman saya dan untuk menerima iman mereka. Saya ada di sana untuk bersama mereka, untuk mendengarkan kisah dan pergulatan mereka, untuk berbagi sedikit canda dan tawa serta berdoa bersama dengan mereka. Berdoa untuk mereka adalah saat-saat langka, di mana saya berdoa dengan semua iman saya sebab saya tahu bahwa hanya iman ini yang dapat saya berikan kepada mereka.

Dalam Injil kita hari ini, kita membaca bahwa beberapa orang Yahudi bersungut-sungut karena mereka tidak memiliki iman kepada Yesus. Namun, Yesus tidak hanya memanggil mereka untuk hanya percaya kepada-Nya, tetapi juga untuk benar-benar memakan-Nya karena Dia adalah Roti Kehidupan. Iman dalam Ekaristi sungguh menjadi penentu. Hanya dua kemungkinan: sebuah kegilaan atau iman terbesar. Sebagai umat Kristiani yang percaya pada Ekaristi dan menerima Yesus di setiap misa, kita menerima rahmat dan ditantang luar biasa untuk memiliki dan menyatakan iman ini. Namun, ketika kita gagal untuk menghargai arti dan keindahan dari iman ini dan hanya menerima Roti Hidup secara rutin, kita akan kehilangan iman ini.

Sebagai orang yang pergi ke Gereja setiap Minggu dan menerima Ekaristi secara teratur, apakah kita benar-benar percaya kepada Yesus, Sang Roti Hidup? Apakah iman kita mampu memberdayakan kita untuk melihat Tuhan di tengah-tengah perjuangan dan tantangan hidup kita sehari-hari? Apakah kita memiliki iman yang dapat kita bagikan di saat yang paling penting?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Amen

18th Sunday in Ordinary Time [August 5, 2018] John 6:24-35

“This is the work of God, that you believe in the one he sent.” (Jn. 6:29)

amen 1To say “Amen” is something usually we do in prayer. Commonly it is used to end a prayer. Our biblical prayers like Our Father and Hail Mary are usually concluded by amen. In several occasions, amen is mentioned more often. One of my duties as a hospital chaplain is to lead a prayer of healing for the sick. I always ask the family and friends who accompany the patients to pray together. Sometimes, they will say amen at the end of the prayer. However, some others will utter several amens within the prayer, and in fact, some people will say more amens than my prayer! In several occasions, amen is utilized outside the context of prayer. Preachers with a charismatic gift will invite their listeners to say amen. Surely, it is a good technique to keep the listeners awake!

Amen is a simple and yet very powerful word. Amen indicates our strong affirmation and agreement to something. It is the most concise manifesto of our faith. Amen is a biblical language, and in fact, it is a Hebrew word, that means “surely!” or “Let it be done!”. It is interesting to note that the early usage of amen in the Bible is to affirm curses and punishments (see Num 5:22; Deu 27:15). Fortunately, the Book of Psalm teaches us to use amen to affirm God’s blessings. Jesus Himself is fond of saying Amen. He uses amen to affirm the truth and power of His words (see Mat 5:18; Mat 8:5). There is a radical shift here. Unlike the usual practice to affirm God’s blessing, Jesus says amen to His own words. This is because Jesus’ words are God’s blessing per se. Thus, learning from the Biblical tradition, we say amen to affirm God’s blessings. Moreover, learning from Jesus, we say amen to express our faith in His words, and ultimately to Jesus Himself. Surprisingly, the first person in the New Testament to proclaim the great amen to Jesus is none other than His mother, Mary. Before the angel Gabriel, she says “Be it done to me according to your words,” in short, “Amen!” (see Luk 1:38)

One of the greatest amen we proclaim is when we receive the Eucharist. For hundreds of millions of Christian Catholics who receive the Holy Communion every Sunday, to say amen seems rather usual. Yet, it is supposed to be the most difficult amen we say. To believe and affirm that a little consecrated white bread is the Body of Christ containing the fullness of Jesus’ divinity and humanity is either totally insane or a sign of extraordinary faith. Yet, I do believe this is Jesus’ invitation to believe in Him in the Eucharist. Relating to this Sunday’ Gospel, Jesus says that the work of God is to believe in Jesus, the one sent by the Father (see John 6:29). Continue reading chapter 6 of this Gospel of John, we discover that to believe in Jesus means to accept that He is the Bread of Life, and those who eat this Bread will have eternal life (see John 6:51). Thus, to say faith-filled amen to the Eucharist is the fulfillment of Jesus’ words, and leading to the fullness of acceptance of Jesus as God and Savior.

