Lebih Baik Dari Farisi

Minggu ke-6 dalam Masa Biasa. 12 Februari 2017 [Matius 5: 20-37]

“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Mat 5:20)”

pharisees2Kata ‘Farisi’ memiliki konotasi negatif bagi kita. Dalam Injil, mereka adalah lawan-lawan Yesus. Mereka sering berdebat dengan Yesus dan Yesus mengkritik cara hidup mereka. Bahkan beberapa merencanakan untuk menyingkirkan Yesus (lihat Mat 12:14). Pada zaman sekarang, istilah ‘Farisi’ sering kali diasosiasikan dengan kemunafikan.

Namun, jika kita melihat dari sudut pandang yang lain, orang-orang Farisi tidak seutuhnya jahat. Dalam zaman Yesus, mereka memiliki peran penting, yakni merevolusi masyarakat Yahudi. Apa yang mereka lakukan? Mereka membawa Hukum Taurat, berbagai ritual dan praktek devosi dari Bait Allah di Yerusalem ke komunitas-komunitas dan keluarga-keluarga Yahudi di Israel. Banyak orang-orang Farisi mengelola rumah-rumah ibadat setempat di berbagai penjuru Palestina dan memastikan bahwa orang-orang akan melaksanakan dengan baik Hukum Taurat dan tradisi, seperti Sabat dan ritual pembersihan. Berbeda dengan imam yang bertugas di Bait Allah, orang-orang Farisi adalah orang-orang awam yang mencintai Hukum Taurat di dalam kesederhanaan hidup sehari-hari mereka. Dengan demikian, ketika Bait Allah dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 Masehi, kasta imam juga menghilang, tapi budaya dan agama Yahudi terus hidup karena orang-orang Farisi ini yang adalah orang-orang awam.

Yesus mengkritik mereka bukan karena mereka mencintai Hukum Taurat dan tradisi, tetapi bagaimana mereka ‘menginterpretasi’ Hukum tersebut. Tak diragukan lagi orang-orang Farisi mencintai Hukum Musa, tetapi bahayanya adalah mereka bisa jatuh ke dalam fundamentalisme. Mereka memutlakkan setiap huruf Hukum Taurat dan tradisi, dan melupakan tujuan utama Hukum tersebut: melayani: Allah dan sesama manusia. Untuk menjadi fundamentalis itu mudah karena kita memilih untuk mengikuti huruf-huruf mati yang tertera di Kitab suci. Jauh lebih sulit untuk berdialog dengan Dia yang ada di balik huruf-huruf tersebut dan mereka yang ada di depan huruf-huruf tersebut.

Tanpa disadari, banyak dari kita yang bertindak seperti orang Farisi. Seperti mereka, kita mengasihi Tuhan, Hukum-Nya dan Gereja-Nya, tapi kadang-kadang, kita terlalu sibuk dengan hal-hal sepele. Saya sedih ketika tidak sedikit orang berdebat tentang bagaimana menerima Ekaristi Kudus, berlutut, berdiri, dengan tangan atau langsung ke mulut. Beberapa menuduh misa Karismatik itu sesat. Beberapa lainnya menyatakan bahwa Misa Latin sebagai ultra-konservatif. Saya juga sedih dengan seorang teman dan juga apologis Katolik muda di Filipina yang rajin berdebat di internet, namun tidak melakukan apa-apa untuk membantu ibunya yang sedang sakit. Ya, Kitab Suci dan Liturgi merupakan bagian penting dari iman kita dan juga sarana keselamatan, tetapi jika kita terpecah-belah dan menjadi fundamentalis-fundamentalis kecil, kita melepas tujuan utama iman kita.

Kita lupa untuk mengubah kasih kita kepada Allah dan Gereja-Nya ke dalam kasih bagi orang lain. St. Dominikus de Guzman menjual buku-bukunya yang mahal terbuat dari kulit binatang sehingga ia bisa memberi makan orang-orang miskin, dan berkata, “Apakah kamu mau saya belajar dari ini kulit mati ini ketika kulit hidup mati kelaparan?” Siapa di antara kita yang terlibat memberi makan orang miskin sekitar kita? Siapa di antara kita melakukan sesuatu yang berarti bagi korban ketidakadilan di masyarakat? Siapa di antara kita memiliki kesabaran terhadap saudara dan saudari kita yang bermasalah dalam keluarga atau masyarakat? Ingat bahwa kita dipanggil untuk melampaui kebenaran orang-orang Farisi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

The Star

The Epiphany of the Lord. January 8, 2017 [Matthew 2:1-12]

 “We saw his star at its rising and have come to do him homage (Mat 2:2).”

three-kings-epiphany

Today we are celebrating the Epiphany of the Lord. The word Epiphany comes from the Greek word ‘epiphananie’, meaning ‘appearance’.  Therefore, today is also known as the feast of the manifestation of the Lord. This celebration is considered to be one of the oldest and most important because the Baby God invited not only the Jews but also the Gentiles, represented by the Magi, to visit and finally worship Him. In His earliest appearance, Jesus brought light to all the nations.

One little question may linger: why did the Magi from the East follow the star? Their journey was based on an ancient belief that the birth of a great king was signified by the appearance of a new star in the sky. Yet, we are never sure what ‘star’ the Magi actually saw. Was it a comet, a supernova, an unusual constellation, a planet, or a supernatural light? One thing we are sure of, this star possessed the greatest importance, that Gaspar, Balthazar, and Melchior abandoned the comfort of their homeland, traveled thousand miles westward and faced all the dangers and uncertainties.

 Now if we look at the night sky, we may observe hundreds and hundreds of stars. Then, we may ask what makes this star of Jesus different from the rest of the lights? These Magi were expert in astronomy or studies of celestial bodies, and they were able to distinguish the star as the one that would bring them to the newborn King. This star does not simply shine just like the rest, but it also illuminates and guides. Like the seasoned fishermen, before the discovery of GPS, they would depend their lives on the light of the stars, and among billion stars on the clear sky, they recognize that only a few truly point them the true directions.

We are all called to be a star. But the temptation is that we simply shine and attract others to ourselves. We fail to recognize that the light that God has given us is to illuminate and guide others to Jesus. When St. Thomas Aquinas was asked what makes his Order more prominent than other congregations, he answered that just like it is better to illuminate than to shine, so it is better to share one’s fruits of contemplate than just merely to contemplate. Of course, the Benedictines will disagree! One of the major features in the image of St. Dominic is the star at his forehead. Certainly, this is a symbol of guidance and direction for anyone who seeks God. No wonder if St. Dominic is less famous than other Dominican saints like St. Thomas Aquinas, St. Catherine of Siena or St. Martin de Porres, it is because until the end of his life, like a guiding star, his life always pointed to God.

To have the light is not enough. We may become stars that merely shine brightly. We turn to be a campus star, company star, parish star or even star preacher. Certainly, to receive a lot of attention from many people gives pleasure and sense of fulfillment, but that is not the true purpose of our light. Epiphany is the appearance of the Lord, but who among us have tried to cover Him with our dazzling lights? How many people have we led to Jesus? Yet, it is not too late. Epiphany is a time for us to realign with the real objective of our light: not to merely shine, but to illuminate.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bintang

Hari Raya Penampakan Tuhan. 8 Januari 2017 [Matius 2:1-12]

“Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia (Mat 2:2).”

graphics-epiphanyHari ini kita merayakan Hari Raya Epifani Tuhan. Kata Epifani berasal dari kata Yunani ‘epiphananie’, yang berarti ‘penampakan’. Oleh karena itu, tidak salah jika hari ini juga dikenal sebagai Hari Raya Penampakan Tuhan. Perayaan ini dianggap salah satu yang tertua dan paling penting karena Bayi Allah mengundang tidak hanya orang-orang Yahudi, tetapi juga bangsa-bangsa lain, diwakili oleh orang-orang Majus, untuk mengunjungi dan akhirnya menyembah Dia. Di awal hidup-Nya, Yesus memperlihatkan sendiri sebagai Raja segala bangsa.

Satu pertanyaan kecil mungkin belum terjawab: mengapa orang-orang Majus dari Timur mengikuti sang bintang? Perjalanan mereka didasarkan pada kepercayaan kuno bahwa kelahiran seorang raja besar ditandai dengan penampilan bintang baru di langit. Namun, kita tidak pernah yakin ‘bintang’ seperti apa yang benar-benar dilihat orang Majus. Apakah itu sebuah komet, supernova, konstelasi tidak biasa, planet, atau cahaya supranatural? Satu hal yang kita yakin. Bintang ini memiliki arti sangat penting sehingga Gaspar, Balthazar dan Melchior berani meninggalkan kenyamanan di tanah air mereka, berjalan ribuan mil dan menghadapi semua bahaya dan ketidakpastian.

Sekarang jika kita melihat langit malam, kita dapat mengamati jutaan bintang. Kemudian, kita mungkin bertanya apa yang membuat bintang Yesus ini berbeda dari cahaya-cahaya yang lain? Orang Majus adalah ahli dalam bidang astronomi, atau ilmu tentang objek langit, dan mereka mampu untuk membedakan bintang mana yang akan membawa mereka ke Raja yang baru lahir. Bintang ini tidak hanya bersinar seperti yang lainnya, tetapi juga menerangi dan memberi panduan. Seperti nelayan yang berpengalaman, sebelum adanya GPS, mereka akan menggantungkan hidup mereka pada cahaya bintang-bintang, dan di antara miliaran bintang di langit, hanya sedikit yang benar-benar menunjukkan mereka arah yang benar dan membawa mereka kembali ke pelabuhan.

Kita semua dipanggil untuk menjadi bintang. Tapi godaan adalah kita sekedar bersinar dan menarik orang lain pada diri kita sendiri. Kita gagal untuk mengenali bahwa cahaya yang Allah telah berikan kepada kita adalah untuk menerangi dan membimbing orang lain kepada Yesus. Ketika St. Thomas Aquinas ditanya apa yang membuat Ordonya lebih menonjol dari Kongregasi lainnya, ia menjawab bahwa seperti halnya lebih baik untuk menerangi daripada sekedar bersinar, jadi lebih baik untuk berbagi buah kontemplasi daripada hanya sekedar berkontemplasi. Tentu saja, para Benediktin tidak akan setuju! Salah satu fitur utama dalam patung St. Dominikus adalah bintang di dahinya. Tentu saja, ini adalah simbol dari bimbingan dan arahan bagi siapa saja yang mencari Allah. Tak heran jika St. Dominikus kurang terkenal dibandingkan Dominikan lain seperti St. Thomas Aquinas, St. Katarina dari Siena atau St. Martin de Porres, karena sampai akhir hidupnya, seperti bintang yang membimbing, hidupnya selalu menunjuk kepada Allah.

Untuk memiliki cahaya tidaklah cukup. Kita mungkin menjadi bintang yang hanya bersinar terang. Kita beralih menjadi bintang kampus, bintang perusahaan, bintang paroki atau bahkan pengkhotbah bintang. Tentu saja, untuk menerima banyak perhatian dari banyak orang memberikan kepuasan, tapi ini bukan tujuan sebenarnya dari cahaya kita. Epifani adalah penampakan dari Tuhan, tapi siapa di antara kita telah mencoba untuk menutupi-Nya dengan cahaya kita yang menyilaukan? Berapa banyak dari kita yang membawa orang lain kepada Yesus? Namun, ini belum terlambat. Epifani adalah waktu bagi kita untuk menyelaraskan kembali dengan tujuan sejati dari cahaya kita: tidak hanya bersinar, tapi untuk menerangi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Real New Year

Solemnity of Mary Mother of God. January 1, 2017 [Luke 2:16-21]

“And Mary kept all these things, reflecting on them in her heart (Luk 2:19).”

mary-mother-of-godToday, the world is celebrating its new beginning. Many of us are going to the parties, watching fireworks, and dancing and singing. Surely, nothing is wrong with those. Yet, today, the Church decides to go against the tide and celebrates something else, or someone else: Mary the Mother of God. To make it worse, today is a holiday of obligation, meaning we need to go to the mass whether we like or not.  I remember attending the Eucharistic mass on January 1 in my own parish, and the priest never dropped a single greetings of a Happy New Year to the congregation. What a kill-joy!

We may ask, “Why do we still need to celebrate this solemnity at the beginning of the year?”  Firstly, it is just fitting to remember Mary as the mother of Jesus within the context of Christmas. Thus, exactly a week after the birth of Christ, we honor the woman who has offered her womb, her body and her whole life to God. Secondly, we are reminded that the true beginning is not only something marked in our calendar, or with outward celebrations. The real beginning takes place inside minds and hearts. Like in the process of pregnancy and birthing, initially, the change is not obvious. It happens inside the silent womb, and it takes some time before the embryo grows bigger and makes its presence felt. The process is difficult, hard to understand, and oftentimes painful. Yet, within that womb is a life that carries with it a future, unpredicted, yet exciting and hopeful.

When the Angel Gabriel announced the News to Mary, she was troubled and confused. But, she was certain that her life was in great danger. Unlike some modern societies wherein unmarried women who get pregnant are just normal, the ancient Jewish community was ready to punish such women. Mary was with a child practically outside of marriage, and she had to bear with all the consequences, There could be a great shame to her family, her future husband, Joseph, and herself. The baby might be called a bastard son for his entire life. And finally, she with her baby could be stoned to death. Yet, her faith in God was greater than her fear. She courageously carried in her womb, the little baby that would be the future of the world.

Ten years ago, in 2006, the Dominican mission in Indonesia began in utter simplicity. We were only two Indonesian priests, Frs. Adrian and Robini, and a Filipino counterpart, Fr. Terry and a lay missionary, Ms. Jemely. We had practically nothing. No institution, no house, no money. We even stayed at a little and simple quarter inside a Diocesan seminary in Borneo. We had to work hard just to support our daily lives and we relied on the generosity of many people. Nobody among us was sure what future will bring, but we had faith in God. Now, after 10 years, we have grown significantly. We have two stable houses in Pontianak and Surabaya. Now we are ministering to the multitude of people through various apostolates. Of course, young and talented people come and join our way of life.

Mary teaches us to have faith in God because for Him, nothing is impossible. The future may be uncertain, frightening and dark, but ‘… the One who began a good work in you will continue to complete it until the day of Christ Jesus (Phil 1:6).’ This is the spirit of the true New Year, the soul of real change, the faith that animates us to move forward.

Bro. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tahun Baru yang Sesungguhnya

Hari Raya Maria Bunda Allah. 1 Januari 2017. Lukas 2: 16-21

Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkanny (Luk 2:19).”

happy-new-year-2017Hari ini, dunia merayakan tahun baru. Dan, banyak dari kita merayakannya dengan berpesta, menonton kembang api, menari dan menyanyi. Namun, hari ini, Gereja memutuskan untuk melawan arus dan merayakan sesuatu yang berbeda, Maria Bunda Allah. Apalagi, hari ini telah ditetapkan sebagai hari raya kewajiban yang berarti kita harus pergi ke gereja suka atau tidak. Saya ingat menghadiri Ekaristi pada 1 Januari di paroki saya di Bandung, dan sang imam tidak pernah sekalipun memberi ucapan Selamat Tahun Baru kepada jemaat sampai misa selesai!

Kita mungkin bertanya, “Mengapa kita harus masih merayakan Bunda Allah pada awal tahun?” Pertama, mengingat Maria sebagai ibu Yesus dalam konteks Natal adalah sesuatu yang tepat secara theologis dan liturgis. Jadi, tepat seminggu setelah kelahiran Kristus, kita menghormati wanita yang telah mempersembahkan rahimnya, tubuhnya dan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Kedua, kita diingatkan bahwa awal yang benar tidak hanya sesuatu yang ditandai di dalam kalender kita, atau dengan perayaan-perayaan besar penuh kesenangan. Awal yang sejati terjadi di dalam diri kita. Seperti dalam proses kehamilan dan melahirkan, pada mulanya, perubahan ini tidak begitu jelas. Hal ini terjadi di dalam rahim, dan dibutuhkan beberapa waktu sebelum embrio tumbuh lebih besar dan membuat kehadirannya terasa. Proses ini sulit, tidak mudah untuk dipahami, dan kadang-kadang menyakitkan. Namun, di dalam rahim ini ada hidup yang membawa masa depan, yang belum begitu jelas, namun menarik dan penuh harapan.

Ketika Malaikat Gabriel memberitakan kepada Maria, dia menjadi bingung dan takut.  Maria tahu jika ia berkata ya, hidupnya aka ada dalam bahaya besar. Tidak seperti beberapa masyarakat modern dimana perempuan yang belum menikah dan hamil adalah sesuatu yang lumrah, komunitas Yahudi kuno siap untuk menghukum pelanggaran ini. Maria mengandung praktis di luar nikah, dan dia harus menanggung semua konsekuensinya. Ia akan membawa aib untuk keluarganya, tunangannya, Joseph, dan dirinya sendiri. Bayinya mungkin akan disebut anak haram. Dan akhirnya, dia dan bayinya bisa dirajam sampai mati. Namun, imannya kepada Allah lebih besar dari ketakutannya. Diapun berani menerima dalam rahimnya, bayi kecil yang akan menjadi masa depan dunia.

Pada tahun 2006, misi Dominikan di Indonesia dimulai dalam kesederhanaan. Kami hanya terdiri dari dua imam, Pastor Adrian dan Robini, dan rekan Filipina, Rm. Terry dan seorang misionaris awam, Ms. Jemely. Praktis kami tidak memiliki apa-apa. Tidak ada institusi, tidak ada rumah, tidak ada uang. Kami bahkan tinggal di rumah kecil dan sederhana di dalam seminari keuskupan di Kalimantan. Kami harus bekerja keras hanya untuk mendukung kehidupan kami sehari-hari dan kami bergantung pada kemurahan hati banyak orang. Tak seorang pun di antara kami yakin apa yang masa depan akan bawa kepada kami. Tetapi, kami terus beriman kepada Allah. Sekarang, setelah 10 tahun, kami telah tumbuh secara signifikan. Kami memiliki dua rumah yang stabil di Pontianak dan Surabaya. Sekarang kita melayani banyak orang melalui berbagai karya kerasulan. Tentu saja, orang-orang muda dan berbakat datang dan bergabung dengan kami.

Maria mengajarkan kita untuk memiliki iman kepada Allah karena bagi-Nya, tidak ada yang mustahil. Masa depan mungkin tidak pasti, menakutkan dan gelap, tetapi “bahwa Dia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan terus melengkapinya sampai hari Kristus Yesus (Fil 1:6). Ini adalah semangat Tahun Baru yang benar, sebuah jiwa dari perubahan nyata, sebuah iman yang menjiwai kita untuk bergerak maju.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dialogue of Truth

Sunday of Advent. December 11, 2016 [Matthew 11:2-11]

 “Are you the one who is to come, or should we look for another? (Mat 11:3)”

dialogue The truth is born out of a conversation. Genuine conversation is coming from our ability to listen. And listening to one another is not easy because it presupposes great humility. The turning point of St. Dominic de Guzman, the founder of the Order of Preachers, was inside the pub. He had an overnight conversation with the innkeeper, an Albigensian whose religion denied the goodness of creation. This long yet open dialogue did not only bring the innkeeper back to the Catholic faith, but also led Dominic to discover his mission in life. This encounter revealed the truth both for the innkeeper and Dominic.

Unfortunately, not everyone is trained to listen. Not everybody is humble enough to open their minds and heart to vast possibilities the truth offers. Not many have the endurance and perseverance to involve in long and tedious dialogue. We rather shut out ears and minds. We prefer to stay in our comfortable yet small world. Then, we are suspicious of those who are different from us. We even become violent towards those who initiate the conversation of truth with us.

Last week, we listened to John who preached the truth and invited people to conversion. Today, we discover that John was already in jail. He was imprisoned apparently because some people did not like to listen to what John said. These people did not want to be disturbed by the truth, and thus, they decided to silence John. I guess that situation is just not much different nowadays. Those who are able to listen and converse, simply come up with instant yet deadly solutions. Those who try to begin a dialogue of truth in social media immediately fall victims into online buzzing and bullying. In more serious situations, people involved in crimes and corruptions try to bribe, threaten or even kill those who begin to speak the truth. Pierre Claverie, OP, bishop of Oran in Algeria, dedicated his life in dialogue with his Muslim brothers and sisters, yet eventually he was murdered by the terrorists who hated his effort in building peace and harmony in Algeria.

In a dialogue of truth, we need to learn from John. In the prison, he was in doubt because Jesus was not behaving like the expected Messiah. Perhaps like other Jews, John also expected a Messiah who was a military and political leader, or perhaps he wanted a Messiah that dealt severely with sinners and outlaws. Jesus simply did not meet his standards. Yet, instead shutting down the possibilities and dealing with his own problems, he opened the conversation with Jesus through his disciples. Jesus graciously answered him by giving some concrete evident of His identity as the Messiah. Jesus also unlocked the new paradigm that helped John unearthed a more profound truth. The truth that set John free from his self-imprisonment.

The season of Advent invites us to this dialogue of truth. We are invited to be more listening to our family members even to the youngest member. We are challenged not to immediately condemn those people who have a different opinion with us but to find the truth in them. St. Thomas Aquinas always included the arguments of those who had opposing views because he believed that there were grains of truth in them as well as they sharpened his own position. It is time for us go out from our small and solitary world and to seek the vast and spacious truth. The Truth that liberates us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dialog Kebenaran

Minggu Advent ketiga. 11 Desember 2016 [Matius 11: 2-11]

 “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain? (Mat 11:3)

dialogue

Kebenaran terlahir dari sebuah percakapan, dan percakapan sejati berasal dari kemampuan kita untuk mendengarkan. Dan mendengarkan satu sama lain bukanlah hal mudah karena membutuhkan kerendahan hati. Titik balik dari St. Dominikus de Guzman, pendiri Ordo Pengkhotbah, adalah ketika ia berada di dalam penginapan dan kedai. Dia berdialog semalam suntuk dengan pemilik penginapan, yang adalah seorang Albigensian, sebuah agama yang menolak kebaikan ciptaan. Dialog panjang, melelahkan namun terbuka ini tidak hanya membawa pemilik penginapan itu kembali ke iman Katolik, tetapi juga membawa Dominikus untuk menemukan misi hidupnya. Pertemuan ini mengungkapkan kebenaran baik bagi pemilik penginapan maupun Dominikus.

Sayangnya, tidak semua orang dididik untuk mendengarkan. Tidak semua orang cukup rendah hati untuk membuka pikiran dan hati mereka untuk sebuah kemungkinan baru yang kebenaran tawarkan. Tidak banyak yang memiliki daya tahan dan ketekunan untuk terlibat dalam dialog panjang dan membosankan. Kita terkadang menutup telinga dan pikiran. Kita lebih memilih untuk tinggal di dunia kita yang nyaman tetapi kecil. Kemudian, kita menaruh curiga kepada orang-orang yang berbeda dari kita, yang mencoba membawa kita ke dunia yang lebih besar. Kita bahkan menggunakan kekerasan terhadap mereka yang memulai dialog kebenaran dengan kita.

Minggu lalu, kita mendengarkan Yohanes yang memberitakan kebenaran dan mengajak orang-orang untuk bertobat. Hari ini, kita mendengar bahwa Yohanes sudah berada di penjara. Ia dipenjarakan mungkin karena beberapa orang tidak suka mendengarkan apa yang ia katakan. Orang-orang ini tidak ingin diganggu oleh kebenaran, dan dengan demikian, mereka memutuskan untuk membungkam Yohanes. Saya kira situasi yang tidak jauh berbeda terjadi juga saat ini. Mereka yang mencoba untuk memulai dialog kebenaran di media sosial langsung menjadi korban intimidasi dan ‘bullying’ secara online. Dalam situasi yang lebih serius, orang yang terlibat dalam kejahatan dan korupsi mencoba untuk menyuap, mengancam atau bahkan membunuh mereka yang mulai berbicara kebenaran. Pierre Claverie, OP, uskup Oran di Algeria, mendedikasikan dirinya dalam dialog persahabatan dengan kaum Muslim, namun akhirnya ia dibunuh oleh para teroris yang membenci usaha-usahanya dalam membangun perdamaian dan harmoni.

Dalam dialog kebenaran, kita perlu belajar dari Yohanes. Di dalam penjara, dia ragu-ragu karena Yesus tidak berperilaku seperti Mesias yang diharapkan. Mungkin seperti orang Yahudi lainnya, Yohanes juga berharap Mesias yang adalah seorang jendral militer dan pemimpin politik, atau mungkin ia ingin Mesias dapat menghadapi orang-orang berdosa dengan tegas seperti dirinya. Yesus tidak memenuhi standar Yohanes. Namun, bukannya menutup kemungkinan dan terus berpegang teguh pada pendiriannya, Yohanes membuka percakapan dengan Yesus melalui murid-muridnya. Yesus menyambut dialog ini dengan baik dan Yesus pun menjawab dia dengan memberikan beberapa bukti konkret identitas-Nya sebagai Mesias. Yesus juga membuka paradigma baru yang membantu Yohanes menggali kebenaran lebih mendalam. Kebenaran yang membebaskan Yohanes dari penjara yang sempitnya.

Masa Adven membawa kita pada dialog kebenaran ini. Kita diajak untuk lebih mendengarkan anggota-anggota keluarga kita bahkan terhadap anggota keluarga yang termuda. Kita ditantang untuk tidak segera mengadili orang-orang yang memiliki pendapat yang berbeda dengan kita, tetapi untuk menemukan kebenaran di dalamnya. St. Thomas Aquinas selalu memasukan argumen dari mereka yang memiliki pandangan yang berlawanan dengannya karena ia percaya bahwa ada benih-benih kebenaran di dalamnya dan juga mereka memperdalam pandangan St. Thomas sendiri. Sudah saatnya bagi kita keluar dari dunia kecil dan soliter dan untuk mencari kebenaran yang lebih luas dan membebaskan.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Advent: Season of Finding God

First Sunday of Advent. November 27, 2016. Matthew 24:37-44

“So too, you also must be prepared, for at an hour you do not expect, the Son of Man will come (Mat 24:44).”

advent-deeperWe are entering the Season of Advent. This season marks the beginning of the new Church’s liturgical year as well as of the four Sundays preparation for Christmas. Advent is from the Latin word ‘Adventus’ meaning ‘arrival’, and thus, this season prepares us for the coming of Christ.

Our faith speaks of two Advents of Jesus. Historically, Jesus’ first coming was in the little town Bethlehem more than two millennia ago, as a little baby, meek and gentle. We fondly call this day as the first Christmas. Theologians  name this sacred moment in history as the Incarnation. This means the Second Person of the Trinity became flesh and dwelt among us (see John 1:14). on the other hand the Second Coming calls our attention to His final coming as the King and Judge of the living and dead. This Second Coming is integral to our belief system as it was explicitly written in both Apostles’ and Nicea-Constantinople’ Creeds.

In the first coming, nobody expected the Messiah would be born in an extremely simple condition and from the poor family of Joseph and Mary. In time of Jesus, Jews naturally expected a Messiah coming from the royal, influential and well-off families. Though we all believe in the Second Coming, nobody knows also when exactly it will knock on our door. There were a lot of self-proclaimed prophets announcing the end of the world, but none were proven true. As the first coming caught the Jews unprepared, so too the second coming will bring great surprise to all of us.

Thus, to avoid the false expectations as well as complacency, the Church invites us to celebrate the season of Advent. This season trains us to expect His Coming and to expect rightly. But, how does the Season of Advent really make us truly prepare? The answer lies on a third coming. St. Bernard of Clairvaux reminded us that there is also the third coming of Christ. This is taking place between the first and the second Advent of Jesus. Jesus is present in our daily lives and knocks in our hearts. If we possess the virtue to discover God in our daily lives, we will not be caught unguarded with His Final Coming.

The Season of Advent reminds us that the presence of God is actually real and manifold. We need to exert effort to open our eyes and heart. Firstly, His presence is the sacraments, especially in the Eucharist. Every time we partake of the Eucharist, we receive the Real Body of Christ in the form of the sacred host. Secondly, His presence is also manifested in the Sacred Scriptures as the Word of God. Saint Augustine reminds us not only to read and study the Bible but also pray with it, as he writes, “When you read the Bible, God speaks to you; when you pray, you speak to God.” Thirdly, we are also trained to seek His invisible presence around us. On the door of his room, our formator in the seminary placed a large inscription. It writes, “Train your mind to see the good in everything.” Yes, we cannot see God directly, but we can always unearth His good works around us. He is present when we choose to forgive rather than take revenge. He is just around when suddenly our children give us much-needed warm hugs. He is not far when a little-impoverished boy decides to share his small piece of bread for his sickly mother.

Be prepared and find God in your midst!

Adven: Masa untuk Menemukan Allah

Minggu pertama Adven. 27 November 2016. Matius 24: 37-44

 “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga (Mat 24:44).”

adventKita memasuki masa Adven. Masa ini menandai awal tahun liturgi Gereja yang baru dan juga empat Minggu persiapan Natal. Adven berasal dari kata Latin ‘adventus’ yang berarti ‘kedatangan’, dengan demikian, masa ini mempersiapkan kita untuk kedatangan Kristus.

Iman kita berbicara tentang dua Kedatangan Yesus. Secara historis, kedatangan Yesus yang pertama adalah di Betlehem lebih dari dua ribu tahun yang lalu, sebagai seorang bayi kecil yang lemah lembut. Kita menyebut hari ini sebagai Natal pertama, sementara para teolog namakan momen sakral dalam sejarah ini sebagai Inkarnasi. Ini berarti Sang Sabda, pribadi kedua dari Trinitas, menjadi daging, dan tinggal di antara kita (lihat Yoh 1:14). Sementara Kedatangan Kedua menarik perhatian kita pada kedatangan-Nya sebagai Raja dan Hakim yang mengadili orang yang hidup dan mati. Kedatangan Kedua ini merupakan bagian integral dari sistem kepercayaan kita dan secara eksplisit tertulis di kedua syahadat Gereja: Syahadat para Rasul dan Syahadat Nikea-Konstantinopel.

Pada kedatangan pertama, tak seorang pun menyangka Mesias akan lahir dalam kondisi yang sangat sederhana dan dari keluarga miskin Yusuf dan Maria. Pasa jaman Yesus, orang-orang Yahudi secara alami mengharapkan Mesias akan datang dari keluarga bangsawan yang berpengaruh dan kaya. Tetapi, ini bukan kehendak Allah. Meskipun kita semua percaya pada Kedatangan Kedua, tidak ada yang tahu kapan tepatnya ia akan datang. Ada banyak nabi-nabi mengumumkan akhir dunia, tapi tidak ada yang terbukti benar. Sebagaimana kedatangan pertama yang mengejutkan bangsa Yahudi, demikian juga kedatangan kedua akan membawa kejutan besar bagi kita semua.

Dengan demikian, untuk menghindari ekspektasi yang salah dan juga kelalaian, Gereja mengajak kita untuk merayakan masa Adven. Masa ini melatih kita untuk mengharapkan Kedatangan-Nya, dan untuk mengharapkannya dengan benar. Tapi, bagaimana Masa Adven membuat kita mempersiapkan diri dengan benar? Jawabannya terletak pada kedatangan Yesus yang ketiga. St. Bernard dari Clairvaux mengingatkan kita bahwa ada juga kedatangan ketiga Kristus. Hal ini terjadi antara kedatangan pertama dan kedatangan kedua Kristus. Yesus hadir dalam kehidupan kita sehari-hari dan mengetuk hati kita. Jika kita memiliki keutamaan untuk menemukan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, kitapun akan siap dengan kedatangan akhir-Nya.

Masa Adven mengingatkan kita bahwa kehadiran Allah sebenarnya nyata dan beragam, kita hanya perlu mengerahkan usaha untuk membuka mata dan hati kita. Pertama, kehadiran-Nya ada pada sakramen, terutama Ekaristi. Setiap kali kita mengambil bagian Ekaristi, kita menerima Tubuh Kristus yang nyata dalam bentuk hosti suci. Kedua, kehadiran-Nya juga diwujudkan dalam Kitab Suci sebagai Firman Allah. St. Agustinus mengingatkan kita untuk tidak hanya membaca dan mempelajari Alkitab, tetapi juga berdoa dengan buku suci ini. Ia menulis, “Ketika kamu membaca Alkitab, Allah berbicara kepadamu; ketika kamu berdoa, kamu berbicara kepada Allah.” Ketiga, kita juga dilatih untuk mencari keberadaan-Nya yang tak terlihat di sekitar kita. Di pintu kamarnya, formator kami di seminari menggantung sebuah tulisan besar: Latihlah pikiranmu untuk melihat yang baik dalam segala hal.” Ya, kita tidak bisa melihat Allah secara kasad mata, tetapi kita selalu dapat menemukan pekerjaan baik-Nya di sekitar kita. Ia hadir ketika kita memilih untuk memaafkan daripada membalas dendam. Dia ada ketika tiba-tiba anak-anak kita memberi kita pelukan hangat yang sangat kita dibutuhkan. Dia tidak jauh ketika seorang anak miskin kecil memutuskan untuk berbagi sepotong rotinya yang kecil untuk ibu yang sakit.

Bersiaplah dan temukan Tuhan di tengah-tengah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP