Minggu Prapaskah Kelima. 13 Maret 2016 [Yohanes 8: 1-11]
“Jawab sang perempuan, ‘Tidak ada, Tuhan.’”
Dalam masa Yesus, perempuan tidak memiliki posisi yang sama dengan lelaki. Mereka bahkan dianggap sebagai barang kepemilikan kaum adam. Kecuali beberapa tokoh perempuan dalam Alkitab seperti Deborah dan Judith, perempuan Yahudi masa lalu harus hidup di bawah dominasi patriarki. Alkitab juga tidak banyak menjabarkan kisah perempuan korban kekerasan dan pelecehan, tapi kita bisa berasumsi bahwa dengan mentalitas patriarki ini, kekerasan dan eksploitasi berlangsung di berbagai tempat.
Injil kita hari ini jarang dilihat sebagai kisah seorang perempuan yang dieksploitasi oleh beberapa kelompok laki-laki Yahudi yang adalah pemuka agama, tapi hal ini benar-benar terjadi. Kitab Imamat telah mengatur bahwa baik laki-laki dan perempuan yang berzinah harus dihukum mati (Im 20:10), tetapi orang-orang Farisi hanya membawa paksa sang perempuan. Tujuan mereka sangat jelas: untuk menjebak Yesus, dan selebihnya adalah sarana untuk mencapai tujuan ini, termasuk jika mereka harus menggunakan dan merajam sang perempuan. Di sinilah terletak alasan mendasar mengapa banyak perempuan selalu menjadi korban pelanggaran dan kekerasan: objektifikasi dan depersonalisasi perempuan. Perempuan yang berzina ini telah kehilangan kepribadian dan menjadi sekedar alat bagi orang-orang Farisi dalam mencapai tujuan mereka. Saya percaya motif ini jugalah yang memgaruhi kaum lelaki dari berbagai generasi. Para laki-laki yang tak berhati menjadikan perempuan sebagai objek kepuasan seksual, tenaga kerja yang murah, atau sebuah langkah menuju kesuksesan.
Yesus harus menghentikan hal ini. Tidak hanya Dia menyelamatkan sang perempuan yang adalah korban, tapi ia harus menantang mentalitas korup dan dominasi kasar kaum adam ini. Dia kemudian menulis di tanah. Apa yang Ia tulis telah menjadi subyek perdebatan dan diskusi selama berabad-abad, dan tak seorang pun benar-benar tahu apa yang Yesus tulis. Namun, dugaan saya adalah Yesus menulis, “Di mana lelaki yang berzinah? Kok hanya sang perempuan?” Yesus membaca niat jahat para Farisi yang tidak hanya ditujukan kepada-Nya tetapi juga kepada sang perempuan. Mereka merencanakan kematian bagi Yesus dan sang perempuan, dan Hukum Yahudi mengatakan bahwa pembunuh dan mereka yang merencanakan pembunuhan harus dihukum mati (Im 21:14). Tentunya, pembunuhan adalah perbuatan yang jauh lebih jahat dari perzinahan. Ketika Yesus berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu,” Yesus paham benar motivasi jahat mereka untuk membunuh-Nya dan sang perempuan. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi juga patut dihukum mati dan mereka harusnya melempar batu kepada diri mereka sendiri. Kalah dalam pertempuran, mereka pun meninggalkan Yesus dan sang perempuan.
Namun, cerita tidak berakhir di sana. Yesus memiliki satu misi lagi. Setelah dijadikan sekedar objek dan kehilangan harga dirinya oleh dosa dan para lelaki kejam itu, Yesus memulihkan martabatnya dengan memberikan suara kembali kepadanya. Yesus tidak mengungkap nama sang perempuan, tapi Yesus memungkinkan dia untuk berbicara bagi dirinya sendiri. Dia menjawab Yesus, “Tidak ada, Tuhan.” Sungguh, tidak ada lagi laki-laki yang akan membuatnya sebagai obyek belaka dan tidak ada lagi yang akan menurunkan derajatnya. Dia adalah putri perempuan dari Allah dan dia akan tetap sebagai demikian.
Kita hidup dua ribu tahun setelah Yesus, namun banyak perempuan masih menjadi korban objektifikasi dan depersonalisasi. Seperti Yesus berjuang untuk sang perempuan, kita akan juga berjuang bagi para perempuan di sekitar kita. Jika Yesus mampu mengekspos eksploitasi perempuan pada zaman-Nya, kita akan juga mengekspos berbagai bentuk pelanggaran di sekitar kita. Jika Yesus memulihkan martabat sang perempuan, kita juga akan menghormati martabat para perempuan di sekitar kita.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



The Parable of the Prodigal Son is one of the most moving stories of Jesus and has been regarded as the all-time favorite. The parable is so beautiful that it moved one of the earliest heretics, Marcion of Sinope, to single out the Gospel of Luke as the only valid Gospel. Why does the parable gain such honor among Jesus’ parables? I guess one of the reasons is the unexpected twist of event appears in the parable. Like when we watch movies in the cinema, flat and predicted plot of movies will cause boredom, but movies with sudden and unforeseen twists often create breath-taking excitement. The twist of the parable is that the Mercy of God that goes beyond any human expectation and limitations.
For St. Luke, Jesus is a man of prayer. Luke fondly wrote in his Gospel that Jesus would pray before the decisive events in His life and mission. Jesus prayed the whole night before he chose His disciples (Luk 6:12). One of the reasons why Jesus cleansed the Temple of Jerusalem was that He was well aware of the main function of the holy Temple: House of Prayer (Luk 19:46). He reminded his disciples to pray especially in facing trials and tribulations (Luk 21:36). Before He was embracing His passion and death, He prayed at the garden (Luk 22:44). Finally, enduring a brutal torture, He saved His last breath even to pray for those who have crucified Him (Luk 23:34).
Bagi St. Lukas, Yesus adalah seorang doa. Lukas menulis dalam Injilnya bahwa Yesus berdoa sebelum menghadapi peristiwa-peristiwa penting di dalam hidup dan misi-Nya. Yesus berdoa sepanjang malam sebelum ia memilih murid-murid-Nya (Luk 6:12). Salah satu alasan mengapa Yesus membersihkan Bait Allah Yerusalem dari berbagai malapraktik adalah bahwa Dia sangat menyadari fungsi utama dari Bait Allah ini: Rumah Doa (Luk 19:46). Dia mengingatkan para murid-Nya untuk berdoa terutama saat menghadapi cobaan dan penderitaan (Luk 21:36). Sebelum Ia menghadapi sengsara dan wafat-Nya, Dia berdoa di taman (Luk 22:44). Akhirnya, saat Ia berada di kayu salib, Dia menyimpan nafas terakhirnya bahkan untuk berdoa bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya (Luk 23:34).
Today’s Gospel shows us that the Holy Spirit led Jesus to the desert. Yes, the Holy Spirit will not spare us from the desert! The desert experience can be anything that spells dryness and emptiness in our lives and souls. Out of nowhere, a seminarian enters into a desert as he is feeling unexplainable meaninglessness in his chosen vocation. A mother begins to experience exhaustion in fulfilling her difficult mission to rear her children. Through her journals, it was revealed that even holy person like Mother Teresa of Calcutta went through ’the eclipse of God’ when she did not sense the presence of God for almost 10 years in her life.
Injil hari ini menulis tentang Roh Kudus yang membawa Yesus ke padang gurun. Ya, Roh Kudus akan membawa kita ke padang gurun juga! Gurun bisa diartikan sebagai kekeringan dan kekosongan dalam hidup dan jiwa kita. Seorang frater tiba-tiba masuk ke pengalaman gurun dan ia merasa kehilangan makna dan semangat di dalam panggilannya. Seorang ibu mulai mengalami kelelahan dalam mengemban misi yang sulit untuk membesarkan anak-anak nya. Melalui tulisan-tulisannya, terungkap bahwa bahkan orang kudus seperti Bunda Teresa dari Kalkuta pun harus melalui ‘Allah yang diam’ ketika dia tidak merasakan kehadiran Allah selama hampir 10 tahun dalam hidupnya.