Roh Kudus dan Karunia-karunia-Nya

Pentekosta [C]

8 Juni 2025

1 Kor 12:3-13

Hari ini, Gereja merayakan Pentekosta, hari Roh Kudus turun di atas para rasul dan murid-murid Yesus yang pertama, yang menandai dimulainya Gereja. Sejak saat itu, Roh Kudus, pribadi ketiga dari Tritunggal Mahakudus, telah memainkan peran sentral dalam membimbing dan menopang kehidupan Gereja. Roh Kudus bekerja melalui rahmat dan karunia-karunia-Nya. Tidaklah mengherankan jika kita menyebut Pentekosta sebagai hari raya Roh Kudus. Namun, ketika kita merenungkan karunia-karunia rohani ini, kita harus bijak karena ada bahaya yang mungkin kita hadapi. Bahaya apakah itu?

Kita hidup di masa ketika banyak umat Kristiani – baik Katolik maupun non-Katolik – mengalami karunia-karunia Roh Kudus dengan cara yang luar biasa. Pencurahan yang berlimpah ini telah menyadarkan kita akan kehadiran Roh Kudus yang aktif dalam hidup kita. Beberapa orang telah menerima karunia bernubuat, mengucapkan kata-kata yang memanggil orang lain untuk bertobat. Yang lainnya telah diberi karunia penyembuhan, menjadi alat Roh Kudus memulihkan kesehatan orang-orang sakit. Yang lainnya lagi berdoa dalam bahasa roh, pujian-pujian mereka mengalir dalam bahasa yang tidak mereka pahami (untuk daftar karunia-karunia Roh Kudus, lihat 1 Kor. 12:8-10). Ini adalah pengalaman-pengalaman yang luar biasa, bahkan mengubah hidup banyak orang.

Namun, meskipun karunia-karunia ini seharusnya memenuhi kita dengan rasa syukur dan memperdalam kesadaran kita akan karya Roh Kudus, ada bahaya jika kita terlalu berfokus pada karunia-karunia itu sendiri. Beberapa dari kita mulai terpaku pada sensasi yang kita rasakan daripada Sang Pemberi, bahkan memperlakukan karunia-karunia rohani sebagai ukuran iman. Beberapa dari kita mungkin percaya bahwa berbahasa roh adalah bukti kekudusan, atau bahwa tidak adanya mukjizat kesembuhan berarti kita jauh dari Allah. Kita yang menerima karunia-karunia dapat menjadi sombong, sementara kita yang tidak menerimanya mungkin merasa gagal dalam kehidupan Kristiani kita.

Pola pikir seperti ini tidak hanya tidak benar tetapi juga berbahaya. Dan meskipun ini mungkin tampak seperti masalah modern, pergumulan yang sama juga terjadi pada Gereja mula-mula. Hampir dua ribu tahun yang lalu, Gereja di Korintus diberkati dengan berbagai karunia rohani, namun komunitas mereka terganggu oleh perpecahan, kekacauan dalam ibadah, dan kesombongan. Mereka membandingkan karunia-karunia, bersaing untuk menentukan siapa yang memiliki karunia yang “lebih baik”, dan bahkan menggunakannya sebagai ukuran keunggulan rohani.

Paulus mengkritisi pola pikir yang salah ini, mengingatkan mereka bahwa karunia-karunia rohani bukanlah untuk kemuliaan pribadi, tetapi untuk membangun Gereja (1 Kor 12:7). Ia mengajarkan kepada mereka bahwa karunia yang paling penting bukanlah karunia bahasa roh, kesembuhan atau mukjizat, tetapi karunia kasih. Ia bahkan menulis secara khusus kepada mereka yang mencari karunia bahasa roh, “Jika aku berkata-kata dengan bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi tidak mempunyai kasih, maka aku adalah gong yang nyaring dan simbal yang bergemerincing (1 Kor 13:1).” Dia memperingatkan bahwa mengejar karunia-karunia yang spektakuler tanpa cinta kasih tidak ada artinya.

Yesus sendiri mengajarkan bahwa karunia terbesar yang diberikan Bapa kepada kita adalah Roh Kudus (Luk. 11:13), dan karunia terbesar yang diberikan Roh Kudus adalah kasih. Karena dengan mengasihi, kita menemukan kepenuhan hidup.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita meminta Roh Kudus kepada Bapa? Apakah kita berdoa kepada Roh Kudus? Apa yang kita minta dari Roh Kudus? Apakah kita meminta karunia-karunia Roh Kudus dan untuk tujuan apa? Apakah kita memohon karunia untuk mengasihi?

Kita dan Paus Kita

Minggu ke-6 Paskah [C]

25 Mei 2025

Kisah Para Rasul 15:1-2, 22-29

Gereja Katolik menghadapi momen yang penting dan bersejarah pada Paskah 2025 ini. Paus Fransiskus, sosok yang dicintai namun penuh dengan polemik, meninggal dunia hanya sehari setelah menyampaikan berkat Minggu Paskah. Misa pemakamannya pada hari Sabtu berikutnya menarik ratusan ribu pelayat, yang mencerminkan dampak mendalam dari kepausannya. Ketika para kardinal berkumpul untuk konklaf, dunia menyaksikan dengan penuh antisipasi. Kemudian, pada tanggal 8 Mei, asap putih mengepul dari Kapel Sistina. “Habemus Papam!” Kita memiliki paus baru, dan namanya adalah Leo XIV, soerang paus dari Amerika Utara pertama dan juga pertama dari Ordo Santo Agustinus. Ribuan orang bersukacita di Lapangan Santo Petrus, berharap akan sebuah babak baru dalam Gereja.

Warisan Paus Fransiskus diwarnai dengan kekaguman dan kontroversi. Banyak yang mengapresiasi belas kasihnya kepada kaum miskin dan terpinggirkan, sementara yang lain bergumul dengan beberapa pernyataan dan keputusannya. Kini, dengan terpilihnya Paus Leo XIV, ada harapan akan persatuan dan perdamaian dalam Gereja. Namun, seperti halnya pemimpin manusia lainnya, dia juga akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita. Lalu, bagaimana kita harus menanggapi kenyataan ini?

Kuncinya terletak pada pembedaan antara devosi sejati dari fanatisme. Fanatisme adalah sebuah ketertarikan yang tidak teratur yang mendistorsi persepsi kita terhadap kepausan. Efeknya adalah mengubah kekaguman menjadi penyembahan berhala. Fanatisme membutakan kita terhadap kemanusiaan seorang paus, membuat kita percaya bahwa ia tidak dapat salah dalam segala hal, tidak hanya dalam hal iman dan moral, dan membuat kita mengabaikan atau menyerang mereka yang mengkritiknya. Lebih buruk lagi, hal ini dapat mengarah pada penghinaan terhadap paus-paus lain hanya karena mereka berbeda dengan paus idaman kita. Fanatisme ini sering menjadi bumerang; ketika paus yang kita idam-idamkan tidak sesuai dengan harapan, kekecewaan pun muncul, bahkan terkadang membuat kita menjauh dari Gereja.

Di sisi lain, devosi yang sejati berakar pada kasih kepada Kristus, yang mempercayakan Petrus dan para penerusnya untuk menjaga kawanan domba-Nya (Yoh 21). Kita menghormati Paus bukan terutama karena kualitas pribadinya, tetapi karena peran sucinya sebagai Wakil Kristus. Secara sederhana, kita mengasihi para paus karena kita mengasihi Yesus.

Bacaan pertama mengingatkan kita akan kepemimpinan Santo Petrus dalam Gereja mula-mula. Ketika para rasul dan penatua berkumpul di Yerusalem dan memperdebatkan apakah orang-orang non-Yahudi yang percaya, perlu mengikuti hukum Musa. Beberapa penatua menginginkan agar mereka menjadi orang Yahudi sebelum menjadi orang Kristen, yang berarti mereka harus disunat dan mengikuti hukum Taurat secara ketat. Paulus dan Barnabas menginginkan agar orang-orang non-Yahudi yang percaya terbebas dari hukum Musa. Akhirnya, Petrus berdiri dan membuat keputusan akhir: mereka tidak terikat oleh hukum Musa. Konsili ini menerima otoritas Petrus, karena mereka tahu bahwa otoritas itu berasal dari Kristus. Namun, Petrus sendiri bukanlah orang yang sempurna. Sebagai contoh, Paulus secara terbuka mengoreksi Petrus karena ia gagal menegakkan ajarannya sendiri (Gal 2:11-14). Teguran Paulus tidak lahir dari kebencian, tetapi dari kasih; sebuah hasrat untuk menguatkan Petrus dalam misinya yang diberikan Allah.

Seperti Petrus, setiap paus memikul tanggung jawab yang berat untuk menggembalakan Gereja. Dan seperti Petrus, mereka tetaplah manusia biasa yang rentan terhadap kelemahan dan kesalahan. Peran kita adalah untuk mendukung mereka dengan doa, terutama pada saat-saat sulit, dan untuk terus membangun Gereja dengan pengharapan dan kebijaksanaan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita melihat para paus kita? Bagaimana kita mencintai para paus kita? Apakah kita pernah bergumul untuk memahami para paus kita? Seberapa sering kita mendoakan para

Dua Cara Mewartakan Injil

Minggu ke-5 Paskah [C]

18 Mei 2025

Kisah Para Rasul 14:21-27

Dalam bacaan pertama, kita telah mendengar tentang perjalanan misi Santo Paulus dan rekannya Santo Barnabas. Misi mereka menunjukkan kepada kita bagaimana Gereja perdana memenuhi perintah Yesus, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku (Mat 28:19).” Jadi, apa yang dapat kita temukan dari teladan mereka?

Pertama, mari kita simak kisah Santo Paulus secara keseluruhan. Setelah pertobatannya, Paulus tinggal di Antiokhia (sekarang di Turki bagian tenggara), di mana ia menjadi seorang guru dan nabi yang dihormati. Kemudian Roh Kudus memanggil Paulus dan Barnabas untuk dikhususkan bagi pekerjaan Tuhan. Komunitas Kristiani menugaskan mereka untuk mewartakan di tempat-tempat di mana Injil belum pernah didengar. Mereka melakukan perjalanan ke berbagai tempat termasuk pulau Siprus dan kota-kota di Turki selatan – Antiokhia Pisidia, Ikonium, Derbe, dan Listra.

Mereka memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi di tempat-tempat tersebut, membawa banyak jiwa percaya kepada Yesus Kristus. Namun, Paulus dan Barnabas tahu bahwa mereka tidak akan tinggal di sana secara permanen, tetapi mereka harus melanjutkan perjalanan mereka untuk memberitakan Injil di lebih banyak tempat lagi. Untuk menjaga komunitas Kristiani yang baru didirikan ini, mereka mengangkat “penatua” (Yunani: presbuteroi). Para penatua ini menjadi pemimpin yang stabil dalam komunitas, yang bertanggung jawab untuk memimpin ibadah, memberitakan Injil, dan memelihara disiplin rohani.

Lalu, apa yang dapat kita pelajari dari perjalanan misi Paulus? Kita melihat setidaknya ada dua cara yang sangat penting dalam memberitakan Injil. Cara pertama adalah pergi memberitakan Injil ke tempat yang belum pernah mendengar Injil dan di mana iman belum berakar. Mereka yang mengikuti jalan ini biasanya disebut misionaris. Para misionaris cenderung berpindah dari satu tempat ke tempat lain ketika kebutuhan akan Injil muncul. Cara kedua berfokus pada pendalaman pemahaman Injil dan kedewasaan iman bagi mereka yang sudah percaya, memelihara dan melindungi iman mereka. Dalam tradisi Katolik, cara kedua ini dilakukan oleh para “penatua” – para uskup yang dibantu oleh para imam dan diakon, yang tinggal lebih stabil dalam komunitas yang mereka layani.

Di sisi lain, perbedaan antara misionaris dan penatua tidaklah kaku. Orang yang sama bisa berperan baik sebagai misionaris dan penatua. Contoh sederhana adalah Paus Leo XIV. Sebelum menjadi Paus, beliau adalah seorang imam Ordo St. Agustinus dari Amerika Serikat yang menjadi misionaris di Peru. Kemudian dia menjadi uskup Chiclayo, Peru. Identitas misionaris dan penatua menyatu di dalam dirinya.

Namun, kita harus ingat bahwa tugas pewartaan Injil tidak hanya diberikan kepada para misionaris atau penatua, tetapi juga kepada kita semua. Kita pun dapat dan harus mempraktikkan kedua cara kuno untuk memberitakan Injil. Di dunia modern ini, kesempatan untuk membagikan Injil sangatlah berlimpah. Kita dapat mengkomunikasikan berbagai aspek dari iman kita, mulai dari kebenaran hingga keindahannya, melalui berbagai platform media sosial. Interaksi pribadi dengan teman dan saudara juga memberikan kesempatan untuk memperkenalkan iman kita. Bahkan jika kita merasa sulit untuk menjelaskan iman kita dengan kata-kata, kita selalu dapat mengundang kerabat dan teman-teman kita untuk bergabung dengan kita di Misa.

Para orang tua secara khusus mewujudkan kedua pendekatan ini secara bersamaan. Para orang tua dipanggil untuk memperkenalkan iman kepada anak-anak mereka melalui baptisan dan katekese dasar, mengajar mereka cara berdoa dan membagikan kebenaran-kebenaran mendasar dari iman. Seperti para penatua Gereja, para orang tua kemudian harus terus memelihara iman anak-anak mereka melalui gaya hidup yang sesuai ajaran Injil, doa, dan bimbingan. Kita juga harus mendukung para katekis kita yang bekerja tanpa lelah untuk memperkenalkan dan memperdalam iman, terlepas dari banyaknya tantangan yang mereka hadapi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Bagaimana kita mewartakan Injil dalam situasi-situasi khusus kita? Siapa yang secara khusus membutuhkan kita untuk memperkenalkan mereka kepada Yesus? Sudahkah kita menolong orang-orang yang dekat dengan kita untuk bertumbuh lebih dekat dengan Tuhan? Apakah orang lain mengenali kita sebagai orang yang membawa Yesus bersama kita?

Mendengarkan Suara Tuhan

Minggu ke-4 Paskah [C]

11 Mei 2025

Yohanes 10:27-30

Pendengaran adalah salah satu indra yang paling mendasar yang membuat kita menjadi manusia. Memang benar bahwa kita sangat bergantung pada penglihatan untuk menavigasi dunia, tetapi pendengaran membedakan kita dengan makhluk lain. Bagaimana penjelasannya?

Tentu saja, manusia tidak memiliki indra pendengaran yang terbaik. Banyak hewan yang memiliki kemampuan pendengaran yang jauh lebih baik. Sebagai contoh, kelelawar memiliki indra pendengaran seperti sonar, yang memungkinkan mereka untuk mengukur jarak melalui suara. Telinga manusia jauh lebih lemah jika dibandingkan dengan hewan-hewan ini. Namun, terlepas dari kapasitas pendengaran kita yang sepertinya biasa saja, kita memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh hewan lain: kemampuan untuk mengasosiasikan suara dengan makna. Dengan kata lain, kita dapat menciptakan bahasa. Kemampuan berbahasa ini berarti kita dapat membedakan kata-kata yang bermakna dari suara yang tidak berarti.

Melalui mendengarkan, manusia purba membangun keluarga dan komunitas. Mereka mendengarkan para pemimpin mereka untuk mendapatkan panduan dalam mempertahankan diri dari binatang buas dan bertahan hidup di lingkungan yang keras. Dengan mendengarkan, mereka menerima kebijaksanaan para tetua mereka dan kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mendengar kata-kata yang bermakna adalah hal yang membuat kita hidup dan tumbuh sebagai manusia.

Sayangnya, kita sekarang hidup di dunia yang penuh dengan suara kebisingan yang tidak ada artinya sama sekali, dari sekedar polusi pendengaran, musik-musik yang tidak jelas, dan bahkan kata-kata kasar, penuh kebohongan dan bahkan kutukan. Apa yang sering kita dengar tidak lagi berguna bagi kelangsungan hidup atau pertumbuhan kita, melainkan hanya apa yang berteriak paling keras. Kita tidak lagi mendengarkan akal sehat, kebijaksanaan dari masa lalu, dan yang paling penting, firman Tuhan. Jika orang-orang zaman dahulu menyadari bahwa mendengarkan para pemimpin mereka sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka, kita pun harus menyadari bahwa mendengarkan Tuhan kita, Yesus Kristus, bukanlah suatu opsi, tetapi ini adalah masalah keselamatan jiwa kita.

Jadi, bagaimana kita dapat belajar untuk mendengarkan dengan penuh perhatian suara Gembala kita yang sejati?

Pertama, sama seperti domba yang mendengarkan suara gembalanya demi keselamatannya, kita harus mengenali suara Gembala kita dan mengikuti petunjuk-Nya – karena keselamatan kekal kita bergantung padanya. Kedua, untuk mengenali suara-Nya, kita harus menjadi terbiasa dengannya. Hal ini dapat dicapai dengan terus mendengarkannya, dengan membaca Kitab Suci secara teratur, mempelajari ajaran-ajaran-Nya secara khusus yang telah diajarkan Gereja, dan terlibat dalam doa yang mendalam. Ketika kita menjadi terbiasa dengan suara Tuhan, kita juga bisa belajar untuk membedakan suara-suara yang tidak berasal dari-Nya, suara-suara dari keinginan kita sendiri, dunia, dan roh-roh jahat. Ketiga, mendengar harus membawa kepada tindakan. Mendengar tanpa ketaatan tidak ada artinya, atau bahkan lebih buruk lagi, itu berarti mengikuti tuntunan musuh.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita mengenal suara Tuhan kita? Suara-suara seperti apa yang kita dengarkan? Apakah kita dapat membedakan suara-suara yang berbeda dalam hidup kita? Firman Tuhan apa yang paling berkesan dan menjadi panduan hidup kita selama ini?

Kisah Seorang Ayah

Minggu ke-4 Masa Prapaskah [C]

30 Maret 2025

Lukas 15:1-3, 11-32

Kisah Anak yang Hilang adalah salah satu perumpamaan yang paling indah dalam Injil. Tidak hanya diceritakan dengan indah, tetapi juga mengajarkan pelajaran yang mendalam – terutama tentang menjadi orang tua.

Membesarkan anak bukanlah tugas yang mudah. Setiap anak memiliki kepribadian yang unik, dan masing-masing dapat membawa sukacita, namun juga sakit hati. Banyak dari kita yang bergulat menjadi orang tua yang baik. Beberapa mengandalkan kebijaksanaan yang diturunkan dari orang tua kita dan orang sekitar kita, atau  dari pengalaman dan memori bagaimana kita dibesarkan. Sebagian lagi beralih ke media sosial atau influencers yang menyebut diri sebagai “pakar parenting.”  Beberapa orang melakukan langkah lebih jauh dengan berkonsultasi dengan spesialis yang sebenarnya, seperti dokter anak, psikiater dan psikolog anak, dan pendidik. Namun, pada akhirnya, anak-anak kita bukanlah fotokopi dari diri kita. Akan selalu ada kejutan-kejutan di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa dan berharap mereka tumbuh menjadi diri mereka yang terbaik.

Sang ayah dalam perumpamaan ini memberikan teladan yang baik kepada kita. Meskipun telah melakukan yang terbaik untuk membesarkan kedua putranya, dia menghadapi relasi yang menyakitkan dengan keduanya. Anak bungsunya menuntut warisannya, memutuskan hubungan, dan pergi untuk menjalani kehidupan yang penuh dosa. Bayangkan betapa hancurnya hati sang ayah karena putranya memperlakukannya sebagai barang yang bisa dibuang, bukan sebagai orang tua. Anak sulungnya juga tidak lebih baik. Ketika adiknya kembali, dia menolak untuk masuk ke rumah dan bergabung dalam perayaan. Dia tidak pernah memanggil ayahnya dengan sebutan “Ayah,” dan memanggil saudaranya dengan sebutan “anakmu” daripada “saudaraku.” Dia melihat dirinya bukan sebagai anak tetapi sebagai hamba, bahkan berkata, “Lihat! Selama ini saya telah bekerja untukmu seperti seorang budak!” Sekali lagi, hati sang ayah pasti hancur karena ia telah membesarkan seorang anak, bukan seorang budak.

Namun, terlepas dari semua pergulatan ini, sang ayah tidak pernah menyerah. Dia tidak pernah berhenti berharap anak-anaknya kembali. Ketika anak yang hilang itu pulang dan berharap untuk menjadi seorang hamba, sang ayah adalah orang pertama yang melihat anaknya, berlari mengejarnya, dan memeluknya. Dia memanggilnya “anakku” dan bukan hamba. Ketika anak pertama menolak untuk pulang, sang ayah mencarinya dan memohon kepadanya, memanggilnya “anakku” dan bukan hamba, menjelaskan bahwa semua yang dia miliki, adalah juga milik anaknya.

Banyak dari kita yang dikaruniai anak tetapi mengalami hubungan yang tidak selalu sempurna. Terlepas dari upaya terbaik kita, anak-anak kita mungkin tidak menjadi seperti yang kita harapkan. Beberapa, seperti anak bungsu, menolak cinta kita atau berharap kita pergi. Yang lainnya, seperti anak sulung, melihat kita sebagai bos atau atasan, bukan sebagai orang tua. Namun, perumpamaan ini memanggil kita untuk mengasihi dengan tekun, dan sampai akhir. Itulah orang tua yang sejati. Itulah kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita membesarkan anak-anak kita dengan baik? Bagaimana hubungan kita dengan mereka? Apakah kita menghadapi kesulitan dalam berhubungan dengan anak-anak kita? Bagaimana kita menanggapi tantangan-tantangan ini? Apakah kita mengandalkan kasih karunia Allah untuk membimbing kita?

Kata-kata dari Hati

Minggu ke-8 dalam Masa Biasa [C]

2 Maret 2025

Lukas 6:39-45

Kitab Putra Sirakh mengatakan, “Janganlah kamu memuji seseorang sebelum ia berbicara, karena pada saat itulah orang diuji (27:7).” Ini berarti bahwa untuk benar-benar mengenal seseorang, kita harus mendengarkan perkataannya, karena perkataannya mengungkapkan banyak hal tentang siapa dia. Sesungguhnya, kata-kata kita menyingkapkan banyak aspek dalam hidup kita. Dari pilihan kata-kata kita, orang lain dapat mengukur pengetahuan dan kapasitas intelektual kita. Cara kita berbicara juga dapat mengungkapkan beberapa karakteristik dominan kita. Lebih jauh lagi, kata-kata kita mengekspresikan keyakinan dan apa yang kita pegang teguh. Namun, mengekspresikan kata-kata hanyalah satu sisi dari cerita.

Kata-kata memang bisa mengungkapkan siapa diri kita, namun juga dapat digunakan untuk menipu dan memanipulasi. Kita dapat menggunakan kata-kata untuk membuat orang lain percaya akan sesuatu tentang diri kita yang mungkin tidak benar. Kita dapat mengatakan hal-hal yang justru menyamarkan bagian dari diri kita. Kita dapat mengucapkan kata-kata yang menyenangkan dan membesarkan hati, dengan tujuan untuk mendapatkan dukungan dari orang lain.

Orang-orang di zaman kuno telah lama menyadari kekuatan kata-kata dan mengembangkan seni yang disebut “retorika” (secara harfiah berarti seni berbicara atau seni persuasi). Aristoteles menulis buku panduan klasiknya tentang retorika sekitar tahun 350 SM, ketika mengajar di sekolahnya, Lyceum, di Athena kuno. Buku panduannya menjadi standar bagi banyak orator yang berusaha meyakinkan, membujuk, dan mempengaruhi banyak orang. Aristoteles mengidentifikasi tiga elemen retorika: ethos (kredibilitas pembicara), logos (argumen logis), dan pathos (dampak emosional pada pendengar). Seorang orator yang baik harus menggabungkan ketiga elemen tersebut dalam pidatonya.

Sayangnya, banyak orang yang mudah terbujuk oleh pathos saja, karena kita senang mendengar kata-kata yang dramatis, bahkan bombastis – kata-kata yang menyenangkan bagi kita. Secara alamiah, kita cenderung menghindari kata-kata yang menyakitkan atau tidak menyenangkan. Kita tidak menyukai orang yang berbicara secara kritis tentang kita, terlepas dari etos, logos, atau bahkan aletheia (kebenaran). Kadang-kadang, kita mengikuti dan bahkan mengidolakan seseorang karena kita “terhipnotis” oleh kata-kata mereka. Dan kita kemudian percaya bahwa mereka kredibel, jujur, dan bahkan “kudus”. Kita kemudian menolak untuk mengakui bukti-bukti bahwa kata-kata mereka tidak benar atau bahkan berbahaya bagi kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan kita bahwa “dari kepenuhan hati, mulut berkata-kata” (Luk. 6:45). Apa yang ada di dalam hati kita tercermin dalam kata-kata kita. Jika hati kita dipenuhi dengan kejahatan, kata-kata kita mungkin terdengar manis, tetapi bisa jadi manipulatif dan mementingkan diri sendiri. Jika hati kita dipenuhi dengan kasih yang tulus, kata-kata kita mungkin tidak selalu enak didengar, tetapi kata-kata itu akan menjadi kebaikan sejati bagi mereka yang kita kasihi. Kata-kata Yesus kepada murid-murid-Nya tidak selalu manis dan sering kali sulit untuk diterima. Ungkapan-ungkapan seperti “kasihilah musuhmu (Luk. 6:27)”, “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu (Mat. 19:18)”, “juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin (Luk. 18:22)”, dan “jikalau kamu tidak makan tubuh-Ku, kamu tidak mempunyai hidup (Yoh. 6:53)” memang sulit untuk dicerna, namun semua itu dimaksudkan untuk kebaikan kita yang hakiki, yakni keselamatan kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Pemandu:

Apa yang ada di dalam hati kita? Apakah pikiran kita baik, murni, dan mulia, ataukah egois, jahat, dan licik? Bagaimana kita menggunakan kata-kata kita? Apakah kita menggunakan kata-kata yang mendorong atau mematahkan semangat? Apakah kata-kata kita membangun atau meruntuhkan orang lain? Apakah kita mengikut Yesus, bahkan ketika firman-Nya sulit?

Siapakah Teofilus?

Hari Minggu ke-3 dalam Masa Biasa [C]
26 Januari 2025
Lukas 1:1-4; 4:14-21

Lukas mendedikasikan Injilnya kepada seorang yang bernama Teofilus, tetapi siapakah dia sebenarnya? Dan mengapa Lukas mendedikasikan Injilnya kepadanya?

Ada beberapa teori yang menarik tentang Teofilus. Teori yang paling banyak diterima adalah bahwa ia adalah sponsor Lukas dalam menulis Injilnya. Dua ribu tahun yang lalu, memproduksi sebuah buku sangatlah mahal. “Kertas” dibuat dari kulit binatang atau dari papirus, tanaman yang hanya tumbuh di sepanjang Sungai Nil di Mesir. Selain itu, Lukas juga harus menanggung “biaya penelitian”. Tidak seperti penginjil lainnya, Lukas bukanlah saksi mata dari peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus. Oleh karena itu, untuk membuat dokumen yang terpercaya secara historis, ia harus melakukan perjalanan dan mewawancarai para saksi mata, seperti beberapa rasul dan Maria, ibu Yesus.

Karena tidak ada mesin cetak pada saat itu, Lukas harus menulis tangan teksnya atau menyewa seorang stenografer atau penyalin, yang secara signifikan meningkatkan biaya.
Injil Lukas adalah Injil terpanjang dari keempat Injil (berisi paling banyak jumlah kata). Lukas juga menulis Kisah Para Rasul. Bersama-sama, kedua karya ini mencakup hampir sepertiga dari seluruh Perjanjian Baru. Tidak heran jika Lukas membutuhkan dukungan finansial dari luar biasa untuk proyeknya yang mahal ini.

Lukas menyebut Teofilus sebagai “κράτιστος” (kratistos), yang biasanya diterjemahkan sebagai “yang mulia”. Gelar ini biasanya digunakan untuk menyebut seseorang yang memiliki status dan pangkat yang tinggi. Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa Teofilus lebih dari sekadar mampu untuk mendukung Lukas dalam menulis Injil. Tetapi pertanyaan berikutnya muncul: Apa hubungan Teofilus dengan Yesus? Apakah ia seorang murid yang telah dibaptis dan anggota Gereja perdana? Ataukah dia hanya seorang yang kebetulan ingin belajar tentang kehidupan Yesus?

Jika Teofilus adalah seorang beriman yang telah dibaptis, Lukas mungkin menulis Injilnya untuk memperdalam pengetahuan Teofilus tentang Yesus. Mungkin Teofilus akan menggunakan Injil ini untuk mengajar komunitas Kristiani lokal atau parokinya. Namun, jika Teofilus belum dibaptis, Injil dapat berfungsi sebagai sarana penginjilan, memperkenalkan Kristus kepadanya dan dengan penuh harapan menuntun dia dan keluarganya kepada iman.

Teori lain yang menarik adalah bahwa nama “Teofilus” tidak merujuk kepada satu orang saja, melainkan kepada semua orang percaya. “Teofilus” berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani: “Theos” (yang berarti ‘Tuhan’) dan ‘Philos’ (yang berarti ‘teman’ atau ‘orang yang mengasihi sebagai teman’). Oleh karena itu, Teofilus merujuk kepada siapa pun yang mengasihi Tuhan dan ingin memiliki persatuan dengan-Nya. Dalam hal ini, Teofilus mewakili semua umat Kristiani di sepanjang zaman yang mencari persahabatan yang lebih dalam dengan Tuhan dengan belajar dan mengontemplasikan kehidupan Yesus melalui Injil Lukas. Dengan cara ini, Lukas mendedikasikan karyanya untuk kita semua.

Pada akhirnya, kita mungkin tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya Teofilus, dan kita harus menunggu sampai kita sampai di surga untuk mengetahuinya. Namun, dari Lukas dan Teofilus, kita belajar bahwa misi evangelisasi sangatlah sulit. Namun, mereka juga menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang dapat berkontribusi dalam misi keselamatan ini. Ada yang menawarkan talenta mereka dalam bentuk tulisan, ada yang mengajar, dan ada juga yang memberikan berbagai bentuk dukungan. Meskipun setiap orang dapat memberikan waktu dan tenaga mereka, beberapa orang dipanggil untuk berkhotbah kepada khalayak ramai, sementara yang lain dipanggil untuk membesarkan keluarga mereka dalam iman. Masing-masing dari kita dapat menjadi Teofilus dengan cara kita sendiri – seseorang yang mengasihi Allah dan ingin agar Dia dikenal oleh orang lain.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:
Sudahkah kita membaca seluruh Injil Lukas? Apa episode favorit saya dalam Injil Lukas? Dan mengapa? Apa yang kita lakukan untuk berkontribusi dalam karya evangelisasi? Apakah kita membantu membawa Allah lebih dekat kepada orang lain? Bagaimana caranya?

Apakah yang dimaksud dengan Pembaptisan?

Pembaptisan Tuhan [C]

12 Januari 2025

Lukas 3:15-16, 21-22

Yesus memulai misi pewartaan-Nya setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Demikian pula, kita memulai kehidupan baru kita sebagai anak-anak Allah dan mengikuti Yesus di jalan salib-Nya melalui sakramen baptis. Namun, apakah sebenarnya baptisan itu, dan mengapa pembaptisan dikaitkan dengan permulaan dari sesuatu yang begitu penting?

Ritual Kemurnian Yahudi

Kata Yunani “βαπτίζειν” (baptizein) pada mulanya berarti “mencelupkan ke dalam air” atau “membasuh dengan air.” Dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani, kata βαπτίζειν merujuk pada ritual pemurnian atau pentahiran (lih. Yudit 12:7). Apakah ritual pentahiran dalam Perjanjian Lama ini? Untuk memahaminya, kita perlu menyadari bahwa Israel kuno menganut hukum tahir-najis.

Meskipun tidak sepenuhnya bersifat moral, hukum tahir-najis merupakan bagian integral dari Taurat. Hukum ini menentukan apakah seorang Yahudi secara ritual murni/tahir atau najis. Ketika orang Yahudi dianggap “tahir”, mereka dapat memasuki tempat-tempat suci seperti Bait Allah di Yerusalem untuk mempersembahkan kurban. Dengan mempersembahkan kurban, mereka dapat menyembah Tuhan Allah dan menerima berkat-berkat, seperti pengampunan dosa dan persekutuan dengan Allah dan sesama.

Seorang Yahudi dapat menjadi najis melalui kontak fisik dengan berbagai hal, seperti: jenazah, cairan tubuh (misalnya, darah menstruasi, air mani pria), hewan tertentu (misalnya, babi, unta, atau serangga tertentu), dan beberapa penyakit kulit. Jika mereka menjadi najis, mereka harus melakukan ritual pentahiran, biasanya dengan membasuh dengan air (βαπτίζειν). Dengan demikian, hukum tahir-najis memastikan bahwa mereka dapat memasuki tempat kudus dengan layak.

Pembaptisan Yohanes

Yohanes Pembaptis memperkenalkan sebuah perubahan yang signifikan. Pembaptisannya (pembasuhan dengan air) bukan lagi sebuah ritual pentahiran tetapi sebuah simbol pertobatan. Bagi Yohanes, yang terpenting bukanlah menjadi bersih atau tahir secara ritual tetapi hidup bermoral benar di hadapan Tuhan. Dengan demikian, tidak ada artinya menjalani ritual pentahiran sementara terus hidup dalam dosa.

Yohanes mengatakan kepada para pengikutnya bahwa ia membaptis dengan air sebagai simbol pertobatan, tetapi seseorang yang lebih besar darinya akan datang untuk membaptis di dalam Roh Kudus dan api. Apa artinya dibaptis “dalam Roh Kudus dan api”? Sepanjang sejarah Gereja, frasa ini mendapatkan banyak tafsiran. St. Yohanes Krisostomus mengajarkan bahwa baptisan Yesus merujuk pada Pentakosta, di mana Roh Kudus turun seperti api dan memenuhi para murid Yesus dengan berbagai rahmat. Origen, di sisi lain, berpendapat bahwa baptisan dalam Roh Kudus adalah untuk mereka yang percaya dan bertobat, sementara baptisan dalam api adalah untuk mereka yang menolak untuk percaya dan bertobat.

Ajaran Gereja tentang Pembaptisan

Meskipun penafsirannya berbeda-beda, sangat penting untuk menerima baptisan Yesus, dan Yesus membaptis kita melalui tubuh-Nya, Gereja. Dengan demikian, sakramen baptis  yang dilakukan oleh Gereja, berasal dari Yesus dan penting untuk keselamatan (1 Pet 3:21). Baptisan ini juga memberikan rahmat pengudusan kepada jiwa (2 Pet 1:4) dan mengubah dan memberdayakan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Tidak seperti baptisan Yohanes, yang merupakan tanda pertobatan secara eksternal, baptisan Yesus – yang diberikan melalui Gereja-Nya – benar-benar mengubah jiwa kita dan memampukan kita untuk hidup layak di hadapan Allah.

Tambahan: Apakah Pembaptisan Selalu Berarti ditenggelamkan?

Kata βαπτίζειν dalam Alkitab tidak selalu berarti seluruh tubuh masuk air. Sebagai contoh, dalam Markus 7:4-8, βαπτίζειν digunakan untuk menggambarkan ritual pembasuhan bagian tubuh tertentu, seperti tangan, atau bahkan pembasuhan perkakas. Gereja Katolik mengajarkan bahwa pembaptisan adalah sah baik dilakukan dengan memasukkan seluruh tubuh ke dalam air atau dengan menuangkan air ke kepala (KGK 1239-1240).

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi dan Panduan

Sudahkah kita menerima baptisan Yesus yang dilakukan melalui Gereja-Nya? Apakah kita mendorong anggota keluarga, kerabat, dan teman-teman untuk dibaptis? Apakah kita menyadari rahmat yang luar biasa yang kita terima melalui baptisan? Apakah kita menghidupi semangat baptisan kita dalam kehidupan sehari-hari?

Peziarah dengan Harapan

Epifani [C]

5 Januari 2025

Matius 2:1-12

Hanya Matius yang mencatat kisah orang Majus dari Timur, dengan hanya 12 ayat (sekitar 1,12% dari Injilnya). Namun, umat Kristiani dari generasi ke generasi selalu melihat kisah ini sangat menarik dan penuh dengan misteri. Siapakah orang-orang Majus ini? Benarkah mereka berjumlah tiga orang? Dari mana tepatnya mereka datang dari Timur? Apakah “bintang” yang mereka lihat? Apa makna di balik pemberian mereka? Sementara pertanyaan-pertanyaan ini masih menjadi bahan perdebatan dan diskusi, ada satu hal yang membuat kita tidak berbeda dengan para Majus. Apakah itu?

Kenapa kita bisa terpikat oleh kisah perjalanan orang Majus karena kita juga sejatinya sedang melakukan perjalanan. Setiap hari, kita melakukan perjalanan, dari rumah ke sekolah atau tempat kerja, dari satu tempat ke tempat lain. Setiap hari Minggu, kita melakukan perjalanan ke gereja. Terkadang, kita menjelajahi tempat-tempat baru untuk berlibur atau berziarah. Di lain waktu, kita terpaksa untuk pergi ke tempat-tempat yang kita tidak sukai, seperti rumah sakit karena kita sakit. Sejatinya, hidup kita itu sendiri adalah sebuah perjalanan. Dari saat kita meninggalkan rahim ibu kita, hingga kita mencapai tujuan akhir kita, kita terus bergerak melintasi ruang dan waktu. Kita adalah peziarah di dunia ini. Jauh di dalam hati, tidak jarang kita bertanya, “Ke mana saya pergi? Apakah perjalanan saya memiliki tujuan?”

Kisah para Majus memberikan kita jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar ini. Ketika para Majus menemukan “bintang” sang Raja yang baru lahir, mereka tahu bahwa mereka harus menemukan-Nya. Namun, mereka bisa saja salah menafsirkan arti bintang itu. Di sepanjang perjalanan, mereka bisa saja menghadapi potensi bahaya dan tantangan yang tak terduga. Risikonya sangat besar. Namun, mereka tidak menyerah. Sebagai peziarah sejati, mereka terus maju dengan satu harapan untuk menemukan Dia yang paling mereka dambakan.

Matius hanya memberikan sedikit rincian tentang perjalanan mereka, dan membiarkan imajinasi kita mengambilnya selebihnya. Namun, kita dapat merasakan betapa terkejutnya mereka ketika mereka gagal menemukan Raja yang baru lahir di Yerusalem. Mereka mungkin berharap bahwa Raja itu adalah putra Herodes, raja yang sedang berkuasa pada saat itu. Meskipun mengalami kegagalan, mereka tidak hilang harapan dan terus melanjutkan perjalanan mereka. Rasa terkejut mereka semakin menjadi-jadi ketika mereka menemukan Raja mungil di rumah Yusuf dan Maria yang sederhana. Sekali lagi, walaupun di luar bayangan mereka, mereka tidak berhenti berharap bahwa kelak, bayi ini sungguh akan menjadi raja besar, dan mereka memberikan penghormatan dan persembahan. Para Majus menjadi orang non-Israel pertama yang menerima Yesus. Perjalanan mereka mengingatkan kita akan kata-kata Santo Paulus: “Pengharapan tidak mengecewakan” (Roma 5:5).

Seperti orang Majus, kita juga adalah peziarah di dunia ini. Terkadang, kita merasa tidak yakin dengan jalan kita, dikelilingi oleh ketidakpastian. Terkadang, perjalanan kita tampak tidak berarti, terutama ketika kita lelah atau tersesat. Seringkali, kita takut menghadapi tantangan dan bahaya. Namun, jauh di dalam lubuk hati kita, kita tahu bahwa kita harus terus melangkah maju, karena sebuah pengharapan bahwa perjalanan kita menuju Yesus akan menghasilkan buah sejati. Karena Dialah yang paling dirindukan oleh hati kita. Gabriel Marcel, seorang filsuf Katolik, dengan indah mengungkapkan hal ini dalam bukunya Homo Viator, “Saya berpikir bahwa harapan bagi jiwa adalah seperti bernapas bagi organisme hidup. Di mana harapan tidak ada, jiwa menjadi kering dan layu…” Kita adalah peziarah di bumi ini, dan kita berjalan bukan karena takut atau putus asa, tetapi karena pengharapan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan

Apakah kita sadar bahwa kita adalah pendatang di bumi ini, bukan penghuni tetap? Apakah kita mengenali tujuan kita yang sebenarnya? Upaya apa yang kita lakukan untuk tetap berada di jalan yang benar? Bagaimana kita menanggapi tantangan dan masalah dalam perjalanan kita? Bagaimana kita dapat menjaga harapan kita tetap hidup selama perjalanan panjang ini?

Hidup yang Tersembunyi, Hidup yang Kudus

Pesta Keluarga Kudus [C]

29 Desember 2024

Lukas 2:41-52

Yesus tidak muncul di dunia sebagai seorang pria dewasa secara tiba-tiba, dan Dia juga tidak turun dari langit seperti alien. Sebaliknya, Dia memilih untuk dilahirkan sebagai seorang anak dalam keluarga Yusuf dan Maria. Menariknya, sebagian besar peristiwa dalam keluarga ini, yang berlangsung selama lebih dari 30 tahun, tetap tersembunyi. Apa yang Yesus lakukan selama masa itu? Mengapa Dia memilih untuk tetap tersembunyi selama tahun-tahun ini?

Sedikit informasi yang kita miliki berasal dari Santo Lukas, yang mengatakan bahwa Yesus tunduk pada otoritas Yusuf dan Maria dan bertumbuh dalam usia dan kebijaksanaan (Lukas 2:52). Intinya tidak ada perbedaan mendasar antara kanak-kanak Yesus dan anak-anak lainnya. Yesus mengalami dan bertindak seperti seorang Israel pada zaman-Nya. Sebagai seorang bayi, Yesus menerima kasih dan perhatian dari Maria. Dia belajar berbicara, berjalan, dan bermain. Sebagai seorang anak kecil, Dia mungkin membantu Maria melakukan pekerjaan rumah tangga dan bermain dengan teman sebaya dan kerabat-Nya. Ketika Dia menjadi cukup kuat, Dia membantu Yusuf dalam pekerjaannya dan belajar pertukangan, sebagai bagian dari usaha keluarga. Sebagai keturunan Daud, Yusuf kemungkinan besar bertanggung jawab untuk mengajar Yesus membaca, terutama Taurat.

Sebagai seorang pemuda, Yesus membantu Yusuf dalam pekerjaannya. Dari waktu ke waktu, mereka mungkin melakukan perjalanan ke kota-kota besar terdekat, seperti Sepphoris, untuk mengerjakan berbagai proyek pembangunan. Masuk akal untuk percaya bahwa Yesus tidak hanya belajar membaca Taurat, tetapi juga menafsirkan dan mengajarkan Hukum Musa di bawah bimbingan Yusuf. Yesus muda kemungkinan besar mengamati ayah angkat-Nya berdiskusi dan berdebat tentang ajaran-ajaran Taurat dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat setempat. Mungkin Dia bahkan mendengarkan Yusuf ketika dia berkhotbah di sinagoge di Nazaret.

Dari kisah ini, kita melihat bahwa tidak ada yang luar biasa dari kehidupan tersembunyi Yesus, Maria, dan Yusuf. Semuanya tampak biasa saja. Seandainya Yesus lahir di zaman ini, Dia akan tumbuh besar dengan melakukan banyak hal yang biasa kita lakukan. Namun, adalah sebuah kesalahan jika kita berpikir bahwa apa yang Yesus lakukan di Nazaret tidak ada gunanya. Yesus tidak hanya sepenuhnya manusia tetapi juga sepenuhnya ilahi. Keilahian-Nya menguduskan setiap aspek kemanusiaan-Nya, termasuk saat-saat yang paling biasa dalam hidup-Nya. Apa pun yang Yesus lakukan-baik bekerja, makan, atau bahkan beristirahat-adalah kudus dan menyelamatkan.

Melalui misteri Inkarnasi, Yesus berbagi dalam kemanusiaan kita. Karena itu, kita dapat berbagi dalam keilahian-Nya melalui rahmat. Banyak dari kita menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, yang sesekali diselingi oleh momen-momen yang luar biasa. Namun, melalui Yesus dan kehidupan-Nya yang tersembunyi, segala sesuatu yang kita lakukan – bahkan tugas-tugas terkecil dan paling biasa – dapat menjadi sarana pengudusan dan keselamatan jika dilakukan dengan kasih kepada Tuhan dan sesama. Hal-hal kecil yang tidak terlihat yang kita lakukan dalam keluarga, sekolah, dan tempat kerja dapat menguduskan kita jika kita melakukannya dengan kasih. Penderitaan dan rasa sakit yang kita alami juga dapat menguduskan kita jika kita menanggungnya dengan sabar dan tanpa dosa. Pada akhirnya, kekudusan dari hal-hal yang biasa menjadi mungkin ketika kita menyatukannya dengan kurban Yesus yang hidup di dalam Ekaristi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita menyadari bahwa Yesus hadir bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah kita menyadari bahwa hal-hal sederhana yang kita lakukan dalam hidup kita berkontribusi pada kekudusan kita? Apakah kita tahu bahwa Allah melihat tindakan kasih yang kecil dan tersembunyi yang kita lakukan untuk orang tua, anak-anak, dan bahkan orang asing?