As people who go to the Church every Sunday and receive the Eucharist in a regular basis, do we say our Amen in the fullness of our faith or is it just a mechanical repetition? Does our Amen enable us to recognize the daily blessing we receive? Like Mary, does our faith manifest in our daily actions, and make a difference in lives?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Amin

Minggu ke-18 Pada Masa Biasa [5 Agustus 2018] Yohanes 6: 24-35

“Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29)

amen 2Mengatakan “Amin” adalah sesuatu yang biasanya kita lakukan dalam doa. Kata ini biasanya digunakan untuk mengakhiri doa. Doa alkitabiah seperti Bapa Kami dan Salam Maria biasanya disimpulkan oleh kata amin. Namun, dalam beberapa kesempatan, amin disebut lebih sering. Salah satu tugas pastoral saya di rumah sakit adalah memimpin doa penyembuhan bagi yang sakit. Saya selalu meminta keluarga dan mereka yang menemani pasien untuk berdoa bersama. Biasanya, mereka akan mengatakan amin di akhir doa. Namun, ada juga beberapa orang akan mengucapkan beberapa amin dalam doa, dan bahkan, ada beberapa orang mengucapkan lebih banyak amin dari pada doa yang saya ucapkan! Dalam beberapa kesempatan, amin digunakan di luar konteks doa. Pengkhotbah karismatik akan mengajak pendengar mereka untuk mengatakan amin sebagai bentuk penegasan. Tentunya, ini adalah juga teknik yang bagus untuk membuat pendengar tidak tertidur!

Amin adalah kata yang sederhana namun sangat kuat. Amin menunjukkan penegasan dan persetujuan kita yang kuat terhadap sesuatu. Ini adalah manifesto paling ringkas dari iman kita. Amin adalah bahasa alkitabiah, dan sebenarnya, ini berasal dari kata Ibrani, yang berarti “Sungguh!” Atau “Terjadilah!”. Sangat menarik untuk dicatat bahwa penggunaan awal kata amin dalam Alkitab adalah untuk menegaskan kutukan dan hukuman (lihat Bil 5:22; Ul 27:15). Syukurlah, Kitab Mazmur mengajarkan kita untuk menggunakan amin untuk menegaskan berkat Tuhan. Yesus sendiri suka mengatakan Amin [walaupun dalam alkitab Bahasa Indonesia kata ‘Amin’ diganti dengan kata ‘sesungguhnya’). Ia menggunakan amin untuk menegaskan kebenaran dan kuasa firman-Nya (lihat Mat 5:18; Mat 8: 5). Ada pergeseran radikal di sini. Berbeda dengan praktik biasa untuk menegaskan berkat Tuhan, Yesus mengatakan amin pada kata-kata-Nya sendiri. Ini karena kata-kata Yesus adalah berkat Tuhan. Dengan demikian, belajar dari tradisi Alkitab, kita mengatakan amin untuk menegaskan berkat-berkat Tuhan. Lebih dari itu, belajar dari Yesus, kita mengatakan amin untuk mengekspresikan iman kita dalam Firman-Nya, dan akhirnya kepada Yesus sendiri. Tak mengejutkan bahwa orang pertama dalam Perjanjian Baru yang menyatakan amin kepada Yesus tidak lain adalah ibu-Nya, Maria. Di hapadapan malaikat Gabriel, dia berkata, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu,” singkatnya, “Amin!” (Lihat Luk 1:38)

Salah satu amin terbesar yang kita nyatakan adalah ketika kita menerima Ekaristi. Bagi ratusan juta umat Katolik yang menerima Komuni Suci setiap hari Minggu, mengatakan amin tampaknya biasa-biasa saja. Namun, ini sebenarnya menjadi amin yang paling sulit yang kita katakan. Untuk percaya dan menegaskan bahwa hosti kecil putih adalah Tubuh Kristus yang mengandung kepenuhan keilahian dan kemanusiaan Yesus adalah tanda iman yang luar biasa besar. Saya percaya ini adalah ajakan Yesus untuk percaya kepada-Nya dalam Ekaristi. Berkaitan dengan Injil hari Minggu ini, Yesus mengatakan bahwa pekerjaan yang dikehendaki Allah adalah percaya kepada Yesus, yang diutus oleh Bapa (lihat Yoh 6:29). Membaca bab 6 dari Injil Yohanes ini, kita menemukan bahwa percaya kepada Yesus berarti menerima bahwa Dia adalah Roti Kehidupan, dan mereka yang memakan Roti ini akan memiliki hidup yang kekal (lihat Yoh 6:51). Jadi, untuk mengatakan amin yang dipenuhi oleh iman kepada Ekaristi adalah pemenuhan kata-kata Yesus, dan menuntun kita pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Sebagai umat yang pergi ke Gereja setiap Minggu dan menerima Ekaristi secara teratur, apakah kita mengatakan Amin dalam kepenuhan iman atau ini hanya sebuah kata yang diulang-ulang? Apakah Amin kita memungkinkan kita untuk mengenali berkat harian yang kita terima? Seperti Maria, apakah iman kita terwujud dalam tindakan sehari-hari kita, dan membuat perbedaan dalam kehidupan kita?

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

More than Bread

Seventeenth Sunday in Ordinary Time [July 29, 2018] John 6:1-15

Jesus said to Philip, “Where can we buy enough food for them to eat?” (Jn. 6:5)

barley loaves 4Unlike the other Gospels, the Gospel of John does not have the story of the Institution of the Eucharist on the Last Supper. However, it does not mean John the evangelist does not write anything about the Eucharist. In fact, John includes the most sublime discourse on the bread of life in his chapter 6. The chapter itself is relatively long, and the Church has distributed it into several Sunday Gospel readings (from today up to August 26). This discourse on the Bread of Life begins with the lovely story of Jesus feeding the multitude.

The story highlights Jesus’ question to Philip, “Where can we buy enough food for them to eat?” (Jn. 6:5) Philip, who seems to be familiar with the place, gives impossibility as an answer, “Two hundred denarii (or two hundred days’ wages) worth of food would not be enough…” (Jn. 6:7) Philip is just realistic, but he misses the mark. Jesus does not ask “how much,” but “where.” Perhaps, if Philip lives in the 21st century, he would direct Jesus to the nearest shopping mall! The point is that Philip would eagerly reduce the entire problem into a financial matter. Philip is not wrong because finance and economy are the backbones of our daily lives and even our survival as species, But money is not the only thing that matters. Philip will later see during the multiplication of the bread, that the “where” is pointing back to Jesus Himself. And as we will see in succeeding of chapter 6, the bread Jesus offers is not meant only for biological and economic benefits, but for eternal life.

I am currently having my clinical pastoral education at one of the hospitals in Metro Manila. One of the sacred missions entrusted to me as a chaplain is to distribute the Holy Communion to the sick. By ministering to the sick, especially through prayer and giving Holy Communion, I am reminded that the physical and biological aspects of our humanity are not the only things to be taken care of. It is true that many patients I have encountered are struggling with financial issues, like how to get the money to pay the hospital bills and expensive medicines. They have to wrestle also with their sickness that sometimes is incurable. I myself am at a loss on how to help them in these pressing concerns. However, often, the patients themselves are the ones who assure me that God will find a way, as He always does. What I do, then, is to affirm and strengthen their faith. Prayer and giving of the Holy Communion are the visible manifestations of Jesus’ real presence among us, and His presence is even more felt by the sick. Like our Gospel’s today, Jesus does not only take care of the physical aspect of our lives, but more fundamentally, He brings us to the deeper reality that our souls all long for. Paradoxically, in their hunger, they discover Jesus.

Being strong and healthy, we often forget this simple truth. Like Philip, we are more concerned with amassing wealth, attaining fame, and achieving success. Even as people serving the Church and the community, we are spending more time in organizing charity events, raising funds, and even arguing among ourselves over trivial matters. We miss the point why we are going to the Church. We miss encountering Jesus. We pray and hope that we are able to answer Jesus’ question rightly to Philip and us, “Where shall we find food for us to eat?”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lebih dari Roti

Minggu ke-17 dalam Masa Biasa [29 Juli 2018] Yohanes 6: 1-15

Yesus berkata kepada Filipus, ” Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6: 5)

barley loaves 2Tidak seperti Injil lainnya, Injil Yohanes tidak memiliki kisah tentang penetapan Ekaristi dalam Perjamuan Terakhir. Namun, ini tidak berarti Yohanes penginjil tidak menulis apa pun tentang Ekaristi. Nyatanya, Yohanes menulis tulisan yang paling luhur tentang roti hidup dalam bab 6 Injilnya. Bab itu sendiri relatif panjang, dan Gereja telah distribusikannya ke beberapa bacaan Injil hari Minggu (dari hari ini hingga 26 Agustus). Penjelasan tentang Roti Hidup ini dimulai dengan kisah Yesus yang memberi makan banyak orang.

Mari kita perhatikan pertanyaan Yesus kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” (Yoh 6:5) Filipus, tampaknya akrab dengan tempat itu, menyatakan bahwa mustahil untuk memberi makan orang sebanyak itu, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini… ” (Yoh. 6: 7) Filipus cukup realistis, tetapi ia tidak menjawab pertanyaan. Yesus tidak menanyakan “berapa,” tetapi “di mana.” Mungkin, jika Filipus hidup di zaman now, dia akan mengarahkan Yesus ke mal terdekat! Intinya adalah bahwa Filipus akan dengan semangat menyederhanakan seluruh masalah ke dalam masalah keuangan. Filipus tidak salah karena keuangan dan ekonomi adalah tulang punggung kehidupan kita sehari-hari dan bahkan kelangsungan hidup kita sebagai spesies, tetapi uang bukanlah satu-satunya hal yang penting. Filipus nantinya akan melihat setelah mujizat penggandaan roti, bahwa “di mana” merujuk pada Yesus sendiri. Dan seperti yang akan kita baca dalam bab 6, roti yang Yesus tawarkan tidak hanya dimaksudkan untuk manfaat biologis dan ekonomi, tetapi untuk kehidupan kekal.

Saat ini saya sedang menjalankan pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Salah satu misi yang dipercayakan kepada saya adalah membagikan Komuni Kudus bagi orang sakit. Dengan melayani orang sakit, khususnya melalui doa dan pemberian Komuni Kudus, saya diingatkan bahwa aspek fisik dan biologis dari kemanusiaan kita bukanlah satu-satunya hal yang harus dijaga. Memang benar bahwa banyak pasien yang saya temui bergulat dengan masalah keuangan, seperti bagaimana mendapatkan uang untuk membayar tagihan rumah sakit dan obat-obatan yang mahal. Mereka juga harus bergumul dengan penyakit mereka yang kadang tidak dapat disembuhkan. Saya sendiri bingung bagaimana cara membantu mereka dalam masalah yang mendesak ini. Namun, seringkali, para pasien sendiri adalah orang yang meyakinkan saya bahwa Tuhan akan membuka jalan. Apa yang saya lakukan, kemudian, adalah memperkuat iman mereka. Doa dan pemberian Komuni Kudus adalah manifestasi nyata dari kehadiran Yesus di antara kita, dan kehadiran-Nya bahkan lebih terasa bagi orang sakit. Seperti Injil kita saat ini, Yesus tidak hanya memperhatikan aspek fisik dari kehidupan kita, tetapi lebih mendasar lagi, Dia membawa kita ke realitas yang lebih dalam yang merupakan kerinduan jiwa kita yang terdalam. Sungguh sebuah paradoks bahwa dalam sakit, mereka menemukan Yesus.

Saat kita masih kuat dan sehat, seringkali kita melupakan kebenaran sederhana ini. Seperti Filipus, kita lebih peduli dengan mengumpulkan kekayaan, meraih ketenaran, dan mencapai kesuksesan. Bahkan sebagai orang yang melayani Gereja dan komunitas, kita menghabiskan lebih banyak waktu dalam mengatur acara-acara amal, mengumpulkan dana, dan bahkan berdebat di antara kita sendiri tentang hal-hal sederhana. Kita kehilangan tujuan utama mengapa kita pergi ke Gereja. Kita gagal bertemu Yesus. Kita berdoa dan berharap bahwa kita dapat menjawab pertanyaan Yesus dengan benar, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya kita ini dapat makan?”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lack of Faith

Fourteenth Sunday in Ordinary Time [July 8, 2018] Mark 6:1-6

“He was amazed at their lack of faith.” (Mk. 6:6)

holy family carpentry shopWhen Jesus teaches in the synagogue in Nazareth, the listeners are amazed by his wisdom. Jesus speaks like a mighty prophet. However, the people soon make a background check on Jesus, and they realize Jesus’ identity and his family background.  Nazareth is a small rural town in Galilee, and everyone knows everyone in this kind of setting. The people of Nazareth know Jesus as a son of a carpenter, and himself a carpenter. They are familiar also with Jesus’ family and relatives.

It is just impossible for a carpenter, an artisan who spends most of his time doing manual labor to acquire such profound wisdom. The people of Nazareth also recognize that Jesus is a son of Mary and they know His relatives. It seems the people are aware that Jesus’ relatives are just ordinary and poor Jews. None of them seems to possess a notable personality. Jesus should stay where He belongs: an ordinary Jewish and a poor laborer. Thus, to become a charismatic preacher and an admirable rabbi is simply unthinkable. Jesus, recognizes the root cause: lack of faith.

We are living two millennia after Christ, but unfortunately, this debilitating mentality continues to exist and even thrive in our midst. It is a mentality that boxes people in their limitations and suppresses their potential to grow and improve. This is the mentality that fuels fundamentalism, racism, negative stereotypes, and other destructive ideologies that divide people. Once a loser, always a loser; once an Asian, always an Asian; once an addict, always an addict. Yet, this mentality does not only reside the big ideologies, but it also affects our personal lives: when we think we are always right, and others are always wrong; when we believe that we are holier than others; when we only trust ourselves; when we refuse to forgive others; when we cling to our pride.

Dealing with this crippling mentality, Jesus brings to the fore the reality that humans are beings with faith. With faith, that is the spiritual gift from God; we are empowered to go beyond our own cultural, mental, bodily limitations. In the Gospels, faith enable God’s power to do much more in persons’ lives, and the same faith inspires us to see God’s works in us. The paralytic is healed because of the faith of his friends who carry him to Jesus (Mark 2:1-6); the woman with hemorrhage is healed because of her faith (Mark 5:25-34); Jesus tells Jairus, the synagogue official to have faith and Jesus brings his daughter to life (Mark 5:35-43).

I am currently doing my pastoral work as a chaplain in one of the hospitals in Metro Manila. My duty is to visit the patients, to give blessing and minister the Holy Communion, but fundamentally, to be with them and listen to them. I cannot do much in term of physical cure, but I realize that sickness is not only physical. Healing includes psychological and spiritual aspects. I journey with the patients in their joy, sorrow, frustration, and hope. I accompany them as they try to resolve some issues like anger, broken relationship, and painful memories. As I walk with them, I also realize my weaknesses. Yet, despite this brokenness, people with faith have always found strength and courage to heal, to go beyond themselves and live a meaningful life.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ketidakpercayaan

Minggu Keempat Belas pada Masa Biasa [8 Juli 2018] Markus 6: 1-6

“Dia kagum pada kurangnya iman mereka.” (Markus 6: 6)

jesus at nazarethKetika Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret, para pendengar kagum dengan kebijaksanaan-Nya. Yesus berbicara seperti seorang nabi yang perkasa. Namun, orang-orang segera melakukan pemeriksaan latar belakang pada Yesus, dan mereka menyadari identitas Yesus dan latar belakang keluarganya. Nazaret adalah desa kecil di Galilea, dan semua penduduk saling mengenal satu sama lain di lingkungan seperti ini. Orang-orang Nazaret mengenal Yesus sebagai putra seorang tukang kayu, dan dirinya sendiri adalah tukang kayu. Mereka juga akrab dengan keluarga dan kerabat Yesus.

Tidak mungkin bagi seorang tukang kayu, menghabiskan sebagian besar waktunya melakukan pekerjaan kasar untuk memperoleh kebijaksanaan yang demikian mendalam. Orang-orang Nazaret juga mengenal bahwa Yesus adalah putra Maria dan mengenal sanak keluarga-Nya. Tampaknya orang-orang sadar bahwa kerabat Yesus hanyalah orang Yahudi biasa dan miskin. Tak satu pun dari mereka tampaknya memiliki kepribadian yang menonjol. Yesus harus tinggal di tempatnya: seorang Yahudi biasa dan tukang kayu yang miskin. Jadi, bagi Yesus untuk menjadi pengkhotbah yang karismatik dan seorang rabi yang mengagumkan sungguh tidak layak dan tidak mungkin. Yesus, mengenali akar penyebabnya: ketidakpercayaan.

Kita hidup dua milenium setelah Kristus, tetapi sayangnya, mentalitas yang melemahkan ini terus ada dan bahkan berkembang di tengah-tengah kita. Ini adalah mentalitas yang mengurung orang-orang dalam keterbatasan mereka dan mengubur potensi mereka untuk tumbuh dan berkembang. Inilah mentalitas yang mendorong fundamentalisme, rasisme, stereotip-stereotip negatif, dan ideologi destruktif lainnya yang memecah belah umat manusia. Sekali pecundang, selalu pecundang; sekali orang Jawa, selalu orang Jawa; sekali pecandu, selalu seorang pecandu. Namun, mentalitas ini tidak hanya terletak pada ideologi besar, tetapi juga mempengaruhi kehidupan pribadi kita: ketika kita berpikir kita selalu benar, dan yang lain salah; ketika kita percaya bahwa kita lebih suci dari yang lain; ketika kita hanya mempercayai diri kita sendiri; ketika kita menolak untuk memaafkan orang lain; ketika kita berpegang teguh pada keangkuhan kita.

Menghadapi mentalitas yang melumpuhkan ini, Yesus menunjuk pada sebuah kebenaran bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan iman. Dengan iman, yang adalah karunia rohani dari Allah, kita diberdayakan untuk melampaui batasan-batasan budaya, mental, tubuh kita sendiri. Dalam Injil, iman memungkinkan kuasa Allah untuk melakukan lebih banyak lagi dalam kehidupan kita, dan iman yang sama mengilhami kita untuk melihat karya Allah di dalam kita. Orang lumpuh disembuhkan karena iman teman-temannya yang membawanya kepada Yesus (Markus 2:1-6); wanita dengan pendarahan disembuhkan karena imannya (Markus 5:25-34); Yesus memberi tahu Yairus, pejabat sinagoga untuk memiliki iman dan Yesus menghidupkan putrinya (Markus 5: 35-43).

Saat ini saya melakukan tugas pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Tugas saya adalah mengunjungi para pasien, memberi berkat, doa dan Komuni Kudus, tetapi pada dasarnya, adalah untuk bersama mereka dan mendengarkan mereka. Saya tidak dapat melakukan banyak hal dalam hal penyembuhan fisik, tetapi saya menyadari bahwa penyakit tidak hanya bersifat fisik. Kesembuhan mencakup aspek psikologis dan spiritual. Saya melakukan perjalanan bersama para pasien dalam sukacita, kesedihan, frustrasi, dan harapan mereka. Saya menemani mereka saat mereka mencoba menyelesaikan beberapa masalah seperti kemarahan, hubungan yang rusak, dan masa lalu yang menyakitkan. Ketika saya berjalan bersama mereka, saya juga menyadari kelemahan saya. Namun, terlepas dari hal-hal buruk ini, orang-orang dengan iman selalu menemukan kekuatan dan keberanian untuk menyembuhkan, untuk melampaui diri mereka sendiri dan menjalani kehidupan yang bermakna.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Woman of Faith

Thirteenth Sunday in Ordinary Time [July 1, 2018] Mark 5:21-43

“Daughter, your faith has saved you. Go in peace and be cured of your affliction.” (Mk. 5:34)

woman with hemorrhage 2Today’s Gospel seems to be just another healing miracles of Jesus, but if we read it closely, the story of the healing of the woman with hemorrhage is extraordinary tale of faith. We are not sure what kind of hemorrhage she suffers, but the fact that she bears the sickness for 12 years, spends a lot for the medication, and does not get any better, means it is pretty serious, if not terminal. During this time, the physicians are extremely rare, and expectedly, the patients need to spend a lot of money. The woman may come from a wealthy family, but she is impoverished because her prolong sickness. The woman is losing her life and facing despair. I am currently assigned as an associate chaplain in one of the hospitals in Metro Manila, and my duty is to make pastoral visit to these patients. I encounter some patients who are suffering from certain health conditions that drain all their resources, and it seems the situation does not get any better. I realize the story of the woman with hemorrhage is not only her story happened in the far past, but it is also our stories here and now.

 We must not forget that our protagonist is also a woman. Being a woman in the time of Jesus means being a second-class citizen in a patriarchal society and often, they are considered as mere properties of the husbands or the fathers. Generally, while the men work outside and socialize, women are expected to stay at home, and function as the housekeepers and babysitters. Normally, they are not allowed to communicate with the outsiders, especially men, except under the supervision of their husbands or fathers. Our protagonist is also having chronic hemorrhage, and this means she is ritually unclean, and those who are in contact with her shall be made unclean as well (Lv. 15:19).

The woman with hemorrhage has faith in Jesus and wants to be healed, yet to do that, she has to challenge the cultural norms that bind her. She traverses into greater danger. What if she is not healed? What if she makes Jesus and His disciples unclean? What if she will be branded as a shameless woman by the society? Shame restrains her, but faith propels her. Thus, she takes a ‘win-win’ approach. She tries to reach Jesus’ cloth, and she makes sure that she will not establish any contact with Jesus. Miracle happens, and she is healed. Yet, unfortunately, Jesus finds her. In tremble and fear, she fells down before Jesus and confesses. She is afraid not only because she “snatches” the power from Jesus, but because she has broken the standing cultural norms and the Law of Moses. However, Jesus’ response surprises his disciples and all who witness the event. Instead of castigating her for culturally improper behavior, Jesus praises her faith, “Daughter your faith has saved you.”

Indeed it is her faith that makes her a proactive protagonist of this particular story. She refuses to succumb to despair and makes her way all the way to Jesus. We notice most of the actions in this story is performed by the woman, and Jesus is there to affirm her. Rightly, Jesus calls her “daughter” acknowledging her also as the descendants of Abraham, the father of great faith. The story of a woman of hemorrhage is a journey of a woman of faith. It is a faith that grows even in the midst of hopeless situations of sickness, financial crisis, and uncertain future. It is a faith that thrives in the middle of human limitations, and transcend cultural boundaries. It is a faith that moves a mountain.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman Sang Perempuan

Minggu Ketiga Belas pada Masa Biasa [1 Juli 2018] Markus 5: 21-43

“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu.” (Mrk 5:34)

woman with hemorrhageInjil hari ini tampaknya tidak berbeda dengan kisah-kisah mukjizat penyembuhan Yesus, tetapi jika kita membaca dengan seksama, kisah penyembuhan perempuan dengan pendarahan ini sebenarnya luar biasa. Kita tidak tahu dengan pasti pendarahan apa yang dideritanya, tetapi fakta bahwa ia menderita kondisi ini selama 12 tahun, menghabiskan banyak untuk pengobatan dan kondisinya semakin memburuk, ini berarti sangat serius. Pada zaman itu, tabib sangat jarang, dan berobat perlu mengeluarkan banyak uang. Perempuan ini mungkin berasal dari keluarga kaya, tetapi dia jatuh miskin karena kondisinya tersebut. Perempuan ini mulai kehilangan hidupnya dan menghadapi keputusasaan. Saya saat ini ditugaskan sebagai asisten imam di salah satu rumah sakit di Metro Manila, dan tugas saya adalah melakukan kunjungan pastoral ke pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tidak jarang saya menjumpai pasien yang menderita kondisi kesehatan yang menguras semua sumber daya mereka, dan tampaknya situasi mereka tidak menjadi lebih baik. Saya menyadari kisah perempuan dengan pendarahan ini bukan hanya kisahnya yang terjadi di masa lalu, tetapi juga kisah umat manusia di zaman ini.

 Kita tidak boleh lupa bahwa protagonis kita juga seorang perempuan. Menjadi seorang perempuan di zaman Yesus berarti menjadi warga kelas dua dalam masyarakat patriarkal Yahudi dan sering kali, mereka dianggap hanya sebagai barang milik suami atau kepala keluarga. Sementara pria bekerja di luar dan bersosialisasi, kaum perempuan tinggal di rumah, dan berfungsi sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak. Biasanya, mereka tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan orang asing apalagi laki-laki, kecuali di bawah pengawasan suami atau ayah mereka. Ini bukan waktu yang mudah bagi perempuan untuk hidup. Sang perempuan juga mengalami pendarahan, ini berarti dia menjadi najis di Hukum Taurat, dan siapa pun yang menyentuh dia akan menjadi najis juga (Im 15:19).

Perempuan dengan pendarahan memiliki iman pada Yesus dan ingin disembuhkan, namun untuk melakukan itu, dia harus menantang norma-norma budaya yang mengikatnya. Dia mengambil resiko yang besar. Bagaimana jika dia tidak disembuhkan? Bagaimana jika ia membuat Yesus dan murid-murid-Nya menjadi najis? Bagaimana jika dia dicap sebagai perempuan yang tak tahu malu oleh masyarakat? Rasa malu menahannya, tetapi iman mendorongnya. Ia pun mengambil langkah “win-win solution“. Dia mencoba untuk mencapai jubah Yesus, dan dia memastikan bahwa dia tidak akan membuat kontak dengan Yesus. Mukjizat terjadi. Dia disembuhkan, tetapi sayangnya, Yesus menemukannya. Dengan gemetar dan ketakutan, dia jatuh di hadapan Yesus dan mengaku. Dia takut bukan hanya karena dia “mengambil” kekuatan dari Yesus, tetapi karena dia telah melanggar norma-norma budaya Yahudi. Namun, tanggapan Yesus mengejutkan murid-muridnya dan semua yang menyaksikan peristiwa itu. Alih-alih menghukumnya karena perilaku yang tidak pantas, Yesus memuji imannya, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkanmu.”

Ini adalah imannya yang membuatnya menjadi protagonis yang proaktif dari cerita mukjizat ini. Dia menolak untuk menyerah pada keputusasaan dan membuat jalannya menuju ke Yesus. Kita melihat sebagian besar tindakan dalam cerita ini dilakukan oleh sang perempuan, dan Yesus ada di sana untuk meneguhkannya. Benar, Yesus menyebut dia “anak” karena Yesus mengakui dia juga sebagai keturunan Abraham, bapa iman yang besar. Kisah perempuan dengan pendarahan adalah perjalanan iman seorang perempuan yang terkurung dalam berbagai kondisi yang melemahkannya. Itu adalah iman yang tumbuh bahkan di tengah-tengah situasi tanpa harapan dari penyakit, krisis keuangan, dan masa depan yang tidak pasti. Ini adalah iman yang tumbuh di tengah keterbatasan manusia, dan melampaui batas-batas budaya. Itu adalah iman yang menggerakkan gunung. Ini adalah imam sang perempuan, dan ini adalah iman yang juga kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP