Peziarah dengan Harapan

Epifani [C]

5 Januari 2025

Matius 2:1-12

Hanya Matius yang mencatat kisah orang Majus dari Timur, dengan hanya 12 ayat (sekitar 1,12% dari Injilnya). Namun, umat Kristiani dari generasi ke generasi selalu melihat kisah ini sangat menarik dan penuh dengan misteri. Siapakah orang-orang Majus ini? Benarkah mereka berjumlah tiga orang? Dari mana tepatnya mereka datang dari Timur? Apakah “bintang” yang mereka lihat? Apa makna di balik pemberian mereka? Sementara pertanyaan-pertanyaan ini masih menjadi bahan perdebatan dan diskusi, ada satu hal yang membuat kita tidak berbeda dengan para Majus. Apakah itu?

Kenapa kita bisa terpikat oleh kisah perjalanan orang Majus karena kita juga sejatinya sedang melakukan perjalanan. Setiap hari, kita melakukan perjalanan, dari rumah ke sekolah atau tempat kerja, dari satu tempat ke tempat lain. Setiap hari Minggu, kita melakukan perjalanan ke gereja. Terkadang, kita menjelajahi tempat-tempat baru untuk berlibur atau berziarah. Di lain waktu, kita terpaksa untuk pergi ke tempat-tempat yang kita tidak sukai, seperti rumah sakit karena kita sakit. Sejatinya, hidup kita itu sendiri adalah sebuah perjalanan. Dari saat kita meninggalkan rahim ibu kita, hingga kita mencapai tujuan akhir kita, kita terus bergerak melintasi ruang dan waktu. Kita adalah peziarah di dunia ini. Jauh di dalam hati, tidak jarang kita bertanya, “Ke mana saya pergi? Apakah perjalanan saya memiliki tujuan?”

Kisah para Majus memberikan kita jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar ini. Ketika para Majus menemukan “bintang” sang Raja yang baru lahir, mereka tahu bahwa mereka harus menemukan-Nya. Namun, mereka bisa saja salah menafsirkan arti bintang itu. Di sepanjang perjalanan, mereka bisa saja menghadapi potensi bahaya dan tantangan yang tak terduga. Risikonya sangat besar. Namun, mereka tidak menyerah. Sebagai peziarah sejati, mereka terus maju dengan satu harapan untuk menemukan Dia yang paling mereka dambakan.

Matius hanya memberikan sedikit rincian tentang perjalanan mereka, dan membiarkan imajinasi kita mengambilnya selebihnya. Namun, kita dapat merasakan betapa terkejutnya mereka ketika mereka gagal menemukan Raja yang baru lahir di Yerusalem. Mereka mungkin berharap bahwa Raja itu adalah putra Herodes, raja yang sedang berkuasa pada saat itu. Meskipun mengalami kegagalan, mereka tidak hilang harapan dan terus melanjutkan perjalanan mereka. Rasa terkejut mereka semakin menjadi-jadi ketika mereka menemukan Raja mungil di rumah Yusuf dan Maria yang sederhana. Sekali lagi, walaupun di luar bayangan mereka, mereka tidak berhenti berharap bahwa kelak, bayi ini sungguh akan menjadi raja besar, dan mereka memberikan penghormatan dan persembahan. Para Majus menjadi orang non-Israel pertama yang menerima Yesus. Perjalanan mereka mengingatkan kita akan kata-kata Santo Paulus: “Pengharapan tidak mengecewakan” (Roma 5:5).

Seperti orang Majus, kita juga adalah peziarah di dunia ini. Terkadang, kita merasa tidak yakin dengan jalan kita, dikelilingi oleh ketidakpastian. Terkadang, perjalanan kita tampak tidak berarti, terutama ketika kita lelah atau tersesat. Seringkali, kita takut menghadapi tantangan dan bahaya. Namun, jauh di dalam lubuk hati kita, kita tahu bahwa kita harus terus melangkah maju, karena sebuah pengharapan bahwa perjalanan kita menuju Yesus akan menghasilkan buah sejati. Karena Dialah yang paling dirindukan oleh hati kita. Gabriel Marcel, seorang filsuf Katolik, dengan indah mengungkapkan hal ini dalam bukunya Homo Viator, “Saya berpikir bahwa harapan bagi jiwa adalah seperti bernapas bagi organisme hidup. Di mana harapan tidak ada, jiwa menjadi kering dan layu…” Kita adalah peziarah di bumi ini, dan kita berjalan bukan karena takut atau putus asa, tetapi karena pengharapan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan

Apakah kita sadar bahwa kita adalah pendatang di bumi ini, bukan penghuni tetap? Apakah kita mengenali tujuan kita yang sebenarnya? Upaya apa yang kita lakukan untuk tetap berada di jalan yang benar? Bagaimana kita menanggapi tantangan dan masalah dalam perjalanan kita? Bagaimana kita dapat menjaga harapan kita tetap hidup selama perjalanan panjang ini?

Hidup yang Tersembunyi, Hidup yang Kudus

Pesta Keluarga Kudus [C]

29 Desember 2024

Lukas 2:41-52

Yesus tidak muncul di dunia sebagai seorang pria dewasa secara tiba-tiba, dan Dia juga tidak turun dari langit seperti alien. Sebaliknya, Dia memilih untuk dilahirkan sebagai seorang anak dalam keluarga Yusuf dan Maria. Menariknya, sebagian besar peristiwa dalam keluarga ini, yang berlangsung selama lebih dari 30 tahun, tetap tersembunyi. Apa yang Yesus lakukan selama masa itu? Mengapa Dia memilih untuk tetap tersembunyi selama tahun-tahun ini?

Sedikit informasi yang kita miliki berasal dari Santo Lukas, yang mengatakan bahwa Yesus tunduk pada otoritas Yusuf dan Maria dan bertumbuh dalam usia dan kebijaksanaan (Lukas 2:52). Intinya tidak ada perbedaan mendasar antara kanak-kanak Yesus dan anak-anak lainnya. Yesus mengalami dan bertindak seperti seorang Israel pada zaman-Nya. Sebagai seorang bayi, Yesus menerima kasih dan perhatian dari Maria. Dia belajar berbicara, berjalan, dan bermain. Sebagai seorang anak kecil, Dia mungkin membantu Maria melakukan pekerjaan rumah tangga dan bermain dengan teman sebaya dan kerabat-Nya. Ketika Dia menjadi cukup kuat, Dia membantu Yusuf dalam pekerjaannya dan belajar pertukangan, sebagai bagian dari usaha keluarga. Sebagai keturunan Daud, Yusuf kemungkinan besar bertanggung jawab untuk mengajar Yesus membaca, terutama Taurat.

Sebagai seorang pemuda, Yesus membantu Yusuf dalam pekerjaannya. Dari waktu ke waktu, mereka mungkin melakukan perjalanan ke kota-kota besar terdekat, seperti Sepphoris, untuk mengerjakan berbagai proyek pembangunan. Masuk akal untuk percaya bahwa Yesus tidak hanya belajar membaca Taurat, tetapi juga menafsirkan dan mengajarkan Hukum Musa di bawah bimbingan Yusuf. Yesus muda kemungkinan besar mengamati ayah angkat-Nya berdiskusi dan berdebat tentang ajaran-ajaran Taurat dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat setempat. Mungkin Dia bahkan mendengarkan Yusuf ketika dia berkhotbah di sinagoge di Nazaret.

Dari kisah ini, kita melihat bahwa tidak ada yang luar biasa dari kehidupan tersembunyi Yesus, Maria, dan Yusuf. Semuanya tampak biasa saja. Seandainya Yesus lahir di zaman ini, Dia akan tumbuh besar dengan melakukan banyak hal yang biasa kita lakukan. Namun, adalah sebuah kesalahan jika kita berpikir bahwa apa yang Yesus lakukan di Nazaret tidak ada gunanya. Yesus tidak hanya sepenuhnya manusia tetapi juga sepenuhnya ilahi. Keilahian-Nya menguduskan setiap aspek kemanusiaan-Nya, termasuk saat-saat yang paling biasa dalam hidup-Nya. Apa pun yang Yesus lakukan-baik bekerja, makan, atau bahkan beristirahat-adalah kudus dan menyelamatkan.

Melalui misteri Inkarnasi, Yesus berbagi dalam kemanusiaan kita. Karena itu, kita dapat berbagi dalam keilahian-Nya melalui rahmat. Banyak dari kita menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, yang sesekali diselingi oleh momen-momen yang luar biasa. Namun, melalui Yesus dan kehidupan-Nya yang tersembunyi, segala sesuatu yang kita lakukan – bahkan tugas-tugas terkecil dan paling biasa – dapat menjadi sarana pengudusan dan keselamatan jika dilakukan dengan kasih kepada Tuhan dan sesama. Hal-hal kecil yang tidak terlihat yang kita lakukan dalam keluarga, sekolah, dan tempat kerja dapat menguduskan kita jika kita melakukannya dengan kasih. Penderitaan dan rasa sakit yang kita alami juga dapat menguduskan kita jika kita menanggungnya dengan sabar dan tanpa dosa. Pada akhirnya, kekudusan dari hal-hal yang biasa menjadi mungkin ketika kita menyatukannya dengan kurban Yesus yang hidup di dalam Ekaristi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita menyadari bahwa Yesus hadir bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah kita menyadari bahwa hal-hal sederhana yang kita lakukan dalam hidup kita berkontribusi pada kekudusan kita? Apakah kita tahu bahwa Allah melihat tindakan kasih yang kecil dan tersembunyi yang kita lakukan untuk orang tua, anak-anak, dan bahkan orang asing?

Natal yang Dingin Namun Penuh Berkah

Kelahiran Tuhan Kita [C]

25 Desember 2024

Lukas 2:1-14

Saya bersyukur memperoleh kesempatan untuk belajar di Roma, dan salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah merayakan Natal di kota yang abadi ini. Perbedaan yang mencolok dari perayaan natal di Indonesia langsung terasa: Natal di Roma terasa dingin. Berasal dari negara yang berada di garis khatulistiwa, di mana suhu udara relatif konstan sepanjang tahun, mengalami bulan Desember sebagai musim dingin (dengan suhu berkisar antara 8°C hingga -1°C) merupakan hal yang sangat baru. Ketika saya merayakan Natal di musim dingin ini, pikiran pertama saya adalah Bethlehem juga sangat dingin ketika Yesus lahir.

Beberapa orang yang tidak percaya berpendapat bahwa Yesus tidak mungkin lahir pada bulan Desember, dengan alasan bahwa cuaca terlalu dingin bagi para gembala untuk menjaga domba-domba mereka di padang rumput (Luk 2:8). Meskipun Desember memang merupakan musim dingin di Israel, namun dinginnya tidak mencegah orang untuk tetap berada di luar rumah. Penelusuran cepat di internet menunjukkan bahwa suhu malam hari di Bethlehem-Yerusalem rata-rata sekitar 7-8°C. Lagi pula, domba-domba biasanya dipelihara di luar ruangan, dan para gembala, yang terbiasa dengan kondisi seperti ini, pasti sudah siap untuk bertahan di lingkungan yang dingin.

Para gembala mungkin sudah siap menghadapi cuaca dingin, tapi bagaimana dengan bayi Yesus? Meskipun musim dingin di Israel tidak sedingin di banyak negara Eropa, faktanya musim dingin di Bethlehem tetap dingin dan menggigil. Sensasi pertama yang mungkin dirasakan oleh bayi Yesus ketika meninggalkan kehangatan rahim Maria adalah rasa dingin. Tentu saja, Maria dan Yusuf telah melakukan yang terbaik untuk melindungi dan menjaga Dia tetap hangat, tetapi suhu yang rendah tidak dapat sepenuhnya dihindari. Rasa dingin ini akan semakin terasa karena Yesus tidak dilahirkan di ruang bersalin yang modern dan nyaman, melainkan di tempat yang sederhana untuk hewan – sebuah gua, seperti yang dikatakan oleh tradisi.

Namun, kerendahan hati inilah yang menjadi inti dari Natal: Imanuel, Allah beserta kita. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang jauh yang tersembunyi di surga, yang sesekali mengirim malaikat untuk berinteraksi dengan kita. Dia hadir secara intim, menjadi salah satu dari kita, manusia. Sejak saat pembuahan-Nya, Dia merasakan, mengalami, dan menanggung segala sesuatu yang kita alami dan lakukan. Dinginnya malam Natal itu hanyalah permulaan. Yesus akan merasakan lapar dan haus, rasa sakit dan kesedihan, sama seperti kita. Dia juga merasakan kehangatan dan kasih Maria dan Yusuf. Dia bertumbuh dan belajar untuk hidup seperti kita. Dia tahu siapa kita karena Dia telah menjadi salah satu dari kita.

Memang benar bahwa kita sering berdoa agar Tuhan menyingkirkan permasalahan, rasa sakit, dan kesedihan kita, namun tampaknya pergumulan ini terus berlanjut. Dalam kebijaksanaan ilahi-Nya, Tuhan mengizinkan penderitaan ini terjadi, meskipun kita mungkin tidak selalu mengerti alasannya. Namun, melalui misteri Natal, kita yakin akan satu kebenaran yang mendalam: Yesus mengetahui penderitaan kita. Dia ikut merasakannya dan menanggungnya bersama kita. Inilah Injil kita, inilah Natal kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Selamat Natal!

Kisah Dua Orang Ibu

Minggu ke-4 Masa Adven [C]

22 Desember 2024

Lukas 1:39-45

Maria dan Elisabet adalah dua wanita yang paling kuat di dalam Alkitab. Namun, kekuatan mereka tidak berasal dari kekuatan fisik. Maria adalah seorang wanita muda dan lembut, sementara Elisabet sudah lanjut usia. Kekuatan mereka yang luar biasa terletak pada komitmen mereka yang teguh untuk mengikuti kehendak Allah. Mereka dipanggil untuk menjadi ibu. Namun, bagaimana mereka melihat panggilan mereka sebagai ibu? Dan apa hidup mereka masih relevan bagi kita sekarang?

Menjadi seorang ibu sering kali dipandang sebagai perkembangan alamiah dalam kehidupan seorang wanita. Setelah menikah, umumnya seorang wanita akan mengandung dan melahirkan anak. Tubuh wanita mengalami transformasi yang luar biasa untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi bayi yang sedang tumbuh. Perubahan fisiologis ini tidak hanya banyak tetapi juga bertahap, beradaptasi dengan kebutuhan bayi selama kehamilan. Aktivitas jantung, paru-paru, ginjal, dan organ-organ lainnya meningkat secara signifikan untuk mendukung ibu dan anak. Selain itu, tubuh memproduksi hormon-hormon baru yang memengaruhi berbagai organ, metabolisme, dan kondisi psikologis. Bahkan setelah melahirkan, tubuh ibu tidak langsung kembali ke kondisi sebelum hamil, melainkan terus bertransformasi untuk mendukung bayi yang baru lahir. Sebagai contoh, tubuh memproduksi ASI, yang volume dan nutrisinya, terus berubah menyesuaikan kebutuhan bayi.

Terlepas dari keajaiban proses ini, karena proses kehamilan terjadi di mana-mana dan di setiap waktu, tidak sedikit orang yang memandangnya hanya sebagai fungsi biologis yang diperlukan untuk kelangsungan hidup kita sebagai spesies. Beberapa orang melihat tubuh wanita hanya sebagai alat reproduksi belaka atau melihat rahim tidak lebih dari sebuah wadah sementara untuk bayi. Perspektif yang salah terhadap tubuh dan hubungan ibu-anak ini telah mendorong beberapa orang untuk mengambil keputusan ekstrem, termasuk aborsi. Alasan untuk keputusan tersebut beragam – ketakutan akan populasi yang berlebihan, kekhawatiran akan peningkatan emisi karbon, tantangan ekonomi, atau hanya sekedar ketidaknyamanan yang dirasakan karena memiliki anak.

Di sinilah Maria dan Elisabet menjadi sangat relevan bagi kita. Mereka memahami risiko yang ada dalam situasi unik mereka. Maria, meskipun telah bertunangan dengan Yusuf, hamil tanpa keterlibatan seorang pria pun. Ia berisiko dituduh berzinah, sebuah kejahatan yang dapat dihukum rajam menurut hukum Taurat (Ulangan 22:22-24). Di sisi lain, Elisabet menghadapi bahaya fisik akibat kehamilan di usia tua, yang dapat membahayakan nyawanya. Terlepas dari risiko-risiko tersebut, kedua perempuan ini tetap menjalankan peran mereka sebagai ibu. Mengapa? Karena kedua wanita ini menyadari bahwa kehamilan mereka bukan hanya proses biologis, namun percaya bahwa menjadi ibu adalah kehendak Tuhan bagi mereka – sebuah panggilan suci. Mereka percaya bahwa Tuhan yang memanggil mereka ke dalam misi kudus ini juga akan menopang dan memenuhi kebutuhan mereka.

Kekudusan adalah kunci kebahagiaan sejati. Inilah sebabnya mengapa pertemuan antara Maria dan Elisabet ditandai dengan sukacita dan bukannya ketakutan atau kecemasan. Di dunia saat ini, di mana memiliki anak sering kali dipandang sebagai beban dan bukan sebagai berkat, tindakan iman, atau sumber sukacita, Maria dan Elisabet menjadi tanda pengharapan. Keberanian dan iman mereka mengilhami kita untuk melihat menjadi seorang ibu sebagai panggilan ilahi dan sumber kebahagiaan yang mendalam.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:

  1. Bagaimana kita memandang kehamilan? Apakah kehamilan hanyalah sebuah proses biologis, peristiwa sosial-budaya, beban ekonomi, atau panggilan ilahi untuk menjadi kudus?
  2. Untuk para ibu: Bagaimana Anda memandang anak-anak Anda? Bagaimana Anda mengasuh mereka dan membimbing mereka dalam perjalanan hidup mereka?
  3. Untuk laki-laki: Peran apa yang Anda mainkan dalam mendukung ibu hamil atau ibu yang merawat bayi mereka?

Mengapa Yohanes Pembaptis?

Minggu Kedua Masa Adven [C]

8 Desember 2024

Lukas 3:1-6

Pada hari Minggu kedua masa Adven, Gereja memberikan Yohanes Pembaptis sebagai teladan dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan. Tetapi mengapa Yohanes selalu dipilih sebagai teladan? Jawabannya adalah karena ada banyak hal yang kita bisa pelajari dan teladani dari Yohanes. Khususnya dalam Injil Lukas, kita melihat bahwa Yohanes mendahului Yesus dan mempersiapkan jalan-Nya dalam tiga tahap penting. Jadi, apakah ketiga tahap tersebut?

1) Melalui Kelahiran Yohanes. Yohanes adalah anak dari Zakharia dan Elisabet. Karena Elisabet dan Maria dari Nazaret adalah saudara, maka hal ini menjadikan Yohanes dan Yesus sebagai satu keluarga besar. Dalam Injil Lukas, kelahiran Yohanes digambarkan sebagai jawaban atas doa orang tuanya. Kelahirannya adalah sebuah mukjizat, karena terjadi ketika Zakharia dan Elisabet sudah tua dan dianggap mandul. Kelahiran yang ajaib ini menjadi gambaran dari kelahiran yang lebih besar lagi, yaitu kelahiran Yesus. Sementara Yohanes dikandung meskipun orang tuanya sudah tua, Yesus dikandung oleh Roh Kudus dan tanpa campur tangan laki-laki. Kelahiran Yohanes menggenapi janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama (seperti kepada Abraham dan Sara, Kej. 17-18; Elkana dan Hana, 1 Sam. 1:1-20), sementara kelahiran Yesus meresmikan era Perjanjian Baru.

2) Melalui Pewartaan Yohanes. Injil hari ini berbicara tentang Yohanes yang memberitakan baptisan pertobatan untuk pengampunan dosa (Lukas 3:3). Hal ini menggenapi nubuat Yesaya, yang menubuatkan bahwa seorang nabi besar akan mempersiapkan jalan bagi Tuhan (Yesaya 40:3). Yohanes mengajarkan bahwa cara terbaik untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan adalah melalui pertobatan. Tanpa pertobatan, perayaan Adven dan Natal kita akan menjadi dangkal. Tidak ada artinya menghias rumah kita atau menikmati makanan bersama orang-orang terdekat jika kita tidak terlebih dahulu berusaha untuk memperbaharui hidup kita.

3) Melalui Kematian Yohanes. Kematian Yohanes terjadi di tangan para algojo Herodes. Ia telah menegur Herodes, penguasa Galilea, karena hidup dalam dosa, yakni mengambil istri saudaranya dan menceraikan istrinya sendiri. Hal ini membuat Herodes dan istrinya geram. Ketika ada kesempatan, Herodes, untuk menyenangkan hati istrinya, memerintahkan untuk mengeksekusi Yohanes (Luk 9:7-9; Mar 6:14-29; Mat 14:1-12). Yohanes dipenggal karena ia dengan setia memberitakan kebenaran, menyerukan pertobatan. Yesus juga pada akhirnya akan disalibkan karena memberitakan kebenaran Injil dan memanggil para pemimpin Yahudi di Yerusalem untuk bertobat. Pelajaran yang dapat kita ambil bukan hanya tentang bagaimana Yohanes wafat, tetapi juga tentang bagaimana ia hidup, yakni dengan setia memberitakan kebenaran, bahkan dengan mengorbankan nyawanya. Kita juga diundang untuk tidak hanya mengubah hidup kita sendiri, tetapi juga mendorong orang lain untuk bertobat, bahkan saat kita menghadapi penolakan.

Yohanes adalah pendahulu Yesus, di dalam kelahiran, kehidupan, dan kematiannya. Sepanjang hidupnya, Yohanes mempersiapkan jalan bagi Yesus. Inilah sebabnya mengapa Yohanes menjadi salah satu teladan terbaik dalam Alkitab yang dapat kita ikuti selama masa Adven ini.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

– Terinspirasi oleh Yohanes Pembaptis, bagaimana kita akan mempersiapkan diri kita pada masa Adven ini?

– Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari teladan Yohanes?

– Seperti Yohanes, apakah kita bersedia mengundang keluarga, kerabat, dan teman-teman kita untuk bertobat dan membantu membawa mereka lebih dekat kepada Yesus?

Adven: Sudahkah Kita Siap?

Hari Minggu Pertama Masa Adven [C]

1 Desember 2024

Lukas 21:25-28, 34-36

Minggu pertama Adven menandai dimulainya tahun liturgi baru Gereja. Adven, yang berarti “kedatangan”, adalah waktu untuk mempersiapkan kedatangan Kristus, baik kedatangan-Nya yang pertama di Betlehem, lebih dari 2000 tahun yang lalu, maupun kedatangan-Nya yang kedua di akhir zaman. Pada dasarnya, melalui masa ini, Gereja mengajarkan kita untuk menantikan Yesus. Namun, bagaimana kita mempersiapkan diri kita untuk menantikan Kristus?

Ada tiga langkah kunci dalam persiapan ini:

Pertama. Mengetahui siapa yang akan datang. Hal yang paling mendasar untuk mempersiapkan kedatangan seseorang adalah dengan mengetahui siapa mereka. Persiapan yang kita lakukan untuk menyambut seorang teman dekat datang ke rumah kita sangat berbeda dengan persiapan untuk menyambut seorang presiden sebuah negara. Orang yang datang akan menentukan keseluruhan perencanaan, sumber daya yang dibutuhkan, dan tingkat usaha yang diperlukan. Semakin penting orang tersebut, semakin besar sumber daya yang kita sediakan. Masa Adven mengingatkan kita bahwa Dia yang akan datang adalah Yesus! Jika Yesus adalah Tuhan, maka seluruh hidup, waktu, kekuatan, dan hati kita akan dikhususkan untuk menyambut Dia.

Kedua. Mengetahui alasan kedatangannya. Bentuk persiapan kita juga tergantung pada alasan kunjungan. Jika seorang teman datang untuk meminjam buku, kita cukup menyediakan buku tersebut. Tetapi jika seorang kerabat dari kota lain berkunjung selama beberapa hari, kita mempersiapkan tempat untuk menginap, membeli atau memasak makanan yang diperlukan, dan memastikan segala sesuatu yang mungkin ia perlukan. Masa Adven mengajarkan kepada kita bahwa Yesus datang di akhir zaman untuk membawa penghakiman terakhir. Dia akan berlaku adil kepada orang benar dan orang jahat. Tentunya, kita tidak ingin dimasukkan dalam golongan orang-orang jahat. Jadi, persiapan kita adalah menjadi orang benar dengan setia melakukan apa yang berkenan kepada-Nya.

Ketiga. Mengetahui waktu kedatangannya. Waktu kedatangan juga membentuk persiapan kita. Seorang ibu yang mengetahui tanggal perkiraan kelahiran bayinya dapat mempersiapkan diri dengan baik. Orang tua yang menantikan kedatangan anak perempuannya setelah belajar di luar negeri, akan pergi ke bandara lebih awal, dan mungkin membawa hadiah kecil. Namun, Adven menceritakan kisah yang berbeda. Meskipun Kitab Suci menyatakan bahwa Yesus pasti akan datang, Kitab Suci juga menjelaskan bahwa kita tidak akan tahu kapan Yesus akan datang. Oleh karena itu, kita harus hidup seolah-olah Yesus akan datang setiap saat. Setiap detik dalam hidup kita adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri kita untuk berdiri di hadapan-Nya.

Masa Adven disebut sebagai masa penantian. Melalui masa ini, Gereja mengajarkan kita untuk menantikan kedatangan Yesus dalam hidup kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salah satu elemen penting dalam persiapan kita adalah Ekaristi. Misa sering disebut sebagai “kedatangan Yesus yang ketiga kalinya”.  Yesus hadir secara sakramental, dan sikap kita dalam mengikuti Misa tidak akan berbeda dengan sikap kita saat menghadapi Yesus pada penghakiman terakhir. Apakah kita menerima Yesus dengan layak dalam Ekaristi? Persiapan rohani seperti apa yang kita lakukan sebelum menghadiri misa? Apakah kita menghampiri Yesus dalam Ekaristi dengan penuh semangat dan devosi atau kita merasa malas dan tidak terinspirasi?

Kita dan Para Kudus

Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [B]

17 November 2024

Markus 13:24-32

Ketika seseorang bertanya apakah kita ingin masuk surga, kita dengan cepat menjawab, “Ya!” Namun, jika ditanya apakah kita ingin menjadi santo atau santa, antusiasme kita sering kali memudar. Hal ini mengejutkan karena semua orang di surga adalah orang kudus. Menjadi santo-santa berarti berada di surga! Jadi mengapa kita memisahkan gagasan tentang surga dengan menjadi orang kudus?

Setidaknya, ada tiga alasan:

  1. Kesalahpahaman akan Iman Katolik: Beberapa dari kita mungkin tidak sepenuhnya memahami iman kita. Kita mungkin berpikir bahwa ada dua kelompok di surga: orang-orang kudus yang terkenal seperti Bunda Maria, Santo Yosef, Santo Dominikus, dan Santo Fransiskus, dan kelompok kedua adalah mereka yang bukan orang kudus. Kita menganggap orang-orang kudus hanyalah mereka yang telah dikanonisasi (diakui secara resmi) dan memiliki hari-hari peringatan pada kalender liturgi Gereja. Namun, hal ini tidaklah benar. Semua orang di surga adalah orang-orang kudus, bahkan jika kita tidak mengetahui nama-nama mereka. Itulah mengapa kita merayakan Hari Semua Orang Kudus, untuk menghormati setiap orang yang karena rahmat Allah telah mencapai surga. Salah satu orang kudus itu bisa jadi adalah kerabat atau leluhur kita!
  2. Ide bahwa Terlalu Sulit untuk Menjadi Orang Kudus: Kita membaca kisah-kisah tentang orang-orang kudus dan merasa bahwa kita tidak akan pernah bisa sebaik mereka. Orang-orang kudus tampak sempurna, sangat baik, selalu berdoa, dan beberapa bahkan melakukan mukjizat. Dan bahkan para martir menghadapi kematian yang sangat kejam karena iman mereka. Tingkat kekudusan ini terasa mustahil bagi kita karena kita sadar akan kelemahan dan dosa-dosa kita. Tetapi sejatinya, orang-orang kudus tidak menjadi kudus karena usaha mereka sendiri; mereka bergantung pada rahmat Allah. Mereka adalah manusia yang tidak sempurna, sama seperti kita semua, namun mengizinkan kasih Allah untuk mengubah mereka.
  3. Takut akan Kematian: Kita mungkin berpikir bahwa menjadi orang kudus berarti kita harus mati terlebih dahulu, dan kita tidak ingin mati! Namun, tidak semua kematian itu terjadi secara biologis. Kita juga harus mati atas diri kita sendiri. Ini berarti melepaskan keterikatan duniawi dan hasrat-hasrat dosa kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan dan tanda-tanda yang akan terjadi sebelum kedatangan-Nya, langit menjadi gelap, bulan dan matahari yang redup, dan bintang-bintang yang berjatuhan. Hal ini dapat berarti akhir dari sebuah era atau bahkan akhir dari dunia. Namun, hal ini juga dapat memberikan pelajaran yang berharga: dunia yang kita kenal ini bersifat sementara, akan hancur, dan jika kita berpegang teguh padanya, kita juga akan hancur dan kehilangan segalanya. Kita harus memilih: apakah kita akan mati bagi dunia ini dan hidup untuk Tuhan, atau mati bersama dunia ini dan kehilangan Tuhan.

Kita memohon kepada Tuhan untuk menolong kita mati bagi diri kita sendiri, melepaskan dunia, dan hidup lebih bagi Kristus. Sehingga, kapan pun Yesus datang, kita akan siap untuk berdiri di hadapan-Nya, benar-benar hidup, seperti orang-orang kudus di surga.

Roma

Valentinus B. Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:

Seperti apakah surga itu? Bagaimana kita memandang orang-orang kudus dan peran mereka dalam hidup kita? Apakah kita ingin menjadi orang kudus, atau kita terlalu melekat pada dunia? Hal-hal apakah yang kita lekatkan dalam hidup ini? Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kedatangan Yesus?

Hidup Bakti

Hari Minggu ke-28 dalam Masa Biasa [B]

13 Oktober 2024

Markus 10:17-30

Gereja memahami kisah Yesus dan orang kaya ini sebagai salah satu dasar alkitabiah dari panggilan hidup bakti (consecrated life). Namun, apakah hidup bakti itu? Bagaimana kisah ini menjadi inspirasi bagi kita?

Hidup bakti adalah sebuah cara hidup yang radikal untuk mengikuti Yesus. Pada masa kini, kita dengan cepat mengenali pria dan wanita ini sebagai orang-orang yang mengenakan jubah khas, hidup selibat (tidak menikah), dan tinggal di dalam komunitas seperti pertapaan atau biara. Bentuk hidup ini disebut sebagai hidup bakti karena para pria dan wanita ‘membaktikan’ hidupnya untuk mencintai Tuhan secara lebih radikal. Namun, mengapa mereka harus menjalani kehidupan seperti ini? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat lebih dekat kisah Yesus dan orang kaya.

Ada seorang pria yang menyadari bahwa ada sesuatu yang mendasar yang kurang dalam hidupnya. Ketika Yesus datang, hatinya tahu bahwa Yesus tahu jawabannya. Ia bergegas mendatangi Yesus dan bertanya kepada-Nya bagaimana caranya untuk mendapatkan hidup yang kekal. Yesus menunjukkan perintah-perintah Allah, terutama yang berkaitan dengan mengasihi sesama (jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, dan hormatilah orang tuamu). Dengan segera, orang itu mengatakan kepada Yesus bahwa ia telah setia pada hukum-hukum ini. Yesus memandangnya dengan penuh perhatian dan mengasihinya karena keberaniannya untuk datang kepada-Nya. Yesus tahu bahwa orang ini tidak pernah melanggar perintah-perintah Allah, tetapi dia juga tidak memenuhi perintah pertama dan yang paling penting, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ul 6:5).”

Namun, Yesus tidak hanya mengatakan kebenaran ini secara langsung, tetapi merumuskannya kembali menjadi sesuatu yang lebih konkret dan radikal: “Kasihilah Aku (Yesus) dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”  Panggilan ini bersifat radikal karena mengharuskan orang tersebut untuk meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya dan berjalan bersama Yesus dalam perjalanan menuju salib. Ini radikal karena undangan Yesus bertentangan dengan pemahaman umum pada masa itu bahwa menjadi kaya adalah tanda berkat Tuhan (lihat Ul. 28:1-14; Ams. 10:22). Ini adalah hal yang radikal karena seluruh waktu, tenaga, perhatian, bahkan hidup kita adalah untuk Yesus.

Pria ini tidak pernah merugikan orang lain, mencuri apalagi membunuh, mungkin juga pergi ke sinagoge setiap hari Sabat untuk beribadat, dan sesekali pergi ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban di Bait Allah. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia terpanggil untuk mengasihi Allah secara total. Sayangnya, ketika Yesus menawarkan kesempatan itu kepadanya, ia menghindar karena ia memiliki banyak harta. Apakah orang ini akan dihukum? Tentu tidak! Dia tidak akan dihukum dan akan tetap menjadi pewaris hidup yang kekal. Tetapi ia juga tidak dapat memenuhi kerinduan terdalamnya untuk mengasihi Allah secara radikal.

Pada masa kini, mengikuti Yesus secara radikal ini termanifestasi dalam diri pria dan wanita yang secara total memberikan diri mereka kepada Yesus dan Gereja. Para pria dan wanita ini tidak menikah, sehingga mereka dapat mendedikasikan waktu mereka untuk berdoa dan melayani. Mereka bekerja atau menerima donasi bukan untuk menjadi kaya, melainkan untuk mendukung kehidupan dan pelayanan mereka. Akhirnya, mereka dengan bebas menyerahkan kebebasan mereka untuk mengasihi Allah dan umat-Nya lebih penuh. Namun, Gereja memahami bahwa panggilan ini bukan untuk semua orang.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Apakah kita mengasihi Allah secara total dan radikal? Apakah kita mengasihi Allah terlebih dahulu, atau kita mengasihi diri kita sendiri terlebih dahulu? Apakah yang menghalangi kita untuk mengasihi Allah? Uang, kekayaan, profesi, ketenaran, hobi, atau hal-hal lain? Apakah kita dipanggil ke dalam hidup bakti? Apakah kita siap untuk menjawab ya atas panggilan Yesus?

Melampaui Rekam Jejak

Minggu ke-19 dalam Masa Biasa [B]

11 Agustus 2024

Yohanes 6:41-51

Salah satu cara untuk menilai seseorang adalah dengan melihat rekam jejaknya. Rekam jejak ini bisa sesuatu yang positif seperti prestasi akademis, keterampilan yang dimiliki, atau pengalaman kerja yang baik, tetapi bisa juga negatif seperti kinerja yang buruk atau terlibat dalam perilaku yang tidak etis. Menilai seseorang dari rekam jejaknya adalah hal yang wajar dan sah-sah saja, namun ketika kita memperlakukan rekam jejak ini sebagai ukuran absolut, kita bisa menghancurkan hidup dan masa depan orang lain. Inilah yang juga yang dialami oleh Yesus.

Alasan mengapa banyak orang Yahudi menolak Yesus bukan hanya karena klaim-Nya bahwa Dia adalah roti hidup yang sulit diterima oleh akal budi, tetapi juga karena Dia adalah anak seorang tukang kayu yang miskin. Tentu saja, banyak yang bergumul dengan kebenaran tentang memakan daging Yesus, namun beberapa orang Yahudi mengenali latar belakang keluarga Yesus dan percaya bahwa mustahil bagi seorang tukang kayu miskin dari desa kecil di Nazaret untuk mengatakan hal-hal tersebut. 

Namun, ini hanyalah separuh dari cerita. Sebelum Yesus membuat klaim yang menakjubkan ini, Yesus membuktikan bahwa diri-Nya dapat dipercaya dengan melakukan mukjizat yang luar biasa, yaitu memberi makan lebih dari lima ribu orang. Namun, beberapa orang dengan mudah melupakan tanda itu karena mereka tidak dapat meninggalkan prasangka mereka dan menjadikan ‘rekam jejak’ Yesus yang terbatas sebagai satu-satunya alat ukur. Oleh karena itu, mereka menghakimi Yesus sebagai pembohong atau orang gila.

Meskipun benar bahwa rekam jejak dapat berbicara banyak, bukan berarti seseorang tidak dapat berubah. Jika seseorang miskin secara ekonomi, bukan berarti dia akan tetap miskin selamanya. Kita memiliki banyak kisah miliarder yang memulai dari nol. Sebut saja JK Rowling, Jan Koum, dan Steve Jobs. Kebenaran ini bahkan lebih nyata lagi dalam kehidupan iman. Orang-orang berdosa dan bahkan musuh-musuh Kristus yang tersentuh oleh rahmat dan kasih Allah berubah menjadi orang-orang kudus. Kita memiliki Santo Paulus yang dulunya menganiaya Gereja perdana, Santo Agustinus yang dulunya hidup dalam dosa, dan Beato Bartolo Longo yang dulunya adalah seorang pendeta setan.

Hal ini memberi kita pelajaran penting bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, dan bagi mereka yang terbuka pada rahmat dan kasih Tuhan. Ketika kita menghadapi orang-orang yang sulit dalam keluarga atau komunitas kita, apakah kita langsung menghakimi mereka sebagai orang yang tidak memiliki harapan, atau apakah kita mengerahkan lebih banyak usaha untuk membantu, mendengarkan atau setidaknya berdoa untuk mereka? Ketika kita melihat seseorang jatuh ke dalam dosa, apakah kita mengutuk mereka atau kita meluangkan lebih banyak waktu untuk mengoreksi mereka, atau setidaknya mendoakan pertobatan mereka? Ketika kita melihat diri kita sendiri tidak layak di hadapan Allah, apakah kita menyerah dalam keputusasaan, atau apakah kita berdoa lebih keras dan memohon belas kasihan Allah?

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Damai Sejahtera Kita

Minggu ke-16 dalam Masa Biasa [B]

21 Juli 2024

Efesus 2:13-18

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Santo Paulus menyebut Yesus sebagai “Damai Sejahtera Kita”. Namun, mengapa Santo Paulus memberikan gelar yang aneh ini kepada Yesus? Apakah arti sebenarnya dari gelar ini? Dan, bagaimana gelar ini mempengaruhi iman kita?

Untuk memahami Paulus, kita juga harus memahami Perjanjian Lama. Bagaimanapun, Paulus pernah menjadi anggota kelompok Farisi, dan dengan demikian, bukan hanya seorang Yahudi yang taat tetapi juga terpelajar. Ketika Santo Paulus menyebut Yesus sebagai ‘damai sejahtera’, ia mengacu pada kurban atau persembahan perdamaian di Bait Allah Yerusalem. Persembahan perdamaian (dalam bahasa Ibrani, Shelomin) adalah salah satu kurban binatang yang diperintahkan oleh Tuhan kepada bangsa Israel melalui Musa (lihat Imamat 3). Ritual kurban yang dimulai dari zaman Musa ini terus berlangsung sampai bangsa Romawi menghancurkan Bait Suci Yerusalem pada tahun 70 Masehi, sekitar dua dekade setelah kemartiran Paulus. Sehingga Paulus sendiri tidak asing dengan kurban yang satu ini, dan bahkan pernah mempersembahkan kurban jenis ini.

Sesuai namanya, tujuan dari kurban ini adalah untuk perdamaian (rekonsiliasi) antara Tuhan, Allah Israel, dengan orang Israel yang telah bersalah kepada Tuhan. Namun, tidak seperti kurban jenis lain yang menekankan pada penghapusan dosa dan pelanggaran, seperti kurban penghapus dosa (Imamat 4) dan kurban penghapus salah (Imamat 5), kurban perdamaian berfokus pada hasil pengampunan Tuhan, yaitu perdamaian. Ketika manusia menyakiti hati Tuhan karena dosa-dosanya, manusia menjadi jauh dari Tuhan, bahkan seperti layaknya orang asing dan bahkan musuh. Ada permusuhan antara Tuhan dan manusia karena dosa, dan karena ada permusuhan, maka tidak ada damai. Namun, ketika orang tersebut diampuni, dan dosa-dosanya dihapuskan, persahabatannya dengan Tuhan dipulihkan, dan ada perdamaian antara Tuhan dan manusia. Kedamaian ini menyebabkan sukacita dan ucapan syukur. Persembahan perdamaian melambangkan sukacita pengampunan, ucapan syukur atas perdamaian yang telah dicapai.

Ketika Santo Paulus menyebut Yesus sebagai ‘damai sejahtera kita’, Santo Paulus mengenali bahwa Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban perdamaian di kayu salib. Yesus tidak hanya menghapus dosa-dosa kita, tetapi juga memperdamaikan kita dengan Bapa. Yesus adalah damai sejahtera karena Dia telah menghancurkan permusuhan kita dengan Allah, dan membawa kita kembali kepada Allah dalam persahabatan. Hanya di dalam Yesus, kita berdamai dengan Allah.

Namun, kurban perdamaian juga merupakan jenis kurban yang istimewa karena tidak dibakar seluruhnya (tidak seperti kurban bakaran, Imamat 1). Bagian yang berlemak dibakar karena itu untuk Tuhan, beberapa bagian lain dari hewan tersebut untuk dikonsumsi oleh para imam dan bagian lainnya untuk mereka yang mempersembahkan kurban. Dengan demikian, kurban perdamaian menjadi makanan yang dibagikan kepada semua orang. Kurban ini menjadi simbol perdamaian karena hanya orang-orang yang berdamai dengan satu sama lain yang dapat berbagi meja dan makanan yang sama.

Namun, yang lebih luar biasa lagi adalah Gereja Katolik memiliki kurban perdamaian ini. Sesungguhnya, persembahan perdamaian kita adalah Ekaristi. Dalam Ekaristi, Yesus dipersembahkan kepada Allah Bapa, dan kemudian, dikonsumsi tidak hanya oleh imam, tetapi juga oleh umat beriman yang berpartisipasi dalam perayaan tersebut. Yesus Kristus adalah damai sejahtera kita karena dalam Ekaristi, kita berpartisipasi dalam perjamuan yang sama dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP