Fokus pada Yesus

Minggu ke-19 di Masa Biasa [A]

9 Agustus 2020

Matius 14: 22-33

jesus walk water 2Kisah Yesus berjalan di atas air adalah kisah terkenal yang ditulis oleh tiga Injil: Matius 14: 22-33, Markus 6: 45–52 dan Yohanes 6: 15–21. Namun, yang unik dari Matius adalah bagian dari Petrus yang juga berjalan di atas air, namun tenggelam setelah beberapa langkah. Mari kita fokuskan perhatian kita pada momen unik dalam kehidupan Simon Petrus ini.

Kehadiran Yesus yang tiba-tiba dan tidak biasa mengejutkan para murid yang masih berjuang melawan angin kencang. Reaksi alami para murid adalah ketakutan. Mereka mengira mereka melihat hantu. Matius memberi kita sedikit detail yang menarik: para murid takut bukan karena badai laut, tetapi karena kehadiran Yesus. Kita ingat bahwa banyak dari mereka adalah nelayan berpengalaman dan berurusan dengan kondisi tak terduga di danau Galilea adalah bagian dari pekerjaan mereka. Namun, melihat seseorang berjalan di atas air belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi, Yesus mengambil inisiatif untuk menenangkan badai di dalam hati mereka dan meyakinkan mereka bahwa dialah Yesus yang mengendalikan kekuatan alam.

Petrus, pemimpin yang berani namun juga impulsif, ingin membuktikan apa yang dilihat dan didengarnya. Dia kemudian menantang Yesus dan dirinya sendiri dengan berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”  Yesus mengundang dia untuk datang. Mujizat terjadi. Simon Petrus bisa berjalan di atas air! Namun, sifat kemanusiaannya yang lemah sekali lagi muncul. Setelah beberapa langkah mujizat, dia terganggu oleh angin, kehilangan fokusnya pada Yesus, dan dia mulai tenggelam. Yesus harus menyelamatkannya dan berkata kepadanya, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Kita memperhatikan bahwa Yesus tidak berkata, “Kamu, yang tidak memiliki iman!” melainkan, “kurang percaya!” Ini menunjukkan bahwa Petrus sebenarnya memiliki iman, dibuktikan dengan beberapa langkah mukjizatnya, tetapi iman itu masih kecil, mudah terganggu, dan sarat keraguan.

Banyak dari kita dapat dengan mudah melihat diri kita seperti Simon Petrus, Paus pertama kita. Kita percaya kepada Yesus namun, kita sadar juga bahwa iman kita masih kecil. Kita mungkin pergi ke Gereja setiap hari Minggu atau berdoa dari waktu ke waktu, percaya bahwa Yesus, Tuhan dan Juru selamat kita, dan menerima ajaran Gereja, tetapi iman kita hannyalah bagian kecil dari hidup kita, yang dapat dikesampingkan ketika hal-hal yang lebih besar seperti pekerjaan, karier, relasi, dan lainnya mulai memenuhi hati kita. Kita memberikan kepada Tuhan sisa-sisa kita, baik waktu maupun usaha kita. Bahkan dalam doa dan ibadah kita, kita mudah terganggu. Daripada memfokuskan diri kita pada Yesus, kita memberikan perhatian kita pada ponsel kita dan semua kegembiraan yang mereka tawarkan. Kemudian, saat kita menghadapi badai kehidupan, kita mulai tenggelam, dan saat itulah, kita berseru, seperti Petrus, “Tuhan, selamatkan aku!”

Kita dipanggil untuk mengarahkan pandangan kita pada-Nya dan untuk belajar memiliki mata iman yang sejati. Ini adalah mata untuk melihat Ekaristi bukan hanya sebagai roti dan anggur, bukan sebagai pengulangan yang monoton, tetapi sebagai kehadiran nyata Yesus yang telah mengorbankan hidup-Nya bagi kita. Ini adalah iman yang memberdayakan kita untuk melihat kehadiran Yesus dalam kegiatan sehari-hari dan biasa kita. Jika ini sungguh menjadi iman kita, badai yang paling dahsyat sekalipun tidak dapat menenggelamkan kita karena kita memusatkan perhatian pada Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rekan Kerja Yesus

Minggu ke-18 dalam Waktu Biasa [A]

2 Agustus 2020

Matius 14: 13-21

five bread n two fishMukjizat penggandaan roti adalah salah satu dari sedikit kisah yang muncul dalam keempat Injil. Ini mungkin karena kebenaran mukjizat itu sendiri yang mengesankan dan membekas di hati para rasul. Meskipun alur ceritanya sama, setiap Penginjil telah memberikan penekanan mereka sendiri. Hari ini kita memusatkan perhatian pada Injil Matius dan penekanannya yang khas.

Salah satu penekanan ini adalah peran khusus para murid. Tentu saja, tanpa Yesus, tidak akan ada mukjizat sama sekali, tetapi Yesus memastikan bahwa murid-murid-Nya juga akan berpartisipasi dalam pekerjaan ajaib-Nya, tetapi yang luar biasa adalah para murid menanggapi dengan baik ajakan Yesus ini. Mari kita lihat beberapa detail penting dari cerita ini.

Pertama, inisiatif datang dari para murid. Para murid sebenarnya memperhatikan kondisi orang-orang yang mengikuti Yesus, dan mereka kelelahan dan kelaparan. Mereka mengusulkan solusi praktis untuk situasi ini: mengirim mereka pergi untuk mencari makanan. Mereka mungkin datang dengan rencana seperti itu karena alasan yang mulia. Mereka ingin guru mereka yang lelah serta orang-orang mendapatkan istirahat setelah hari mengajar dan penyembuhan yang panjang. Namun, mereka lupa bahwa Yesus sendirilah yang beristirahat, seperti yang pernah dikatakan-Nya, “datang kepadaku, kamu yang lesu dan berbeban berat,  Aku akan memberimu kelegaan [Mat 11:28].” Bagi Yesus, inisiatif itu patut dipuji, tetapi Dia tidak puas dengan solusinya. Karena itu, Dia berkata kepada mereka, “Kamu memberi mereka makan sendiri.”

Kita bisa membayangkan wajah para murid. Mereka saling memandang dan bingung. Namun, bukannya menolak permintaan Yesus sebagai sesuatu yang absurd, mereka malah melakukan sesuatu yang luar biasa. Mereka menawarkan kepada Yesus apa yang mereka miliki. Ini sedikit dan jauh dari cukup, namun tetap merupakan persembahan yang tulus. Dari sini, kita sudah dapat mendeteksi bahwa para murid telah berubah. Mereka telah mengikuti Guru mereka selama beberapa waktu dan mereka telah menyaksikan banyak mukjizat Yesus, mendengarkan banyak ajaran-Nya dan melihat betapa Yesus dengan sabar mengasihi orang-orang. Mereka telah tumbuh seperti Yesus. Mereka memiliki iman bahwa Yesus dapat melakukan hal yang mustahil, dan mereka menjadi lebih berbelas kasih seperti Yesus saat melihat orang yang menderita.

Tidak mengherankan bahwa setelah Yesus memberkati dan memecahkan roti, Dia memilih untuk memberikannya kepada para murid. Dia percaya sekarang bahwa para murid akan menjalankan misi-Nya untuk peduli dan mengasihi orang-orang. Memang, mereka dengan setia membawa roti tersebut kepada orang-orang. Mukjizat ini adalah langkah pertama namun penting bagi Yesus dan murid-murid-Nya, karena tak lama lagi, Yesus akan mempercayakan murid-murid ini untuk membawa Yesus sendiri kepada umat-Nya dalam Ekaristi.

Yesus pasti dapat melakukan mukjizat sendiri, dan sebagai Tuhan, Dia tidak membutuhkan bantuan siapa pun. Namun, karena kodrat-Nya adalah kasih, Dia ingin agar orang-orang yang Dia kasihi menjadi kasih sama seperti Dia. Yesus mengundang para murid untuk berpartisipasi dalam mukjizat kasih-Nya, dan agar mereka dapat belajar untuk mengasihi lebih dalam. Ketika Yesus membagikan hidup-Nya kepada mereka, para murid sebagai rekan kerja misi-Nya, pada akhirnya akan membagikan diri mereka dan mengasihi sampai akhir.

Itulah bagaimana Yesus membentuk kita sebagai murid-Nya. Dia mengundang kita untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan dan misi-Nya. Ini adalah misi untuk memberi makan, untuk peduli dan untuk mengasihi umat-Nya. Inilah keindahan iman dan agama kita. Ini bukan iman yang pasif dan tidak berdaya, namun iman yang benar-benar hidup, dibagikan dan memperkaya, iman yang tumbuh menjadi harapan dan harapan disempurnakan menjadi kasih.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Wheat among the Weeds

16th Sunday in Ordinary Time [A]

July 19, 2020

Matthew 13:24-43

wheat n weed 1The parable of the wheat and weed is one of a kind. If we survey the details, we are supposed to raise our eyebrows. Firstly, if you become a person who will destroy your opponent’s field of wheat, you know that there are several other effective ways to accomplish that. We can simply set a small fire on the wheat, and the entire field will eventually turn to be an inferno. But, the enemy chose unorthodox tactic: to sow seeds of weed during the planting period. While the weed may disturb the growth of the wheat, they will not sufficiently damage and stop the harvest.  So, what is the purpose? What is surprising is that the decision of the field’s owner. When he was notified about the presence of the weed, he immediately knew the culprit, and instead to act promptly and protect their wheat, he decided to allow the weeds to thrive among his wheat.

As expected, the disciples were puzzled by the parable, and when the disciples asked the meaning of this parable, they found another mind-blogging answer. The owner of the field is God Himself and He allowed the children of the evil one to grow among the children of God both in the world and in the Church. Yes, God allows that! He allows His children will not have a smooth journey and growth in the world. God allows His children to be harassed, bullied, and even persecuted by the evil one. God allows His children to experience trials and difficult moments. The question is why?

We may take the cue from St. Paul. He once magnificently wrote, “We know that all things work together for good for those who love God, who are called according to his purpose [Rom 8:28].” God allows bad things to happen because these are for our good! What kind of goodness why we may ask? From our human perspective, perhaps it is nothing but absurd, but from His vantage point, things fall into its proper places.

Jesus invites us to call God as Father, and letter to the Hebrews reminds us, “for the Lord disciplines those whom he loves, and chastises every child whom he accepts [Heb 12:6].” Trials and difficulties are God’s pedagogy toward whom He loves. As parents, we know care and discipline have to work hand in hand. We are well aware that true discipline is also a way of loving. If we want our children to succeed in their lives, we need to teach them to delay their gratification. We allow them to experience pain and difficulty first before we give them a reward. My parents used to ask me to study and finish their homework first before I could enjoy watching television. It resulted not only in good grades, but also my acquired habit not to run from problems, but to endure it.

I do believe that it is also the same as our Father in heaven. He loves us by allowing us to endure the pain in this world so that we may truly appreciate the spiritual gifts. Allow me to end this reflection, by quoting St. Paul, “We also boast in our sufferings, knowing that suffering produces endurance, and endurance produces character [as children of God], and character produces hope, and hope does not disappoint us..” [Rom 5:3-5]

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gandum di antara Ilalang

Minggu ke-16 di Masa Biasa [A]

19 Juli 2020

Matius 13: 24-43

wheat 1Perumpamaan tentang gandum dan ilalang adalah sangat unik. Jika kita meneliti detailnya, kita seharusnya terkejut. Pertama, jika kita menjadi orang yang akan menghancurkan ladang gandum lawan kita, kita tahu bahwa ada beberapa cara lain yang lebih efektif untuk mencapainya. Kita cukup membakar beberapa gandum, dan seluruh ladang pada akhirnya akan berubah menjadi api raksasa. Tetapi, musuh ini memilih taktik yang tidak lazim: menabur benih ilalang selama masa tanam. Sementara ilalang dapat mengganggu pertumbuhan gandum, mereka tidak akan cukup merusak dan menggagalkan panen. Jadi, apa tujuannya? Yang mengejutkan adalah keputusan pemilik ladang. Ketika dia diberitahu tentang keberadaan ilalang, dia segera tahu pelakunya, dan bukannya bertindak cepat untuk melindungi gandumnya, dia memutuskan untuk membiarkan ilalang tumbuh subur di antara gandumnya.

Seperti minggu lalu, para murid bingung dengan perumpamaan itu, dan ketika para murid menanyakan arti dari perumpamaan ini, mereka menemukan jawaban yang sekali lagi mencengangkan. Pemilik ladang adalah Allah Sendiri dan Dia mengizinkan anak-anak si jahat tumbuh di antara anak-anak Allah, baik di dunia maupun di Gereja. Tuhan sungguh mengizinkan hal itu! Dia mengizinkan anak-anak-Nya tidak akan memiliki perjalanan dan pertumbuhan yang mulus di dunia. Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya diganggu dan bahkan dianiaya oleh si jahat. Tuhan mengizinkan anak-anak-Nya mengalami cobaan dan saat-saat sulit. Pertanyaannya adalah mengapa?

Kita dapat mengambil petunjuk dari St Paul. Dia pernah menulis, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. [Rom 8:28].” Tuhan mengizinkan hal-hal buruk terjadi karena ini untuk kebaikan kita! Kebaikan macam apa ini? Dari sudut pandang manusiawi kita, mungkin ini tidak masuk akal, tetapi dari sudut pandang-Nya, segala sesuatunya terjadi dengan sangat indah bagaikan sebuah simfoni.

Yesus mengundang kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa, dan surat kepada orang-orang Ibrani mengingatkan kita, “karena Tuhan mendisiplinkan orang yang dikasihi-Nya,  dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Pencobaan dan kesulitan adalah pedagogi Tuhan terhadap siapa yang Dia kasihi. Sebagai orang tua, kita tahu bahwa kepedulian dan disiplin harus berjalan bersamaan. Kita sangat menyadari bahwa disiplin sejati juga adalah cara mencintai. Jika kita ingin anak-anak kita berhasil dalam kehidupan mereka, kita perlu mengajar mereka untuk menunda kepuasan mereka. Kita membiarkan mereka mengalami rasa sakit dan kesulitan terlebih dahulu sebelum kita memberi mereka hadiah. Orang tua saya biasanya meminta saya untuk belajar dan menyelesaikan PR terlebih dahulu, sebelum saya dapat menikmati televisi. Ini menghasilkan tidak hanya nilai baik di sekolah, tetapi juga kebiasaan saya untuk tidak lari dari masalah, tetapi untuk bersabar menghadapinya.

Saya percaya bahwa hal ini juga sama dengan Bapa kita di surga. Dia mengasihi kita dengan mengizinkan kita menanggung rasa sakit di dunia ini sehingga kita dapat benar-benar menghargai karunia rohani. Izinkan saya mengakhiri refleksi ini, dengan mengutip St. Paulus, “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita , karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,  dan ketekunan menimbulkan tahan uji [karakter sebagai anak-anak Allah-ed] dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan  tidak mengecewakan…”[Rom 5:3-5]

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus the Sower

15th Sunday in Ordinary Time [A]

July 12, 2020

Matthew 13:1-23

Processed with VSCO with e1 preset

In today’s Gospel, we observe the reaction of the disciples after Jesus spoke His first parable. They were puzzled and confused. Why? because Jesus took a sudden change of method. In previous chapters, Jesus taught them plainly, like in the sermon of the Mount [Mat 5-7], and His teachings were as clear as broad daylight. Yet, Jesus made an unexpected turn that makes many people, and including His disciple lost. What really happened?

To understand the parable, we need to see that parable has been used even before Jesus, in the Old Testament. One of the classic examples is the parable of the prophet Nathan addressed to king David [See 1 King 12]. King David has done unthinkably grave sin by committing adultery with Bathsheba and orchestrating the murder of her husband, Uriah. Then, prophet Nathan confronted David, yet indirectly by narrating him a parable. It was about a rich man who forcefully robbed a ewe of a poor man. Listening to the story, David was infuriated and declared that the rich man should die. Then, Nathan dropped the bomb: “David, you are the rich man!” Fortunately, David was a kindhearted and faithful king, and he repented when he was reminded.

That is the power of a parable. It is an indirect and concealed message to make people think deeper about themselves. Jesus began to talk in parables as Jesus realizes that the opposition of the Pharisees and the scribes were worsening, and many people who just want to be entertained rather than to follow Jesus.

Thus, the parable of the sower expresses the real condition of Jesus’ ministry. The elders and the Pharisees were like the pathway. They heard Jesus’ preaching, but still chose to be under the influence of darkness, and sought to destroy Jesus. Many people were like the rocky ground because they simply looked for Jesus to satisfy their needs. Others were like soil filled with thorns because they followed Jesus for a time, but when the trials came, they abandoned Jesus. Lastly, the rich soil was the disciples.

The parable of the sower is not reflecting different kinds of hearers of Jesus during His time, but it is also revealing the reality of our time. Some of us are like the pathway, perhaps we were baptized Catholics, but we never live as such, and still living in sin. Some of us are like rocky ground. We treat Jesus and His Church as a place of entertainment, and we simply look for ourselves rather than God. Some of us are like soil filled with thorns. We are elated of being Christians, but we do not go deeper in our faith, and when the trials or doubts hit, we easily leave the Lord. And hopefully, many of us are like rich soil. We do our best to receive God’s Word and see to it that it will grow and bear fruits.

The good news is the word of God is exceedingly powerful that even it can bear fruit is the rocky ground. Yet, the initial grace is free but it is not cheap, and we need our part. It is our mission to transform even the rocky ground into the rich soil for the Lord.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus Sang Penabur

Minggu ke-15 dalam Masa Biasa [A]

12 Juli 2020

Matius 13: 1-23

child confessionDalam Injil hari ini, kita mengamati reaksi para murid setelah Yesus berbicara perumpamaan-Nya yang pertama. Mereka bingung dan heran! Mengapa? Karena Yesus tiba-tiba mengubah metode pengajaran-Nya. Dalam bab-bab sebelumnya, Yesus mengajar mereka dengan jelas, seperti dalam khotbah di Bukit [Mat 5-7], dan ajaran-Nya sangat mudah dimengerti walaupun kadang sulit untuk dilaksanakan. Namun, Yesus membuat perubahan tak terduga yang membuat banyak orang dan termasuk murid-Nya tak paham dengan mengunakan perumpamaan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Untuk memahami perumpamaan Yesus, kita perlu melihat bahwa perumpamaan telah digunakan bahkan sebelum Yesus, secara khusus dalam Perjanjian Lama. Salah satu contoh klasik adalah perumpamaan dari nabi Natan yang ditujukan kepada raja Daud [Lihat 1 Raja 12].

Raja Daud telah melakukan dosa yang sangat besar dengan melakukan perzinaan dengan Batsyeba dan merencanakan pembunuhan suaminya, Uria. Kemudian, nabi Nathan mengecam Daud, namun secara tidak langsung dengan menceritakan sebuah perumpamaan. Ini tentang seorang pria kaya yang dengan paksa merampak anak domba seorang pria miskin. Mendengarkan cerita itu, Daud geram dan menyatakan bahwa orang kaya itu harus mati. Kemudian, Nathan membuka kartunya, “Daud, kamu adalah orang kaya itu!” Untungnya, Daud adalah raja yang baik hati dan setia, dan dia bertobat ketika dia ditegur.

Itulah kekuatan perumpamaan. Ini adalah pesan tersembunyi yang tidak langsung untuk membuat orang berpikir lebih dalam tentang diri mereka sendiri. Yesus mulai berbicara dalam perumpamaan ketika Yesus menyadari bahwa pertentangan dari orang-orang Farisi dan penatua semakin memburuk, dan banyak orang yang hanya ingin dihibur daripada mengikuti Yesus.

Dengan demikian, perumpamaan tentang penabur mengungkapkan kondisi nyata dari pewartaan Yesus. Para penatua dan orang-orang Farisi seperti jalan setapak. Mereka mendengar khotbah Yesus, tetapi masih memilih untuk berada di bawah pengaruh kegelapan, dan berusaha untuk menghancurkan Yesus. Banyak orang seperti tanah berbatu karena mereka hanya mencari Yesus untuk memuaskan kebutuhan mereka. Yang lain seperti tanah yang dipenuhi duri karena mereka mengikuti Yesus untuk sementara waktu, tetapi ketika pencobaan datang, mereka meninggalkan Yesus. Terakhir, tanah subur adalah para murid.

Perumpamaan tentang penabur tidak mencerminkan berbagai jenis pendengar tentang Yesus selama masa-Nya, tetapi juga mengungkapkan realitas zaman kita. Sebagian dari kita seperti jalan setapak, mungkin kita dibaptis Katolik, tetapi kita tidak pernah hidup seperti itu, dan masih hidup dalam dosa. Beberapa dari kita seperti tanah berbatu. Kita memperlakukan Yesus dan Gereja-Nya sebagai tempat hiburan, dan kita hanya mencari diri sendiri daripada Tuhan. Sebagian dari kita seperti tanah yang dipenuhi duri. Kita gembira menjadi orang Kristen, tetapi kita tidak masuk lebih dalam iman kita, dan ketika pencobaan atau keraguan melanda, kita dengan mudah meninggalkan Tuhan. Dan semoga, banyak dari kita seperti tanah subur. Kita melakukan yang terbaik untuk menerima Firman Tuhan dan memastikan bahwa itu akan tumbuh dan menghasilkan buah.

Kabar baiknya adalah firman Tuhan sangat berdayaguna sehingga bahkan dapat berbuah adalah tanah yang berbatu-batu sekalipun. Rahmat sungguh cuma-cuma tetapi tidak murahan, dan kita perlu melakukan bagian kita. Adalah misi kita untuk mengubah tanah berbatu menjadi tanah yang subur bagi Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Be Not Afraid

12th Sunday in Ordinary Time [A]

June 21, 2020

Matthew 10:26-33

peter image 2Jesus never promises that the disciple will have easy and prosperous lives. Jesus demands the opposite. After being chosen, the twelve disciples are sent to preach that the Kingdom is at hand, and yet they will not go like any royal emissaries with their military escort. No! They will travel as simple men going on foot and carrying minimal provision. They will rely on the generosity of their hosts, and the worst part is that they are going to face rejection.

Naturally, humans as they are, they are growing fear. Yet, Jesus tells them that this mission is just “on the job training,” because they are going to undergo something even deadlier in the future. True enough, after the Pentecost, they will preach that Jesus is Lord, and they are facing severe rejection, terrible persecution, and even gruesome death. As Jesus teaches them, “the disciples are no greater than their master.” If Jesus, their master, is rejected, insulted, and condemned to death, the disciples will share the same path. Peter is crucified upside down, James, brother of John, is beheaded, and James son of Alpheus, is stoned to death.

Jesus understands their human and natural fear, but Jesus tells them that they shall not fear. Why? The answer of Jesus is simple. Why should we fear dying if we will perish anyway? The choices are whether we die as a witness to Christ or die running from Christ?

Furthermore, Jesus reveals the real reason why we should not be afraid: we have God, who is a loving and caring Father. Jesus gives a lucid yet simple explanation: how God treats a little sparrow. Sparrow is a kind of vertebrates that is practically worthless in the eyes of merchants, but for God, this little bird is His creatures, and when He created something, He has a good plan for it, and He sees to it that this plan will unfold providentially. In the word of Christian Philosopher Peter Kreeft, even God loves mosquitos. If God cares and loves the sparrow, would He not care and love for us? Again, Jesus points out a lovely truth: God knows better than we know ourselves, even He counts our hairs!

When a sparrow falls and dies, it is part of God’s perfect plan, and so when the disciples are experiencing rejections, trials, and even death, it is also part of God’s providence. Yes, often, our sufferings can be absurd. Why do we have to lose someone we love? Why do we suffer from incurable sickness? We do not understand, but even these terrible things in life are also parts of God’s providence.

We may not see it now, but perhaps we may see it at a later time, or perhaps, we never discover the reasons because of our too narrow minds. Yet, in God’s eyes, it is totally making sense. The gruesome death of martyrs, for example, is unthinkable. Still, Tertullian, a Christian apologist in 3rd century, saw it in a deeper perspective and wrote, “We spring up in greater numbers the more we are mown down by you: the blood of the Christians is the seed of Christianity.”

Jesus does not call us to enjoy a prosperous life but to be His witnesses. Though things may turn against us, Jesus tells us not to fear and worry because, in the end, all will work according to His beautiful plan because He loves us.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jangan Takut

Minggu ke-12 dalam Masa Biasa [A]

21 Juni 2020

Matius 10: 26-33

little sparrowYesus tidak pernah berjanji bahwa murid-murid-Nya akan memiliki kehidupan yang mudah dan makmur. Yesus menuntut yang sebaliknya. Setelah dipilih, kedua belas murid diutus untuk mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, namun mereka tidak akan pergi seperti utusan kerajaan duniawi dengan pengawalan voorijder. Tidak! Mereka akan pergi sebagai orang sederhana yang berjalan kaki dan membawa persediaan ala kadarnya. Mereka akan mengandalkan kemurahan hati tuan rumah mereka, dan bagian terburuknya adalah mereka akan menghadapi penolakan.

Secara alami, mereka akan merasa takut. Namun, Yesus mengatakan kepada mereka bahwa misi ini hanya semacam “magang” karena mereka akan menjalani sesuatu yang bahkan lebih sulit di masa depan. Sungguh terjadi, setelah Pentekosta, mereka akan mewartakan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan mereka menghadapi penolakan yang keras, penganiayaan yang mengerikan, dan bahkan kematian yang keji. Seperti yang Yesus ajarkan kepada mereka, “para murid tidak lebih besar dari gurunya.” Jika Yesus, guru mereka, ditolak, dihina, dan dihukum mati, para murid akan mengikuti jalan yang sama. Petrus disalibkan terbalik, Yakobus, saudara Yohanes, dipenggal kepalanya, dan Yakobus anak Alfeus, dilempari batu sampai mati.

Yesus memahami ketakutan manusiawi mereka, tetapi Yesus mengatakan kepada mereka bahwa mereka jangan takut. Mengapa? Jawaban Yesus sederhana. Mengapa kita harus takut mati jika kita toh akan mati juga akhirnya? Pilihannya adalah apakah kita mati sebagai saksi Kristus atau mati lari dari Kristus?

Lebih jauh, Yesus mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa kita tidak perlu takut: kita memiliki Allah, yang adalah Bapa yang pengasih dan peduli. Yesus memberikan penjelasan yang cerdas namun sederhana: bagaimana Tuhan memperlakukan seekor burung pipit yang kecil. Pipit adalah jenis burung  yang tidak berharga di mata kita, tetapi bagi Tuhan, burung kecil ini adalah ciptaan-Nya, dan ketika Dia menciptakan sesuatu, Dia memiliki rencana yang baik untuknya, dan Dia memastikan bahwa rencana ini akan mencapai kepenuhannya. Dalam kata Filsuf Katolik Peter Kreeft, Tuhan pun mengasihi nyamuk. Jika Tuhan peduli dan mencintai burung pipit, akankah Dia tidak peduli dan mengasihi kita? Sekali lagi, Yesus menunjukkan kebenaran yang indah: Tuhan lebih mengenal daripada kita mengenal diri kita sendiri, bahkan Ia menghitung rambut kita!

Ketika seekor burung gereja jatuh dan mati, itu tidak lepas dari rencana Allah yang sempurna, dan ketika para murid mengalami penolakan, pencobaan, dan bahkan kematian, itu juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah. Ya, seringkali, penderitaan kita tidak bisa mengerti. Mengapa kita harus kehilangan seseorang yang kita cintai? Mengapa kita menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan? Kita tidak mengerti, tetapi bahkan hal-hal mengerikan dalam kehidupan ini juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah.

Kita mungkin tidak melihatnya sekarang, tetapi mungkin kita melihatnya di lain waktu, atau mungkin, kita tidak pernah menemukan alasannya karena pikiran kita terlalu sempit. Namun, di mata Tuhan, hal-hal terlihat sebagai sebuah lukisan yang sempurna, walaupun ada warna-warna gelap di dalamnya. Kematian para martir yang mengerikan, misalnya, tidak masuk akal. Tetapi, Tertullianus, seorang apologis Katolik pada abad ke-3, melihatnya dalam perspektif yang lebih dalam dan menulis, “Semakin kamu menghancurkan kami, kami pertumbuh semakin banyak: darah para martir adalah benih Gereja.”

Yesus tidak memanggil kita untuk menikmati kehidupan yang sukses tetapi untuk menjadi saksi-Nya. Meskipun segala sesuatu dapat berbalik melawan kita, Yesus menyatakan bahwa kita tidak perlu takut dan khawatir karena, pada akhirnya, semua akan bekerja sesuai dengan rencana-Nya yang indah karena Dia mengasihi kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Image of the Trinity

Solemnity of the Most Holy Trinity [A]

June 7, 2020

John 3:16-18

Trinity 2We are re-entering the ordinary season of the Church, and one of the greatest feasts within the ordinary time is the solemnity of the Most Holy Trinity. The Church has placed the celebration of the great feast on Sunday after the Pentecost. The reason may not be that obvious, but if we look at the bigger picture, it is nothing but a natural procession of truth. In Easter, we are celebrating the resurrection of Jesus that cements the divinity of Christ. On the Pentecost, we witness the divinity of the Holy Spirit being affirmed [see last Sunday’s reflection]. Now, we are rejoicing for the Three divine persons in God.

The Trinity Sunday is admittedly the most dreaded by many preachers because many are still at a loss of how to show the beauty of this most profound truth, and others are afraid to explain the Trinity because they may spread erroneous concepts. After all, we are facing the source and summit of all mysteries, the mystery of all mysteries. However, it is not the right excuse not to bring forth the beauty of the Holy Trinity. The preachers have to roll up their sleeves and spend more time in researching and preparing our homilies.

In my reflection, I would like to bring you to the Old Testament. In the Old Testament, the reality of the Trinity is hidden in most parts, and yet the sacred truth comes up in the surprisingly key moments. Let us read Gen 1:1-3, “In the beginning when God created the heavens and the earth, the earth was a formless void and darkness covered the face of the deep, while a wind from God swept over the face of the waters. Then God said, “Let there be light,”; and there was light.” The early Christians like St. Irenaeus of Lyon, immediately saw this as Trinity working as one, God, the Spirit, and the Word. The good news is that the creation is the masterpiece of the Holy Trinity, and to a certain degree, it reflects the perfection of the Trinity.

And wait, something more! In Gen 1:26, when God created the man and the woman, God said, “let us create the man and woman in our image and likeness.” This passage is a bit strange because why God, who is one, suddenly self-refer in plural? The Jewish tradition would interpret that God is addressing His heavenly council, the angels, but again, the Christian tradition instinctively saw them as the three divine persons. The good news is that if we are created in the image of God, and if our God is the Trinity, then we are created in the image of Trinity.

This explains a lot of things. Indeed, we cannot fully comprehend the mystery, but we surprisingly are very close to this mystery. Trinity is both our origin and destiny. As the image of Trinity, we cannot discover real joy by hoarding things to ourselves. We cannot be selfish and truly delighted at the same time. Like the Father and the Son love each other in the Holy Spirit, we are called to give ourselves to others in life.

Why does the Catholic Church fearlessly defend the sacredness of marriage? Because through marriage, the man and woman may give themselves totally to each other in love. Their love is so strong that love can give birth to life. When this new life [children] come to their lives, their love can grow even exponentially. In loving and giving ourselves, we may find the fullness of our identity, the image of Trinity. Indeed, it is tough, but the good news is that we are designed to give love and life. Holy Trinity is our origin, and Holy Trinity is our destiny.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Citra Trinitas

Hari Raya Tritunggal Mahakudus

7 Juni 2020

Yohanes 3: 16-18

trinity 3Kita memasuki kembali masa biasa Gereja, dan salah satu perayaan terbesar dalam masa biasa adalah kesungguhan Tritunggal Mahakudus. Gereja telah menempatkan perayaan besar ini pada hari Minggu setelah Pentekosta. Alasannya mungkin tidak begitu jelas bagi kita, tetapi jika kita melihat gambaran yang lebih besar, itu sebenarnya adalah prosesi kebenaran yang wajar. Di Paskah, kita merayakan kebangkitan Yesus yang mengukuhkan keilahian Kristus, dan pada hari Pentekosta, kita menyaksikan keilahian Roh Kudus ditegaskan [lihat refleksi hari Minggu lalu]. Sekarang, kami bersukacita karena Tiga pribadi Ilahi di dalam Tuhan.

Tritunggal Minggu diakui sebagai yang paling ditakuti oleh banyak pastor atau romo karena banyak yang masih bingung bagaimana menunjukkan kebenaran yang paling dalam ini dan yang lain takut untuk menjelaskan Tritunggal karena bisa-bisa menyebarkan konsep yang keliru. Lagipula, kita berhadapan dengan sumber dan puncak semua misteri iman. Namun, itu bukan alasan yang tepat untuk tidak menampilkan keindahan Tritunggal yang mahakudus. Para imam harus bekerja keras dan menghabiskan lebih banyak waktu dalam belajar dan mempersiapkan homili.

Dalam renungan ini, saya ingin membawa kita semua kembali ke Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, realitas Tritunggal tersembunyi di sebagian besar ayat, namun kebenaran suci ini tampak di saat-saat fundamental. Mari kita baca Kejadian 1: 1-3, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk  dan kosong gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang” Lalu terang itu jadi” Umat Kristiani perdana seperti St. Irenaeus dari Lyon, segera melihat ini sebagai Trinitas yang bekerja sebagai satu, Allah, Roh dan Firman. Kabar baiknya adalah bahwa dunia dan segala ciptaan adalah mahakarya dari Tritunggal Mahakudus, dan sampat tingkat tertentu, ciptaan itu mencerminkan kesempurnaan Tritunggal.

Selain itu, dalam Kejadian 1:26, ketika Tuhan menciptakan pria dan wanita, Tuhan berkata, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” Perikop ini sedikit aneh karena Allah yang satu tiba-tiba menyebut diri sendiri dalam bentuk jamak. Tradisi Yahudi menafsirkan hal ini bahwa Allah berbicara kepada dewan surgawi-Nya, para malaikat, tetapi sekali lagi, tradisi Kristiani melihat ini sebagai tiga pribadi Ilahi. Kabar baiknya adalah bahwa jika kita diciptakan menurut citra Allah, dan jika Allah kita adalah Tritunggal, maka kita adalah citra Tritunggal.

Memang benar bahwa kita tidak dapat sepenuhnya memahami misteri Ilahi, tetapi kita sebenarnya tidak jauh dari misteri ini. Bahkan, kita diundang untuk seperti Trinitas. Sebagai citra Trinitas, kita tidak dapat menemukan sukacita sejati dengan menimbun hal-hal duniawi seperti kekayaan, ketenaran untuk diri kita sendiri. Seperti Bapa dan Putra saling mengasihi dalam Roh Kudus, kita dipanggil untuk memberikan diri kita kepada sesama dalam kasih.

Ini mengapa Gereja Katolik terus menjaga kesakralan pernikahan. Karena melalui pernikahan, pria dan wanita dapat memberikan diri mereka sepenuhnya satu sama lain. Cinta kasih mereka begitu kuat sehingga cinta kasih ini bahkan bisa melahirkan kehidupan baru. Dan saat kehidupan baru ini [anak] datang di tengah hidup sang pria dan wanita, kasih mereka dapat semakin tumbuh bahkan secara eksponensial. Dan dalam pernikahan dan keluarga, kita menemukan identitas kita sebagai citra Trinitas, dan saat kita menemukan hal ini, kita menemukan makna terdalam hidup kita.

Memang mengasihi sangat sulit, tetapi kabar baiknya adalah kita dirancang untuk memberikan kasih dan kehidupan. Tritunggal Mahakudus adalah asal usul kita, dan Tritunggal Mahakudus adalah tujuan kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP